jump to navigation

FARDAN ADZHABU 28 Februari 2009

Posted by ibnu_taheer in Notes.
Tags: , , ,
trackback

FARDAN ADZHABU

Dengan langkah tergesa-gesa seorang pemuda berjalan menyusuri gang becek suatu pemukiman warga. Sunyi. Tak terdengar suara apapun kecuali gesekan sayap-sayap jangkrik, menimbulkan irama nada bersahutan di antara sekian banyak kawannya. Hawa dingin malam dan rintik hujan tak menyurutkan laju kaki lelaki itu untuk secepatnya sampai di rumahnya.
“Andai aku tak sendirian, pasti aku tak setakut ini”. Gumamnya. Suara dengkur burung hantu membangunkan bulu kuduknya serasa menusuk di setiap celah-celah kain kaos dalamnya yang telah basah.
“Jamal!”. Terdengar suara memanggilnya. Spontan pemuda itu terkejut, buyar sudah pandangan kosong di balik rasa takutnya. Diapun menoleh ke belakang. Pak Toni mendekatinya. Ternyata sejak tadi beliau membuntuti dari ujung gang yang dilalui keponakannya tersebut.
“Kok sendirian, Mal?”. Tanya pamannya.
“Ya, Pak Lik. Tadi habis dari ngopi di warung Mbak Sri”. Jawabnya sambil bersalaman dan mencium tangan adik ipar ayahnya tersebut. “Tadi nunggu hujan reda, eh malah kemalaman”. Jamal melanjutkan kalimatnya.
“Syukurlah, Allah swt telah mendengar doa kita. Semoga Dia menurunkannya sebagai rahmat. Inilah salah satu wujud kasih sayang -yang Dia berikan- kepada hamba yang selalu taat dan bertakwa kepada-Nya”. Pak Toni menasihati. Jamalpun mengangguk dan mengamininya.
Sejak awal bulan Desember lalu, hujan sudah mulai turun. Sepertinya musim kemarau akan segera berakhir. Hari ini pun guyuran air hujan sangat lebat, membasahi setiap sudut tanah pedesaan seperti minggu-minggu sebelumnya. Para petani menyambutnya dengan suka cita setelah sekian lama sawah mereka kering karena tidak ada irigasi di desa mereka. Yah, Sukorejo memang daerah tadah hujan sehingga mereka hanya akan menjalankan aktifitasnya setelah musim penghujan tiba.
Meski begitu penduduk desa itu sudah sangat bersyukur karena musim hujan datang lebih awal dari biasanya. Hasil panen tahun lalu yang mereka simpan di lumbung-lumbung desa masih cukup tersisa untuk kebutuhan makan sehari-sehari. Alhamdulillah, padi yang dihasilkan dari mereka bercocok tanam lumayan melimpah. Sambil menunggu hasil panen tahun ini, mereka akan melakukan rutinitas seperti biasanya. Semoga jerih payah mereka saat ini tidak gagal seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Di suatu pagi buta sesaat sebelum pergi ke sawah, “Bismillahi tawakkaltu ‘alalLaah” Jamal menengadahkan kedua tangannya, “laa haula walaa quwwata illaa billah”. Dia mengakhiri doanya sambil mengusapkan kedua tangan pada wajahnya.
Di antara sekian banyak pemuda di desa Sukorejo, dia termasuk yang paling rajin. Dia juga sangat tekun dalam bekerja. Minggu pertama sesudah hujan mulai turun, dia sudah menyediakan bibit padi unggul. Sebulan kemudian setelah benih dirasa siap tanam, ia telah menyiapkan lahan untuk tanaman padinya. Setiap hari dia selalu mengawasi perkembangan benih yang telah ia tanam. Merawat, memupuk, mencabuti rumput-rumput penghambat pertumbuhan dan menghilangkan setiap hama pengganggu tanamannya.
Sambil melihat tanaman padi di sekelilingnya, ia berharap dan berdoa agar Allah swt merawat dan menjaga tanamannya. Karena curah hujan cukup tinggi, kebutuhan pengairan untuk tanaman padi kali ini tidak pernah kekurangan. Tanaman padi tumbuh dengan subur. Daunnya sangat hijau sehingga menyegarkan pandangan setiap orang yang melihatnya dan menyejukkan hati setiap insan yang melewatinya.
“Sungguh tak bisa dibayangkan betapa besarnya kemurahan Tuhan kepada hamba-Nya. Begitu indah segala makhluk dan ciptaan-Nya. Sangatlah sempurna Dia pada setiap penciptaan-Nya”. Bisik Jamal dalam hati, takjub dan mengagumi kekuasaan Allah swt atas keindahan alam dan seisinya.
***
Jalan sempit di antara hamparan luas tanaman padi tampak sepi. Hanya terlihat beberapa petani sedang mengawasi padi mereka yang telah mulai menguning. Dari atas pematang sawah, mereka tersenyum memandanginya. Ucapan syukur dalam hati mereka tak bisa diungkapkan dengan kata-kata setelah lebih dari tiga bulan lamanya mereka menunggu saat panen tiba.
“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberikan yang terbaik bagi kami”. Ucap lirih Pak Toni di sudut ujung sawahnya yang kebetulan menempel dengan tanah milik Jamal, cucu kesayangan mertuanya.
“Sebentar lagi panen. Kerja keras kita selama ini telah mulai menampakkan hasilnya. Adakah suatu keinginan yang belum tercapai melebehi semua ini, Pak Lik?” Tanya Jamal memecah keheningan.
“Kehidupan dunia memang terkadang menyenangkan. Segala yang diberikan oleh Allah swt kepada kita harus disisihkan untuk kepentingan nanti di akhirat. Investasi kehidupan akhirat lebih penting. Jangan sampai kita melupakan bagiannya hanya karena methentheng, ngoyo dan terlalu pusing mengumpulkan harta. Ingat, berbuat baiklah kepada sesama seperti halnya Tuhanmu memberikan segalanya untukmu!”. Nasihat Pak Toni kepada Jamal.
“Insya Allah setelah panen nanti,…” Jamal terdiam sejenak, “aku akan menyisakan sepuluh persennya”. Dengan tegas Jamal melanjutkan, “aku ingin bersedekah wajib pada Mbok Iyem, tetangga sebelah dan orang-orang miskin lainnya di desa ini”.
“Bagus. Kau memang anak cerdas”. Pak Toni tersenyum bangga karena melihat keponakannya memahami maksud dari wejangannya.
“Mal…!”
“Ya, Pak Lik”.
“Sudah waktunya kamu pergi dari Sukorejo”. Pelan-pelan Pak Toni menyusun kata-katanya.
“Tapi kenapa? Ada yang salah dengan diriku, Pak Lik?”. Tanya jamal keheranan.
“Nggak. Kamu harus melanjutkan studimu di perguruan tinggi”.
“Bukankah dengan keadaanku saat ini aku dapat hidup bahagia?”.
“Memang. Tapi kamu terlalu muda untuk mengarungi hidup seperti ini” Pak Toni berhenti seperti mengingat-ingat sesuatu. Kemudian, “Jauh sebelum ayah dan ibumu meninggal di tanah suci, mereka pernah mengatakan ingin menyekolahkan kamu sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka ingin kamu menjadi orang yang berhasil nantinya”.
“Tapi, Pak Lik ….”
Belum sempat Jamal meneruskan, Pak Toni sudah memotongnya.
“Kamu nggak usah khawatir. Seluruh keperluan dan biaya kehidupanmu nanti biar Pak Lik yang menanggungnya”.
“Hidup seperti ini saja sudah sangat cukup bagi saya. Kalaupun harus kembali belajar, saya hanya ingin menambah wawasan tentang ilmu agama. Saya dengar di daerah Jawa Tengah ini ada seorang kiyai yang mengajarkan berbagai macam pengetahuan tentang ilmu syari’at dan lain sebagainya. Saya ingin menimba ilmu pada kiyai tersebut di pondok pesantrennya”. Jamal berusaha menjelaskan keinginannya kepada Pak Toni dengan hati-hati. Takut pamannya akan tersinggung.
“Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Pak Lik hanya dapat mendukung dan mendoakanmu. Pak Lik juga sangat berharap nantinya kamu bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan mengajarkannya kepada orang-orang di sini. Masyarakat di desa Sukorejo ini masih terlalu awam dan sangat membutuhkan tuntunan-tuntunan agama”.
***
“Bismillahirahmaanirrahiim.” Mbah Shodiq mengawali pelajaran kitabnya. “Qaalal muallifu rahimahullah, wanafa’anaa bi’uluumihi fiddaaraini aamin yaa rabbal ‘aalamiin.” Seperti biasanya saat beliau memulai pengajian tafsir Jalalain. Rutinitas pesantren setelah jamaah subuh. Para santri mendengarkannya dengan antusias. Tak terkecuali Jamal, santri baru yang sebulan lalu mendaftarkan dirinya. “Auudzu bilLaahi minasy syaithaanir rajiim.” Pak Kyai Shodiq melanjutkan pengajiannya.
“Awalam ya’lamuu annalLaaha yabsuthur rizqa liman yasyaau wayaqdiru, inna fii dzalika la-aayaatin liqaumin yu’minuuna.”
Artinya : “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya?. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran-Nya) bagi kaum yang beriman” . (QS. Azzumar : 52)
Pada hakikatnya justru banyak sekali orang yang kuat dan tidak mendapatkan rizqi sebaliknya orang bodoh dan lemahlah yang mendapatkan kekayaan melimpah. Jika kita mau berpikir sebenarnya semua rizqi yang diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya semata-mata hanya karena masyi’ah-Nya. Bukan karena kita sebagai hamba-Nya selalu berbuat kebajikan. Mereka yang mengingkari nikmat dan pemberian-Nya justru banyak yang bergelimangan harta. Kebutuhan mereka pasti tercukupi. Setiap keinginan tidak usah menunggu lama sampai kapan akan terpenuhi. Walhasil, mereka tak pernah kekurangan suatu apapun.
Bangsa Arab mempunyai tradisi mengikuti Nabi Muhammad saw yang ummiy. Namun justru mereka diberikan rizqi melimpah oleh Allah swt. Tanpa belajar apalagi harus dapat membaca pun sudah membuat mereka berjaya dengan kekayaan dan kekuasaan. Lihat saja! Mereka tidak perlu repot kesana kemari, berjalan bolak-balik. Cukup berdiam diri saja. Toh dalam kenyataan mereka tidak pernah kelaparan. Bahkan bisa dibilang, mereka sangat berlebihan untuk urusan kebutuhan makan sehari-hari.
Jika dibandingkan dengan yang kita alami di Indonesia, bangsa kita tercinta ini tidak sedikit di antara penduduknya mengalami busung lapar. Banyak anak kecil terlantar. Meminta-minta di jalanan. Demi sesuap nasi. Mereka tak terurus. Karena orang tua mereka sibuk sendiri dengan urusan masing-masing.
Pada hal kita tahu bahwa sumber daya alam kita sangat melimpah. Potensi manusianya cukup luar biasa. “Ah, itu kan karena kita malas saja mengelolanya” kata sebagian besar pakar alam.
Melihat fenomena yang terjadi di atas, kita harus yakin. Hanya orang beriman yang bisa mengakui bahwa banyak sedikit rizqi yang diberikan oleh Allah swt semata-mata karena kekuasaan-Nya belaka. Bukan atas dasar kekuatan, kepandaian ataupun keahlian seorang hamba.
Firman Allah, “Dia menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
“Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beriman dan bertakwa dan dikasihi-Nya. Amin yaa rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawwab.” Ucap Mbah Shodiq mengakhiri pengajiannya pagi itu.
***
Hari berganti minggu. Minggu pun berujung bulan. Bulanpun pergi meninggalkan tahun. Tak terasa sudah bertahun-tahun Jamal menjalani kehidupannya di pondok pesantren. Sepuluh tahun lebih mungkin. Banyak sudah ilmu pengetahuan agama yang dia peroleh dari Mbah Shodiq. Tak sedikit pencerahan yang dia dapatkan dari kiyainya. Tak terhitung pula wawasan yang dia kaji dari guru spiritualnya.
“Hidup memang tak seindah yang aku bayangkan. Tidak pula serumit yang aku pikirkan.” Jamal bergumam dalam hati. Sendirian. “Semuanya telah diatur oleh Allah. Tak ada yang menghalangi keputusan-Nya. Tiada pula yang dapat menghindar dari mala petaka yang ditimpakan-Nya.”
“Tak perlu bersedih Jamal! Tak usah khawatir! Kamu tidak sendirian. Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar. Dan bertawakkal kepada-Nya.” Pemuda itu teringat dhawuh gurunya.
“Dari dulu aku sudah terbiasa hidup sendiri. Mengarungi hidup sebatang kara tanpa saudara yang menemaniku. Orang tua menghadap ilaahi rabbi saat menunaikan ibadah haji. Waktu aku masih kecil aku diasuh oleh pamanku yang dengan sabar merawat dan mendidikku sehingga aku tidak tersesat ataupun salah dalam menapaki hidupku. Selamat tinggal kesendirianku, kesunyianku. Terimakasih kau telah menemaniku sekian lama. Justru aku sangat bahagia dengan keadaanku saat ini.” Kenang Jamal sebelum dia kembali ke kampung halamannya. Setelah lebih dari sepuluh tahun dia menimba ilmu di pesantren dan Mbah Shodiq lah yang selalu dengan sabar mendidik dan mengajarinya berbagai ilmu agama dan lain sebagainya.
Sekarang dia bisa lebih tenang tanpa harus menjalani dan menempuh kehidupan ini. Segala rintangan akan dihadapinya. Setiap batu sandungan yang menghadang akan disingkirkannya. Tentunya tidak sendirian. So pasti hanya dengan usaha sepenuh hati dan sekuat tenaga disertai dengan doa tulus. Minta perlindungan dari Allah swt. Karena atas kehendak-Nya lah semua yang ada di jagad raya ini bisa terjadi.
“Inna maa amruhuu idzaa araada syaian an yaquula lahuu kun fayakuun.”

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: