jump to navigation

Berita Besar Oleh KH Syarofuddin 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.
trackback
Pak Syarof

Pak Syarof

Apa saja yang diciptakan oleh Allah Ta’ala, harus dimasukkan dalam angan-angan dan difikirkan. Agar hal ini tercapai, maka harus menggunakan ilmu tersebut.

Allah berfirman:

أَلاَ يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (6)

Dalam ayat tersebut merangkan, nanti pada Hari Agung (لِيَوْمٍ عَظِيمٍ) dihari itu nanti seluruh umat manusia dari umat Nabi Adam sampai umat Nabi Muhammad dikumpulkan. Dan memang hari itu sangat menakutkan. Karena mau tidak mau seluruh umat manusia menghadap kepada Tuhan alam semesta (Allah).

Kalau kita sudah semakin terpuruk akan perkara duniawi, maka kita harus senantiasa mengingat ayat yang seperti ini. Tapi, kalau sedang mengalami kesusahan, maka ingatlah ayat yang menerangkan tentang kenikmatan surga. Jadi jangan selalu membaca ayat yang berisikan satu tema, misalnya tentang perang. Karena dikhawatirkan, setelah membaca ayat-ayat tadi dikiranya semua orang yang ada di depannya merupakan musuhnya. Oleh karena itu, mamahami makna Al-Quran sesuai dengan keadaan yang kita alami, bisa menjaga keseimbangan dalam diri kita.

Yang kedua, yang membuat Imam Ghozali merasa kagum adalah orang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Apakah dia tidak berfikir, tidak berangan-angan secara yakin suatu perkara yang akan terjadi di hadapannya. Di ingatkan kembali kalau nanti akan terjadi gempa yang luar biasa, kesulitan-kesulitan yang sulit, itu semua merupakan Berita Besar (النباء) .

Dalam juz ‘Amma,dalam surat An Naba’ kurang lebihnya ada ayat yang menerangkan;

orang-orang yang mendapat siksaan di Jahannam sampai berkama-lama tanpa batas, karena

mereka tidak percaya, tidak yakin, tidak takut akan Hisab dan mereka mendustakan ayat-

yat Allah.

Kalau sudah terkena bencana kemudian mereka teringat akan Nabi Muhammad, melamun

tetapi memang ingin bersama dengan Nabi Muhammad, sambil menyebut-nyebut nama

Muhammad. Dengan berdoa kepada Allah; Ya Allah, semoga Engkau senantiasa

mencurahkan sholawat kepada Nabi Muhammad selamanya. Karena Nabi Muhammad-lah yang bisa diandalkan untuk setiap marabahaya yang datang, apalagi marabahaya yang bertumpuk-tumpuk secara merata, yaitu di hari kiamat nanti. Kalau mambiasakan bersholawat, InsyaAllah nanti akan mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW.

Marabahaya yang merata hanyalah di hari kiamat nanti. Takkan ada yang mampu menghindari ataupun bersembunyi. Kemarin ada bencana Tsunami, itu hanya sebagian marabahaya saja dari belahan dunia, bukan secara keseluruhan yang merata. Di hari kiamat nanti semua permukaan bumi menjadi rata (padang Mahsyar). Ada yang berpendapat kalau padang mahsyar berada di Mekkah, tetapi bukan itu. Kita sebagai umat Islam diperintah untuk mempercayainya, bukan diperintah untuk melihatnya. Seperti malikat, dan makhluk gaib lainnya, kita diperintah untuk mengimanimya (اللذين يؤمنون بالغيب).

Orang-orang yang berilmu, kemudian mereka tidak mengamalkan ilmunya, ini bisa saja terjadi karena mereka tidak berfikir, malahan tidak mempercayai kalau nanti akan tiba hari kiamat yang begitu berbahaya. Kalau mereka tahu akan bahayanya hari kiamat, mestinya perlu untuk persiapan mulai sekarang. Misalnya ada kabar kalau akan terjadi kemarau panjang, bisa dipastikan orang yang mendengar berita itu langsung melakukan persiapan untuk menghadapinya. Padahal berita tentang terjadinya hari kiamat, itu tercantum dalam Al Quran yang sudah pasti kebenarannya dan pasti wujud.

Yang ketiga, orang yang beramal tanpa ikhlas.

Nanti kalau orang yang beramal tanpa ikhlas tadi menuntut hasil amal yang telah ia perbuat sewaktu di dunia, sudah pasti akan ditolak. Imam Ghozali menyatakan,”Apakah mereka itu tidak berfikir tentang ayat Al Quran?” yaitu; akhir dari surat Al Kahfi:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)….

110. ……. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Supaya tidak terjadi seperti orang yang ketiga ini, maka sebaiknya kembali dan berangan-angan tewrhadap ayat di atas.

Yang keempat, orang yang ikhlas, tetapi tidak mempunyai kekhawatiran.

Misalnya ada orang yang membaca Al Quran tanpa memikirkan apa-apa kecuali hanya Allah, tetapi dia tidak mempunyai kekhawatiran, dan dia beranggapan kalau surga sudah menjadi miliknya. Walaupun sudah ikhlas, dia tidak mendapatkan hasil amalnya, padahal dia masih mengandalkan kekuasaan mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah.

لعل رحـمة رب حين يقسمها تأتى على حسب العصيان فى القسم

Beramal dengan ikhlas, itu saja sangat menanggung risiko. Ini yang membuat Imam Ghozali merasa kagum. Karena orang yang keempat ini tidak mempunyai rasa khawatir, sehingga dia tidak mempunyai tatakrama terhadap Allah. Dia tidak pernah menganalisis muamalah (sambungan kerja) yang dimiliki oleh Allah, beserta orang-orang bersih hatinya, para kekasih Allah, dan juga beserta para pelayan Allah, yang memberi petunjuk antara Allah dan makhluk-Nya. Sehingga Allah berkata terhadap makhluk yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW :

ولقد أوحى إليك وإلى اللذين من قبلك .الاية

(dan sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu)

Kita bisa mengambil dari contoh kehidupan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan juga Imam Abul Qosim Al- Junaid.

Nabi Muhammad bersabda, yang maknanya kurang lebih sebagai berikut; “Surat Hud beserta surat yang lain telah menjadikan rambutku beruban”.

Semua kumpulan ini tercakup, disimpulkan di dalam Al Quran, dalam empat ayat.

Ayat pertama:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ (المؤمنون : 115)

115. Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

Ayat kedua :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر:18)

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dahulu ketika zaman Rasulullah, beliau pernah berkhutbah dan ditanya oleh seseorang, “Ya Rasulallah, Kapankah hari kiamat terjadi?” Rasulullah menjawabnya,” Apakah kamu sudah melakukan persiapan untuk menghadapinya?” Seketika itu orang yang bertanya tadi terdiam dan terlihat seperti orang yang bingung. Lalu dia menjawab pertanyaan Rasulullah,” Saya mempunyai dua modal untuk menghadapinya, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah menanggapi jawaban orang tadi,”Ya, kamu benar.” Karena nanti orang-orang akan bersama dengan yang dicintainya. Misalnya jika seseorang mencintai oarang ‘alim, maka nanti dia akan bersama orang ‘alim. Jika seseorang mencintai yang tidak benar, maka nanti dia akan bersamanya. Ini yang dinamakan mahabbah.

Nabi Musa dulu pernah ditanya oleh Allah Ta’ala.”Apakah kamu tahu amalmu yang Ku-tempatkan ditempat yang baik?”. Nabi Musa menjawab,”Ya, ini, ibadahku kepada-Mu”, “Bukan”, “yang ini”, “Bukan, bukan itu amalmu itu adalah cintamu kepada-Ku.”

Zaman sekarang, misalnya saja ada seorang nenek yang menyekolahkan anak cucunya, selalu mengharapkan imbalan dari anak cucunya, atas apa yang telah dia perbuat untuk mereka. Jadi nanti kalau diakhirat, dia tidak bisa meminta hasil amalnya di dunia, karena sudah diganti oleh Allah di dunianya.

Ayat ketiga :

(وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت : 69

69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Ayat keempat :

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (العنكبوت : 6)

6. dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Kita sholat, bersilaturrahim, menafkahi keluarga, dengan pendidikan yang baik, nanti manfaat dari semua itu akan kembali kepada diri kita masing-masing.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: