jump to navigation

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah campuran 19 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Notes.
trackback

a
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
MR. Collection’s
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2006
HARRY POTTER AND THE HALF-BLOOD PRINCE
Text copyright © 2005 by J.K. Rowling
All rights reserved
Illustrations by Mary GrandPre copyright © 2005 by Warner Bros.
HARRY POTTER and all related characters and elements are
trademarks of and © Warner Bros. Entertainment Inc.
Harry Potter Publishing Rights © J.K. Rowling.
(s05)
Harry Potter, names, characters and related indicia are
copyright and trademark Warner Bros. © 2000
HARRY POTTER DAN PANGERAN BERDARAH-CAMPURAN
Alih bahasa: Listiana Srisanti
GM 126 06.002
Hak cipta terjemahan Indonesia:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI,
Jakarta, Januari 2006
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ROWLING, J.K.
Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran/J.K. Rowling;
alih bahasa, Listiana Srisanti; Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2006
816 hlm.; 20 cm.
Judul asli: Harry Potter and The Half-Blood Prince
ISBN 979 – 22 – 1763 – 0
I. Judul                        II. Srisanti, Listiana
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan
***
“Janganlah menyembah jikalau tidak
mengetahui siapa yang disembah,
jika engkau tidak mengetahui
siapa yang disembah akhirnya cuma
menyembah ketiadaan, suatu sembahan
yang sia-sia.”
(Syekh Siti Jenar)
1. Menteri yang Lain               9
2. Spinner’s End                  32
3. Mau dan Tak Mau                56
4. Horace Slughorn                79
5. Dahak yang Berlebihan         108
6. Dilema Draco                  137
7. Klub Slug                     165
8. Kemenangan Snape              197
9. Pangeran Berdarah-Campuran    218
10. Rumah Gaunt                   247
11. Hermione Turun Tangan         276
300
12. Perak dan Opal
13. Riddle yang Serbarahasia      326
352
14. Felix Felicis
15. Sumpah Tak-Terlanggar         383
16. Natal yang Sangat Dingin      411
17. Kenangan yang Dimodifikasi    441
18. Kejutan Ulang Tahun           471
19. Tugas Rahasia Peri-Rumah      502
532
20. Permohonan Lord Voldemort
563
21. Kamar yang Tak-Bisa-Diketahui
22. Setelah Pemakaman             590
23. Horcrux                       618
24. Sectumsempra                  645
25. Sang Pelihat Dicuri-dengar    672
26. Gua                           697
27. Menara Tersambar Petir 727
28. Kaburnya Sang Pangeran 749
29. Ratapan Phoenix        766
30. Pusara Putih           792
AAT itu menjelang tengah malam dan Perdana
Menteri sedang duduk sendirian di kantornya,
membaca laporan panjang yang lewat begitu saja
melalui otaknya tanpa meninggalkan makna sedikit
pun. Dia sedang menunggu telepon dari presiden
negara yang jauh, dan di antara bertanya-tanya kapan
orang sialan itu akan menelepon dan berusaha me-
nekan ingatan tak menyenangkan akan minggu yang
sangat panjang, melelahkan, serta sulit, nyaris tak ada
ruang tersisa di otaknya untuk hal-hal lain. Semakin
dia berusaha memfokuskan pikiran pada halaman ter-
cetak di depannya, semakin jelas Perdana Menteri
bisa melihat wajah kegirangan salah satu lawan politik-
nya. Lawan politik yang satu ini telah muncul dalam
berita hari itu, tak hanya menyebutkan satu per satu
9
semua kejadian mengerikan yang terjadi sepanjang
minggu lalu (lagi pula siapa yang perlu diingatkan),
namun juga menjelaskan kenapa masing-masing mu-
sibah itu adalah kesalahan pemerintah.
Denyut nadi Perdana Menteri bertambah cepat
mengingat tuduhan-tuduhan ini, karena semuanya
tidak adil dan tidak benar. Bagaimana mungkin peme-
rintahnya diharapkan bisa mencegah jembatan itu
ambruk? Sungguh kelewatan kalau ada yang menu-
duh mereka tidak menyediakan cukup dana untuk
jembatan. Jembatan itu belum lagi sepuluh tahun,
dan para ahli yang paling top pun bingung, tak bisa
menjelaskan kenapa jembatan itu mendadak putus
jadi dua, menjerumuskan selusin mobil ke dalam su-
ngai dalam di bawahnya. Dan beraninya orang menu-
duh bahwa kurangnya polisilah penyebab kedua pem-
bunuhan sangat mengerikan yang dipublikasikan se-
cara meluas? Atau bahwa pemerintah mestinya sudah
bisa meramalkan terjadinya badai ajaib di West
Country yang telah menelan begitu banyak korban
baik jiwa maupun harta benda. Dan salahnyakah jika
salah satu menteri mudanya, Herbert Chorley, telah
memilih minggu itu untuk bersikap begitu ganjil se-
hingga sekarang dia akan melewatkan jauh lebih ba-
nyak waktu bersama keluarganya?
“Suasana muram menyelimuti negara ini,” si lawan
politik menyimpulkan, nyaris tanpa menyembunyikan
seringai lebarnya.
Dan celakanya, ini betul sekali. Perdana Menteri
merasakannya sendiri; orang-orang betul-betul tampak
lebih merana daripada biasanya. Bahkan cuaca pun
10
suram; banyak kabut dingin di tengah bulan Juli… ini
tidak benar, ini tidak normal…
Dia membalik laporan ke halaman dua, melihat
laporan itu masih panjang, lalu menyerah. Seraya
meregangkan lengan di atas kepala, dia melihat ke
sekeliling kantornya dengan pilu. Kantornya bagus,
dengan perapian pualam indah menghadap ke jen-
dela-jendela panjang berbingkai, yang sekarang ter-
tutup rapat gara-gara hawa dingin yang aneh. Dengan
sedikit bergidik Perdana Menteri bangkit dan berjalan
ke jendela, memandang kabut yang berkumpul dan
menekan jendela. Saat itulah, ketika berdiri membela-
kangi ruangan, dia mendengar batuk pelan di bela-
kangnya.
Dia membeku, hidungnya menempel pada bayangan
wajahnya yang ketakutan di kaca jendela yang gelap.
Dia mengenali batuk itu. Dia pernah mendengarnya
sebelumnya. Dia berbalik, sangat perlahan, menghadap
ruang yang kosong.
“Halo?” katanya berusaha terdengar lebih berani
daripada yang dirasakannya.
Sesaat dia membiarkan dirinya dikuasai harapan
mustahil bahwa tak akan ada yang menjawabnya.
Meskipun demikian, jawaban langsung terdengar,
suara yang garing dan tegas yang kedengarannya
seperti membaca pernyataan tertulis. Suara itu datang-
nya—seperti yang telah diketahui Perdana Menteri
waktu mendengar batuk yang pertama kali—dari pria
kecil bertampang kodok memakai wig perak panjang
yang tergambar dalam lukisan cat minyak kecil kotor
di sudut ruangan yang jauh.
11
“Kepada Perdana Menteri Muggle. Perlu sekali kita
bertemu. Mohon segera ditanggapi. Salam, Fudge.”
Pria dalam lukisan memandang Perdana Menteri de-
ngan ingin tahu.
“Er,” kata Perdana Menteri, “ini bukan saat yang
cocok untuk saya… saya sedang menunggu telepon,
soalnya… dari presiden ne—”
“Itu bisa diatur-ulang,” kata lukisan segera. Hati
Perdana Menteri mencelos. Itu yang dia takutkan.
“Tetapi saya sungguh berharap bisa bicara—”
“Kita atur agar Presiden lupa menelepon Anda.
Alih-alih sekarang, dia akan menelepon besok malam,”
kata pria kecil itu. “Tolong segera menjawab Mr
Fudge.”
“Saya… oh… baiklah,” kata Perdana Menteri lemah.
“Ya, saya akan menemui Fudge.”
Dia bergegas kembali ke mejanya, seraya melurus-
kan dasinya. Baru saja dia duduk dan mengatur agar
ekspresi wajahnya tampak rileks dan tak terganggu,
api hijau terang mendadak berkobar di perapiannya,
di bawah rak pualamnya. Dia mengawasi, berusaha
tidak menunjukkan keterkejutan ataupun ketakutan,
ketika seorang pria gemuk muncul di dalam kobaran
api itu, berpusing secepat gasing. Beberapa detik ke-
mudian, dia melompat keluar dari perapian ke per-
madani antik yang agak bagus, mengibaskan abu dari
mantelnya yang panjang bergaris, topi bowler berwarna
hijau-limau di tangannya.
“Ah… Perdana Menteri,” kata Cornelius Fudge, me-
langkah maju dengan tangan terjulur. “Senang ber-
temu Anda lagi.”
12
Perdana Menteri sejujurnya tak bisa membalas de-
ngan ucapan yang sama, maka dia diam saja. Dia
sama sekali tak senang bertemu Fudge, yang muncul
dari waktu ke waktu. Kemunculannya sendiri sudah
menakutkan, dan biasanya kalau Fudge muncul Per-
dana Menteri akan mendengar kabar yang sangat
buruk. Lagi pula, Fudge tampak jelas kelelahan. Dia
lebih kurus, kepalanya lebih botak, rambutnya lebih
banyak ubannya, dan wajahnya tampak kusut. Per-
dana Menteri sudah pernah melihat penampilan se-
macam ini pada banyak politikus sebelumnya, dan ini
tak pernah menjadi pertanda baik.
“Bagaimana saya bisa membantu Anda?” tanyanya,
sambil sekilas menjabat tangan Fudge dan memberi
isyarat ke arah kursi yang paling keras di depan
mejanya.
“Sulit mau mulai dari mana,” gumam Fudge, seraya
menarik kursi, duduk dan meletakkan topi bowler-nya
di atas lututnya. “Minggu yang sungguh gila, sungguh
gila…”
“Anda mengalami minggu yang buruk juga?” tanya
Perdana Menteri kaku, berharap dengan berkata demi-
kian dia sudah menyiratkan bahwa masalahnya sen-
diri sudah banyak, tanpa perlu ditambahi masalah
Fudge.
“Ya, tentu saja,” kata Fudge, mengusap matanya
dengan letih dan memandang murung Perdana Men-
teri. “Saya mengalami minggu yang sama dengan
Anda, Perdana Menteri. Jembatan Brockdale… pem-
bunuhan keluarga Bones dan Vance… belum lagi ke-
hebohan di West Country…”
13
“Anda—er—maksud saya, beberapa rakyat Anda ter-
libat dalam—dalam peristiwa-peristiwa itu, kan?”
Fudge memandang Perdana Menteri dengan tatapan
agak tegang.
“Tentu saja mereka terlibat,” katanya. “Mestinya
Anda sudah menyadari apa yang terjadi?”
“Saya…” gagap Perdana Menteri.
Persis sikap seperti inilah yang membuatnya sangat
membenci kunjungan Fudge. Bagaimanapun juga dia
Perdana Menteri dan tak suka disudutkan sampai
merasa seperti murid yang tak tahu apa-apa. Tetapi
tentu saja, situasinya selalu begini sejak pertemuannya
yang pertama dengan Fudge pada malam pertamanya
sebagai Perdana Menteri. Dia ingat jelas peristiwa itu,
seakan baru terjadi kemarin, dan tahu itu akan meng-
hantuinya sampai hari kematiannya.
Dia sedang berdiri sendirian di kantor ini, me-
nikmati kemenangan yang berhasil diraihnya setelah
bertahun-tahun diimpikan dan direncanakan, ketika
didengarnya bunyi orang batuk di belakangnya, persis
malam ini. Ketika dia berbalik ternyata lukisan kecil
jelek itu berbicara kepadanya, memberitahunya bah-
wa Menteri Sihir akan datang dan memperkenalkan
diri.
Wajar saja, saat itu dia mengira kampanye yang
lama dan ketegangan pemilihan telah membuatnya
sinting. Dia ngeri sekali ada lukisan bicara kepadanya,
walaupun ini bukan apa-apa dibanding perasaannya
ketika ada orang yang menyatakan diri sebagai pe-
nyihir melompat keluar dari perapian dan menjabat
tangannya. Dia bungkam seribu bahasa selama Fudge
14
menjelaskan bahwa ada para penyihir yang masih
tinggal secara rahasia di seluruh dunia, dan meyakin-
kan bahwa dia tak perlu memusingkan hal ini karena
Kementerian Sihir bertanggung jawab untuk seluruh
komunitas sihir dan mencegah populasi non-sihir tahu
soal adanya penyihir ini. Ini, kata Fudge, pekerjaan
sulit yang mencakup segala sesuatu dari pengaturan
soal pertanggungjawaban penggunaan sapu terbang
sampai mengendalikan populasi naga (Perdana Menteri
ingat dia mencengkeram meja mencari pegangan agar
tak jatuh mendengar ini). Fudge kemudian menepuk
bahu Perdana Menteri yang masih kaget dengan gaya
kebapakan.
“Tak perlu kuatir,” katanya, “kemungkinan Anda
tak akan bertemu saya lagi. Saya hanya akan meng-
ganggu Anda jika ada sesuatu yang benar-benar serius
terjadi di tempat kami, sesuatu yang akan berpenga-
ruh terhadap para Muggle—populasi non-sihir, me-
nurut hemat saya. Kalau tidak, kita hidup sendiri-
sendiri dalam damai. Dan harus saya katakan, Anda
menerima ini jauh lebih baik daripada orang yang
Anda gantikan. Dia berusaha melempar saya keluar
dari jendela, mengira saya ini olok-olok yang dikirim
oleh partai lawan.”
Mendengar ini, akhirnya Perdana Menteri bisa bicara
lagi.
“Jadi, Anda bukan olok-olok?”
Itu harapannya yang terakhir, harapan dalam ke-
putusasaan.
“Bukan,” kata Fudge lembut. “Bukan, sayang bukan.
Lihat.”
15
Dan dia mengubah cangkir teh Perdana Menteri
menjadi tikus kecil.
“Tapi,” kata Perdana Menteri menahan napas, meng-
awasi cangkirnya mengunyah-ngunyah, “tetapi kena-
pa—kenapa tak ada yang memberitahu saya—?”
“Menteri Sihir hanya memperlihatkan diri kepada
Perdana Menteri Muggle yang sedang menjabat,” kata
Fudge, menyelipkan kembali tongkat sihirnya ke dalam
jaketnya. “Kami menganggap itu cara terbaik untuk
menjaga kerahasiaan.”
“Tapi kalau begitu,” Perdana Menteri mengembik,
“kenapa tak ada mantan perdana menteri yang mem-
peringatkan saya—?”
Mendengar ini, Fudge betul-betul tertawa.
“Perdana Menteri yang baik, apakah Anda akan
memberitahu orang lain?”
Masih terkekeh, Fudge melemparkan sejumput bu-
buk ke dalam perapian, melangkah ke dalam lidah
api hijau-zamrud, dan menghilang dengan bunyi deru.
Perdana Menteri berdiri tertegun, tak bergerak, dan
sadar bahwa dia tak akan pernah, seumur hidupnya,
berani menyebut-nyebut pertemuan ini kepada orang
lain, karena siapa sih di dunia ini yang akan memer-
cayainya?
Keterkejutannya perlu beberapa waktu untuk me-
mudar. Selama beberapa waktu dia berusaha meyakin-
kan diri bahwa Fudge betul-betul halusinasi yang
disebabkan oleh kekurangan tidur selama kampanye
pemilihan yang sangat meletihkan. Dalam usaha sia-
sia untuk menyingkirkan semua yang mengingatkan-
nya akan pertemuan yang membuat tidak nyaman
16
ini, dia memberikan tikus kecilnya kepada keponakan-
nya yang senang sekali dan menginstruksikan kepada
sekretaris pribadinya untuk menurunkan lukisan laki-
laki kecil jelek yang telah mengumumkan kedatangan
Fudge. Meskipun demikian, betapa kecewanya Perdana
Menteri, lukisan itu ternyata tak mungkin dipindah-
kan. Ketika beberapa tukang kayu, satu atau dua ahli
bangunan, seorang sejarawan seni, dan ketua ben-
dahara semuanya telah mencoba tanpa hasil mencopot
lukisan itu dari dinding, Perdana Menteri menyerah
dan hanya berharap lukisan itu tetap bergeming dan
tak bersuara selama sisa masa jabatannya. Kadang-
kadang dia yakin sekali melihat dari sudut matanya
penghuni lukisan itu menguap atau menggaruk hi-
dungnya; bahkan, sekali atau dua kali, dia berjalan
keluar begitu saja dari lukisannya dan hanya mening-
galkan sehelai kanvas berwarna cokelat-lumpur. Meski-
pun demikian Perdana Menteri telah melatih diri agar
tidak terlalu sering melihat lukisan itu, dan selalu
memberitahu dirinya dengan tegas bahwa matanya
mempermainkannya jika sesuatu seperti ini terjadi.
Kemudian, tiga tahun yang lalu, pada malam yang
mirip sekali dengan malam ini, Perdana Menteri se-
dang sendirian di dalam kantornya ketika lukisan itu
sekali lagi mengumumkan Fudge sebentar lagi akan
datang. Fudge muncul begitu saja dari perapian, basah
kuyup dan dalam keadaan cukup panik Sebelum
Perdana Menteri sempat bertanya kenapa air menetes-
netes dari pakaiannya membasahi karpetnya, Fudge
sudah mulai berteriak-teriak tentang penjara yang be-
lum pernah didengar Perdana Menteri, seorang laki-
17
laki bernama “Serius” Black, sesuatu yang kedengaran-
nya seperti Hogwarts dan seorang anak laki-laki ber-
nama Harry Potter, tak satu pun masuk akal bagi
Perdana Menteri.
“…Saya baru datang dari Azkaban,” kata Fudge
terengah, menuangkan cukup banyak air dari ping-
giran topi bowler-nya ke dalam sakunya. “Di tengah
Laut Utara, Anda tahu, pelarian yang sangat gawat…
para Dementor gempar—” dia bergidik “—belum per-
nah ada yang berhasil kabur dari sana. Bagaimanapun
juga, saya harus datang kepada Anda, Perdana Men-
teri. Black diketahui sebagai pembunuh Muggle dan
mungkin merencanakan bergabung dengan Anda-
Tahu-Siapa… tapi tentu saja, Anda bahkan tidak tahu
siapa itu Anda-Tahu-Siapa!” Dia menatap Perdana
Menteri tanpa harapan selama beberapa saat, kemu-
dian berkata, “Nah, duduklah, duduklah, sebaiknya
saya beritahu Anda… silakan minum wiski…”
Perdana Menteri agak sebal disuruh duduk di kan-
tornya sendiri, apalagi ditawari wiskinya sendiri, na-
mun dia toh duduk juga. Fudge telah mencabut tong-
kat sihirnya, menyihir dua gelas penuh cairan ke-
kuningan dari udara kosong, mendorong salah satunya
ke tangan Perdana Menteri, dan menarik kursi.
Fudge bicara selama lebih dari satu jam. Dia me-
nolak menyebutkan satu nama tertentu, dan alih-alih
menyebutnya dia menuliskannya pada secarik per-
kamen, yang kemudian disorongkannya ke tangan
Perdana Menteri yang bebas-wiski. Ketika akhirnya
Fudge berdiri untuk pergi, Perdana Menteri juga ber-
diri.
18
“Jadi, menurut Anda…” dia menyipitkan mata mem-
baca nama di tangan kirinya, “Lord Vol—”
“Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut!” gertak Fudge.
“Maaf… menurut Anda, Dia yang Namanya Tak
Boleh Disebut masih hidup, kalau begitu?”
“Yah, kata Dumbledore begitu,” kata Fudge, seraya
mengancingkan mantel bergarisnya di bawah dagunya,
“tapi kami belum pernah berhasil menemukannya.
Jika Anda tanya pendapat saya, dia tidak berbahaya,
kecuali dia punya pendukung. Jadi, Black-lah yang
harus kita cemaskan. Nah, saya harap kita tidak ber-
temu lagi, Perdana Menteri! Selamat malam!”
Nyatanya mereka bertemu lagi. Kurang dari setahun
yang lalu, Fudge yang tampak kacau muncul begitu
saja entah dari mana dalam Ruang Kabinet untuk
memberitahu Perdana Menteri bahwa ada gangguan
dalam Piala Dunia Kwidditch (kedengarannya begitu)
dan bahwa beberapa Muggle “terlibat”, namun
Perdana Menteri diminta agar tidak khawatir, fakta
bahwa Tanda Kau-Tahu-Siapa terlihat lagi tidak berarti
apa-apa. Fudge yakin itu insiden yang tak ada
hubungannya dan Kantor Hubungan Muggle sedang
menangani semua modifikasi memori sementara
mereka berbicara itu.
“Oh, dan saya hampir lupa,” Fudge menambahkan.
“Kami mengimpor tiga naga asing dan satu sphinx
untuk Turnamen Triwizard, cukup rutin, tapi Depar-
temen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk
Gaib memberitahu saya, dalam buku peraturan tercan-
tum bahwa kami harus memberitahu Anda kalau
kami memasukkan makhluk-makhluk sangat ber-
bahaya ke dalam negara ini.”
19
“Saya—apa—naga?” gagap Perdana Menteri.
“Ya, tiga,” kata Fudge. “Dan satu sphinx. Nah, sela-
mat siang.”
Perdana Menteri sungguh berharap bahwa naga
dan sphinx adalah yang terburuk, namun ternyata
tidak. Kurang dari dua tahun kemudian, Fudge mun-
cul dari perapian lagi, kali ini dengan berita bahwa
ada pelarian besar-besaran dari Azkaban.
“Pelarian besar-besaran?” Perdana Menteri mengu-
lang parau.
“Tak perlu kuatir, tak perlu kuatir!” teriak Fudge,
satu kakinya sudah di dalam lidah api. “Kami akan
menangkap mereka dalam waktu singkat—hanya saja
saya pikir Anda perlu tahu!”
Dan sebelum Perdana Menteri bisa berteriak, “Tung-
gu dulu!” Fudge telah menghilang dalam siraman
bunga api hijau.
Apa pun yang dikatakan pers dan partai lawan,
Perdana Menteri bukanlah orang bodoh. Tidak luput
dari perhatiannya bahwa, kendati Fudge meyakinkan-
nya agar tenang dalam pertemuan pertama mereka,
mereka kini agak sering bertemu, dan juga bahwa
dalam setiap kunjungan Fudge semakin bingung. Wa-
laupun dia tak suka memikirkan Menteri Sihir (atau,
seperti dia selalu menyebut Fudge dalam kepalanya,
Menteri yang Lain), Perdana Menteri mau tak mau
cemas bahwa kali berikutnya Fudge muncul, dia akan
membawa berita yang lebih menakutkan. Karena itu,
kedatangan Fudge, yang melangkah keluar dari per-
apian sekali lagi, tampak berantakan dan ketakutan
dan sangat heran bahwa Perdana Menteri tidak tahu
20
kenapa persisnya dia berada di sana, adalah hal ter-
buruk yang terjadi selama seminggu yang luar biasa
suram ini.
“Bagaimana mungkin saya tahu apa yang sedang
terjadi di—er—komunitas sihir?” bentak Perdana Men-
teri sekarang. “Saya punya negara untuk diurus dan
cukup banyak masalah saat ini tanpa—”
“Masalah kita sama,” potong Fudge. “Jembatan
Brockdale tidak rusak. Dan itu bukan angin ribut.
Pembunuhan itu bukan perbuatan Muggle. Dan ke-
luarga Herbert Chorley akan lebih aman tanpa dia.
Kami saat ini sedang mengatur untuk memindahkan-
nya ke Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan
Luka-Luka Sihir. Perpindahan akan dilaksanakan ma-
lam ini.”
“Apa maksud Anda… saya rasa saya tidak… apa?”
gertak Perdana Menteri.
Fudge menarik napas dalam-dalam dan berkata,
“Perdana Menteri, saya sungguh menyesal terpaksa
harus memberitahu Anda bahwa Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut telah kembali.”
“Kembali? Sewaktu Anda mengatakan ‘kembali’…
dia hidup? Maksud saya—”
Perdana Menteri mencari-cari dalam ingatannya rin-
cian percakapan mengerikan tiga tahun sebelumnya,
ketika Fudge memberitahunya tentang penyihir yang
paling ditakuti, penyihir yang telah melakukan seribu
tindak kriminal mengerikan sebelum menghilang se-
cara misterius lima belas tahun lalu.
“Ya, hidup,” kata Fudge. “Maksud saya—saya tak
tahu—apakah orang bisa dikatakan hidup kalau dia
21
tak bisa dibunuh? Sebenarnya saya tidak mengerti,
dan Dumbledore tidak mau menjelaskan dengan gam-
blang—tapi bagaimanapun juga, dia jelas punya tubuh
dan bisa berjalan dan bicara dan membunuh, maka
saya kira, untuk keperluan pembicaraan kita, ya, dia
hidup.”
Perdana Menteri tidak tahu harus menanggapi ba-
gaimana, namun kebiasaan yang telah melekat pada
dirinya untuk selalu tampil serbatahu tentang topik
apa saja yang muncul, membuatnya mencari-cari de-
tail yang bisa diingatnya dari pembicaraan mereka
sebelumnya.
“Apakah Serius Black bersama—er—Dia yang Nama-
nya Tak Boleh Disebut?”
“Black? Black?” kata Fudge bingung, memutar-mutar
topi bowler-nya. dengan cepat dengan jari-jarinya. “Sirius
Black, maksud Anda? Jenggot Merlin, tidak, Black
sudah meninggal. Ternyata kami—er—keliru tentang
Black. Dia tidak bersalah. Dan dia juga tidak bersekutu
dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Maksud
saya,” dia menambahkan membela diri, memutar topi-
nya lebih cepat, “semua bukti menunjuk—kami punya
lebih dari lima puluh saksi-mata—tapi bagaimanapun
juga, seperti yang saya katakan, dia sudah meninggal.
Dibunuh, sebenarnya. Di kantor Kementerian Sihir.
Akan ada penyelidikan, sebetulnya…”
Perdana Menteri heran sendiri ketika dia merasa
kasihan kepada Fudge saat itu. Namun rasa kasihan-
nya segera dipudarkan oleh rasa puas diri, saat terpikir
olehnya bahwa, sekalipun dia tak bisa muncul dari
dalam perapian, tidak pernah terjadi pembunuhan di
22
departemen pemerintahan mana pun di bawah tang-
gung jawabnya… belum, paling tidak…
Sementara Perdana Menteri sembunyi-sembunyi me-
ngetuk papan mejanya, Fudge melanjutkan, “Tapi
Black sudah lewat. Persoalannya sekarang, kita sedang
perang, Perdana Menteri, dan harus ada langkah-
langkah yang diambil.”
“Perang?” ulang Perdana Menteri gugup. “Tentunya
pernyataan itu agak berlebihan?”
“Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh Di-
sebut yang kabur dari Azkaban Januari lalu sekarang
sudah bergabung dengannya,” kata Fudge, berbicara
makin lama makin cepat, dan memutar topinya begitu
cepatnya sehingga seperti pusaran hijau-limau. “Sejak
bergerak terang-terangan, mereka menyebabkan mala-
petaka di mana-mana. Jembatan Brockdale—dia yang
melakukannya, Perdana Menteri, dia mengancam akan
mengadakan pembunuhan-massal Muggle kalau saya
tidak mau menyisih untuknya dan—”
“Astaga, jadi kesalahan Anda-lah orang-orang ini
terbunuh dan saya harus menjawab pertanyaan-per-
tanyaan tentang tiang-penyangga berkarat dan perpan-
jangan-sendi keropos dan entah apa lagi!” kata Per-
dana Menteri berang.
“Salah saya!” kata Fudge, wajahnya memerah. “Apa-
kah Anda mau mengatakan Anda mau memfitnah
saya?”
“Barangkali tidak,” kata Perdana Menteri, bangkit
berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan, “tapi saya
akan mengerahkan segala upaya untuk menangkap si
penjahat sebelum dia melakukan kekejian seperti itu!”
23
“Apakah Anda benar-benar mengira saya belum
mengerahkan segala upaya?” tuntut Fudge panas. “Se-
mua Auror di Kementerian sudah—dan sedang—ber-
usaha mencarinya dan menangkapi para pengikutnya,
tapi yang kita bicarakan ini salah satu penyihir paling
hebat sepanjang masa, penyihir yang berhasil meng-
hindari penangkapan selama hampir tiga dekade!”
“Jadi, saya rasa Anda akan memberitahu saya dia
menyebabkan angin ribut di West Country juga?”
kata Perdana Menteri, kemarahannya meningkat se-
iring setiap langkahnya. Sungguh mengesalkan ber-
hasil mengetahui alasan terjadinya malapetaka me-
ngerikan ini dan tidak bisa memberitahu publik, ham-
pir sama buruknya dengan kalau itu kesalahan peme-
rintah.
“Itu bukan angin ribut,” kata Fudge merana.
“Maaf!” bentak Perdana Menteri, sekarang benar-
benar mengentakkan kaki. “Pohon-pohon tercabut,
atap beterbangan, tiang-tiang lampu bengkok, luka-
luka mengerikan—”
“Itu ulah Pelahap Maut,” kata Fudge. “Para pengikut
Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut… dan kami
mencurigai keterlibatan raksasa.”
Perdana Menteri langsung berhenti berjalan seolah
dia menabrak dinding yang tak kelihatan.
“Keterlibatan opal”
Fudge meringis. “Dia menggunakan raksasa kali
lalu, ketika ingin memberi efek luar biasa. Kantor
Informasi yang Keliru telah bekerja dua puluh empat
jam sehari, kami mengirim tim-tim Obliviator untuk
memodifikasi memori semua Muggle yang melihat
24
apa yang sesungguhnya terjadi, sebagian besar per-
sonel Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk
Gaib berkeliaran di Somerset, tapi kami belum berhasil
menemukan raksasanya—sungguh malapetaka!”
“Malapetaka besar!” kata Perdana Menteri gusar.
“Saya tidak membantah bahwa kami semua terpukul
di Kementerian,” kata Fudge. “Dengan semua kejadian
itu, dan kemudian kehilangan Amelia Bones.”
“Kehilangan siapa?”
“Amelia Bones, kepala Departemen Pelaksanaan Hu-
kum Sihir. Kami menduga Dia yang Namanya Tak
Boleh Disebut sendiri yang membunuhnya, karena
Amelia penyihir yang sangat berbakat—dan semua
bukti menunjukkan dia melawan dengan gigih.”
Fudge berdeham dan, dengan susah payah, ke-
lihatannya, berhenti memutar topi bowler-nya.
“Tapi pembunuhan itu ada di koran-koran,” kata
Perdana Menteri, sejenak marahnya terlupakan. “Koran
kami. Amelia Bones… hanya dikatakan dia wanita
setengah-baya yang hidup sendirian. Pembunuhan
yang—yang mengerikan, kan? Agak banyak dipubli-
kasikan. Polisi bingung, soalnya.”
Fudge menghela napas. “Yah, tentu saja mereka
bingung. Terbunuh dalam kamar yang dikunci dari
dalam, kan? Kami, sebaliknya, tahu persis siapa yang
melakukannya, walaupun itu tidak membuat kami
jadi selangkah lebih maju dalam usaha menangkapnya.
Dan kemudian Emmeline Vance, barangkali Anda tidak
dengar tentang yang ini—”
“Oh ya, saya dengar!” kata Perdana Menteri. “Ter-
jadinya malah hanya di balik tikungan dekat sini.
25
Koran-koran mendapat berita seru. Pelanggaran Hukum
di halaman belakang kantor Verdana Menteri—”
“Dan seakan itu semua belum cukup,” kata Fudge,
hampir-hampir tidak mendengarkan Perdana Menteri,
“masih ada para Dementor yang berkeliaran, menye-
rang orang-orang di mana-mana…”
Suatu hari di saat yang lebih menyenangkan, ka-
limat ini pastilah tak dimengerti Perdana Menteri,
namun sekarang dia lebih bijaksana.
“Bukankah Dementor menjaga para napi di Azka-
ban?” dia bertanya hati-hati.
“Memang, dulu,” kata Fudge letih. “Tapi sekarang
tidak lagi. Mereka meninggalkan penjara dan ber-
sekutu dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut.
Saya tak akan berpura-pura bahwa ini bukan pukulan
berat.”
“Tapi,” kata Perdana Menteri, mulai merasa ngeri,
“bukankah Anda memberitahu saya mereka makhluk-
makhluk yang menyedot harapan dan kebahagiaan
dari orang-orang?”
“Betul. Dan mereka berkembang biak. Itulah yang
menyebabkan adanya semua kabut ini.”
Perdana Menteri, yang lututnya mendadak lemas,
terenyak duduk di kursi terdekat. Membayangkan
makhluk-makhluk tak kelihatan melayang-layang di
seluruh kota dan pedesaan, menyebarkan keputus-
asaan dan hilang-harapan di antara para pemilihnya,
membuatnya pusing.
“Dengar, Fudge—Anda harus melakukan sesuatu!
Ini tanggung jawab Anda sebagai Menteri Sihir!”
“Perdana Menteri yang baik, masa Anda mengira
26
saya masih tetap menjabat Menteri Sihir setelah semua
kejadian ini? Saya dipecat tiga hari yang lalu. Seluruh
komunitas sihir sudah berteriak menuntut pengun-
duran diri saya selama dua minggu ini. Belum pernah
saya melihat mereka bersatu seperti itu selama masa
jabatan saya!” kata Fudge, berusaha memberanikan
diri tersenyum.
Perdana Menteri selama beberapa saat kehilangan
kata-kata. Kendati dia jengkel karena ditempatkan
dalam posisi terpojok, dia masih merasa agak kasihan
terhadap laki-laki bertampang kuyu yang duduk di
depannya.
“Saya ikut prihatin,” katanya akhirnya. “Kalau ada
yang bisa saya lakukan?”
“Anda baik sekali, Perdana Menteri, tapi tak ada
yang bisa Anda lakukan. Saya dikirim ke sini malam
ini untuk memberitahu Anda perkembangan situasi
terakhir dan memperkenalkan Anda kepada pengganti
saya. Saya pikir mestinya dia sudah di sini sekarang,
tapi tentu saja dia sangat sibuk, dengan begitu banyak
kejadian.”
Fudge berpaling memandang lukisan laki-laki kecil
jelek memakai wig panjang ikal perak, yang sedang
mengorek telinganya dengan ujung pena-bulu.
Menangkap mata Fudge, lukisan itu berkata, “Dia
akan ke sini sebentar lagi, dia sedang menyelesaikan
surat kepada Dumbledore.”
“Semoga dia beruntung,” kata Fudge, terdengar getir
untuk pertama kalinya. “Aku menulis kepada Dumble-
dore dua kali sehari selama dua minggu terakhir ini,
tetapi dia bergeming. Kalau saja dia bersedia mem-
27
bujuk anak itu, aku mungkin masih… yah, barangkali
Scrimgeour akan lebih berhasil.”
Baru saja Fudge terdiam dan tampak sedih, ke-
heningan dipecahkan oleh lukisan, yang tiba-tiba saja
berbicara dengan suaranya yang garing dan resmi.
“Kepada Perdana Menteri Muggle. Memohon per-
temuan. Urgen. Tolong segera ditanggapi. Rufus
Scrimgeour, Menteri Sihir.”
“Ya, ya, baik,” kata Perdana Menteri dengan pikiran
kacau, dan belum sempat dia bergerak, api dalam
perapiannya sudah berubah hijau-zamrud lagi, ber-
kobar dan memperlihatkan penyihir berpusar yang
kedua di tengahnya, mengeluarkannya beberapa saat
kemudian di atas permadani antik. Fudge bangkit
dan setelah ragu-ragu sejenak, Perdana Menteri ikut
bangkit, mengawasi penyihir yang baru datang me-
negakkan diri, mengebaskan debu dari jubah hitamnya
yang panjang, dan memandang berkeliling.
Pikiran bodoh pertama Perdana Menteri adalah bah-
wa Rufus Scrimgeour tampak seperti singa tua. Ram-
butnya yang berwarna kuning-kecokelatan dihiasi
uban di sana-sini, demikian juga alisnya yang lebat.
Matanya tajam kekuningan di belakang kacamata ber-
bingkai kawat, dan dia memiliki keanggunan yang
menyiratkan dia sanggup berjalan jauh dan melompat,
walaupun jalannya sedikit timpang. Kesan langsung
yang timbul adalah dia cerdas dan tegar. Perdana
Menteri membatin dia memahami kenapa komunitas
sihir lebih memilih Scrimgeour daripada Fudge sebagai
pemimpin dalam situasi berbahaya begini.
28
“Apa kabar?” sambut Perdana Menteri sopan, meng-
ulurkan tangannya.
Scrimgeour menjabatnya singkat, matanya meneliti
seluruh ruangan, kemudian dia menarik keluar tongkat
sihir dari balik jubahnya.
“Fudge sudah memberitahu Anda semuanya?” dia
bertanya, berjalan ke pintu dan mengetuk lubang
kuncinya dengan tongkat sihirnya. Perdana Menteri
mendengar bunyi “ceklek” pintunya yang mengunci.
“Er—ya,” kata Perdana Menteri. “Dan jika Anda
tidak keberatan, saya lebih suka pintu tidak terkunci.”
“Saya lebih suka tidak terganggu,” kata Scrimgeour
pendek, “atau diintip,” dia menambahkan, mengacung-
kan tongkat sihirnya ke deretan jendela sehingga
gordennya menutup semua. “Baik, nah, saya sibuk
sekali, jadi kita langsung ke pokok masalahnya. Yang
pertama, kita perlu merundingkan keamanan Anda.”
Perdana Menteri berdiri tegak dan menjawab, “Saya
sudah puas dengan sistem keamanan yang saya miliki,
terima ka—”
“Kami tidak,” potong Scrimgeour. “Rawan sekali
bagi para Muggle kalau perdana menteri mereka sam-
pai berada di bawah Kutukan Imperius. Sekretaris
baru Anda di kantor luar—”
“Saya tidak bersedia memberhentikan Kingsley
Shacklebolt, kalau itu yang akan Anda usulkan!” kata
Perdana Menteri panas. “Dia sangat efisien, menye-
lesaikan pekerjaan dua kali lebih cepat daripada yang
lain—”
“Itu karena dia penyihir,” kata Scrimgeour, tanpa
29
senyum sedikit pun. “Auror sangat terlatih, yang di-
tugaskan untuk melindungi Anda.”
“Tunggu sebentar!” tukas Perdana Menteri. “Anda
tak bisa begitu saja memasukkan orang-orang Anda
di kantor saya, saya yang menentukan siapa-siapa
yang bekerja untuk saya—”
“Bukankah tadi Anda katakan Anda puas dengan
Shacklebolt?” kata Scrimgeour dingin.
“Memang—maksud saya, tadinya—”
“Kalau begitu tak ada masalah, kan?” kata Scrim-
geour.
“Saya… yah, asal kerja Shacklebolt tetap… er… hebat,”
kata Perdana Menteri tertegun-tegun.
“Sekarang tentang Herbert Chorley—menteri muda
Anda,” dia melanjutkan. “Yang menghibur publik de-
ngan menirukan bebek.”
“Bagaimana dengan dia?” tanya Perdana Menteri.
“Jelas sekali itu disebabkan oleh Kutukan Imperius
yang tidak sempurna,” kata Scrimgeour. “Kutukan itu
mengacaukan otaknya, tapi dia masih bisa berba-
haya.”
“Dia cuma meleter!” kata Perdana Menteri lemah.
“Tentunya istirahat sedikit… barangkali mengurangi
minum…”
“Tim Penyembuh dari Rumah Sakit St Mungo untuk
Penyakit dan Luka-Luka Sihir sedang memeriksanya
sementara kita bicara ini. Sejauh mi dia sudah berusa-
ha mencekik tiga di antara mereka,” kata Scrimgeour.
“Saya rasa paling baik kita pindahkan dia dari masya-
rakat Muggle untuk sementara waktu.”
“Saya… yah… dia akan sembuh, kan?” kata Perdana
30
Menteri cemas. Scrimgeour hanya mengangkat bahu,
sudah bergerak ke arah perapian.
“Nah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya
akan mengabarkan perkembangan yang terjadi kepada
Anda, Perdana Menteri—atau, paling tidak, saya ba-
rangkali akan terlalu sibuk untuk bisa datang sendiri,
dalam hal ini saya akan mengirim Fudge ke sini. Dia
sudah sepakat tetap di Kementerian dalam kapasitas
sebagai penasihat.”
Fudge berusaha tersenyum, namun gagal, jadinya
dia cuma seperti orang sakit gigi. Scrimgeour sudah
mencari-cari dalam sakunya bubuk misterius yang
mengubah warna api jadi hijau. Perdana Menteri me-
mandang tak berdaya mereka berdua sejenak, kemu-
dian kata-kata yang dicoba ditahannya sepanjang ma-
lam ini akhirnya meledak keluar.
“Tapi astaga—Anda berdua kan penyihir! Anda bisa
melakukan sihir! Tentunya Anda bisa membereskan—
yah—apa saja!”
Scrimgeour berputar perlahan di tempatnya berdiri
dan bertukar pandang tak percaya dengan Fudge,
yang kali ini benar-benar bisa tersenyum ketika dia
berkata dengan baik hati, “Persoalannya, pihak satunya
itu juga bisa sihir, Perdana Menteri!”
Dan dengan kata-kata itu, kedua penyihir melang-
kah bergantian ke dalam api berwarna hijau cemerlang
dan lenyap.
31
I tempat yang berjarak berkilo-kilo meter, kabut
dingin yang menekan jendela Perdana Menteri
melayang di atas sungai kotor yang berkelok-kelok
sepanjang tepian yang ditumbuhi semak dengan sam-
pan berserakan. Sebuah cerobong besar, peninggalan
penggilingan yang sudah tak terpakai, menjulang,
seperti bayangan mengerikan. Tak ada suara selain
desah air hitam dan tak ada tanda-tanda kehidupan
kecuali seekor rubah kurus yang menyelinap menuruni
tepian sungai, mengendus-endus penuh harap bung-
kus kentang-dan-ikan goreng di antara rerumputan
tinggi.
Namun kemudian, dengan bunyi pop pelan, sosok
ramping berkerudung tiba-tiba muncul di tepi sungai.
Si rubah membeku, matanya yang waspada tertuju
32
pada wujud baru yang aneh ini. Sosok itu tampak
memperhatikan keadaan sekelilingnya sesaat, kemu-
dian berjalan dengan langkah-langkah ringan dan
cepat, mantel panjangnya berkeresek di atas rumput.
Terdengar bunyi pop kedua yang lebih keras, dan
satu lagi sosok berkerudung muncul.
“Tunggu!”
Seruan parau ini mengejutkan si rubah, yang sedang
mengendap nyaris rata di bawah semak. Rubah itu
melompat dari tempat persembunyiannya dan berlari
menaiki tebing. Seleret cahaya hijau menyambar, ter-
dengar dengkingan, dan si rubah terjatuh kembali di
tanah, mati.
Sosok kedua membalik binatang itu dengan jari-jari
kakinya.
“Cuma rubah,” kata suara wanita lega dari bawah
kerudung. “Kukira tadi mungkin Auror—Cissy, tung-
gu!”
Namun buruannya, yang tadi berhenti dan menoleh
ketika cahaya menyambar, sudah merayap memanjat
tebing tempat si rubah tadi tergelincir.
“Cissy—Narcissa—dengarkan aku—”
Wanita kedua berhasil mengejar yang pertama dan
menyambar lengannya, namun si wanita pertama me-
nariknya lepas.
“Pulanglah, Bella!”
“Kau harus mendengarkan aku!”
“Aku sudah mendengarkan. Aku sudah mengambil
keputusan. Tinggalkan aku sendiri.”
Wanita bernama Narcissa mencapai tepian sungai.
33
Di tempat itu pagar tua memisahkan sungai itu dari
jalan batu sempit. Wanita yang lain, Bella, langsung
menyusulnya. Mereka berdiri berdampingan meman-
dang ke seberang jalan, ke deretan-deretan rumah
bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan tertutup
dalam kegelapan.
“Dia tinggal di sini?” tanya Bella dengan suara
menghina. “Di sini? Di kawasan kumuh Muggle ini?
Kita pasti orang pertama bangsa kita yang menginjak-
kan kaki—”
Namun Narcissa tidak mendengarkan; dia telah me-
nyelinap melewati celah di pagar berkarat dan ber-
gegas menyeberang jalan.
“Cissy, tunggu!”
Bella menyusul, mantelnya melambai di belakang-
nya, dan melihat Narcissa berlari sepanjang jalan sem-
pit di antara rumah-rumah, masuk ke jalan sempit
yang nyaris identik. Beberapa lampu jalanan tidak
menyala; kedua wanita ini berlari bergantian melewati
jalanan yang diterangi seberkas cahaya dan tempat-
tempat yang gelap gulita. Si pengejar berhasil menge-
jar buruannya tepat ketika dia akan berbelok lagi, kali
ini dia berhasil menangkap lengannya dan membalik-
kan tubuhnya, sehingga mereka berhadapan.
“Cissy, kau tak boleh melakukan ini, kau tak bisa
memercayainya—”
“Pangeran Kegelapan memercayainya, kan?”
“Pangeran Kegelapan… kurasa… keliru,” Bella ter-
sengal, dan sekejap matanya berkilat di bawah keru-
dungnya ketika dia memandang berkeliling untuk
memastikan mereka benar-benar berdua saja. “Bagai-
34
manapun juga, kita sudah dipesan tidak boleh mem-
beritahukan rencana ini kepada siapa pun. Ini peng-
khianatan terhadap perintah Pangeran Kegel—”
“Lepaskan, Bella!” gertak Narcissa dan dia mencabut
tongkat sihir dari bawah mantelnya, mengacungkan-
nya dengan mengancam ke wajah pengejarnya. Bella
hanya tertawa.
“Cissy, kakakmu sendiri? Kau tak akan—”
“Tak ada lagi yang tak akan kulakukan!” Narcissa
mendesah, ada nada histeris dalam suaranya, dan
begitu dia menebaskan tongkatnya seperti pisau, ada
sambaran cahaya lagi. Bella melepas lengan adiknya
seakan tangannya terbakar.
“Narcissa!”
Tetapi Narcissa telah berlari meninggalkannya. Se-
raya menggosok-gosok tangannya, Bella mengejarnya
lagi, kali ini menjaga jarak, ketika mereka masuk
lebih jauh dalam labirin rumah-rumah bata tanpa
penghuni. Akhirnya Narcissa bergegas menyusuri jalan
bernama Spinner’s End—Ujung Pemintal. Di atas jalan
itu cerobong penggilingan tampak menjulang, seperti
jari raksasa yang sedang memberi teguran. Langkah-
langkahnya bergaung di atas jalan batu ketika dia
melewati jendela-jendela yang kacanya pecah dan
ditutup papan, sampai dia tiba di rumah paling akhir.
Di rumah itu ada cahaya temaram dari balik jendela
bergorden di sebuah ruangan di lantai bawah.
Dia telah mengetuk pintu sebelum Bella, mengutuk
pelan, berhasil menyusulnya. Bersama-sama mereka
berdiri menunggu, sedikit terengah, menghirup bau
sungai kotor yang terbawa angin malam ke hidung
35
mereka. Selewat beberapa saat mereka mendengar
gerakan di balik pintu dan pintu membuka secelah.
Dari celah sempit itu tampak seorang pria memandang
mereka, pria dengan rambut panjang terbelah di te-
ngah, seperti gorden yang membingkai wajahnya yang
pucat dan matanya yang hitam.
Narcissa melempar kerudung kepalanya ke belakang.
Wajahnya pucat sekali sehingga tampaknya bersinar
dalam kegelapan; rambut pirangnya yang panjang
dan terjurai di punggungnya membuatnya tampak
seperti orang tenggelam.
“Narcissa!” kata pria itu, membuka pintu sedikit
lebih lebar, sehingga cahaya mengenai dia dan juga
kakaknya. “Sungguh kejutan menyenangkan!”
“Severus,” katanya dalam bisikan tegang. “Boleh
aku bicara denganmu? Penting sekali.”
“Tentu saja.”
Pria itu mundur agar Narcissa bisa melewatinya
masuk ke dalam rumah. Kakaknya yang masih ber-
kerudung ikut masuk tanpa dipersilakan.
“Snape,” katanya pendek ketika melewatinya.
“Bellatrix,” balasnya, mulutnya yang tipis meleng-
kung menjadi senyum agak mengejek ketika dia me-
nutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.
Mereka masuk ke ruang duduk mungil, yang mem-
beri kesan sel gelap berperedam. Seluruh dindingnya
dipenuhi buku, sebagian besar buku-buku tua dengan
sampul kulit hitam atau cokelat; sebuah sofa usang,
kursi berlengan tua, dan meja reyot berkumpul dalam
cahaya temaram yang disorotkan oleh lampu lilin
36
yang tergantung di langit-langit. Tempat ini kesannya
telantar, seakan biasanya tidak dihuni.
Snape memberi isyarat agar Narcissa duduk di sofa.
Narcissa membuka mantelnya, rhelemparnya, dan du-
duk, memandang tangannya yang putih gemetar ter-
katup di pangkuannya. Bellatrix menurunkan keru-
dungnya lebih pelan. Jika adiknya berkulit putih, kulit-
nya gelap, dengan mata berpelupuk tebal dan rahang
kuat. Dia tak melepaskan pandangan dari Snape ketika
bergerak untuk berdiri di belakang Narcissa.
“Nah, apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya
Snape, seraya duduk di kursi berlengan di hadapan
kedua kakak-beradik itu.
“Kita… kita sendiri, kan?” Narcissa bertanya pelan.
“Ya, tentu saja. Wormtail ada di sini, tapi tikus
tidak masuk hitungan, kan?”
Snape mengacungkan tongkat sihirnya ke dinding
buku di belakangnya dan, dengan bunyi letupan,
sebuah pintu rahasia menjeblak terbuka, memperlihat-
kan sebuah tangga sempit, di atasnya seorang pria
kecil berdiri membeku.
“Seperti yang jelas telah kauketahui, Wormtail, ada
tamu,” kata Snape santai.
Pria itu merayap dengan membungkuk menuruni
beberapa anak tangga terakhir dan masuk ke dalam
ruangan. Matanya kecil, berair, hidungnya runcing,
dan senyumnya tidak menyenangkan. Tangan kirinya
mengelus tangan kanannya, yang kelihatannya seakan
terbungkus sarung tangan perak terang.
“Narcissa!” katanya, dengan suara melengking, “dan
Bellatrix! Sungguh menyenangkan—”
37
“Wormtail akan mengambilkan minuman, jika kalian
mau minum,” kata Snape. “Dan kemudian dia akan
kembali ke kamarnya.”
Wormtail berjengit seakan Snape melemparnya de-
ngan sesuatu.
“Aku bukan pembantumu!” lengkingnya, menghin-
dari mata Snape.
“Masa? Setahuku Pangeran Kegelapan menempat-
kanmu di sini untuk membantuku.”
“Untuk membantu, ya—tetapi bukan untuk mem-
buatkan minuman dan—dan membersihkan rumah-
mu!”
“Aku tak tahu, Wormtail, bahwa kau menginginkan
tugas yang lebih berbahaya,” kata Snape licik. “Ini
bisa diatur dengan mudah. Aku akan bicara kepada
Pangeran Kegelapan—”
“Aku bisa bicara sendiri dengannya kalau aku mau!”
“Tentu saja,” kata Snape, menyeringai. “Tetapi se-
mentara itu, ambilkan kami minuman. Anggur buatan-
peri bolehlah.”
Wormtail bimbang sejenak, tampaknya dia akan
membantah, namun kemudian berbalik dan masuk ke
pintu tersembunyi kedua. Mereka mendengar bunyi
berkelontangan, dan denting gelas beradu. Dalam wak-
tu beberapa detik dia sudah kembali, membawa se-
buah botol berdebu dan tiga gelas di atas nampan.
Semua diletakkannya di atas meja reyot, lalu dia
bergegas meninggalkan mereka, membanting pintu-
berlapis-buku menutup di belakangnya.
Snape menuang tiga gelas anggur merah-darah dan
mengulurkan dua di antaranya kepada dua bersaudara
38
itu. Narcissa menggumamkan ucapan terima kasih,
sementara Bellatrix tidak berkata apa-apa, kecuali terus
memandang galak Snape. Ini tampaknya tidak mem-
pengaruhi ketenangan Snape; sebaliknya, dia malah
tampak agak geli.
“Pangeran Kegelapan,” katanya, mengangkat gelas-
nya dan menenggaknya habis.
Kedua kakak-beradik melakukan hal yang sama.
Snape mengisi kembali gelas mereka.
Seraya meminum gelasnya yang kedua, Narcissa
berkata buru-buru, “Severus, aku minta maaf datang
ke sini seperti ini, tetapi aku harus bertemu dengan-
mu. Kurasa kau satu-satunya yang bisa menolong-
ku—”
Snape mengangkat tangan menghentikannya, kemu-
dian mengacungkan lagi tongkat sihirnya ke arah
pintu tangga yang tersembunyi. Terdengar letusan
keras dan jeritan, diikuti suara Wormtail yang bergegas
menaiki tangga.
“Maaf,” kata Snape. “Belakangan ini dia suka me-
nguping di belakang pintu. Aku tak tahu apa mau-
nya… kau tadi mau bilang apa, Narcissa?”
Narcissa bergidik, menarik napas dalam-dalam, dan
mulai lagi.
“Severus, aku tahu seharusnya aku tak boleh berada
di sini, aku sudah dilarang berkata apa pun kepada
siapa pun.”
“Kalau begitu kau harus tutup mulut!” gertak Bella-
trbc. “Khususnya kepada orang ini!”
“‘Orang ini’?” ulang Snape sinis. “Dan apa maksud-
mu berkata begitu, Bellarrix?”
39
“Bahwa aku tidak memercayaimu, Snape, seperti
yang kauketahui dengan baik!”
Narcissa mengeluarkan suara yang mungkin saja
isak kering dan menutupi wajah dengan tangannya.
Snape meletakkan gelas di atas meja dan duduk lagi,
tangannya di atas lengan kursi, tersenyum kepada
wajah gusar Bellatrix.
“Narcissa, kurasa kita harus mendengar apa yang
sudah ingin sekali disampaikan Bellatrix; ini akan
mencegah interupsi-interupsi membosankan. Nah,
teruskan, Bellatrix,” kata Snape. “Kenapa kau tidak
memercayaiku?”
“Ratusan alasan!” katanya keras, berjalan dari balik
sofa untuk membanting gelasnya di atas meja. “Mulai
dari mana! Di mana kau ketika Pangeran Kegelapan
jatuh? Kenapa kau tidak pernah berusaha mencarinya
ketika dia menghilang? Apa yang kaulakukan selama
bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman Dumble-
dore? Kenapa kau mencegah Pangeran Kegelapan
mendapatkan Batu Bertuah? Kenapa kau tidak segera
datang ketika Pangeran Kegelapan lahir kembali? Di
mana kau beberapa minggu yang lalu, ketika kami
bertempur untuk memperoleh kembali ramalan bagi
Pangeran Kegelapan? Dan kenapa, Snape, Harry Potter
masih hidup, padahal dia ada dalam kekuasaanmu
selama lima tahun?”
Bellatrix berhenti, dadanya naik-turun dengan cepat,
pipinya memerah. Di belakangnya Narcissa duduk
bergeming, wajahnya masih tersembunyi di balik ta-
ngannya.
Snape tersenyum.
40
“Sebelum aku menjawabmu—oh, ya, Bellatrix, aku
akan menjawab! Kau boleh menyampaikan kata-kataku
kepada yang lain yang berbisik-bisik di balik pung-
gungku, dan menyiarkan kabar bohong tentang peng-
khianatanku terhadap Pangeran Kegelapan! Sebelum
aku menjawabmu, kataku, izinkan aku balas menanyai-
mu. Apakah kau benar-benar mengira bahwa Pangeran
Kegelapan tidak mengajukan semua pertanyaan itu?
Dan apakah kau benar-benar mengira bahwa, kalau
aku tidak sanggup memberikan jawaban yang me-
muaskan, aku akan duduk di sini bicara dengan-
mu?”
Bellatrix bimbang.
“Aku tahu dia memercayaimu, tapi—”
“Kaupikir dia keliru? Atau bahwa aku berhasil mem-
perdayainya? Membodohi Pangeran Kegelapan, penyi-
hir paling hebat, Legilimens paling piawai yang per-
nah ada di dunia?”
Bellatrix tidak berkata apa-apa, tetapi untuk pertama
kalinya dia tampak sedikit bingung. Snape tidak men-
desak lebih jauh. Dia mengambil kembali minuman-
nya, menghirupnya, dan melanjutkan, “Kau bertanya
di mana aku ketika Pangeran Kegelapan jatuh. Aku
berada di tempat di mana aku harus berada, sesuai
perintah Pangeran Kegelapan, di Sekolah Sihir Hog-
warts, karena dia menginginkan aku memata-matai
Albus Dumbledore. Kau tahu, kukira, bahwa aku me-
nerima jabatanku di sana atas perintah Pangeran Ke-
gelapan?”
Bellatrix mengangguk nyaris tak tampak, dan mem-
buka mulutnya, tetapi Snape mencegahnya.
41
“Kau bertanya kenapa aku tidak berusaha mencari-
nya ketika dia menghilang. Karena alasan yang sama
yang membuat Avery, Yaxley, pasangan Carrow, Grey-
back, Lucius,” dia mengedikkan kepalanya sedikit ke
arah Narcissa, “dan banyak lagi tidak berusaha men-
carinya. Aku mengira dia sudah tamat. Aku tidak
bangga karenanya, aku keliru, tetapi ya begitulah…
jika dia tidak memaafkan kami yang kehilangan keper-
cayaan terhadapnya waktu itu, dia hanya akan punya
sedikit pengikut.”
“Dia akan memilikiku!” kata Bellatrix emosional.
“Aku, yang melewatkan bertahun-tahun di Azkaban
demi dia!”
“Ya, betul, pantas dikagumi,” kata Snape dengan
suara bosan. “Tentu saja, kau tak banyak gunanya
baginya di penjara, tetapi langkahmu tak diragukan
lagi baik—”
“Langkah!” jerit Bellatrix; dalam kemarahannya dia
tampak agak seperti orang gila. “Sementara aku me-
nahan kekejaman para Dementor, kau tinggal di Hog-
warts, menikmati jadi anak emas Dumbledore!”
“Tidak sepenuhnya,” kata Snape kalem. “Dia me-
nolak memberiku jabatan guru Pertahanan terhadap
Ilmu Hitam, kau tahu. Rupanya dia mengira itu bisa,
ah, menimbulkan kembali penyakit lama… memicuku
kembali ke kebiasaan lamaku.”
“Itu pengorbananmu untuk Pangeran Kegelapan,
tidak mengajar mata pelajaran favoritmu?” Bellatrix
mencemooh. “Kenapa kau tinggal terus di sana,
Snape? Masih memata-matai Dumbledore untuk tuan
yang sudah kauanggap mati?”
42
“Hampir tidak,” kata Snape, “meskipun Pangeran
Kegelapan senang aku tak pernah meninggalkan pos-
ku. Aku punya informasi tentang Dumbledore selama
enam belas tahun untuk kuberikan kepadanya ketika
dia kembali, hadiah selamat datang yang agak lebih
berguna daripada kenangan yang tak ada habisnya
tentang betapa tak menyenangkannya Azkaban…”
“Tapi kau tetap di sana—”
“Ya, Bellatrix, aku tetap di sana,” kata Snape, untuk
pertama kalinya memperlihatkan tanda-tanda ketidak-
sabaran. “Aku punya pekerjaan menyenangkan yang
lebih kusukai daripada mendekam di Azkaban. Mereka
menangkapi Pelahap Maut, kau tahu, kan. Perlin-
dungan Dumbledore membuatku tidak masuk penjara,
itu sangat menguntungkan dan aku menggunakannya.
Kuulangi: Pangeran Kegelapan tidak mengeluh aku
tetap di sana, jadi aku tak mengerti kenapa kau
mengeluh.
“Kupikir, berikutnya kau ingin tahu,” dia melanjut-
kan, sedikit lebih keras, karena Bellatrix menunjukkan
segala tanda mau menginterupsi, “kenapa aku jadi
penghalang di antara Pangeran Kegelapan dan Batu
Bertuah. Ini bisa dijawab dengan mudah. Dia tak
tahu apakah dia bisa memercayaiku. Dia mengira,
seperti kau, bahwa aku telah berbalik dari Pelahap
Maut setia menjadi kaki tangan Dumbledore. Kondisi-
nya mengenaskan, sangat lemah, berbagi tubuh de-
ngan penyihir yang cuma cukupan saja. Dia tak berani
memperlihatkan diri kepada sekutu lamanya, khawatir
sekutu itu akan menyerahkannya kepada Dumbledore
atau Kementerian. Aku menyesal sekali dia tidak me-
43
mercayaiku. Kalau dia memercayaiku, dia sudah kem-
bali berkuasa tiga tahun lebih awal. Seperti yang
terjadi, aku hanya melihat Quirrel yang tamak dan
tak berharga berusaha mencuri Batu dan, kuakui,
kulakukan segala yang aku bisa untuk menghalangi-
nya.”
Mulut Bellatrix mengernyit seolah dia baru saja
meminum obat yang pahit.
“Tapi kau tidak datang waktu dia muncul kembali,
kau tidak langsung terbang menemuinya ketika kau
merasakan Tanda Kegelapan terbakar—”
“Betul. Aku datang dua jam kemudian. Aku datang
atas perintah Dumbledore.”
“Atas perintah Dumble—?” katanya, dengan nada
murka.
“Pikirkan!” tukas Snape, tak sabar lagi. “Pikirkan!
Dengan menunggu dua jam, hanya dua jam, aku
memastikan bahwa aku bisa tetap tinggal di Hogwarts
sebagai mata-mata! Dengan membiarkan Dumbledore
mengira aku hanya kembali ke sisi Pangeran Ke-
gelapan karena aku diperintahkannya, aku bisa me-
nyampaikan informasi tentang Dumbledore dan Orde
Phoenix sejak saat itu! Pertimbangkan, Bellatrix: Tanda
Kegelapan sudah semakin menguat selama berbulan-
bulan, aku tahu dia pasti akan kembali, semua Pelahap
Maut tahu! Bukankah aku punya banyak waktu un-
tuk memikirkan apa yang akan kulakukan, meren-
canakan langkahku berikutnya, untuk kabur seperti
Karkaroff?
“Kegusaran awal Pangeran Kegelapan soal keda-
tanganku yang terlambat sirna sepenuhnya, yakinlah,
44
ketika aku menjelaskan bahwa aku tetap setia, kendati-
pun Dumbledore mengira aku orang kepercayaannya.
Ya, Pangeran Kegelapan tadinya mengira aku telah
meninggalkannya selamanya, namun dia keliru.”
“Tapi apa kegunaanmu?” cemooh Bellatrix. “Infor-
masi bermanfaat apa yang kami dapat darimu?”
“Informasiku disampaikan langsung kepada Pange-
ran Kegelapan,” kata Snape. “Kalau dia memilih tidak
memberitahumu—”
“Dia memberitahuku segalanya!” kata Bellatrix, lang-
sung meledak. “Dia menyebutku pengikutnya yang
paling loyal, paling setia, paling—”
“Betulkah?” kata Snape, suaranya sengaja menyirat-
kan ketidakpercayaannya. “Masihkah dia menganggap-
mu begitu setelah kegagalan di Kementerian?”
“Itu bukan salahku!” kata Bellatrix, wajahnya me-
merah. “Pangeran Kegelapan, tadinya, memercayaiku
dan memberitahuku rahasianya yang paling—kalau
Lucius tidak—”
“Jangan berani-berani—jangan berani-berani kau me-
nyalahkan suamiku!” kata Narcissa, dengan suara ren-
dah dan mengancam, menatap kakaknya.
“Tak ada gunanya membagi-bagi kesalahan,” kata
Snape lancar. “Semuanya sudah terjadi.”
“Tapi kau tak ambil bagian!” kata Bellatrix gusar.
“Tidak, kau sekali lagi absen sementara kami yang
lain menghadapi bahaya, kan, Snape?”
“Perintah untukku adalah agar tinggal di tempat,”
kata Snape. “Mungkin kau tidak setuju dengan Pa-
ngeran Kegelapan, mungkin kau berpendapat Dumble-
dore tidak akan memperhatikan bahwa aku telah
45
bergabung dengan para Pelahap Maut untuk melawan
Orde Phoenix? Dan—maafkan aku—kau bicara soal
bahaya… bukankah kalian menghadapi enam remaja?”
“Mereka didukung, seperti yang kauketahui, oleh
separo Orde dalam waktu singkat!” bentak Bellatrix.
“Dan, selagi kita bicara tentang Orde, kau tetap me-
nyatakan tak bisa memberitahukan tempat Markas
Besarnya, kan?”
“Aku bukan Penjaga Rahasia mereka, aku tak bisa
menyebutkan nama tempat itu. Kau kan tahu bagai-
mana cara kerja sihir ini, kukira? Pangeran Kegelapan
puas dengan informasi yang kusampaikan kepadanya
soal Orde. Informasiku menghasilkan, seperti yang
mungkin telah kautebak, penangkapan dan pembu-
nuhan terhadap Emmeline Vance belum lama ini, dan
jelas membantu membereskan Sirius Black, walaupun
aku mengakui kau yang menghabisinya.”
Snape mengedikkan kepala dan bersulang untuk
Bellatrix. Ekspresi Bellatrix tidak melunak.
“Kau menghindari pertanyaanku yang terakhir,
Snape. Harry Potter. Kau bisa membunuhnya kapan
saja dalam lima tahun belakangan ini. Kau tidak
melakukannya. Kenapa?”
“Sudahkah kau membicarakan masalah ini dengan
Pangeran Kegelapan?” tanya Snape.
“Dia… belakangan ini, kami… aku menanyaimu,
Snape!”
“Jika aku membunuh Harry Potter, Pangeran Ke-
gelapan tidak akan bisa menggunakan darahnya untuk
lahir kembali, membuatnya tak terkalahkan—”
“Kau menyatakan kau sudah tahu sebelumnya ke-
46
gunaan anak ini bagi Pangeran Kegelapan!” cemooh
Bellatrix.
“Aku tidak bermaksud berkata begitu; aku sama
sekali tak tahu rencananya. Aku sudah mengakui,
kusangka Pangeran Kegelapan sudah mati. Aku hanya
mencoba menjelaskan kenapa Pangeran Kegelapan ti-
dak menyesal bahwa Potter bertahan hidup, paling
tidak sampai setahun yang lalu…”
“Tetapi kenapa kau membiarkannya hidup?”
“Kau belum memahamiku? Perlindungan Dumble-
dore-lah yang membuatku tidak dikirim ke Azkaban!
Apakah kau tidak sepakat bahwa membunuh murid
favoritnya mungkin akan membuatnya memusuhiku?
Tetapi ada alasan lain. Kuingatkan bahwa ketika Potter
baru tiba di Hogwarts masih banyak beredar cerita
tentang dia, rumor bahwa dia adalah penyihir hitam
yang hebat, itulah sebabnya dia berhasil selamat dari
serangan Pangeran Kegelapan. Malah, banyak pengikut
lama Pangeran Kegelapan mengira Potter bisa dijadi-
kan panutan, bersamanya kita sekali lagi bisa bersatu.
Aku penasaran, kuakui, dan sama sekali tak berniat
langsung membunuhnya begitu dia tiba di kastil.
“Tentu saja, segera menjadi jelas bagiku bahwa dia
sama sekali tak punya bakat istimewa. Dia berhasil
lolos dari berbagai situasi sulit semata-mata berkat
kombinasi keberuntungan dan kawan-kawan yang le-
bih berbakat daripadanya. Dia cuma biasa-biasa saja,
meskipun sama menjengkelkan dan berpuas diri se-
perti ayahnya. Aku sudah berusaha sebisaku untuk
membuatnya dikeluarkan dari Hogwarts, menurutku
dia tak layak berada di Hogwarts, tetapi membunuh-
47
nya atau membiarkan dia terbunuh di depanku? Aku
tolol kalau berani mengambil risiko ini, dengan
Dumbledore berada dekat begitu.”
“Dan selama ini kami diharapkan percaya Dumble-
dore tidak pernah mencurigaimu?” tanya Bellatrix.
“Dia sama sekali tak menyadari kepada siapa sebetul-
nya kesetiaanmu kauberikan, dia masih memercayaimu
sepenuhnya?”
“Aku memainkan peranku dengan baik,” kata Snape.
“Dan kau melupakan kelemahan terbesar Dumbledore:
dia memercayai yang terbaik dari setiap orang. Aku
mengarang cerita penyesalan teramat dalam ketika
aku bergabung menjadi stafnya, langsung setelah me-
ninggalkan hari-hariku sebagai Pelahap Maut, dan dia
menerimaku dengan tangan terbuka—meskipun, se-
perti kukatakan, sebisanya tak pernah mengizinkan
aku dekat dengan Ilmu Hitam. Dumbledore penyihir
hebat—oh ya, dia penyihir hebat” (karena Bellatrix
mengeluarkan suara tajam) “Pangeran Kegelapan
mengakuinya. Meskipun demikian, aku senang me-
ngatakan, bahwa Dumbledore sekarang sudah tua.
Duel dengan Pangeran Kegelapan bulan lalu meng-
guncangnya. Sejak duel itu dia menderita luka serius,
karena reaksinya lebih lambat daripada sebelumnya.
Tetapi selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah
berhenti memercayai Severus Snape, dan itulah sebab-
nya aku sangat berharga bagi Pangeran Kegelapan.”
Bellatrix masih tidak puas, meskipun dia tampak
sangsi bagaimana cara paling baik menyerang Snape
berikutnya. Menggunakan kesempatan diamnya Bella-
trix, Snape menoleh memandang adiknya.
48
“Nah… kau datang untuk meminta bantuanku,
Narcissa?”
Narcissa mengangkat muka menatapnya, wajahnya
dipenuhi keputusasaan.
“Ya, Severus. Ku—kurasa kau satu-satunya yang
bisa menolongku. Tak ada orang lain yang bisa ku-
mintai tolong. Lucius di penjara dan…”
Dia memejamkan mata dan dua butir air mata
besar bergulir dari bawah pelupuknya.
“Pangeran Kegelapan telah melarangku membicara-
kan ini,” Narcissa melanjutkan, matanya masih ter-
pejam. “Dia tak mau orang lain tahu tentang rencana
ini. Ini… sangat rahasia. Tapi—”
“Kalau dia melarang, kau tak boleh membicarakan-
nya,” kata Snape segera. “Kata-kata Pangeran Kege-
lapan adalah hukum.”
Narcissa kaget seakan Snape telah menyiramnya
dengan air dingin. Bellatrix tampak puas untuk per-
tama kalinya sejak dia memasuki rumah itu.
“Nah!” katanya penuh kemenangan kepada adiknya.
“Bahkan Snape melarangmu bicara, jadi jangan bicara!”
Namun Snape telah bangkit dan berjalan ke jendela
kecil, mengintip melalui gorden ke arah jalan yang
sepi, kemudian menutup kembali gorden dengan sen-
takan. Dia berbalik menghadapi Narcissa, mengernyit.
“Kebetulan aku tahu rencana ini,” katanya pelan.
“Aku salah satu dari sedikit orang yang diberitahu
Pangeran Kegelapan. Meskipun demikian, seandainya
aku tak mengetahui rahasia ini, Narcissa, kau akan
bersalah melakukan pengkhianatan besar terhadap Pa-
ngeran Kegelapan.”
49
“Kupikir kau pasti tahu tentang ini!” kata Narcissa,
bernapas lebih lega. “Dia amat memercayaimu,
Severus…”
“Kau tahu rencana itu?” kata Bellatrix, ekspresi ke-
puasan yang cuma sekilas kini digantikan kemurkaan.
“Kau tahu?”
“Tentu,” kata Snape. “Tetapi, bantuan seperti apa
yang kaukehendaki, Narcissa? Kalau kau membayang-
kan aku bisa membujuk Pangeran Kegelapan untuk
mengubah pikirannya, aku khawatir tak ada harapan,
sama sekali tak ada harapan.”
“Severus,” bisiknya, air mata mengalir di pipinya
yang pucat. “Anakku… anak tunggalku…”
“Draco mestinya bangga,” kata Bellatrix tak peduli.
“Pangeran Kegelapan memberinya kehormatan besar.
Dan aku akan mengatakan ini untuk Draco: dia tidak
menyingkir dari tugasnya, dia tampaknya senang pu-
nya kesempatan untuk membuktikan diri, bersemangat
mau melakukannya—”
Narcissa mulai menangis tersedu, tak hentinya me-
natap Snape dengan pandangan memohon.
“Itu karena dia baru enam belas tahun dan sama
sekali tak tahu apa yang akan dihadapinya! Kenapa,
Severus? Kenapa anakku? Ini terlalu berbahaya! Ini
pembalasan bagi kesalahan Lucius. Aku tahu!”
Snape diam saja. Dia memalingkan pandangan dari
air mata Narcissa, seakan itu tak pantas, namun dia
tak bisa berpura-pura tidak mendengarnya.
“Itulah sebabnya dia memilih Draco, kan?” Narcissa
mendesak. “Untuk menghukum Lucius?”
“Jika Draco berhasil,” kata Snape, masih tidak me-
50
mandangnya, “dia akan menerima kehormatan lebih
daripada yang lain.”
“Tetapi dia tak akan berhasil!” isak Narcissa. “Bagai-
mana mungkin, kalau Pangeran Kegelapan sendiri—?”
Bellatrix kaget, menahan napas. Narcissa tampaknya
kehilangan keberanian.
“Aku cuma bermaksud mengatakan… bahwa belum
pernah ada yang berhasil… Severus… tolonglah… kau,
dari dulu, adalah guru favorit Draco… kau teman
lama Lucius… kumohon… kau favorit Pangeran Ke-
gelapan, penasihatnya yang paling dipercaya… maukah
kau bicara kepadanya, membujuknya—?”
“Pangeran Kegelapan tak bisa dibujuk, dan aku tak
begitu bodoh sehingga mau membujuknya,” kata
Snape datar. “Aku tak bisa berpura-pura bahwa Pa-
ngeran Kegelapan tidak marah kepada Lucius. Lucius-
lah penanggung jawab waktu itu. Dia malah tertang-
kap, bersama entah berapa banyak yang lain, dan
gagal mendapatkan kembali ramalannya. Ya, Pangeran
Kegelapan marah, Narcissa, amat sangat marah.”
“Kalau begitu aku benar, dia memilih Draco untuk
balas dendam!” isak Narcissa. “Dia tak bermaksud
Draco sukses, dia ingin Draco terbunuh dalam usaha-
nya!”
Ketika Snape diam saja, Narcissa tampak kehilangan
pertahanan dirinya yang hanya tersisa sedikit. Bangkit
berdiri, dia terhuyung mendekati Snape dan men-
jambret bagian depan jubahnya. Wajahnya dekat ke
wajah Snape, air matanya menetes ke dada Snape,
dia tersedu, “Kau bisa melakukannya. Kau bisa melaku-
kannya, alih-alih Draco, Severus. Kau akan berhasil,
51
pasti kau berhasil, dan dia akan memberimu peng-
hargaan melebihi yang pernah kami semua terima—”
Snape memegang pergelangan tangan Narcissa dan
menyingkirkan tangannya yang mencengkeram jubah-
nya. Menunduk memandang wajah Narcissa yang
basah oleh air mata, dia berkata perlahan, “Dia ber-
maksud pada akhirnya aku yang melakukannya, ku-
rasa. Tetapi dia berkeras Draco mencobanya lebih
dulu. Soalnya, walaupun kelihatannya tak mungkin,
seandainya Draco berhasil, aku akan bisa tinggal di
Hogwarts sedikit lebih lama, menjalankan fungsiku
yang berguna sebagai mata-mata.”
“Dengan kata lain, tak jadi persoalan baginya kalau
Draco terbunuh!”
“Pangeran Kegelapan sangat marah,” Snape mengu-
lang pelan. “Dia gagal mendengar ramalan itu. Kita
sama-sama tahu, Narcissa, dia tidak mudah memaaf-
kan.”
Narcissa merosot, terpuruk di kaki Snape, tersedu
dan meratap di lantai.
“Anakku… anak tunggalku…”
“Kau mestinya bangga!” kata Bellatrix tanpa belas
kasihan. “Kalau aku punya anak laki-laki, dengan
senang hati akan kuserahkan untuk melayani Pangeran
Kegelapan!”
Narcissa menjerit putus asa dan mencengkeram ram-
but pirangnya yang panjang. Snape membungkuk,
memegang lengannya, mengangkatnya dan mendu-
dukkannya kembali di sofa. Dia kemudian menuang-
kan anggur lagi untuk Narcissa dan menyorongkan
gelasnya ke tangannya.
52
“Narcissa, sudah cukup. Minumlah ini. Dengarkan
aku.”
Tangis Narcissa mereda sedikit. Tangannya bergun-
cang, sehingga anggur tumpah ke tubuhnya. Dengan
gemetar dia meneguknya sedikit.
“Ada kemungkinan… aku bisa membantu Draco.”
Narcissa duduk tegak, wajahnya pucat pasi, matanya
membesar.
“Severus—oh, Severus—kau mau membantunya?
Maukah kau menjaganya, supaya dia tidak celaka?”
“Aku bisa mencoba.”
Narcissa melempar gelasnya; gelas itu meluncur di
atas meja ketika Narcissa merosot turun dari sofa
dalam posisi berlutut di depan kaki Snape, menyambar
tangan Snape dengan kedua tangannya dan menekan-
kan bibirnya ke tangan itu.
“Kalau kau ada di sana untuk melindunginya…
Severus, maukah kau bersumpah? Maukah kau me-
lakukan Sumpah Tak-Terlanggar?”
“Sumpah Tak-Terlanggar?” ekspresi Snape kosong,
tak bisa ditebak. Bellatrix, sebaliknya, tertawa ter-
bahak.
“Apa kau tidak mendengarkan, Narcissa? Oh, dia
akan berusaha, aku yakin… kata-kata kosong yang biasa,
penghindaran yang biasa… oh, atas perintah Pangeran
Kegelapan, tentunya!”
Snape tidak memandang Bellatrix. Matanya yang
hitam menatap mata biru Narcissa yang digenangi air
mata, sementara Narcissa terus menggenggam tangan-
nya.
“Tentu, Narcissa, aku mau melakukan Sumpah Tak-
53
Terlanggar,” katanya pelan. “Barangkali kakakmu ber-
sedia menjadi Pengikat kita.”
Mulut Bellatrix ternganga. Snape berlutut di depan
Narcissa. Di bawah tatapan tercengang Bellatrix, ta-
ngan kanan mereka berpegangan.
“Kau perlu tongkat sihirmu, Bellatrix,” kata Snape
dingin.
Bellatrix mencabut tongkat sihirnya, masih tampak
keheranan.
“Dan kau perlu mendekat sedikit,” kata Snape.
Bellatrix melangkah maju sehingga dia berdiri di
depan mereka dan meletakkan ujung tongkat sihirnya
ke tangan mereka yang bersatu.
Narcissa bicara.
“Maukah kau, Snape, menjaga anakku Draco ketika
dia berusaha memenuhi keinginan Pangeran Kege-
lapan?”
“Aku mau,” kata Snape.
Lidah api tipis cemerlang meluncur dari tongkat
sihir dan meliliti tangan mereka seperti kawat panas-
merah.
“Dan maukah kau, semampumu, melindunginya
dari bahaya?”
“Aku mau,” kata Snape.
Lidah api kedua meluncur dari tongkat sihir dan
berjalin dengan yang pertama, menjadi rantai indah
membara.
“Dan, jika diperlukan…. jika tampaknya Draco akan
gagal…” bisik Narcissa (tangan Snape mengejang dalam
tangan Narcissa, namun Snape tidak menariknya),
54
“maukah kau menyelesaikan pekerjaan yang telah
ditugaskan Pangeran Kegelapan kepada Draco?”
Sejenak hening. Bellatrix mengawasi, tongkat sihir-
nya di atas tangan mereka yang saling genggam,
matanya terbelalak.
“Aku mau,” kata Snape.
Wajah keheranan Bellatrix berpendar merah dalam
cahaya lidah api ketiga, yang meluncur dari tongkat
sihirnya, berjalin dengan yang lain dan mengikat
kuat tangan mereka seperti tali, seperti ular api.

55

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ARRY POTTER mendengkur keras. Dia sudah
duduk di kursi dekat jendela kamarnya se-
lama hampir empat jam, menatap ke luar jalan yang
gelap, dan akhirnya tertidur dengan sebelah pipinya
menempel di kaca jendela, kacamatanya miring, dan
mulutnya terbuka lebar. Uap hangat yang ditinggalkan
napasnya di jendela berkilau kena cahaya jingga
lampu jalan di luar, dan lampu artifisial itu membuat
wajahnya kehilangan warna sehingga dia tampak pu-
cat di bawah rambut hitamnya yang awut-awutan.
Bermacam barang dan sampah bertebaran di dalam
kamar itu. Bulu burung hantu, bagian tengah apel,
dan bungkus permen berserakan di lantai, beberapa
buku mantra tergeletak sembarangan di antara jubah-
56
jubah yang teronggok begitu saja di atas tempat tidur-
nya, dan berbagai surat kabar tertebar kacau dalam
sorotan cahaya di mejanya. Salah satu kepala beritanya
berbunyi:
HARRY POTTER: SANG TERPILIH?
Desas-desus masih terus beredar tentang gangguan misterius
di Kementerian Sihir baru-baru ini. Dalam peristiwa itu
Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut sekali lagi terlihat.
“Kami dilarang bicara soal itu, jangan tanya apa-apa
kepada saya,” kata salah seorang Obliviator yang gelisah,
yang menolak menyebutkan namanya ketika dia meninggal-
kan Kementerian semalam.
Kendatipun demikian, sumber-sumber yang ditempatkan
di posisi strategis dalam Kementerian menegaskan bahwa
kekacauan itu berpusat di Ruang Ramalan yang banyak
diceritakan.
Walaupun juru bicara Kementerian sampai sekarang bah-
kan masih menolak mengonfirmasi keberadaan tempat itu,
makin banyak anggota komunitas sihir yang percaya bahwa
para Pelahap Maut yang sekarang menjalani hukuman di
Azkaban dengan tuduhan pelanggaran dan upaya pencurian
sebetulnya berusaha mencuri ramalan. Ramalan apa itu
sebetulnya tetap tidak diketahui, meskipun spekulasi yang
beredar luas mengatakan bahwa itu ada hubungannya dengan
Harry Potter, satu-satunya orang yang diketahui berhasil
selamat dari Kutukan Kematian. Harry Potter juga diketahui
berada di Kementerian malam itu. Beberapa orang bahkan
sudah menyebut Potter “Sang Terpilih”. Mereka percaya
bahwa ramalan itu menyebutnya sebagai satu-satunya yang
57
akan sanggup membebaskan kita dari Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut.
Keberadaan ramalan itu saat ini, jika ramalan itu memang
benar ada, tidak diketahui, meskipun (bersambung ke hal 2,
kol 5)
Surat kabar kedua tergeletak di sebelah yang per-
tama. Yang ini dengan kepala berita:
SCRIMGEOUR MENGGANTIKAN FUDGE
Sebagian besar halaman depan surat kabar ini terisi
oleh foto besar hitam-putih seorang pria dengan ram-
but tebal seperti surai singa d a n wajah dengan be-
berapa bekas luka. Foto ini bergerak-gerak—pria ini
melambai ke langit-langit.
Rufus Scrimgeour, yang tadinya menjabat Kepala Kantor
Auror di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, mengganti-
kan Cornelius Fudge sebagai Menteri Sihir. Penunjukan ini
disambut sangat antusias oleh komunitas sihir, meskipun
gunjingan adanya keretakan antara menteri baru dan Albus
Dumbledore, yang belum lama ini diangkat lagi menjadi
Hakim Ketua Wizengamot, muncul hanya beberapa jam
setelah Scrimgeour menjabat.
Wakil-wakil Scrimgeour mengakui bahwa dia langsung
bertemu dengan Dumbledore begitu menduduki jabatan ting-
gi ini, namun menolak mengomentari topik yang didis-
kusikan. Albus Dumbledore diketahui (bersambung ke hal 3,
kol 2)
(Ma’af, halaman 59 terlewatkan)
58
Sebuah koper besar tergeletak persis di tengah ka-
mar. Tutupnya terbuka, seperti penuh harap, namun
koper itu nyaris kosong. Hanya ada beberapa pakaian
dalam tua, permen, botol-botol tinta kosong, dan pena-
bulu patah di dasar koper itu. Di dekatnya, di lantai,
tergeletak selebaran ungu dihiasi huruf-huruf:
DITERBITKAN ATAS N A M A
MELINDUNGI RUMAH DAN KELUARGA ANDA
DARI SIHIR HITAM
Komunitas sihir saat ini sedang di bawah ancaman sebuah
organisasi yang menyebut dirinya Pelahap Maut. Mengikuti
pedoman keamanan sederhana berikut ini akan menolong me-
lindungi Anda, keluarga Anda, dan rumah Anda dari se-
rangan.
1. Anda disarankan tidak meninggalkan rumah sendirian.
2. Kehati-hatian harus lebih ditingkatkan setelah hari gelap.
Jika melakukan perjalanan, atur agar sebisa mungkin
sudah tiba di tempat tujuan sebelum malam.
3. Tinjau kembali pengaturan keamanan di sekitar rumah
Anda. Pastikan semua anggota keluarga tahu tindakan
darurat apa yang harus dilakukan, seperti Mantra
Pelindung, Mantra Penyamar, dan, dalam hal ada anggota
keluarga di bawah umur, ber-Apparate bersama.
60
4. Buat kesepakatan tindakan keamanan dengan teman-teman
dekat dan keluarga, agar Anda bisa mendeteksi Pelahap
Maut yang menyamar menjadi orang lain menggunakan
Ramuan Polijus (lihat hal 2).
5. Jika Anda merasa ada anggota keluarga, teman, atau
tetangga yang bersikap aneh, segera kontak Pasukan
Pelaksanaan Hukum Sihir. Mungkin mereka kena Kutukan
Imperius (lihat hal 4)
6. Jika ada Tanda Kegelapan muncul di atas tempat tinggal
atau bangunan mana saja, JANGAN MASUK, melainkan
segera kontak Kantor Auror.
7. Beberapa peristiwa yang belum bisa dikonfirmasikan
mengarah ke tanda-tanda bahwa para Pelahap Maut
mungkin menggunakan Inferi (lihat hal 10). Jika Anda
melihat    atau    bertemu    Inferi, harap  SEGERA
melaporkannya ke Kementerian.
Harry mengigau dalam tidurnya dan wajahnya me-
rosot dari jendela sekitar dua-tiga senti, membuat
kacamatanya semakin miring, tetapi dia tidak ter-
bangun. Sebuah jam beker, yang direparasi Harry
beberapa tahun lalu, berdetak keras di ambang jendela,
menunjukkan waktu pukul sebelas kurang satu menit.
Di sebelahnya, tertahan tangan Harry yang tergeletak
santai, ada sehelai perkamen dipenuhi tulisan dengan
huruf-huruf ramping miring. Harry telah membaca
surat ini begitu seringnya sejak kedatangannya tiga
hari lalu, sehingga meskipun tiba dalam bentuk gu-
lungan ketat, sekarang surat ini terbeber rata.
61
Dear Harry,
Jika kau sepakat, aku akan datang di Privet Drive
nomor empat hari Jumat mendatang ini pukul sebelas
malam untuk mengantarmu ke The Burrow, tempat kau
telah diundang untuk melewatkan sisa liburan sekolahmu.
Jika kau bersedia, aku juga akan senang mendapat
bantuanmu dalam satu masalah yang kuharap bisa ku-
tangani dalam perjalanan ke The Burrow. Hal ini akan
kujelaskan lebih lengkap saat aku bertemu denganmu.
Harap kirim balasanmu dengan burung hantu ini.
Sampai ketemu hari Jumat ini, mudah-mudahan.
Salamku,
Kendatipun sudah hafal isinya, Harry mencuri pan-
dang ke surat ini beberapa menit sekali sejak pukul
tujuh malam ini, ketika dia baru mulai duduk di
depan jendela kamarnya, dari mana dia bisa cukup
jelas melihat kedua ujung Privet Drive. Dia tahu tak
ada gunanya mengulang-ulang membaca kata-kata
Dumbledore. Harry telah mengirim “ya”-nya dengan
burung hantu yang membawa surat itu, seperti yang
diminta Dumbledore, dan yang bisa dilakukannya
sekarang hanyalah menunggu; Dumbledore akan da-
tang, atau tidak datang.
Namun Harry belum berkemas. Rasanya terlalu in-
dah bahwa dia akan dibebaskan dari keluarga Dursley
hanya dua minggu setelah dia bersama mereka. Dia
tak berhasil menyingkirkan perasaan bahwa akan ada
62
sesuatu yang tidak benar—jawabannya kepada
Dumbledore mungkin tidak sampai; Dumbledore
mungkin berhalangan menjemputnya; surat yang di-
terimanya ternyata bukan dari Dumbledore, melainkan
olok-olok atau jebakan. Harry tak tahan kalau sudah
mengepak kopernya dan kemudian kecewa dan harus
membongkarnya lagi. Satu-satunya tindakan yang
dilakukannya sehubungan dengan kemungkinan beper-
gian adalah mengurung burung hantunya yang seputih
salju, Hedwig, dengan aman di dalam sangkarnya.
Jarum menit di jam beker mencapai angka dua
belas, dan tepat saat itu, lampu jalanan di luar jendela
padam.
Harry terbangun seakan kegelapan yang tiba-tiba
itu tanda bahaya. Buru-buru meluruskan kacamatanya
dan melepas pipinya dari jendela, dia ganti menempel-
kan hidung ke kaca jendela dan menyipitkan mata
memandang trotoar di bawah. Ada sosok jangkung
memakai mantel panjang melambai sedang berjalan
di jalan setapak di halaman.
Harry terlonjak seakan kena setrum listrik, menabrak
kursinya sampai terguling, dan mulai menyambar apa
saja yang ada dalam jangkauannya dari lantai dan
melemparkannya ke dalam kopernya. Ketika dia se-
dang melempar satu setel jubah, dua buku mantra,
dan sebungkus keripik ke seberang ruangan, bel pintu
berbunyi.
Di bawah di ruang keluarga, pamannya, Paman
Vernon, berteriak, “Siapa orang gila yang datang
malam-malam begini?”
Harry membeku dengan teleskop kuningan di satu
63
tangan dan sepasang sepatu kets di tangan yang lain.
Dia sama sekali lupa memberitahu keluarga Dursley
bahwa Dumbledore mungkin akan datang. Merasa
panik dan sekaligus ingin tertawa, dia melompati
kopernya dan menarik terbuka pintu kamarnya, tepat
pada saat didengarnya suara dalam berkata, “Selamat
malam. Anda pastilah Mr Dursley. Saya kira Harry
sudah memberitahu Anda, saya akan datang men-
jemputnya?”
Harry berlari menuruni tangga, dua anak tangga
sekali lompat, berhenti mendadak beberapa anak tang-
ga dari bawah, karena pengalaman mengajarkan agar
dia berada di luar jangkuan lengan pamannya kalau
mungkin. Di ambang pintu berdiri seorang pria jang-
kung kurus dengan rambut keperakan sepanjang ping-
gang dan kumis serta jenggot keperakan. Kacamata
bulan-separo bertengger di atas hidungnya yang beng-
kok dan dia memakai mantel perjalanan panjang hi-
tam dan topi berujung kerucut. Vernon Dursley, yang
kumisnya hampir sama lebatnya dengan kumis
Dumbledore, meskipun warnanya hitam, dan memakai
kimono rumah berwarna ungu-kecokelatan, terbelalak
menatap tamunya seakan dia tak memercayai matanya
yang kecil.
“Melihat kekagetan dan ketidakpercayaan Anda,
Harry tidak memberitahu Anda bahwa saya akan
datang,” kata Dumbledore ramah. “Meskipun demi-
kian, marilah kita andaikan bahwa Anda dengan ha-
ngat memersilakan saya masuk ke dalam rumah Anda.
Tidak bijaksana berlama-lama di depan pintu dalam
masa sulit begini.”
64
Dengan gesit dia melangkah masuk dan menutup
pintu di belakangnya.
“Sudah lama sekali sejak kunjungan saya yang per-
tama,” kata Dumbledore, memandang lewat hidung
bengkoknya kepada Paman Vernon. “Harus saya kata-
kan, bunga lili Afrika Anda tumbuh subur.”
Vernon Dursley tidak berkata apa-apa. Harry tak
meragukan bahwa pamannya akan segera bisa bicara
lagi—nadi yang berdenyut di pelipisnya sudah men-
capai titik bahaya—namun sesuatu tentang Dumble-
dore tampaknya telah membuatnya kehabisan napas
untuk sementara. Mungkin penampilannya sebagai
penyihir yang mencolok sekali, namun, mungkin saja
bahkan Paman Vernon bisa merasakan bahwa ini
orang yang akan sulit sekali digertak.
“Ah, selamat malam, Harry,” kata Dumbledore, men-
dongak menatapnya melalui kacamata bulan-separonya
dengan ekspresi sangat puas. “Bagus sekali, bagus
sekali.”
Kata-kata ini tampaknya membangunkan Paman
Vernon. Jelas bahwa dia tak bisa sepakat dengan
siapa pun yang bisa melihat Harry dan berkata “bagus
sekali”.
“Saya tak bermaksud tidak sopan—” dia memulai,
dengan nada yang menyiratkan ketidaksopanan dalam
setiap suku kata.
“—sayangnya, ketidaksopanan yang tak disengaja
terjadi cukup sering,” Dumbledore menyelesaikan ka-
limat Mr Dursley dengan muram. “Paling baik jangan
berkata apa-apa, Saudara. Ah, ini pastilah Petunia.”
Pintu dapur membuka dan tampaklah bibi Harry
65
berdiri di sana, memakai sarung tangan karet dan
gaun rumah di atas baju tidurnya, jelas sedang se-
tengah jalan melakukan rutinitas sebelum-tidurnya,
mengelap semua permukaan di dapurnya. Wajahnya
yang agak mirip kuda tampak shock.
“Albus Dumbledore,” kata Dumbledore, ketika Pa-
man Vernon tidak memperkenalkannya. “Kita sudah
berkorespondensi, tentu saja.” Harry berpendapat ini
cara yang aneh untuk mengingatkan Bibi Petunia
bahwa dia pernah mengirimnya surat-meledak, namun
Bibi Petunia tidak menyangkal istilah ini. “Dan ini
pastilah anak kalian Dudley?”
Dudley saat itu mengintip dari balik pintu ruang
keluarga. Kepalanya yang besar berambut pirang yang
muncul dari kerah piama bergarisnya tidak tampak
seperti bagian dari tubuhnya, mulutnya menganga
lebar, saking takut dan kagetnya. Dumbledore menanti
beberapa saat, kalau-kalau salah satu dari suami-istri
Dursley akan mengatakan sesuatu, namun ketika ke-
sunyian berlanjut dia tersenyum.
“Bagaimana kalau kita andaikan kalian telah mem-
persilakan saya masuk ke ruang keluarga kalian?”
Dudley buru-buru menyingkir ketika Dumbledore
melewatinya. Harry, masih memegangi teleskop dan
sepatu, melompati beberapa anak tangga terakhir dan
menyusul Dumbledore, yang telah duduk di kursi
berlengan paling dekat perapian dan sedang menga-
mati sekelilingnya dengan penuh perhatian. Dia tam-
pak janggal sekali berada di situ.
“Kita tidak—tidak berangkat sekarang, Sir?” tanya
Harry cemas.
66
“Ya, sebentar lagi, ada beberapa masalah yang harus
kita bicarakan dulu,” kata Dumbledore. “Dan aku
lebih suka tidak membicarakannya di tempat terbuka.
Kita hanya akan menyalahgunakan keramahan bibi
dan pamanmu sebentar lagi.”
“Begitu, ya?”
Vernon Dursley telah memasuki ruangan. Petunia
di balik bahunya dan Dudley mengendap-endap di
belakang keduanya.
“Ya,” kata Dumbledore singkat.
Dia mencabut tongkat sihirnya cepat sekali sehingga
Harry nyaris tak melihatnya. Dengan jentikan santai,
sofa meluncur maju dan menabrak lutut ketiga
Dursley sehingga mereka berjatuhan di atasnya. Satu
jentikan yang lain membuat sofa meluncur kembali
ke tempatnya semula.
“Sebaiknya kita duduk nyaman,” kata Dumbledore
ramah.
Ketika dia memasukkan kembali tongkat sihirnya
ke dalam saku, Harry melihat tangannya hitam dan
kisut, seakan dagingnya terbakar.
“Sir—apa yang terjadi dengan ta—?”
“Nanti, Harry,” kata Dumbledore. “Silakan duduk.”
Harry duduk di kursi berlengan yang tersisa, me-
milih tidak memandang keluarga Dursley, yang tam-
paknya jadi bisu saking terpesonanya.
“Saya tadinya menyangka kalian akan menyuguh-
kan minuman untuk saya,” kata Dumbledore kepada
Paman Vernon, “namun bukti-bukti sejauh ini menun-
jukkan bahwa asumsi saya terlalu optimistik bahkan
bisa dibilang bodoh.”
67
Jentikan ketiga tongkat sihir membuat sebuah botol
berdebu dan lima gelas muncul di udara. Botolnya
merebah dan dengan murah hati menuangkan cairan
berwarna-madu ke dalam masing-masing gelas, yang
kemudian melayang ke masing-masing orang dalam
ruangan itu.
“Mead aroma ek terbaik Madam Rosmerta,” kata
Dumbledore, mengangkat gelasnya kepada Harry yang
menangkap gelasnya sendiri dan menghirupnya. Harry
belum pernah minum mead—minuman dari air dan
madu yang difermentasikan dalam tong kayu ek—
namun dia sangat menyukainya. Keluarga Dursley
setelah saling pandang dengan cepat dan ketakutan,
berusaha mengabaikan sama sekali gelas mereka, hal
yang sulit, karena gelas-gelas itu menyenggol-nyenggol
pelan sisi kepala mereka. Harry tak bisa menahan ke-
curigaan bahwa Dumbledore agak menikmati hal ini.
“Nah, Harry,” kata Dumbledore, menoleh kepada
Harry, “telah muncul masalah yang kuharap bisa kau-
pecahkan untuk kami. Yang kumaksud dengan kami
adalah Orde Phoenix. Tetapi sebelumnya harus kuberi-
tahukan kepadamu bahwa surat wasiat Sirius ditemu-
kan seminggu lalu dan bahwa dia mewariskan segala
miliknya kepadamu.”
Di sofa kepala Paman Vernon menoleh, namun
Harry tidak memandangnya. Dia pun tak tahu harus
berkata apa, kecuali, “Oh. Baiklah.”
“Intinya jelas,” Dumbledore melanjutkan. “Tabungan
emasmu di Gringotts bertambah cukup banyak dan
kau mewarisi semua barang pribadi Sirius. Bagian
surat warisan yang agak bermasalah—”
68
“Walinya mati?” kata Paman Vernon keras dari sofa.
Dumbledore dan Harry dua-duanya menoleh meman-
dangnya. Gelas mead sekarang membentur-bentur ban-
del sisi kepala Paman Vernon, dia berusaha memukul-
mukul menyingkirkannya. “Dia mati? Walinya?”
“Ya,” kata Dumbledore. Dia tidak bertanya kepada
Harry kenapa dia tidak memberitahu keluarga Dursley.
“Masalah kami,” dia melanjutkan kepada Harry, seakan
tak ada interupsi, “adalah bahwa Sirius juga mewaris-
kan kepadamu Grimmauld Place nomor dua belas.”
“Dia diwarisi rumah?” kata Paman Vernon tamak,
matanya yang kecil menyipit, namun tak ada yang
menanggapinya.
“Kalian bisa tetap menggunakannya sebagai Markas
Besar,” kata Harry. “Saya tak peduli. Rumah itu boleh
untuk kalian, saya tidak menginginkannya.” Harry
tak ingin menginjakkan kaki lagi di Grimmauld Place
nomor dua belas, kalau bisa. Pikirnya dia akan di-
hantui seumur hidup oleh kenangan akan Sirius yang
seorang diri berkeliling dari kamar-ke-kamar, terpenjara
dalam rumah yang ingin sekali ditinggalkannya.
“Kau baik sekali,” kata Dumbledore. “Meskipun
demikian kami untuk sementara ini mengosongkan
rumah itu.”
“Kenapa?”
“Yah,” kata Dumbledore, mengabaikan gumam Pa-
man Vernon, yang sekarang diketuk-ketuk dengan
tangkas di atas kepalanya oleh gelas mead yang pan-
tang menyerah. “Tradisi keluarga Black memutuskan
bahwa rumah itu diwariskan kepada turunan lang-
sung, kepada keturunan pria berikut yang menyan-
69
dang nama Black. Sirius adalah Black terakhir dalam
garis keturunan ini, karena adiknya, Regulus, mening-
gal lebih dulu darinya, dan keduanya tidak mem-
punyai anak. Kendatipun surat wasiatnya menyebut-
kan dengan jelas bahwa dia menginginkanmu me-
miliki rumah itu, mungkin saja ada mantra atau jampi
yang khusus dipasang di tempat itu untuk memastikan
bahwa rumah itu tidak bisa dimiliki orang lain selain
yang berdarah-murni Black.”
Bayangan lukisan ibu Sirius yang tergantung di
aula Grimmauld Place nomor dua belas yang menjerit-
jerit dan meludah terlintas jelas di benak Harry. “Pasti
ada mantranya,” katanya.
“Betul,” kata Dumbledore. “Dan kalau memang ada,
maka kepemilikan rumah ini kemungkinan besar jatuh
ke tangan kerabat Sirius yang paling tua, dalam hal
ini berarti sepupunya, Bellatrix Lestrange.”
Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, Harry
melompat bangun; teleskop dan sepatu di pangkuan-
nya menggelinding di lantai. Bellatrix Lestrange, pem-
bunuh Sirius, mewarisi rumahnya?
“Tidak,” katanya.
“Yah, kami juga jelas lebih suka jika dia tidak
mendapatkan rumah itu,” kata Dumbledore tenang.
“Situasinya penuh komplikasi. Kami tidak tahu apa-
kah mantra yang kami sendiri tempatkan di rumah
itu, misalnya, yang membuatnya tidak terdeteksi, ma-
sih berlaku sekarang setelah kepemilikannya sudah
bukan di tangan Sirius. Bisa saja Bellatrix muncul di
depan pintu kapan saja. Wajar kalau kami harus
pindah sampai sudah ada kejelasan soal rumah ini.”
70
“Tetapi bagaimana Anda akan bisa tahu apakah
saya boleh memiliki rumah ini?”
“Untungnya,” kata Dumbledore, “ada tes sederhana.”
Dia meletakkan gelas kosongnya di meja kecil di
sebelah kursinya, namun sebelum dia bisa melakukan
hal lain, Paman Vernon berteriak, “Singkirkan gelas-
gelas kurang ajar ini dari kami.”
Harry menoleh. Ketiga Dursley gemetar ketakutan
dengan lengan di atas kepala, sementara gelas-gelas
itu melompat-lompat di atas kepala mereka, isinya
beterbangan ke mana-mana.
“Oh, maaf,” kata Dumbledore sopan, dan dia
mengangkat tongkat sihirnya lagi. Ketiga gelas itu
lenyap. “Tapi sebetulnya lebih sopan jika kalian me-
minumnya.”
Tampaknya Paman Vernon siap meluncurkan ja-
waban-jawaban tak menyenangkan, namun dia hanya
terenyak kembali ke sofa bersama Bibi Petunia dan
Dursley dan tidak berkata apa-apa, mata kecilnya
terus menatap tongkat sihir Dumbledore.
“Begini,” kata Dumbledore, berpaling ke Harry dan
meneruskan bicara, seakan Paman Vernon tidak me-
nyela, “jika kau benar telah mewarisi rumah itu, kau
juga mewarisi—”
Dumbledore menjentikkan tongkat sihirnya untuk
kelima kalinya. Terdengar bunyi tar keras dan sesosok
peri-rumah muncul, hidungnya berupa moncong, de-
ngan telinga kelelawar raksasa, dan mata merah besar,
memakai kain lap butut kotor, meringkuk di atas
permadani tebal keluarga Dursley. Bibi Petunia me-
ngeluarkan jeritan yang mendirikan bulu roma. Belum
71
pernah ada apa pun yang sekotor ini memasuki
rumahnya. Dudley mengangkat kaki telanjangnya
yang besar dan berwarna merah muda dari lantai
dan duduk dengan kaki terangkat hampir di atas
kepalanya, seakan dia mengira makhluk ini bisa saja
berlarian di atas tubuhnya lewat pipa piamanya, dan
Paman Vernon menggerung, “Makhluk brengsek apa
itu?”
“Kreacher,” Dumbledore mengakhiri.
“Kreacher tak mau, Kreacher tak mau, Kreacher tak
mau!” kata si peri-rumah parau, hampir sama kerasnya
dengan gerungan Paman Vernon, mengentak-entakkan
kakinya yang panjang dan berbonggol dan menarik-
narik telinganya. “Kreacher milik Miss Bellatrix, oh,
ya, Kreacher milik keluarga Black, Kreacher mengingin-
kan nyonya majikan baru Kreacher, Kreacher tak mau
jadi milik si Potter bandel, Kreacher tak mau, tak
mau, tak mau—”
“Seperti kaulihat, Harry,” kata Dumbledore keras,
mengatasi jerit parau Kreacher, “tak mau, tak mau,
tak mau,” yang tak putus-putusnya, “Kreacher me-
nunjukkan keengganan untuk menjadi milikmu.”
“Saya tak peduli,” kata Harry lagi, memandang jijik
peri-rumah yang menggeliat dan mengentak-entakkan
kaki. “Saya tidak menginginkannya.”
“Tak mau, tak mau, tak mau—”
“Kau lebih suka dia menjadi milik Bellatrix Les-
trange? Padahal dia sudah tinggal di Markas Besar
Orde Phoenix selama setahun terakhir ini?”
“Tak mau, tak mau, tak mau, tak mau—”
Harry menatap Dumbledore. Dia tahu Kreacher tak
72
boleh dibiarkan pergi dan tinggal bersama Bellatrix
Lestrange, namun membayangkan menjadi pemiliknya,
bertanggung jawab atas makhluk yang telah meng-
khianati Sirius, sungguh menjijikkan.
“Beri dia perintah,” kata Dumbledore. “Jika telah
menjadi milikmu, dia harus mematuhimu. Jika tidak,
kita terpaksa memikirkan cara-cara untuk menjauhkan-
nya dari nyonya majikannya yang sah.”
“Tak mau, tak mau, tak mau, TAK MAU!”
Suara Kreacher telah meninggi menjadi jeritan.
Harry tak bisa berpikir harus berkata apa kecuali,
“Kreacher, diam!”
Sesaat tampaknya Kreacher akan tersedak. Dia men-
cengkeram tenggorokannya, mulutnya masih bergerak-
gerak liar, matanya membelalak. Setelah menelan lu-
dah dengan panik selama beberapa detik, dia melem-
par diri tengkurap di atas permadani (Bibi Petunia
merintih) dan memukul-mukul lantai dengan tangan
dan kakinya, menumpahkan segala kemarahan dan
kejengkelannya, namun dalam diam.
“Nah, ini menyederhanakan persoalan,” kata
Dumbledore riang. “Rupanya Sirius tahu apa yang
dilakukannya. Kau pemilik sah Grimmauld Place no-
mor dua belas, dan Kreacher.”
“Apakah—apakah saya harus memeliharanya sen-
diri?” Harry bertanya, ngeri, sementara Kreacher
menggelepar di kakinya.
“Tidak, kalau kau tak mau,” kata Dumbledore. “Ka-
lau aku boleh memberi saran, kau bisa mengirimnya
ke Hogwarts, untuk bekerja di dapur di sana. Dengan
begitu, para peri-rumah yang lain bisa mengawasinya.”
73
“Yeah,” kata Harry lega. “Saya akan mengirimnya
ke sana. Er—Kreacher—aku ingin kau ke Hogwarts
dan bekerja di dapur di sana bersama peri-peri-rumah
yang lain.”
Kreacher, yang sekarang berbaring telentang dengan
tangan dan kaki di udara, melempar pandang jijik-
terbalik kepada Harry, dan dengan bunyi tar keras,
lenyap.
“Bagus,” kata Dumbledore. “Masih ada masalah
Hippogriff, Buckbeak. Hagrid-lah yang memeliharanya
sejak Sirius meninggal, tapi Buckbeak milikmu seka-
rang, jadi kalau kau mau mengaturnya secara lain—”
“Tidak,” kata Harry segera, “dia boleh tinggal ber-
sama Hagrid. Saya rasa Buckbeak lebih suka begitu.”
“Hagrid akan senang,” kata Dumbledore, tersenyum.
“Dia bahagia sekali melihat Buckbeak lagi. Kami sudah
memutuskan, demi keamanan Buckbeak, memberinya
nama baru Witherwings untuk sementara ini, meski-
pun aku ragu Kementerian akan bisa menduga dia
adalah Hippogriff yang pernah mereka jatuhi hu-
kuman mati. Nah, Harry, kopermu sudah dipak?”
“Erm…”
“Kau tidak yakin aku akan datang?” Dumbledore
menerka dengan tepat.
“Saya akan—er—menyelesaikannya,” kata Harry
buru-buru, bergegas mengambil teleskop dan sepatu-
nya yang tadi terjatuh.
Perlu sepuluh menit lebih sedikit untuk mencari
segala sesuatu yang dibutuhkannya. Akhirnya dia ber-
hasil menarik keluar Jubah Gaib-nya dari bawah tem-
pat tidur, menutup rapat botol tinta Ubah-Warna-nya,
74
memasukkan kuali, dan menutup kopernya dengan
paksa. Kemudian, menyeret koper dengan satu tangan
dan menenteng sangkar Hedwig dengan tangan yang
lain, dia kembali menuruni tangga.
Dia kecewa ternyata Dumbledore tidak menunggu
di ruang depan, yang berarti dia harus kembali ke
ruang keluarga.
Tak seorang pun bicara. Dumbledore sedang ber-
senandung pelan, tampak benar dia santai, namun
suasana dirtgin dan tegang, dan Harry tidak berani
memandang keluarga Dursley ketika dia berkata, “Pro-
fesor—saya sudah siap.”
“Bagus,” kata Dumbledore. “Tinggal satu hal lagi,
kalau begitu.” Dan dia menoleh untuk berbicara ke-
pada keluarga Dursley sekali lagi. “Seperti yang pasti
kalian ketahui, setahun lagi Harry akil balig—”
“Tidak,” kata Bibi Petunia, berbicara untuk pertama
kalinya sejak kedatangan Dumbledore.
“Maaf?” kata Dumbledore sopan.
“Tidak, dia belum akil balig. Dia sebulan lebih muda
daripada Dudley, dan Duddlers baru akan delapan
belas dua tahun lagi.”
“Ah,” kata Dumbledore ramah, “tetapi di dunia
sihir, kami akil balig pada usia tujuh belas tahun.”
Paman Vernon menggumamkan “tidak masuk akal”,
namun Dumbledore mengabaikannya.
“Seperti yang telah kalian ketahui, penyihir yang
bernama Lord Voldemort telah kembali ke negara ini.
Komunitas sihir saat ini dalam keadaan perang ter-
buka. Dalam beberapa kesempatan Lord Voldemort
telah berusaha membunuh Harry, sehingga sekarang
75
dia berada dalam bahaya yang jauh lebih besar dari-
pada ketika saya tinggalkan di depan pintu rumah
kalian lima belas tahun lalu, bersama surat yang men-
jelaskan tentang pembunuhan terhadap orangtuanya
dan mengutarakan harapan agar kalian bersedia mera-
watnya seperti anak sendiri.”
Dumbledore berhenti, dan meskipun suaranya tetap
ringan dan tenang, dan tak ada tanda-tanda ke-
marahan, Harry merasakan semacam rasa dingin me-
mancar darinya dan memperhatikan bahwa ketiga
Dursley duduk lebih merapat.
“Kalian tidak melakukan seperti yang saya minta.
Kalian tidak pernah memperlakukan Harry sebagai
anak. Dia ditelantarkan dan kadang malah menderita
kekejaman dari tangan kalian. Yang paling baik yang
bisa dikatakan adalah bahwa dia setidaknya terhindar
dari kerusakan mengerikan yang telah kalian timpakan
kepada anak malang yang duduk di antara kalian.”
Bibi Petunia dan Paman Vernon langsung menoleh,
seakan berharap melihat orang lain, bukan Dudley
yang duduk terimpit di antara mereka.
“Kami—salah memperlakukan Dudders? Apa mak-
sud—?” kata Paman Vernon berang, namun Dumble-
dore mengangkat jari menyuruhnya diam. Paman
Vernon langsung terdiam.
“Sihir yang saya berikan lima belas tahun lalu berarti
bahwa Harry memiliki perlindungan kuat selama dia
masih bisa menyebut rumah ini rumahnya. Betapapun
menderitanya dia di sini, betapapun dia tidak diterima,
betapapun dia diperlakukan dengan sangat buruk,
kalian paling tidak, kendati dengan menggerutu, mem-
76
berinya tumpangan. Sihir ini akan berhenti berfungsi
saat Harry berumur tujuh belas tahun; dengan kata
lain, saat dia menjadi laki-laki dewasa. Saya hanya
meminta ini: bahwa kalian mengizinkan Harry kem-
bali, sekali lagi, ke rumah ini, sebelum hari ulang
tahunnya yang ketujuh belas, dengan demikian ini
akan memastikan perlindungan terhadapnya akan ber-
langsung sampai saat itu.”
Tak seorang pun keluarga Dursley berkata apa-apa.
Dudley mengernyit sedikit, seakan dia masih berusaha
memahami kapan dia diperlakukan salah. Paman
Vernon tampak seolah ada sesuatu yang mengganjal
kerongkongannya. Bibi Petunia, anehnya, wajahnya
memerah seperti malu.
“Nah, Harry… saatnya kita berangkat,” kata Dumble-
dore akhirnya, seraya berdiri dan meluruskan mantel
hitamnya yang panjang. “Sampai ketemu lagi,” kata-
nya kepada keluarga Dursley, yang tampak mengharap
itu tak usah terjadi, dan setelah memakai topinya,
Dumbledore meninggalkan ruangan.
“Bye,” kata Harry buru-buru kepada keluarga
Dursley, dan menyusul Dumbledore, yang berhenti di
sebelah koper Harry, dengan sangkar Hedwig ber-
tengger di atasnya.
“Kita tak ingin terbebani dengan ini sekarang,” kata-
nya, seraya mencabut tongkat sihirnya. “Akan kukirim
ke The Burrow, supaya menanti kita di sana. Meskipun
demikian, aku ingin kau membawa Jubah Gaib-mu…
siapa tahu.”
Harry mengeluarkan Jubah Gaib dari kopernya de-
ngan sedikit kesulitan, dia berusaha agar Dumbledore
77
tidak melihat betapa berantakannya isi kopernya. Se-
telah Harry menjejalkan Jubah Gaib-nya ke kantong
dalam jaketnya, Dumbledore melambaikan tongkat
sihirnya dan koper, sangkar, serta Hedwig lenyap.
Dumbledore kemudian melambaikan tongkatnya lagi
dan pintu depan terbuka, menampakkan kegelapan
yang dingin berkabut.
“Dan sekarang, Harry, marilah melangkah ke dalam
kegelapan malam dan mengejar petualangan yang
menggoda.”
78
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ENDATI beberapa hari belakangan ini kalau
tidak sedang tidur dia melewatkan sepanjang
waktu dengan berharap sepenuh hati Dumbledore
betul-betul datang menjemputnya, Harry merasa cang-
gung sekali ketika mereka berjalan berdua sepanjang
Privet Drive. Dia belum pernah benar-benar mengobrol
dengan kepala sekolahnya di luar Hogwarts; biasanya
selalu ada meja di antara mereka. Ingatan akan per-
temuan terakhir mereka berulang-ulang terlintas di
benaknya juga, dan ini membuat Harry agak malu.
Dia banyak berteriak dalam pertemuan itu, belum
lagi berusaha keras menghancurkan beberapa milik
Dumbledore yang paling berharga.
Dumbledore, meskipun demikian, tampak sepenuh-
nya rileks.
79
“Tongkat siap, Harry,” katanya ceria.
“Tetapi bukankah saya dilarang menggunakan sihir
di luar sekolah, Sir?”
“Jika ada serangan,” kata Dumbledore, “aku mem-
berimu izin untuk menggunakan mantra kontra-ku-
tukan atau penangkal-sihir yang terlintas di benakmu.
Meskipun demikian, kurasa kau tak perlu khawatir
diserang malam ini.”
“Kenapa tidak, Sir?”
“Kau bersamaku,” kata Dumbledore sederhana. “Di
sini sudah cukup, Harry.”
Dumbledore berhenti mendadak di ujung Privet
Drive.
“Kau, tentunya, belum lulus ujian Apparition-mu,
kan?”
“Belum,” kata Harry. “Kan harus sudah berusia
tujuh belas tahun?”
“Memang,” kata Dumbledore. “Kalau begitu kau
perlu berpegang pada lenganku erat-erat. Yang kiri,
tolong—seperti yang telah kaulihat, lengan pemegang
tongkatku agak rapuh sekarang ini.”
Harry memegang erat lengan yang disodorkan
Dumbledore.
“Bagus sekali,” kata Dumbledore. “Nah, kita berang-
kat sekarang.”
Harry merasa lengan Dumbledore tertarik menjauh
darinya dan mengencangkan pegangannya: berikut-
nya, tahu-tahu segalanya menjadi gelap, dia merasa
ditekan keras dari segala jurusan; dia tak bisa ber-
napas, ada tali-tali besi membelit erat dadanya; bola
80
matanya didorong masuk lebih dalam ke dalam
rongganya, dan kemudian—
Harry menghirup dalam-dalam udara dingin malam
hari beberapa kali dan membuka matanya yang berair.
Rasanya seperti dia baru saja didorong melewati pipa
karet yang sangat sempit. Baru beberapa detik kemu-
dian dia menyadari bahwa Privet Drive telah lenyap.
Dia dan Dumbledore sekarang berdiri di tempat yang
tampaknya lapangan desa yang kosong, di tengahnya
berdiri tugu peringatan perang yang sudah tua dan
ada beberapa bangku. Pemahamannya menyusul pe-
rasaannya, Harry sadar dia baru saja ber-Apparate
untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
“Kau tak apa-apa?” tanya Dumbledore, menunduk
memandangnya cemas. “Perlu beberapa waktu sampai
kau terbiasa dengan sensasinya.”
“Saya baik-baik saja,” kata Harry, menggosok telinga-
nya, yang rasanya meninggalkan Privet Drive dengan
enggan. “Tetapi saya rasa saya lebih suka naik sapu.”
Dumbledore tersenyum, menarik mantel bepergian-
nya sedikit lebih rapat di bagian leher, dan berkata,
“Ke sini.”
Dia berjalan dengan gesit, melewati losmen kosong
dan beberapa rumah. Menurut jam di gereja di dekat
situ, saat itu hampir tengah malam.
“Katakan padaku, Harry,” kata Dumbledore. “Bekas
lukamu… apakah belakangan ini sakit?”
Tanpa sadar Harry mengangat tangan ke dahinya
dan menggosok bekas luka berbentuk sambaran pe-
tir.
“Tidak,” katanya, “dan saya bertanya-tanya soal itu.
81
Saya pikir bekas luka itu akan sakit terus sekarang
setelah Voldemort menjadi sangat kuat lagi.”
Dia mendongak mengerling Dumbledore dan me-
lihat wajahnya diliputi ekspresi puas.
“Aku justru menduga sebaliknya,” kata Dumbledore.
“Lord Voldemort akhirnya menyadari adanya akses
ke pikiran dan perasaannya yang selama ini kaunik-
mati. Rupanya sekarang dia menggunakan Occlu-
mency terhadapmu.”
“Saya tidak mengeluh,” kata Harry, yang sama sekali
tidak merasa kehilangan mimpi-mimpi buruk ataupun
kilasan-kflasan mengejutkan ke dalam pikiran Volde-
mort.
Mereka membelok, melewati boks telepon dan halte
bus. Harry mengerling Dumbledore lagi.
“Profesor?”
“Harry?”
“Er—di mana kita ini?”
“Ini, Harry, adalah desa Budleigh Babberton yang
indah.”
“Dan apa yang kita lakukan di sini?”
“Ah, ya, tentu saja, aku belum memberitahumu,”
kata Dumbledore. “Nah, aku tak tahu sudah berapa
kali aku mengatakan ini dalam beberapa tahun ter-
akhir, tetapi kita, sekali lagi, kekurangan satu guru.
Kita berada di sini untuk membujuk rekan kerja lama-
ku untuk meninggalkan masa pensiunnya dan kembali
ke Hogwarts.”
“Bagaimana saya bisa membantu soal itu, Sir?”
“Oh, kurasa kita akan menemukan kegunaanmu,”
kata Dumbledore tak jelas. “Belok kiri, Harry.”
82
Mereka berjalan sepanjang jalan kecil curam yang
diapit deretan rumah. Semua jendelanya gelap. Rasa
dingin aneh yang telah menyelimuti Privet Drive sela-
ma dua minggu, juga terasa di sini. Teringat Dementor,
Harry menoleh ke belakang dan menggenggam tongkat
sihir dalam sakunya untuk menenteramkan hati.
“Profesor, kenapa kita tidak langsung saja ber-
Apparate di dalam rumah rekan kerja lama Anda?”
“Karena itu sama tidak sopannya seperti kita me-
nendang pintu depannya,” kata Dumbledore. “Ke-
sopanan menuntut kita memberi kesempatan kepada
sesama penyihir untuk menolak kedatangan kita. Lagi
pula, sebagian besar tempat tinggal para penyihir
dilindungi dengan sihir untuk menghalangi Apparition
yang tak diinginkan. Di Hogwarts, misalnya saja—”
“—siapa pun tak bisa ber-Apparate di mana pun di
dalam bangunan maupun halamannya,” kata Harry
cepat. “Hermione Granger yang memberitahu saya.”
“Dan dia benar sekali. Kita belok kiri lagi.”
Lonceng gereja di belakang mereka berdentang me-
nyatakan tengah malam. Harry bertanya-tanya dalam
hati kenapa Dumbledore tidak menganggap tidak so-
pan mengunjungi kawan lamanya larut malam begini,
namun sekarang setelah obrolan dibuka, ada per-
tanyaan-pertanyaan lain yang lebih mendesak.
“Sir, saya melihat di Daily Prophet Fudge telah di-
pecat…”
“Betul,” kata Dumbledore, sekarang berbelok ke jalan
kecil yang curam. “Dia digantikan, kau pasti juga
sudah melihat, oleh Rufus Scrimgeour, yang tadinya
Kepala Kantor Auror.”
83
“Apakah dia… menurut Anda dia cakap?” tanya
Harry.
“Pertanyaan menarik,” kata Dumbledore. “Dia mam-
pu, jelas. Orang yang lebih tegas dan kuat daripada
Cornelius.”
“Ya, tapi maksud saya—”
“Aku tahu apa maksudmu. Rufus orang yang biasa
bertindak dan, telah berpengalaman melawan penyihir
hitam hampir sepanjang masa kerjanya, dia tidak
memandang enteng Lord Voldemort.”
Harry menunggu, namun Dumbledore tidak me-
ngatakan apa-apa soal perselisihan pendapatnya de-
ngan Scrimgeour yang dilaporkan Daily Prophet, dan
dia tak punya nyali untuk memperpanjang soal ini,
maka dia mengganti topik.
“Dan… Sir… saya membaca tentang Madam Bones.”
“Ya,” kata Dumbledore pelan. “Kehilangan yang
sangat disayangkan. Dia penyihir hebat. Di depan
situ, kukira—ouch.”
Dia telah menunjuk dengan tangannya yang terluka.
“Profesor, kenapa tangan—?”
“Aku tak punya waktu untuk menjelaskannya seka-
rang,” kata Dumbledore. “Kisahnya seru sekali, harus
ada waktu khusus.”
Dia tersenyum kepada Harry, yang mengerti bahwa
dia tidak dimarahi, dan bahwa dia diizinkan untuk
terus mengajukan pertanyaan.
“Sir—saya menerima selebaran Kementerian Sihir
yang diantar burung hantu, tentang langkah-langkah
keamanan yang harus kita semua lakukan terhadap
Pelahap Maut…”
84
“Ya, aku juga menerima selebaran itu,” kata Dumble-
dore, masih tersenyum. “Apa menurutmu petunjuk
itu berguna?”
“Tidak begitu.”
“Menurutku juga tidak. Kau tidak menanyaiku, mi-
salnya, rasa apakah selai favoritku, untuk mengecek
apakah aku benar-benar Profesor Dumbledore, dan
bukan penyamar.”
“Saya tidak…” Harry bingung, tak tahu apakah dia
sedang ditegur atau tidak.
“Untuk keperluan di masa yang akan datang, Harry,
selai favoritku raspberry… meskipun tentunya, seandai-
nya aku Pelahap Maut, aku pasti sudah melakukan
riset tentang selai kesukaanku sebelum menyamar
menjadi diriku.”
“Er… betul,” kata Harry. “Di selebaran itu disebut-
sebut tentang Inferi. Apakah Inferi itu? Selebaran itu
tidak menjelaskan.”
“Inferi itu mayat,” kata Dumbledore tenang. “Kalau
hanya satu sebutannya Inferius, kalau banyak Inferi.
Tubuh-tubuh orang meninggal yang telah disihir untuk
melakukan perintah-perintah penyihir hitam. Meski-
pun demikian, Inferi sudah lama sekali tidak terlihat,
sejak Voldemort kehilangan kekuasaannya… dia mem-
bunuh cukup banyak orang untuk membuat pasukan
Inferi, tentu saja. Ini tempatnya, Harry, di sini…”
Mereka mendekati sebuah rumah kecil dari batu
dengan halaman tersendiri. Harry terlalu sibuk men-
cerna informasi mengerikan tentang Inferi sampai tak
memperhatikan hal lain, namun ketika mereka tiba di
85
pintu pagar, Dumbledore mendadak berhenti dan
Harry menabraknya.
“Astaga. Astaga, astaga, astaga.”
Harry mengikuti pandangannya melewati jalan se-
tapak yang terawat dan hatinya mencelos. Pintu depan
menggantung pada engselnya.
Dumbledore memandang ke kanan-kiri jalan. Jalan
itu tampak kosong.
“Keluarkan tongkat dan ikuti aku, Harry,” katanya
pelan.
Dia membuka pintu pagar dan melangkah gesit
dalam diam di jalan setapak, Harry di belakangnya,
kemudian mendorong pintu depan dengan sangat
pelan, tongkat sihirnya terangkat dan dalam posisi
siap.
“Lumos.”
Ujung tongkat sihir Dumbledore menyala, menyinari
ruang depan yang sempit. Di sebelah kiri ada pintu
lain yang terbuka. Mengangkat tongkat sihirnya yang
menyala tinggi-tinggi, Dumbledore berjalan ke dalam
ruang duduk, diikuti oleh Harry.
Kehancuran total menyambut mereka. Sebuah jam
besar terserak hancur di kaki mereka, kacanya retak,
pendulumnya tergeletak sedikit lebih jauh, seperti
pedang yang terjatuh. Sebuah piano terguling miring,
tutsnya bertebaran di lantai. Serpihan kandelar yang
terjatuh berkilauan di dekatnya. Bantal-bantal kursi
bergeletakan, kempis, bulu-bulu angsanya keluar dari
robekannya; pecahan-pecahan gelas dan porselen ber-
tebaran di mana-mana. Dumbledore mengangkat tong-
kat sihirnya lebih tinggi lagi, sehingga cahayanya
86
menerangi dinding, yang kertas dindingnya bebercak-
bercak sesuatu berwarna merah darah dan lengket.
Tarikan napas pendek Harry membuat Dumbledore
memandang berkeliling.
“Tidak indah, ya,” katanya berat. “Ya, sesuatu yang
mengerikan telah terjadi di sini.”
Dumbledore bergerak dengan hati-hati ke tengah
ruangan, mengawasi kehancuran di kakinya. Harry
mengikutinya, memandang berkeliling, setengah-takut
akan apa yang mungkin dilihatnya di belakang piano
yang terguling atau sofa yang terbalik, namun tak
tampak ada tubuh.
“Mungkin tadi ada perkelahian dan—dan mereka
menyeret tubuhnya, Profesor?” Harry mengeluarkan
pendapat, berusaha tak membayangkan seberapa
parahnya luka orang itu sampai bisa meninggalkan
bercak-bercak sebanyak itu di ketinggian separo din-
ding.
“Kurasa tidak,” kata Dumbledore pelan, mengintip
ke belakang kursi berlengan yang bantalannya tebal
sekali, yang terguling miring.
“Maksud Anda dia—?”
“Masih ada di sekitar sini? Ya.”
Dan tanpa disangka-sangka Dumbledore menyam-
bar, menusukkan ujung tongkat sihirnya, ke bantalan
tempat duduk kursi berlengan, yang menjerit, “Ouch!”
“Selamat malam, Horace,” kata Dumbledore, me-
luruskan diri lagi.
Mulut Harry ternganga. Di tempat yang sedetik
sebelumnya tergeletak kursi berlengan, sekarang ber-
jongkok seorang pria tua luar biasa gemuk yang se-
87
dang mengusap-usap bagian bawah perutnya dan
matanya yang berair menyipit memandang Dumble-
dore dengan kesakitan.
“Tak perlu menusukkan tongkat sekeras itu,” katanya
pedas, seraya berusaha bangun. “Sakit, tahu.”
Cahaya tongkat sihir berkilau menyinari kepalanya
yang botak, matanya yang menonjol, kumis besarnya
yang keperakan dan besar seperti kumis beruang laut,
dan kancing-kancing yang digosok berkilat pada jaket
beludru merah tua yang dipakainya di atas celana
piama sutra berwarna ungu muda. Puncak kepalanya
hanya mencapai dagu Dumbledore.
“Apa yang membuat ketahuan?” gerutunya seraya
terhuyung bangun, masih mengusap-usap bagian ba-
wah perutnya. Dia tampak sama sekali tak malu,
padahal baru saja ketahuan menyamar jadi kursi ber-
lengan.
“Kawanku Horace,” kata Dumbledore, tampak geli,
“jika para Pelahap Maut betul-betul datang, Tanda
Kegelapan akan dipasang di atas rumah.”
Si penyihir menepukkan tangan gemuk ke dahinya
yang lebar.
“Tanda Kegelapan,” gumamnya. “Aku tahu ada yang
kurang… ah, sudahlah. Toh tak akan sempat. Aku
baru saja menyelesaikan sentuhan akhir pada kain
pelapis ketika kalian masuk.”
Dia menghela napas panjang yang membuat ujung-
ujung kumisnya bergetar.
“Kau mau kubantu membereskannya?” tanya
Dumbledore sopan.
“Silakan,” kata yang lain.
88
Mereka berdiri beradu punggung, si penyihir jang-
kung kurus dan si penyihir pendek gemuk, dan meng-
gerakkan tongkat sihir mereka dalam gerakan sapuan
yang identik.
Perabot-perabot kembali ke tempatnya semula;
hiasan-hiasan utuh kembali di udara; bulu-bulu me-
luncur masuk ke dalam bantal kursi masing-masing;
buku-buku robek memperbaiki diri seraya mendarat
di raknya; lampu minyak melayang ke meja-meja
kecil dan menyala lagi; onggokan serpihan pigura
perak terbang berkilauan ke seberang ruangan dan
mendarat, utuh dan mulus, di atas sebuah meja;
robekan, belahan, dan lubang-lubang di mana-mana
menutup kembali; dan dinding-dinding membersihkan
diri sendiri.
“Jenis darah apa itu?” tanya Dumbledore keras
mengatasi dentang lonceng jam besar yang baru saja
utuh dan berdiri tegak di lantai.
“Di dinding? Naga,” teriak si penyihir yang bernama
Horace, ketika, dengan bunyi kertak dan dentang
memekakkan telinga, kandelar menyekrup diri kembali
ke langit-langit.
Paling akhir terdengar bunyi plang dari piano, kemu-
dian sunyi.
“Ya, naga,” ulang si penyihir. “Botol terakhir, mana
harga-harga sekarang sedang meroket. Tapi masih bisa
digunakan lagi.”
Dia berjalan ke arah sebuah botol kristal kecil di
atas bufet dan mengangkatnya menghadap lampu,
memeriksa cairan kental di dalamnya.
“Hem. Agak berdebu.”
89
Diletakkannya kembali botol itu di atas bufet dan
dia menghela napas. Saat itulah pandangannya jatuh
ke Harry.
“Oho,” katanya, matanya yang besar dan bundar
melayang ke dahi Harry dan bekas lukanya yang
berbentuk sambaran petir. “Oho!”
“Ini,” kata Dumbledore, maju untuk memperkenal-
kan, “Harry Potter. Harry, ini teman lama dan mantan
rekan guruku, Horace Slughorn.”
Slughorn menoleh ke Dumbledore, ekspresinya pa-
ham.
“Jadi, begitulah kaupikir kau akan membujukku
ya? Nah, jawabannya tidak, Albus.”
Dia melewati Harry, wajahnya sengaja dipalingkan-
nya dengan sikap seperti orang yang berusaha me-
nahan godaan.
“Kurasa paling tidak kita bisa minum?” tanya
Dumbledore. “Demi masa lalu?”
Slughorn ragu-ragu.
“Baiklah, segelas saja,” katanya kurang sopan.
Dumbledore tersenyum kepada Harry dan memberi-
nya isyarat agar duduk di kursi yang tidak berbeda
dari yang baru saja jadi samaran Slughorn, yang
berdiri tepat di sebelah perapian yang baru menyala
lagi dan lampu minyak yang bersinar terang. Harry
duduk dengan kesan kuat bahwa Dumbledore, entah
kenapa, ingin membuatnya kelihatan sejelas mungkin.
Tentu saja ketika Slughorn, yang tadinya sibuk me-
nyiapkan karaf anggur dan gelas-gelas, berbalik meng-
hadap ruangan lagi, matanya langsung menatap Harry.
“Humph,” katanya, cepat-cepat berpaling seakan ta-
90
kut matanya terluka. “Ini—” Dia memberikan mi-
numan kepada Dumbledore, yang telah duduk tanpa
dipersilakan, menyorongkan nampan ke Harry, dan
kemudian duduk di sofa yang baru diperbaiki dengan
diam dan wajah tak puas. Kakinya pendek sekali
sehingga tidak menyentuh lantai.
“Jadi, bagaimana keadaanmu selama ini, Horace?”
Dumbledore bertanya.
“Tak begitu baik,” kata Slughorn segera. “Dada le-
mah. Sesak napas. Rematik juga. Tak bisa lagi bergerak
seperti dulu. Yah, mau apa lagi. Usia tua. Kelelahan.”
“Tapi kau pasti bergerak cukup cepat untuk me-
nyiapkan sambutan begitu rupa untuk kami dalam
waktu sesingkat itu,” kata Dumbledore. “Kau paling
hanya punya waktu tak lebih dari tiga menit?”
Slughorn berkata, setengah-jengkel, setengah-bangga,
“Dua menit. Tidak dengar Mantra Penolak Gangguan-
ku berbunyi, aku sedang mandi. “Tetap saja,” dia
menambahkan tegas, tampaknya sudah menguasai diri
lagi, “faktanya aku sudah tua, Albus. Laki-laki tua
dan lelah yang berhak menikmati hidup tenang dan
beberapa barang yang memberi kenikmatan badaniah.”
Dia memiliki semua itu, pikir Harry, memandang
berkeliling ruangan. Memang sesak dan banyak
barangnya, tapi tak bisa dikatakan tidak nyaman; ada
kursi-kursi empuk dan bangku tumpuan kaki, mi-
numan dan buku-buku, berkotak-kotak cokelat dan
bantal-bantal empuk. Jika Harry tak tahu siapa yang
tinggal di sana, dia akan menerka penghuni rumah
itu seorang wanita tua kaya yang cerewet.
“Kau belum setua aku, Horace,” kata Dumbledore.
91
“Mungkin kau sendiri perlu memikirkan soal pen-
siun,” timpal Slughorn terus terang. Matanya yang
pucat dan seperti gooseberry telah melihat tangan
Dumbledore yang terluka. “Reaksi tidak secepat dulu,
rupanya.”
“Kau benar,” kata Dumbledore tenang, menggoyang
lengan jubahnya ke belakang, memperlihatkan ujung
jari-jarinya yang hitam terbakar. Pemandangan itu
membuat bulu tengkuk Harry meremang. “Aku jelas
bergerak lebih lambat daripada dulu. Tetapi sebalik-
nya…”
Dia mengangkat bahu dan merentangkan kedua
tangannya lebar-lebar, seakan mau berkata bahwa usia
tua ada keuntungannya, dan Harry melihat sebentuk
cincin pada tangannya yang sehat, yang belum pernah
dilihatnya dipakai Dumbledore. Cincin itu besar,
buatannya kurang halus, kelihatannya dari emas, de-
ngan hiasan batu berat hitam yang telah retak di
tengahnya. Mata Slughorn selama beberapa saat me-
natap cincin itu juga, dan Harry melihat kernyit kecil
sejenak menghiasi dahinya yang lebar.
“Jadi, segala langkah pengamanan terhadap peng-
ganggu, Horace… apakah semua itu untuk Pelahap
Maut, atau untukku?” tanya Dumbledore.
“Apa yang diinginkan Pelahap Maut dari orang tua
yang tak berdaya seperti aku?” tuntut Slughorn.
“Kubayangkan mereka akan menginginkan kau
menggunakan bakatmu yang banyak untuk kekerasan,
siksaan, dan pembunuhan,” kata Dumbledore. “Apa-
kah kau mau mengatakan mereka belum datang untuk
merekrutmu?”
92
Slughorn menatap jengkel Dumbledore sesaat, ke-
mudian bergumam, “Aku tak memberi mereka kesem-
patan. Aku pindah-pindah terus selama setahun ini.
Tak pernah tinggal di suatu tempat lebih dari seming-
gu. Pindah dari rumah Muggle yang satu ke rumah
Muggle yang lain—pemilik rumah ini sedang berlibur
di Kepulauan Canary. Menyenangkan sekali, aku akan
menyesal meninggalkannya. Cukup gampang kalau
kau tahu bagaimana menggunakan Mantra Pembeku
pada alarm tanda bahaya absurd yang mereka guna-
kan alih-alih Teropong-Curiga dan memastikan para
tetangga tidak melihatmu memasukkan piano.”
“Banyak akal,” kata Dumbledore. “Tapi kedengaran-
nya agak melelahkan bagi orang tua tak berdaya
yang mendambakan kehidupan tenang. Nah, seandai-
nya kau kembali ke Hogwarts—”
“Kalau kau akan bilang hidupku akan lebih tenang
di sekolah yang banyak masalahnya itu, jangan buang-
buang tenaga, Albus! Aku boleh saja dalam per-
sembunyian, tetapi desas-desus aneh telah kudengar
sejak Dolores Umbridge pergi! Jika begitu caramu
memperlakukan para guru sekarang ini—”
“Profesor Umbridge mendapat masalah dengan ka-
wanan centaurus kita,” kata Dumbledore. “Kurasa kau,
Horace, tak akan masuk ke dalam Hutan dan me-
nyebut sekelompok centaurus yang marah ‘keturunan-
campuran kotor’.”
“Itukah yang dilakukannya?” kata Slughorn. “Perem-
puan idiot. Aku tak pernah suka padanya.”
Harry tertawa tertahan dan baik Dumbledore mau-
pun Slughorn menoleh menatapnya.
93
“Maaf,” kata Harry buru-buru. “Hanya saja—saya
juga tidak menyukainya.”
Dumbledore bangkit agak mendadak.
“Kau sudah mau pergi?” tanya Slughorn segera,
penuh harap.
“Belum, aku minta izin menggunakan kamar mandi-
mu,” kata Dumbledore.
“Oh,” kata Slughorn, tampak jelas kecewa. “Pintu
kedua di sebelah kiri di aula itu.”
Dumbledore menyeberangi ruangan. Begitu pintu
tertutup di belakangnya, suasana jadi sunyi. Selewat
beberapa saat Slughorn bangkit berdiri, namun tampak
tak yakin mau melakukan apa. Dia melirik Harry
secara sembunyi-sembunyi, kemudian berjalan ke per-
apian dan berdiri membelakanginya, menghangatkan
bagian belakang tubuhnya yang lebar.
“Jangan dikira aku tak tahu kenapa dia mengajak-
mu,” katanya mendadak.
Harry hanya menatap Slughorn. Mata Slughorn
yang berair melewati bekas luka Harry, kali ini me-
mandang sisa wajahnya.
“Kau mirip sekali ayahmu.”
“Yah, banyak yang bilang begitu,” kata Harry.
“Kecuali matamu. Matamu seperti—”
“Mata ibu saya, yeah.” Harry sudah mendengarnya
kelewat sering sampai dia bosan.
“Humph. Ya. Sebagai guru kita tidak boleh punya
favorit, tentu saja, tapi dia salah satu murid favoritku.
Ibumu,” Slughorn menambahkan, menjawab pandang-
tanya Harry. “Lily Evans. Salah satu yang terpintar
yang pernah kuajar. Periang, kau tahu. Gadis yang
94
sangat menarik. Berkali-kali kukatakan kepadanya, dia
seharusnya di asramaku. Jawaban yang kudapat biasa-
nya sangat kurang ajar.”
“Yang mana asrama Anda?”
“Aku Kepala Asrama Slytherin,” kata Slughorn. “Oh,
sudahlah,” dia meneruskan buru-buru, melihat ekspre-
si di wajah Harry dan menggoyangkan jari gemuk-
pendek ke arahnya, “jangan menyalahkanku karena
itu! Kau Gryffindor seperti dia, kukira? Ya, biasanya
menurun dalam keluarga. Tapi tidak selalu. Pernah
dengar tentang Sirius Black? Pastilah—beberapa tahun
belakangan ini dia muncul di koran-koran—meninggal
beberapa minggu lalu—”
Rasanya ada tangan tak kelihatan membetot isi
perut Harry dan mencengkeramnya kuat-kuat.
“Nah, dia sobat ayahmu di sekolah. Seluruh keluarga
Black masuk asramaku, tapi Sirius masuk Gryffindor!
Sayang—dia anak berbakat. Aku mendapatkan Regu-
lus, adiknya, ketika dia masuk Hogwarts, tapi aku
akan lebih senang mendapatkan keduanya.”
Dia kedengaran seperti kolektor antusias yang kalah
dalam lelang. Tampak tenggelam dalam kenangan,
dia memandang dinding di seberangnya, bergerak-
gerak di tempat untuk memastikan seluruh punggung-
nya kebagian panas yang merata.
“Ibumu kelahiran-Muggle, memang. Aku tak percaya
ketika baru tahu. Kukira dia berdarah-murni, dia pintar
sekali.”
“Salah seorang sahabat saya kelahiran-Muggle,” kata
Harry, “dan dia yang paling pintar dalam angkatan
kami.”
95
“Aneh ya, hal seperti itu kadang-kadang terjadi,”
kata Slughorn.
“Tidak aneh,” kata Harry dingin.
Slughorn memandangnya keheranan.
“Pasti kau mengira aku berprasangka!” katanya.
“Tidak, tidak, tidak! Bukankah sudah kukatakan ibumu
salah satu muridku yang paling kufavoriti? Dan ada
Dirk Cresswell di tahun sesudah ibumu—sekarang
Kepala Kantor Hubungan Goblin—dia juga kelahiran-
Muggle, murid yang sangat berbakat, dan masih mem-
beriku informasi orang dalam tentang apa yang terjadi
di Gringotts!”
Dia melompat-lompat sedikit, tersenyum berpuas
diri, dan menunjuk ke banyak pigura foto berkilat di
atas lemari hias, masing-masing isinya bergerak-gerak.
“Semua mantan murid, semua ditandatangani. Kau-
lihat itu, Barnabas Cuffe, editor Daily Prophet, dia
selalu tertarik mendengar komentarku tentang berita
yang ditampilkan. Dan Ambrosius Flume, pemilik
Honeydukes—selalu kirim sekeranjang permen setiap
ulang tahunku, hanya karena aku yang memperkenal-
kannya kepada Ciceron Harkiss, yang memberinya
pekerjaannya yang pertama! Dan di belakang itu—
kau bisa melihatnya kalau kau menjulurkan lehermu—
perempuan itu Gwenog Jones, kapten Holyhead
Harpies tentu… orang heran mendengar aku saling
panggil nama depan dengan para Harpies, dan men-
dapat tiket gratis kapan saja aku menginginkannya!”
Pikiran ini tampak membuatnya sangat senang.
“Dan semua orang ini tahu di mana menemukan
Anda, untuk mengirimi Anda macam-macam?” tanya
96
Harry, yang mau tak mau bertanya-tanya dalam hati
kenapa para Pelahap Maut belum berhasil melacak
Slughorn jika sekeranjang permen, tiket Quidditch,
dan para tamu yang mendambakan nasihat dan pen-
dapatnya bisa menemukannya.
Senyum menghilang dari wajah Slughorn secepat
darah menghilang dari dindingnya.
“Tentu saja tidak,” katanya, menunduk menatap
Harry. “Aku sudah putus hubungan dengan semua
orang selama setahun.”
Harry mendapat kesan kata-kata itu mengejutkan
Slughorn sendiri; dia tampak terguncang sesaat. Kemu-
dian dia mengangkat bahu.
“Apa boleh buat… penyihir bijaksana harus berhati-
hati dalam situasi seperti ini. Gampang saja Dumble-
dore bicara, tapi menjadi guru di Hogwarts sekarang
ini sama saja dengan menyatakan secara terbuka bahwa
aku berpihak kepada Orde Phoenix! Dan walaupun
aku yakin mereka sangat mengagumkan dan pemberani
dan segalanya yang baik-baik, secara pribadi aku tidak
suka akan tingginya tingkat kematiannya.”
“Anda tidak harus bergabung dengan Orde untuk
mengajar di Hogwarts,” kata Harry, yang tak bisa
mencegah nada mencemooh dalam suaranya. Sulit
bersimpati dengan kehidupan nyaman Slughorn jika
dia teringat Sirius, meringkuk dalam gua, dan hidup
dengan makan tikus. “Sebagian besar guru bukan
anggota Orde dan tak seorang pun dari mereka ter-
bunuh—yah, kecuali kalau Anda memperhitungkan
Quirrell, dan dia layak menerima kematiannya meng-
ingat dia bekerjasama dengan Voldemort.”
97
Harry yakin Slughorn termasuk penyihir yang tak
tahan mendengar nama Voldemort disebut, dan dia
tidak dikecewakan. Slughorn bergidik dan menguak
memprotes, yang diabaikan Harry.
“Saya kira staf Hogwarts lebih aman daripada ke-
banyakan orang lain karena Dumbledore adalah kepala
sekolahnya; bukankah beliau satu-satunya yang di-
takuti Voldemort?” Harry melanjutkan.
Slughorn menatap kosong selama beberapa saat;
tampaknya dia memikirkan kata-kata Harry.
“Ya, memang benar bahwa Dia yang Namanya Tak
Boleh Disebut tidak pernah mencari perkara dengan
Dumbledore,” gumamnya enggan. “Dan kurasa orang
tak bisa membantah bahwa karena aku tidak ber-
gabung menjadi Pelahap Maut, Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut tak bisa menganggapku teman…
Dalam hal ini, aku mungkin lebih aman kalau sedikit
lebih dekat dengan Albus… Aku tak bisa berpura-
pura bahwa kematian Amelia Bones tidak membuatku
terguncang… kalau dia, dengan kontak-kontak dan
perlindungan dari Kementerian…”
Dumbledore kembali memasuki ruangan dan
Slughorn terlonjak, seakan dia lupa Dumbledore ada
di rumah itu.
“Oh, kau, Albus,” katanya. “Kau lama sekali. Sakit
perut?”
“Tidak, aku cuma membaca majalah-majalah
Muggle,” kata Dumbledore. “Aku suka sekali motif-
motif rajutan. Nah, Harry, kita telah menyalahgunakan
keramahan Horace cukup lama; kurasa sudah waktu-
nya kita pulang.”
98
Sama sekali tak segan mematuhi ajakan ini, Harry
langsung melompat berdiri. Slughorn tampak terkejut.
“Kalian mau pulang?”
“Ya, betul. Kurasa aku tahu kalau aku kalah.”
“Kalah…?”
Slughorn tampak gelisah. Dia memutar-mutar ibu
jari tangannya yang gemuk dan resah ketika Dumble-
dore mengancingkan mantel bepergiannya dan Harry
menarik ritsleting jaketnya.
“Yah, sayang kau tidak menginginkan pekerjaan
itu, Horace,” kata Dumbledore, mengangkat tangan-
nya yang tak terluka memberi salut selamat tinggal.
“Hogwarts akan senang sekali melihatmu kembali.
Walaupun tingkat keamanan Hogwarts sangat diper-
ketat, kau selalu boleh datang berkunjung, kalau kau
mau.”
“Ya… kau… baik sekali…”
“Selamat tinggal, kalau begitu.”
“Bye,” kata Harry.
Mereka baru tiba di pintu depan ketika terdengar
teriakan dari belakang mereka.
“Baik, baik, aku mau!”
Dumbledore menoleh dan melihat Slughorn berdiri
menahan napas di pintu ruang duduk.
“Kau bersedia meninggalkan pensiunmu?”
“Ya, ya,” kata Slughorn tak sabar. “Aku pasti sinting,
tapi ya.”
“Bagus sekali,” kata Dumbledore berseri-seri. “Kalau
begitu, Horace, kita akan bertemu lagi pada tanggal
satu September.”
“Ya, kita pasti bertemu lagi,” gerutu Slughorn.
99
Ketika mereka sedang berada di jalan setapak, suara
Slughorn mengejar mereka.
“Aku minta kenaikan gaji, Dumbledore!”
Dumbledore tertawa kecil. Pintu pagar menutup di
belakang mereka dan mereka menuruni bukit menem-
bus kabut gelap yang melayang-layang.
“Bagus sekali, Harry,” kata Dumbledore.
“Saya tidak melakukan apa-apa,” kata Harry ke-
heranan.
“Oh ya, kau melakukan sesuatu. Kau menunjukkan
kepada Horace betapa banyak keuntungan yang diper-
olehnya dengan kembali ke Hogwarts. Kau menyukai-
nya?”
“Er…”
Harry tak yakin apakah dia menyukai Slughorn
atau tidak. Menurutnya Slughorn cukup menyenang-
kan, tapi dia tampaknya juga sok dan, kendatipun
mengatakan sebaliknya, kelewat heran bahwa orang
kelahiran-Muggle bisa jadi penyihir hebat.
“Horace,” kata Dumbledore, membebaskan Harry
dari tugas menyebutkan semua itu, “senang hidup
nyaman. Dia juga senang berada bersama para pe-
nyihir terkenal, sukses, dan berkuasa. Dia menikmati
perasaan bahwa dia memengaruhi orang-orang ini.
Dia sendiri tak pernah ingin duduk di tahta; dia
memilih duduk di kursi belakang—lebih banyak ruang
untuk melebarkan sayap, soalnya. Dia dulu selalu
punya murid favorit di Hogwarts, kadang karena
ambisi atau otak mereka, kadang karena pesona atau
bakat mereka, dan dia punya kecakapan luar biasa
untuk memilih mereka yang nantinya akan menonjol
100
dalam berbagai bidang mereka. Horace membentuk
semacam klub bagi para murid favoritnya, dengan
dia sendiri di pusatnya, saling memperkenalkan me-
reka, menjalin kontak berguna di antara para anggota-
nya, dan selalu menuai keuntungan sebagai imbalan-
nya, entah sekotak gratis permen nanas favoritnya
atau kesempatan untuk merekomendasikan anggota
yunior berikutnya ke Kantor Hubungan Goblin.”
Di benak Harry mendadak tergambar jelas seekor
labah-labah besar gemuk, merajut jaring di sekitarnya,
menarik benang di sana-sini untuk menarik lalat ge-
muk dan segar sedikit lebih dekat.
“Semua ini kuceritakan kepadamu,” Dumbledore
melanjutkan, “bukan agar kau tidak menyukai
Horace—atau, seperti sepantasnya kita sekarang me-
manggilnya, Profesor Slughorn—tetapi untuk mem-
buatmu waspada. Tak diragukan lagi dia akan ber-
usaha mengoleksimu, Harry. Kau akan menjadi per-
mata koleksinya: Anak yang Bertahan Hidup… atau,
seperti panggilan mereka untukmu sekarang, Sang
Terpilih.”
Mendengar kata-kata ini, rasa dingin yang tak ada
hubungannya dengan kabut di sekitar mereka, men-
jalari Harry. Dia jadi ingat kata-kata yang didengarnya
beberapa minggu yang lalu, kata-kata yang punya
makna khusus dan mengerikan baginya.
Yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan…
Dumbledore telah berhenti berjalan, di depan gereja
yang tadi mereka lewati.
“Di sini cukup, Harry. Silakan pegang lenganku.”
Kali ini Harry sudah siap ber-Apparate, namun
101
tetap saja merasa tak nyaman. Ketika tekanan meng-
hilang dan dia sudah bisa bernapas lagi, dia berdiri
di sebuah jalan pedesaan di sebelah Dumbledore dan
memandang ke siluet miring bangunan favoritnya
nomor dua di dunia: The Burrow. Kendati perasaan
takut baru saja melandanya, semangatnya mau tak
mau bangkit melihat rumah itu. Ron ada di situ…
dan juga Mrs Weasley, yang bisa memasak lebih lezat
daripada siapa pun yang dikenalnya…
“Kalau kau tak keberatan, Harry,” kata Dumbledore,
ketika mereka melewati pintu pagar, “aku mau bicara
denganmu sebelum kita berpisah. Berdua saja. Mung-
kin di dalam situ?”
Dumbledore menunjuk bangunan batu tak ter-
pelihara yang sebetulnya kakus di luar rumah, tapi
kini digunakan keluarga Weasley untuk menyimpan
sapu mereka. Agak bingung, Harry mengikuti Dumble-
dore melewati pintunya yang berderit, masuk ke da-
lam ruangan yang sedikit lebih kecil dari ukuran
lemari rata-rata. Dumbledore menyalakan ujung tong-
kat sihirnya, sehingga menyala seperti obor, dan me-
nunduk tersenyum kepada Harry.
“Kuharap kau mau memaafkan aku menyebut-
nyebut ini, Harry, tapi aku senang dan sedikit bangga
melihat betapa baiknya kau menanggulangi segala
yang telah terjadi di Kementerian. Izinkan aku me-
ngatakan bahwa kurasa Sirius akan bangga terhadap-
mu.
Harry menelan ludah; suaranya tampaknya telah
meninggalkannya. Dia merasa tak akan tahan mem-
bicarakan Sirius. Tadi hatinya pedih sekali mendengar
102
Paman Vernon berkata, “Walinya mati?”; lebih pedih
lagi mendengar nama Sirius disebut sambil lalu oleh
Slughorn.
“Sungguh kejam,” kata Dumbledore pelan, “bahwa
kau dan Sirius hanya bisa bersama dalam waktu
amat singkat. Akhir brutal bagi apa yang seharusnya
menjadi hubungan yang lama dan bahagia.”
Harry mengangguk, matanya sengaja menatap labah-
labah yang sekarang merayap naik di topi Dumbledore.
Bisa dilihatnya bahwa Dumbledore mengerti, dia bah-
kan mungkin menduga bahwa sampai suratnya tiba
Harry telah melewatkan hampir sepanjang waktunya
di rumah keluarga Dursley dengan berbaring di tempat
tidur, menolak makan, dan memandang hampa jendela
berkabut, dipenuhi kekosongan dingin yang diasosiasi-
kannya dengan Dementor.
“Berat sekali,” kata Harry akhirnya, dengan suara
pelan, “menyadari bahwa dia tak akan menulis kepada
saya lagi.”
Matanya mendadak panas dan dia mengedip. Dia
merasa bodoh mengakuinya, namun fakta bahwa dia
punya seseorang di luar Hogwarts yang peduli apa
yang terjadi atasnya, hampir seperti orangtua, adalah
salah satu hal terbaik dengan ditemukannya walinya…
dan sekarang pos burung hantu tidak akan pernah
membawakannya kenyamanan itu lagi…
“Sirius bagimu mewakili banyak hal yang tak pernah
kaumiliki sebelumnya,” kata Dumbledore lembut. “Wa-
jar kalau kehilangan dia menjadi pukulan sangat berat
bagimu…”
“Tapi ketika saya di rumah keluarga Dursley,” Harry
103
menyela, suaranya semakin kuat, “saya menyadari
saya tak bisa mengurung diri, kalau tidak—saya bisa
hancur. Sirius pasti tak menghendaki itu terjadi, kan?
Lagi pula, hidup ini singkat… lihat saja Madam Bones,
lihat Emmeline Vance… berikutnya bisa saja saya, kan?
Tapi kalau memang saya,” katanya mantap, sekarang
menatap mata biru Dumbledore yang berkilau dalam
cahaya tongkat, “saya akan memastikan membawa
sebanyak mungkin Pelahap Maut, dan Voldemort juga
kalau saya bisa.”
“Diucapkan seperti anak ibu dan ayahmu dan anak
asuh sejati Sirius!” kata Dumbledore, sambil memberi
belaian bangga di punggung Harry. “Aku angkat topi
untukmu—atau akan, kalau aku tidak takut meng-
hujanimu dengan labah-labah.
“Dan sekarang, Harry, topik yang masih sangat
berhubungan… kukira kau membaca Daily Prophet dua
minggu belakangan ini?”
“Ya,” kata Harry, dan jantungnya berdebar lebih
keras.
“Kalau begitu kau tentu telah melihat bahwa tak
ada sedikit pun kebocoran, apalagi banjir, informasi
sehubungan dengan petualanganmu di Ruang Ra-
malan?”
“Ya,” kata Harry lagi. “Dan sekarang semua tahu
bahwa saya—”
“Tidak, mereka tidak tahu,” sela Dumbledore. “Ha-
nya ada dua orang di seluruh dunia ini yang tahu
keseluruhan isi ramalan tentang kau dan Lord Volde-
mort, dan keduanya berdiri dalam kamar-sapu yang
bau dan penuh labah-labah ini. Namun, memang
104
betul banyak yang telah menebak, dengan benar,
bahwa Voldemort mengirim para Pelahap Mautnya
untuk mencuri ramalan, dan bahwa ramalan itu ada
hubungannya denganmu.
“Nah, kurasa aku benar kalau kukatakan kau belum
memberitahu siapa pun yang kaukenal bahwa kau
tahu apa yang dikatakan ramalan itu?”
“Belum,” kata Harry.
“Keputusan yang bijaksana, secara keseluruhan,”
kata Dumbledore. “Meskipun menurutku kau harus-
nya lebih santai terhadap sahabatmu, Mr Ronald
Weasley dan Miss Hermione Granger. Ya,” dia me-
lanjutkan ketika Harry tampak terkejut, “kurasa me-
reka berhak tahu. Kau tidak adil terhadap mereka
jika mereka tidak diberitahu hal yang sepenting ini.”
“Saya tak ingin—”
“—membuat mereka cemas atau takut?” ujar Dumble-
dore, mengawasi Harry dari atas kacamata bulan-
separonya. “Atau mungkin, mengakui bahwa kau sen-
diri cemas dan takut? Kau membutuhkan sahabat-
sahabatmu, Harry. Seperti yang dengan benar kaukata-
kan, Sirius tidak akan menginginkan kau menutup
dirimu.”
Harry diam saja, namun Dumbledore tampaknya
tidak mengharapkan jawaban. Dia melanjutkan, “Seka-
rang topik yang berbeda, walaupun masih ada hu-
bungannya. Aku berharap kau belajar privat denganku
tahun ini.”
“Privat—dengan Anda?” Harry yang sedang asyik
berpikir sampai kaget.
105
“Ya, kurasa sudah waktunya aku turun tangan lebih
banyak dalam pendidikanmu.”
“Apa yang akan Anda ajarkan kepada saya, Sir?”
“Oh, sedikit ini, sedikit itu,” kata Dumbledore ri-
ngan.
Harry menunggu penuh harap, namun Dumbledore
tidak menguraikannya, maka dia menanyakan hal
lain yang agak mengganggunya.
“Jika saya belajar dengan Anda, saya tak perlu
belajar Occlumency dengan Snape, kan?”
“Profesor Snape, Harry—dan tidak, kau tidak akan
belajar Occlumency lagi.”
“Bagus,” kata Harry lega, “karena pelajaran itu—”
Dia berhenti, berhati-hati tidak mengatakan apa
yang sebetulnya dipikirkannya.
“Kurasa kata ‘gagal total’ cocok di sini,” kata
Dumbledore, mengangguk.
Harry tertawa.
“Itu berarti saya tidak akan banyak bertemu Profesor
Snape mulai sekarang,” katanya, “karena dia tidak
mengizinkan saya melanjutkan pelajaran Ramuan, ke-
cuali saya mendapat nilai ‘Outstanding’ dalam OWL,
yang saya rasa tidak.”
“Jangan menghitung anak ayam sebelum telurnya
menetas,” kata Dumbledore serius. “Ngomong-
ngomong soal OWL, nilai kalian akan keluar siang
nanti. Ada dua hal lagi, Harry, sebelum kita berpisah.”
“Yang pertama, aku ingin mulai sekarang kau selalu
membawa Jubah Gaib-mu. Bahkan di dalam Hogwarts.
Untuk berjaga-jaga, kau mengerti?”
Harry mengangguk.
106
“Dan terakhir, selama kau tinggal di sini, The
Burrow dilengkapi pengamanan paling tinggi yang
bisa diberikan Kementerian. Tindakan ini menyebab-
kan beberapa ketidaknyamanan bagi Arthur dan
Molly—semua pos mereka, misalnya, diperiksa di Ke-
menterian, sebelum diteruskan. Mereka sama sekali
tidak keberatan, karena yang terpenting bagi mereka
adalah keselamatanmu. Maka, sungguh kelewatan jika
kau membalasnya dengan mempertaruhkan lehermu
selama kau tinggal bersama mereka.”
“Saya mengerti,” kata Harry buru-buru.
“Baiklah kalau begitu,” kata Dumbledore, mendo-
rong terbuka pintu kamar-sapu dan melangkah ke
halaman. “Aku melihat lampu di dapur. Jangan biarkan
Molly kehilangan kesempatan lebih lama lagi untuk
menyesali betapa kurusnya kau.”
107
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
ARRY dan Dumbledore mendekati pintu bela-
kang The Burrow, yang dikelilingi rongsokan
yang biasa, sepatu-sepatu bot Wellington dan kuali-
kuali berkarat. Harry bisa mendengar dekut lembut
ayam-ayam yang tidur dalam kandang yang agak
jauh. Dumbledore mengetuk tiga kali dan Harry me-
lihat gerakan mendadak di belakang jendela dapur.
“Siapa itu?” kata suara cemas yang dikenalinya
sebagai suara Mrs Weasley. “Nyatakan dirimu.”
“Ini aku, Dumbledore, mengantar Harry.”
Pintu langsung terbuka. Tampak Mrs Weasley, pendek,
gemuk, dan memakai gaun rumah tua berwarna hijau.
“Harry, Sayang! Astaga, Albus, kau membuatku ke-
takutan, kau bilang baru akan datang pagi!”
108
“Kami beruntung,” kata Dumbledore, mengantar
Harry masuk. “Slughorn ternyata jauh lebih mudah
dibujuk daripada yang kukira. Hasil kerja, Harry, tentu
saja. Ah, halo, Nymphadora!”
Harry menoleh dan melihat bahwa Mrs Weasley
tidak sendirian, kendati saat itu sudah lewat larut
malam. Seorang penyihir perempuan muda dengan
wajah pucat berbentuk hati dan rambut cokelat-kelabu
sedang duduk di depan meja makan, memegang cang-
kir besar di antara dua tangannya.
“Halo, Profesor,” katanya. “Hai, Harry.”
“Hai, Tonks.”
Harry berpikir Tonks tampak pucat, seperti sedang
sakit, dan senyumnya seperti dipaksakan. Penampilan-
nya memang tidak semeriah biasanya tanpa rambut
palsunya yang berwarna merah muda cerah.
“Aku sebaiknya pergi,” kata Tonks buru-buru, seraya
berdiri dan menarik mantel ke sekeliling bahunya.
“Terima kasih atas teh dan simpatinya, Molly.”
“Jangan pulang gara-gara aku,” kata Dumbledore
sopan. “Aku tak bisa tinggal, ada beberapa masalah
penting yang harus kubicarakan dengan Rufus Scrim-
geour.”
“Tidak, tidak, aku harus pergi,” kata Tonks, tanpa
menatap mata Dumbledore. “Malam—”
“Sayang, kenapa tidak datang makan malam akhir
pekan ini? Remus dan Mad-Eye datang—”
“Tidak bisa, Molly… tapi terima kasih… selamat ma-
lam, semua.”
Tonks bergegas melewati Dumbledore dan Harry
menuju halaman; selewat beberapa langkah dari pintu,
109
dia berputar di tempat dan lenyap. Harry memperhati-
kan bahwa Mrs Weasley tampak prihatin.
“Nah, kita ketemu lagi di Hogwarts, Harry,” kata
Dumbledore. “Jaga dirimu baik-baik. Molly, aku pamit.”
Dia membungkuk kepada Mrs Weasley dan menyu-
sul Tonks, menghilang di tempat yang persis sama.
Mrs Weasley menutup pintu setelah halaman kosong,
kemudian memegang bahu Harry dan membawanya
ke tempat yang disinari lampu di meja untuk me-
meriksanya.
“Kau seperti Ron,” dia menghela napas, mengamati
Harry dari atas ke bawah. “Kalian berdua seperti
kena Mantra Ulur. Aku yakin Ron sudah bertambah
tinggi sepuluh senti sejak aku membelikannya jubah
seragam sekolah. Kau lapar, Harry?”
“Yeah,” kata Harry, mendadak sadar betapa laparnya
dia.
“Duduklah, Nak, akan kusiapkan sesuatu.”
Setelah Harry duduk, seekor kucing berbulu lebat
warna jingga dengan wajah penyok melompat naik
ke pangkuannya dan diam di sana, mendengkur.
“Jadi, Hermione di sini?” tanyanya riang seraya
menggelitik Crookshanks di belakang telinganya.
“Oh ya, dia tiba kemarin dulu,” kata Mrs Weasley,
mengetuk sebuah panci besi besar dengan tongkat
sihirnya. Panci itu melompat ke atas kompor dengan
dentang keras dan langsung menggelegak. “Semua di
tempat tidur, tentu, kami mengira kau baru akan
datang berjam-jam lagi. Ini, silakan—”
Diketuknya lagi panci di atas kompor. Panci itu
terangkat ke udara, melayang menuju Harry dan
110
memiringkan diri. Mrs Weasley dengan gesit menyo-
rongkan mangkuk di bawahnya, tepat pada saat si
panci menuangkan sup bawang yang kental dan ber-
asap.
“Roti, Nak?”
“Terima kasih, Mrs Weasley.”
Mrs Weasley melambaikan tongkat sihirnya di atas
bahunya; sebantal roti dan sebilah pisau melayang
anggun ke atas meja. Sementara roti itu memotong
sendiri dan panci sup bertengger kembali di atas
kompor, Mrs Weasley duduk di seberang Harry.
“Jadi, kau membujuk Horace Slughorn untuk me-
nerima pekerjaan itu?”
Harry mengangguk, mulutnya penuh sup panas
sehingga dia tak bisa bicara.
“Dia mengajar Arthur dan aku,” kata Mrs Weasley.
“Dia mengajar di Hogwarts selama bertahun-tahun,
mulainya sekitar waktu yang sama dengan Dumble-
dore, kukira. Kau suka padanya?”
Mulutnya sekarang penuh roti, Harry mengangkat
bahu dan mengedikkan kepala, tak menyatakan pen-
dapat.
“Aku tahu apa maksudmu,” kata Mrs Weasley,
mengangguk bijaksana. “Tentu dia bisa menyenangkan
kalau dia mau, tapi Arthur tak begitu suka padanya.
Kementerian dipenuhi mantan murid-murid favorit
Slughorn, dia memang pintar memberi dukungan,
tapi tak pernah punya banyak waktu dengan Arthur—
tak pernah berpikir Arthur cukup untuk kedudukan
tinggi. Yah, itu cuma menunjukkan bahkan Slughorn
bisa keliru. Aku tak tahu apakah Ron sudah memberi-
111
tahumu di salah satu suratnya—baru saja terjadi sih—
tapi Arthur baru saja naik pangkat!”
Kentara sekali Mrs Weasley sudah tak sabar ingin
menyampaikan ini. Harry menelan sesuap besar sup
sangat panas dan bisa merasakan tenggorokannya
langsung lecet.
“Bagus sekali!” engahnya.
“Kau baik sekali,” kata Mrs Weasley berseri-seri,
barangkali mengira mata Harry berair saking terharu-
nya mendengar kabar itu. “Ya, Rufus Scrimgeour telah
mendirikan beberapa kantor baru untuk menanggapi
situasi sekarang ini, dan Arthur mengepalai Kantor
Pendeteksian dan Penyitaan Mantra Pertahanan dan
Benda Perlindungan Palsu. Ini pekerjaan besar, dia
punya sepuluh anak buah yang melapor padanya
sekarang!”
“Apa persisnya—?”
“Begini, dalam segala kepanikan menghadapi Kau-
Tahu-Siapa, barang-barang aneh bermunculan dan di-
jual di mana-mana, barang-barang yang katanya bisa
melindungimu dari Kau-Tahu-Siapa dan para Pelahap
Maut. Kau bisa membayangkan barang-barang seperti
apa—seperti yang disebut ramuan-pelindung yang se-
betulnya hanyalah kuah daging dengan sedikit nanah
Bubotubber, atau petunjuk-petunjuk mantra perta-
hanan yang sebetulnya malah membuat telingamu
lepas… yah, para pelakunya terutama adalah orang-
orang seperti Mundungus Fletcher, yang seumur hidup
tak pernah bekerja halal dan mengambil keuntungan
mumpung semua orang sangat ketakutan, tapi dari
waktu ke waktu ada barang yang benar-benar me-
112
ngerikan. Kemarin dulu Arthur menyita satu kotak
Teropong-Curiga yang sudah dikutuk yang dipasang
oleh Pelahap Maut. Jadi, kaulihat, ini pekerjaan yang
sangat penting, dan kukatakan padanya, bodoh kalau
dia merasa kehilangan tak lagi menangani busi dan
pemanggang roti dan barang-barang sampah Muggle
lainnya,” Mrs Weasley mengakhiri pidatonya dengan
pandangan galak, seakan Harry-lah yang mengatakan
wajar jika merasa kehilangan busi.
“Apakah Mr Weasley masih bekerja?” Harry ber-
tanya.
“Ya, masih. Sesungguhnya, dia agak terlambat… dia
tadi bilang akan pulang sekitar tengah malam…”
Mrs Weasley menoleh memandang jam besar yang
bertengger canggung di atas setumpuk seprai dalam
keranjang cucian di ujung meja. Harry langsung me-
ngenalinya. Jam itu memiliki sembilan jarum, masing-
masing bertulisan nama seorang anggota keluarga,
dan biasanya tergantung di dinding ruang duduk
keluarga Weasley meskipun keberadaannya saat ini
menunjukkan bahwa Mrs Weasley sekarang mem-
bawanya ke mana-mana dalam rumah. Kesembilan
jarumnya sekarang menunjuk ke bahaya maut.
“Sudah beberapa waktu begitu,” kata Mrs Weasley,
dengan suara biasa yang tak meyakinkan, “sejak Kau-
Tahu-Siapa terang-terangan menyatakan diri kembali.
Kurasa semua orang dalam bahaya maut sekarang…
kurasa tak hanya keluarga kami… tapi aku tak kenal
orang lain yang puny a jam seperti ini, jadi aku tak
bisa mengeceknya. Oh!”
113
Mendadak dia menunjuk ke jam itu. Jarum Mr
Weasley telah bergeser ke bepergian.
“Dia datang!”
Dan betul saja, sekejap kemudian pintu belakang
diketuk. Mrs Weasley melompat dan bergegas ke pintu
itu. Dengan satu tangan pada pegangan pintu dan
wajah melekat pada daunnya dia bertanya pelan,
“Arthur, kaukah itu?”
“Ya,” terdengar suara letih Mr Weasley. “Tapi aku
juga akan bilang begitu seandainya aku Pelahap Maut,
Sayang. Ajukan pertanyaannya!”
“Oh, apa perlu…”
“Molly!”
“Baiklah, baiklah… apakah ambisimu yang paling
besar?”
“Mengetahui bagaimana caranya pesawat terbang
bisa tetap di angkasa.”
Mrs Weasley mengangguk dan memutar pegangan
pintu, namun rupanya Mr Weasley memeganginya
erat-erat di sisi lainnya, karena pintu tetap tertutup
rapat.
“Molly! Aku harus mengajukan pertanyaanmu
dulu!”
“Astaga, Arthur, ini konyol…”
“Kau ingin aku memanggilmu apa kalau kita hanya
berdua saja?”
Bahkan dalam sinar temaram lentera Harry bisa
melihat wajah Mrs Weasley menjadi merah padam;
dia sendiri mendadak merasa hangat di sekitar telinga
dan lehernya, dan buru-buru menelan sup, menden-
tangkan sendoknya sekeras mungkin ke mangkuk.
114
“Mollywobbles,” bisik Mrs Weasley yang sangat je-
ngah ke celah di pinggir pintu.
“Betul,” kata Mr Weasley. “Sekarang kau boleh
mengizinkan aku masuk.”
Mrs Weasley membuka pintu, dan tampaklah suami-
nya, seorang laki-laki kurus, berambut merah yang
sudah mulai botak, memakai kacamata berbingkai tan-
duk dan mantel perjalanan panjang berdebu.
“Aku tak mengerti kenapa kita harus melakukan
itu setiap kali kau pulang,” kata Mrs Weasley, wajah-
nya masih kemerahan, ketika dia membantu suaminya
melepas mantelnya. “Maksudku, Pelahap Maut bisa
saja memaksamu memberikan jawaban itu sebelum
dia menyamar menjadi kau!”
“Aku tahu, Sayang, tapi ini prosedur Kementerian
dan aku harus memberi contoh. Baunya sedap—sup
bawang?”
Mr Weasley menoleh penuh harap ke arah meja.
“Harry! Kami kira kau baru akan datang pagi hari!”
Mereka berjabat tangan dan Mr Weasley menjatuh-
kan diri ke kursi di sebelah Harry, sementara Mrs
Weasley menghidangkan semangkuk sup di hadapan-
nya juga.
“Terima kasih, Molly. Malam ini malam yang berat.
Ada idiot yang mulai menjual Medali-Metamorfosis.
Kalungkan ke lehermu dan kau bisa mengubah pe-
nampilan semaumu. Seratus ribu penyamaran, hanya
sepuluh Galleon!”
“Dan apa yang ternyata terjadi kalau kau memakai-
nya?”
“Paling banter kulitmu berubah jadi jingga jelek,
115
tapi beberapa orang ditumbuhi kutil mirip-tentakel di
seluruh tubuh mereka. Kayak St Mungo masih kurang
kerjaan saja!”
“Kedengarannya seperti hal yang dianggap lucu
oleh Fred dan George,” kata Mrs Weasley ragu-ragu.
“Kau yakin—?”
“Tentu saja!” kata Mr Weasley. “Anak-anak tidak
akan melakukan hal seperti itu sekarang, tidak ketika
orang-orang putus asa mencari perlindungan!”
“Jadi, itukah sebabnya kau terlambat, Medali-Meta-
morfosis?”
“Bukan, kami mendapat kisikan ada Jimat-Salah-
Kaprah di Elephant and Castle, untungnya Pasukan
Pelaksanaan Hukum Sihir sudah berhasil memberes-
kannya ketika kami tiba di sana…”
Harry menyembunyikan kuap di balik tangannya.
“Tidur,” Mrs Weasley yang tak bisa dikelabui lang-
sung menyuruh. “Sudah kusiapkan kamar Fred dan
George untukmu, kau akan menempatinya sendirian.”
“Kenapa, di mana mereka?”
“Oh, mereka di Diagon Alley, tidur di flat kecil di
atas toko lelucon mereka karena mereka sibuk sekali,”
kata Mrs Weasley. “Harus kuakui awalnya aku tidak
merestui, tapi mereka tampaknya memang punya se-
dikit bakat bisnis! Ayo, Nak, kopermu sudah di atas
sana.”
“‘Mat tidur, Mr Weasley,” kata Harry, mendorong
ke belakang kursinya. Crookshanks melompat gesit
dari atas pangkuannya dan menyelinap meninggalkan
ruangan.
“Selamat tidur, Harry,” kata Mr Weasley.
116
Harry melihat Mrs Weasley mengerling jam di ke-
ranjang cucian ketika mereka meninggalkan dapur.
Semua jarumnya, sekali lagi, menunjuk ke bahaya maut.
Kamar Fred dan George ada di lantai dua. Mrs
Weasley mengacungkan tongkat sihirnya ke lampu di
meja kecil di sebelah tempat tidur dan lampu itu
langsung menyala, menyiram kamar itu dengan sinar
keemasan yang nyaman. Kendatipun satu vas besar
bunga diletakkan di atas meja di depan jendela kecil,
harum bunga-bunga itu tidak bisa menyamarkan sisa
bau yang diduga Harry bau serbuk mesiu. Sebagian
besar lantai ditempati kotak-kotak karton tanpa nama,
tersegel, di antara kotak-kotak itu terletak koper Harry.
Kamar itu tampaknya dipakai sebagai gudang semen-
tara.
Hedwig beruhu-uhu riang dari tempat hinggapnya
di atas lemari pakaian besar, kemudian melayang ke-
luar dari jendela. Harry tahu dia menunggu untuk
meliharnya sebelum pergi berburu. Harry mengucap-
kan selamat tidur kepada Mrs Weasley, memakai
piamanya dan naik ke salah satu tempat tidur. Ada
sesuatu yang keras di dalam sarung bantal. Tangannya
meraba mencari-cari dan menarik keluar permen leng-
ket berwarna ungu dan jingga, yang dikenalinya se-
bagai Pastiles Pemuntah. Tersenyum sendiri, dia ber-
guling dan langsung tertidur.
Beberapa detik kemudian, atau begitu rasanya bagi
Harry, dia terbangun oleh sesuatu yang kedengaran-
nya seperti tembakan meriam ketika pintu menjeblak
terbuka. Kaget sampai terduduk tegak, dia mendengar
geseran gorden yang dibuka; cahaya matahari yang
117
menyilaukan seakan menusuk keras kedua matanya.
Melindungi kedua mata dengan satu tangan, dia me-
raba-raba tak berdaya mencari kacamatanya dengan
tangan lainnya.
“Adapasih?”
“Kami tak tahu kau sudah di sini!” kata suara keras
dan gembira, dan dia menerima pukulan keras di
puncak kepalanya.
“Ron, jangan pukul dia dong!” kata suara anak
perempuan mencela.
Tangan Harry menemukan kacamatanya dan dia
memakainya, meskipun cahaya terlalu terang dia nya-
ris tak bisa melihat. Bayangan panjang tampak ber-
getar di depannya beberapa saat; dia mengerjapkan
mata dan Ron Weasley muncul di fokus, menunduk
tersenyum kepadanya.
“Oke?”
“Belum pernah sebaik ini,” kata Harry, mengusap-
usap puncak kepalanya dan merosot kembali di atas
bantalnya. “Kau?”
“Tidak buruk,” kata Ron, menarik sebuah kotak
dan duduk di atasnya. “Kapan kau sampai? Mum
baru saja memberitahu kami.”
“Sekitar pukul satu pagi ini.”
“Apakah para Muggle baik-baik saja? Apakah me-
reka memperlakukan kau dengan oke?”
“Sama seperti biasanya,” kata Harry, sementara
Hermione duduk di tepi tempat tidurnya. “Mereka
tidak begitu banyak bicara denganku, tapi aku lebih
suka begitu. Bagaimana kabarmu, Hermione?”
“Oh, aku baik-baik saja,” kata Hermione, yang se-
118
dang mengamati Harry seakan Harry menderita pe-
nyakit tertentu.
Harry menduga dia tahu apa penyebabnya, dan
karena dia tak ingin membicarakan kematian Sirius
atau topik menyedihkan lain saat ini, dia berkata,
“Jam berapa sekarang? Apa aku ketinggalan sara-
pan?”
“Jangan khawatir soal itu, Mum akan mengantarkan
sarapan untukmu. Dia berpendapat kau kurang ma-
kan,” kata Ron, memutar matanya. “Jadi, ada kejadian
apa saja nih?”
“Tidak banyak, aku kan terkurung di rumah bibi
dan pamanku.”
“Ayolah, ngaku saja!” kata Ron. “Kau kan baru
keluar dengan Dumbledore!”
“Tidak begitu seru. Dia cuma menginginkan aku
membantunya membujuk guru tua untuk meninggal-
kan masa pensiunnya. Namanya Horace Slughorn.”
“Oh,” kata Ron, tampak kecewa. “Kami kira—”
Hermione melempar pandang memperingatkan ke
arah Ron dan Ron secepat kilat mengubah haluan.
“—kami kira sesuatu seperti itu.”
“Kalian kira begitu?” ujar Harry, geli.
“Yeah… yeah, setelah Umbridge pergi, jelas kita
perlu guru baru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam,
kan? Jadi, er, orangnya seperti apa?”
“Tampangnya agak mirip beruang laut dan dia dulu-
nya Kepala Asrama Slytherin,” kata Harry. “Ada yang
tidak beres, Hermione?”
Hermione mengamatinya seakan mengharap gejala-
gejala aneh akan muncul setiap saat. Dia buru-buru
119
mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyum kurang
meyakinkan.
“Tidak, tentu saja tidak! Jadi, apakah kelihatannya
Slughorn akan jadi guru yang baik?”
“Entahlah,” kata Harry. “Dia tak bisa lebih parah
daripada Umbridge, kan?”
“Aku tahu orang yang lebih parah daripada
Umbridge,” terdengar suara dari pintu. Adik bungsu
Ron berjalan masuk dengan lesu, tampak kesal. “Hai,
Harry.”
“Kenapa kau?” tanya Ron.
“Dia tuh,” kata Ginny, mengenyakkan diri di tempat
tidur Harry. “Dia membuatku sebal.”
“Kenapa lagi dia?” tanya Hermione penuh simpati.
“Caranya ngomong denganku itu lho—kalian akan
mengira umurku tiga tahun!”
“Aku tahu,” kata Hermione, merendahkan suaranya.
“Dia menganggap dirinya penting sih.”
Harry tercengang mendengar Hermione bicara ten-
tang Mrs Weasley seperti ini dan tak bisa menyalahkan
Ron yang berkata berang, “Tidak bisakah kalian berdua
tidak menjelek-jelekkannya lima detik saja?”
“Oh, bagus, bela dia,” bentak Ginny. “Kami semua
tahu kau tak puas-puasnya memandangnya.”
Sungguh komentar aneh kalau itu untuk ibu Ron.
Merasa ada yang tak diketahuinya, Harry berkata,
“Siapa yang kalian—?”
Namun pertanyaannya sudah terjawab sebelum dia
menyelesaikannya. Pintu kamar terbuka lagi dan Harry
secara refleks menarik bedcover sampai ke dagunya,
120
keras sekali sampai Hermione dan Ginny merosot
dari tempat tidur ke lantai.
Seorang gadis berdiri di pintu. Gadis yang kecan-
tikannya luar biasa sehingga kamar rasanya jadi ke-
hilangan udara. Dia jangkung dan langsing dengan
rambut pirang panjang dan tampaknya memancarkan
sinar lembut keperakan. Menyempurnakan penampilan
ini, dia membawa nampan penuh sarapan.
‘”Any,” katanya dengan suara serak-serak basah.
“Sudah kelewat lama!”
Ketika dia melangkahi ambang pintu menuju Harry,
tampaklah Mrs Weasley berjalan di belakangnya, ke-
lihatan agak jengkel.
“Tak perlu membawa naik nampan itu, aku baru
saja akan membawanya.”
“Tidak apa-apa,” kata Fleur Delacour, meletakkan
nampan itu di atas pangkuan Harry dan kemudian
menunduk mengecupnya di pipi kanan dan kiri.
Harry merasa tempat yang telah disentuh bibirnya
terbakar. “Saya ingin bertemu dengannya. Kau ingat
adikku, Gabrielle? Dia tak pernah berhenti bicara ten-
tang ‘Arry Potter. Dia akan senang sekali bertemu
kau lagi.”
“Oh… dia di sini juga?” suara Harry parau.
“Tidak, tidak, anak bodoh,” kata Fleur dengan tawa
merdu. “Maksudku musim panas tahun depan, kalau
kami—tapi tidakkah kau tahu?”
Mata birunya yang besar melebar dan dengan pan-
dangan mencela dia menatap Mrs Weasley, yang ber-
kata, “Kami belum sempat memberitahunya.”
Fleur kembali memandang Harry, mengayunkan
121
rambutnya yang keperakan sehingga mengenai wajah
Mrs Weasley.
“Bill dan aku akan menikah!”
“Oh,” kata Harry bego. Dia mau tak mau melihat
bagaimana Mrs Weasley, Hermione, dan Ginny dengan
sengaja saling mengalihkan pandang. “Wow. Er—sela-
mat ya!”
Fleur membungkuk dan mengecupnya lagi.
“Bill sibuk sekali saat ini, bekerja keras, dan aku
cuma kerja paro-waktu di Gringotts untuk melatih
bahasa Inggris-ku, jadi dia membawaku ke sini selama
beberapa ‘ari agar bisa berkenalan dengan keluarganya.
Aku senang sekali waktu mendengar kau akan da-
tang—tak banyak yang bisa dikerjakan di sini, kecuali
kalau kau senang masak dan senang ayam! Nah—
selamat sarapan, ‘Arry!”
Dengan kata-kata tersebut dia berbalik dengan ang-
gun dan kelihatannya seperti melayang keluar kamar,
menutup pintunya pelan di belakangnya.
Mrs Weasley mengeluarkan suara yang kedengaran-
nya seperti “tchah!”
“Mum membencinya,” kata Ginny pelan.
“Aku tidak membencinya,” kata Mrs Weasley dalam
bisikan galak. “Aku hanya menganggap mereka ter-
buru-buru bertunangan, cuma itu.”
“Mereka sudah saling kenal selama setahun,” kata
Ron, yang anehnya tampak grogi dan menatap hampa
pintu yang tertutup.
“Yah, itu tidak lama! Aku tahu kenapa itu terjadi,
tentu saja. Ini semua gara-gara ketidakpastian dengan
munculnya kembali Kau-Tahu-Siapa, orang-orang me-
122
ngira mereka bisa mati besok, jadi mereka terburu-
buru membuat segala macam keputusan yang normal-
nya perlu waktu untuk dipertimbangkan dulu. Ini
sama saja dengan waktu terakhir kali dia berkuasa,
orang-orang kawin lari di mana-mana—”
“Termasuk Mum dan Dad,” kata Ginny licik.
“Ya, tapi ayahmu dan aku memang ditakdirkan
berjodoh, apa gunanya menunggu?” kata Mrs Weasley.
“Sedangkan Bill dan Fleur… yah… apa sih persamaan
mereka? Bill pekerja keras dan orang yang sederhana,
sedangkan dia—”
“Parah,” kata Ginny, mengangguk. “Tapi Bill tidak
begitu sederhana sih. Dia pemunah-kutukan, kan, dia
menyukai sedikit petualangan, sedikit glamor… kurasa
itulah sebabnya dia jatuh hati pada si Dahak.”
“Jangan panggil dia begitu lagi, Ginny,” kata Mrs
Weasly tajam, sementara Harry dan Hermione tertawa.
“Yah, aku sebaiknya turun… makan telurmu selagi
masih hangat, Harry.”
Tampak lelah, Mrs Weasley meninggalkan kamar
itu. Ron masih tampak seperti orang yang sedikit
mabuk; dia mencoba menggelengkan kepala, seperti
anjing yang berusaha mengeluarkan air dari telinga-
nya.
“Apakah kau tidak menjadi terbiasa dengannya ka-
lau dia tinggal serumah denganmu?” Harry bertanya.
“Yah, memang sih,” kata Ron, “tapi kalau dia men-
dadak muncul, seperti baru saja…”
“Menyedihkan,” kata Hermione geram, melangkah
sejauh mungkin dari Ron dan berbalik menghadapinya
dengan tangan bersedekap setelah dia tiba di dinding.
123
“Kau tidak menghendaki dia di sini selamanya,
kan?” Ginny menanyai Ron tak percaya. Ketika Ron
hanya mengangkat bahu, Ginny berkata, “Mum akan
menghentikannya kalau bisa, aku berani taruhan.”
“Bagaimana caranya?” tanya Harry.
“Dia tak hentinya berusaha mengundang Tonks ma-
kan malam. Kurasa dia berharap Bill akan tertarik
pada Tonks alih-alih si Dahak. Kuharap begitu. Aku
lebih suka punya kakak ipar Tonks.”
“Yeah, pasti berhasil,” sindir Ron. “Dengar, tak ada
cowok waras yang akan naksir Tonks kalau ada Fleur.
Maksudku, penampilan Tonks oke kalau dia tidak
melakukan hal-hal konyol pada rambut dan hidung-
nya, tapi—”
“Dia jauh lebih menyenangkan daripada Dahak,”
kata Ginny.
“Dan dia lebih pintar, dia Auror!” kata Hermione
dari sudut.
“Fleur tidak bodoh, dia cukup hebat untuk ikut
Turnamen Triwizard,” kata Harry.
“Masa kau juga sih!” kata Hermione getir.
“Kurasa kau suka cara si Dahak memanggilmu ‘Arry,
kan?” tanya Ginny mencemooh.
“Tidak,” kata Harry, menyesal sudah bicara. “Aku
cuma bilang Dahak—maksudku, Fleur—”
“Aku jauh lebih suka punya kakak ipar Tonks,”
kata Ginny. “Paling tidak dia suka tertawa.”
“Belakangan ini dia tidak banyak tertawa,” kata
Ron. “Setiap kali aku melihatnya, dia makin seperti
Myrtle Merana.”
“Itu tidak adil,” bentak Hermione. “Dia belum bisa
124
mengatasi apa yang terjadi… kau tahu… maksudku,
dia kan sepupunya!”
Hati Harry mencelos. Mereka akhirnya tiba pada
topik Sirius. Dia mengambil garpu dan mulai me-
masukkan telur aduk ke dalam mulutnya, berharap
mengelakkan ajakan bergabung dalam pembicaraan
ini.
“Tonks dan Sirius nyaris tak saling kenal!” kata
Ron. “Sirius berada di Azkaban dalam separo hidup
Tonks dan sebelum itu keluarga mereka tak pernah
bertemu—”
“Bukan itu masalahnya,” kata Hermione. “Tonks
mengira salahnyalah Sirius meninggal!”
“Bagaimana dia bisa beranggapan begitu?” tanya
Harry, walaupun tadinya bertekad tak ikut bicara.
“Yah, Tonks waktu itu sedang melawan Bellatrix
Lestrange, kan? Menurutku dia merasa kalau saja dia
bisa menghabisinya, Bellatrix tidak akan bisa membu-
nuh Sirius.”
“Itu bodoh,” kata Ron.
“Itu rasa bersalah orang yang selamat,” kata Her-
mione. “Aku tahu Lupin sudah berusaha bicara de-
ngannya, tapi dia masih terpukul sekali. Dia malah
mendapat kesulitan dengan Metamorfosisnya!”
“Dengan—?”
“Dia tak bisa mengubah penampilannya seperti
dulu,” Hermione menjelaskan. “Kukira kekuatannya
terpengaruh oleh shock, atau sesuatu.”
“Aku tak tahu itu bisa terjadi,” kata Harry.
“Tadinya aku juga tak tahu,” kata Hermione, “na-
mun kurasa kalau kau benar-benar depresi…”
125
Pintu terbuka lagi dan Mrs Weasley menjulurkan
kepala ke dalam kamar.
“Ginny,” bisiknya, “turunlah dan bantu aku me-
nyiapkan makan siang.”
“Aku sedang ngobrol dengan mereka!” kata Ginny,
berang.
“Sekarang!” kata Mrs Weasley, lalu pergi.
“Dia cuma mau aku di sana supaya dia tidak berdua
saja dengan Dahak!” kata Ginny marah. Dia menga-
yunkan rambut merahnya yang panjang, menirukan
Fleur dengan sangat baik, dan berjalan berkeliling
kamar dengan tangan terangkat seperti balerina.
“Kalian lebih baik segera ikut turun juga,” katanya
sambil pergi.
Harry menggunakan kesempatan hening sejenak
ini untuk memakan lagi sarapannya. Hermione sedang
mengintip ke dalam kotak-kotak Fred dan George,
meskipun dari waktu ke waktu dia mengerling Harry.
Ron, yang sekarang memakan roti panggang Harry,
masih melamun memandang pintu.
“Apa ini?” Hermione akhirnya bertanya, mengangkat
sesuatu yang tampak seperti teleskop kecil.
“Entahlah,” kata Ron, “tapi kalau Fred dan George
meninggalkannya di sini, kemungkinan barang itu
belum siap untuk toko lelucon, jadi hati-hati.”
“Kata ibumu toko mereka laris,” kata Harry. “Kata-
nya Fred dan George punya bakat bisnis.”
“Itu sih mengecilkan,” kata Ron. “Mereka panen
Galleon! Aku sudah tak sabar ingin melihat toko
mereka. Kami belum ke Diagon Alley, karena Mum
bilang Dad harus ikut untuk pengamanan ekstra dan
126
Dad belakangan ini sibuk sekali di tempat kerjanya,
tapi tokonya kedengarannya luar biasa.”
“Dan bagaimana dengan Percy?” tanya Harry. Anak
ketiga keluarga Weasley telah berselisih dengan ke-
luarganya. “Dia sudah bicara lagi dengan ayah dan
ibumu?”
“Belum,” kata Ron.
“Tapi sekarang dia tahu ayahmu selama ini benar
soal Voldemort muncul kembali—”
“Dumbledore bilang orang lebih mudah memaafkan
orang lain yang salah daripada yang benar,” kata
Hermione. “Aku mendengarnya bilang begitu kepada
ibumu, Ron.”
“Tidak mengherankan kalau dia ngomong hal aneh
seperti itu,” kata Ron.
“Dia akan memberiku pelajaran privat tahun ini,”
kata Harry sambil lalu.
Ron tersedak potongan rotinya dan Hermione ter-
kesiap.
“Kenapa baru bilang?” kata Ron.
“Aku baru ingat,” kata Harry jujur. “Dia memberi-
tahuku semalam di kamar-sapu kalian.”
“Harry… pelajaran privat dengan Dumbledore!” kata
Ron, tampak terkesan. “Kenapa kira-kira ya…?”
Suaranya mengecil lalu menghilang. Harry melihat-
nya dan Hermione saling pandang. Harry meletakkan
pisau dan garpunya, jantungnya berdebar agak keras,
mengingat yang sedang dilakukannya hanyalah duduk
di tempat tidur. Dumbledore menyuruhnya melaku-
kannya… kenapa tidak sekarang saja? Dengan mata
terpaku pada garpunya, yang berkilau dalam cahaya
127
matahari yang menyinari pangkuannya, dia berkata,
“Aku tak tahu persis kenapa dia akan memberiku
pelajaran, tapi kurasa pasti karena ramalan.”
Baik Ron maupun Hermione tak ada yang bicara.
Harry mendapat kesan keduanya membeku. Dia me-
lanjutkan, masih bicara kepada garpunya, “Kalian tahu,
ramalan yang mereka coba curi di Kementerian.”
“Tapi kan tak ada yang tahu apa bunyinya,” kata
Hermione cepat-cepat. “Ramalannya pecah.”
“Meskipun Prophet bilang—” Ron mulai, namun
Hermione menghentikannya, “Shh!”
“Prophet benar,” kata Harry, mendongak menatap
mereka berdua dengan susah payah. Hermione tam-
pak takut dan Ron tercengang. “Bola kaca yang pecah
itu bukan rekaman satu-satunya ramalan itu. Aku
mendengar seluruhnya di kantor Dumbledore. Ra-
malan itu dibuat untuknya, jadi dia bisa memberi-
tahuku. Dari yang dikatakannya,” Harry menarik na-
pas dalam-dalam, “kelihatannya aku orang yang harus
menghabisi Voldemort… paling tidak, ramalan itu ber-
kata salah satu dari kami tak bisa hidup sementara
yang lain bertahan.”
Mereka bertiga saling pandang dalam diam selama
beberapa saat. Kemudian terdengar ledakan keras dan
Hermione lenyap di balik gumpalan asap hitam.
“Hermione!” teriak Harry dan Ron; nampan sarapan
meluncur ke lantai dengan bunyi berkelontangan.
Hermione muncul lagi, terbatuk-batuk, dari dalam
asap, memegang teleskop dan sebelah matanya ungu
kehitaman.
128
“Aku meremasnya dan dia—dia meninjuku!” sengal-
nya.
Dan betul saja, mereka sekarang melihat sebuah
tinju kecil di ujung per panjang yang mencuat dari
ujung teleskop.
“Jangan kuatir,” kata Ron, yang jelas berusaha tidak
tertawa. “Mum akan membereskannya. Dia jago meng-
obati luka-luka ringan—”
“Oh, sudahlah, itu tak penting sekarang!” kata
Hermione buru-buru. “Harry, oh, Harry…”
Dia duduk di tepi tempat tidur Harry lagi.
“Kami bertanya-tanya setelah pulang dari Kemen-
terian… tentu kami tak ingin berkata apa-apa kepada-
mu, tapi dari apa yang dikatakan Lucius Malfoy ten-
tang ramalan itu, bahwa itu menyangkut kau dan
Voldemort, yah, kami menduga bunyinya mungkin
sesuatu seperti ini… oh, Harry…” Hermione menga-
wasinya tajam, kemudian berbisik, “Apakah kau ta-
kut?”
“Tak setakut waktu itu,” kata Harry. “Waktu pertama
kali mendengarnya, aku takut… tapi sekarang, rasanya
dari dulu aku tahu aku harus menghadapinya pada
akhirnya…”
“Waktu kami mendengar Dumbledore sendiri yang
menjemputmu, kami menduga dia akan memberitahu-
mu sesuatu, atau menunjukkan sesuatu, yang ada
hubungannya dengan ramalan,” kata Ron bersema-
ngat. “Dan boleh dibilang kami benar, kan? Dia tak
akan memberimu pelajaran kalau dia menganggap
kau pecundang, tak akan membuang-buang waktu—
dia pasti berpendapat kau punya peluang!”
129
“Betul,” kata Hermione. “Apa ya kira-kira, yang
akan diajarkannya kepadamu, Harry? Sihir pertahanan
tingkat tinggi, barangkali… kontra-kutukan yang sangat
manjur… anti-jampi…”
Harry tidak benar-benar mendengarkan. Kehangatan
menjalari tubuhnya, yang tak ada hubungannya de-
ngan sinar matahari. Cengkeraman kuat dalam dada-
nya terasa mengurai. Dia tahu Ron dan Hermione
lebih shock daripada yang mereka perlihatkan, namun
fakta bahwa mereka masih tetap di sana, di kanan-
kirinya, mengucapkan kata-kata penghiburan yang me-
nguatkan, tidak menyingkir darinya seakan dia berpe-
nyakit menular atau berbahaya, jauh lebih berharga
daripada yang bisa dia ungkapkan kepada mereka.
“…dan mantra untuk menghindar pada umumnya,”
Hermione menyimpulkan. “Yah, paling tidak kau su-
dah tahu satu pelajaran yang akan kaudapat tahun
ini, satu lebih banyak daripada Ron dan aku. Kapan
ya hasil OWL* kita datang?”
“Tak lama lagi pasti, kan sudah sebulan,” kata Ron.
“Tunggu,” kata Harry, ketika bagian lain percakapan
semalam terlintas di benaknya. “Dumbledore bilang
hasil OWL kita akan datang hari ini!”
“Hari ini?” jerit Hermione. “Hari ini? Tapi kenapa
kau tidak—oh, Tuhan—harusnya kau bilang dari
tadi—”
* Penjelasan lengkap tentang OWL dan nilai-nilainya bisa dibaca
dalam buku Harry Potter # 5: Harry Potter dan Orde Phoenix, halaman
318 dan 435-436.
130
Hermione melompat bangun.
“Aku mau lihat apakah ada burung hantu yang
sudah datang…”
Namun ketika Harry tiba di bawah beberapa menit
kemudian, berpakaian lengkap dan membawa nampan
sarapannya yang sudah kosong, Hermione sedang
duduk di kursi meja makan dengan sangat gelisah,
sementara Mrs Weasley berusaha mengurangi ke-
miripannya dengan separo-panda.
“Tidak mau hilang,” kata Mrs Weasley cemas, berdiri
di depan Hermione dengan tongkat sihir di tangan
dan buku Penolong Penyembuh terbuka pada halaman
“Memar, Luka Potong, dan Lecet”. “Padahal biasanya
manjur. Aku tak mengerti.”
“Bagi Fred dan George sih ini lucu, mereka sengaja
bikin agar tidak bisa dihilangkan,” kata Ginny.
“Tapi harus hilang!” lengking Hermione. “Mana
mungkin aku ke mana-mana bertampang begini se-
lamanya!”
“Tidak akan, Sayang, kita akan menemukan penang-
kalnya, jangan kuatir,” kata Mrs Weasley menenang-
kan.
“Bill menceritakan padaku bagaimana lucunya Fred
dan George!” kata Fleur, tersenyum tenang.
“Ya, aku sampai nyaris tak bisa bernapas saking
gelinya,” bentak Hermione.
Dia melompat bangun dan mulai berjalan berputar-
putar mengelilingi dapur, memilin-milin jari-jarinya.
“Mrs Weasley, Anda benar-benar yakin tak ada bu-
rung hantu yang datang pagi ini?”
“Yakin, Sayang, kalau ada aku pasti melihatnya,”
131
kata Mrs Weasley sabar. “Tapi sekarang belum lagi
jam sembilan, masih banyak waktu…”
“Aku tahu Rune Kuno-ku kacau balau,” gumam
Hermione risau. “Aku sudah pasti membuat satu ke-
salahan terjemahan. Dan praktek Pertahanan terhadap
Ilmu Hitam parah banget. Kupikir Transfigurasi oke
waktu itu, tapi kalau dipikir lagi—”
“Hermione, bisa diam tidak, kau bukan satu-satunya
yang cemas!” salak Ron. “Dan kalau kau sudah men-
dapatkan sepuluh OWL ‘Outstanding’…”
“Tidak, tidak, tidak,” kata Hermione, menggoyang-
goyangkan tangannya dengan histeris. “Aku tahu aku
semuanya tidak lulus!”
“Apa yang terjadi kalau kita tidak lulus?” Harry
bertanya, tak jelas ditujukan kepada siapa, namun
Hermione lagilah yang menjawab.
“Kita mendiskusikan pilihan-pilihan dengan Kepala
Asrama kita. Aku tanya pada Profesor McGonagall
akhir semester lalu.”
Perut Harry bergolak. Dia menyesal sarapan banyak-
banyak.
“Di Beauxbatons,” kata Fleur berpuas diri, “sistem-
nya lain. Kurasa sistem kami lebih baik. Kami ujian
setelah enam tahun belajar, bukan lima, dan kemu-
dian—”
Kata-kata Fleur ditenggelamkan oleh suara jeritan.
Hermione menunjuk melalui jendela dapur. Tiga titik
hitam tampak jelas di langit, makin lama makin be-
sar.
“Pasti itu burung hantu,” kata Ron parau, melompat
bergabung dengan Hermione di depan jendela.
132
“Dan ada tiga,” kata Harry, bergegas ke sisi lain
Hermione.
“Satu untuk kita masing-masing,” kata Hermione
dalam bisik ketakutan. “Oh tidak… oh tidak… oh
tidak…”
Dia mencengkeram erat siku Harry dan Ron.
Ketiga burung hantu itu terbang menuju The
Burrow, tiga burung hantu tampan cokelat-keku-
ningan. Ketika terbang merendah di atas jalan setapak
yang menuju rumah, tampak jelas ketiganya mem-
bawa amplop persegi besar.
“Oh tidak!” jerit Hermione.
Mrs Weasley menyeruak di antara mereka dan mem-
buka jendela dapur. Satu, dua, tiga burung hantu
melesat masuk dan mendarat berjajar di atas meja.
Ketiganya mengangkat kaki kanan mereka.
Harry maju. Surat yang dialamatkan kepadanya
terikat pada kaki burung hantu di tengah. Dibukanya
ikatannya dengan jari-jari gemetar. Di sebelah kirinya,
Ron berusaha melepas hasil OWL-nya. Di sebelah
kanannya, tangan Hermione gemetar hebat sampai
membuat seluruh tubuh burung hantunya ikut ber-
getar.
Tak seorang pun di dapur bicara. Akhirnya Harry
berhasil melepas amplopnya. Dibukanya cepat-cepat
dan direntangkannya perkamen terlipat di dalamnya.
133
HASIL ORDINARY WlZARDING LEVEL
Nilai   kelulusan:
OUTSTANDING (O) – ISTIMEWA
EXCEEDS EXPECTATIONS (E) – DI LUAR DUGAAN
ACCEPTABLE (A) – CUKUP
Nilai    ketidaklulusan:
POOR (P) – PARAH
DREADFUL (D) – MENGERIKAN
TROLL (T)
NILAI HARRY JAMES POTTER:
Astronomi                           A
Pemeliharaan Hewan-Hewan Gaib       E
Mantra                              E
Pertahanan terhadap Ilmu Hitam      O
Ramalan                             P
Herbologi                           E
Sejarah Sihir                       D
Ramuan                              E
E
Transfigurasi
Harry membaca perkamennya beberapa kali, na-
pasnya makin teratur bersamaan dengan setiap pengu-
langan. Hasilnya oke: dia sudah tahu dia tidak akan
lulus Ramalan, dan dia tak mungkin lulus Sejarah
134
Sihir, mengingat dia pingsan baru setengah jalan me-
ngerjakan ujian, namun yang lain semua lulus! Jarinya
menelusuri nilai-nilainya… nilai Transfigurasi dan
Herbologi-nya bagus, dia bahkan mendapatkan E—Di
Luar Dugaan untuk Ramuan! Dan yang paling hebat,
dia mendapatkan nilai “Outstanding” untuk Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam!
Dia memandang berkeliling. Hermione memung-
gunginya dan kepalanya menunduk, namun Ron tam-
pak gembira.
“Cuma tidak lulus Ramalan dan Sejarah Sihir, dan
siapa yang peduli dua pelajaran itu?” katanya riang
kepada Harry. “Nih—tukar—”
Harry menunduk melihat nilai Ron. Tak ada nilainya
yang “Outstanding”…
“Aku tahu kau akan top di Pertahanan terhadap
Ilmu Hitam,” kata Ron, meninju bahu Harry. “Nilai
kita oke, kan?”
“Bagus!” kata Mrs Weasley bangga, mengacak ram-
but Ron. “Tujuh OWL, itu lebih banyak dari nilai
gabungan Fred dan George!”
“Hermione?” kata Ginny hati-hati, karena Hermione
belum berbalik. “Bagaimana nilaimu?”
“Aku—tidak buruk,” kata Hermione dengan suara
kecil.
“Oh, yang benar,” kata Ron, melangkah mendekati-
nya dan menyambar hasil ujian Hermione dari tangan-
nya. “Yep—sembilan ‘Outstanding’ dan satu ‘Exceeds
Expectations’ untuk Pertahanan terhadap Ilmu Hitam”.
Ron menunduk memandangnya, setengah-geli, se-
tengah-putus asa. “Kau benar-benar kecewa, ya?”
135
Hermione menggeleng, namun Harry tertawa.
“Nah, kita murid NEWT sekarang!” kata Ron nye-
ngir. “Mum, ada sosis lagi?”
Harry kembali memandang hasil ujiannya. Nilai-
nilainya sebagus yang bisa diharapkannya. Dia hanya
punya sedikit rasa sesal… ini akhir ambisinya untuk
menjadi Auror. Dia tidak berhasil mendapatkan nilai
Ramuan yang disyaratkan. Dia sebetulnya sudah tahu,
namun dia masih merasakan perutnya seperti ditonjok
ketika memandang lagi huruf “E” kecil itu.
Aneh, sebetulnya, mengingat seorang Pelahap Maut
yang menyamarlah yang pertama kali mengatakan
kepada Harry bahwa dia bisa menjadi Auror yang
baik, namun entah bagaimana ide itu menguasainya,
dan dia tak bisa memikirkan karier lain yang diingin-
kannya. Lagi pula, rasanya itu takdir yang tepat un-
tuknya, sejak dia mendengar ramalan sebulan lalu…
yang satu tak dapat hidup sementara yang lain bertahan…
bukankah itu cocok dengan ramalan dan dia akan
memberi dirinya kesempatan bertahan hidup yang
paling baik, jika dia bergabung dengan para penyihir
yang sangat terlatih, yang pekerjaannya adalah me-
nemukan dan membunuh Voldemort?
136
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ARRY tinggal dalam batas halaman The
Burrow selama beberapa minggu berikutnya.
Dia melewatkan sebagian besar waktu siangnya de-
ngan bermain Quidditch dua-lawan-dua di kebun
buah keluarga Weasley (dia dan Hermione melawan
Ron dan Ginny. Hermione parah dan Ginny bagus,
jadi mereka cukup berimbang) dan malam harinya
dengan memakan tiga porsi segala hidangan yang
diletakkan Mrs Weasley di hadapannya.
Mestinya itu akan menjadi liburan yang menyenang-
kan dan damai, seandainya saja tak ada cerita-cerita
tentang orang-orang yang lenyap, kecelakaan-kece-
lakaan aneh, bahkan tentang kematian yang sekarang
muncul nyaris setiap hari di Prophet. Kadang-kadang
Bill dan Mr Weasley membawa pulang kabar bahkan
137
sebelum koran mendengarnya. Mrs Weasley kecewa
karena perayaan ulang tahun keenam belas Harry
dirusak oleh kabar mengerikan yang dibawa ke pesta
oleh Remus Lupin, yang tampak kurus kering dan
muram, rambut cokelatnya banyak ditumbuhi uban
di sana-sini, pakaiannya lebih compang-camping dan
lebih banyak tambalannya daripada sebelumnya.
“Ada beberapa serangan Dementor lagi,” dia mengu-
mumkan, sementara Mrs Weasley mengangsurkan se-
potong besar kue ulang tahun kepadanya. “Dan me-
reka telah menemukan mayat Igor Karkaroff di sebuah
gubuk di utara. Tanda Kegelapan dipasang di atas
gubuk itu—yah, terus terang, aku heran dia bertahan
hidup bahkan setahun setelah meninggalkan Pelahap
Maut. Adik Sirius, Regulus, hanya bisa bertahan be-
berapa hari, seingatku.”
“Ya,” kata Mrs Weasley, mengernyit, “barangkali
sebaiknya kita bicara soal la—”
“Apa kau mendengar tentang Florean Fortescue,
Remus?” tanya Bill, yang sedang disodori anggur
oleh Fleur. “Orang yang punya—”
“—toko es krim di Diagon Alley?” Harry menyela,
dengan perasaan hampa, tak nyaman, di dasar perut-
nya. “Dia selalu memberiku es krim. Apa yang terjadi
padanya?”
“Dibawa dengan paksa, kalau melihat keadaan toko-
nya.”
“Kenapa?” tanya Ron, sementara Mrs Weasley me-
natap tajam Bill.
“Siapa yang tahu? Dia pastinya telah membuat me-
reka merasa terganggu. Dia orang baik, Florean.”
138
“Bicara soal Diagon Alley,” kata Mr Weasley, “ke-
lihatannya Ollivander juga telah menghilang.”
“Si pembuat tongkat sihir?” tanya Ginny, tampak
kaget.
“Betul. Tokonya kosong. Tak ada tanda-tanda perla-
wanan. Tak ada yang tahu apakah dia pergi dengan
suka rela atau diculik.”
“Tapi tongkat sihir—bagaimana kalau orang perlu
tongkat sihir?”
“Mereka terpaksa mencari pembuat tongkat sihir
yang lain,” kata Lupin. “Namun Ollivander adalah
yang terbaik, dan jika pihak lain mendapatkannya,
ini tak begitu baik bagi kita.”
Hari berikut setelah perayaan ulang tahun yang
suram ini, surat-surat beserta daftar buku mereka tiba
dari Hogwarts. Surat Harry ada kejutannya: dia di-
angkat sebagai Kapten Quidditch.
“Ini memberimu status yang sama dengan prefek!”
seru Hermione senang. “Kau bisa memakai kamar
mandi spesial kami sekarang, dan segalanya yang lain!”
“Wow, aku ingat waktu Charlie memakai lencana
semacam ini,” kata Ron, mengamati lencana Harry
dengan girang. “Harry, ini cool banget deh, kau
kaptenku—kalau kau mengizinkan aku masuk tim
lagi, tapi, ha ha…”
“Yah, kurasa kita tak bisa lebih lama lagi menunda
kunjungan ke Diagon Alley sekarang, setelah kalian
menerima ini,” kata Mrs Weasley menghela napas,
menatap daftar buku Ron. “Kita pergi hari Sabtu asal
ayahmu tidak harus kerja lagi. Aku tak mau ke sana
tanpa dia.”
139
“Mum, apa Mum benar-benar mengira Kau-Tahu-
Siapa akan ngumpet di belakang rak buku di Flourish
and Blotts?” Ron terkikik.
“Fortescue dan Ollivander pergi berlibur, kan?” kata
Mrs Weasley, langsung naik darah. “Kalau kaukira
tindakan pengamanan soal main-main, kau boleh ting-
gal di rumah saja, biar aku yang membelikan ke-
perluanmu—”
“Tidak, aku ikut, aku mau lihat tokonya Fred dan
George!” kata Ron buru-buru.
“Kalau begitu simpan ide-idemu, sebelum aku me-
mutuskan kau belum cukup dewasa untuk ikut kami!”
kata Mrs Weasley berang, menyambar jamnya, yang
kesembilan jarumnya masih menunjuk ke bahaya maut,
dan menaruhnya di atas setumpuk handuk yang baru
dicuci. “Dan itu berlaku untuk kembali ke Hogwarts
juga!”
Ron menoleh dan memandang Harry tak percaya
ketika ibunya mengangkat keranjang cucian beserta
jam yang bergoyang mau jatuh dan melesat mening-
galkan ruangan.
“Astaga… bahkan bergurau pun tak bisa lagi di
sini…”
Namun Ron berhati-hati agar tidak berkomentar
sembrono lagi tentang Voldemort selama beberapa
hari berikutnya. Hari Sabtu tiba tanpa ledakan ke-
marahan lagi dari Mrs Weasley, walaupun dia tampak
sangat tegang ketika sarapan. Bill, yang akan tinggal
di rumah bersama Fleur (Hermione dan Ginny senang
sekali karenanya), mengangsurkan satu kantong-uang
berisi penuh kepada Harry di seberang meja.
140
“Jatahku mana?” Ron langsung menuntut, matanya
melebar.
“Itu uang Harry, idiot,” kata Bill. “Aku mengambil-
kannya dari lemari besimu, Harry, karena perlu kira-
kira lima jam bagi masyarakat umum untuk mengam-
bil uangnya saat ini, para goblin meningkatkan ke-
amanan secara gila-gilaan. Dua hari yang lalu Arkie
Philpott harus mengalami Detektor Kejujuran di-
tusukkan ke… yah, percayalah, cara ini jauh lebih
mudah.”
“Trims, Bill,” kata Harry, mengantongi emasnya.
“Dia memang bijaksana,” dengkur Fleur memuja,
mengelus hidung Bill. Ginny berlagak muntah ke
dalam serealnya di belakang Fleur. Harry tersedak
cornflake-nya dan Ron menggebuk punggungnya.
Hari itu mendung dan suram. Salah satu mobil
khusus Kementerian Sihir, yang pernah Harry naiki
sekali sebelumnya, menunggu mereka di halaman de-
pan ketika mereka muncul dari dalam rumah, seraya
memakai mantel mereka.
“Bagus Dad bisa meminjam ini lagi,” kata Ron
senang, meregangkan tubuh dengan nikmat selagi
mobil meluncur mulus meninggalkan The Burrow.
Bill dan Fleur melambai dari jendela dapur. Ron,
Harry, Hermione, dan Ginny duduk nyaman di tempat
duduk belakang yang lebar.
“Jangan terbiasa dengan ini, ini hanya karena
Harry,” kata Mr Weasley menoleh. Dia dan Mrs
Weasley di depan, bersama sopir Kementerian. Tempat
duduk depan telah memanjang menjadi mirip sofa
dua-tempat-duduk. “Dia diberi status pengamanan top.
141
Dan kita akan bergabung dengan keamanan tambahan
di Leaky Cauldron juga.”
Harry tidak berkata apa-apa. Dia tak begitu senang
berbelanja sementara dikelilingi sebatalion Auror. Dia
telah memasukkan Jubah Gaib ke dalam ranselnya
dan merasa bahwa, jika itu sudah cukup baik bagi
Dumbledore, harusnya itu cukup baik juga untuk
Kementerian, meskipun setelah dipikir lagi, dia tak
yakin apakah Kementerian tahu tentang Jubah-nya.
“Nah, sudah sampai,” kata si pengemudi, untuk
pertama kalinya bicara, ketika dia melambat di Charing
Cross Road dan berhenti di depan Leaky Cauldron.
Mengejutkan karena rasanya baru sebentar. “Saya di-
suruh menunggu kalian. Berapa lama kira-kira?”
“Sekitar dua jam, kurasa,” kata Mr Weasley. “Ah,
bagus, dia sudah ada!”
Harry meniru Mr Weasley, mengintip dari jendela.
Hatinya melonjak gembira. Tak ada Auror yang me-
nunggu di depan losmen. Alih-alih Auror, yang ada
sosok raksasa Rubeus Hagrid yang berjenggot-hitam,
pengawas satwa liar di Hogwarts, memakai mantel
panjang dari kulit berang-berang, berseri-seri melihat
wajah Harry dan tak menyadari pandangan kaget
para Muggle yang lewat.
“Harry!” suaranya menggelegar, menyambar Harry
dalam pelukan meremukkan-tulang begitu Harry tu-
run dari mobil. “Buckbeak—Witherwings, maksudku—
kau harus lihat dia, Harry, dia senang sekali bisa
bebas di udara terbuka—”
“Syukurlah kalau dia senang,” kata Harry, nyengir
142
sambil memijat-mijat iganya. “Kami tak tahu ‘ke-
amanan’ berarti kau!”
“Aku tahu, seperti dulu saja, kan? Tadinya Kemen-
terian mau kirim rombongan Auror, tapi Dumbledore
bilang aku cukup,” kata Hagrid bangga, menggem-
bungkan dadanya dan mengaitkan ibu jari ke dalam
sakunya. “Ayo kita berangkat, kalau begitu—silakan
kalian jalan dulu, Molly, Arthur—”
Leaky Cauldron, untuk pertama kalinya seingat
Harry, kosong melompong. Hanya tersisa Tom si pe-
milik, dengan kulit keriput dan gigi ompong. Dia
mendongak penuh harap ketika mereka masuk, na-
mun sebelum dia bisa bicara, Hagrid berkata dengan
lagak penting, “Cuma lewat hari ini, Tom, tentu kau
mengerti. Urusan Hogwarts, kau tahu.”
Tom mengangguk muram dan kembali mengelap
gelas-gelasnya. Harry, Hermione, Hagrid, dan keluarga
Weasley melewati bar dan keluar ke halaman belakang
yang kecil dan dingin, yang ada tempat sampahnya.
Hagrid mengangkat payung merah jambunya dan
mengetuk batu bata tertentu di dinding, yang lang-
sung membuka membentuk gerbang-lengkung menuju
ke jalan cornblock berliku-liku. Mereka melewati ger-
bang itu dan berhenti, memandang berkeliling.
Diagon Alley telah berubah. Etalase berwarna-warni
dan berkilauan, memamerkan kitab-kitab mantra, ba-
han ramuan, dan kuali sudah hilang dari pandangan,
tersembunyi di balik poster-poster besar Kementerian
Sihir yang ditempelkan di kaca. Sebagian besar poster
ungu suram ini adalah versi besar pedoman tindakan
keamanan seperti dalam pamflet Kementerian yang
143
dikirimkan ke rumah-rumah selama musim panas ini,
namun yang lain menampilkan foto-foto hitam-putih
bergerak para Pelahap Maut yang diketahui berkeliaran
bebas. Bellatrix Lestrange menyeringai dari depan apo-
tek terdekat. Beberapa jendela etalase ditutup papan,
termasuk etalase toko es krim Florean Fortescue. Se-
baliknya, sejumlah kios kumuh bermunculan di sepan-
jang jalan. Yang paling dekat, yang didirikan di depan
Flourish and Blotts dengan atap awning bergaris, di
depannya dipasangi papan bertulisan:
Seorang penyihir pria kecil lusuh menggemerincing-
kan lengannya yang penuh digantungi kalung dengan
simbol-simbol perak pada orang-orang yang lewat.
“Satu untuk gadis kecil Anda, Madam?” dia me-
nawari Mrs Weasley ketika mereka lewat, melirik
Ginny “Untuk melindungi lehernya yang cantik?”
“Kalau aku sedang bertugas…” kata Mr Weasley
mendelik marah pada si penjual jimat.
“Ya, tapi jangan menangkap orang sekarang, Sayang,
kita sedang buru-buru,” kata Mrs Weasley, dengan
gugup mengecek daftar. “Kurasa lebih baik kita ke
Madam Malkin’s dulu. Hermione mau beli jubah resmi
baru dan pergelangan kaki Ron sudah kelihatan dalam
jubah seragam sekolahnya, dan kau juga perlu jubah
baru, Harry, kau sudah bertambah tinggi banyak—
ayo, semua—”
144
“Molly, tidak masuk akal kalau kita semua ke Madam
Malkin’s,” ujar Mr Weasley. “Bagaimana kalau mereka
bertiga pergi dengan Hagrid, dan kita bisa ke Flourish
and Blotts dan membelikan buku sekolah untuk semua-
nya?”
“Entahlah,” kata Mrs Weasley cemas, tampak bi-
ngung memilih antara menyelesaikan berbelanja se-
cepat mungkin dan keinginan untuk tetap bersama-
sama dalam satu rombongan. “Hagrid, menurutmu
apakah—?”
“Jangan kuatir, mereka akan aman bersamaku,
Molly,” kata Hagrid menenangkan, melambaikan ta-
ngan sebesar tutup tempat sampah. Mrs Weasley tidak
tampak yakin sepenuhnya, namun meyetujui per-
pisahan ini. Dia bergegas menuju Flourish and Blotts
bersama suaminya dan Ginny, sementara Harry, Ron,
Hermione, dan Hagrid berjalan ke Madam Malkin’s.
Harry memperhatikan banyak orang yang ber-
papasan dengan mereka bertampang resah dan cemas
seperti Mrs Weasley, dan tak ada lagi orang yang
berhenti untuk mengobrol. Orang-orang yang berbe-
lanja bergerombol dengan kelompoknya masing-
masing, berbelanja dengan serius. Tak ada yang ber-
belanja sendirian.
“Mungkin sesak kalau kita semua masuk,” kata
Hagrid, berhenti di depan Madam Malkin’s dan mem-
bungkuk untuk mengintip ke dalam lewat jendela.
“Aku jaga di depan, oke?”
Maka Harry, Ron, dan Hermione memasuki toko
kecil itu bersama-sama. Sekilas toko itu tampak kosong,
namun begitu pintu terayun menutup di belakang
145
mereka, terdengar suara yang sudah tak asing dari
balik rak jubah resmi hijau dan biru berkelip-kelip.
“…bukan anak-anak lagi, kalau Ibu belum memper-
hatikan. Aku bisa belanja sendiri.”
Terdengar decakan dan suara yang dikenali Harry
sebagai suara Madam Malkin berkata, “Nak, ibumu
benar, tak seorang pun dari kita boleh bepergian
sendiri lagi, ini tak ada hubungannya dengan soal
masih anak-anak—”
“Hati-hati menusukkan jarumnya!”
Seorang remaja pria berwajah runcing, pucat, dan
berambut pirang muncul dari balik rak memakai jubah
keren hijau tua dengan jarum pentul berkilat-kilat di
sekitar lipatan bawah dan ujung-ujung lengannya.
Dia berjalan ke cermin dan memandangi bayangan
dirinya. Baru beberapa saat kemudian dia melihat
Harry, Ron, dan Hermione yang terpantul di atas
bahunya. Matanya yang kelabu pucat menyipit.
“Kalau Ibu bertanya-tanya bau apa ini, baru saja
ada Darah-lumpur masuk,” kata Draco Malfoy.
“Kurasa tak perlu bicara begitu!” kata Madam
Malkin, bergegas dari balik rak pakaian, memegang
meteran dan tongkat sihir. “Dan aku juga tak mau
ada tongkat sihir dicabut dalam tokoku!” dia menam-
bahkan buru-buru, karena ketika mengerling ke pintu
dilihatnya Harry dan Ron berdiri dengan tongkat
sihir teracung ke arah Malfoy.
Hermione, yang berdiri sedikit di belakang mereka,
berbisik, “Jangan, sungguh, tak berharga…”
“Yeah, memangnya kalian berani menggunakan sihir
di luar sekolah,” seringai Malfoy. “Siapa yang meng-
146
hitamkan matamu, Granger? Aku ingin mengirimi
mereka bunga.”
“Sudah cukup!” kata Madam Malkin tajam, menoleh
meminta dukungan. “Madam—tolong—”
Narcissa Malfoy melangkah dari balik rak pakaian.
“Singkirkan tongkat sihir kalian,” katanya dingin
kepada Harry dan Ron. “Jika kalian menyerang anak-
ku lagi, akan kupastikan itu hal terakhir yang kalian
lakukan.”
“Sungguh?” kata Harry, maju selangkah dan me-
mandang wajah mulus angkuh yang, kendatipun pu-
cat, masih mirip kakaknya. Harry sudah sama tinggi-
nya dengan Narcissa sekarang. “Mau minta rekan-
rekan Pelahap Maut untuk menangkap kami, ya?”
Madam Malkin menjerit dan mencengkeram jan-
tungnya.
“Astaga, kau tak boleh menuduh—hal berbahaya
untuk diucapkan—singkirkan tongkat sihir kalian, to-
long!”
Namun Harry tidak menurunkan tongkat sihirnya.
Narcissa Malfoy tersenyum sangar.
“Rupanya menjadi favorit Dumbledore membuatmu
gegabah merasa aman, Harry Potter. Tapi Dumbledore
tak akan selalu ada untuk melindungimu.”
Harry memandang ke sekeliling toko dengan gaya
mengejek.
“Wow… lihat… dia tak ada di sini sekarang! Jadi,
kenapa kau tidak mencoba? Mereka mungkin bisa
menempatkanmu dalam sel dobel bersama suamimu
yang pecundang!”
Malfoy bergerak marah ke arah Harry, namun ter-
147
serimpet jubahnya yang kepanjangan. Ron tertawa
keras.
“Jangan berani-berani kau bicara kepada ibuku se-
perti itu, Potter!” bentak Malfoy.
“Tak apa-apa, Draco,” kata Narcissa, menahan de-
ngan jari-jari kurus putih di atas bahu anaknya. “Ku-
kira Potter akan bersatu dengan Sirius sebelum aku
bersatu dengan Lucius.”
Harry mengangkat tongkat sihirnya lebih tinggi.
“Harry, jangan!” erang Hermione, menyambar le-
ngan Harry dan berusaha menurunkannya. “Pikir…
kau tak boleh… kau akan dalam kesulitan besar…”
Madam Malkin menggigil sebentar di tempatnya,
kemudian tampaknya memutuskan untuk bersikap
seakan tak ada yang sedang terjadi dengan harapan
bahwa memang tak akan terjadi apa-apa. Dia mem-
bungkuk ke arah Malfoy, yang masih mendelik kepada
Harry.
“Kurasa lengan ini perlu dinaikkan sedikit, Nak,
coba ku—”
“Ouch!” teriak Malfoy, menampar tangan Madam
Malkin untuk menyingkirkannya. “Lihat-lihat kalau
pasang jarum! Ibu—kurasa aku tak mau lagi jubah
ini—”
Dilepasnya jubah lewat atas kepalanya dan dilem-
parnya ke lantai di kaki Madam Malkin.
“Kau betul, Draco,” kata Narcissa, mengerling meng-
hina ke arah Hermione, “sekarang setelah aku tahu
sampah macam apa yang berbelanja di sini… lebih
baik kita belanja di Twilfitt and Tatting’s.”
Berkata begitu, mereka berdua meninggalkan toko.
148
Malfoy sengaja menabrak Ron keras-keras dalam per-
jalanan keluar.
“Astaga!” kata Madam Malkin, memungut jubah
yang jatuh dan menggerakkan ujung tongkat sihirnya
di atasnya seperti alat pengisap debu, untuk mem-
bersihkan debunya.
Madam Malkin tampak bingung ketika membantu
Ron dan Harry mengepas jubah baru mereka, dan
memberikan jubah resmi penyihir pria kepada Her-
mione, dan ketika akhirnya mengantar mereka keluar
toko, kelihatannya dia senang sekali mereka pergi.
“Dapat semuanya?” tanya Hagrid cerah ketika me-
reka muncul lagi di sisinya.
“Kira-kira begitu,” kata Harry. “Apakah kau melihat
Draco dan ibunya?”
“Yeah,” kata Hagrid, tidak peduli. “Mereka tak akan
berani bikin masalah di Diagon Alley, Harry, jangan
kuatirkan mereka.”
Harry, Ron, dan Hermione bertukar pandang, na-
mun sebelum mereka bisa membebaskan Hagrid dari
dugaan menenangkan ini, Mr dan Mrs Weasley, dan
Ginny muncul, ketiganya memegang bungkusan buku
yang berat.
“Semua baik-baik saja?” kata Mrs Weasley. “Sudah
dapat jubah kalian? Baik, kalau begitu, kita bisa mam-
pir ke toko obat dan Eeylops dalam perjalanan ke
toko Fred dan George—jangan sampai berjauhan…”
Harry dan Ron tidak membeli apa-apa di toko
obat, mengingat keduanya tak lagi mempelajari Ra-
muan, namun keduanya membeli kotak besar kacang
burung hantu untuk Hedwig dan Pigwidgeon di
149
Eeylops Owl Emporium. Kemudian, dengan Mrs Weasley
melihat jam setiap menit, mereka berjalan terus men-
cari Weasleys’ Wizard Wheezes—Sihir Sakti Weasley, toko
lelucon yang dikelola Fred dan George.
“Kita tak punya waktu lama,” kata Mrs Weasley.
“Jadi, kita melihat-lihat sebentar dan kemudian kembali
ke mobil. Mestinya sudah dekat, itu nomor sembilan
puluh dua… sembilan-empat…”
“Whoa,” kata Ron, berhenti mendadak.
Di antara toko-toko suram yang ditempeli poster,
etalase Fred dan George mencolok mata seperti pe-
ragaan kembang api. Orang-orang yang lewat menoleh
memandang kembali etalase itu, dan beberapa orang
yang tampak tercengang malah berhenti, terpana. Eta-
lase sebelah kiri menyilaukan, penuh benda-benda
yang berputar, mencuat, mengeluarkan cahaya, me-
lompat, dan menjerit. Mata Harry mulai berair hanya
memandang benda-benda itu. Etalase sebelah kanan
tertutup poster besar, ungu seperti poster Kementerian,
tetapi dihiasi huruf-huruf kuning yang menyala:
Harry mulai tertawa. You-Know-Who (dibaca yu-kno-
hu) adalah Kau-Tahu-Siapa, sedangkan U-NO-POO (di-
150
baca yu-kno-pu) berarti Kau-Tak Bisa-Berak. Harry men-
dengar seperti rintihan lemah di sebelahnya dan me-
noleh melihat Mrs Weasley memandang takjub poster
itu. Bibirnya bergerak, tanpa suara membaca nama,
“U-no-Poo.”
“Mereka akan dibunuh di tempat tidur mereka!”
bisiknya.
“Tidak!” kata Ron, yang tertawa seperti Harry. “Ini
brilian!”
Dan dia bersama Harry masuk lebih dulu ke dalam
toko. Pembeli penuh sesak. Harry tak bisa mendekati
rak-rak. Dia memandang berkeliling, memandang ko-
tak yang bertumpuk sampai ke langit-langit. Isinya
Kudapan Kabur yang disempurnakan si kembar pada
tahun terakhir mereka yang tak terselesaikan di
Hogwarts. Harry melihat bahwa Nogat Mimisan-lah
yang paling populer, hanya tersisa satu kotak lusuh
di rak. Kemudian ada berwadah-wadah tongkat sihir
tipuan, yang paling murah hanya berubah menjadi
ayam-ayaman karet atau celana kalau dilambaikan;
yang paling mahal memukuli si pengguna yang tak
waspada di kepala dan lehernya; berkotak-kotak pena-
bulu berbagai jenis, Mengisi-Tinta-Sendiri, Mengoreksi-
Ejaan, dan Jawaban-Cerdas. Ada celah di antara keru-
munan dan Harry menyeruak menuju konter, tempat
sekerumun anak-anak berusia sepuluh tahunan me-
nonton boneka kayu pria kecil menuruni tangga me-
nuju tiang gantungan, dua-duanya bertengger di atas
kotak yang bertulisan: ALGOJO BERAKSI BERKALI-KALI—
MANTRAI, KALAU TIDAK DIA MENINJUMU!
“‘Mantra Lamunan Paten…'”
151
Hermione berhasil menyeruak ke display besar dekat
konter dan sedang membaca keterangan di balik kotak
yang menampilkan gambar warna-warni pemuda tam-
pan dan gadis gemulai yang berdiri di atas geladak
kapal perompak.
“‘Dengan satu mantra sederhana kau akan memasuki
lamunan berkualitas-top, sangat realistis, selama tiga puluh
menit, mudah diselipkan dalam pelajaran sekolah apa saja,
dan secara virtual tidak terdeteksi (efek samping termasuk
pandangan hampa dan sedikit mengiler). Tidak dijual bagi
yang berusia di bawah enam belas tahun.’ Kau tahu,”
kata Hermione, mendongak menatap Harry, “ini betul-
betul sihir luar biasa!”
“Untuk itu, Hermione,” kata suara di belakang me-
reka, “kau boleh ambil satu gratis.”
Fred berdiri di hadapan mereka dengan wajah ber-
seri-seri, memakai jubah ungu kemerahan yang kontras
sekali dengan rambutnya yang merah manyala.
“Apa kabar, Harry?” Mereka berjabat tangan. “Dan
kenapa matamu, Hermione?”
“Teleskop-tinju kalian,” jawabnya muram.
“Oh, ya ampun, aku lupa itu,” kata Fred. “Ini—”
Dia mengeluarkan wadah kecil dari dalam sakunya
dan memberikannya kepada Hermione. Hermione
membuka tutupnya dengan sangat hati-hati. Isinya
salep kuning pekat.
“Oleskan saja, lebamnya akan hilang dalam waktu
satu jam,” kata Fred. “Kami harus menemukan obat
penghilang-lebam yang manjur, soalnya kami mengetes
sebagian besar produk pada kami sendiri.”
Hermione tampak gugup. “Ini aman, kan?”
152
“Tentu saja,” kata Fred menenangkannya. “Ayo,
Harry, kuantar kau berkeliling.”
Harry meninggalkan Hermione yang sedang mengo-
lesi sekitar matanya dengan salep dan mengikuti Fred
ke bagian belakang toko, tempat dia melihat satu rak
kartu dan tali.
“Sulap Muggle!” kata Fred riang, menunjuk barang-
barang itu. “Untuk orang-orang aneh seperti Dad,
kau tahu, yang menyukai barang-barang Muggle. Pe-
masukan dari sini tidak banyak sih, tapi cukup oke…
ini barang-barang baru… oh, ini dia George…”
Kembaran Fred menjabat tangan Harry penuh se-
mangat.
“Mengantar dia keliling? Ayo ke belakang, Harry, di
situlah penghasil uang yang sebetulnya—tilap apa saja,
dan kau akan membayar lebih dari sekadar Galleon!” dia
menambahkan dengan nada memperingatkan kepada
seorang anak laki-laki kecil yang buru-buru menarik
tangannya dari cepuk bertulisan: KUDAPAN TANDA
KEGELAPAN—YANG MAKAN DIJAMIN SAKIT!
George menyibak tirai di sebelah Sulap Muggle
dan Harry melihat ruangan yang lebih gelap, lebih
sedikit pengunjungnya. Kemasan barang-barang di
ruangan ini lebih lembut.
“Kami baru saja mengembangkan rangkaian produk
yang lebih serius,” kata Fred. “Lucu juga terjadinya…”
“Kau tak akan percaya betapa banyak orang, bahkan
orang-orang yang bekerja di Kementerian, tidak bisa
melakukan Mantra Pelindung,” kata George. “Tentu,
mereka tak punya kau untuk mengajari mereka,
Harry.”
153
“Betul… yah, kami pikir Topi Pelindung sedikit
menggelikan. Kau tahu, tantang temanmu untuk me-
mantraimu ketika kau memakai topi itu dan perhati-
kan wajahnya ketika mantra itu terpental. Tapi Kemen-
terian memesan lima ratus untuk semua staf pendu-
kungnya! Dan kami masih terus menerima order da-
lam jumlah sangat besar!”
“Jadi, kami kembangkan menjadi Jubah Pelindung,
Sarung Tangan Pelindung…”
“…memang sih, semua itu tidak akan banyak mem-
bantu untuk melawan Kutukan Tak Termaafkan, tapi
untuk kutukan atau mantra ringan sampai me-
nengah…”
“Dan kemudian kami berpikir untuk masuk ke selu-
ruh area Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, karena
bidang itu menghasilkan uang banyak sekali,” George
melanjutkan dengan antusias. “Ini cool. Lihat, Bubuk
Kegelapan Instan, kami mengimpornya dari Peru. Ini
praktis jika kau ingin kabur secara cepat.”
“Dan Detonator Jebakan kami baru saja meninggal-
kan rak, lihat,” kata Fred, menunjuk sejumlah benda
semacam-peluit hitam berbentuk-aneh yang memang
berusaha kabur terburu-buru. “Kau tinggal menjatuh-
kan satu dengan diam-diam dan dia akan kabur dan
mengeluarkan bunyi keras di tempat tak terlihat, mem-
berimu pengalih perhatian jika kau memerlukannya.
“Berguna,” kata Harry, terkesan.
“Nih,” kata George, menangkap dua dan melempar-
kannya kepada Harry.
Seorang penyihir perempuan muda dengan rambut
pirang pendek menongolkan kepala dari balik tirai.
154
Harry melihat dia juga memakai jubah seragam staf
yang berwarna ungu kemerahan.
“Ada pembeli di luar yang mencari kuali lelucon,
Mr Weasley dan Mr Weasley,” katanya.
Aneh sekali kedengarannya bagi Harry mendengar
Fred dan George dipanggil Mr Weasley, namun me-
reka menerimanya dengan tenang.
“Baik, Verity, aku akan keluar,” kata George segera.
“Harry, ambil apa saja yang kau mau, oke? Gratis.”
“Tak bisa begitu!” kata Harry, yang sudah menge-
luarkan kantong-uangnya untuk membayar Detonator
Jebakan.
“Kau tidak bayar di sini,” kata Fred tegas, menolak
emas Harry.
“Tapi—”
“Kau yang memodali kami membuka usaha ini,
kami tidak lupa itu,” kata George sungguh-sungguh.
“Ambil apa saja yang kau suka, dan hanya ingat
beritahu orang-orang dari mana kau mendapatkannya,
kalau mereka tanya.”
George berjalan melewati tirai untuk membantu
melayani para pembeli dan Fred membawa Harry
kembali ke ruang utama toko. Ternyata Hermione
dan Ginny masih mengagumi Mantra Lamunan Paten.
“Kalian belum menemukan produk WonderWitch
istimewa kami?” tanya Fred. “Ikut aku, ladies…”
Dekat jendela berjajar barang-barang berwarna pink
cerah, dikerumuni serombongan gadis yang cekikikan
bersemangat. Hermione dan Ginny berhenti, keduanya
tampak waspada.
“Itu dia,” kata Fred bangga. “Rangkaian ramuan
155
cinta paling hebat yang bisa ditemukan di mana
pun.”
Ginny mengangkat sebelah alis, sangsi. “Apakah
ramuan itu bisa dipakai?”
“Tentu saja, sampai dua puluh empat jam sekali
pakai, tergantung pada berat tubuh cowok yang di-
incar—”
“—dan daya tarik si cewek,” kata George, tiba-tiba
muncul lagi di sebelah mereka. “Tapi kami tidak men-
jual ramuan itu kepada adik kami,” dia menambahkan,
mendadak jadi tegas, “tidak kalau dia sudah punya
lima cowok seperti yang kami—”
“Apa pun yang kalian dengar dari Ron adalah
bohong besar,” kata Ginny kalem, mencondongkan
diri ke depan untuk mengambil cepuk kecil merah
jambu dari rak. “Apa ini?”
“Penghilang Jerawat dalam Sepuluh-Detik Dijamin,”
kata Fred. “Manjur sekali untuk segala macam dari
bisul sampai komedo, tapi jangan mengganti topik.
Ya atau tidakkah kau sedang pacaran dengan cowok
bernama Dean Thomas?”
“Ya,” kata Ginny. “Dan terakhir kali aku melihatnya
dia jelas cuma satu cowok, bukan lima. Apa itu?”
Dia menunjuk beberapa bola bulu bundar dalam
nuansa warna merah jambu dan ungu, semuanya
berguling-guling di dasar sebuah sangkar dan menge-
luarkan cicit nyaring.
“Pygmy Puff,” kata George. “Puffskein mini, laris
sekali. Jadi, bagaimana dengan Michael Corner?”
“Sudah kuputus, orangnya tidak bisa menerima ke-
kalahan,” kata Ginny, menjulurkan jarinya lewat jeruji
156
sangkar dan memandang para Pygmy Puff menge-
rumuninya. “Mereka imut sekali!”
“Mereka menyenangkan untuk dipeluk-peluk, ya
memang,” Fred menyimpulkan. “Tapi tidakkah kau
berganti cowok agak terlalu cepat?”
Ginny berbalik untuk memandangnya, tangannya
di pinggul. Kemarahan di wajahnya mirip sekali Mrs
Weasley sehingga Harry heran Fred tidak mundur
ketakutan.
“Itu bukan urusanmu. Dan aku akan berterima
kasih kepadamu,” dia menambahkan dengan marah
kepada Ron, yang baru saja muncul di sebelah George,
membawa setumpuk barang, “kalau tidak menyampai-
kan cerita bohong tentangku kepada mereka berdua!”
“Semuanya tiga Galleon, sembilan Sickle, dan satu
Knut,” kata Fred, memeriksa tumpukan dos di tangan
Ron. “Bayar.”
“Aku kan adik kalian!”
“Dan yang kauambil itu barang-barang kami. Tiga
Galleon, sembilan Sickle. Kuberi potongan satu Knut.”
“Tapi aku tak punya tiga Galleon, sembilan Sickle!”
“Kalau begitu lebih baik kaukembalikan semuanya,
dan kembalikan ke raknya yang benar.”
Ron menjatuhkan beberapa kotak, mengumpat, dan
membuat gerakan kurang ajar dengan tangannya ke-
pada Fred yang celakanya dilihat oleh Mrs Weasley,
yang memilih saat itu untuk muncul.
“Kalau kulihat kau melakukan itu lagi, kumantrai
jari-jarimu supaya menempel,” katanya tajam.
“Mum, bolehkah aku punya Pygmy Puff?” kata
Ginny segera.
157
“Punya apa?” tanya Mrs Weasley waspada.
“Lihat, mereka manis sekali…”
Mrs Weasley bergerak ke samping untuk melihat
Pygmy Puff, dan Harry, Ron, dan Hermione selama
beberapa saat bisa memandang ke luar jendela tanpa
terhalang. Draco Malfoy berjalan bergegas sendirian.
Ketika melewati Sihir Sakti Weasley, dia menoleh. Be-
berapa detik kemudian dia sudah bergerak di luar
jangkauan jendela dan mereka kehilangan dia.
“Di mana ibunya?” kata Harry, mengernyit.
“Menyelinap kabur dari ibunya, kelihatannya,” kata
Ron.
“Tapi kenapa?” kata Hermione.
Harry tidak berkata apa-apa. Dia berpikir terlalu
keras. Narcissa Malfoy tidak akan melepaskan anaknya
yang berharga dari pengamatannya dengan suka rela.
Malfoy pastilah berusaha keras melepaskan diri dari
cengkeramannya. Harry, mengenal dan membenci
Malfoy, yakin alasannya tak mungkin tidak mencuriga-
kan.
Harry memandang ke sekitarnya. Mrs Weasley dan
Ginny sedang membungkuk menonton Pygmy Puff.
Mr Weasley dengan gembira sedang memeriksa satu
pak kartu permainan Muggle. Fred dan George sedang
melayani pembeli. Di balik kaca, Hagrid berdiri mem-
belakangi mereka, mengawasi jalanan.
“Masuk ke bawah sini, cepat,” kata Harry, menarik
keluar Jubah Gaib dari tasnya.
“Oh—aku tak tahu, Harry,” kata Hermione, meman-
dang sangsi ke arah Mrs Weasley.
“Ayo!” kata Ron.
158
Hermione bimbang sedetik lagi, kemudian menelu-
sup ke bawah Jubah bersama Harry dan Ron. Tak
ada yang memperhatikan mereka menghilang, mereka
semua terlalu tertarik pada barang-barang jualan Fred
dan George. Harry, Ron, dan Hermione menyeruak
keluar dari pintu secepat mereka bisa, namun saat
mereka tiba di jalan, Malfoy telah menghilang juga
seperti mereka.
“Dia pergi ke arah itu,” gumam Harry sepelan
mungkin, supaya Hagrid yang sedang bersenandung
tidak mendengarnya. “Yuk.”
Mereka berjalan bergegas, melihat ke kanan dan
kiri, melalui etalase dan pintu toko, sampai Hermione
menunjuk ke depan.
“Itu dia, kan?” bisiknya. “Belok kiri?”
“Kejutan besar,” bisik Ron.
Karena Malfoy dengan sembunyi-sembunyi meman-
dang ke sekelilingnya, kemudian menyelinap ke
Knockturn Alley dan menghilang dari pandangan.
“Cepat, kalau tidak nanti kita kehilangan dia,” kata
Harry, bergegas.
“Kaki kita akan kelihatan!” kata Hermione cemas,
sementara Jubah melambai sedikit di sekeliling per-
gelangan kaki mereka. Jauh lebih sulit menyembunyi-
kan mereka bertiga di bawah Jubah sekarang ini.
“Tak apalah!” kata Harry tak sabar. “Cepat!”
Namun Knockturn Alley, jalan kecil yang khusus
menjual barang-barang Ilmu Hitam, tampak kosong
melompong. Mereka mengintip melalui jendela-jendela
yang mereka lewati, tapi tak satu pun toko ada pem-
belinya. Harry menduga seperti membuka rahasia jika
159
dalam masa-masa bahaya dan mencurigakan ini orang
membeli barang-barang Ilmu Hitam—atau paling tidak,
terlihat sedang membelinya.
Hermione mencubit keras lengannya.
“Ouch!”
“Shh! Lihat! Dia di dalam sana!” Hermione berbisik
di telinga Harry.
Mereka sudah tiba di depan satu-satunya toko di
Knockturn Alley yang pernah dikunjungi Harry. Borgin
and Burkes, yang menjual berbagai jenis barang me-
ngerikan. Di antara lemari-lemari yang penuh teng-
korak dan botol-botol, Draco Malfoy berdiri membela-
kangi mereka, terlihat di balik lemari hitam besar
yang pernah menjadi tempat persembunyian Harry
untuk menghindari Malfoy dan ayahnya. Dilihat dari
gerakan tangannya, dia sedang bicara penuh semangat.
Pemilik toko, Mr Borgin, seorang laki-laki bungkuk
dengan rambut berminyak, berdiri di hadapan Malfoy.
Ekspresi wajahnya campuran antara kesebalan dan
ketakutan.
“Kalau saja kita bisa mendengar apa yang mereka
katakan!” kata Hermione.
“Kita bisa!” kata Ron bergairah. “Tunggu—sialan—”
Ron menjatuhkan dua-tiga kotak yang masih di-
pegangnya sementara dia berusaha membuka kotak
yang paling besar.
“Telinga Terjulur, lihat!”
“Fantastis!” kata Hermione, sementara Ron mengulur
benang-benang panjang warna-daging dan mulai me-
masukkannya ke bawah pintu. “Oh, kuharap pintu
ini tidak dipasangi Mantra Penolak Gangguan…”
160
“Tidak!” kata Ron gembira. “Dengar!”
Mereka mendekatkan kepala dan mendengarkan
dengan cermat pada ujung-ujung benang. Lewat
ujung-ujung benang itu suara Malfoy bisa terdengar
keras dan jelas, seakan radio baru saja dinyalakan.
“… kau tahu cara membetulkannya?”
“Mungkin,” kata Borgin, dengan nada yang me-
nyiratkan dia tak bersedia melibatkan diri. “Tapi aku
perlu melihatnya. Kenapa kau tidak membawanya ke
toko saja?”
“Tidak bisa,” kata Malfoy. “Harus tetap di tempat-
nya Aku cuma perlu kauberitahu bagaimana caranya.”
Harry melihat Borgin menjilat bibirnya dengan gu-
gup.
“Yah, tanpa melihatnya, harus kukatakan ini pe-
kerjaan yang sulit sekali, bahkan barangkali tidak
mungkin. Aku tak bisa menjamin apa pun.”
“Tidak?” kata Malfoy, dan Harry tahu, hanya dari
nadanya, bahwa Malfoy menyeringai. “Mungkin ini
akan membuatmu lebih mantap.”
Malfoy mendekati Borgin dan terhalang dari pan-
dangan oleh lemari. Harry, Ron, dan Hermione ber-
gerak ke samping, berusaha agar masih bisa melihat-
nya, namun yang bisa mereka lihat hanyalah Borgin,
yang tampak sangat ketakutan.
Kalau kau berani cerita kepada siapa pun,” kata
Malfoy, “akan ada pembalasan. Kau tahu Fenrir Grey-
back? Dia teman keluarga kami. Dia akan datang dari
waktu ke waktu untuk memastikan kau memberikan
seluruh perhatianmu untuk masalah ini.”
“Tak perlu be —”
161
“Aku yang akan memutuskan,” kata Malfoy. “Nah,
aku sebaiknya pergi. Dan jangan lupa menyimpan
yang satu itu, aku akan membutuhkannya.”
“Mungkin kau mau membawanya sekarang?”
“Tidak, tentu saja tidak, dasar bego, mana mungkin
aku membawa-bawa itu sepanjang jalan? Jangan jual
itu.”
“Tentu saja tidak… Sir.”
Borgin membungkuk serendah bungkukan yang
Harry pernah lihat diberikannya kepada Lucius Malfoy.
“Jangan bilang kepada siapa pun, Borgin, termasuk
ibuku, mengerti?”
“Tentu, tentu,” gumam Borgin, membungkuk lagi.
Saat berikutnya, keliningan di atas pintu berdenting
keras ketika Malfoy melangkah keluar dari toko, tam-
pak sangat berpuas diri. Dia lewat sangat dekat de-
ngan Harry, Ron, dan Hermione sehingga mereka
merasakan Jubah bergetar di sekitar lutut mereka
lagi. Di dalam toko Borgin tetap berdiri membeku,
senyum pura-puranya telah menghilang; dia tampak
cemas.
“Apa itu tadi?” bisik Ron, menggulung kembali
Telinga Terjulur-nya.
“Entahlah,” kata Harry, berpikir keras. “Dia mau
memperbaiki sesuatu… dan dia memesan sesuatu di
toko… bisakah kau melihat apa yang ditunjuknya
waktu dia bilang ‘yang satu itu’?”
“Tidak, dia di belakang lemari—”
“Kalian berdua tunggu di sini,” bisik Hermione.
“Apa yang akan kau—?”
Namun Hermione sudah menyelinap keluar dari
162
bawah Jubah. Dia memeriksa rambutnya dalam ba-
yangan di kaca, kemudian masuk ke toko, membuat
keliningannya berbunyi lagi. Ron buru-buru menyelip-
kan lagi Telinga Terjulur ke bawah pintu dan mem-
berikan salah satu benangnya kepada Harry.
“Halo, pagi yang suram ya?” Hermione menyapa
riang Borgin, yang tidak menjawab, melainkan melem-
par pandang curiga kepadanya. Bersenandung riang,
Hermione berjalan melihat-lihat barang-barang yang
dipajang di toko.
“Apa kalung ini dijual?” dia bertanya, berhenti di
sebelah lemari kaca.
“Kalau aku punya seribu lima ratus Galleon,” jawab
Borgin dingin.
“Oh—er—tidak, aku tak punya uang sebanyak itu,”
kata Hermione, meneruskan berjalan. “Dan… bagai-
mana dengan tengkorak yang—um—cantik ini?”
“Enam belas Galleon.”
“Jadi ini dijual? Tidak di… simpan untuk seseorang?”
Borgin menyipit memandangnya. Harry mendapat
perasaan tak enak Borgin tahu apa yang sedang di-
lakukan Hermione. Rupanya Hermione juga merasa
dia sudah ketahuan, karena mendadak dia mengabai-
kan sikap berhati-hatinya.
“Soalnya—er—pemuda yang tadi di sini, Draco
Malfoy, yah, dia teman saya, dan saya ingin membeli-
kan hadiah ulang tahun untuknya, tapi kalau dia
sudah memesan sesuatu, jelas saya tak ingin membeli-
kaunya barang yang sama, jadi… um…”
Cerita yang lemah, menurut pendapat Harry, dan
rupanya Borgin juga beranggapan sama.
163
“Keluar,” katanya tajam. “Keluar!”
Hermione tak perlu disuruh dua kali. Dia bergegas
ke pintu, dibuntuti Borgin. Setelah keliningan berden-
ting lagi, Borgin membanting pintu di belakang
Hermione dan memasang tanda “Tutup”.
“Ah ya,” kata Ron, mengerubungkan Jubah ke atas
Hermione. “Layak dicoba, tapi kau agak kentara—”
“Lain kali beritahu aku bagaimana caranya, Ahli
Misteri!” bentak Hermione.
Ron dan Hermione cekcok sepanjang perjalanan
pulang ke Sihir Sakti Weasley. Di depan toko lelucon
itu mereka terpaksa berhenti cekcok, agar bisa tanpa
terdeteksi melewati Mrs Weasley yang wajahnya sa-
ngat cemas dan Hagrid, yang rupanya sudah menya-
dari mereka tak ada. Begitu sudah dalam toko, Harry
menarik Jubah Gaib-nya, menyimpannya dalam tas-
nya, dan bergabung dengan dua sahabatnya ketika
mereka bertahan, sebagai jawaban atas tuduhan Mrs
Weasley, bahwa mereka selama itu berada di ruang
belakang, dan bahwa Mrs Weasley mungkin kurang
teliti mencari.
164
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ARRY menghabiskan sebagian besar minggu
terakhir liburannya merenungkan makna
tingkah laku Malfoy di Knockturn Alley. Yang paling
mengganggunya adalah ekspresi berpuas diri Malfoy
ketika dia meninggalkan toko. Yang bisa membuat
Malfoy tampak begitu senang pastilah bukan berita
bagus. Harry sedikit kesal, karena baik Ron maupun
Hermione tidak sepenasaran dia tentang kegiatan
Malfoy; atau paling tidak, mereka tampaknya menjadi
bosan membicarakannya setelah lewat beberapa hari.
“Ya, aku sudah setuju itu mencurigakan, Harry,”
kata Hermione agak tak sabar. Dia sedang duduk di
ambang jendela di kamar Fred dan George dengan
kaki ditumpangkan di atas salah satu kotak dan hanya
mengangkat muka satu kali dengan enggan dari buku
165
barunya Terjemahan Rune Tingkat Lanjut. “Tapi bukan-
kah kita sudah sepakat bisa banyak penjelasannya?”
“Barangkali Tangan Kemuliaan-nya patah,” kata Ron
sambil lalu, selagi dia berusaha meluruskan ranting-
ranting sapunya yang bengkok. “Ingat tangan keriput
milik Malfoy?”
“Tapi apa maksudnya waktu dia bilang ‘Jangan
lupa menyimpan yang itu’?” tanya Harry untuk ke-
sekian kalinya. “Bagiku kedengarannya Borgin punya
satu lagi barang seperti yang rusak, dan Malfoy meng-
inginkan dua-duanya.”
“Menurutmu begitu?” kata Ron, sekarang berusaha
mengerik kotoran dari gagang sapunya.
“Yeah,” kata Harry. Ketika Ron maupun Hermione
tidak menjawab, dia berkata, “Ayah Malfoy di
Azkaban. Tidakkah kalian pikir dia ingin balas den-
dam?”
Ron mengangkat muka, mengerjap.
“Malfoy, balas dendam? Apa yang bisa dilakukan-
nya?”
“Justru itu masalahnya, aku tak tahu!” kata Harry,
frustrasi. “Tapi dia akan melakukan sesuatu dan kurasa
kita harus menanggapinya dengan serius. Ayahnya
Pelahap Maut dan—”
Harry mendadak berhenti, matanya terpaku pada
jendela di belakang Hermione, mulutnya ternganga.
Pikiran mengejutkan baru saja terlintas di benaknya.
“Harry?” kata Hermione dengan suara cemas. “Ada
apa?”
“Bekas lukamu tidak sakit lagi, kan?” tanya Ron
gugup.
166
“Dia Pelahap Maut,” kata Harry perlahan. “Dia
menggantikan ayahnya sebagai Pelahap Maut!”
Sekejap hening, lalu Ron meledak tertawa.
“Malfoy? Dia baru enam belas tahun, Harry! Kaupikir
Kau-Tahu-Siapa akan mengizinkan Malfoy bergabung?”
“Rasanya tidak mungkin, Harry,” kata Hermione,
dengan suara tertahan. “Apa yang membuatmu ber-
pikir—?”
“Di Madam Malkin’s. Madam Malkin tidak menyen-
tuhnya, tapi dia berteriak dan menjauhkan tangannya
ketika Madam Malkin mau menggulung lengan jubah-
nya. Lengan kirinya. Dia sudah dicap dengan Tanda
Kegelapan.”
Ron dan Hermione saling pandang.
“Yah…” kata Ron, kedengarannya sama sekali tak
yakin.
“Menurutku dia hanya ingin keluar dari sana,
Harry,” kata Hermione.
“Dia menunjukkan sesuatu pada Borgin yang tak
dapat kita lihat,” Harry berkeras. “Sesuatu yang benar-
benar menakutkan Borgin. Tanda Kegelapan, aku
tahu—dia menunjukkan kepada Borgin dengan siapa
dia berurusan, kalian lihat sendiri bagaimana seriusnya
sikap Borgin terhadapnya!”
Ron dan Hermione kembali bertukar pandang.
“Aku tak yakin, Harry…”
“Yeah, aku masih berpendapat Kau-Tahu-Siapa tak
akan mengizinkan Malfoy bergabung…”
Kesal, namun yakin sepenuhnya dia benar, Harry
menyambar setumpuk jubah Quidditch kotor dan me-
ninggalkan ruangan. Mrs Weasley sudah berhari-hari
167
mendesak mereka agar tidak menunda mencuci dan
mengepak koper mereka sampai saat terakhir. Di
bordes Harry berpapasan dengan Ginny yang akan
ke kamarnya membawa setumpuk pakaian yang baru
dicuci.
“Mendingan jangan ke dapur sekarang,” Ginny
memperingatkannya. “Ada banyak Dahak.”
“Aku akan berhati-hati agar tidak terpeleset,” se-
nyum Harry.
Ternyata benar, ketika dia masuk ke dapur, Fleur
sedang duduk di atas meja dapur, seru membicarakan
rencana pernikahannya dengan Bill, sementara Mrs
Weasley mengawasi setumpuk taoge yang mengupas-
sendiri, wajahnya tampak berang.
“…Bill dan saya sudah ‘ampir memutuskan dua
pengiring saja, Ginny dan Gabrielle akan tampak sa-
ngat manis berdua. Saya. pikir mereka bagus pakai
emas pucat—soalnya pink tidak cocok untuk rambut
Ginny—”
“Ah, Harry!” kata Mrs Weasley keras-keras, memo-
tong monolog Fleur. “Bagus, aku mau menjelaskan
soal pengaturan pengamanan untuk perjalanan ke
Hogwarts besok pagi. Kita mendapat pinjaman mobil
Kementerian lagi, dan akan ada Auror menunggu di
stasiun—”
“Apakah Tonks akan ada di sana?” tanya Harry,
mengulurkan seragam Quidditch-nya.
“Tidak, kurasa tidak, dia ditugaskan di tempat lain,
kata Arthur.”
“Dia membiarkan dirinya berantakan, si Tonks,” kata
Fleur merenung, mengamati bayangannya sendiri yang
168
cantik di balik sendok teh. “Kesalahan besar, menurut
sa—”
“Ya, terima kasih,” kata Mrs Weasley masam, me-
nyela Fleur lagi. “Lebih baik kau mulai berkemas,
Harry. Aku mau koper sudah siap malam ini, kalau
mungkin, jadi kita tak usah ribut pada menit-menit
terakhir.”
Ternyata keberangkatan mereka pagi berikutnya le-
bih lancar daripada biasanya. Ketika mobil Kemen-
terian berhenti di depan The Burrow, mereka sudah
siap menunggu, bersama koper-koper mereka, kucing
Hermione, Crookshanks, sudah aman berada dalam
keranjang perjalanannya, dan Hedwig, burung hantu
Ron, Pigwidgeon, serta Pygmy Puff baru Ginny yang
berwarna ungu, Arnold, dalam sangkar masing-
masing.
“Au revoir, ‘Arry,” kata Fleur dengan suara serak-
serak basah, seraya memberinya kecupan selamat ting-
gal. Ron bergegas maju, wajahnya penuh harap, na-
mun Ginny menyorongkan kakinya dan Ron terjatuh,
terjerembap di tanah di kaki Fleur. Marah, wajahnya
merah padam, dan berlumur debu, Ron bergegas
masuk mobil tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Tak ada Hagrid yang ceria menunggu mereka di
Stasiun King’s Cross. Alih-alih Hagrid, dua Auror ber-
jenggot, berwajah suram, memakai setelan jas Muggle
berwarna gelap, langsung maju menyongsong begitu
mobil mereka berhenti dan, mengapit rombongan,
mengawal mereka ke dalam stasiun tanpa bicara.
“Cepat, cepat, melewati palang rintangan,” kata Mrs
Weasley, yang tampak agak bingung dengan adanya
169
efisiensi yang keras ini. “Harry sebaiknya masuk dulu,
dengan—”
Dia menoleh dengan tatapan bertanya kepada salah
satu Auror, yang mengangguk singkat, menyambar
lengan Harry dan berusaha membawanya ke arah
palang di antara peron sembilan dan sepuluh.
“Aku bisa jalan, terima kasih,” kata Harry jengkel,
menyentakkan lepas lengannya dari pegangan si
Auror. Dia mendorong trolinya ke penghalang padat,
mengabaikan pengawalnya yang tidak bersuara, dan
sedetik kemudian sudah berada di peron sembilan
tiga perempat, tempat Hogwarts Express yang ber-
warna merah menunggu, menyemburkan asap di atas
kerumunan orang-orang.
Hermione dan keluarga Weasley menyusulnya be-
berapa detik kemudian. Tanpa menunggu berkonsultasi
dengan Auror-nya yang berwajah-suram, dia memberi
isyarat kepada Ron dan Hermione agar mengikutinya
ke peron, mencari kompartemen kosong.
“Kami tak bisa, Harry,” kata Hermione, tampak
menyesal. “Ron dan aku harus ke gerbong prefek
dulu dan kemudian berpatroli di koridor-koridor se-
bentar.”
“Oh yeah, aku lupa,” kata Harry.
“Kalian semua sebaiknya segera naik ke kereta,
tinggal beberapa menit lagi,” kata Mrs Weasley, melihat
arlojinya. “Nah, semoga semester ini menyenangkan,
Ron…”
“Mr Weasley, boleh saya bicara sebentar?” kata
Harry, yang mendadak mengambil keputusan.
“Tentu,” kata Mr Weasley, yang tampak agak ter-
170
kejut, namun toh mengikuti Harry sampai di luar
jangkauan pendengaran yang lain.
Harry sudah memikirkannya baik-baik dan sampai
pada kesimpulan bahwa, jika dia harus bercerita ke-
pada seseorang, Mr Weasley-lah orang yang paling
tepat. Pertama, karena dia bekerja di Kementerian,
dan karena itu dalam posisi paling tepat untuk me-
lakukan penyelidikan lebih jauh, dan kedua, karena
Harry berpendapat tak terlalu banyak risiko Mr
Weasley akan meledak marah.
Dia bisa melihat Mrs Weasley dan si Auror berwajah-
suram melempar pandang curiga kepada mereka ber-
dua ketika mereka menjauh.
“Ketika kita di Diagon Alley—” Harry mulai, tapi
Mr Weasley menyelanya dengan menyeringai.
“Apakah aku akan diberitahu ke mana kau, Ron,
dan Hermione menghilang sementara mestinya kalian
berada di ruang belakang toko Fred dan George?”
“Bagaimana Anda—?”
“Harry, sudahlah. Kau bicara dengan orang yang
membesarkan Fred dan George.”
“Er… yeah, baiklah, kami tidak berada di ruang
belakang.”
“Baik, kalau begitu, marilah kita dengar yang ter-
buruk.”
“Yah, kami membuntuti Draco Malfoy. Kami meng-
gunakan Jubah Gaib saya.”
“Apa kau punya alasan khusus melakukan ini, atau
hanya sekadar iseng?”
“Karena saya mengira Malfoy merencanakan se-
suatu,” kata Harry, mengabaikan pandangan Mr
171
Weasley yang menyiratkan campuran putus asa dan
geli. “Dia kabur dari ibunya dan saya ingin tahu
kenapa.”
“Tentu kau ingin tahu,” kata Mr Weasley, kede-
ngarannya menyerah. “Nah? Apakah kau berhasil tahu
kenapa?”
“Dia ke Borgin and Burkes,” kata Harry, “dan meng-
ancam pemiliknya, Borgin, untuk membantunya mem-
betulkan sesuatu. Dan dia mengatakan dia ingin
Borgin menyimpan sesuatu yang lain untuknya. Ke-
dengarannya barang yang sama seperti yang perlu
diperbaiki. Sepertinya dua barang itu sepasang. Dan…”
Harry menarik napas dalam-dalam.
“Ada yang lain. Kami melihat Malfoy melompat
menjauh ketika Madam Malkin mencoba menyentuh
lengan kirinya. Saya rasa dia sudah dicap dengan
Tanda Kegelapan. Saya rasa dia menggantikan ayahnya
sebagai Pelahap Maut.”
Mr Weasley tampak kaget. Selewat beberapa saat
dia berkata, “Harry, aku meragukan apakah Kau-Tahu-
Siapa akan mengizinkan anak berumur enam belas
tahun—”
“Apakah ada orang yang betul-betul tahu apa yang
akan atau tidak akan dilakukan Kau-Tahu-Siapa?” ta-
nya Harry berang. “Mr Weasley, saya minta maaf,
tapi apakah itu tidak cukup berharga untuk diselidiki?
Jika Malfoy menginginkan sesuatu diperbaiki dan dia
harus mengancam Borgin untuk melakukannya, ba-
rangkali itu sesuatu yang ada hubungannya dengan
Ilmu Hitam atau berbahaya, kan?”
“Aku sangsi, jujur saja, Harry,” kata Mr Weasley
172
perlahan. “Soalnya waktu Lucius Malfoy ditangkap,
kami menggeiedah rumahnya. Kami mengambil semua
yang bisa berbahaya.”
“Siapa tahu ada yang ketinggalan,” kata Harry ban-
del.
“Yah, mungkin juga,” kata Mr Weasley, namun Harry
tahu dia berkata begitu sekadar menyenangkannya.
Terdengar peluit kereta di belakang mereka. Hampir
semua sudah naik ke kereta dan pintu-pintunya mulai
menutup.
“Sebaiknya kau bergegas,” kata Mr Weasley, semen-
tara Mrs Weasley berteriak, “Harry, cepat!”
Harry bergegas dan Mr dan Mrs Weasley mem-
bantunya mengangkat kopernya ke kereta.
“Nah, Nak, kau akan datang di rumah kami untuk
merayakan Natal. Sudah diatur dengan Dumbledore,
jadi kami akan bertemu denganmu tak lama lagi,”
kata Mrs Weasley lewat jendela, ketika Harry memban-
ting pintu di belakangnya dan kereta mulai bergerak.
“Jaga dirimu baik-baik dan—”
Kereta bertambah cepat.
“—jangan nakal dan—”
Mrs Weasley sekarang berlarian mengejar kereta.
“—jangan ambil risiko!”
Harry melambai sampai kereta berbelok dan Mr
dan Mrs Weasley menghilang dari pandangan, kemu-
dian berbalik untuk melihat yang lain ke mana. Ron
dan Hermione pastilah ada di gerbong prefek, tetapi
Ginny tak jauh di depannya, sedang mengobrol de-
ngan beberapa temannya. Dia mendekati Ginny, me-
nyeret kopernya.
173
Anak-anak memandangnya tanpa malu-malu ketika
dia mendekat. Mereka bahkan menempelkan wajah
ke jendela kompartemen mereka agar bisa melihatnya.
Harry sudah menduga jumlah pandangan melongo
dan terpesona yang akan diterimanya akan meningkat
semester ini setelah munculnya desas-desus “Sang
Terpilih” dalam Daily Prophet, namun dia tidak me-
nikmati sensasi berada dalam lampu sorot yang ke-
lewat terang. Dia menepuk bahu Ginny.
“Kita cari kompartemen yuk?”
“Aku tak bisa, Harry, aku sudah janjian dengan
Dean,” kata Ginny ceria. “Sampai nanti.”
“Baiklah,” kata Harry. Dia merasakan denyut kejeng-
kelan yang aneh ketika Ginny pergi, rambut merahnya
yang panjang menari-nari di belakangnya. Harry su-
dah terbiasa dengan keberadaan Ginny selama musim
panas, sehingga dia hampir lupa bahwa Ginny tidak
bergaul dengan dia, Ron, dan Hermione di sekolah.
Kemudian dia mengerjap dan memandang berkeliling:
dia dikelilingi cewek-cewek yang terpesona.
“Hai, Harry!” kata suara yang sudah dikenalnya
dari belakangnya.
“Neville!” kata Harry lega, menoleh melihat seorang
cowok bermuka-bundar bersusah payah mendekati-
nya.
“Halo, Harry,” kata seorang cewek berambut pan-
jang dengan mata redup menonjol yang ada di bela-
kang Neville.
“Luna, apa kabar?”
“Baik sekali, terima kasih,” kata Luna. Dia meng-
genggam majalah di dadanya; huruf besar-besar di
174
sampul majalah itu mengumumkan bahwa ada hadiah
kacamata-hantu di dalamnya.
“The Quibbler masih laris?” tanya Harry, yang me-
miliki perasaan suka khusus untuk majalah itu, yang
tahun lalu diberinya wawancara eksklusif.
“Oh ya, tirasnya naik terus,” kata Luna senang.
“Ayo kita cari tempat duduk,” ajak Harry, dan
ketiganya berjalan sepanjang kereta melewati gerom-
bolan anak-anak yang memandang kagum Harry.
Akhirnya mereka menemukan kompartemen kosong
dan Harry bergegas masuk dengan bersyukur.
“Mereka bahkan memandang kami,” kata Neville,
menunjuk dirinya dan Luna, “karena kami bersama-
mu!”
“Mereka memandang kalian karena kalian ada di
Kementerian juga,” kata Harry, seraya menaikkan
kopernya ke rak bagasi. “Petualangan kecil kita ditulis
besar-besaran di Daily Prophet, kalian pasti sudah me-
lihatnya.”
“Ya, tadinya kupikir Nenek akan marah dengan
adanya segala publisitas itu,” kata Neville, “tapi ter-
nyata dia malah senang betul. Dia bilang aku mulai
seperti ayahku akhirnya. Dia membelikanku tongkat
sihir baru, lihat!”
Neville mengeluarkan tongkat sihirnya dan memper-
lihatkannya kepada Harry.
“Kayu ceri dan rambut unicorn,” katanya bangga.
“Dugaan kami ini salah satu tongkat sihir terakhir
yang dijual Ollivander, dia menghilang hari berikut-
nya—oi, balik sini, Trevor!”
Dan Neville masuk ke kolong tempat duduknya
175
untuk mengambil kembali kataknya yang memang
sering kabur mencari kebebasan.
“Apa kita masih mengadakan pertemuan LD tahun
ini, Harry?” tanya Luna, melepas kacamata pengubah-
persepsi dari tengah The Quibbler.
“Tak perlu lagi sekarang, kita sudah menyingkirkan
Umbridge, kan?” kata Harry, duduk. Kepala Neville
terbentur tempat duduk ketika dia muncul dari ba-
wahnya. Dia tampak kecewa sekali.
“Aku suka LD! Aku belajar banyak denganmu!”
“Aku juga menikmati pertemuan LD,” kata Luna
tulus. “Rasanya seperti punya teman.”
Ini salah satu hal kurang enak yang sering Luna
ucapkan dan yang membuat Harry merasa kasihan
bercampur malu. Namun sebelum dia sempat men-
jawab, ada gangguan di depan pintu kompartemen
mereka. Serombongan anak perempuan kelas empat
berbisik-bisik dan cekikikan di balik kaca.
“Kau yang bilang!”
“Tidak, kau!”
“Biar aku saja!”
Dan salah satu dari mereka, seorang anak perem-
puan bertampang-berani dengan mata besar hitam,
dagu menonjol, dan rambut panjang hitam, masuk.
“Hai, Harry, aku Romilda. Romilda Vane,” katanya
keras dan percaya diri. “Bagaimana kalau kau ber-
gabung dengan kami di kompartemen kami? Kau
tidak perlu duduk dengan mereka,” dia menambahkan
dalam bisikan panggung, menunjuk pantat Neville,
yang nongol lagi dari bawah tempat duduk sementara
dia meraba-raba mencari Trevor, dan Luna, yang seka-
176
rang memakai kacamata-hantu gratisnya, yang mem-
buatnya tampak seperti burung hantu gila, multi-
warna.
“Mereka temanku,” kata Harry dingin.
“Oh,” kata cewek itu, tampak sangat keheranan.
“Oh, oke.”
Dan dia keluar, menggeser pintu menutup di bela-
kangnya.
“Orang-orang mengira temanmu lebih hebat dari-
pada kami,” kata Luna, sekali lagi memperlihatkan
kecakapannya mengutarakan kejujuran yang membuat
rikuh.
“Kalian hebat,” kata Harry pendek. “Tak seorang
pun dari mereka berada di Kementerian. Mereka tidak
bertarung bersamaku.”
“Ucapanmu sangat menyenangkan,” kata Luna ber-
seri-seri, dan dia mendorong kacamatanya lebih tinggi
di atas hidung, lalu duduk untuk membaca The
Quibbler.
“Kami tidak menghadapinya, tapi,” kata Neville,
muncul dari bawah tempat duduk dengan sawang
dan debu di rambutnya dan Trevor yang bertampang-
menyerah di tangannya. “Kau yang menghadapinya.
Coba kalau kau mendengar nenekku ngomongin kau.
‘Si Harry Potter itu punya keberanian lebih besar daripada
seluruh Kementerian Sihir bersama-sama!’ Dia bersedia
memberikan apa saja untuk bisa punya cucu kau…”
Harry tertawa rikuh dan mengganti topik ke hasil
OWL sesegera mungkin. Sementara Neville menyebut-
kan nilai-nilainya dan bertanya sendiri apakah dia
akan diizinkan mengambil Transfigurasi NEWT dengan
177
nilai hanya “Cukup”, Harry mengawasinya tanpa
benar-benar mendengarkan.
Masa kanak-kanak Neville telah dirusak oleh Volde-
mort, sama seperti Harry, tetapi Neville sama sekali
tak tahu betapa nyarisnya dia memiliki takdir seperti
Harry. Ramalan itu bisa mengacu ke salah satu dari
mereka berdua, namun, untuk alasan yang tak bisa
diduga, Voldemort telah memilih memercayai bahwa
Harry-lah yang dimaksud oleh ramalan itu.
Seandainya Voldemort memilih Neville, dialah yang
akan duduk di seberang Harry dengan bekas luka
berbentuk sambaran petir dan memikul beban ra-
malan… atau akan begitukah? Bersediakah ibu Neville
mati untuk menyelamatkannya, seperti Lily telah mati
demi Harry?
Pasti dia bersedia… tapi bagaimana jika dia tidak
sanggup berdiri di antara putranya dan Voldemort?
Apakah, kalau begitu, tak akan ada “Sang Terpilih”?
Tempat duduk yang sekarang diduduki Neville kosong
dan Harry yang tanpa bekas luka, yang akan diberi
ciuman selamat tinggal oleh ibunya sendiri, bukan
oleh ibu Ron?
“Kau tak apa-apa, Harry? Tampangmu aneh,” kata
Neville.
Harry kaget.
“Sori—aku—”
“Kena Wrackspurt?” tanya Luna penuh simpati, me-
mandang Harry dari balik kacamata warna-warninya
yang superbesar.
“Aku—kena apa?”
“Wrackspurt… mereka tidak kelihatan, mereka me-
178
layang masuk lewat telingamu dan membuat otakmu
kabur,” katanya. “Tadi kayaknya aku merasa ada satu
yang beterbangan di sekitar sini.”
Tangannya menampar-nampar udara kosong, seakan
memukuli ngengat besar yang tak kelihatan. Harry
dan Neville saling pandang dan buru-buru bicara
soal Quidditch.
Cuaca di luar jendela kereta berubah-ubah, sama
seperti keadaan sepanjang musim panas. Mereka me-
lewati hamparan kabut dingin, kemudian cahaya mata-
hari yang terang, tapi lemah. Dalam salah satu cuaca
terang, ketika matahari kelihatan hampir tegak di atas
kepala, Ron dan Hermione akhirnya memasuki kom-
partemen.
“Mudah-mudahan troli makan siangnya cepat da-
tang, aku lapar banget,” kata Ron penuh harap, meng-
enyakkan diri di tempat duduk di sebelah Harry dan
mengusap-usap perutnya. “Hai, Neville, hai, Luna.
Coba tebak?” dia menambahkan, menoleh kepada
Harry. “Malfoy tidak bertugas sebagai prefek. Dia
cuma duduk di kompartemennya dengan anak-anak
Slytherin yang lain, kami melihatnya waktu lewat
tadi.”
“Apa yang dilakukannya waktu melihat kalian?”
“Biasa,” kata Ron tak acuh, mendemonstrasikan ge-
rakan tangan tidak sopan. “Tidak seperti biasanya,
kan? Yah—maksudku—” Ron melakukan gerakan ta-
ngan yang tadi lagi, “kenapa dia tidak keluar menakut-
nakuti anak-anak kelas satu?”
“Entahlah,” kata Harry, namun otaknya sibuk. Bu-
kankah ini sepertinya ada hal penting lain di pikiran
179
Malfoy daripada menakut-nakuti murid-murid yang
lebih kecil?
“Mungkin dia lebih suka jadi anggota Regu Inkuisi-
torial,” kata Hermione. “Mungkin prefek jadi kurang
seru dibanding itu.”
“Kurasa tidak,” kata Harry. “Menurut pendapatku
dia—”
Namun sebelum Harry bisa membeberkan teorinya,
pintu kompartemen menggeser terbuka lagi dan se-
orang anak perempuan kelas tiga terengah masuk.
“Aku diminta mengantar ini untuk Neville Long-
bottom dan Harry P-Potter,” katanya gugup, ketika
matanya bertatapan dengan mata Harry dan wajahnya
berubah merah padam. Dia mengulurkan dua gu-
lungan perkamen yang diikat pita ungu. Bingung,
Harry dan Neville mengambil gulungan yang di-
alamatkan kepada mereka masing-masing dan si gadis
gugup meninggalkan kompartemen.
“Apa itu?” tuntut Ron, ketika Harry membuka gu-
lungan perkamennya.
“Undangan,” kata Harry.
“Harry,
Aku akan senang kalau kau bersedia bergabung
makan siang denganku di kompartemen C.
Salamku,
“Siapa Profesor Slughorn?” tanya Neville, meman-
dang bingung undangannya.
180
“Guru baru,” kata Harry. “Yah, kurasa kita harus ke
sana, kan?”
“Tapi buat apa dia menginginkan aku hadir?” tanya
Neville gugup, seakan dia akan menerima detensi.
“Entahlah,” kata Harry, yang tidak sepenuhnya be-
nar, meskipun dia belum punya bukti apakah dugaan-
nya betul. “Dengar,” dia menambahkan, mendadak
mendapat ide, “yuk kita ke sana dengan Jubah Gaib,
supaya kita bisa melongok Malfoy di jalan, melihat
apa yang akan dilakukannya.”
Ternyata ide ini tak bisa dilaksanakan. Koridor pe-
nuh anak-anak yang sedang menanti troli makan
siang. Tak mungkin berjalan di antara mereka memakai
Jubah. Dengan menyesal Harry menyimpan kembali
Jubah-nya ke dalam tas, membayangkan sungguh me-
nyenangkan memakainya, hanya untuk menghindari
tatapan anak-anak, yang kini semakin menjadi-jadi.
Di mana-mana anak-anak berlarian keluar dari kom-
partemennya, agar bisa melihatnya lebih jelas. Satu-
satunya perkecualian hanyalah Cho Chang, yang ma-
lah langsung melesat ke dalam kompartemen ketika
melihat Harry mendekat. Ketika Harry melewati jen-
delanya, dilihatnya Cho sengaja ngobrol asyik dengan
temannya Marietta, yang memakai dandanan tebal
yang tidak sepenuhnya menyamarkan jajaran aneh
jerawat yang masih terpeta di wajahnya. Menyeringai
kecil, Harry meneruskan berjalan.
Ketika tiba di kompartemen C, mereka langsung
melihat bahwa yang diundang Slughorn bukan hanya
mereka berdua, meskipun dinilai dari sambutan antu-
181
sias Slughorn, Harry adalah yang paling diharapkan
kehadirannya.
“Harry, anakku!” kata Slughorn, melompat bangun
begitu melihat Harry, sehingga perut besarnya yang
terbungkus beludru seakan memenuhi sisa ruang da-
lam kompartemen. Kepala botaknya dan kumis perak-
nya yang besar berkilau dalam cahaya matahari sama
terangnya dengan kancing-kancing emas di rompinya.
“Senang melihatmu, senang melihatmu! Dan kau pasti
Mr Longbottom!”
Neville mengangguk, tampak ketakutan. Mengikuti
isyarat Slughorn, mereka duduk berhadapan di dua
kursi kosong yang tersisa, yaitu yang paling dekat
pintu. Harry mengedarkan pandang pada para un-
dangan yang lain. Dia mengenali anak Slytherin yang
seangkatan dengan mereka, anak laki-laki jangkung
berkulit hitam, dengan tulang pipi tinggi dan mata
panjang sipit; juga ada dua anak laki-laki kelas tujuh
yang tidak dikenal Harry, dan terimpit di sudut di
sebelah Slughorn dan tampak seakan dia tak yakin
sepenuhnya kenapa dia bisa berada di sana, Ginny.
“Nah, kalian sudah kenal semuanya?” Slughorn me-
nanyai Harry dan Neville. “Blaise Zabini di tingkat
yang sama dengan kalian, tentu—”
Zabini tidak menunjukkan tanda-tanda mengenali
ataupun menyapa, Harry dan Neville pun tidak. Anak-
anak Gryffindor dan Slytherin pada prinsipnya saling
membenci.
“Ini Cormac McLaggen, mungkin kalian pernah
bertemu—? Belum?”
McLaggen, seorang pemuda bertubuh besar dan
182
berambut-kawat, mengangkat tangan dan Harry dan
Neville membalas mengangguk kepadanya.
“—dan ini Marcus Belby, aku tak tahu apakah—?”
Belby, yang kurus dan bertampang-gugup, terse-
nyum tegang.
“—dan gadis sangat menarik ini mengatakan dia
mengenal kalian?” Slughorn mengakhiri perkenalan-
nya.
Ginny menyeringai kepada Harry dan Neville dari
balik punggung Slughorn.
“Wah, ini menyenangkan sekali,” kata Slughorn
gembira. “Kesempatan untuk mengenal kalian sedikit
lebih baik. Ini, silakan ambil serbet. Aku sudah me-
nyiapkan makan siang sendiri. Troli, seingatku, banyak
Tongkat Likor-nya, dan sistem pencernaan orang tua
yang malang tak cukup kuat untuk makanan semacam
itu… kalkun, Belby?”
Belby tersentak, dan menerima apa yang tampak
seperti separo kalkun dingin.
“Aku tadi sedang memberitahu si Marcus ini bahwa
aku senang mengajar pamannya Damocles,” Slughorn
memberitahu Harry dan Neville, sambil sekarang
mengedarkan sekeranjang roti. “Penyihir luar biasa,
luar biasa, dan Order of Merlin-nya memang layak
sekali diterimanya. Kau sering bertemu pamanmu,
Marcus?”
Celakanya Belby baru saja menyuap sepotong besar
kalkun. Dalam ketergesaannya menjawab Slughorn
dia menelan terlalu cepat, tersedak, dan wajahnya
berubah ungu.
“Anapneo,” kata Slughorn tenang, mengacungkan
183
tongkat sihirnya ke arah Belby, yang tenggorokannya
langsung lega.
“Tidak… tidak sering, tidak,” sengal Belby, matanya
berair.
“Yah, maklum, pasti dia sibuk,” kata Slughorn, me-
mandang Belby ingin tahu. “Tentunya dia perlu kerja
keras sewaktu menciptakan Ramuan Kutukan-Seri-
gala!”
“Saya kira…” kata Belby, yang kelihatannya takut
menyuap kalkun lagi sebelum yakin Slughorn sudah
selesai dengannya. “Er… sebetulnya Paman dan ayah
saya tidak begitu rukun, jadi saya tak tahu banyak
tentang…”
Suaranya menghilang ketika Slughorn memberinya
senyum dingin dan beralih menoleh ke McLaggen.
“Nah, kau, Cormac,” kata Slughorn, “kebetulan aku
tahu kau sering bertemu pamanmu Tiberius, karena
dia punya foto bagus kalian berdua sedang berburu
Nogtails di Norfolk, kalau tak salah?”
“Oh, yeah, perburuan yang sangat menyenangkan,”
kata McLaggen. “Kami pergi dengan Bertie Higgs
dan Rufus Scrimgeour—sebelum dia menjadi Menteri,
tentu—”
“Ah, kau kenal Bertie dan Rufus juga?” wajah
Slughorn berseri. Sekarang dia menawarkan senampan
kecil pai; entah bagaimana, Belby tidak ditawari. “Ce-
ritakan padaku…”
Ternyata kecurigaan Harry benar. Semua orang di
sini rupanya diundang karena mereka ada hubungan-
nya dengan orang yang penting atau punya pengaruh
besar—semuanya kecuali Ginny. Zabini, yang diintero-
184
gasi setelah McLaggen, ternyata ibunya penyihir yang
kecantikannya tersohor (dari yang bisa disimpulkan
Harry, dia menikah tujuh kali, semua suaminya me-
ninggal secara misterius dan mewariskan beronggok
emas). Berikutnya giliran Neville: sepuluh menit yang
sangat tidak nyaman, karena orangtua Neville, Auror
terkenal, telah disiksa sampai menjadi gila oleh Bella-
trix Lestrange dan beberapa kroni Pelahap Maut-nya.
Pada akhir wawancara, Harry mendapat kesan bahwa
Slughorn menunda keputusan untuk Neville, masih
ingin melihat apakah dia mewarisi kecakapan orang-
tuanya.
“Dan sekarang,” kata Slughorn, tubuh gemuknya
bergerak di tempat duduknya dengan gaya seorang
pembawa acara yang memperkenalkan bintang utama-
nya. “Harry Potter! Mulai dari mana? Kurasa aku ham-
pir belum menyingkap permukaannya ketika kita ber-
temu musim panas lalu!”
Dia memandang Harry sejenak seolah Harry sepo-
tong besar kalkun yang lezat, kemudian berkata,
“‘Sang Terpilih’, begitu mereka menyebutmu seka-
rang!”
Harry diam saja. Belby, McLaggen, dan Zabini se-
mua memandangnya.
“Tentu saja,” kata Slughorn, menatap Harry lekat-
lekat, “sudah ada desas-desus selama bertahun-tahun…
aku ingat waktu—yah—setelah malam mengerikan itu—
Lily—James—dan kau selamat—dan berita yang ber-
edar adalah bahwa kau pastilah memiliki kekuatan
yang luar biasa—”
Zabini terbatuk kecil, yang jelas dimaksudkan me-
185
nyiratkan keraguan dan kegelian. Suara marah ter-
dengar dari belakang Slughorn.
“Yeah, Zabini, karena kau sangat berbakat… ber-
akting…”
“Wah, wah!” decak Slughorn senang, menoleh me-
mandang Ginny yang sedang mendelik kepada Zabini
dari balik perut besar Slughorn. “Hati-hati, Blaise!
Aku melihat gadis ini melakukan Kutukan Kepak-
Kelelawar yang hebat sekali waktu aku melewati ger-
bongnya! Kalau aku, aku tak berani membuatnya
marah!”
Zabini cuma tampak menghina.
“Bagaimanapun juga,” kata Slughorn, kembali berpa-
ling ke Harry. “Begitulah desas-desus yang beredar
musim panas ini. Tentu saja, kita tak tahu bisa di-
percaya atau tidak, Prophet sudah diketahui mencetak
data yang tidak benar, membuat kekeliruan—tapi tam-
paknya tak diragukan lagi, berhubung banyak saksi-
nya, bahwa memang terjadi keonaran cukup hebat di
Kementerian dan bahwa kau terlibat dalam peristiwa
itu!”
Harry, yang tak bisa melihat jalan keluar dari sini
kecuali berbohong, mengangguk namun tetap tidak
berkata apa-apa. Slughorn berseri-seri memandangnya.
“Sangat rendah hati, sangat rendah hati, pantas
Dumbledore sangat menyukaimu—kau memang di
sana, kalau begitu? Tapi cerita-cerita yang lain—sangat
sensasional, tentu saja, kita tak tahu lagi apa yang
bisa dipercaya—ramalan yang sangat terkenal ini,
misalnya—”
“Kami tidak pernah mendengar ramalan,” kata
186
Neville, merona semerah bunga geranium ketika
mengucapkannya.
“Itu betul,” kata Ginny mengukuhkan. “Neville dan
saya juga di sana, dan semua omong kosong ‘Sang
Terpilih’ ini cuma rekaan Prophet seperti biasanya.”
“Kalian berdua juga di sana?” kata Slughorn sangat
tertarik, bergantian memandang Ginny dan Neville,
namun keduanya sudah mengatup erat seperti kerang
di depan senyum membujuk Slughorn. “Ya… memang
benar Prophet sering membesar-besarkan, tentu saja…”
Slughorn melanjutkan, kedengarannya agak kecewa,
“Aku ingat dear Gwenog memberitahuku—Gwenog
Jones, maksudku, tentu, kapten Holyhead Harpies—”
Dia lalu panjang-lebar menceritakan kenangannya,
namun Harry mendapat kesan jelas bahwa Slughorn
belum selesai dengannya, dan bahwa dia belum di-
yakinkan oleh Neville dan Ginny.
Waktu terus berlalu dengan anekdot tentang para
penyihir terkenal yang pernah diajar Slughorn, semua-
nya dengan senang hati bergabung dalam kelompok
yang disebutnya “Klub Slug” di Hogwarts. Nama yang
konyol sebetulnya, mengingat kata “slug” yang dimak-
sudkan sebagai kependekan nama Slughorn ini bisa
juga berarti “siput”. Harry sudah tak sabar ingin
pergi, namun tak tahu bagaimana bisa melakukannya
dengan sopan. Akhirnya kereta muncul dari selubung
kabut panjang yang lain ke dalam merahnya matahari
terbenam, dan Slughorn memandang ke sekitarnya,
mengerjap dalam temaram senja.
“Astaga, sudah mulai gelap! Aku tidak memperhati-
kan mereka sudah menyalakan lampu! Kalian semua
187
sebaiknya pergi dan berganti memakai jubah kalian.
McLaggen, kau harus menemuiku dan meminjam
buku tentang Nogtails. Harry, Blaise—kapan saja kalian
lewat. Undangan yang sama untukmu, Nona,” dia
mengedip kepada Ginny “Nah, pergilah, pergilah!”
Ketika menyeruak mendahului Harry masuk koridor
yang mulai gelap, Zabini melempar pandang benci,
yang dibalas Harry dengan tertarik. Dia, Ginny, dan
Neville mengikuti Zabini berjalan sepanjang kereta.
“Aku senang pertemuan sudah selesai,” gumam
Neville. “Orang yang aneh, ya?”
“Yeah, agak aneh,” kata Harry, matanya terpancang
pada Zabini. “Bagaimana ceritanya kau bisa di sana,
Ginny?”
“Dia melihatku memantrai Zacharias Smith,” kata
Ginny, “kau ingat idiot dari Hufflepuff yang tadinya
ikut LD? Dia tanya terus tentang apa yang terjadi di
Kementerian dan akhirnya membuatku sebal sekali,
jadi kumantrai—waktu Slughorn masuk kupikir aku
mau didetensi, tapi ternyata dia menganggap itu man-
tra yang hebat sekali dan mengundangku makan
siang! Sinting, eh?”
“Alasan yang lebih baik untuk mengundang orang
daripada karena ibu mereka terkenal,” kata Harry,
memandang sebal ke arah belakang kepala Zabini,
“atau karena paman mereka—”
Namun dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Baru
saja ada ide melintas di benaknya. Ide sembrono,
tetapi sungguh luar biasa… sebentar lagi Zabini akan
kembali memasuki kompartemen anak-anak kelas
enam Slytherin dan Malfoy duduk di sana, mengira
188
dirinya tak didengar oleh siapa pun kecuali teman-
teman Slytherin-nya… jika Harry bisa masuk, tanpa
terlihat, di belakangnya, entah apa yang bisa dilihat
dan didengarnya? Betul, sisa perjalanan tinggal sing-
kat—paling setengah jam lagi mereka sudah tiba di
Stasiun Hogsmeade, kalau ditinjau dari liarnya peman-
dangan yang melintas di jendela—tapi tak ada orang
yang menganggap serius kecurigaan Harry, jadi tugas-
nyalah untuk membuktikannya.
“Kita ketemu lagi nanti,” desah Harry kepada Ginny
dan Neville, seraya menarik keluar Jubah Gaib dan
melemparnya menyelubungi dirinya.
“Tapi apa yang kau—?” tanya Neville.
“Nanti!” bisik Harry, melesat mengejar Zabini se-
bisa mungkin tanpa membuat suara, kendatipun de-
rak kereta membuat kehati-hatian semacam itu tak
perlu.
Koridor-koridor nyaris kosong sekarang. Hampir se-
mua anak sudah kembali ke gerbong mereka untuk
berganti jubah seragam sekolah dan membereskan
barang-barang mereka. Meskipun dia sudah sedekat
mungkin dengan Zabini tanpa menyentuhnya, Harry
tidak cukup cepat menyelinap ke dalam kompartemen
ketika Zabini membuka pintu. Zabini sudah menggeser
menutupnya ketika Harry buru-buru menjulurkan
kakinya untuk mencegah pintu menutup.
“Kenapa sih pintu ini?” kata Zabini berang sambil
berkali-kali membenturkan pintu geser itu ke kaki
Harry.
Harry menyambar pintu dan mendorongnya ter-
buka, keras; Zabini, yang masih memegang erat pe-
189
gangan pintu, terjatuh menyamping di pangkuan
Gregory Goyle dan, dalam kericuhan yang menyusul,
Harry melesat masuk ke dalam kompartemen, melom-
pat ke tempat duduk Zabini yang sementara masih
kosong, dan naik ke atas rak bagasi. Untunglah Goyle
dan Zabini saling bentak, membuat semua mata ter-
arah kepada mereka, karena Harry yakin kaki dan
pergelangan kakinya tampak ketika Jubah-nya me-
lambai. Malah, sesaat Harry ngeri ketika dia mengira
dia melihat mata Malfoy mengikuti sepatunya yang
melayang menghilang dari pandangan; namun kemu-
dian Geoyle membanting pintu menutup dan melem-
parkan Zabini dari pangkuannya. Zabini terpuruk di
atas tempat duduknya sendiri, tampak bingung.
Vincent Crabbe kembali membaca komiknya, dan
Malfoy, terkekeh, kembali berbaring di atas dua tempat
duduk dengan kepala di atas pangkuan Pansy
Parkinson. Harry berbaring meringkuk tak nyaman di
bawah Jubah-nya untuk memastikan setiap senti
tubuhnya tersembunyi dan mengawasi Pansy menyi-
bak rambut pirang licin Malfoy dari dahinya, seraya
menyeringai, seakan siapa pun ingin berada di tempat-
nya. Lentera-lentera yang berayun dari langit-langit
gerbong memancarkan cahaya terang, menyinari pe-
mandangan dalam kompartemen. Harry bisa membaca
semua kata dalam komik Crabbe yang persis di
bawahnya.
“Jadi, Zabini,” kata Malfoy, “apa yang diinginkan
Slughorn?”
“Cuma berusaha beramah-tamah dengan orang-
orang yang mempunyai koneksi bagus,” kata Zabini,
190
yang masih mendelik kepada Goyle. “Tidak berhasil
mendapatkan banyak sih.”
Informasi ini tampaknya tidak menyenangkan
Malfoy.
“Siapa lagi yang dia undang?” tuntutnya.
“McLaggen dari Gryffindor,” kata Zabini.
“Oh yeah, pamannya orang penting di Kemen-
terian,” kata Malfoy.
“—anak bernama Belby dari Ravenclaw—”
“Masa dia, dia kan bego!” kata Pansy.
“—dan Longbottom, Potter, dan cewek Weasley itu,”
Zabini mengakhiri informasinya.
Malfoy duduk mendadak, menyingkirkan tangan
Pansy.
“Dia mengundang Longbottom?”
“Yah, mestinya demikian, karena Longbottom ada
di sana,” kata Zabini tak acuh.
“Apa yang dipunyai Longbottom sampai Slughorn
tertarik?”
Zabini mengangkat bahu.
“Potter, Potter yang berharga, jelas dia ingin melihat
‘Sang Terpilih’,” seringai Malfoy, “tapi si cewek Weasley!
Apa istimewanya dia?”
“Banyak cowok yang suka padanya,” kata Pansy,
mengerling Malfoy dari sudut matanya untuk melihat
reaksinya. “Bahkan kau juga menganggap dia cantik,
kan, Blaise, dan kami semua tahu seleramu tinggi!”
“Aku tak akan sudi menyentuh pengkhianat ber-
darah kotor macam dia, seperti apa pun tampangnya,”
kata Zabini dingin, dan Pansy tampak puas. Malfoy
191
berbaring lagi di pangkuannya dan mengizinkannya
melanjutkan membelai rambutnya.
“Yah, aku kasihan pada Slughorn, seleranya rendah
begitu. Mungkin dia sudah pikun. Sayang, ayahku
selalu bilang dia dulu penyihir yang hebat. Ayahku
dulu favoritnya juga. Slughorn barangkali tidak men-
dengar aku ada di kereta, kalau tidak—”
“Jangan mengharap undangannya,” kata Zabini. “Dia
menanyaiku soal ayah Nott waktu aku baru tiba.
Mereka dulu berteman, rupanya, tapi ketika men-
dengar ayah Nott tertangkap di Kementerian, dia
tidak tampak senang, dan Nott tidak mendapat un-
dangan, kan? Kurasa Slughorn tidak tertarik pada
Pelahap Maut.”
Malfoy tampak murka, tapi memaksakan menge-
luarkan tawa garing.
“Yah, siapa yang peduli dia tertarik pada apa? Siapa
sih dia, coba? Cuma guru goblok.” Malfoy menguap
dengan sok. “Maksudku, aku mungkin malah sudah
tidak di Hogwarts tahun depan, apa peduliku kalau
ada guru tua gemuk suka padaku atau tidak?”
“Apa maksudmu, kau mungkin sudah tidak di
Hogwarts tahun depan?” tanya Pansy mendongkol,
langsung berhenti membelai Malfoy.
“Yah, siapa tahu,” kata Malfoy, tersenyum samar.
“Aku mungkin sudah—er—menangani hal-hal lebih
besar dan hebat.”
Meringkuk di atas rak bagasi di bawah Jubah-nya,
jantung Harry mulai berdebar keras. Apa yang akan
dikatakan Ron dan Hermione tentang ini? Crabbe
dan Goyle melongo memandang Malfoy, rupanya me-
192
reka sama sekali tak tahu soal rencana menangani
hal-hal lebih besar dan hebat. Bahkan wajah angkuh
Zabini kini dihiasi rasa ingin tahu. Pansy meneruskan
membelai pelan rambut Malfoy, tampak takjub.
“Maksudmu—Dia?”
Malfoy mengangkat bahu.
“Ibu menginginkan aku menyelesaikan sekolahku,
tapi aku sendiri, aku tidak menganggap itu begitu
perlu sekarang ini. Maksudku, coba pikirkan… kalau
Pangeran Kegelapan berkuasa, apakah dia akan peduli
berapa OWL atau NEWT yang kita dapat? Tentu saja
tidak… yang penting jenis pelayanan seperti apa yang
dia terima, tingkat kesetiaan yang ditunjukkan kepada-
nya.”
“Dan kaupikir kau bisa melakukan sesuatu untuk-
nya?” tanya Zabini pedas. “Enam belas tahun dan
bahkan belum berkualifikasi?”
“Bukankah baru kubilang? Barangkali dia tidak pe-
duli apakah aku berkualifikasi atau tidak. Barangkali
pekerjaan yang dia ingin kukerjakan bukan sesuatu
yang memerlukan kualifikasi,” kata Malfoy pelan.
Crabbe dan Goyle dua-duanya duduk dengan mulut
ternganga seperti gargoyle. Pansy memandang Malfoy
seakan belum pernah melihat sesuatu yang memesona-
kan seperti itu.
“Hogwarts sudah kelihatan,” kata Malfoy, kentara
benar menikmati efek yang ditimbulkannya ketika dia
menunjuk ke luar jendela yang gelap. “Lebih baik
kita pakai jubah kita.”
Harry terlalu sibuk mengawasi Malfoy, dia tidak
melihat Goyle mengambil kopernya; ketika dia meng-
193
ayunkannya ke bawah, koper itu menghantam keras
sisi kepala Harry. Harry mengeluarkan jerit kesakitan
tertahan dan Malfoy mendongak, mengernyit meman-
dang rak bagasi.
Harry tidak takut kepada Malfoy, namun dia tak
ingin ketahuan sedang bersembunyi di bawah Jubah
Gaib-nya oleh serombongan anak Slytherin yang tidak
ramah. Dengan mata masih berair dan kepala masih
berdenyut, dia mencabut tongkat sihirnya, berhati-
hati agar Jubah tidak tertarik, dan menunggu, dengan
napas tertahan. Betapa leganya dia, Malfoy tampaknya
memutuskan dia hanya membayangkan suara itu. Dia
memakai jubahnya seperti yang lain, menggembok
kopernya dan, selagi kereta bertambah pelan seperti
merayap, mengancingkan mantel bepergian baru yang
tebal di sekeliling lehernya.
Harry bisa melihat koridor-koridor dipenuhi anak-
anak lagi dan berharap Hermione dan Ron akan
membawakan barang-barangnya ke peron. Dia terpaksa
harus bertahan di tempatnya sampai kompartemen ini
kosong. Akhirnya, dengan sentakan terakhir, kereta
berhenti total. Goyle membuka pintu dan keluar menye-
ruak di antara rombongan anak-anak kelas dua, meninju
mereka agar minggir. Crabbe dan Zabini mengikuti.
“Kau keluar dulu,” Malfoy berkata kepada Pansy,
yang menunggunya dengan tangan terjulur, seakan
berharap Malfoy akan menggandengnya. “Aku mau
mengecek sesuatu.”
Pansy pergi. Sekarang Harry dan Malfoy hanya
berdua dalam kompartemen. Orang-orang lewat, turun
ke peron yang gelap. Malfoy bergerak ke pintu kom-
194
partemen dan menurunkan gordennya, sehingga
orang-orang di koridor tidak bisa mengintip ke dalam.
Dia kemudian membungkuk di atas kopernya dan
membukanya lagi.
Harry mengintip dari tepi rak bagasi, jantungnya
berdebar sedikit lebih cepat. Apa yang ingin disem-
bunyikan Malfoy dari Pansy? Apakah dia akan segera
melihat barang rusak misterius yang sangat penting
untuk diperbaiki?
“Petrificus Totalus!”
Tanpa diduga Malfoy mengacungkan tongkat
sihirnya kepada Harry, yang langsung lumpuh. Seperti
dalam gerakan pelan, dia terjungkal dari rak bagasi
dan jatuh, dengan debam keras menyakitkan, di kaki
Malfoy, Jubah Gaib terperangkap di bawahnya, seluruh
tubuhnya kelihatan dengan kaki masih terlipat cang-
gung dalam posisi meringkuk berlutut. Dia tak bisa
menggerakkan satu otot pun; dia hanya bisa meman-
dang Malfoy, yang tersenyum lebar.
“Sudah kuduga,” katanya girang. “Kudengar koper
Goyle menghantammu. Dan kupikir aku melihat ada
sesuatu yang putih melesat di udara setelah Zabini
kembali…” Matanya sejenak memandang sepatu Harry.
“Rupanya kau yang memblok pintu waktu Zabini
masuk?”
Dia memandang Harry beberapa saat.
“Kau tidak mendengar sesuatu yang penting, Potter.
Tapi mumpung kau di sini…”
Dan dia menginjak, kuat-kuat, wajah Harry. Harry
merasa tulang hidungnya patah, darah muncrat ke
mana-mana.
195
“Itu dari ayahku. Sekarang, kita lihat…”
Malfoy menarik Jubah dari bawah tubuh Harry
yang tak bergerak dan mengerudungkannya di atas-
nya.
“Kukira mereka tak akan menemukanmu sampai
kereta sudah tiba kembali di London,” katanya pelan.
“Sampai ketemu lagi, Potter… atau tidak.”
Dan dengan sengaja menginjak jari-jari tangan
Harry, Malfoy meninggalkan kompartemen.
196
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ARRY tak bisa menggerakkan satu otot pun.
Dia tergeletak di bawah Jubah Gaib-nya, me-
rasakan darah dari hidungnya mengalir, panas dan
basah, di atas wajahnya, mendengarkan suara-suara
dan langkah-langkah kaki di koridor. Dia langsung
berpikir pasti akan ada orang yang mengecek kompar-
temen-kompartemen sebelum kereta berangkat lagi.
Namun dia segera patah semangat menyadari bahwa,
sekalipun ada yang melongok ke dalam kompartemen,
orang itu tak akan melihat maupun mendengarnya.
Harapan satu-satunya hanyalah ada orang yang akan
masuk dan menginjaknya.
Belum pernah Harry membenci Malfoy sebesar saat
itu, ketika dia tergeletak seperti kura-kura yang terbalik
tak berdaya, darah menetes amis ke dalam mulutnya
197
yang terbuka. Sungguh konyol membuat dirinya ber-
ada dalam situasi semacam ini… dan sekarang sisa
langkah-langkah terakhir sudah semakin menjauh, se-
mua orang sudah berjalan di sepanjang peron yang
gelap di luar. Harry bisa mendengar seretan koper
dan celoteh anak-anak.
Ron dan Hermione akan menyangka dia sudah
turun dari kereta tanpa menunggu mereka. Saat me-
reka tiba di Hogwarts dan duduk di tempat mereka
di Aula Besar, mencari-cari di sepanjang meja Gryffin-
dor beberapa kali dan akhirnya menyadari bahwa dia
tidak ada, Harry tak diragukan lagi, sudah setengah
perjalanan menuju London.
Dia berusaha membuat suara, bahkan cuma dengkur,
namun tak berhasil. Kemudian dia ingat bahwa be-
berapa penyihir, seperti Dumbledore, bisa melakukan
mantra tanpa bicara, maka dia berusaha memanggil
tongkat sihirnya yang telah telempar dari tangannya,
dengan mengucapkan Accio tongkat! berulang-ulang
dalam benaknya, namun tak terjadi apa-apa.
Rasanya dia bisa mendengar gemerisik pepohonan
yang mengelilingi danau, dan bunyi uhu burung han-
tu di kejauhan, namun tak ada tanda-tanda sedang
diadakan pencarian, atau bahkan (dia merasa agak
hina mengharapkan ini) suara-suara panik memper-
tanyakan ke mana perginya Harry Potter. Perasaan
tak berdaya menjalarinya ketika dia membayangkan
konvoi kereta yang ditarik oleh Thestral bergerak
menuju sekolah dan gelak tawa yang terdengar dari
kereta yang dinaiki Malfoy. Di dalam kereta itu tentu
198
Malfoy akan menceritakan serangannya terhadap
Harry kepada teman-teman Slytherin-nya.
Kereta menyentak, menyebabkan Harry berguling
dan berbaring di sisi tubuhnya. Sekarang dia meman-
dang bagian bawah tempat duduk yang berdebu alih-
alih langit-langit. Hogwarts Express sudah akan
berangkat lagi dan tak seorang pun tahu dia masih di
atasnya…
Kemudian dia merasa Jubah Gaib-nya melayang
dari atas tubuhnya dan suara di atasnya berkata,
“Hai, Harry.”
Ada kilatan cahaya merah dan tubuh Harry bebas
dari kebekuan. Dia bisa mendorong dirinya ke posisi
duduk yang lebih bermartabat, buru-buru mengusap
darah dari wajahnya yang lebam dengan punggung
tangannya, dan mengangkat wajah memandang Tonks,
yang memegangi Jubah Gaib yang baru ditariknya.
“Kita sebaiknya turun, cepat-cepat,” kata Tonks, ke-
tika jendela-jendela kereta mulai suram terkena asap
dan kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun. “Ayo,
kita lompat.”
Harry bergegas mengikutinya ke koridor. Tonks
membuka pintu kereta dan melompat ke peron, yang
rasanya meluncur di bawah mereka sementara kereta
semakin cepat. Harry mengikutinya, terhuyung sedikit
ketika mendarat, kemudian menegakkan diri, dan ma-
sih sempat melihat kereta uap yang merah berkilat
itu meluncur, membelok di sudut, dan menghilang
dari pandangan.
Angin malam yang dingin terasa nyaman bagi hi-
dungnya yang berdenyut. Tonks mengamatinya. Harry
199
merasa marah dan malu ditemukan dalam posisi yang
begitu konyol. Tanpa bicara, Tonks mengulurkan Jubah
Gaib-nya.
“Siapa yang melakukannya?”
“Draco Malfoy,” kata Harry getir. “Terima kasih atas…
yah…”
“Kembali,” kata Tonks, tanpa tersenyum. Yang bisa
terlihat Harry dalam gelap, Tonks masih berambut
sama kusam dan wajahnya sama merananya seperti
ketika Harry bertemu dengannya di The Burrow. “Aku
bisa membetulkan hidungmu kalau kau berdiri diam.”
Harry tidak begitu suka ide ini. Dia bermaksud
mendatangi Madam Pomfrey, matron rumah sakit,
yang Mantra Penyembuh-nya sedikit lebih dia per-
cayai, namun rasanya tidak sopan mengatakan ini,
maka dia berdiri diam dan memejamkan mata.
“Episkey,” kata Tonks.
Hidung Harry terasa sangat panas, kemudian sangat
dingin. Harry mengangkat tangannya dan meraba
hidungnya dengan hati-hati sekali. Kelihatannya sudah
betul.
“Terima kasih banyak!”
“Sebaiknya kaupakai lagi Jubah-mu, dan kita bisa
berjalan ke sekolah,” kata Tonks, masih tanpa senyum.
Sementara Harry mengerudungkan Jubah-nya ke
tubuhnya, Tonks melambaikan tongkat sihirnya. Se-
sosok makhluk besar berkaki-empat muncul dari tong-
kat itu dan melesat ke dalam kegelapan.
“Apakah itu Patronus?” tanya Harry, yang pernah
melihat Dumbledore mengirim pesan dengan cara
seperti itu.
200
“Ya, aku mengirim kabar ke sekolah bahwa aku
sudah menemukanmu, kalau tidak mereka akan ce-
mas. Ayo, lebih baik kita jangan membuang-buang
waktu.”
Mereka beranjak ke jalan yang menuju sekolah.
“Bagaimana kau menemukanku?”
“Kuperhatikan kau tidak turun dari kereta dan aku
tahu kau membawa Jubah-mu. Kupikir kau mungkin
bersembunyi karena alasan tertentu. Ketika kulihat
gorden kompartemen itu tertutup, kupikir sebaiknya
aku mengeceknya.
“Tapi apa yang kaulakukan di sini sebetulnya?”
Harry bertanya.
“Aku ditempatkan di Hogsmeade sekarang, untuk
memberi perlindungan ekstra bagi sekolah,” kata
Tonks.
“Hanya kau yang ditempatkan di sini, atau—?”
“Tidak, Proudfoot, Savage, dan Dawlish juga di
sini.”
“Dawlish, Auror yang diserang Dumbledore tahun
lata?”
“Betul.”
Mereka berjalan dengan susah payah sepanjang
jalan yang gelap dan kosong, mengikuti jejak kereta.
Harry mengerling Tonks dari bawah Jubah-nya. Tahun
lalu Tonks sangat ingin tahu (sampai kadang-kadang
agak menyebalkan); dia mudah tertawa, dia bergurau.
Sekarang Tonks tampak lebih tua dan jauh lebih serius
dan punya niat. Apakah ini dampak atas apa yang
terjadi di Kementerian? Harry membayangkan dengan
tak nyaman bahwa Hermione pasti akan menyarankan
201
dia mengatakan sesuatu yang menghibur tentang
Sirius kepada Tonks, bahwa kejadian itu sama sekali
bukan salahnya, namun Harry tak sanggup melaku-
kannya. Dia sama sekali tak menyalahkan Tonks atas
kematian Sirius; bukan salah Tonks ataupun orang
lain (Harry sendiri lebih pantas disalahkan), tetapi dia
tak suka bicara tentang Sirius kalau bisa menghindari-
nya. Maka mereka berjalan menembus dinginnya ma-
lam dalam kesunyian, mantel panjang Tonks ber-
keresek di tanah di belakang mereka.
Selalu ke sana naik kereta, Harry tak pernah me-
nyadari betapa jauhnya Hogwarts dari Stasiun
Hogsmeade. Lega sekali dia akhirnya melihat pilar
tinggi di kanan-kiri gerbang, yang pada masing-masing
puncaknya bertengger babi hutan liar bersayap. Harry
kedinginan, lapar, dan sudah ingin meninggalkan
Tonks baru yang muram ini. Namun ketika dia meng-
ulurkan tangan untuk membuka gerbang, ternyata
gerbang dirantai.
“Alohomora!” katanya mantap, seraya mengacungkan
tongkat sihirnya ke gembok, namun tak terjadi apa-
apa.
“Mantra itu tidak bisa digunakan untuk ini,” kata
Tonks. “Dumbledore sendiri yang memantrainya.”
Harry memandang ke sekitarnya.
“Aku bisa memanjat tembok,” dia mengusulkan.
“Tidak bisa,” kata Tonks datar. “Semua tembok di-
pasangi Mantra Penolak Gangguan. Keamanan di-
tingkatkan seratus kali lipat musim panas ini.”
“Yah, kalau begitu,” kata Harry, mulai merasa jeng-
kel pada Tonks yang tidak membantu sama sekali,
202
“kurasa aku harus tidur di sini dan menunggu pagi
datang.”
“Ada yang datang menjemputmu,” kata Tonks. “Li-
hat.”
Ada lentera terayun di kaki kastil di kejauhan.
Saking senangnya melihat lentera itu, Harry merasa
dia bahkan bisa menanggung kritik serak Filch dan
omelannya tentang bagaimana kedisiplinannya soal
waktu akan membaik kalau secara teratur dia dikenai
siksaan-ibu jari. Ketika cahaya kuning yang berpendar
itu berjarak kira-kira tiga meter dari mereka, dan
Harry sudah melepas Jubah Gaib-nya supaya dia bisa
terlihat, barulah dia mengenali, dengan kebencian
yang langsung menjalari tubuhnya, hidung bengkok
mencuat dan rambut hitam panjang berminyak
Severus Snape.
“Wah, wah, wah,” cemooh Snape, sembari mencabut
tongkat sihir dan mengetuk gembok, sehingga rantai-
nya meluncur mundur dan gerbang berderit mem-
buka. “Baik sekali kau mau muncul, Potter, meskipun
jelas sekali kau sudah memutuskan bahwa memakai
jubah seragam sekolah akan mengurangi kekerenan-
mu.”
“Saya tak bisa berganti pakaian, koper saya tak—”
Harry mau menjelaskan, namun Snape memotong-
nya.
“Tak perlu menunggu, Nymphadora. Potter cukup—
ah—aman di tanganku.”
“Pesanku kumaksudkan untuk diterima Hagrid,”
kata Tonks, mengernyit.
“Hagrid terlambat datang untuk pesta awal tahun
203
ajaran, sama seperti Potter ini, jadi aku yang me-
nerimanya. Dan kebetulan,” kata Snape, mundur su-
paya Harry bisa lewat, “aku tertarik melihat Patronus
barumu.”
Snape menutup gerbang dengan dentang keras di
depan hidung Tonks dan mengetuk rantainya dengan
tongkat sihirnya lagi, sehingga rantai itu meluncur,
kembali ke tempatnya semula.
“Menurutku Patronus lamamu lebih bagus,” kata
Snape, kebencian dalam suaranya kentara sekali. “Yang
baru ini kelihatannya lemah.”
Selagi Snape berbalik mengayunkan lenteranya,
Harry melihat, sekilas, kekagetan dan kemarahan di
wajah Tonks. Kemudian dia hilang ditelan kegelapan.
“Selamat malam,” Harry menoleh dan berteriak,
ketika dia memulai perjalanannya menuju kastil de-
ngan Snape. “Terima kasih atas… segalanya.”
“Sampai ketemu lagi, Harry.”
Snape tidak bicara selama kira-kira satu menit. Harry
merasa seakan tubuhnya memancarkan gelombang
kebencian yang sangat kuat sehingga tidak masuk
akal rasanya Snape tidak merasakannya membakar
tubuhnya. Harry sudah membenci Snape sejak per-
temuan pertama mereka, namun Snape telah membuat
dirinya untuk selamanya tak mungkin dimaafkan
Harry karena sikapnya terhadap Sirius. Apa pun yang
dikatakan Dumbledore, Harry punya banyak waktu
untuk merenungkannya selama musim panas, dan
dia menyimpulkan bahwa sindiran-sindiran Snape ke-
pada Sirius tentang Sirius yang tetap aman ber-
sembunyi sementara anggota Orde Phoenix yang lain
204
memerangi Voldemort, barangkali menjadi pemicu
utama Sirius bergegas ke Kementerian pada malam
dia meninggal itu. Harry berpegang teguh pada ga-
gasan ini, karena pendapat ini membuatnya bisa me-
nyalahkan Snape, yang membuatnya merasa puas,
dan juga karena dia tahu kalau ada yang tidak menye-
sal Sirius meninggal, orang yang sekarang berjalan di
sebelahnya dalam kegelapan inilah orangnya.
“Potong lima puluh angka dari Gryffindor karena
telat, kurasa,” kata Snape. “Dan, sebentar kupikirkan,
potongan tambahan dua puluh karena berpakaian
Muggle. Tahukah kau, rasanya belum ada asrama
yang dikurangi angkanya seawal ini dalam tahun
ajaran—kita bahkan belum makan puding. Kau me-
mecahkan rekor, Potter.”
Kemarahan dan kebencian yang bergolak di dalam
diri Harry berkobar hebat, namun bagi Harry lebih
baik dia tidak bisa bergerak terkirim ke London dari-
pada memberitahu Snape kenapa dia terlambat.
“Kurasa kau mau muncul secara hebat, ya?” Snape
melanjutkan. “Dan tanpa adanya mobil terbang, kau
memutuskan muncul di Aula Besar ketika acara makan
sudah setengah jalan bisa menghasilkan efek dra-
matis.”
Masih saja Harry diam, kendati rasanya dadanya
sudah hampir meledak. Dia tahu Snape menjemput-
nya untuk ini, untuk mendapatkan waktu beberapa
menit ketika dia bisa memaki dan menyiksa Harry
tanpa ada yang mendengarkan.
Mereka akhirnya tiba di undakan kastil dan ketika
pintu depan yang besar dan terbuat dari kayu ek
205
mengayun membuka ke Aula Depan yang luas ber-
lantai batu, serbuan celoteh dan tawa dan denting
piring dan gelas menyambut mereka dari pintu-pintu
yang terbuka menuju ke Aula Besar. Harry membatin,
apakah dia bisa diam-diam memakai Jubah Gaib-nya
lagi, sehingga bisa tiba di tempat duduknya di meja
panjang Gryffindor (yang sayangnya terletak paling
jauh dari Aula Depan) tanpa dilihat orang.
Seakan bisa membaca pikiran Harry, Snape berkata,
“Dilarang pakai Jubah. Masuk saja berjalan biasa su-
paya semua orang bisa melihatmu, kan itu yang kau-
inginkan, aku yakin.”
Harry langsung berputar dan berjalan memasuki
pintu yang terbuka; apa saja asal bisa kabur dari
Snape. Aula Besar, dengan empat meja panjang asrama
dan meja guru di ujung ruangan, seperti biasa dideko-
rasi dengan lilin-lilin menyala yang membuat piring-
piring di bawahnya berkilau gemerlap. Namun semua-
nya hanya seperti bayangan cahaya yang kabur bagi
Harry, yang berjalan cepat sekali sehingga dia sudah
melewati meja Hufflepuff sebelum anak-anak mulai
memandangnya, dan ketika mereka berdiri agar bisa
melihatnya lebih jelas, Harry sudah melihat Ron dan
Hermione, bergegas melewati bangku-bangku menuju
mereka dan menyelinap duduk di antara mereka.
“Dari mana kau—astaga, kauapakan mukamu?” kata
Ron, terbelalak menatapnya bersama anak-anak lain
yang ada di dekatnya.
“Kenapa memangnya?” kata Harry, menyambar sen-
dok dan menyipitkan mata mengawasi bayangannya
yang terdistorsi.
206
“Kau berlumuran darah!” kata Hermione. “Sini—”
Hermione mengangkat tongkat sihirnya, berkata,
“Tergeo!” dan menyedot darah kering di wajah Harry.
“Trims,” kata Harry, meraba wajahnya yang sekarang
bersih. “Bagaimana kelihatannya hidungku?”
“Normal,” kata Hermione cemas. “Kenapa tidak?
Harry, apa yang terjadi? Kami dari tadi ngeri!”
“Nanti saja kuberitahu kalian,” kata Harry pendek.
Dia sadar sekali bahwa Ginny, Neville, Dean, dan
Seamus mendengarkan; bahkan Nick si Kepala-Nyaris-
Putus, hantu Gryffindor, telah melayang di atas
bangku-bangku untuk mencuri dengar.
“Tapi—”
“Tidak sekarang, Hermione,” kata Harry, dengan
suara memperingatkan. Dia sangat berharap mereka
semua mengasumsikan dia terlibat sesuatu yang
heroik, lebih baik kalau melibatkan beberapa Pelahap
Maut dan Dementor. Tentu saja Malfoy akan me-
nyebarkan cerita ini seluas mungkin, tetapi selalu ada
kemungkinan cerita itu tidak sampai ke banyak telinga
Gryffindor.
Melewati Ron, dia menjangkau dua kaki ayam dan
segenggam kentang goreng, namun sebelum dia ber-
hasil mengambilnya, makanan itu lenyap, digantikan
oleh puding dan kue-kue.
“Kau ketinggalan acara Seleksi,” kata Hermione,
ketika Ron menyambar sepotong besar kue cokelat.
“Topi mengatakan sesuatu yang menarik?” tanya
Harry, mencomot sepotong tar karamel.
“Kurang-lebih sama, sebetulnya… menasihati kita
207
semua untuk bersatu menghadapi musuh kita, kau
tahu.”
“Dumbledore menyebut-nyebut Voldemort?”
“Belum, tapi dia selalu menyampaikan pidato serius-
nya setelah acara makan, kan? Tak lama lagi seka-
rang.”
“Snape bilang Hagrid terlambat datang ke pesta—”
“Kau sudah bertemu Snape? Bagaimana bisa?” kata
Ron di sela-sela kegiatannya menyuap kue.
“Kebetulan saja bertemu,” kata Harry menghindar.
“Hagrid cuma terlambat beberapa menit,” kata
Hermione. “Lihat, dia melambai kepadamu, Harry.”
Harry mendongak memandang meja guru dan nye-
ngir kepada Hagrid, yang memang sedang melambai
kepadanya. Hagrid tak pernah berhasil bersikap ber-
wibawa seperti Profesor McGonagall, Kepala Asrama
Gryffindor, yang puncak kepalanya mencapai per-
tengahan antara siku dan bahu Hagrid. Profesor
McGonagall duduk di sebelah Hagrid dan tampak
tidak menyetujui sambutan antusias ini. Harry heran
melihat guru Ramalan, Profesor Trelawney, duduk di
sisi lain Hagrid. Profesor Trelawney jarang sekali me-
ninggalkan kamar-menaranya dan Harry belum per-
nah melihatnya dalam pesta awal tahun ajaran. Pe-
nampilannya sama eksentriknya seperti biasanya, de-
ngan manik-manik berkelap-kelip dan syal-syal pan-
jang, matanya diperbesar ke ukuran luar biasa oleh
kacamatanya. Harry yang selama ini menganggap
omongan Profesor Trelawney omong kosong belaka,
menjadi shock pada akhir tahun ajaran lalu karena
ternyata Profesor Trelawney-lah yang membuat ra-
208
malan yang menyebabkan Lord Voldemort membunuh
orangtua Harry dan menyerang Harry sendiri. Menge-
tahui hal ini membuat Harry semakin segan bergaul
dengan Profesor Trelawney, namun untungnya tahun
ini dia tidak akan ikut pelajaran Ramalan lagi. Mata
Profesor Trelawney yang besar seperti lampu mercu
suar berputar ke arah Harry; Harry buru-buru me-
noleh memandang meja Slytherin. Draco Malfoy se-
dang memeragakan tulang hidung yang patah, di-
sambut gelak tawa dan tepuk tangan. Harry menun-
duk memandang kue karamelnya, dibakar kemarahan
lagi. Dia rela memberikan apa saja asal bisa berkelahi
dengan Malfoy satu lawan satu…
“Jadi, apa yang diinginkan Profesor Slughorn?” ta-
nya Hermione.
“Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Kemen-
terian,” kata Harry.
“Dia dan semua orang lain yang ada di sini,” dengus
Hermione. “Orang-orang menginterogasi kami soal
itu di kereta, iya kan, Ron?”
“Yeah,” kata Ron. “Semua ingin tahu apakah kau
benar-benar Sang Terpilih—”
“Ada banyak pembicaraan soal topik itu bahkan di
antara para hantu,” sela Nick si Kepala-Nyaris-Putus,
mencondongkan kepalanya yang nyaris terlepas ke
arah Harry, sehingga kepala itu bergoyang mengerikan
pada rimpel di sekeliling lehernya. “Aku dianggap
ahli-Potter; semua hantu tahu kita bersahabat. Tapi
aku sudah memberitahu komunitas hantu aku tidak
akan menggerecokimu mencari informasi. ‘Harry Potter
tahu dia bisa memercayaiku sepenuhnya,’ begitu kata-
209
ku kepada mereka. ‘Lebih baik aku mati daripada
mengkhianati kepercayaannya.'”
“Yeee, itu mah sama saja bohong, kau kan sudah
mati,” ledek Ron.
“Sekali lagi kau menunjukkan kepekaanmu ibarat
kapak tumpul,” kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus de-
ngan nada terhina, dan dia naik ke udara dan mela-
yang kembali ke ujung meja Gryffindor, tepat ketika
Dumbledore bangkit dari kursinya di meja guru. Ce-
loteh dan tawa di sekeliling meja-meja hampir serentak
menghilang.
“Selamat menikmati malam yang indah ini!” kata-
nya, tersenyum lebar, lengannya terentang lebar, seolah
memeluk seluruh ruangan.
“Tangannya kenapa?” celetuk Hermione kaget.
Hermione bukan satu-satunya yang memperhatikan
tangan kanan Dumbledore tampak menghitam dan
mati seperti pada malam dia datang menjemput Harry
dari rumah keluarga Dursley. Bisik-bisik melanda selu-
ruh ruangan. Dumbledore, menginterpretasinya de-
ngan tepat, hanya tersenyum dan menggoyang lengan
bajunya yang berwarna ungu dan keemasan untuk
menutupi lukanya.
“Tak ada yang perlu dicemaskan,” katanya ringan.
“Nah… kepada murid-murid baru, selamat datang;
kepada murid-murid lama, selamat datang kembali!
Satu tahun penuh pendidikan sihir menanti kalian…”
“Tangannya sudah seperti itu waktu aku bertemu
dengannya musim panas lalu,” Harry berbisik kepada
Hermione. “Kupikir dia sekarang sudah menyembuh-
210
kannya… atau Madam Pomfrey yang menyembuhkan-
nya.”
“Kelihatannya tangannya mati,” kata Hermione, wa-
jahnya seperti orang mual. “Tapi ada luka-luka yang
tak bisa disembuhkan… kutukan-kutukan lama… dan
ada juga racun yang tak ada penangkalnya…”
“…dan Mr Filch, penjaga sekolah, memintaku untuk
menyampaikan, ada larangan bagi barang lelucon apa
pun yang dibeli di toko yang bernama Sihir Sakti
Weasley.
“Mereka yang berminat bermain untuk tim Quidditch
asramanya, silakan mendaftar pada Kepala Asrama
masing-masing seperti biasanya. Kami juga mencari
komentator Quidditch baru; para peminat juga silakan
mendaftar ke Kepala Asrama kalian.
“Kami gembira menyambut anggota baru dalam
staf guru tahun ini. Profesor Slughorn,” Slughorn
berdiri, kepalanya yang botak berkilat dalam cahaya
lilin, perut besarnya yang tertutup rompi membentuk
bayangan di meja di bawahnya, “adalah rekan kerja
lamaku yang telah setuju mengajar Ramuan lagi.”
“Ramuan?”
“Ramuan?”
Kata itu bergaung di seluruh ruangan ketika anak-
anak bertanya-tanya sendiri apakah yang mereka de-
ngar benar.
“Ramuan?” kata Ron dan Hermione berbarengan,
menoleh memandang Harry. “Tapi kau bilang—”
“Profesor Snape, sementara itu,” kata Dumbledore,
mengeraskan suaranya sehingga mengatasi dengung
211
gumam, “akan mengambil alih posisi guru Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam.”
“Tidak!” kata Harry, keras sekali sehingga banyak
kepala menoleh ke arahnya. Harry tidak peduli; dia
memandang meja guru, berang. Bagaimana mungkin
Snape diberi tugas mengajar Pertahanan terhadap Ilmu
Hitam setelah selama ini ditolak? Bukankah sudah
diketahui secara luas selama bertahun-tahun bahwa
Dumbledore tidak memercayainya untuk mengajar
mata pelajaran ini?
“Tapi, Harry, kau bilang Slughorn akan mengajar
Pertahanan terhadap Ilmu Hitam!” kata Hermione.
“Kusangka begitu!” kata Harry, memeras otak untuk
mengingat kapan Dumbledore memberitahukan ini
kepadanya, tetapi sekarang jika dipikir-pikir lagi, dia
tak bisa mengingat Dumbledore pernah memberitahu-
nya mata pelajaran apa yang akan diajarkan Slughorn.
Snape, yang duduk di sebelah kanan Dumbledore,
tidak berdiri mendengar namanya disebut. Dia hanya
mengangkat tangan sekadarnya untuk menanggapi
aplaus dari meja Slytherin, namun Harry bisa melihat
ekspresi kemenangan di wajah yang amat dibenci-
nya.
“Yah, ada satu hal bagus,” katanya liar. “Snape
akan pergi akhir tahun ajaran ini.”
“Apa maksudmu?” tanya Ron.
“Jabatan itu terkutuk. Tak ada yang bertahan lebih
dari setahun…. Quirrell malah mati. Aku pribadi meng-
harapkan ada kematian lagi.”
“Harry!” seru Hermione, shock dan mencela.
“Dia mungkin cuma balik mengajar Ramuan pada
212
akhir tahun ajaran,” kata Ron masuk akal. “Si Slughorn
itu mungkin tak mau mengajar jangka-panjang.
Moody tak mau.”
Dumbledore berdeham. Bukan hanya Harry, Ron,
dan Hermione yang bicara; seluruh Aula langsung
berdengung dengan pembicaraan mendengar kabar
bahwa Snape akhirnya berhasil mendapatkan jabatan
yang telah lama didambakannya. Tampak tak me-
nyadari sensasi berita yang baru saja disampaikannya,
Dumbledore tidak berkata apa-apa lagi soal penun-
jukan guru, melainkan menunggu beberapa detik un-
tuk memastikan suasana sudah hening total sebelum
dia melanjutkan.
“Nah, seperti semua anak di Aula ini tahu, Lord
Voldemort dan para pengikutnya sekali lagi bebas
dan semakin kuat.”
Keheningan rasanya menjadi tegang dan genting
ketika Dumbledore bicara. Harry mengerling Malfoy.
Malfoy tidak sedang memandang Dumbledore, melain-
kan membuat garpunya melayang di udara dengan
tongkat sihirnya, seolah menurutnya kata-kata Kepala
Sekolah tak layak mendapat perhatiannya.
“Aku tak dapat menekankan dengan cukup kuat
betapa bahayanya situasi saat ini, dan kita semua di
Hogwarts harus berusaha sekuat kita untuk memasti-
kan kita aman. Kubu pertahanan sihir kastil ini telah
diperkuat selama musim panas, kita dilindungi dengan
cara-cara baru yang lebih kuat, tetapi kita masih ber-
jaga dengan amat hati-hati supaya jangan sampai
terjadi kecerobohan dari pihak murid atau anggota
staf guru. Maka aku menganjurkan agar kalian me-
213
matuhi peraturan keamanan yang diberlakukan guru-
guru kalian, betapapun menjengkelkannya itu bagi
kalian—terutama peraturan yang melarang kalian di
luar tempat tidur selewat jam yang ditentukan. Aku
memohon dengan sangat, seandainya kalian melihat
sesuatu yang aneh atau mencurigakan di dalam atau-
pun di luar kastil, segeralah laporkan pada anggota
staf guru. Aku berharap, dalam bersikap, kalian selalu
mempertimbangkan keselamatan kalian sendiri dan
juga keselamatan yang lain.”
Mata biru Dumbledore menyapu murid-muridnya
sebelum dia tersenyum sekali lagi.
“Tetapi sekarang, tempat tidur kalian sudah me-
nunggu, sehangat dan senyaman yang kalian harap-
kan, dan aku tahu prioritas utama kalian adalah ber-
istirahat supaya siap menerima pelajaran esok pagi.
Karena itu, mari kita saling mengucapkan selamat
tidur. Pip pip!”
Dengan bunyi derit yang memekakkan telinga se-
perti biasa, bangku-bangku didorong ke belakang dan
beratus-ratus anak mulai meninggalkan Aula Besar,
menuju ke asrama. Harry, yang sama sekali tak ingin
pergi bersamaan dengan anak-anak yang terpesona
memandangnya, ataupun berada cukup dekat Malfoy
untuk memberinya kesempatan menceritakan kembali
kisah penginjakan-hidung, sengaja berlama-lama, ber-
pura-pura mengikat kembali tali sepatunya, membiar-
kan sebagian besar anak-anak Gryffindor mendahului-
nya. Hermione sudah melesat lebih dulu untuk me-
laksanakan tugasnya sebagai prefek, menuntun anak-
anak kelas satu, namun Ron tinggal bersama Harry.
214
“Apa sebetulnya yang terjadi pada hidungmu?” dia
bertanya, begitu mereka berada paling belakang dari
kerumunan anak yang berdesakan keluar dari Aula,
dan di luar jangkauan pendengaran orang lain.
Harry memberitahunya. Bahwa Ron tidak tertawa,
itu menunjukkan betapa eratnya persahabatan mereka.
“Aku melihat Malfoy memeragakan sesuatu yang
ada hubungannya dengan hidung,” kata Ron sebal.
“Yeah, biar saja,” kata Harry getir. “Dengar apa
yang dia katakan sebelum dia tahu aku di sana…”
Harry mengharapkan Ron terkejut mendengar se-
sumbar Malfoy. Harry menganggap Ron sangat keras
kepala, karena ternyata dia tidak terkesan.
“Sudahlah, Harry, dia kan cuma mau sok aksi di
depan Parkinson… tugas macam apa yang akan diberi-
kan Kau-Tahu-Siapa kepadanya?”
“Bagaimana kau bisa tahu Voldemort tidak memerlu-
kan orang di Hogwarts? Ini bukan untuk pertama
kali—”
“Jangan sebut-sebut nama itu lagi, Harry,” kata suara
mencela di belakang mereka. Harry menoleh dan
melihat Hagrid menggelengkan kepala.
“Dumbledore menggunakan nama itu,” kata Harry
keras kepala.
“Yeah, begitulah Dumbledore, kan?” kata Hagrid
misterius. “Jadi, kenapa kau terlambat, Harry? Aku
khawatir.”
“Terhalang di kereta,” kata Harry. “Kenapa kau ter-
lambat?”
“Aku sama Grawp,” kata Hagrid riang. “Lupa waktu.
Dia punya rumah baru di gunung sekarang, Dumble-
215
dore yang atur—gua besar yang nyaman. Dia jauh
lebih bahagia daripada waktu di Hutan. Kami ngobrol
seru.”
“Sungguh?” kata Harry, berusaha tidak memandang
mata Ron. Terakhir kalinya dia bertemu adik Hagrid
lain-ayah, raksasa galak dengan bakat mencabut pe-
pohonan sampai ke akar-akarnya, kosa katanya hanya
terdiri atas lima kata, dua di antaranya tak bisa diucap-
kannya dengan benar.
“Oh yeah, dia sudah betul-betul maju,” kata Hagrid
bangga. “Kalian akan heran. Aku sedang pertimbang-
kan mau latih dia jadi asistenku.”
Ron mendengus keras, namun berhasil menyamar-
kannya menjadi bersin hebat. Mereka sekarang berdiri
di sebelah pintu depan dari kayu ek.
“Sampai ketemu kalian besok pagi, pelajaran per-
tama habis makan siang. Datanglah lebih awal su-
paya kau bisa menyapa Buck—maksudku Wither-
wings!”
Mengangkat tangan dengan ceria sebagai lambaian
perpisahan, Hagrid keluar dari pintu depan masuk ke
dalam kegelapan.
Harry dan Ron saling pandang. Harry bisa melihat
bahwa Ron sedang merasa tertohok, sama seperti
dirinya.
“Kau tidak mengambil Pemeliharaan Satwa Gaib,
kan?”
Ron menggeleng.
“Dan kau juga tidak, kan?”
Harry juga menggeleng.
“Dan Hermione,” kata Ron,” dia juga tidak, kan?”
216
Harry menggeleng lagi. Apa yang akan dikatakan
Hagrid saat dia menyadari tiga murid favoritnya tidak
mengambil mata pelajarannya, Harry tak ingin me-
mikirkannya.
217
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ARRY dan Ron bertemu Hermione di ruang
rekreasi sebelum sarapan esok paginya. Ber-
harap mendapatkan dukungan atas teorinya, Harry
tanpa membuang-buang waktu langsung menceritakan
kepada Hermione tentang apa yang didengarnya di-
katakan Malfoy di Hogwarts Express.
“Tapi jelas dia mau sok pamer di depan Parkinson,
kan?” sela Ron buru-buru, sebelum Hermione bisa
mengatakan apa-apa.
“Yah,” kata Hermione sangsi, “entahlah… memang
sudah bawaan Malfoy membuat dirinya tampak lebih
penting daripada sebenarnya… tapi itu kebohongan
besar…”
218
“Justru itu,” kata Harry, namun dia tak bisa men-
jabarkan pendapatnya, karena begitu banyak orang
berusaha mendengarkan percakapannya, belum lagi
yang memandanginya dan berbisik-bisik di balik ta-
ngan mereka.
“Tidak sopan menunjuk-nunjuk,” bentak Ron pada
seorang anak kelas satu yang kecil mungil ketika
mereka bergabung dengan antrean yang akan meman-
jat keluar dari lubang lukisan. Anak laki-laki itu, yang
tadi sedang menggumamkan sesuatu tentang Harry
di balik tangannya kepada temannya, langsung merah
padam dan terguling keluar dari lubang dengan ke-
takutan. Ron terkikik.
“Aku senang jadi anak kelas enam. Dan kita akan
punya waktu bebas tahun ini. Jam-jam pelajaran ko-
song untuk duduk-duduk santai di sini.”
“Waktu itu akan kita perlukan untuk belajar, Ron!”
kata Hermione, ketika mereka berjalan sepanjang ko-
ridor.
“Yeah, tapi tidak hari ini,” kata Ron, “hari ini sih
jelas hari tidur, menurutku.”
“Tunggu!” kata Herrmione, menjulurkan lengan dan
menahan anak kelas empat yang lewat, yang berusaha
menerabas lewat dengan menggenggam erat piringan
hijau-limau. “Frisbee Bertaring dilarang, serahkan,” pe-
rintahnya galak. Anak laki-laki itu memberengut me-
nyerahkan Frisbee-nya yang menggeram, menunduk
molos lewat bawah lengan Hermione dan berlari me-
nyusul teman-temannya. Ron menunggunya lenyap,
lalu menyambar Frisbee itu dari genggaman Hermione.
“Bagus sekali, sudah lama aku kepingin punya ini.”
219
Protes Hermione ditenggelamkan oleh kikik geli.
Rupanya Lavender Brown menanggap ucapan Ron
sangat lucu. Dia masih tertawa ketika melewati mere-
ka, menoleh mengerling Ron. Ron tampak agak puas.
Langit-langit Aula Besar berwarna biru terang dan
di sana-sini dihiasi gumpalan tipis awan, persis seperti
petak-petak langit yang tampak dari kaca-kaca jendela
yang tinggi. Sambil menyantap bubur dan telur dan
daging panggang, Harry dan Ron memberitahu Her-
mione tentang percakapan dengan Hagrid yang mem-
buat mereka salah tingkah malam sebelumnya.
“Tapi masa dia mengira kita akan meneruskan Pe-
meliharaan Satwa Gaib!” kata Hermione, tampak sedih.
“Maksudku, kapan salah satu dari kita pernah menun-
jukkan… kalian tahu… antusiasme?”
“Itulah,” kata Ron, menelan utuh satu telur dadar.
“Kita bertigalah yang berusaha paling keras di kelas,
karena kita menyukai Hagrid. Tapi dia mengira kita
menyukai pelajaran konyol itu. Menurut kalian, apa
ada yang meneruskan ke NEWT?”
Harry maupun Hermione tidak menjawab; tak per-
lu. Mereka tahu betul, tak seorang pun dari angkatan
mereka ingin melanjutkan Pemeliharaan Satwa Gaib.
Mereka menghindari pandangan Hagrid dan mem-
balas lambaian cerianya dengan setengah-hati ketika
Hagrid meninggalkan meja guru sepuluh menit kemu-
dian.
Usai sarapan, mereka tetap tinggal di tempat, me-
nunggu Profesor MacGonagall turun dari meja guru.
Pembagian daftar pelajaran lebih rumit daripada biasa-
nya kali ini, karena Profesor McGonagall perlu me-
220
mastikan lebih dulu bahwa semua anak mencapai
nilai OWL yang dituntut untuk bisa melanjutkan de-
ngan NEWT pilihan mereka.
Hermione langsung disetujui meneruskan Mantra,
Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Transfigurasi, Herbo-
logi, Arithmancy, Rune Kuno, dan Ramuan, dan tanpa
berlama-lama lagi langsung melesat untuk ikut pela-
jaran pertamanya, Rune Kuno. Neville perlu waktu
lebih lama untuk penyortiran. Wajahnya yang bundar
tampak cemas ketika Profesor McGonagall menunduk
membaca formulir permohonannya dan kemudian
mengecek nilai OWL-nya.
“Herbologi, oke,” katanya. “Profesor Sprout akan
senang melihatmu kembali dengan OWL ‘Outstanding’.
Dan kau bisa ikut Pertahanan terhadap Ilmu Hitam
dengan ‘Exceeds Expectations’. Tetapi yang jadi masalah
Transfigurasi. Maaf, Longbottom, tapi ‘Acceptable’ tidak
cukup baik untuk melanjutkan ke tingkat NEWT. Me-
nurutku kau tak akan sanggup mengerjakan tugas-
tugasnya.”
Neville menundukkan kepalanya. Profesor McGona-
gall menatapnya dari balik kacamata perseginya.
“Tapi kenapa kau mau melanjutkan Transfigurasi?
Aku tak pernah mendapat kesan kau menyukainya.”
Neville tampak merana dan menggumamkan “Ne-
nek yang mau”.
“Humph,” dengus Profesor McGonagall. “Sudah
waktunya nenekmu belajar bangga akan cucu yang
dimilikinya, daripada cucu yang menurutnya seharus-
nya dimilikinya—terutama setelah apa yang terjadi di
Kementerian.”
221
Neville menjadi merah padam dan mengerjap bi-
ngung. Profesor McGonagall tak pernah memujinya
sebelum ini.
“Sori, Longbottom, aku tak bisa mengizinkan kau
ikut kelas NEWT-ku. Tapi kulihat kau mendapat
‘Exceeds Expectations’ untuk Mantra—kenapa tidak men-
coba NEWT Mantra?”
“Nenek saya menganggap Mantra kurang oke,” gu-
mam Neville.
“Ambil Mantra,” saran Profesor McGonagall, “dan
aku akan menulis kepada Augusta, mengingatkannya
bahwa hanya karena dia tidak lulus OWL Mantra,
tidak berarti pelajaran ini tidak berguna.” Tersenyum
samar melihat ketidakpercayaan dan kegembiraan di
wajah Neville, Profesor McGonagall mengetuk daftar
pelajaran kosong dengan ujung tongkat sihirnya dan
menyerahkan daftar yang sekarang sudah berisi rin-
cian pelajaran barunya, kepada Neville.
Berikutnya Profesor McGonagall menoleh ke Parvati
Patil, yang pertanyaan pertamanya adalah apakah
Firenze, si centaurus tampan, masih mengajar Ra-
malan.
“Dia dan Profesor Trelawney berbagi kelas tahun
ini,” kata Profesor McGonagall, ada nada mencela
dalam suaranya; sudah rahasia umum bahwa dia me-
mandang rendah pelajaran Ramalan. “Kelas enam di-
ajar oleh Profesor Trelawney.”
Parvati berangkat ke kelas Ramalan-nya lima menit
kemudian, tampak agak kecewa.
“Nah, Potter, Potter…” kata Profesor McGonagall,
mengecek catatannya seraya menoleh ke Harry. “Man-
222
tra, Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Herbologi,
Transfigurasi… semua oke. Harus kukatakan, aku se-
nang melihat nilai Transfigurasi-mu, Potter, sangat se-
nang. Lho, kenapa kau tidak meneruskan Ramuan?
Bukankah kau bercita-cita menjadi Auror?”
“Betul, tetapi Anda memberitahu saya, nilai OWL
saya harus ‘Outstanding’, Profesor.”
“Memang, kalau Profesor Snape yang mengajar. Tapi
Profesor Slughorn dengan senang hati menerima
murid-murid NEWT dengan nilai OWL ‘Exceeds
Expectations’. Kau mau melanjutkan Ramuan?”
“Mau,” kata Harry, “tetapi saya tidak membeli buku
atau bahan atau apa pun—”
“Aku yakin Profesor Slughorn bisa meminjamkannya
kepadamu,” kata Profesor McGonagall. “Baiklah, Potter,
ini daftar pelajaranmu. Oh ya—dua puluh calon sudah
mendaftarkan nama mereka untuk masuk tim
Quidditch. Akan kuserahkan daftarnya kepadamu
pada waktunya dan kau bisa mengatur waktu uji
cobanya dalam waktu senggangmu.”
Beberapa menit kemudian, Ron disetujui mengambil
mata pelajaran yang sama dengan Harry, dan kedua-
nya meninggalkan meja bersama-sama.
“Lihat,” kata Ron senang, memandang daftar pela-
jarannya, “kita tak ada pelajaran sekarang… dan ko-
song lagi sehabis istirahat… dan kosong lagi sehabis
makan siang… asyik banget!”
Mereka kembali ke ruang rekreasi, yang kosong,
hanya ada selusin anak kelas tujuh, termasuk Katie
Bell, satu-satunya yang tersisa dari anggota orisinal
223
tim Quidditch Gryffindor saat Harry pertama kali
bergabung waktu dia kelas satu.
“Sudah kuduga kau akan mendapatkan itu,” seru
Katie, menunjuk lencana Kapten di dada Harry. “Beri-
tahu aku kapan uji cobanya!”
“Jangan bego,” kata Harry, “kau tak perlu ikut uji
coba, aku sudah melihatmu bermain selama lima ta-
hun…”
“Kau tak boleh mulai dengan begitu,” kata Katie
memperingatkan. “Siapa tahu, di luar sana ada yang
jauh lebih hebat dariku. Sudah ada tim-tim bagus
yang hancur karena kapten mereka tetap saja me-
masang muka-muka lama, atau memasukkan teman-
teman mereka…”
Ron tampak agak salah tingkah dan mulai memain-
kan Frisbee Bertaring yang disita Hermione dari anak
kelas empat. Frisbee itu meluncur mengitari ruang
rekreasi, menggeram dan setiap kali mencoba meng-
gigit permadani hias. Mata kuning Crookshanks
mengikutinya dan kucing itu mendesis ketika Frisbee
itu terbang terlalu dekat dengannya.
Satu jam kemudian dengan enggan mereka mening-
galkan ruang rekreasi yang bermandi cahaya matahari
menuju ke kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam
empat lantai di bawahnya. Hermione sudah antre di
depan kelas, memeluk setumpuk buku berat dan tam-
pak terbebani.
“Banyak sekali PR Rune-nya,” katanya cemas, ketika
Ron dan Harry bergabung dengannya. “Esai sepanjang
empat puluh senti, dua terjemahan, dan semua ini
harus sudah selesai dibaca Rabu!”
224
“Sayang sekali,” kuap Ron.
“Tunggu saja giliranmu,” balas Hermione sebal. “Pas-
ti Snape memberi kita banyak pekerjaan.”
Pintu ruang kelas terbuka ketika dia berkata begitu
dan Snape melangkah ke koridor, wajah kurusnya
seperti biasa dibingkai dua tirai rambut hitam ber-
minyak. Antrean langsung sunyi senyap.
“Masuk,” kata Snape.
Harry memandang ke sekeliling ruangan ketika ber-
jalan masuk. Pengaruh kepribadian Snape sudah lang-
sung terasa; ruangan itu lebih suram daripada biasa-
nya karena gorden-gorden jendela ditutup, dan
ruangan diterangi cahaya lilin. Gambar-gambar baru
menghiasi dinding, banyak di antaranya memperlihat-
kan orang-orang yang kelihatannya sedang kesakitan,
ada yang dengan luka-luka mengerikan atau bagian-
bagian tubuh berubah bentuk menjadi aneh-aneh.
Tak ada yang bicara ketika mereka duduk, memandang
gambar-gambar menyeramkan itu.
“Aku belum menyuruh kalian mengeluarkan buku,”
kata Snape, menutup pintu dan bergerak untuk meng-
hadapi kelasnya dari belakang mejanya. Hermione
buru-buru menjatuhkan kembali bukunya Menghadapi
Musuh Tak Berwajah ke dalam tasnya dan mendorong-
nya ke bawah kursinya. “Aku mau bicara kepada
kalian dan menginginkan perhatian penuh kalian.”
Matanya yang hitam menjelajah wajah-wajah me-
reka, berhenti sepersekian detik lebih lama di wajah
Harry dibanding di wajah-wajah lain.
“Kalian sudah diajar lima guru untuk pelajaran ini
sejauh ini, kalau aku tak salah.”
225
Kalau kau tak salah… padahal kau mengawasi mereka
datang dan pergi, Snape, berharap berikutnya giliranmu,
Harry membatin berang.
“Tentu saja, guru-guru ini semua punya metode
dan prioritas sendiri-sendiri. Mempertimbangkan ke-
kacauan ini, aku heran begitu banyak dari kalian bisa
lulus OWL dalam pelajaran ini. Aku akan lebih heran
lagi jika kalian berhasil melaksanakan tugas-tugas
NEWT, yang akan jauh lebih sulit.”
Snape berjalan ke pinggir ruangan, sekarang bicara
dengan suara lebih pelan. Murid-muridnya menjulur-
kan leher agar masih bisa melihatnya.
“Ilmu Hitam,” kata Snape, “banyak jenisnya, ber-
variasi, selalu-berubah, dan abadi. Melawannya seperti
melawan monster berkepala-banyak, yang, setiap kali
satu leher berhasil dipotong, akan muncul kepala
baru yang lebih ganas dan lebih pintar daripada
sebelumnya. Kalian melawan sesuatu yang tidak-pasti,
bermutasi, dan tak terkalahkan.”
Harry memandang Snape. Memang layak meng-
hargai Ilmu Hitam sebagai musuh yang berbahaya,
tapi kan aneh kalau membicarakannya seperti yang
dilakukan Snape, dengan belaian kasih dalam suara-
nya?
“Pertahanan kalian,” kata Snape, sedikit lebih keras,
“dengan demikian harus sama fleksibel dan inventif-
nya dengan Ilmu yang akan kalian lawan. Gambar-
gambar ini,” dia menunjuk beberapa gambar yang
dilewatinya, “memberi gambaran yang cukup mewakili
akan apa yang terjadi kepada mereka yang menderita
terkena, misalnya, Kutukan Cruciatus” (dia melambai-
226
kan tangan ke arah gambar seorang penyihir wanita
yang nyata-nyata sedang menjerit kesakitan) “merasa-
kan Kecupan Dementor” (seorang penyihir pria de-
ngan mata-hampa terpuruk meringkuk menyandar ke
dinding) “atau memprovokasi agresi Inferius” (gun-
dukan berlumuran darah di tanah).
“Apakah sudah ada Inferius yang terlihat?” tanya
Parvati Patil dengan suara melengking tinggi. “Jadi
sudah pasti, dia menggunakan mereka?”
“Pangeran Kegelapan menggunakan Inferi di masa
lain,” kata Snape, “yang berarti sebaiknya kalian meng-
asumsikan ada kemungkinan dia menggunakan me-
reka lagi. Nah…”
Dia kembali ke mejanya dari sisi lain kelas, dan
sekali lagi, murid-muridnya mengawasinya berjalan,
jubah hitamnya melambai di belakangnya.
“…kalian semua, kukira, masih orang baru sama
sekali dalam penggunaan mantra non-verbal. Apa ke-
untungannya mantra non-verbal?”
Tangan Hermione mencuat ke atas. Snape meman-
dang berkeliling dulu melihat murid-murid yang lain,
memastikan dia tak punya pilihan lain, sebelum ber-
k.ita kaku, “Baiklah—Miss Granger?”
“Musuh kita tak mendapat peringatan tentang jenis
sihir apa yang akan kita lakukan,” kata Hermione,
“dan ini memberi kita keuntungan sepersekian detik.”
“Jawaban yang dikutip nyaris kata per kata dari
Kitab Mantra Standar, Tingkat 6,” kata Snape merendah-
kan (di sudut, Malfoy terkikik), “tapi secara esensial
betul. Ya, mereka yang berhasil menggunakan sihir
tanpa mengucapkan mantranya memperoleh elemen
227
kejutan dalam serangannya. Tak semua penyihir bisa
melakukannya, tentu; perlu konsentrasi dan kekuatan
pikiran yang,” pandangannya dengan dengki sekali
lagi hinggap pada Harry, “tak dimiliki semua orang.”
Harry tahu Snape teringat pelajaran Occlumency
mereka yang gagal total tahun sebelumnya. Dia me-
nolak menunduk, melainkan terus memandang galak
Snape, sampai Snape mengalihkan pandangannya.
“Sekarang kalian akan dibagi berpasangan,” Snape
melanjutkan. “Partner yang satu akan berusaha menye-
rang yang lain tanpa mengucapkan mantranya. Yang
lain berusaha menolak serangan dengan sama diamnya.
Laksanakan.”
Kendati tidak diketahui Snape, Harry telah menga-
jari paling tidak separo kelas (semua yang jadi anggota
LD) bagaimana melakukan Mantra Pelindung tahun
sebelumnya. Namun tak seorang pun pernah melak-
sanakan mantra ini tanpa mengucapkannya. Sedikit
kecurangan yang masuk akal terjadi, banyak anak
membisikkan mantra alih-alih mengucapkannya keras-
keras. Bukan hal mengejutkan, sepuluh menit kemu-
dian Hermione berhasil menolak Sihir Kaki-Jeli Neville
tanpa mengucapkan sepatah kata pun, prestasi yang
akan membuatnya mendapatkan dua puluh angka
bagi Gryffindor dari guru lain yang berkelakuan layak,
pikir Harry getir, namun Snape tidak mengacuhkan-
nya. Dia berjalan di antara mereka sementara mereka
berlatih, tampak seperti kelelawar besar, berhenti lama
untuk melihat Harry dan Ron bersusah payah melak-
sanakan tugas mereka.
Ron, yang bertugas menyerang Harry, wajahnya
228
berwarna ungu, bibirnya terkatup rapat agar dia bisa
menghindari godaan menggumamkan mantranya.
Harry mengangkat tongkat sihirnya, menunggu de-
ngan tegang dan gelisah, siap menolak kutukan yang
rupanya tak akan datang.
“Menyedihkan, Weasley,” kata Snape, selewat be-
berapa saat. “Sini—kutunjukkan padamu—”
Dia mengarahkan tongkat sihirnya kepada Harry
begitu cepatnya sehingga Harry otomatis bereaksi;
segala pikiran tentang mantra non-verbal terlupakan,
dia berteriak, “Protego!”
Mantra Pelindung-nya kuat sekali sampai Snape
kehilangan kcseimbangan dan menabrak meja. Seluruh
kelas menoleh dan sekarang memandang Snape yang
meluruskan diri, marah.
“Apa kau ingat aku memberitahu kalian kita melatih
mantra non-verbal, Potter?”
“Ya,” kata Harry kaku.
“Ya, Sir.”
“Tak perlu memanggil saya ‘Sir’, Profesor.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya
sebelum dia sadar apa yang dikatakannya. Beberapa
anak terkesiap kaget, termasuk Hermione. Di belakang
Snape, meskipun demikian, Ron, Dean, dan Seamus
nyengir mendukung.
“Detensi, Sabtu malam, kantorku,” kata Snape. “Aku
tidak menerima kelancangan dari siapa pun, Potter…
bahkan dari Sang Terpilih pun tidak.”
“Tadi brilian sekali, Harry!” kekeh Ron, ketika me-
reka sudah aman dalam perjalanan akan beristirahat
tak lama kemudian.
229
“Mestinya kau tidak mengatakan itu,” kata Hermione,
mengernyit kepada Ron. “Apa yang membuatmu ngo-
mong begitu?”
“Dia mau menyerangku, kalau kau tidak melihat!”
gerutu Harry. “Aku sudah cukup muak menerima
serangannya selama pelajaran Occlumency! Kenapa
dia tidak mencari kelinci percobaan lain sekali-sekali?
Permainan apa sih yang sedang dimainkan Dumble-
dore, membiarkan dia mengajar Pertahanan? Kau-
dengar tadi waktu dia ngomongin Ilmu Hitam? Dia
menyukainya. Segala tetek bengek tentang tidak-pasti,
tak terkalahkan—”
“Yah,” kata Hermione, “menurutku dia kedengaran-
nya agak mirip kau.”
“Mirip aku?”
“Ya, waktu kau menceritakan kepada kami bagai-
mana rasanya menghadapi Voldemort. Katamu itu
bukan sekadar mengingat segepok mantra, katamu
itu hanya antara kau dan otakmu dan nyalimu—nah,
bukankah itu yang dikatakan Snape? Bahwa pada
intinya yang paling penting adalah keberanian dan
berpikir-cepat?”
Harry begitu tercengangnya bahwa Hermione meng-
anggap kata-katanya sama layaknya dihafal seperti
Kitab Mantra Standar sehingga dia tidak membantah.
“Harry! Hei, Harry!”
Harry berpaling. Jack Sloper, salah satu Beater tim
Quidditch Gryffindor tahun lalu, sedang bergegas
mendatanginya, memegang segulung perkamen.
“Untukmu,” katanya terengah. “Kudengar kau Kap-
ten yang baru. Kapan kau mengadakan uji coba?”
230
“Aku belum tahu,” kata Harry, dalam hati berpikir
Sloper akan beruntung sekali kalau bisa kembali masuk
tim. “Nanti kuberitahu.”
“Oh, baiklah. Aku tadinya berharap akhir pekan
ini—”
Namun Harry tidak mendengarkannya, dia baru
saja mengenali huruf-huruf ramping, miring yang ada
di perkamen. Meninggalkan Sloper di tengah kalimat-
nya, dia bergegas menjauh dengan Ron dan Hermione,
membuka gulungan perkamennya sembari berjalan.
Dear Harry,
Aku ingin memulai pelajaran privat kita hari Sabtu
ini. Datanglah di kantorku pukul delapan malam. Kuharap
kau menikmati hari pertamamu di sekolah.
Salamku.
PS: Aku suka Soda Asam.
“Dia suka Soda Asam?” tanya Ron, yang ikut mem-
baca pesan itu lewat bahu Harry dan tampak bingung.
“Itu kata sandi untuk melewati gargoyle di depan
kantornya,” kata Harry dengan suara pelan. “Ha!
Snape tidak akan senang… Aku tak akan bisa men-
jalankan detensinya!”
Harry, Ron, dan Hermione melewatkan seluruh
waktu istirahat berspekulasi tentang apa yang akan
diajarkan Dumbledore kepada Harry. Ron berpendapat
kemungkinan besar kutukan dan mantra spektakuler
yang jenis-jenisnya tidak dikenali para Pelahap Maut.
231
Hermione berkata hal-hal seperti itu ilegal, dan ber-
pendapat kemungkinan Dumbledore ingin mengajari
Harry sihir pertahanan tingkat lanjut. Usai istirahat
Hermione ikut pelajaran Arithmancy, sementara Harry
dan Ron kembali ke ruang rekreasi, dan dengan eng-
gan mulai mengerjakan PR Snape. Ternyata PR ini
rumit sekali sehingga mereka belum selesai ketika
Hermione bergabung dengan mereka dalam jam ko-
song usai makan siang mereka (meskipun Hermione
mempercepat proses selesainya PR). Mereka baru saja
selesai ketika bel untuk dua jam pelajaran Ramuan
sore itu berbunyi dan mereka menyusuri jalan yang
sudah tak asing menuju ke kelas bawah tanah yang
selama bertahun-tahun menjadi milik Snape.
Setiba di koridor mereka melihat bahwa hanya se-
lusin anak yang melanjutkan ke tingkat NEWT. Crabbe
dan Goyle jelas gagal memperoleh nilai OWL yang
disyaratkan, namun empat anak Slytherin berhasil
lulus, termasuk Malfoy. Empat anak Ravenclaw ada
di sana, dan satu Hufflepuff, Ernie Macmillan, yang
Harry sukai kendati sikapnya agak angkuh.
“Harry,” sapa Ernie sok penting, seraya mengulur-
kan tangan ketika Harry mendekat, “tak sempat
ngobrol waktu Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tadi
pagi. Pelajaran bagus, menurutku, tapi Mantra Pelin-
dung sih ketinggalan zaman, tentu, bagi kita anggota
LD… dan apa kabar, Ron—Hermione?”
Mereka baru sempat mengucapkan “baik”, pintu
ruang kelas bawah tanah sudah terbuka dan perut
Slughorn mendahului keluar. Sementara mereka masuk
ke dalam kelas, kumis besarnya yang seperti kumis
232
beruang laut melengkung di atas mulutnya yang ter-
senyum dan dia menyambut Harry dan Zabini dengan
antusiasme yang berlebihan.
Ruang bawah tanah itu, sangat lain dari biasanya,
sudah penuh aroma dan bau yang aneh-aneh. Harry,
Ron, dan Hermione mengendus-endus dengan tertarik
ketika mereka melewati kuali-kuali besar bergelegak.
Keempat anak Slytherin duduk semeja, demikian juga
anak-anak Ravenclaw. Berarti Harry, Ron, dan
Hermione akan berbagi meja dengan Ernie. Mereka
memilih meja yang paling dekat dengan kuali warna-
emas yang mengeluarkan aroma paling menggairah-
kan yang pernah dihirup Harry. Entah kenapa aroma
itu mengingatkannya sekaligus akan tar karamel, bau
kayu gagang sapu, dan aroma bunga-bunga yang
Harry pikir pastilah pernah dia hirup di The Burrow.
Dia mendapati dirinya bernapas sangat perlahan dan
dalam dan bahwa asap ramuan itu tampaknya me-
menuhi dirinya seperti minuman. Tubuhnya dijalari
kepuasan yang luar biasa; dia nyengir kepada Ron di
seberang meja, yang balas nyengir dengan santai.
“Nah, nah, nah,” kata Slughorn, sosoknya yang
superbesar tampak bergetar di tengah banyak uap
aroma yang bergulung. “Keluarkan timbangan, semua,
dan peralatan ramuan, dan jangan lupa buku kalian
Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut…”
“Sir?” kata Harry, mengangkat tangannya.
“Harry, Nak?”
“Saya tidak punya buku ataupun timbangan atau
apa pun—Ron juga tidak—kami tidak menyangka
kami akan bisa ikut NEWT, soalnya—”
233
“Ah, ya, Profesor McGonagall menyebut itu… tak
perlu kuatir, anakku, sama sekali tak perlu kuatir.
Kalian bisa menggunakan bahan dari lemari sekolah
hari ini, dan aku yakin kami bisa meminjami kalian
timbangan, dan kami punya simpanan setumpuk buku
tua di sini, bisa kalian pakai sampai kalian sudah
menulis ke Flourish and Blotts…”
Slughorn berjalan ke lemari di sudut dan setelah
mencari-cari sebentar, datang dengan dua eksemplar
buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut oleh Libatius
Borage yang sudah amat sangat lusuh, yang diberikan-
nya kepada Harry dan Ron, bersama dengan dua
timbangan berkarat.
“Nah,” kata Slughorn, kembali ke depan kelas dan
menggembungkan dadanya yang sudah menggelem-
bung, sehingga kancing-kancing rompinya nyaris ber-
lepasan, “aku sudah menyiapkan beberapa ramuan
untuk kalian lihat, hanya supaya kalian tahu. Ini
semua adalah ramuan-ramuan yang mestinya bisa
kalian buat setelah menyelesaikan NEWT kalian. Ka-
lian pasti sudah pernah mendengar tentang ramuan-
ramuan ini, meskipun belum pernah membuatnya.
Ada yang tahu ramuan apa ini?”
Dia menunjuk kuali paling dekat meja Slytherin.
Harry bangkit sedikit dari tempat duduknya dan melihat
cairan seperti air putih mendidih di dalam kuali itu.
Tangan Hermione yang terlatih sudah terangkat ke
udara mendahului yang lain.
“Itu Veritaserum, ramuan tanpa warna, tanpa bau,
yang memaksa peminumnya mengatakan kebenaran,”
kata Hermione.
234
“Bagus sekali, bagus sekali,” kata Slughorn senang.
“Nah,” dia melanjutkan, menunjuk kuali paling dekat
meja Ravenclaw, “yang ini cukup terkenal… juga di-
sebutkan dalam beberapa selebaran Kementerian bela-
kangan ini… siapa yang—?”
Sekali lagi tangan Hermione paling cepat.
“Itu Ramuan Polijus, Sir,” katanya.
Harry juga sudah mengenali ramuan yang seperti
lumpur, menggelegak pelan, dalam kuali kedua, na-
mun tidak menyesali Hermione yang mendapatkan
kredit karena menjawab pertanyaan itu. Toh memang
Hermione yang telah berhasil membuatnya, ketika
mereka masih di kelas dua.
“Luar biasa, luar biasa! Nah, yang ini… ya, Nak?”
kata Slughorn, sekarang tampak agak kagum ketika
tangan Hermione meninju udara lagi.
“Itu Amortentia!”
“Betul sekali. Rasanya agak bodoh menanyakannya,”
kata Slughorn, yang tampak sangat terkesan, “tapi
kukira kau tahu apa kegunaannya?”
“Amortentia adalah ramuan cinta paling manjur di
seluruh dunia!” kata Hermione.
“Betul! Kau mengenalinya, kukira, dari kilaunya
yang seperti karang mutiara?”
“Dan uapnya yang membubung dalam bentuk spiral
yang khas,” kata Hermione antusias, “dan baunya
berbeda bagi masing-masing orang, tergantung pada
apa yang menarik bagi kita, dan saya bisa membaui
rumput yang baru dipotong dan perkamen baru,
dan—”
235
Namun wajahnya tiba-tiba merona dan Hermione
tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Boleh aku tahu namamu, Nak?” tanya Slughorn,
mengabaikan rasa malu Hermione.
“Hermione Granger, Sir.”
“Granger? Granger? Mungkinkah kau masih ber-
saudara dengan Hector Dagworth-Granger, yang men-
dirikan Perkumpulan Ahli-Ramuan yang Paling Luar
Biasa?”
“Tidak, saya rasa tidak, Sir. Saya kelahiran-Muggle,
soalnya.”
Harry melihat Malfoy mencondongkan dirinya dekat
dengan Nott dan membisikkan sesuatu; keduanya
terkikik, namun Slughorn tidak menunjukkan keter-
kejutan. Sebaliknya malah, dia berseri-seri dan meman-
dang dari Hermione ke Harry, yang duduk di sebelah-
nya.
“Oho! ‘Salah seorang sahabat saya kelahiran-Muggle
dan dia yang paling pintar dalam angkatan kami!’ Kutebak
ini sahabat yang kaumaksudkan, Harry?”
“Ya, Sir,” kata Harry.
“Wah, wah, kau layak mendapatkan dua puluh
angka untuk Gryffindor, Miss Granger,” kata Slughorn
riang.
Malfoy tampak seperti ketika Hermione meninju
wajahnya. Hermione menoleh kepada Harry dengan
berseri-seri dan berbisik, “Apakah kau betul-betul
memberitahunya aku yang paling pintar seangkatan?
Oh, Harry!”
“Yah, apa istimewanya itu?” bisik Ron, yang entah
kenapa tampak sebal. “Kau memang yang paling pintar
236
seangkatan—aku juga akan memberitahunya kalau
dia menanyaiku!”
Hermione tersenyum tetapi membuat isyarat “diam”,
sehingga mereka bisa mendengarkan apa yang sedang
dikatakan Slughorn. Ron tampak agak tidak puas.
“Amortentia tidak betul-betul menciptakan cinta, ten-
tu. Tak mungkin membuat atau mengimitasi cinta.
Tidak, ini hanya sekadar menimbulkan perasaan ter-
gila-gila atau obsesi yang luar biasa. Ini mungkin
ramuan yang paling berbahaya dan paling kuat dalam
ruangan ini—oh ya,” katanya, mengangguk serius
kepada Malfoy dan Nott, keduanya sedang menye-
ringai menyangsikan. “Jika kalian sudah menyaksikan
kehidupan sebanyak yang kusaksikan, kalian tidak
akan menggangap remeh kekuatan cinta obsesif…
“Dan sekarang,” kata Slughorn, “sudah waktunya
bagi kita untuk mulai bekerja.”
“Sir, Anda belum memberitahu kami ramuan apa
yang ada dalam kuali ini,” kata Ernie Macmillan,
menunjuk sebuah kuali hitam kecil yang nangkring
di atas meja Slughorn. Ramuan di dalamnya memer-
cik-mercik ceria; warnanya seperti warna emas mele-
leh, dan butir-butir besar melompat-lompat seperti
ikan emas di atas permukaannya, meskipun tak setitik
pun tercecer.
“Oho,” kata Slughorn lagi. Harry yakin Slughorn
sama sekali tidak lupa akan ramuan itu, namun se-
ngaja menunggu ditanya supaya efeknya dramatis.
“Ya. Itu. Nah, itu, Saudari-Saudara sekalian, adalah
ramuan paling ajaib yang disebut Felix Felicis. Saya
kira,” dia menoleh, tersenyum, memandang Hermione,
237
yang memekik pelan, “kau tahu apa khasiat Felix
Felicis, Miss Granger?”
“Itu cairan keberuntungan,” kata Hermione ber-
gairah. “Cairan itu membuat kita beruntung!”
Seluruh kelas tampaknya duduk sedikit lebih tegak.
Sekarang Harry hanya bisa melihat bagian belakang
kepala Malfoy yang berambut pirang, karena dia akhir-
nya memberi Slughorn perhatian penuh tanpa terbagi.
“Betul sekali, sepuluh angka lagi untuk Gryffindor.
Ya, ini ramuan yang aneh, Felix Felicis,” kata Slughorn.
“Luar biasa sulit pembuatannya, dan membawa mala-
petaka kalau keliru. Meskipun demikian, jika dibuat
secara benar, seperti yang ini, jika kalian meminumnya,
kalian akan melihat bahwa semua usaha kalian cen-
derung akan berhasil… paling tidak sampai efeknya
pudar.”
“Kenapa orang tidak meminumnya sepanjang wak-
tu, Sir?” tanya Terry Boot bersemangat.
“Karena jika diminum berlebihan, ramuan ini bisa
menyebabkan pusing, kenekatan, dan kepercayaan-
diri yang berlebihan,” kata Slughorn. “Terlalu banyak
hal baik, kalian tahu… sangat beracun dalam jumlah
besar. Tetapi jika diminum dengan hemat dan hanya
sekali-sekali…”
“Pernahkah Anda meminumnya, Sir?” tanya Michael
Corner dengan sangat tertarik.
“Dua kali sepanjang hidupku,” kata Slughorn. “Se-
kali waktu aku berumur dua puluh empat tahun,
sekali waktu aku lima puluh tujuh tahun. Dua sendok
makan penuh diminum sehabis sarapan. Dua hari
yang sempurna.”
238
Slughorn memandang ke kejauhan dengan pan-
dangan melamun. Apakah dia bersandiwara atau tidak,
pikir Harry efeknya bagus.
“Dan ramuan itulah,” kata Slughorn, rupanya sudah
kembali ke bumi, “yang akan kuberikan sebagai hadiah
dalam pelajaran ini.”
Kelas hening, membuat setiap gelegak dan deguk
di dalam kuali-kuali ramuan seolah dikeraskan sepuluh
kali.
“Satu botol kecil Felix Felicis,” kata Slughorn, menge-
luarkan satu botol kecil mungil bertutup gabus dari
dalam sakunya dan memperlihatkannya kepada me-
reka semua. “Cukup untuk membawa keberuntungan
selama dua belas jam. Dari subuh sampai senja, kalian
akan beruntung dalam apa pun yang kalian lakukan.
“Aku harus memperingatkan kalian bahwa Felix
Felicis adalah barang terlarang dalam kompetisi yang
terorganisir… pertandingan olahraga, misalnya, ujian,
atau pemilihan. Jadi, siapa pun yang mendapatkannya
nanti, hanya boleh menggunakannya pada hari yang
biasa… dan saksikan bagaimana hari yang biasa men-
jadi luar biasa!
“Jadi,” kata Slughorn, tiba-tiba menjadi penuh se-
mangat, “bagaimana kalian bisa memenangkan hadiah-
ku yang luar biasa ini? Dengan membuka halaman
sepuluh Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut. Kita masih
punya waktu satu jam lebih sedikit, jadi cukup waktu
bagi kalian untuk mencoba membuat Tegukan Hidup
Bagai Mati. Aku tahu ramuan ini lebih rumit daripada
ramuan apa pun yang pernah kalian coba buat sebe-
lumnya, dan aku tidak mengharapkan ramuan sem-
239
purna dari siapa pun. Meskipun demikian, anak yang
menghasilkan ramuan paling baik akan memenangkan
sebotol kecil Felix ini. Silakan mulai!”
Terdengar derit ketika semua anak menarik kuali ke
dekat mereka, dan dentang-dentang keras ketika be-
berapa anak mulai menimbang ramuan, namun tak
seorang pun bicara. Semua anak berkonsentrasi penuh.
Harry melihat Malfoy membuka-buka buku Pembuatan-
Ramuan Tingkat Lanjut-nya dengan penuh semangat.
Tak bisa lebih jelas lagi bahwa Malfoy menginginkan
hari penuh keberuntungan itu. Harry buru-buru mem-
bungkuk melihat buku lusuh yang dipinjamkan
Slughorn kepadanya.
Betapa kesalnya Harry melihat si pemilik buku se-
belumnya telah menulisi halaman-halamannya, sehing-
ga tepian buku itu sama hitamnya dengan bagian
yang tercetak. Harry membungkuk rendah untuk
membaca bahan-bahan yang diperlukan (bahkan di
sini si pemilik membuat catatan dan mencoret be-
berapa hal), kemudian bergegas ke lemari bahan untuk
mengambil yang diperlukannya. Selagi dia berlari kem-
bali ke kualinya, dilihatnya Malfoy sedang mengiris
akar valerian secepat dia bisa. Valerian dikenal sebagai
tanaman penyembuh-segala, dan kandungan obatnya
ada dalam akarnya.
Semua anak terus-menerus mengerling melihat apa
yang dilakukan temannya yang lain. Inilah ke-
untungan dan kerugian kelas Ramuan, sulit menjaga
kerahasiaan ramuan yang kaubuat. Dalam waktu se-
puluh menit, seluruh ruangan dipenuhi uap kebiruan.
Hermione-lah, tentu saja, yang kemajuannya paling
240
pesat. Ramuannya sudah mirip cairan “halus, sewarna
beri hitam” yang disebutkan sebagai tahap per-
tengahan yang ideal.
Setelah selesai mengiris akar-akarnya, Harry mem-
bungkuk rendah di atas bukunya lagi. Sungguh sangat
menjengkelkan, harus membaca petunjuknya di antara
catatan-catatan bego pemilik sebelumnya, yang entah
kenapa tidak menyetujui petunjuk untuk memotong-
motong kacang Sopophorous dan telah menuliskan
petunjuk alternatifnya:
“Sir, saya rasa Anda mengenal kakek saya, Abraxas
Malfoy?”
Harry mendongak. Slughorn baru saja melewati
meja Slytherin.
“Ya,” kata Slughorn, tanpa memandang Malfoy, “aku
ikut prihatin mendengar dia sudah meninggal, meski-
pun tentu saja itu tidak mengejutkan, cacar naga
pada usianya…”
Dan dia berjalan menjauh. Harry menunduk di
atas kualinya, menyeringai. Bisa ditebaknya bahwa
Malfoy berharap diperlakukan seperti Harry atau
Zabini; barangkali malah berharap mendapat per-
lakuan istimewa seperti yang diperolehnya dari Snape.
Kelihatannya Malfoy tak bisa mengandalkan hal lain
kecuali kemampuannya untuk memenangkan botol
Felix Felicis itu.
Kacang Sopophorous ternyata sulit sekali dipotong-
potong. Harry menoleh kepada Hermione.
241
“Boleh aku pinjam pisau perakmu?”
Hermione mengangguk tak sabar, tanpa mengangkat
mata dari ramuannya, yang masih berwarna ungu
tua, kendatipun menurut buku seharusnya sudah ber-
ubah menjadi ungu muda sekarang.
Harry mengeprek kacangnya dengan daun belati.
Dia tercengang ketika kacang itu langsung menge-
luarkan banyak sekali cairan. Dia kagum kacang kisut
itu bisa mengandung cairan sebanyak itu. Buru-buru
Harry menuang semua cairan itu ke dalam kuali.
Betapa herannya dia melihat ramuannya langsung
berubah warna menjadi ungu muda persis seperti
dideskripsikan oleh bukunya.
Kejengkelannya kepada pemilik buku sebelumnya
langsung sirna saat itu juga, Harry sekarang menyipit-
kan mata membaca instruksi selanjutnya. Menurut
buku, dia harus mengaduknya berlawanan-arah de-
ngan putaran jarum jam sampai ramuan itu menjadi
sejernih air. Namun menurut catatan yang dibuat
pemilik sebelumnya, dia harus menambahkan sekali
adukan searah putaran jarum jam setiap usai me-
lakukan tujuh kali adukan berlawanan-arah jarum
jam. Mungkinkah si pemilik sebelumnya benar dua
kali?
Harry mengaduk berlawanan-arah dengan jarum
jam, menahan napas, dan mengaduk searah jarum
jam sekali. Efeknya langsung terlihat. Ramuannya ber-
ubah menjadi merah muda pucat.
“Bagaimana kau melakukannya?” tuntut Hermione,
yang wajahnya kemerahan dan rambutnya semakin
lama tampak semakin lebat dalam uap dari kualinya;
242
ramuannya dengan bandel masih bertahan berwarna
ungu.
“Tambahkan satu putaran searah jarum jam—”
“Tidak, tidak, menurut buku berlawanan-arah de-
ngan jarum jam!” kilahnya.
Harry mengangkat bahu dan melanjutkan apa yang
dilakukannya. Tujuh adukan berlawanan-arah dengan
putaran jarum jam, satu adukan searah putaran jarum
jam, berhenti… tujuh adukan berlawanan-arah dengan
putaran jarum jam, satu adukan searah putaran jarum
jam…
Di seberang meja, Ron mengutuk pelan. Ramuannya
tampak seperti obat batuk hitam kental. Harry mencuri
pandang ke sekitarnya. Sejauh yang bisa dilihatnya,
tak ada ramuan anak lain yang sepucat ramuannya.
Dia merasa senang sekali, sesuatu yang jelas belum
pernah terjadi di dalam ruang kelas bawah tanah ini.
“Dan waktunya… habis!” seru Slughorn. “Tolong
semua berhenti mengaduk!”
Slughorn bergerak pelan di antara meja-meja,
mengintip ke dalam kuali. Dia tidak memberi komen-
tar, namun kadang-kadang mengaduk ramuan, atau
mengendusnya. Akhirnya dia tiba di meja Harry, Ron,
Hermione, dan Ernie. Dia tersenyum menyesal pada
ramuan Ron yang seperti ter. Dia melewati begitu
saja cairan Ernie yang berwarna biru tua. Ramuan
Hermione diberinya anggukan setuju. Kemudian dia
melihat ramuan Harry dan ekspresi kegembiraan dan
tak percaya mewarnai wajahnya.
“Jelas inilah pemenangnya!” serunya ke kelasnya.
“Luar biasa, luar biasa, Harry! Astaga, jelas sekali kau
243
mewarisi bakat ibumu, dia pintar sekali membuat
Ramuan. Lily hebat sekali! Ini dia, kalau begitu, ini
dia—sebotol Felix Felicis, seperti yang kujanjikan, dan
gunakan ini sebaik-baiknya!”
Harry menyelipkan botol kecil mungil berisi cairan
keemasan ke saku dalamnya, perasaannya campur
aduk aneh, antara senang melihat kegusaran di wajah
anak-anak Slytherin, dan rasa bersalah melihat kekece-
waan di wajah Hermione. Ron hanya ternganga takjub.
“Bagaimana kau melakukannya?” dia berbisik ke-
pada Harry ketika mereka meninggalkan ruang bawah
tanah itu.
“Beruntung saja, kukira,” kata Harry, karena Malfoy
berada dalam jarak-dengar.
Namun, begitu mereka sudah duduk nyaman di
meja Gryffindor untuk makan malam, Harry merasa
cukup aman untuk memberitahu mereka. Wajah Her-
mione semakin lama semakin membatu mendengar
tiap kata yang diucapkannya.
“Kurasa kaupikir aku curang?” Harry mengakhiri
penuturannya, sakit hati melihat ekspresi Hermione.
“Yah, itu bukan sepenuhnya hasil kerjamu, kan?”
timpal Hermione kaku.
“Dia cuma mengikuti instruksi yang berbeda dengan
instruksi kita,” kata Ron. “Bisa jadi malapetaka, kan?
Tapi dia mengambil risiko dan berhasil.” Ron menghela
napas. “Slughorn bisa saja memberiku buku yang itu,
tapi tidak, aku dapat buku yang tak ada tulisannya
apa pun. Pernah dimuntahi, kalau lihat tampilan ha-
laman lima-puluh-dua, tapi—”
“Tunggu,” kata suara dekat telinga kiri Harry dan
244
dia menghirup bau bunga-bungaan seperti dalam
ruang kelas Slughorn tadi. Dia menoleh dan melihat
Ginny telah bergabung dengan mereka. “Apakah aku
mendengar dengan benar? Kau mengikuti petunjuk
yang ditulis seseorang dalam buku, Harry?”
Ginny tampak ketakutan dan gusar. Harry langsung
tahu apa yang ada dalam pikirannya.
“Bukan apa-apa,” katanya menenangkan, merendah-
kan suaranya. “Sama sekali lain daripada, kau tahu,
buku harian Riddle. Ini cuma buku pelajaran tua
yang ditulisi seseorang.”
“Tapi kau melakukan apa yang dikatakannya?”
“Aku cuma mencoba beberapa petunjuk yang tertulis
di tepi bukunya. Tenang, Ginny, tak ada yang aneh—”
“Ginny betul,” kata Hermione, langsung gembira.
“Kita harus mengecek apakah tak ada yang aneh.
Maksudku, semua instruksi itu, siapa tahu?”
“Hei!” kata Harry jengkel, ketika Hermione menarik
keluar buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut dari da-
lam tasnya dan mengangkat tongkat sihirnya.
“Specialis revelio!” kata Hermione, dengan gesit me-
ngetuk sampul depan buku itu.
Tak ada yang terjadi. Bukunya hanya tergeletak,
tampak tua dan kotor dan tepiannya compang-
camping.
“Selesai?” kata Harry kesal. “Atau kau mau me-
nunggu dan melihat kalau-kalau buku ini akan terjun-
berputar?”
“Kelihatannya oke,” kata Hermione, masih menatap
buku itu dengan curiga. “Maksudku, kelihatannya
memang… cuma buku pelajaran.”
245
“Bagus. Kalau begitu kembalikan,” kata Harry, me-
nyambar buku itu dari atas meja. Namun buku itu
terlepas dari tangannya dan mendarat terbuka di
lantai.
Tak ada orang lain yang melihat. Harry mem-
bungkuk rendah untuk mengambil buku itu, dan dia
melihat ada tulisan sepanjang bagian bawah kulit
belakang buku, dengan tulisan kecil-kecil rapat, sama
dengan instruksi-instruksi yang membuatnya me-
menangkan sebotol Felix Felicis, yang sekarang ter-
sembunyi aman dalam sepasang kaus kaki dalam
koper di kamarnya di atas.
246
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection’s
ALAM pelajaran-pelajaran Ramuan selama sisa
minggu itu Harry terus mengikuti petunjuk-
petunjuk si Pangeran Berdarah-Campuran setiap kali
instruksinya berbeda dari instruksi Libatius Borage,
dengan hasil pada pelajaran keempatnya Slughorn
menjadi sangat antusias tentang kemampuan Harry,
mengatakan bahwa dia jarang sekali mengajar orang
seberbakat Harry. Baik Ron maupun Hermione tidak
senang dengan keadaan ini. Kendati Harry telah me-
nawarkan untuk berbagi bukunya dengan mereka
berdua, Ron mendapat lebih banyak kesulitan diban-
ding Harry dalam menafsirkan tulisan Pangeran, dan
tak mungkin terus-menerus meminta Harry membaca-
nya keras-keras, karena itu akan menimbulkan ke-
247
curigaan. Hermione, sementara itu, dengan tegas
mengikuti apa yang disebutnya instruksi “resmi”, na-
mun dia menjadi semakin mudah-marah ketika
instruksi “resmi” itu membuahkan hasil yang kurang
bagus dibanding instruksi Pangeran.
Harry bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan
Pangeran Berdarah-Campuran itu. Meskipun jumlah
pekerjaan rumah yang diberikan kepada mereka
menghalanginya membaca habis seluruh buku Pem-
buatan-Ramuan Tingkat Lanjut, dia telah cukup mem-
balik-balik buku itu untuk melihat bahwa nyaris tak
ada satu halaman pun yang tidak diberi catatan tam-
bahan oleh Pangeran, tidak semua catatan itu tentang
pembuatan-ramuan. Di sana-sini ada petunjuk tentang
mantra-mantra yang rupanya diciptakan sendiri oleh
si Pangeran.
“Atau Putri,” kata Hermione jengkel, mendengar
Harry menceritakan ini kepada Ron di ruang rekreasi
pada hari Sabtu malam. “Siapa tahu dia perempuan.
Menurutku tulisannya lebih mirip tulisan anak perem-
puan daripada tulisan anak laki-laki.”
“The Half-Blood Prince, Pangeran Berdarah-Campuran,
begitu dia menyebut dirinya,” kata Harry. “Berapa
banyak anak perempuan yang jadi pangeran?”
Hermione tak bisa menjawab pertanyaan ini. Dia
hanya memberengut dan menjauhkan esainya tentang
“Prinsip-Prinsip Pemunculan-Kembali” dari Ron, yang
berusaha membacanya secara terbalik.
Harry melihat arlojinya dan bergegas memasukkan
kembali buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut-nya ke
dalam tasnya.
248
“Jam delapan kurang lima, sebaiknya aku ke
Dumbledore sekarang, kalau tidak bisa telat nanti.”
“Ooooh!” Hermione terpekik pelan, langsung meng-
angkat muka memandangnya. “Semoga sukses! Kami
akan menunggu, kami ingin mendengar apa yang
diajarkannya kepadamu!”
“Semoga lancar,” kata Ron, dan keduanya meng-
awasi Harry meninggalkan ruangan lewat lubang lu-
kisan.
Harry menyusuri koridor-koridor kosong, namun
buru-buru melangkah ke belakang patung ketika Pro-
fesor Trelawney tiba-tiba muncul dari tikungan, ber-
gumam sendiri seraya mengocok satu pak kartu-lusuh,
dan membacanya sambil berjalan.
“Dua sekop, konflik,” gumamnya, ketika dia melewati
tempat Harry meringkuk, tersembunyi. “Tujuh sekop,
pertanda buruk. Sepuluh sekop, kekerasan. Pangeran
sekop, seorang pemuda berkulit gelap, kemungkinan
bermasalah, tidak menyukai si penanya—”
Dia mendadak berhenti, tepat di sisi lain patung
Harry.
“Yah, itu tak mungkin benar,” katanya, kesal, dan
Harry mendengarnya mengocok lagi kartunya dengan
bersemangat, hanya meninggalkan bau sherry di bela-
kangnya. Harry menunggu sampai dia yakin Profesor
Trelawney sudah pergi, kemudian berjalan bergegas
lagi sampai tiba di lantai tujuh di tempat yang ada
gargoyle-nya berdiri di depan dinding.
“Soda Asam,” kata Harry. Si gargoyle melompat ke
samping; dinding di belakangnya menggeser terbuka,
dan tampaklah sebuah tangga batu spiral yang ber-
249
putar. Harry melangkah ke tangga batu itu, sehingga
dia dibawa dalam putaran-putaran lancar ke pintu
kantor Dumbledore dengan pengetuk dari kuningan.
Harry mengetuk pintu.
“Masuk,” kata suara Dumbledore.
“Selamat malam, Sir,” kata Harry, memasuki kantor
Kepala Sekolah.
“Ah, selamat malam, Harry,” sambut Dumbledore,
tersenyum. “Kuharap minggu pertamamu di sekolah
menyenangkan?”
“Ya, terima kasih, Sir,” kata Harry.
“Kau pasti sibuk, sudah langsung mendapat de-
tensi!”
“Er…” Harry salah tingkah, namun Dumbledore ti-
dak tampak terlalu galak.
“Aku sudah mengatur dengan Profesor Snape su-
paya kau menjalankan detensimu Sabtu depan.”
“Baiklah,” kata Harry, yang benaknya dipenuhi hal-
hal lain yang lebih mendesak daripada detensi Snape,
dan sekarang diam-diam memandang ke sekitarnya,
mencari indikasi apa yang akan diajarkan Dumbledore
kepadanya malam itu. Kantor bundar itu tampak sama
seperti biasanya; peralatan perak yang halus rapuh di
atas meja-meja berkaki kurus panjang, mengepulkan
asap dan mendesing tenang; lukisan-lukisan para man-
tan kepala sekolah yang tertidur dalam pigura mereka;
dan phoenix Dumbledore yang luar biasa, Fawkes,
bertengger di tempat hinggapnya di balik pintu, meng-
awasi Harry dengan tertarik. Tampaknya Dumbledore
tidak menyiapkan ruangan untuk berlatih duel.
“Nah, Harry,” kata Dumbledore dengan suara serius.
250
“Kau pasti bertanya-tanya dalam hati, aku yakin, apa
yang kurencanakan untukmu selama—karena tak ada
kata yang lebih bagus—pelajaran ini?”
“Ya, Sir.”
“Aku telah memutuskan bahwa sudah waktunya,
sekarang setelah kau tahu apa yang mendorong Lord
Voldemort mencoba membunuhmu lima belas tahun
lalu, kau diberi informasi-informasi tertentu.”
Hening sejenak.
“Anda mengatakan, pada akhir tahun ajaran lalu,
bahwa Anda akan memberitahu saya segalanya,” kata
Harry. Sulit mencegah adanya nada menuduh dalam
suaranya. “Sir,” katanya menambahkan.
“Dan memang begitu,” kata Dumbledore tenang.
“Aku sudah memberitahumu segala yang kuketahui.
Mulai saat ini, kita akan meninggalkan fondasi kuat
fakta dan berkelana bersama menembus rawa-rawa
suram kenangan menuju semak-semak liar dugaan.
Setelah ini, Harry, aku bisa sama kelirunya dengan
Humphrey Belcher, yang percaya sudah waktunya
untuk membuat kuali keju.”
“Tetapi menurut Anda, Anda benar?” tanya Harry.
“Tentu, tapi seperti telah kubuktikan kepadamu,
aku bisa membuat kesalahan seperti orang lain. Malah,
karena aku—maafkan aku—agak lebih pintar daripada
sebagian besar orang, kesalahanku cenderung lebih
besar juga.”
“Sir,” kata Harry hati-hati, “apakah apa yang akan
Anda beritahukan kepada saya ada hubungannya de-
ngan ramalan? Apakah itu akan membantu saya…
bertahan?”
251
“Sangat erat hubungannya dengan ramalan,” kata
Dumbledore, sesantai seakan Harry baru menanyainya
soal cuaca hari berikutnya, “dan aku sungguh berharap
ini akan membantumu bertahan.”
Dumbledore bangkit berdiri dan berjalan mengitari
meja, melewati Harry, yang memutar dengan ber-
semangat di kursinya untuk mengawasi Dumbledore
membungkuk di depan lemari di sebelah pintu. Ketika
Dumbledore menegakkan diri lagi, dia memegang
baskom batu dangkal yang sudah tak asing baginya,
dengan tatahan simbol-simbol aneh di sekeliling
tepiannya. Diletakkannya Pensieve di meja di depan
Harry.
“Kau tampak cemas.”
Harry memang memandang Pensieve agak takut.
Pengalamannya sebelumnya dengan alat aneh yang
bisa menyimpan dan membeberkan pikiran dan ke-
nangan, kendatipun sangat banyak mengandung pela-
jaran, juga sangat tidak menyenangkan. Kali terakhir
Harry mengganggu isinya, dia telah melihat lebih
daripada yang diinginkannya. Namun Dumbledore
tersenyum.
“Kali ini, kau memasuki Pensieve bersamaku… dan,
yang lebih tidak lazim, dengan izin.”
“Ke mana kita akan pergi, Sir?”
“Berjalan-jalan sepanjang jalan kenangan Bob
Ogden,” kata Dumbledore, mengeluarkan dari sakunya
botol kristal berisi sesuatu yang bergulung, putih-
keperakan.
“Siapakah Bob Ogden?”
“Dia dulu bekerja di Departemen Pelaksanaan Hu-
252
kum Sihir,” kata Dumbledore. “Dia meninggal beberapa
waktu yang lalu, tetapi tidak sebelum aku berhasil
melacaknya dan membujuknya memercayakan ke-
nangannya ini kepadaku. Kita akan menemaninya
dalam satu kunjungan yang dilakukannya dalam masa
tugasnya. Silakan berdiri, Harry…”
Tetapi Dumbledore mengalami kesulitan menarik
tutup botol kristal itu; tangannya yang terluka tampak
kaku dan kesakitan.
“Boleh—boleh saya bantu, Sir?”
“Tak usah, Harry—”
Dumbledore mengacungkan tongkat sihirnya ke
arah botol itu dan tutup gabusnya langsung terbang
lepas.
“Sir—bagaimana sampai tangan Anda terluka?”
Harry bertanya lagi, memandang jari-jari kehitaman
itu dengan rasa kasihan bercampur jijik.
“Sekarang bukan waktunya untuk cerita itu, Harry.
Belum waktunya. Kita punya janji dengan Bob
Ogden.”
Dumbledore menuang isi botol yang keperakan ke
dalam Pensieve, yang langsung berputar dan ber-
pendar, bukan cairan dan bukan gas.
“Kau dulu,” kata Dumbledore, memberi isyarat ke
arah baskom.
Harry membungkuk, menarik napas dalam-dalam,
dan memasukkan wajahnya ke dalam zat keperakan
itu. Dia merasa kakinya meninggalkan lantai kantor,
dia terjatuh, memasuki kegelapan yang berpusar dan
kemudian, cukup mendadak, dia sudah mengerjapkan
matanya dalam cahaya matahari yang menyilaukan.
253
Sebelum matanya sempat beradaptasi, Dumbledore
sudah mendarat di sebelahnya.
Mereka sedang berdiri di sebuah jalan pedesaan
yang diapit pagar tanaman tinggi dan lebat, di bawah
langit musim panas secerah dan sebiru bunga forget-
me-not. Kira-kira tiga meter di depan mereka berdiri
seorang laki-laki gemuk pendek memakai kacamata
supertebal yang membuat matanya tampak kecil se-
perti bintik tahi lalat. Dia sedang membaca papan
petunjuk jalan yang muncul dari dalam semak di sisi
kiri jalan. Harry tahu dia pastilah Ogden; dia satu-
satunya orang yang tampak, dan dia juga memakai
kombinasi aneh berbagai pakaian yang acap kali dipilih
oleh penyihir tak berpengalaman yang berusaha tampil
sebagai Muggle. Dia memakai jas berkancing dua
baris dan penutup mata kaki di atas baju renang
sepotong. Sebelum Harry sempat meneliti lebih jauh
penampilan yang ajaib ini, Ogden sudah berjalan
cepat menyusuri jalan setapak.
Dumbledore dan Harry mengikutinya. Ketika mere-
ka melewati papan petunjuk jalan, Harry mendongak
melihat dua petunjuknya. Yang menunjuk ke arah
dari mana mereka datang berbunyi: “Great Hangleton,
5 mil”. Yang menunjuk ke arah Ogden berbunyi:
“Little Hangleton, 1 mil.”* Selama beberapa waktu
mereka berjalan, yang bisa mereka lihat hanyalah
pagar tanaman, langit luas biru di atas mereka, dan
sosok berjas yang bergerak cepat di depan mereka,
* 1 mil = 1,609 km
254
sampai kemudian jalan membelok ke kiri dan menjadi
curam, menuruni sisi bukit, sehingga mendadak, tanpa
diduga, mereka melihat seluruh lembah terhampar di
hadapan mereka. Harry bisa melihat desa, tak diragu-
kan lagi Little Hangleton, bersarang di antara dua
bukit curam, gereja dan pemakamannya terlihat jelas.
Di seberang lembah, di sisi bukit yang berhadapan,
berdiri sebuah rumah gedung yang megah dikelilingi
halaman rumput luas bagai beludru hijau.
Ogden sekarang berjalan hati-hati sehubungan de-
ngan jalan setapak yang menurun curam. Dumbledore
memanjangkan langkah dan Harry bergegas agar bisa
merendenginya. Dia mengira Little Hangleton pastilah
tujuan mereka dan bertanya dalam hati, seperti pada
malam mereka menemukan Slughorn, kenapa mereka
harus mendatanginya dari jarak sejauh itu. Meskipun
demikian, tak lama kemudian dia tahu ternyata dia
salah mengira akan ke desa itu. Jalan setapak itu
membelok ke kanan, dan ketika membelok di sudut,
mereka melihat ujung jas Ogden menghilang melewati
lubang di pagar tanaman.
Dumbledore dan Harry membuntutinya menyusuri
jalan tanah sempit yang diapit pagar tanaman yang
lebih tinggi dan lebih liar daripada yang mereka
tinggalkan. Jalanan itu berliku-liku, berbatu-batu, dan
berlubang-lubang, menurun seperti jalan sebelumnya,
dan tampaknya menuju sepetak pepohonan gelap
agak di bawah mereka. Betul saja, jalan tanah itu
berhenti di depan hutan kecil. Dumbledore dan Harry
berhenti di belakang Ogden, yang telah berhenti dan
mencabut tongkat sihirnya.
255
Walaupun langit tak berawan, pepohonan tua di
depan mereka menimbulkan bayang-bayang gelap dan
sejuk dan baru beberapa detik kemudian mata Harry
bisa melihat bangunan yang setengah tersembunyi di
antara batang-batang pohon yang campur aduk. Bagi
Harry, pemilihan lokasi rumah itu aneh sekali; atau
kalau tidak, keputusan yang aneh membiarkan pe-
pohonan tumbuh rapat di sekitarnya, memblokir se-
mua cahaya dan pemandangan ke lembah di bawah-
nya. Dia bertanya dalam hati, apakah rumah itu ber-
penghuni. Dinding-dindingnya berlumut dan banyak
genteng yang sudah terjatuh dari atapnya, sehingga
kasau-kasaunya tampak di beberapa tempat. Jelatang
tumbuh di sekeliling rumah, puncaknya mencapai
jendela-jendela rumah, yang kecil-kecil dan berlapis
tebal kotoran. Baru saja dia menyimpulkan bahwa
tak mungkin ada orang yang tinggal di situ, salah
satu jendelanya menjeblak terbuka dengan bunyi den-
tang dan asap tipis melayang keluar, sepertinya ada
orang yang sedang memasak.
Ogden bergerak maju tanpa suara, dan tampaknya
bagi Harry, agak berhati-hati. Selagi bayang-bayang
gelap pepohonan bergerak di atasnya, dia berhenti
lagi, memandang pintu depan. Ada orang yang me-
maku ular mati di pintu itu.
Kemudian terdengar bunyi gemerisik, kertak, dan
seorang laki-laki berpakaian compang-camping terjun
dari pohon terdekat, mendarat dengan kakinya tepat
di depan Ogden, yang melompat ke belakang cepat
sekali sampai dia menginjak ujung ekor jasnya dan
terhuyung.
256
“Kau tidak diharapkan.”
Rambut laki-laki yang berdiri di hadapan mereka
kusut masai berlapis debu tebal, sehingga tak jelas
apa warnanya. Beberapa giginya ompong. Matanya
kecil dan gelap dan memandang ke arah berlawanan.
Mestinya tampangnya bisa konyol, tapi tidak, efeknya
malah menakutkan, dan Harry tak bisa menyalahkan
Ogden yang mundur beberapa langkah lagi sebelum
dia bicara.
“Er—selamat pagi. Saya dari Kementerian Sihir—”
“Kau tidak diharapkan.”
“Er—maaf—saya tidak mengerti ucapanmu,” kata
Ogden gugup.
Harry menyangka Ogden bodoh sekali, sosok asing
itu bicara jelas sekali, menurut pendapatnya, apalagi
karena dia mengacung-acungkan tongkat sihir di satu
tangan dan pisau pendek berlumur darah di tangan
yang lain.
“Kau mengerti dia, aku yakin, Harry?” kata Dumble-
dore pelan.
“Ya, tentu saja,” kata Harry, sedikit heran. “Kenapa
Ogden tidak—”
Namun ketika tertatap lagi olehnya ular mati di
pintu, dia mendadak paham.
“Dia bicara Parseltongue?”
“Bagus sekali,” kata Dumbledore, mengangguk dan
tersenyum.
Laki-laki berpakaian compang-camping itu sekarang
maju mendekati Ogden, pisau di satu tangan, tongkat
sihir di tangan lain.
“Tunggu dulu—” Ogden berkata, namun terlambat.
257
Terdengar dentuman dan Ogden terkapar di tanah,
memegangi hidungnya, sementara cairan kental keku-
ningan menjijikkan menyembur dari antara jari-jari-
nya.
“Morfin!” terdengar teriakan keras.
Seorang laki-laki setengah-baya bergegas keluar dari
gubuk, membanting pintu di belakangnya sehingga
ular mati itu berayun memelas. Laki-laki ini lebih
pendek daripada yang pertama, dan proporsi tubuh-
nya aneh; bahunya sangat lebar dan lengannya ke-
lewat panjang, ini ditambah mata cokelatnya yang
cerah, rambut pendeknya yang kaku dan wajahnya
yang keriput, membuatnya tampak seperti kera tua
yang berkuasa. Dia berhenti di sebelah laki-laki yang
memegang pisau, yang sekarang terbahak-bahak me-
lihat Ogden di tanah.
“Kementerian, ya?” kata si laki-laki yang lebih tua,
menunduk memandang Ogden.
“Betul!” kata Ogden berang, mengelap wajahnya.
“Dan Anda, saya kira, adalah Mr Gaunt?”
“Betul,” kata Gaunt. “Menyerang wajahmu, dia?”
“Ya!” gertak Ogden.
“Harusnya memberitahukan kedatangan Anda dulu,
kan?” timpal Gaunt agresif. “Ini milik pribadi. Anda
tak bisa masuk begitu saja dan tak mengharap anak
saya membela diri.”
“Membela diri terhadap apa, coba?” kata Ogden,
merangkak bangun.
“Orang-orang yang ingin tahu. Pengganggu. Muggle
dan sampah.”
Ogden mengacungkan tongkat sihir ke hidungnya
258
sendiri, yang masih mengeluarkan banyak cairan se-
perti nanah kuning, dan cairan itu langsung berhenti.
Mr Gaunt bicara dari sudut mulutnya kepada Morfin.
“Masuk rumah. Jangan membantah.”
Kali ini, sudah siap, Harry langsung tahu itu Parsel-
tongue. Bahkan sementara dia bisa memahami apa
yang dikatakan, dia mengenali bunyi desis aneh yang
mestinya hanya itu yang didengar Ogden. Morfin
tampaknya akan membantah, namun ketika ayahnya
melempar pandang mengancam dia berubah pikiran,
beringsut menuju gubuk dengan langkah menggelin-
ding yang aneh dan membanting pintu menutup di
belakangnya, sehingga ular matinya berayun sedih
lagi.
“Anak Anda-lah yang ingin saya temui, Mr Gaunt,”
kata Ogden, sambil mengelap sisa nanah terakhir
dari bagian depan jasnya. “Itu Morfin, kan?”
“Ya, itu Morfin,” kata laki-laki tua itu tak acuh.
“Apakah Anda berdarah-murni?” dia bertanya, tiba-
tiba agresif.
“Itu tidak ada hubungannya,” kata Ogden dingin,
dan rasa hormat Harry terhadap Ogden meningkat.
Rupanya yang dirasakan Gaunt agak berbeda. Mata-
nya menyipit memandang wajah Ogden dan ber-
gumam, dalam nada yang jelas menghina, “Kalau
saya pikir-pikir, saya pernah melihat hidung seperti
hidung Anda di desa.”
“Saya tidak meragukannya, jika anak Anda dilepas
menyerang mereka,” kata Ogden. “Barangkali kita
bisa melanjutkan diskusi ini di dalam?”
“Di dalam?”
259
“Ya, Mr Gaunt. Sudah saya katakan tadi, saya da-
tang soal Morfin. Kami sudah mengirim burung
hantu—”
“Burung hantu tak ada gunanya untuk saya,” kata
Gaunt. “Saya tidak membuka surat-surat.”
“Kalau begitu Anda tak bisa mengeluh tak diberi-
tahu lebih dulu akan kedatangan tamu,” kata Ogden
masam. “Saya berada di sini karena adanya pelang-
garan hukum sihir yang serius, yang terjadi di sini
pada pagi—”
“Baik, baik, baik!” teriak Gaunt. “Masuk saja, kalau
begitu. Anda kira kalau masuk lebih baik!”
Rumah itu tampaknya terdiri atas tiga ruangan
kecil. Ada dua pintu menuju ruang utama, yang ber-
fungsi sebagai dapur sekaligus ruang duduk. Morfin
sedang duduk di kursi, berlengan kotor di sebelah
perapian berasap, menbelitkan ular beludak hidup di
antara jari-jarinya yang gemuk dan menyanyi lembut
kepada ular itu dalam Parseltongue:
“Desis, desis, ular kecil mendesis,
Menjalar-jalar di lantai batu,
Baik-baiklah kepada Morfin,
Kalau tak mau dipaku di pintu.”
Terdengar keresekan di sudut dekat jendela terbuka
dan Harry menyadari ada orang lain dalam ruangan
itu, seorang gadis yang gaun compang-campingnya
berwarna kelabu persis warna dinding batu kotor di
belakangnya. Dia sedang berdiri di sebelah panci ber-
asap di atas tungku batu kotor, dan sedang memberes-
260
kan panci dan belanga yang tampak kotor di atas
rak. Rambutnya tipis dan kusam dan wajahnya seder-
hana, pucat, agak berat. Matanya, seperti mata abang-
nya, memandang ke arah berlawanan. Dia tampak
sedikit lebih bersih daripada ayah dan abangnya, na-
mun Harry belum pernah melihat orang yang bertam-
pang lebih sengsara daripadanya.
“Anak perempuan saya, Merope,” kata Gaunt eng-
gan, ketika Ogden memandang penuh tanya ke arah-
nya.
“Selamat pagi,” sapa Ogden.
Gadis itu tidak menyahut, namun dengan pan-
dangan takut ke arah ayahnya berbalik memunggungi
ruangan dan meneruskan membereskan panci-panci
di rak di belakangnya.
“Nah, Mr Gaunt,” kata Ogden, “kita langsung ke
pokok persoalan. Kami punya alasan untuk memer-
cayai bahwa anak Anda, Morfin, melakukan sihir di
depan seorang Muggle larut malam kemarin.”
Terdengar bunyi dentang memekakkan telinga.
Merope menjatuhkan salah satu panci.
“Ambil!” Gaunt membentaknya. “Ya, terus saja meng-
gerayang lantai seperti Muggle kotor. Buat apa tongkat
sihirmu? Dasar kantong sampah tak berguna!”
“Mr Gaunt, mohon jangan memaki!” kata Ogden
dalam suara shock, sementara Merope, yang sudah
memungut panci, wajahnya merah padam, sekali lagi
pegangannya pada panci terlepas, dengan gemetar
mencabut tongkat sihirnya dari sakunya, mengarah-
kannya ke panci dan buru-buru menggumamkan man-
tra yang membuat panci itu meluncur di lantai men-
261
jauh darinya, menabrak dinding seberang, dan retak
menjadi dua.
Morfin terbahak-bahak. Gaunt berteriak, “Betulkan,
gumpalan lumpur bego, betulkan!”
Merope terhuyung ke seberang ruangan, namun
sebelum dia sempat mengangkat tongkat sihirnya,
Ogden sudah mengangkat tongkatnya dan berkata
tegas, “Reparo.” Panci itu langsung utuh lagi.
Sekejap tampaknya Gaunt akan membentak Ogden,
tetapi rupanya berubah pikiran; alih-alih menegur
Ogden, dia mencemooh anaknya, “Untung laki-laki
baik dari Kementerian ini ada di sini, ya? Barangkali
dia mau mengambilmu dari tanganku, barangkali dia
tidak keberatan bergaul dengan Squib kotor…”
Tanpa memandang siapa pun ataupun berterima
kasih kepada Ogden, Merope mengambil panci itu
dan mengembalikannya, dengan tangan gemetar, ke
raknya. Dia kemudian berdiri diam, punggungnya
bersandar ke dinding di antara jendela kotor dan
tungku, seakan tak ada yang lebih diinginkannya
daripada terbenam ke dalam dinding batu dan le-
nyap.
“Mr Gaunt,” Ogden memulai lagi, “seperti sudah
saya katakan tadi: alasan kedatangan saya—”
“Saya sudah dengar tadi!” bentak Gaunt. “Jadi,
kenapa? Morfin memberi sedikit kejutan pada seorang
Muggle—kenapa kalau begitu?”
“Morfin telah melanggar hukum sihir,” kata Ogden
tegas.
“Morfin telah melanggar hukum sihir,” Gaunt meniru-
kan Ogden, dengan nada angkuh dan datar. Morfin
262
terbahak lagi. “Dia memberi pelajaran pada Muggle
kotor, dan itu ilegal sekarang, begitu?”
“Ya,” kata Ogden. “Sayangnya ya, itu ilegal.”
Ogden menarik gulungan kecil perkamen dari saku-
dalamnya dan membuka gulungannya.
“Apa itu, vonisnya?” kata Gaunt, suaranya meninggi
marah.
“Ini panggilan agar dia datang di Kementerian un-
tuk sidang—”
“Panggilan! Panggilan? Kaupikir siapa kau ini, berani-
beraninya memanggil anakku?”
“Saya Kepala Pasukan Pelaksanaan Hukum Sihir,”
kata Ogden.
“Dan kau menganggap kami orang-orang tak ber-
guna, kan?” teriak Gaunt, mendekati Ogden sekarang,
dengan jari kotor berkuku kuning menunjuk ke dada-
nya. “Orang tak berguna yang akan segera berlari
datang kalau dipanggil Kementerian? Tahukah kau,
sedang bicara dengan siapa, kau Darah-campuran
kotor?”
“Saya sangka saya sedang bicara kepada Mr Gaunt,”
kata Ogden, tampak waspada, namun tetap bertahan.
“Betul!” raung Gaunt. Sesaat Harry mengira Gaunt
melakukan gerak tangan yang kurang ajar, namun
kemudian sadar bahwa dia sedang menunjukkan ke-
pada Ogden cincin jelek bermata-batu-hitam yang
dipakainya di jari tengahnya, menggoyangkannya di
depan mata Ogden. “Lihat ini? Lihat ini? Tahu apa
ini? Tahu dari mana asalnya? Sudah berabad-abad
cincin ini ada dalam keluarga kami, sudah sebegitu
tuanyalah kami, dan seluruhnya berdarah-murni! Tahu
263
berapa banyak yang ditawarkan kepadaku untuk ini,
dengan lambang Peverell terukir di batunya?”
“Saya sama sekali tak tahu,” kata Ogden, mengerjap
ketika cincin itu terbang dua setengah senti dari hi-
dungnya, “dan itu tak penting, Mr Ogden. Anak
Anda telah melanggar—”
Dengan raung kemurkaan, Gaunt berlari ke arah
anak perempuannya. Selama sepersekian detik, Harry
mengira dia akan mencekiknya ketika tangannya me-
layang ke leher gadis itu; detik berikutnya, dia menarik
anaknya ke arah Ogden pada rantai emas di sekeliling
lehernya.
“Lihat ini?” dia berteriak kepada Ogden, meng-
goyangkan liontin emas berat di depannya, sementara
Merope gemetar dan tersengal kehabisan napas.
“Saya lihat, saya lihat!” kata Ogden buru-buru.
“Kalung Slytherin!” teriak Gaunt. “Kalung Salazar
Slytherin! Kami turunan terakhirnya yang masih hi-
dup, apa komentarmu, eh?”
“Mr Gaunt, anak Anda!” kata Ogden cemas, namun
Gaunt sudah melepaskan Merope. Gadis itu terhuyung
menjauh darinya, kembali ke sudutnya, menggosok
lehernya dan terengah menghirup udara.
“Jadi!” kata Gaunt penuh kemenangan, seolah dia
baru saja berhasil membuktikan topik rumit tanpa
bisa dibantah lagi. “Jangan berani-berani bicara kepada
kami seakan kami debu di sepatumu! Bergenerasi-
generasi darah-murni, semua penyihir—lebih daripada
yang bisa kaukatakan, aku yakin!”
Dan dia meludah di lantai di depan kaki Ogden.
Morfin terbahak lagi. Merope, meringkuk di sebelah
264
jendela, kepalanya menunduk dan wajahnya tersem-
bunyi oleh rambutnya yang tipis, tidak berkata apa-
apa.
“Mr Gaunt,” kata Ogden tabah, “sayangnya baik
leluhur Anda maupun leluhur saya tak ada hubungan-
nya dengan persoalan ini. Saya berada di sini karena
Morfin, Morfin dan si Muggle yang diserangnya se-
malam. Informasi yang kami dapat,” dia menunduk
membaca gulungan perkamennya, “Morfin memantrai
atau mengutuk Muggle itu, membuat wajahnya dipe-
nuhi gatal-gatal yang menyakitkan.”
Morfin terkikik.
“Diam, Nak,” bentak Gaunt dalam Parseltongue, dan
Morfin terdiam lagi.
“Memangnya kenapa kalau dia begitu?” Gaunt me-
nantang Ogden. “Kukira kau sudah membersihkan
wajah kotor si Muggle itu, dan memorinya sekalian—”
“Bukan itu masalahnya, kan, Mr Gaunt?” kata
Ogden. “Ini serangan tanpa provokasi pada seorang
Muggle tak berdaya—”
“Ah, aku sudah mengenalimu sebagai pencinta-
Muggle begitu aku melihatmu,” cibir Gaunt, dan dia
meludah di lantai lagi.
“Diskusi kita tidak maju-maju,” kata Ogden tegas.
“Jelas dari sikap anak Anda bahwa dia sama sekali
tidak menyesali perbuatannya.” Dia membaca per-
kamennya lagi. “Morfin akan menghadiri sidang pada
tanggal empat belas September dengan tuduhan
menggunakan sihir di depan Muggle dan menyebab-
kan celaka dan stres terhadap Muggle yang sam—”
Ogden berhenti berbicara. Bunyi gemerincing, derap
265
kaki kuda, dan tawa keras terdengar dari jendela
yang terbuka. Rupanya jalan setapak berliku yang
menuju desa melewati dekat sekali petak pepohonan
tempat gubuk itu berada. Gaunt membeku, men-
dengarkan, matanya melebar. Morfin mendesis dan
menoleh ke arah suara-suara itu, ekspresinya lapar.
Merope mengangkat kepalanya. Harry melihat wajah-
nya pucat pasi.
“Ya ampun, bikin sakit mata saja!” terdengar suara
seorang gadis dari jendela yang terbuka, jelas sekali
seolah dia berada dalam ruangan itu bersama mereka.
“Tidak bisakah ayahmu menyingkirkan gubuk itu,
Tom?”
“Itu bukan milik kami,” kata seorang pemuda. “Se-
gala sesuatu di sisi lain lembah milik kami, tapi gubuk
itu milik gelandangan tua bernama Gaunt dan anak-
anaknya. Anak laki-lakinya agak gila, coba kalau kau
mendengar cerita-cerita yang beredar di desa—”
Gadis itu tertawa. Bunyi gemerincing dan derap
kaki kuda semakin lama semakin keras. Morfin beran-
jak dari kursi berlengannya.
“Tetap di tempat dudukmu,” kata ayahnya mem-
peringatkan, dalam Parseltongue.
“Tom,” kata suara si gadis lagi, sekarang dekat
sekali, pasti mereka berada di sebelah rumah, “aku
mungkin keliru—tapi apa ada orang yang memaku
ular di pintu?”
“Astaga, kau benar!” kata suara si pemuda. “Pasti
anak laki-lakinya, kan sudah kubilang ada yang tidak
beres dengan otaknya. Jangan melihatnya, Cecilia,
darling.”
266
Bunyi gemerincing dan derap kaki kuda sekarang
semakin jauh dan pelan lagi.
“Darling,” bisik Morfin dalam Parseltongue, meman-
dang adik perempuannya. “Dia memanggilnya ‘darling’.
Jadi, dia tak mau denganmu.”
Merope bukan main pucatnya Harry yakin dia akan
pingsan.
“Apa maksudmu?” tanya Gaunt tajam, juga dalam
Parseltongue, bergantian memandang anak laki-laki
dan perempuannya. “Apa katamu, Morfin?”
“Dia suka memandangi Muggle itu,” kata Morfin,
ekspresi wajahnya keji ketika dia memandang adiknya,
yang sekarang tampak ketakutan. “Dia kan selalu berada
di halaman kalau Muggle itu lewat, mengintipnya lewat
pagar tanaman? Dan semalam—”
Merope menggelengkan kepalanya dengan menyen-
tak, memohon, namun Morfin melanjutkan tanpa belas
kasihan, “Nongkrong di jendela, menunggu dia lewat pu-
lang, kan?”
“Nongkrong di jendela mau melihat Muggle?” kata
Gaunt perlahan.
Ketiganya rupanya sudah melupakan Ogden, yang
tampaknya bingung dan jengkel karena mereka lagi-
lagi mendesis-desis parau tak bisa dimengerti.
“Betulkah?” kata Gaunt dengan suara mengerikan,
maju satu atau dua langkah mendekati si gadis yang
ketakutan. “Anakku—keturunan Salazar Slytherin yang
berdarah-murni—mendambakan Muggle kotor, berpembuluh-
lumpur?”
Merope menggelengkan kepala dengan panik, me-
nekankan tubuhnya ke dinding, tak sanggup berbicara.
267
“Tapi kukerjai dia, Ayah!” gelak Morfin. “Kukerjai dia
waktu lewat, dan dia tidak tampan lagi dengan bintik-
bintik merah gatal di seluruh tubuhnya, iya kan, Merope?”
“Kau Squib menjijikkan, pengkhianat kotor!” raung
Gaunt, kehilangan kendali, dan tangannya mencekik
leher anak perempuannya.
Baik Harry maupun Ogden berteriak, “Jangan!”
pada saat bersamaan. Ogden mengangkat tongkat
sihirnya dan berseru, “Relashio!” Gaunt terlempar ke
belakang, jauh dari anak perempuannya. Dia me-
nabrak kursi dan jatuh terkapar. Dengan raung murka
Morfin melompat dari kursinya dan berlari mendekati
Ogden, mengayun-ayunkan pisaunya yang berlu-
muran darah dan melancarkan kutukan membabi-
buta dari tongkat sihirnya.
Ogden berlari menyelamatkan diri. Dumbledore
memberi isyarat bahwa mereka harus mengikutinya
dan Harry patuh. Jeritan Merope bergaung di telinga-
nya.
Ogden berlari sepanjang jalan setapak dan tiba di
jalan utama, lengannya di atas kepala. Dia menabrak
kuda cokelat berkilat yang ditunggangi pemuda sangat
tampan, berambut hitam. Dia dan gadis cantik di
sebelahnya di atas kuda kelabu tertawa gelak-gelak
melihat Ogden, yang terlempar dari panggul kuda
dan kabur lagi, jasnya berkibar, dari kepala sampai
kaki berlumur debu, berlari pontang-panting sepanjang
jalan kecil.
“Kurasa sudah cukup, Harry,” kata Dumbledore.
Dia memegang siku Harry dan menariknya. Detik
berikutnya, mereka berdua melayang tanpa berat me-
268
nembus kegelapan, sampai mereka mendarat mantap
di kaki mereka, kembali di dalam kantor Dumbledore
di senja hari.
“Apa yang terjadi pada gadis di gubuk itu?” Harry
langsung bertanya, ketika Dumbledore menyalakan
lampu-lampu ekstra dengan jentikan tongkat sihirnya.
“Merope, atau entah siapa tadi namanya?”
“Oh, dia selamat,” kata Dumbledore, kembali duduk
di belakang mejanya dan memberi isyarat agar Harry
juga duduk. “Ogden ber-Apparate ke Kementerian
dan kembali membawa pasukan dalam waktu lima
belas menit. Morfin dan ayahnya berusaha melawan,
namun keduanya berhasil diringkus, dibawa dari gu-
buk, dan dijatuhi hukuman oleh Wizengamot. Morfin,
yang sudah beberapa kali menyerang Muggle, di-
hukum tiga tahun di Azkaban. Marvolo, yang sudah
melukai beberapa petugas Kementerian selain Ogden,
kena enam bulan.”
“Marvolo?” Harry mengulang penasaran.
“Betul,” kata Dumbledore, mengangguk gembira.
“Aku senang melihatmu mengikuti perkembangan:”
“Laki-laki tua itu—?”
“Kakek Voldemort, ya,” kata Dumbledore. “Marvolo,
anak laki-lakinya Morfin, dan anak perempuannya
Merope adalah Gaunt terakhir, keluarga penyihir yang
sangat kuno, yang terkenal tidak stabil dan suka
marah, yang semakin menjadi-jadi dalam generasi-
generasi berikut, karena kebiasaan mereka menikah
antar-sepupu. Kurang bijaksana ditambah kegemaran
besar akan kemuliaan berarti bahwa emas keluarga
telah dihambur-hamburkan dan habis beberapa gene-
269
rasi sebelum Marvolo lahir. Dia, seperti yang kaulihat
tadi, hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, dengan
temperamen yang meledak-ledak sangat mudah ma-
rah, keangkuhan yang luar biasa besar, dan dua pu-
saka keluarga yang baginya sama berharganya dengan
anak laki-lakinya, dan agak lebih berharga daripada
anak perempuannya.”
“Jadi, Merope,” kata Harry, mencondongkan diri ke
depan di kursinya dan menatap Dumbledore, “jadi,
Merope adalah… Sir, apakah itu berarti dia… ibu Volde-
mort?”
“Betul,” kata Dumbledore. “Dan kebetulan kita tadi
juga melihat ayah Voldemort sekilas. Apakah kau
memperhatikan?”
“Muggle yang diserang Morfin? Laki-laki yang naik
kuda?”
“Bagus sekali,” kata Dumbledore, berseri-seri. “Ya,
itu Tom Riddle senior, Muggle tampan yang selalu
berkuda melewati gubuk keluarga Gaunt dan terhadap
siapa Merope Gaunt menyimpan cinta rahasia yang
membara.”
“Dan mereka akhirnya menikah?” kata Harry tak
percaya, tak mampu membayangkan pasangan yang
sangat tak serasi begitu bisa saling jatuh cinta.
“Kurasa kau melupakan,” kata Dumbledore, “bahwa
Merope adalah penyihir. Kurasa kekuatan sihirnya
tidak berfungsi sepenuhnya ketika dia masih diteror
oleh ayahnya. Begitu Marvolo dan Morfin sudah aman
di Azkaban, begitu dia sendirian dan bebas untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, maka, aku yakin,
dia bisa mengembangkan kemampuan sihirnya se-
270
penuhnya dan merencanakan pelariannya dari hidup
sangat menyedihkan yang telah dijalaninya selama
delapan belas tahun.
“Tak bisakah kau memperkirakan, tindakan apa yang
mungkin dilakukan Merope untuk membuat Tom
Riddle melupakan teman Muggle-nya, dan jatuh cinta
kepadanya?”
“Kutukan Imperius?” Harry mengusulkan. “Atau ra-
muan cinta?”
“Bagus sekali. Aku sendiri cenderung menduga bah-
wa dia menggunakan ramuan cinta. Aku yakin bagi-
nya itu lebih romantis dan kurasa tidak akan terlalu
sulit, pada suatu hari yang panas, ketika Riddle ber-
kuda sendirian, untuk membujuknya minum air. Yang
jelas, dalam waktu beberapa bulan setelah peristiwa
yang kita saksikan tadi, desa Little Hangleton me-
nikmati skandal menghebohkan. Kau bisa membayang-
kan gosip yang beredar ketika anak laki-laki keluarga
terhormat kabur dengan anak perempuan gelan-
dangan Merope.
“Namun keterkejutan penduduk desa tak seberapa
dibandingkan dengan shock yang dialami Marvolo.
Dia kembali dari Azkaban, mengharap anak perem-
puannya dengan patuh menanti kepulangannya, de-
ngan makanan panas siap terhidang di mejanya. Ter-
nyata yang ditemukannya debu setebal dua setengah
senti dan surat perpisahan Merope, yang menjelaskan
apa yang telah dilakukannya.
“Sejauh yang berhasil kuketahui, Marvolo tak per-
nah lagi menyebut namanya atau keberadaannya sejak
saat itu. Shock akibat ditinggalkan anak perempuannya
271
ini mungkin menjadi salah satu sebab dia mati
muda—atau mungkin dia tak pernah belajar memberi
makan dirinya. Azkaban telah sangat melemahkan
Marvolo dan dia tidak bertahan hidup untuk melihat
Morfin kembali ke gubuk.”
“Dan Merope? Dia… dia mati, kan? Bukankah Volde-
mort dibesarkan di panti asuhan?”
“Ya, memang,” kata Dumbledore. “Kita harus me-
nebak-nebak di sini, meskipun kurasa tidak sulit me-
nyimpulkan apa yang terjadi. Soalnya, beberapa bulan
setelah mereka kawin lari, Tom Riddle muncul kembali
di rumahnya di Little Hangleton tanpa istrinya. Desas-
desus yang beredar di antara penduduk adalah dia
mengatakan ‘tertipu’ dan ‘teperdaya’. Yang dia mak-
sudkan, aku yakin, adalah bahwa dia di bawah penga-
ruh sihir yang sekarang telah pudar, meskipun demi-
kian kurasa dia tidak berani menggunakan kata-kata
itu, karena takut dikira gila. Namun, ketika mereka
mendengar apa yang dikatakannya, penduduk desa
menduga Merope telah berbohong kepada Tom Riddle,
berpura-pura mengandung anaknya, dan bahwa
Riddle telah mengawininya karena alasan ini.”
“Tapi dia memang melahirkan bayinya.”
“Ya, tapi baru setelah setahun mereka menikah.
Tom Riddle meninggalkannya sewaktu dia masih me-
ngandung.”
“Apa yang salah?” tanya Harry. “Kenapa ramuan
cintanya berhenti berfungsi?”
“Sekali lagi, ini cuma tebakan,” kata Dumbledore,
“tapi kukira Merope, yang sangat mencintai suaminya,
tidak tega terus memperbudaknya dengan cara sihir.
272
Kukira dia memutuskan untuk berhenti memberinya
ramuan. Barangkali, karena dia sendiri tergila-gila, dia
meyakinkan diri bahwa suaminya saat itu juga sudah
membalas mencintainya. Barangkali dia menyangka
suaminya akan tinggal demi anaknya. Jika begitu,
dugaannya dua-duanya keliru. Suaminya meninggal-
kannya, tak pernah menjenguknya lagi, dan tak per-
nah bersusah payah mencari tahu apa yang terjadi
dengan anaknya.”
Langit di luar sudah sehitam tinta dan lampu-
lampu dalam kantor Dumbledore tampak bersinar
lebih terang daripada sebelumnya.
“Kurasa cukup untuk kali ini, Harry,” kata Dumble-
dore setelah beberapa saat.
“Ya, Sir,” kata Harry.
Dia bangkit berdiri, namun tidak pergi.
“Sir… pentingkah mengetahui semua masa lalu
Voldemort ini?”
“Sangat penting, kukira,” kata Dumbledore.
“Dan ini… ini ada hubungannya dengan ramalan?”
“Sangat erat hubungannya dengan ramalan.”
“Baiklah,” kata Harry, sedikit bingung, namun toh
diyakinkan.
Dia berbalik untuk pergi, kemudian pertanyaan lain
terlintas di benaknya dan dia berbalik lagi.
“Sir, bolehkah saya memberitahu Ron dan Hermione
segala sesuatu yang Anda katakan kepada saya?”
Dumbledore mempertimbangkan sesaat, kemudian
berkata, “Ya, kurasa Mr Weasley dan Miss Granger
sudah membuktikan mereka bisa dipercaya. Tapi,
Harry, aku akan memintamu meminta mereka agar
273
tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun. Tak
baik jika tersiar berapa banyak yang kuketahui, atau
kucurigai, tentang rahasia Voldemort.”
“Baik, Sir, saya akan memastikan hanya Ron dan
Hermione yang tahu. Selamat malam.”
Dia berbalik lagi, dan sudah hampir tiba di pintu
ketika melihatnya. Sebentuk cincin emas jelek bermata
batu hitam besar retak, tergeletak di atas salah satu
meja berkaki kurus panjang, di antara banyak per-
alatan perak yang tampak rapuh.
“Sir,” kata Harry, memperhatikan cincin itu. “Cincin
itu—”
“Ya?” kata Dumbledore.
“Anda memakainya ketika kita mengunjungi Pro-
fesor Slughorn malam itu.”
“Betul,” Dumbledore membenarkan.
“Tapi bukankah… Sir, bukankah ini cincin yang sama
yang diperlihatkan Marvolo Gaunt kepada Ogden?”
Dumbledore menganggukkan kepala.
“Cincin yang sama.”
“Tapi bagaimana—? Sudah lamakah Anda memiliki-
nya?”
“Belum, aku mendapatkannya baru-baru ini,” kata
Dumbledore. “Beberapa hari sebelum aku datang
menjemputmu di rumah bibi dan pamanmu, sebetul-
nya.”
“Itu berarti sekitar waktu tangan Anda terluka kalau
begitu, Sir?”
“Sekitar waktu itu, ya, Harry.”
Harry bimbang. Dumbledore sedang tersenyum.
“Sir, bagaimana tepatnya—?”
274
“Sudah kelewat malam, Harry! Kau akan mendengar
ceritanya lain kali. Selamat tidur.”
“Selamat tidur.”
275

Komentar»

1. alam - 8 Februari 2009

lanjutannya mana??????

2. Mc Attack - 8 Februari 2009

Assalamualaikum ww

wah, dah lama ni nyari2 ebook buku ini..adanya cuma yang bahasa inggris.

boleh minta yang full versinya ga bang?

makasih!

ric_ko2000@yahoo.com

3. edy - 17 Februari 2009

boleh minta yg full bahasa indonesia gk bang?

krm k email ku aj

Naruto_hokage68@yahoo.com

sebelum’y thx…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: