jump to navigation

MBAH SODIQ INGIN DICINTA 8 Januari 2009

Posted by ibnu_taheer in Notes.
trackback

MBAH SODIQ INGIN DICINTA

Mbah Sodiq, tokoh kita yang satu ini adalah sosok figur teladan yang sangat disegani, apalagi fatwa-fatwanya seringkali dijadikan sebagai acuan dan pedoman oleh segenap para santri di pondok kita tercinta ini. Di bawah ini adalah sekelumit cerita tentang kisah teladan beliau. Selamat membaca!!!

……..

“Assalaamu ‘alaikum warohmatuullah”. Menengok ke kanan.

“Assalaamu ‘alaikum warohmatuullah”. Menengok ke kiri.

Diam, termenung dan tampak raut wajah penyesalan atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Air mata menetes, mengalir membasahi pipi. Begitulah Mbah Sodiq setiap selesai salat fardlu maupun sunnah. Mungkin Mbah Sodiq teringat masa lalunya yang kelam, mungkin juga sedih menyaksikan nasib bangsa ini atau mungkin juga ingat akan kiamat yang sudah dekat (sinetron kali…) sementara ini baru sedikit amal kebajikan yang telah dikerjakan, padahal banyak dosa yang telah diperbuat olehnya.

”Apa sich yang selalu Mbah Sodiq fikirkan?” Tanya Gogon -seorang santri lugu yang selalu ingin tahu- pada suatu kesempatan.

“Husss!. Nggak pantes tanya begitu sama Mbah Sodiq!” Sela Kang Anhar.

Mbah Sodiq tersenyum, lalu… “Nggak apa-apa”. Tampak keduanya antusias mendengarkan Beliau. “Begini, Cung. Dunia ini sudah tua. Kita tidak tahu apa yang dapat kita kerjakan besok. Maka…., introspeksilah diri kalian”. Mbah Sodiq mengakhiri wejangannya.

“Kamu paham dengan apa yang dimaksudkan Mbah Sodiq?”. Tanya Gogon kepada sohibnya, Kang Anhar. Kang Anhar diam sejenak. “Emm… Begini, Gon. Kita harus memperbanyak amal ibadah kita sejak dini sebelum usia kita serenta dunia ini. Itu yang pertama. Yang kedua, kita tidak tahu kapan kita akan mati. Jadi kita harus cepat-cepat bertaubat, mumpung ada kesempatan. Dan yang terpenting, jangan terlalu bangga dengan apa yang telah kita perbuat. Belum tentu yang kita lakukan selalu lebih baik daripada yang orang lain kerjakan. Begitulah kira-kira maksud Beliau.”

……….

“Teeet…., teeet…, teeeeeeet.”. Bunyi bel pada suatu Ahad pagi, sesaat setelah pengajian tafsir Jalalain. Nampaknya rutinitas Ahad pagi akan segera dilaksanakan, ro’an atau kerja bakti di pondok kami. Mulai menyapu halaman, menguras kamar mandi dan tempat wudlu, membersihkan selokan dan sebagainya.

“Gogon, Paijo, Mbah To, dan Ulin, sapu halaman depan Komplek Anggrek!”. Mbah Sodiq memimpin aktifitas tersebut. “Kak Tho –panggilan akrab Thohari-, ajak anak buahmu nguras kulah depan, bawah Rampai dan WC utara. Kang Asep, aula depan dan halaman depan pondok harus disapu bersih”.

Belum selesai Mbah Sodiq bicara, tiba-tiba Kak Tho nyeloteh. ” Lho, entar meja dan Kursi tempat Pak Kyai mengajar boleh saya bawa pulang dong. Trus sepeda-sepeda yang di depan bisa dikilokan tuch di tempat Gus Topik. Wah, kalo gitu saya saja yang melakukannya, Mbah. Lumayan, bisa buat beli makan di warung Mbok Bariyah”

“Ha…, haa…, haaaa” sorak anggota ro’an sangat kompak. Tenyata jawaban Kak Tho mengundang tawa mereka. Dia tampak kebingungan dengan reaksi mereka. “Dasar samin. Mbok ya jangan dimakan mentah to ngendikane Mbah Sodiq. Maksudnya, kotoran dan sampah yang ada harus disapu sampai bersih. Kalau perlu lantainya dipel sekalian biar kinclong. Gitu…. Paham!”. Kak tho mengangguk tanda mengerti, sementara Mbah Sodiq hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Dan Beliau melanjutkan, “Kang Ipung, yang akan memimpin anggotanya membersihkan got, dan membersihkan daerah sekitarnya. Selamat bertugas!”

Sejam kemudian, aktifitas tersebut selesai. Setelah semuanya dianggap beres, Mbah Sodiq dan kawan-kawan beristirahat sambil menikmati sarapan yang telah disajikan oleh Mbok Bariyah.

Pukul 07:30 bel berbunyi lagi, tanda masuk madrasah di pagi hari. “Ayo, ayo, madrasah, madrasah! Bangun, Kang! Bangun! Saatnya sekolah, saatnya sekolah.” Tampak Kang Ihsan dan Kang Mat Korek berulang kali mengucapkan kata-kata itu, berusaha membangunkan anak-anak, sedangkan mereka yang sudah bangun dan mereka yang sengaja tidak tidur segera berbenah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Madrasah.

Sementara itu, Mbah Sodiq telah mempersiapkan diri untuk melaksanakan salat Dluha. Rutinitas Beliau di saat-saat seperti itu, di mana ketika matahari telah berada sekitar satu ujung tombak di sebelah timur, kita disunnahkan untuk melaksanakan salat tersebut. Dengan khusyu’ dan penuh hidmat Beliau melakukannya, begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain, seperti puasa, salat fardlu, salat sunnah tahajud dan seterusnya. Kehidupannya selalu diisi dengan ibadah dan ibadah agar selalu bisa mendekatkan diri kepada Allah swt Sang Pencipta alam semesta. Semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya. Amien yaa Rabbal’aalamien. Sekian.

By: Klowor’s

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: