jump to navigation

ANATOMI SASTRA 27 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Notes.
Tags: , , ,
trackback

Konsep Seni Sastra

  1. Pengertian sastra

Kata “sastra” atau “kesusastraan” dapat ditemui dalam sejumlah pemakaian yang berbeda-beda, karena merupakan satu ’istilah payung’ yang meliputi sejumlah kegiatan yang berbeda-beda, seperti:

    • Kegiatan penyimakan atau pembacaan naskah, pamflet, makalah atau buku.

    • Sesuatu yang diasosiasikan dengan karakteristik sebuah bangsa atau kelompok manusia.

    • Pembahasan mengenai sudut sejarah atau gerakan tertentu,misalnya sastra romantik.

Secara fundamental, sastra adalah sesuatu dimana kita terlibat secara sukarela atau spontan; bagian dari kehidupan manusia; berbicara dan memperjuangkan kepentingan hidup manusia. Jadi sastra itu adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Sastra tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori atau sistem berpikir manusia. Sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia. Obyek seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama yang menyangkut sosial budaya, kesenian, dan sistem berpikir.

Di dalam menangkap pengalaman hidup manusia sebagai bahan bakunya; seniman memilih dan menyeleksinya secara kreatif pula, kemudian menuangkannya ke dalam bentuk karya sastra dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Dengan begitu, sastra dalam wujudnya mempunyai dua aspek penting, yaitu isi dan bentuknya. Isinya merupakan pengalaman hidup manusia, sedangkan bentuknya adalah segi-segi yang menyangkut penyampaian, yaitu cara sastrawan memanfaatkan bahasa yang indah untuk mewadahi isinya.

Berbicara tentang pengertian sastra secara lebih luas, maka kita harus berbicara tentang seni, bahasa, dan institusi sosial yang memerlukan dan membentuknya.

  1. Sastra sebagai karya kreatif

Suatu karya sastra akan tidak berdaya menyandang predikat kreatif manakala ia tidak memiliki unsur seni. Karena seni itu lahir akibat adanya perpaduan yang harmonis antara manusia dan alam; dan manusia itu semenjak kehadirannya di muka bumi tidak terlepas dari rasa seni (ekspresi jiwa). Segala situasi estetis yang dialami manusia tersimpan dalam khazanah pengalamannya, dan pengalaman itu hidup dalam jiwa beserta kehidupan rohaniah manusia. Dan karena manusia itu memiliki suatu kreativitas, ia terdorong untuk merealisasikan pengalamannya itu ke dalam wujud bentuk, maka lahirlah karya itu berupa kebudayaan dan kesenian. Dalam refleksi rohaniah atau akal budinya terhadap momentum estetis yang dirasakanya, seniman berupaya menjelmakannya dengan baik supaya dapat pula dirasakan dan dinikmati oleh orang lain dalam bentuk karya seni.

Suatu karya seni yang representatif, adalah suatu kualitas pengalaman yang dapat memperkaya pengalaman rohaniah kita. Karena yang disuguhkan dalam karya seni tidak hanya materi saja, tetapi hakikatnya kita berhadapan dengan sesuatu yang ada dibelakang materi itu, sesuatu yang mengandung makna yang jauh lebih luas.

Seniman mempunyai kontak dan hubungan dengan masyarakat penikmat karya seni melalui karya-karya seni itu sendiri. Dengan begitu, seniman harus mengerti masyarakat dengan aspirasinya dan sebaliknya masyarakat harus mengerti tentang seniman dan karyanya, sehingga terjadi suatu peristiwa estetis alias kesenian. Nilai seni itu muncul karena adanya kaharmonisan pertemuan keduanya itu.

Sastra adalah karya seni, ia harus diciptakan dengan suatu daya kreativitas dalam memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman hidup manusia yang dihayatinya. Ini berarti pembaca ikut menentukan penciptaan. Jadi, sastrawan yang kreatif bermakna orang yang mampu menemukan nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat, tidak menciptakan nilai-nilai, serta berupaya menangkap dan menemukan yang terbaik dan terus menemui yang terbaik untuk menyampaikannya.

Karya seni berfungsi sosial membudayakan manusia, dan karya sastralah yang mempunyai fungsi sosial yang lebih besar, karena menggunakan medium bahasa yang lebih leluasa mengekspresikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi penyempurnaan kehidupan manusia.

  1. Bahasa sebagai media sastra

Bahasa yang berperan sebagai media sastra adalah bunyi-bunyi bahasa yang distingtif yang dipakai sebagai pola yang sistematis untuk mengkomunikasikan segala perasaan dan pikiran. Bahasa sebagai alat komunikasi dan kontrol sosial, tentu saja lebih luas cakupannya dari sastra. Bahasa meliputi segala macam komunikasi yang menyangkut penggunaan lambang bunyi bahasa, sedangkan sastra hanya meliputi satu daerah tertentu dari seluruh daerah kekuasaan bahasa. Oleh karena itu, kemampuan pengarang menggunakan bahasa sangat menentukan sastra tidaknya sebuah ”karya sastra” (dalam hal ini tidak melengahkan isi dan pesan).

Bahasa dalam kesusastraan berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam konteks lainnya. Karena tujuan pengucapan dan fungsi pengucapannya yang berlainan, maka bahasa dalam karya sastra pada keseluruhannya tetap mengandung perbedaan yang secara praktis dapat dirasakan.

Bahasa adalah media pengucapan yang fleksibel. Fleksibilitas bahasa itu dieksploitasi dengan seluas mungkin oleh pengarang, untuk mencapai suatu kesan sensitivitas dan kehalusan rasa. Pengarang menggunakan kata-kata yang khusus untuk perasaan-perasaan yang khusus, dan untuk meninggalkan kesan sensitivitas yang khusus pula, yang dapat melampaui berbagai dimensi sesuai dengan daya tanggap seseorang. Pemberdayaan pilihan kata itu mampu meninggalkan kesan sensitivitas pembaca. Nilai konotasi yang lebih luas dari pengertian denotasi sangat penting.

Kesusastraan adalah pengucapan atau tulisan yang tergolong ke dalam jenis yang kreatif-imajinatif. Kelebihan ini terletak pada:

    • unsur-unsur bahasa serta interaksi antara unsur-unsur tersebut dengan dunia nyata yang berada diluar dirinya

    • memberi makna yang lebih luas terhadap komunikasi dan hubungan antar manusia

    • bahasa sastra mengungkapkan yang tersurat maupun yang tersirat

Sastra merupakan pernyataan yang amat kompleks dan amat dielaborasi tentang penulis dan pembaca, didalamnya pun terkait masalah cita rasa dan pandangan hidup. Bahasa yang diatur pengimajian, ungkapan, perbandingan dan kehidupan bunyi yang terlihat pilihan kata-katanya, akan memperoleh kesan, sebagian darinya adalah estetik.

  1. Misi sastra

Ada sastrawan yang mengatakan bahwa tugas sastra adalah untuk mencapai keindahan, ”seni untuk seni”; sementara pendapat lain mengatakan bahwa sastra adalah untuk memberi pelajaran tentang kehidupan. Sebenarnya keduanya tak bisa dipisahkan dan berdiri sendiri. Karena untuk mendapatkan keindahan adalah naluri manusia, sama halnya dengan sifat mau tahu atau mau mempelajari tentang kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan yang baik antara nilai keindahan dan nilai kegunaannya.

Sastra, karena sifatnya tidak normatif; lebih mudah berkomunikasi, dan nilai-nilai yang disampaikan dapat lebih fleksibel baik isi maupun cara penyampaiannya. Hampir setiap zaman sastra mempunyai peranan yang amat penting karena beberapa alasan.

    • Sastra mempergunakan bahasa

Berlainan dengan seni-seni yang lain, sastra menggunakan bahasa sebagai mediumnya dengan segala kelebihannya. Bahasa dapat menampung hampir seluruh kegiatan manusia;

      • Memunculkan fisafat, ketika memahami dirinya sendiri

      • Memunculkan agama, ketika memahami hubungan dengan penciptanya

      • Memunculkan ilmu pengetahuan, ketika memahami alam semesta

      • Memunculkan ilmu sosial, ketika mengatur hubungan antara sesamanya

Dengan demikian manusia dan bahasa pada hakikatnya adalah satu.

    • Sastra terkait dengan berbagai cabang ilmu

Di dalam sebuah karya sastra yang baik kita akan menemui unsur-unsur dari ilmu filsafat, ilmu kemasyarakatan, psikologi, sains, dan sebagainya. Sastra mampu mencakupi alam kehidupan yang lebih luas dan lebih kompleks.

    • Sastra didukung oleh cerita

Sastra dimulai dengan cerita, dengan cerita orang lebih mudah mengemukakan gagasan.

Sastra adalah untuk rakyat/masyarakat, walaupun terdapat keterbatasan penyebarannya di dalam masyarakat, bukan berarti karya sastra ditulis untuk segolongan masyarakat saja. Menurut Prof. Haji Saleh (1979), tugas pertama sastra adalah sebagai alat penting pemikir-pemikir untuk menggerakkan pembaca pada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan bila ia menghadapi masalah. Sastrawan yang baik akan berusaha mendekati hakikat kehidupan agar karya-karyanya bisa bermakna bagi pembacanya. Penulis itu adalah hati nurani masyarakat dan zamannya. Penulis harus hidup dalam dua dunia, dunia individunya dan dunia dimana ia menjadi anggota masyarakatnya.

Dalam peranannya di masyarakat, sastra juga bermanfaat sebagai pengimbang sains dan teknologi, meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif, dan menjadi suatu tempat dimana nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya. Sejak dahulu hingga kini, terdapat tiga daerah fundamental yang menjadi pusat misi sastra, yaitu:

    • Sastra dan agama

Agama merupakan kunci sejarah, kita dapat memahami suatu masyarakat dengan memahami agamanya. Sepanjang sejarah, hasil pertama karya-karya kebudayaan yang kreatif disebabkan karena ilham agama dan diabdikan kepada tujuan-tujuan agama. Agamalah yang merupakan sumber filsafat yang selalu mengudik kembali kepadanya.

Bagi kebanyakan bangsa pada berbagai macam tingkat kemasyarakatan, agama merupakan:

      • Fungsi konservatif, yaitu daya penyatu yang sentral dalam pembinaan kebudayaan

      • Faktor yang kreatif dan dinamis, yaitu bertindak sebagai perangsang yang memberi makna kehidupan, dan mempertahankan masyarakat dalam pola-pola kemasyarakatan yang telah tetap.

    • Sastra dan dorongan sosial

Dorongan sosial pada umumnya melahirkan berbagai macam aktivitas kehidupan, seperti aktivitas sosial, ekonomi, politik, etik, kepercayaan, dan lain-lain. Maka dorongan sosial yang akhirnya mendorong penciptaan sastra mau tidak mau memperjuangkan berbagai bentuk aktivitas sosial tersebut.

    • Sastra dan dorongan personal

Dorongan sosial ikut pula membangun karya-karya sastra terutama mengenai semangat hidup manusia untuk mempertahankan eksistensinya dan menyempurnakan kehidupannya ke arah yang lebih baik dan bermartabat. Seniman yang baik biasanya dapat menggarap bahan yang sifatnya pribadi ini menjadi suatu yang universal. Dorongan personal yang dimilikinya mampu dijadikannya sebagai milik bersama. Secara sadar atau tidak, sastrawan mengungkapkan peristiwa batiniah ke dalam karyanya yang dimaksudkan sebagai konsumsi mental dan pikiran orang lain.

Dari ketiga unsur itu sastra memperoleh dorongan bagi kehadirannya. Jadi misi pokok sastra adalah mempertahankan, memperjuangkan dan mengembangkan agama, masyarakat dan tata nilai.

Suatu hal yang perlu diingat, apapun tugas yang dibebankan kepada sastra namun ia tidak boleh kehilangan hakikatnya sebagai suatu karya seni, ia harus memberikan kenikmatan kepada pembacanya. Ini penting agar misinya dapat dijalankan dengan baik, agar tidak terjadi keterpencilan di wilayahnya, agar ia menjadi sahabat banyak orang.

  1. Sastra dan keindahan

Berbicara tentang keindahan merupakan suatu hal yang sangat rumit, karena sukar sekali merumuskannya. Oleh sebab itu hampir tidak mungkin untuk membuat standar keindahan yang berlaku bagi semua orang. Ukuran objektif tentang keindahan itu belum diperoleh.

Menurut Kant, keindahan adalah kesadaran jiwa yang mengalami sesuatu di luar jiwa itu sendiri. Kesadaran jiwa itu sendiri merupakan sesuatu yang subyektif yang sangat tergantung kepada rasa dan visi perorangan. Seorang seniman akan berupaya agar karyanya mempunyai daya tarik. Karena itu, ia berupaya memburu keindahan dalam karyanya.

Thomas Aquino mengemukakan bahwa keindahan itu mengandung tiga syarat; (1) keutuhan atau kesempurnaan, (2) keselarasan bentuk atau harmoni, dan (3) kejelasan atau kecemerlangan. Sedangkan menurut James joyce keindahan itu mempunyai tiga ciri:

(1) kepaduan (integrity), merupakan suatu kesatuan yang bulat

(2) keselarasan (harmony), merupakan perpaduan yang baik dan seimbang antara unsur yang membentuknya

(3) kekhasan (individuation), merupakan suatu keunikan yang terdapat pada sesuatu yang menimbulkan keindahan.

Karya sastra yang indah adalah karya sastra yang secara khusus merefleksi suatu objek tertentu menurut titik pandangan tertentu. Ini berarti cetak ulang dari apa yang sudah ada sebelumnya tidak dapat menimbulkan keindahan. Keindahan bukanlah sesuatu yang didapat secara intuitif melainkan hasil upaya memadukan sifat-sifat yang dimiliki objek dengan keinginan jiwanya.

Sastra sebagai suatu karya seni jelas merupakan hasil ciptaan seniman, karena itu keindahan yang terdapat di dalamnya bukanlah keindahan alamiah melainkan merupakan daya cipta dan hasil kreasi sastrawan. Keindahan yang dapat dirasakan dan ditangkap pembaca sebagai penikmat bergantung pula pada kesesuaian sifat antara pembaca dengan yang dibaca, antara subjek dengan objek. Dalam arti bahwa subjek menemukan dirinya dalam objek yang pada gilirannya menimbulkan kepuasan sekaligus merasakan sebagai suatu keindahan, dan merupakan kewajiban bagi seniman untuk mempertemukan keduanya.

Saat ini terlihat gejala-gejala yang mengusik; bahwa pada banyak bidang kesenian bukan lagi pada sisi keindahan, dan keharmonisan, melainkan sesuatu yang mengejutkan dan menggemparkan; bahwa faktor keindahan dan kelembutan itu mulai mengabur dan melihat bahwa karya sastra hampir tidak mempunyai batas yang tegas lagi dengan karya tulis nonsastra. Hal ini disebabkan karena dalam karya sastra terdapat kategori-kategori lain yang turut ambil bagian. Manusia tidak melulu sebagai homo estheticus, tetapi juga homo politicus, homo economicus.

  1. Sastra dan kebenaran

Terdapat ekuivalensi antara jiwa seniman dengan karyanya. Yang dapat ditangkap oleh pembaca dan penikmat hanyalah karya itu saja, sedangkan kondisi kejiwaan seniman itu sendiri secara konkrit tidak mungkin dicapai. Bila hendak mengetahui cara berpikir seorang seniman hanya mungkin diketahui melalui karyanya dengan jelas.

Dalam pengungkapan pengalaman jiwa terdapat pula berbagai hambatan, terutama pada sarana penyampaiannya, yaitu bahasa. Bahasa sebagai alat pelahiran itu tidak mungkin lengkap untuk menampung dan menggambarkan cita rasa atau pengalaman batin sastrawan. Ketidaksanggupan bahasa menjalankan perannya itu mungkin disebabkan oleh kelemahan bahasa itu sendiri atau mungkin karena kekurangmampuan sastrawan menguasai bahasa tersebut, atau dapat pula karena kedua faktor tersebut.

Seni sastra menggunakan lambang-lambang bahasa sebagai alatnya untuk melahirkan pengalaman jiwa sejelas-jelasnya. Tetapi bahasa atau lambang-lambang yang berkaitan dengan itu hanya mampu mewakili pengertian yang pada dasarnya bersifat abstrak, meskipun pengertian itu sendiri menyangkut benda-benda konkrit. Oleh sebab itu, pendapat bahwa seni merupakan tiruan alam tidak dapat diterima sepenuhnya, karena suatu ketika ia merupakan tafsiran tentang alam.

Dalam kenyataan, ukuran kebenaran merupakan ukuran yang sering digunakan dalam menilai suatu karya sastra. Memang tanggung jawab terhadap kebenaran ini harus ada pada setiap sastrawan dengan hasil karyanya. Kebenaran yang dimaksudkan bukanlah kebenaran yang klop dengan kenyataan pengalaman sehari-hari. Tetapi lebih luas dari itu, yaitu kebenaran yang ideal, kebenaran yang bukan saja bertumpu pada kehidupan nyata yang terjadi sekarang. Tetapi juga kebenaran yang sepatutnya terjadi, kebenaran yang diinginkan.

Penafsiran kebenaran yang lebih luas adalah kebenaran yang mencakup segi perlambangan (the criterion of symbolic truth). Dalam pengertian kebenaran semacam itu membantu memberikan jawaban yang wajar tentang mengapa kita dapat menerima cerita-cerita dongeng atau kepahlawanan yang diperbaurkan dengan keajaiban, sebagai suatu bentuk karya sastra yang bernilai.

By : Teemanue Rulcho

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: