jump to navigation

Harry Potter Dan Kamar Rahasia 19 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Notes.
trackback

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
Bludger Gila
SEJAK kejadian yang membawa malapetaka dengan
pixie, Profesor Lockhart tak pernah lagi membawa
makhluk hidup ke dalam kelas. Sebagai gantinya dia
membacakan paragraf-paragraf dari buku-bukunya,
dan kadang-kadang memperagakan kembali bagian-
bagian yang paling dramatis. Biasanya dia memilih
Harry untuk membantunya melakukan rekonstruksi.
Sejauh ini Harry sudah dipaksa berperan sebagai pen-
duduk desa Transylvania sederhana yang disembuhkan
Lockhart dari Kutukan Gagap, yeti yang pilek berat,
dan vampir yang setelah ditangani Lockhart tak bisa
makan apa-apa selain daun selada.
Harry ditarik ke depan kelas dalam pelajaran Per-
tahanan terhadap Ilmu Hitam berikutnya. Kali ini dia
berperan sebagai manusia serigala. Harry pasti sudah
menolak kalau dia tidak ingat pada rencana Hermione.
Untuk itu dia harus membuat Lockhart senang.
200
“Lolongan keras yang bagus, Harry—persis—dan
kemudian, kalau kalian percaya, aku menyerang—
seperti ini—membantingnya ke lantai—begini—dengan
satu tangan. Aku berhasil memitingnya—dengan ta-
ngan yang lain. Kutekankan tongkatku ke lehernya—
kukumpulkan sisa tenagaku dan kulancarkan Mantra
Homorphus yang sangat rumit—dia mengeluarkan
erangan memelas—ayo, Harry—lebih melengking
lagi—bagus—bulunya lenyap—taringnya menyusut—
dan dia kembali menjadi manusia. Sederhana, tapi
efektif—dan satu desa lagi akan mengenangku selama-
nya sebagai pahlawan yang membebaskan mereka
dari teror bulanan serangan manusia serigala.”
Bel berdering dan Lockhart bangkit.
“PR: buat puisi tentang kejadian aku mengalahkan
manusia serigala Wagga Wagga! Hadiah buku Aku
yang Ajaib dengan tanda tanganku untuk penulis puisi
yang paling baik!”
Anak-anak mulai meninggalkan kelas. Harry kembali
ke belakang, ke tempat Ron dan Hermione menunggu.
“Siap?” gumam Harry.
“Tunggu sampai semua sudah pergi,” kata Hermione
gugup. “Baiklah…”
Dia mendekati meja Lockhart, secarik kertas ter-
genggam erat di tangannya. Harry dan Ron mem-
buntuti di belakangnya.
“Eh—Profesor Lockhart?” Hermione tergagap. “Saya
ingin me—meminjam buku ini dari perpustakaan. Ha-
nya untuk bacaan tambahan.” Dia mengulurkan kertas
itu, tangannya agak gemetar. “Masalahnya, bukunya
ada di Seksi Terlarang perpustakaan, jadi saya perlu
201
tanda tangan guru untuk meminjamnya—saya yakin
buku ini bisa membantu saya memahami apa yang
Anda ceritakan di Heboh dengan Hantu, itu lho tentang
bisa reptil yang dampaknya baru kelihatan setelah
beberapa lama.”
“Ah, Heboh dengan Hantu!” kata Lockhart, mengambil
kertas dari tangan Hermione dan tersenyum lebar
kepadanya. “Mungkin buku favoritku. Kau suka buku
itu?”
“Oh, ya,” kata Hermione bersemangat. “Cerdik se-
kali, cara Anda memerangkap hantu yang terakhir
dengan saringan teh…”
“Yah, kurasa tak akan ada yang keberatan jika aku
memberi sedikit bantuan pada murid terbaik tahun
ini,” kata Lockhart hangat, dan dia mengeluarkan
pena bulu merak yang besar sekali. “Ya, bagus, kan?”
katanya, salah menafsirkan ekspresi jijik di wajah
Ron. “Aku biasanya menggunakannya untuk me-
nandatangani buku-bukuku.”
Dia mencoretkan tanda tangan besar melingkar di
kertas itu, di bawah judul buku, dan mengembali-
kannya kepada Hermione.
“Nah, Harry,” kata Lockhart, sementara Hermione
melipat kertas itu dengan jari-jari gemetar dan me-
nyelipkannya ke dalam tasnya. “Besok pertandingan
pertama Quidditch musim ini, kan? Gryffindor lawan
Slytherin, ya? Kudengar kau pemain yang berguna.
Aku dulu Seeker juga. Aku diminta mencoba main
untuk tim nasional, tetapi aku memilih mendedikasi-
kan hidupku untuk pemberantasan Ilmu Hitam. Tapi,
kalau kau merasa memerlukan latihan privat, jangan
202
ragu-ragu menghubungiku. Aku selalu senang mem-
bagikan keahlianku pada pemain yang kurang terampil
dibanding aku…” Harry mengeluarkan bunyi tak jelas
di kerongkongannya, lalu bergegas menyusul Ron
dan Hermione.
“Sungguh tak bisa dipercaya,” kata Harry, ketika
mereka bertiga mengamati tanda tangan di kertas. “Dia
bahkan tidak membaca judul buku yang kita inginkan.”
“Itu karena dia tak punya otak,” kata Ron. “Tapi
peduli amat, kita sudah mendapatkan yang kita ingin-
kan.”
“Dia punya otak,” bantah Hermione nyaring, ketika
mereka setengah berlari ke perpustakaan.
“Hanya karena dia bilang kau murid terbaik tahun
ini…”
Mereka merendahkan suara ketika memasuki ke-
heningan perpustakaan.
Madam Pince, petugas perpustakaan, adalah perem-
puan kurus pemarah yang tampangnya seperti burung
hering kurang makan.
“Ramuan-ramuan Paling Mujarab?” dia mengulang
curiga, berusaha mengambil catatan itu dari tangan
Hermione, tetapi Hermione tak mau melepasnya.
“Saya ingin menyimpannya,” desahnya.
“Ya ampun,” kata Ron, merebut kertas itu dan me-
nyerahkannya kepada Madam Pince. “Kita akan minta
tanda tangan lain untukmu. Lockhart akan menanda-
tangani apa saja kalau benda itu diam cukup lama.”
Madam Pince menerawang kertas itu ke lampu,
seakan bertekad menemukan pemalsuan, tetapi kertas
nya lulus tes. Dia berjalan di antara rak-rak tinggi
203
dan kembali beberapa menit kemudian, membawa
buku besar yang tampak berjamur. Hermione me-
masukkannya hati-hati ke dalam tasnya dan mereka
meninggalkan perpustakaan, berusaha tidak berjalan
terlalu cepat atau kelihatan terlalu bersalah.
Lima menit kemudian, mereka sudah mengurung
diri dalam toilet rusak Myrtle Merana lagi. Hermione
menolak keberatan Ron dengan dalih toilet itu tempat
terakhir yang akan didatangi siapa saja yang pikiran-
nya lurus. Jadi di situ dijamin mereka aman. Myrtle
Merana tersedu-sedu berisik di dalam biliknya, tetapi
mereka tidak memedulikannya dan Myrtle juga tidak
memedulikan mereka.
Hermione hati-hati membuka Ramuan-ramuan Paling
Mujarab, dan ketiganya membungkuk di atas halaman-
halaman yang bebercak-bercak lembap. Sekilas saja
sudah jelas kenapa buku itu ditaruh di Seksi Terlarang.
Beberapa efek ramuannya terlalu mengerikan untuk
dipikirkan, dan ada beberapa ilustrasi yang menyeram-
kan, termasuk gambar seorang laki-laki yang kelihatan-
nya bagian dalam tubuhnya dibalik jadi di luar, dan
penyihir wanita yang dari kepalanya tumbuh beberapa
pasang tangan tambahan.
“Ini dia,” kata Hermione bersemangat, ketika dia me-
nemukan halaman yang berjudul Ramuan Polijus. Ha-
laman itu dihiasi gambar-gambar orang yang setengah
bertransformasi menjadi orang lain. Harry betul-betul
berharap ilustratornya hanya membayangkan ekspresi
kesakitan luar biasa pada wajah orang-orang itu.
“Ini ramuan paling rumit yang pernah kubaca,”
kata Hermione, ketika mereka membaca resepnya.
204
“Serangga sayap-renda, lintah, mostar, dan knotgrass—
tanaman rendah berbunga dadu dan berdaun biru
keabu-abuan,” dia bergumam, jarinya menyusuri daftar
bahan yang diperlukan. “Yah, ini cukup gampang,
semua ada di lemari bahan siswa, kita bisa ambil
sendiri. Oooh, lihat, bubuk tanduk Bicorn—entah dari
mana bisa kita dapatkan… selongsong kulit ular pohon
saat dia ganti kulit—ini susah juga—dan tentu saja
sedikit bagian dari orang yang menjadi sasaran kita.”
“Maaf?” kata Ron tajam. “Apa maksudmu, sedikit
bagian dari orang yang menjadi sasaran kita? Aku tak
mau minum apa pun yang mengandung kuku kaki
Crabbe…”
Hermione melanjutkan seakan dia tidak mendengar-
nya.
“Kita belum perlu mencemaskan itu, karena bagian
itu kita tambahkan paling belakang…”
Tak bisa bicara, Ron menoleh kepada Harry, yang
punya kekhawatiran lain.
“Apakah kau sadar berapa banyak yang harus kita
curi, Hermione? Kulit ular pohon, jelas ini tak ada
dalam lemari siswa. Apa yang akan kita lakukan?
Membongkar lemari pribadi Snape? Aku tak tahu
apakah itu ide bagus…”
Hermione menutup bukunya dengan suara keras.
“Kalau kalian berdua mau mundur, silakan,” kata-
nya. Ada rona merah di pipinya dan matanya lebih
cemerlang daripada biasanya. “Aku tak ingin me-
langgar peraturan, kalian tahu. Kurasa mengancam
penyihir kelahiran-Muggle lebih parah daripada me-
rebus ramuan yang sulit. Tetapi kalau kalian tidak
205
ingin mencari tahu apakah Malfoy adalah pewaris
Slytherin, aku akan kembali ke Madam Pince sekarang
juga dan mengembalikan bukunya di…”
“Tak pernah kusangka akan tiba harinya kau mem-
bujuk kami untuk melanggar peraturan,” kata Ron.
“Baiklah, akan kita lakukan. Tapi tidak pakai kuku
kaki, oke?”
“Berapa lama sih buatnya?” tanya Harry, ketika
Hermione, yang tampak lebih gembira, membuka
buku itu lagi.
“Yah, karena mostarnya harus dicabut pada malam
purnama, dan serangga sayap-rendanya harus direbus
selama dua puluh satu hari… kubilang ramuan itu
akan siap dalam waktu kira-kira sebulan, kalau kita
berhasil mendapatkan semua bahannya.”
“Sebulan?” kata Ron. “Malfoy bisa-bisa sudah me-
nyerang separo anak yang kelahiran-Muggle!” Tetapi
mata Hermione menyipit berbahaya lagi, jadi Ron
buru-buru menambahkan, “Tapi ini rencana paling
baik yang kita punya, jadi jalan terus.”
Meskipun demikian, sementara Hermione me-
meriksa apakah keadaan aman bagi mereka untuk
meninggalkan toilet, Ron bergumam kepada Harry,
“Akan jauh lebih mudah kalau kau bisa menjatuhkan
Malfoy dari sapunya besok.”
* * *
Hari Sabtu, Harry terbangun pagi-pagi dan berbaring-
206
baring dulu memikirkan pertandingan Quidditch yang
akan berlangsung. Dia cemas, terutama memikirkan
apa yang akan dikatakan Wood kalau Gryffindor
kalah, tetapi juga memikirkan mereka harus meng-
hadapi tim yang menaiki sapu balap paling cepat
yang bisa dibeli dengan emas. Belum pernah dia
begitu ingin mengalahkan Slytherin sampai seperti
itu. Setelah setengah jam berbaring dengan perasaan
tak keruan, dia bangkit, berganti pakaian, dan turun
untuk sarapan lebih awal dari biasanya. Ternyata ang-
gota tim Gryffindor lainnya sudah berkumpul di meja
panjang yang kosong, semua kelihatan tegang dan
tidak banyak bicara.
Mendekati pukul sebelas, seluruh sekolah mulai
menuju ke stadion Quidditch. Cuaca mendung, guruh
siap menggelegar. Ron dan Hermione bergegas datang
untuk mengucapkan selamat bertanding dan semoga
sukses ketika Harry memasuki kamar ganti. Para ang-
gota tim memakai jubah merah tua Gryffindor mereka,
kemudian d u d u k untuk mendengarkan pidato
sebelum-pertandingan Wood seperti biasanya.
“Slytherin punya sapu yang lebih bagus dari kita,”
dia mulai, “tak ada gunanya menyangkalnya. Tetapi
kita punya pemain yang lebih baik di atas sapu kita.
Kita sudah berlatih lebih keras daripada mereka, kita
sudah terbang dalam segala cuaca…” (“Betul sekali,”
gumam George Weasley. “Aku tidak pernah betul-
betul kering sejak Agustus.”) “…dan kita akan mem-
buat mereka menyesali hari ketika mereka mengizin-
kan si licik Malfoy itu menyuap untuk bisa masuk
tim mereka.”
207
Dengan dada naik-turun saking emosinya, Wood
menoleh kepada Harry.
“Terserah padamu, Harry, untuk menunjukkan
bahwa Seeker perlu punya lebih dari sekadar ayah
yang kaya. Tangkap Snitch-nya sebelum keduluan
Malfoy. Kalau tidak, lebih baik mati, Harry, karena
kita harus menang hari ini, kita harus menang.”
“Jadi, tak ada tekanan, Harry,” kata Fred, mengedip
kepadanya.
Ketika mereka keluar menuju ke stadion, terdengar
sambutan meriah, sorakan dan teriakan untuk
menyemangati mereka, karena Ravenclaw dan
Hufflepuff ingin melihat Slytherin kalah, tetapi anak-
anak Slytherin juga ber-“buu-buu” dan mendesis-desis
keras. Madam Hooch, guru Quidditch mereka, me-
minta Flint dan Wood berjabat tangan. Keduanya
berjabat tangan dengan saling melempar pandangan
mengancam, dan meremas lebih keras daripada yang
diperlukan.
“Mulai pada tiupan peluitku,” kata Madam Hooch,
“tiga… dua… satu…”
Dengan teriakan dari penonton untuk menye-
mangati mereka terbang, keempat belas pemain me-
luncur naik ke langit yang mendung. Harry terbang
lebih tinggi daripada yang lain, menyipitkan mata,
mencari-cari Snitch.
“Baik-baik di sana, Dahi Pitak?” teriak Malfoy, me-
luncur di bawah Harry seakan mau memamerkan
kecepatan sapunya.
Harry tak punya kesempatan menjawab. Pada saat
itu Bludger hitam berat meluncur ke arahnya. Dia
208
menghindar, tetapi hampir saja kena. Dia masih me-
rasakan Bludger itu menyapu rambutnya.
“Nyaris saja, Harry!” kata George, melesat me-
lewatinya dengan pemukul di tangan, siap memukul
balik Bludger ke arah Slytherin. Harry melihat George
memukul Bludger itu sekuat tenaga ke arah Adrian
Pucey, tetapi Bludger itu berubah arah di tengah
udara dan kembali mengincar Harry.
Harry cepat-cepat menukik turun menghindarinya,
dan George berhasil memukulnya keras-keras ke arah
Malfoy. Sekali lagi Bludger itu berbalik seperti
bumerang dan meluncur ke kepala Harry.
Harry mempercepat laju sapunya dan melesat ke
ujung lain lapangan. Dia bisa mendengar Bludger itu
menderu di belakangnya. Apa yang terjadi? Bludger
tidak pernah berkonsentrasi pada satu pemain seperti
ini. Tugas Bludger-lah untuk mencoba menjatuhkan
sebanyak mungkin pemain…
Fred Weasley menunggu Bludger di ujung lain la-
pangan. Harry menunduk ketika Fred memukul
Bludger sekuat tenaga. Bludger itu terbang ke luar
lapangan.
“Beres!” teriak Fred senang, tetapi dia keliru. Bagai
tertarik magnet, Bludger itu kembali meluncur ke
arah Harry, dan Harry terpaksa terbang dengan ke-
cepatan penuh.
Hujan sudah mulai turun. Tetes-tetes besar air jatuh
ke wajah Harry, mengaburkan kacamatanya. Dia tak
bisa melihat apa yang sedang berlangsung sampai dia
mendengar Lee Jordan, yang menjadi komentator,
berkata, “Slytherin memimpin, enam puluh lawan nol.”
209
Sapu superior Slytherin jelas menunjukkan ke-
piawaiannya, dan sementara itu si Bludger gila terus
berusaha menjatuhkan Harry dari sapunya. Fred dan
George sekarang terbang begitu rapat di kanan-kirinya,
sehingga Harry tak bisa melihat apa-apa selain tangan
mereka yang berseliweran dan ia tak punya ke-
sempatan mencari Snitch, apalagi menangkapnya.
“Ada… yang… mengerjai… Bludger… ini…,” gerutu
Fred, mengayunkan pemukulnya sekuat tenaga ketika
si Bludger kembali menyerang Harry.
“Kita perlu time out,” kata George, berusaha memberi
isyarat kepada Wood dan mencegah si Bludger me-
matahkan hidung Harry pada saat bersamaan.
Wood jelas sudah menangkap pesannya. Peluit
Madam Hooch berbunyi nyaring dan Harry, Fred,
dan George menukik turun, masih berusaha meng-
hindari si Bludger gila.
“Apa yang terjadi?” tanya Wood, ketika tim
Gryffindor sudah berkumpul, sementara para pe-
nonton Slytherin berteriak mengejek. “Kita digilas.
Fred, George, di mana kalian waktu Bludger itu men-
cegah Angelina mencetak gol?”
“Kami enam meter di atasnya, mencegah Bludger
satunya membunuh Harry, Oliver,” kata George ma-
rah. “Ada yang menyihirnya—Bludger itu menyerang
Harry terus, tidak pernah mendekati pemain lain
sepanjang pertandingan. Anak-anak Slytherin pasti
sudah melakukan sesuatu pada Bludger itu.”
“Tetapi Bludger-nya dikunci dalam kantor Madam
Hooch sejak latihan terakhir kita, dan waktu itu dua-
duanya tidak apa-apa…,” kata Wood cemas.
210
Madam Hooch berjalan ke arah mereka. Lewat
atas bahu Madam Hooch, Harry bisa melihat tim
Slytherin mengejek dan menunjuk-nunjuk ke arah-
nya.
“Dengar,” kata Harry, ketika Madam Hooch sudah
semakin dekat, “dengan kalian berdua terbang di
sekitarku sepanjang waktu, satu-satunya kemungkinan
aku menangkap Snitch adalah kalau Snitch-nya
terbang masuk ke lengan jubahku,” kata Harry. “Kem-
balilah ke yang lain dan biar kutangani sendiri Bludger
gila itu.”
“Jangan bodoh,” kata Fred. “Bludger itu bisa me-
nebas kepalamu.”
Wood bergantian memandang Harry dan si kembar
Weasley.
“Oliver, ini gila,” kata Alicia Spinnet berang. “Kau
tak bisa mengizinkan Harry menangani Bludger itu
sendirian. Ayo, kita minta penyelidikan…”
“Kalau kita berhenti sekarang, kita akan dinyatakan
kalah!” kata Harry. “Dan kita tidak akan kalah dari
Slytherin hanya karena satu Bludger gila! Ayo, Oliver,
suruh mereka meninggalkanku sendiri!”
“Ini semua salahmu,” kata George marah kepada
Wood. “‘Tangkap Snitch-nya, kalau tidak lebih baik
mati.’ Bodoh benar bilang begitu padanya.”
Madam Hooch sudah bergabung dengan mereka.
“Siap melanjutkan pertandingan?” dia bertanya
kepada Wood.
Wood memandang wajah Harry yang memancarkan
tekad kuat.
“Baiklah,” katanya. “Fred, George, kalian mendengar
211
Harry… tinggalkan dia dan biarkan dia menangani
sendiri Bludger itu.”
Hujan sudah semakin deras sekarang. Begitu peluit
Madam Hooch ditiup, Harry menjejak keras ke udara
dan mendengar desing Bludger yang sudah dikenal-
nya di belakangnya. Harry terbang makin lama makin
tinggi. Dia terbang melingkar, meluncur, spiral, zig-
zag, dan berguling. Meskipun agak pusing, dia mem-
buka mata lebar-lebar. Hujan mengaburkan kacamata-
nya dan mengalir masuk ke lubang hidungnya ketika
dia bergantung membalik, menghindari serangan keras
si Bludger. Dia bisa mendengar gelak tawa penonton,
dia tahu pasti dia tampak tolol sekali, tetapi si Bludger
gila itu berat dan tak dapat berubah arah secepat dia.
Dia mulai terbang model roller-coaster mengelilingi
stadion, matanya menyipit menembus tirai perak air
hujan, memandang tiang gol Gryffindor, di mana
Adrian Pucey sedang berusaha melewati Wood….
Desing di telinganya membuat Harry tahu si
Bludger baru saja gagal menyerangnya lagi. Dia lang-
sung memutar dan meluncur ke arah berlawanan.
“Lagi latihan balet nih, Potter?” teriak Malfoy, ketika
Harry terpaksa berputar-putar dengan konyol di te-
ngah udara untuk menghindari si Bludger. Harry
terbang menjauh, si Bludger membuntuti satu meter
di belakangnya. Dan kemudian, ketika membalas me-
mandang Malfoy penuh kebencian, Harry melihatnya,
Golden Snitch, melayang hanya beberapa senti di
atas telinga kiri Malfoy—dan Malfoy, yang sibuk me-
nertawakan Harry, tidak melihatnya.
Selama beberapa saat yang menyiksa, Harry meng-
212
gantung di udara, tak berani meluncur ke arah Malfoy,
takut kalau-kalau Malfoy mendongak dan melihat
Snitch itu.
DUGGG!
Dia berdiam diri terlalu lama sedetik. Si Bludger
berhasil mengenainya akhirnya, menghantam sikunya,
dan Harry merasa lengannya patah. Samar-samar,
pusing karena kesakitan luar biasa pada lengannya,
dia tergelincir miring pada sapunya yang basah kuyup,
satu lututnya masih mengait pada sapu itu, lengan
kanannya tergantung lunglai tak berguna. Si Bludger
kembali meluncur ke arahnya untuk serangan kedua,
kali ini mengarah ke wajahnya. Harry menghindar,
dengan satu ide tertanam di otaknya yang membeku:
dekati Malfoy.
Dengan pandangan kabur karena hujan dan rasa
sakitnya, Harry menukik ke arah wajah yang menye-
ringai mengejek di bawahnya dan melihat mata di
wajah itu membelalak ketakutan: Malfoy mengira
Harry menyerangnya.
“Apa yang…,” pekiknya kaget, menyingkir meng-
hindari Harry.
Dengan tangan kanannya lunglai tak berdaya, Harry
melepas satu-satunya pegangannya pada sapu dan
menyambar liar. Dia merasa jari-jarinya menggenggam
Snitch yang dingin, tetapi sekarang dia hanya menjepit
sapu dengan kakinya dan terdengar jeritan dari pe-
nonton di bawah ketika dia meluncur ke bawah,
berusaha keras agar tidak pingsan.
Dengan bunyi berdebam keras dan cipratan lumpur,
dia mendarat dan berguling dari sapunya. Lengannya
213
menggantung terpuntir dalam posisi sangat janggal.
Dalam kesakitannya, dia mendengar seakan dari ke-
jauhan, suitan dan teriakan-teriakan. Dia ber-
konsentrasi pada Snitch yang tergenggam di tangan-
nya yang sehat.
“Aha,” katanya tak jelas. “Kita menang.”
Lalu dia pingsan.
Saat sadar kembali, hujan membasahi wajahnya.
Dia masih terbaring di lapangan dan ada orang yang
membungkuk di atasnya. Harry melihat kilauan gigi.
“Oh tidak, jangan Anda,” rintihnya.
“Dia tak sadar apa yang dikatakannya,” kata
Lockhart keras-keras kepada anak-anak Gryffindor
yang cemas berdesakan mengerumuninya. “Jangan
khawatir, Harry, akan kusembuhkan lenganmu.”
“Jangan!” tolak Harry. “Biar begini saja, terima
kasih…”
Dia berusaha duduk, tetapi sakitnya bukan main.
Didengarnya bunyi klak-klik yang sudah sangat
dikenalnya di dekatnya.
“Aku tak mau difoto begini, Colin,” katanya keras.
“Berbaring lagi, Harry,” bujuk Lockhart. “Ini mantra
sederhana yang sudah kugunakan ratusan kali.”
“Kenapa saya tak boleh ke rumah sakit saja?” kata
Harry dengan gigi mengertak.
“Dia seharusnya ke rumah sakit saja, Profesor,”
kata Wood yang penuh lumpur. Dia tak tahan tidak
nyengir walaupun Seeker-nya terluka. “Tangkapan luar
biasa, Harry, benar-benar spektakuler, tangkapanmu
yang paling hebat, menurutku.”
Melalui pagar kaki yang mengelilinginya, Harry
214
melihat Fred dan George Weasley, berkutat memasuk-
kan si Bludger gila ke dalam kotak. Bludger itu masih
melawan gila-gilaan.
“Mundur,” kata Lockhart, yang menggulung lengan
jubah hijau-kumalanya.
“Tidak—jangan…,” kata Harry lemah, tetapi
Lockhart sudah memelintir tongkatnya dan sedetik
kemudian mengacungkannya ke lengan Harry.
Perasaan aneh dan tidak menyenangkan menjalar
dari bahu Harry terus ke ujung jari-jarinya. Rasanya
seakan lengannya sedang dikempiskan. Dia tidak be-
rani melihat apa yang sedang terjadi. Dipejamkannya
matanya, dipalingkannya wajahnya dari lengannya,
tetapi ketakutannya yang terbesar menjadi kenyataan
ketika orang-orang di atasnya memekik tertahan dan
Colin menjepret gila-gilaan. Lengannya sudah tidak
sakit lagi—tetapi juga tidak terasa seperti lengan.
“Ah,” kata Lockhart. “Ya. Yang seperti itu kadang-
kadang terjadi. Tetapi yang penting, tulangnya tidak
lagi patah. Itu yang harus diingat. Jadi, Harry, pergilah
saja ke rumah sakit… ah, Mr Weasley, Miss Granger,
tolong kalian antar, ya?… dan Madam Pomfrey akan
bisa me… eh… merapikanmu sedikit.”
Ketika Harry bangkit, dia merasa aneh, seakan berat
sebelah. Dengan menarik napas dalam-dalam dia me-
nunduk memandang ke sebelah kanannya. Yang di-
lihatnya nyaris membuatnya pingsan lagi.
Menjulur dari ujung jubahnya ada sesuatu yang
tampak seperti sarung tangan karet tebal warna kulit.
Harry mencoba menggerakkan jari-jarinya. Tak ada
yang terjadi.
215
Lockhart tidak monyembuhkan tulang Harry. Dia
melenyapkannya.
* * *
Madam Pomfrey sama sekali tidak senang.
“Seharusnya kau langsung datang padaku!” katanya
berang, mengangkat bekas lengan yang tampak lemas
menyedihkan, yang setengah jam sebelumnya masih
berupa tangan yang sehat. “Aku bisa menyembuhkan
tulang patah dalam waktu sedetik—tapi menumbuh-
kan kembali tulang-tulang…”
“Tapi Anda bisa, kan?” tanya Harry putus asa.
“Aku bisa, tentu saja, tapi akan sakit sekali,” kata
Madam Pomfrey muram, seraya melempar piama ke-
pada Harry. “Kau harus menginap…”
Hermione menunggu di balik tirai yang dipasang
di sekeliling tempat tidur Harry, sementara Ron mem-
bantunya memakai piama. Perlu cukup lama untuk
memasukkan lengan tanpa tulang yang bagai karet
itu ke dalam lengan piama.
“Bagaimana kau bisa membela Lockhart sekarang,
Hermione, eh?” seru Ron dari balik tirai sembari
menarik jari-jari lemas Harry dari lubang lengan. “Kalau
Harry mau tulangnya dihilangkan, dia akan minta.”
“Siapa saja bisa membuat kesalahan,” kata
Hermione. “Lagi pula tidak sakit lagi, kan, Harry?”
“Tidak,” jawab Harry, “tapi tidak bisa ngapa-ngapain
juga.”
216
Saat melempar dirinya ke atas tempat tidur, lengan-
nya mengelepak lunglai. Hermione dan Madam
Pomfrey datang ke balik tirai. Madam Pomfrey mem-
bawa botol besar berlabel “Skele-Gro”—Penumbuh
Tulang.
“Kau akan kesakitan semalaman,” katanya seraya
menuang semangkuk penuh cairan berasap dan meng-
ulurkannya kepada Harry. “Menumbuhkan tulang sa-
ngat tidak menyenangkan.”
Begitu juga meminum Skele-Gro. Cairan itu mem-
bakar mulut dan tenggorokan Harry, membuatnya
terbatuk-batuk dan tergagap-gagap. Dengan masih
mengomel tentang permainan yang berbahaya dan
guru yang tidak layak, Madam Pomfrey pergi, me-
ninggalkan Ron dan Hermione membantu Harry me-
minum beberapa teguk air.
“Tapi kita menang,” kata Ron, nyengir lebar. “Tang-
kapanmu luar biasa. Wajah Malfoy… kelihatannya dia
siap membunuh!”
“Aku ingin tahu Bludger itu dia apakan,” kata
Hermione jengkel.
“Kita bisa menambahkan itu ke daftar pertanyaan
yang akan kita ajukan kepadanya setelah kita minum
Ramuan Polijus,” kata Harry, merebahkan diri kembali
ke bantalnya. “Mudah-mudahan rasanya lebih enak
daripada obat ini…”
“Dengan cuilan anak Slytherin di dalamnya? Kau
bergurau,” kata Ron.
Pintu kamar rumah sakit terbuka keras pada saat
itu. Kotor dan basah kuyup, seluruh anggota tim
Gryffindor datang untuk menengok Harry.
217
“Terbangmu bukan main, Harry,” kata George. “Aku
baru saja melihat Marcus Flint berteriak-teriak me-
marahi Malfoy. Ngomel tentang Snitch yang berada
di atas kepalanya dan dia tidak melihatnya. Malfoy
kelihatannya tidak senang.”
Mereka membawa kue, permen, dan berbotol-botol
jus labu kuning. Mereka berkerumun di sekeliling
tempat tidur Harry dan baru akan mulai berpesta
ketika Madam Pomfrey buru-buru mendatangi, sambil
berteriak, “Anak ini perlu istirahat, dia harus me-
numbuhkan tiga puluh tiga tulang! Keluar! KELUAR!”
Dan Harry ditinggalkan sendirian, tanpa ada yang
bisa mengalihkan perhatiannya dari kesakitan yang
menusuk-nusuk lengannya yang lemas.
* * *
Berjam-jam kemudian, Harry mendadak terbangun
dalam gelap gulita dan memekik kesakitan. Lengannya
serasa dipenuhi serpihan-serpihan tulang besar. Sesaat
dia mengira itulah yang membuatnya terbangun.
Kemudian, dengan ngeri dia menyadari ada yang
menyeka dahinya dengan spons dalam gelap.
“Pergi!” katanya keras. Dan kemudian, “Dobby!”
Mata si peri-rumah yang menonjol sebesar bola
tenis memandang Harry dalam kegelapan. Sebutir air
mata bergulir di hidungnya yang panjang dan runcing.
“Harry Potter kembali ke sekolah,” dia berbisik me-
rana. “Dobby sudah bolak-balik memperingatkan
218
Harry Potter. Ah, Sir, kenapa Anda tidak mendengar-
kan Dobby? Kenapa Harry Potter tidak pulang saja
waktu ketinggalan kereta api?”
Harry duduk bersandar di bantalnya dan me-
nyingkirkan spons Dobby.
“Ngapain kau di sini?” tanyanya. “Dan bagaimana
kau tahu aku ketinggalan kereta?”
Bibir Dobby bergetar dan Harry mendadak curiga.
“Kau!” katanya lambat-lambat. “Kau yang membuat
palang rintangan menolak mengizinkan kami masuk!”
“Memang betul, Sir,” kata Dobby, mengangguk kuat-
kuat, telinganya mengelepak. “Dobby bersembunyi me-
nunggu Harry Potter dan menyegel palang rintangan
dan Dobby harus menyeterika tangannya sesudah-
nya…” ditunjukkannya kepada Harry sepuluh jari
panjang yang diperban, “…tetapi Dobby tidak peduli,
Sir, karena dia mengira Harry Potter aman, dan Dobby
tak pernah mimpi bahwa Harry Potter akan ke sekolah
dengan cara lain!”
Dia mengayun tubuhnya ke depan dan ke belakang,
menggeleng-gelengkan kepalanya yang jelek.
“Dobby kaget sekali ketika mendengar Harry Potter
sudah kembali ke Hogwarts, sampai membuat makan
malam tuannya hangus! Belum pernah Dobby di-
cambuki sehebat itu, Sir…”
Harry terenyak kembali ke bantalnya.
“Kau hampir saja membuat aku dan Ron dikeluar-
kan,” katanya galak. “Lebih baik kau pergi sebelum
tulang-tulangku tumbuh, Dobby, kalau tidak mungkin
kau akan kucekik.”
Dobby tersenyum lemah.
219
“Dobby sudah terbiasa dengan ancaman maut, Sir.
Dobby menerimanya lima kali sehari di rumah.”
Dobby membuang ingus di salah satu sudut sarung
bantal kumal dan kotor yang dipakainya, kelihatan
memelas sekali sehingga Harry merasa kemarahannya
mereda dengan sendirinya.
“Kenapa kau memakai itu, Dobby?” tanyanya ingin
tahu.
“Ini, Sir?” kata Dobby, menarik-narik sarung bantal-
nya. “Ini tanda perbudakan peri-rumah, Sir. Dobby
hanya bisa dibebaskan kalau tuan Dobby meng-
hadiahinya pakaian, Sir. Keluarga majikan Dobby sa-
ngat berhati-hati, jangan sampai menyerahkan kepada
Dobby bahkan kaus kaki bekas, Sir, karena kalau
begitu Dobby akan bebas meninggalkan rumah mereka
selamanya.”
Dobby menyeka matanya yang menonjol dan men-
dadak berkata, “Harry Potter harus pulang! Dobby
mengira Bludger-nya akan cukup membuat…”
“Bludger-mu?” kata Harry, kemarahannya timbul
lagi. “Apa maksudmu, Bludger-mu? Kau membuat
Bludger itu mencoba membunuhku?”
“Tidak membunuh, Sir, tak akan pernah membunuh
Anda!” kata Dobby terperanjat. “Dobby ingin menye-
lamatkan hidup Harry Potter! Lebih baik dipulangkan,
dengan luka parah, daripada tinggal di sini, Sir! Dobby
cuma ingin Harry Potter luka cukup parah supaya
dikirim pulang!”
“Oh, cuma itu?” kata Harry berang. “Kurasa kau
tidak akan bilang padaku kenapa kau menginginkan
aku dikirim pulang dalam keadaan tidak utuh?”
220
“Ah, kalau saja Harry Potter tahu!” Dobby meratap,
lebih banyak lagi air mata bercucuran ke sarung bantal
rombengnya. “Kalau saja dia tahu betapa berartinya
dia untuk kami, kaum rendahan, para budak, kami
sampah masyarakat sihir! Dobby ingat bagaimana ke-
adaannya ketika Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut
berada di puncak kekuasaannya, Sir! Kami peri-
peri-rumah diperlakukan seperti kutu busuk! Tentu
saja Dobby masih diperlakukan seperti itu, Sir,” dia
mengakui, menyeka wajahnya dengan sarung bantal-
nya. “Tetapi, Sir, kehidupan telah menjadi jauh lebih
baik bagi kaum kami sejak Anda menang melawan
Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut. Harry Potter
selamat, dan kekuatan si Pangeran Kegelapan dipatah-
kan, dan saat itu seperti hari baru, Sir. Harry Potter
bersinar seperti cahaya mercusuar harapan bagi kami,
yang mengira hari-hari gelap tak akan pernah berakhir,
Sir… Dan sekarang, di Hogwarts, peristiwa-peristiwa
mengerikan akan terjadi, bahkan mungkin sedang
terjadi, dan Dobby tak bisa membiarkan Harry Potter
tinggal di sini sekarang ketika sejarah akan berulang,
sekarang ketika Kamar Rahasia sekali lagi akan di-
buka…”
Dobby terperangah, kaget dan ngeri. Dia me-
nyambar teko air Harry dari meja di sebelah tempat
tidurnya, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri,
terguling lenyap dari pandangan. Sesaat kemudian
dia merayap naik ke tempat tidur lagi, dengan mata
juling, mengomel, “Dobby nakal, Dobby nakal
sekali….”
“Jadi Kamar Rahasia itu memang ada!” bisik Harry.
221
“Dan—kau bilang kamar itu sudah pernah dibuka
sebelumnya? Ceritakan padaku, Dobby!”
Harry menyambar pergelangan tangan kurus si peri
ketika hendak meraih kembali teko air. “Tetapi aku
bukan kelahiran-Muggle—bagaimana mungkin kamar
itu berbahaya bagiku?”
“Ah, Sir, jangan tanya-tanya lagi, jangan tanya-
tanya Dobby lagi,” kata si peri tergagap, matanya
besar sekali dalam gelap. “Perbuatan-perbuatan jahat
sudah direncanakan di tempat ini, tetapi Harry Potter
tidak boleh berada di sini kalau itu terjadi. Pulanglah,
Harry Potter. Pulanglah. Harry Potter tak boleh ikut
campur dalam hal ini, Sir. Terlalu berbahaya…”
“Siapa, Dobby?” Harry bertanya, seraya memegang
pergelangan tangan Dobby erat-erat untuk men-
cegahnya memukul diri sendiri dengan teko air lagi.
“Siapa yang membukanya? Siapa yang dulu membuka-
nya?”
“Dobby tak bisa, Sir, Dobby tak bisa, Dobby tak
boleh bilang!” seru si peri. “Pulanglah, Harry Potter,
pulanglah!”
“Aku tidak akan ke mana-mana!” kata Harry tegas.
“Salah satu sahabatku kelahiran-Muggle, dia akan
menjadi salah satu korban pertama kalau Kamar
Rahasia benar-benar dibuka…”
“Harry Potter mempertaruhkan hidupnya untuk
teman-temannya!” kata Dobby sedih bercampur ba-
hagia. “Sungguh mulia! Sungguh gagah berani! Tetapi
dia harus menyelamatkan dirinya sendiri, harus, Harry
Potter tidak boleh…”
Dobby mendadak diam terpaku, telinganya bergetar.
222
Harry mendengarnya juga. Ada langkah-langkah kaki
mendekat di lorong di depan kamar.”
“Dobby harus pergi!” bisik si peri, ketakutan. Ter-
dengar derak keras, dan jari-jari Harry mendadak
menggenggam udara kosong. Dia terenyak kembali
ke tempat tidurnya, matanya tertuju ke pintu yang
gelap, sementara bunyi langkah-langkah kaki semakin
mendekat.
Saat berikutnya Dumbledore berjalan mundur masuk
ke kamar, memakai jas kamar wol panjang dan topi
tidur. Dia menggotong ujung sesuatu yang tampak
seperti patung. Profesor McGonagall muncul sedetik
kemudian, menggotong kakinya. Bersama-sama mereka
mengangkat patung itu ke atas tempat tidur.
“Panggil Madam Pomfrey,” bisik Dumbledore, dan
Profesor McGonagall bergegas melewati kaki tempat
tidur Harry, menghilang dari pandangan. Harry ber-
baring tak bergerak, pura-pura tidur. Dia mendengar
suara-suara tegang, dan kemudian Profesor
McGonagall muncul lagi, diikuti Madam Pomfrey, yang
datang sambil memakai kardigan di atas gaun tidur-
nya. Harry mendengar tarikan napas tajam.
“Apa yang terjadi?” Madam Pomfrey berbisik kepada
Dumbledore, membungkuk di atas patung di tempat
tidur.
“Serangan lagi,” kata Dumbledore. “Minerva me-
nemukannya di tangga.”
“Ada setangkai buah anggur di sebelahnya,” kata
Profesor McGonagall. “Kami menduga dia sedang ber-
usaha menyelinap ke sini untuk menengok Potter.”
Hati Harry mencelos. Pelan-pelan dan hati-hati, di-
223
angkatnya kepalanya beberapa senti supaya dia bisa
melihat patung di tempat tidur itu. Seberkas cahaya
bulan menyinari seraut wajah yang pandangannya
kosong.
Colin Creevey Matanya terbelalak lebar dan tangan-
nya terjulur kaku ke depan, memegangi kameranya.
“Membatu?” bisik Madam Pomfrey.
“Ya,” kata Profesor McGonagall. “Aku bergidik me-
mikirkan… Kalau Albus tidak sedang turun untuk
minum cokelat panas, entah apa yang akan terjadi…”
Ketiganya menunduk menatap Colin. Kemudian
Dumbledore membungkuk untuk melepas kamera dari
pegangan erat Colin.
“Menurutmu dia berhasil memotret penyerangnya?”
kata Profesor McGonagall bersemangat.
Dumbledore tidak menjawab. Dia membuka bagian
belakang kamera.
“Astaga!” celetuk Madam Pomfrey.
Semburan asap mendesis dari kamera. Harry, tiga
tempat tidur dari Colin, mencium bau tajam plastik
terbakar.
“Meleleh,” kata Madam Pomfrey bingung, “semua
meleleh…”
“Apa artinya ini, Albus?” Profesor McGonagall ber-
tanya mendesak.
“Artinya,” kata Dumbledore, “Kamar Rahasia benar-
benar telah dibuka lagi.”
Madam Pomfrey menekap mulutnya. Profesor
McGonagall terbelalak menatap Dumbledore.
. “Tetapi, Albus… siapa?”
“Pertanyaannya bukan siapa,” kata Dumbledore,
224
matanya menatap Colin. “Pertanyaannya adalah bagai-
mana…”
Dan melihat wajah Profesor McGonagall yang
samar-samar, Harry tahu dia sama tidak mengertinya
seperti Harry sendiri.
225
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
Klub Duel
KETIKA Harry terbangun pada hari Minggu pagi,
kamarnya dipenuhi sinar matahari musim dingin dan
lengannya sudah bertulang lagi, tetapi sangat kaku.
Dia segera duduk dan menoleh ke tempat tidur Colin,
tetapi ternyata di antara tempat tidurnya dan tempat
tidur Colin telah dipasangi tirai tinggi, yang kemarin
dipasang untuk melindunginya berganti pakaian. Me-
lihat Harry sudah bangun, Madam Pomfrey datang
membawa nampan sarapan dan mulai menekuk dan
menarik lengan, tangan, dan jari-jarinya.
“Semua bagus,” katanya, ketika Harry dengan cang-
gung menyuapkan bubur dengan tangan kirinya. “Se-
sudah makan, kau boleh pulang.”
Harry berpakaian secepat dia bisa dan bergegas ke
Menara Gryffindor. Dia sudah ingin sekali bercerita
kepada Ron dan Hermione soal Colin dan Dobby,
tetapi ternyata mereka tak ada di sana. Harry pergi
226
lagi untuk mencari mereka, dalam hati bertanya-tanya
ke mana kiranya mereka dan merasa agak sakit hati
karena mereka tidak ingin tahu apakah tulangnya
bisa tumbuh lagi atau tidak.
Saat Harry melewati perpustakaan, Percy Weasley
keluar dari situ. Dia kelihatan jauh lebih riang dari-
pada ketika terakhir kali mereka bertemu.
“Oh, halo, Harry,” sapanya. “Terbangmu hebat sekali
kemarin, benar-benar luar biasa. Gryffindor memimpin
dalam perolehan angka untuk Piala Asrama—kau men-
dapat lima puluh angka!”
“Kau tidak melihat Ron atau Hermione?” tanya
Harry.
“Tidak,” kata Percy, senyumnya memudar. “Mudah-
mudahan Ron tidak berada di toilet anak perempuan
yang lain…”
Harry memaksakan tawa, mengawasi Percy meng-
hilang, dan kemudian langsung menuju toilet Myrtle
Merana. Dia tak melihat alasan kenapa Ron dan
Hermione akan berada di sana lagi, tetapi setelah
memastikan bahwa tak ada Filch maupun Prefek, dia
membuka pintunya dan mendengar suara mereka
dari dalam bilik terkunci.
“Ini aku,” katanya seraya menutup pintu di bela-
kangnya. Terdengar bunyi debam, cebur, dan pekik
kaget tertahan dari dalam bilik, dan dilihatnya mata
Hermione mengintip dari lubang kunci.
“Harry!” serunya. “Kau membuat kami kaget sekali.
Masuklah—bagaimana lenganmu?”
“Baik,” kata Harry, menyelinap masuk ke dalam
bilik. Sebuah kuali tua bertengger di atas kloset, dan
227
bunyi berderak di bawah tepi kuali membuat Harry
tahu mereka telah menyalakan api di bawahnya. Me-
nyihir api yang bisa dibawa-bawa dan tahan air adalah
keahlian Hermione.
“Kami tadinya mau menengokmu, tapi kemudian
memutuskan untuk langsung mulai merebus Ramuan
Polijus,” Ron menjelaskan, ketika Harry dengan susah
payah mengunci pintu bilik lagi. “Kami memutuskan
ini tempat paling aman untuk menyembunyikannya.”
Harry baru mulai bercerita tentang Colin, tetapi
Hermione menyelanya. “Kami sudah tahu, kami men-
dengar Profesor McGonagall memberitahu Profesor
Flitwick tadi pagi. Itulah sebabnya kami memutuskan
lebih baik kita segera mulai saja…”
“Lebih cepat kita mendengar pengakuan Malfoy,
lebih baik,” kata Ron geram. “Tahukah kalian apa
pendapatku? Dia marah sekali setelah pertandingan
Quidditch itu, lalu membalasnya pada Colin.”
“Ada lagi yang lain,” kata Harry, mengawasi
Hermione membuka ikatan knotgrass dan melempar-
kannya ke dalam kuali. “Dobby datang mengunjungi-
ku tengah malam.”
Ron dan Hermione menengadah keheranan. Harry
menceritakan kepada mereka semua yang diceritakan
Dobby—atau yang tidak diceritakannya. Ron dan
Hermione mendengarkan dengan mulut ternganga.
“Kamar Rahasia sudah pernah dibuka sebelumnya?”
kata Hermione.
“Jelas kalau begitu,” kata Ron dengan nada penuh
kemenangan. “Lucius Malfoy pastilah telah membuka
Kamar Rahasia waktu dia bersekolah di sini dan seka-
228
rang dia memberitahu anak kesayangannya, si Draco,
bagaimana caranya. Jelas sekali. Sayang sekali Dobby
tidak memberitahumu monster seperti apa yang ada
di dalamnya. Aku penasaran, bagaimana mungkin tak
ada orang yang melihatnya berkeliaran di sekolah.”
“Mungkin dia bisa membuat dirinya tidak kelihatan,”
kata Hermione, menekan lintah-lintah ke dasar kuali.
“Atau mungkin dia menyamar—pura-pura jadi baju
zirah atau entah apa. Aku sudah baca tentang Hantu
Bunglon…”
“Kau terlalu banyak membaca, Hermione,” kata Ron
sambil menuangkan serangga sayap-renda mati di
atas lintah-lintah. Dia meremas kantong serangga yang
sudah kosong dan berpaling menatap Harry.
“Jadi, Dobby menghalangi kita naik kereta api dan
mematahkan lenganmu…” Ron geleng-geleng. “Tahu
tidak, Harry? Kalau dia tidak berhenti berusaha me-
nyelamatkan hidupmu, dia akan membunuhmu.”
* * *
Berita bahwa Colin Creevey diserang dan sekarang
terbaring bagai mayat di rumah sakit sudah menyebar
ke seluruh sekolah pada hari Senin pagi. Suasana
mendadak penuh desas-desus dan kecurigaan. Murid-
murid kelas satu sekarang ke mana-mana be-
rombongan, seakan mereka takut akan diserang kalau
berani berjalan sendirian.
Ginny Weasley, yang duduk di sebelah Colin
229
Creevey dalam pelajaran Jimat dan Guna-guna, bi-
ngung dan ketakutan. Tetapi Harry merasa cara Fred
dan George menghiburnya malah membawa hasil
yang sebaliknya. Fred dan George bergiliran menyihir
diri mereka menjadi berbulu atau dipenuhi bisul dan
melompat mengagetkan Ginny dari balik patung-
patung. Mereka baru berhenti ketika Percy, yang sa-
ngat marah, berkata bahwa dia akan menulis kepada
Mrs Weasley dan memberitahunya bahwa Ginny di-
hantui mimpi buruk.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan para guru, per-
dagangan jimat, amulet, dan berbagai sarana per-
lindungan, melanda sekolah dengan amat seru. Neville
Longbottom membeli bawang hijau besar berbau bacin,
kristal runcing ungu, dan ekor-kadal busuk sebelum
anak-anak Gryffindor lainnya mengingatkan bahwa
dia tidak dalam bahaya: dia berdarah-murni, karena
itu tak mungkin diserang.
“Filch adalah yang pertama mereka serang,” katanya,
wajahnya yang bundar ketakutan, “dan semua tahu
aku bisa dibilang nyaris Squib.”
* * *
Dalam minggu kedua Desember Profesor McGonagall
berkeliling seperti biasanya, mendaftar nama-nama
mereka yang akan tinggal di sekolah selama liburan
Natal. Harry, Ron, dan Hermione mendaftar. Mereka
sudah mendengar bahwa Malfoy juga akan tinggal.
230
Bagi mereka ini sangat mencurigakan. Liburan me-
rupakan saat yang paling tepat untuk menggunakan
Ramuan Polijus dan mencoba mengorek pengakuan
darinya.
Sayangnya, ramuan itu baru separo selesai. Mereka
masih membutuhkan tanduk Bicorn dan kulit ular
pohon, dan satu-satunya tempat mereka bisa men-
dapatkan keduanya adalah lemari pribadi Snape.
Harry sendiri merasa dia lebih suka menghadapi
monster legendaris Slytherin daripada tertangkap
Snape sedang merampok kantornya.
“Yang kita perlukan,” kata Hermione tegas, ketika
sudah hampir tiba saatnya mereka mengikuti dua
jam pelajaran Ramuan, “adalah pengalihan perhatian.
Kemudian salah satu dari kita menyelinap ke dalam
kantor Snape dan mengambil yang kita perlukan.”
Harry dan Ron memandang Hermione dengan
cemas.
“Kurasa lebih baik aku yang melakukan pencurian,”
Hermione melanjutkan dengan tegas. “Kalian berdua
akan dikeluarkan jika membuat kesalahan lain, sedang-
kan reputasiku masih bersih. Jadi yang perlu kalian
lakukan hanyalah menimbulkan cukup kegaduhan
untuk membuat Snape sibuk selama kira-kira lima
menit.”
Harry tersenyum lemah. Sengaja membuat ke-
gaduhan di kelas Ramuan Snape sama amannya de-
ngan menusuk mata naga tidur.
Pelajaran Ramuan bertempat di salah satu ruang
bawah tanah yang luas. Pelajaran sore itu berlangsung
seperti biasa. Dua puluh kuali berdiri menggelegak di
231
antara meja-meja, yang di atasnya ada timbangan
kuningan serta stoples-stoples bahan. Snape hilir-
mudik menembus asap, melontarkan komentar-
komentar menyengat tentang hasil anak-anak
Gryffindor, sementara anak-anak Slytherin terkikik-
kikik senang. Draco Malfoy, murid favorit Snape, ber-
kali-kali mengarahkan matanya yang menonjol seperti
mata ikan kepada Ron dan Harry, yang tahu betul
kalau mereka membalas, mereka akan langsung men-
dapat detensi sebelum mereka sempat berkata “tidak
adil”.
Ramuan Pembengkak Harry terlalu cair, tetapi
pikirannya dipenuhi hal-hal lain yang jauh lebih pen-
ting. Dia sedang menunggu kode dari Hermione, dan
nyaris tidak mendengarkan ketika Snape berhenti di
kualinya, mencemooh ramuannya yang encer. Ketika
Snape sudah berbalik dan pergi untuk mengomeli
Neville, Hermione memandang Harry dan mengang-
guk.
Harry dengan gesit membungkuk di balik kualinya,
menarik keluar sebuah kembang api Filibuster milik
Fred dari kantongnya dan mengetuknya sekali dan
cepat dengan tongkatnya. Kembang api itu mulai
mendesis. Tahu dia hanya punya waktu beberapa
detik, Harry menegakkan diri, membidik, dan me-
lemparkannya ke udara. Kembang api itu mendarat
tepat di dalam kuali Goyle.
Ramuan Goyle meledak, mengguyur seluruh kelas.
Anak-anak menjerit ketika percikan Ramuan Pem-
bengkak menciprati mereka. Malfoy bahkan tersiram
wajahnya dan hidungnya langsung membengkak se-
232
besar balon. Goyle terhuyung-huyung, tangannya me-
nutupi matanya, yang sudah membesar seukuran
piring, sementara Snape berusaha menenangkan me-
reka dan mencari tahu apa yang terjadi. Di tengah
kegemparan itu Harry melihat Hermione diam-diam
menyelinap keluar dari pintu.
“Diam! DIAM!” raung Snape. “Siapa saja yang ke-
cipratan, ke sini untuk mendapatkan Ramuan
Pengempis. Kalau aku tahu siapa yang melakukan
ini…”
Harry berusaha tidak tertawa ketika dilihatnya
Malfoy bergegas maju, kepalanya tergantung rendah
keberatan hidungnya yang menjadi sebesar melon.
Selagi separo kelas berjalan dengan susah payah ke
meja Snape, beberapa keberatan lengan yang sebesar
pentungan dan yang lain tak bisa bicara karena bibir-
nya membengkak superbesar, Harry melihat Hermione
menyelinap balik ke dalam kelas, bagian depan
jubahnya menggembung.
Setelah semua minum seteguk penangkal dan ber-
bagai bengkak sudah mengempis, Snape melesat ke
kuali Goyle dan menyendok sisa kembang api yang
terpilin hitam. Kelas menjadi hening.
“Kalau sampai kutemukan siapa yang melempar
ini,” bisik Snape, “akan kupastikan anak itu dikeluar-
kan.”
Harry mengatur wajahnya dengan harapan semoga
tampak seperti ekspresi kebingungan. Snape me-
mandangnya lurus-lurus, dan bel yang berdering se-
puluh menit kemudian betul-betul membuatnya lega.
“Dia tahu aku pelakunya,” Harry memberitahu Ron
233
dan Hermione, sementara mereka bergegas kembali
ke toilet Myrtle Merana. “Ya, dia tahu.”
Hermione memasukkan bahan-bahan baru ke dalam
kuali dan mulai mengaduk dengan bersemangat.
“Dua minggu lagi jadi,” katanya riang.
“Snape tak akan bisa membuktikan itu kau,” kata
Ron meyakinkan Harry. “Apa yang bisa dia lakukan?”
“Kalau bicara tentang Snape, pasti itu adalah sesuatu
yang jahat,” kata Harry sementara ramuan itu berbuih
menggelegak.
* * *
Seminggu kemudian, Harry, Ron, dan Hermione se-
dang berjalan menyeberangi Aula Depan ketika me-
reka melihat beberapa anak berkerumun di depan
papan pengumuman, membaca secarik perkamen yang
baru saja dipasang. Seamus Finnigan dan Dean Tho-
mas memberi isyarat agar mereka mendekat. Mereka
kelihatan bersemangat sekali.
“Mereka mengadakan Klub Duel!” kata Seamus.
“Pertemuan pertama malam ini! Aku tak keberatan
ikut pelajaran duel, pasti akan bermanfaat hari-hari
ini.”
“Apa? Kaupikir si monster Slytherin bisa berduel?”
Ron menanggapi, tetapi dia juga membaca peng-
umuman itu dengan penuh minat.
“Bisa berguna,” katanya kepada Harry dan Hermione
waktu mereka berangkat makan malam. “Kita ikut?”
234
Harry dan Hermione sepakat, maka pukul delapan
malam itu mereka bergegas kembali ke Aula Besar.
Meja-meja makan panjang sudah lenyap dan pang-
gung keemasan telah muncul di depan salah satu
dinding, diterangi seribu lilin yang melayang-layang
di atasnya. Langit-langit sekali lagi gelap pekat dan
sebagian besar murid-murid tampaknya berkumpul di
situ, semua membawa tongkat dan kelihatan bergairah.
“Siapa ya yang akan mengajar kita?” kata Hermione,
ketika mereka mendekat ke kerumunan anak-anak
yang ramai berceloteh. “Ada yang bilang padaku
Flitwick juara duel waktu masih muda, mungkin dia
yang akan mengajar.”
“Asal saja bukan…,” Harry memulai, tapi mengakhiri
dengan keluhan. Gilderoy Lockhart berjalan ke pang-
gung, tampak gemilang dalam jubah berwarna merah
tua keunguan, dan ditemani oleh, tak lain tak bukan,
Snape, yang seperti biasa berjubah hitam.
Lockhart melambaikan tangannya menyuruh anak-
anak diam, dan berseru, “Mendekat, mendekat! Apa
semua bisa melihatku? Semua bisa mendengarku?
Bagus sekali!
“Nah, Profesor Dumbledore telah memberiku izin
untuk membentuk klub duel kecil ini, untuk melatih
kalian semua, siapa tahu kalian perlu mempertahankan
diri seperti yang kualami dalam banyak kesempatan—
untuk detail yang lebih lengkap, baca saja buku-
bukuku.
“Izinkan aku memperkenalkan asistenku, Profesor
Snape,” kata Lockhart, tersenyum lebar. “Dia mem-
beritahu aku dia tahu juga sedikit-sedikit tentang
235
duel dan bersedia membantuku melakukan peragaan
singkat sebelum kita mulai. Nah, aku tak ingin kalian
cemas—kalian masih akan memiliki ahli Ramuan kalau
aku sudah selesai menanganinya, tak usah takut!”
“Bukankah bagus kalau mereka saling bunuh?” gu-
mam Ron di telinga Harry.
Bibir atas Snape mencibir. Harry heran kenapa
Lockhart masih tersenyum. Kalau Snape memandang-
nya seperti itu, Harry pastilah sudah kabur secepat
mungkin.
Lockhart dan Snape berbalik untuk saling ber-
hadapan dan membungkuk; paling tidak Lockhart
membungkuk, dengan tangan berputar-putar, semen-
tara Snape cuma mengedikkan kepala dengan jengkel.
Kemudian mereka mengangkat tongkat seperti pedang
di depan mereka.
“Seperti kalian lihat, kami memegang tongkat dalam
posisi tempur yang diterima,” Lockhart memberitahu
penonton yang diam. “Pada hitungan ketiga, kami
akan melontarkan mantra pertama kami. Tak satu
pun dari kami berdua bermaksud membunuh, tentu.”
“Aku tak yakin,” gumam Harry, mengawasi Snape
yang menyeringai memamerkan giginya.
“Satu—dua—tiga…”
Keduanya mengayunkan tongkat tinggi-tinggi ke
atas bahu. Snape berseru, “Expelliarmus!” Cahaya me-
rah menyilaukan berkilat menyambar dan Lockhart
terangkat. Dia terbang mundur keluar panggung, me-
nabrak dinding, merosot, dan akhirnya telentang di
lantai.
Malfoy dan beberapa anak Slytherin lain bersorak.
236
Hermione berjingkat-jingkat panik. “Apakah dia tidak
apa-apa?” pekiknya dari antara jari-jarinya.
“Siapa peduli?” kata Ron dan Harry bersamaan.
Lockhart bangun terhuyung-huyung. Topinya jatuh
dan rambutnya yang ikal kini mencuat berdiri.
“Wah, Anda berhasil!” katanya, tertatih-tatih kembali
ke panggung. “Itu tadi Mantra Pelepas Senjata—seperti
yang kalian lihat, tongkatku hilang—ah, terima kasih,
Miss Brown. Ya, ide bagus sekali untuk menunjuk-
kannya kepada mereka, Profesor Snape, tapi kalau
Anda tidak keberatan, bisa kubilang jelas sekali apa
yang akan Anda lakukan tadi. Kalau aku mau meng-
hentikan Anda, gampang sekali. Tapi, aku merasa ada
baiknya membiarkan anak-anak melihatnya…”
Snape kelihatan siap membunuh. Profesor Lockhart
akhirnya sadar juga, karena dia berkata, “Cukup
peragaannya! Aku akan turun ke antara kalian dan
memasang-masangkan kalian. Profesor Snape, kalau
Anda bersedia membantuku….”
Mereka bergerak di antara anak-anak, memasang-
masangkan partner. Lockhart memasangkan Neville
dengan Justin Finch-Fletchley, tetapi Snape mencapai
Harry dan Ron lebih dulu.
“Sudah waktunya memecah tim impian, kurasa,”
ejeknya. “Weasley, kau bisa berpartner dengan
Finnigan. Potter…”
Harry otomatis bergerak mendekati Hermione.
“Kurasa tidak,” kata Snape, tersenyum dingin. “Mr
Malfoy, kemari. Coba lihat apa yang bisa kaulakukan
terhadap si Potter yang terkenal ini. Dan kau, Miss
Granger, kau bisa berpartner dengan Miss Bulstrode.”
237
Malfoy mendatangi sok gagah, menyeringai som-
bong. Di belakangnya berjalan seorang anak perem-
puan Slytherin yang mengingatkan Harry pada foto
hantu perempuan tua jelek sekali yang dilihatnya
dalam buku Heboh dengan Hantu. Tubuhnya besar dan
kekar, dan rahangnya yang berat mencuat ke depan
dengan menantang. Hermione tersenyum lemah
kepadanya, yang tidak dibalasnya.
“Hadapi partnermu!” seru Lockhart, yang sudah
kembali berada di panggung. “Dan membungkuk!”
Harry dan Malfoy nyaris tidak menggerakkan
kepala, saling tidak melepas pandang.
“Tongkat siap!” teriak Lockhart. “Pada hitunganku
yang ketiga, ucapkan mantra u n t u k melucuti
lawanmu—hanya untuk melucuti mereka—kita tidak
menginginkan terjadinya malapetaka. Satu… dua…
tiga…”
Harry mengangkat tongkatnya ke atas bahu, tetapi
Malfoy sudah bertindak pada hitungan kedua, mantra-
nya menghantam Harry begitu keras sampai Harry
merasa seakan kepalanya dipukul wajan. Dia ter-
huyung, tetapi kelihatannya dia tidak apa-apa, dan
tanpa membuang waktu lagi, Harry mengayunkan
tongkatnya lurus-lurus ke arah Malfoy dan berteriak,
“Rictusempra!”
Cahaya keperakan meluncur menghantam perut
Malfoy dan dia membungkuk, menciut-ciut.
“Kubilang lucuti senjatanya saja!” teriak Lockhart kaget
di atas kepala anak-anak yang sedang bertanding,
ketika Malfoy jatuh berlutut. Harry menyerangnya
dengan Mantra Gelitik, dan Malfoy nyaris tak bisa
238
bergerak saking sibuknya tertawa. Harry mundur,
merasa tidak adil menyihir Malfoy yang masih di
lantai, tetapi dia keliru. Terengah kehabisan napas,
Malfoy mengarahkan tongkatnya kepada Harry, ber-
kata tersedak, “Tarantallegra!” dan detik berikutnya
kaki Harry sudah bergerak menyentak-nyentak dengan
cepat di luar kendalinya.
“Stop! Stop!” Lockhart berteriak-teriak, tetapi Snape
segera mengambil tindakan.
“Finite Incantatem!” teriaknya. Kaki Harry berhenti
menari. Malfoy berhenti tertawa, dan mereka bisa
mendongak lagi.
Asap kehijauan memenuhi panggung. Neville dan
Justin terbaring di lantai, terengah-engah. Ron me-
megangi Seamus yang wajahnya sepucat tembok, me-
minta maaf untuk entah apa yang telah dilakukan
tongkat patahnya. Tetapi Hermione dan Millicent
Bulstrode masih bergerak. Millicent memiting
Hermione dan Hermione mengerang kesakitan. Tong-
kat keduanya tergeletak terlupakan di atas panggung.
Harry melompat menarik Millicent. Susah sekali, ka-
rena dia jauh lebih besar daripada Harry.
“Ya ampun, ya ampun,” kata Lockhart gugup dari
antara kepala anak-anak, memandang hasil duel.
“Bangun, Macmillan… hati-hati, Miss Fawcett… cubit
keras-keras, darahnya akan langsung berhenti, Boot…
“Kurasa ada baiknya kuajari kalian cara menangkal
mantra tak bersahabat,” kata Lockhart, berdiri ke-
bingungan di tengah aula. Dia melirik Snape, yang
mata hitamnya berkilat-kilat, dan segera membuang
pandang. “Ayo, siapa yang mau jadi pasangan
239
sukarela—Longbottom dan Finch-Fletchley, bagaimana
kalau kalian berdua?”
“Ide buruk, Profesor Lockhart,” kata Snape, ber-
kelebat mendekat bagai kelelawar besar yang jahat.
“Longbottom membuat malapetaka dengan mantra
yang paling sederhana. Kita akan mengirim entah
apa yang tersisa dari Finch-Fletchley ke rumah sakit
dalam kotak korek api.” Wajah Neville yang bundar
dan merah jambu semakin merah. “Bagaimana kalau
Malfoy dan Potter saja?” kata Snape dengan senyum
licik.
“Ide bagus!” kata Lockhart, memberi isyarat kepada
Harry dan Malfoy agar maju ke tengah aula, sementara
anak-anak mundur untuk memberi mereka tempat.
“Nah, Harry,” kata Lockhart, “kalau Draco meng-
acungkan tongkatnya ke arahmu, kautangkal begini.”
Dia mengangkat tongkatnya sendiri, berusaha me-
lakukan gerakan mengentak yang rumit dan tongkat-
nya jatuh. Snape mencibir ketika Lockhart buru-buru
memungutnya, sambil berkata, “Whoops—tongkatku
terlalu bersemangat.”
Snape mendekati Malfoy, membungkuk dan berbisik
di telinganya. Malfoy ikut mencibir. Harry mendongak
memandang Lockhart dengan gugup dan berkata,
“Profesor, bisakah Anda menunjukkan cara menangkal
tadi sekali lagi?”
“Takut nih?” gumam Malfoy, sehingga Lockhart tidak
bisa mendengarnya.
“Maumu,” balas Harry dari sudut mulutnya.
Lockhart memegang bahu Harry dengan riang.
“Lakukan saja apa yang kulakukan tadi, Harry!”
240
“Apa? Menjatuhkan tongkat saya?”
Tetapi Lockhart tidak mendengarkannya.
“Tiga—dua—satu—mulai!” teriaknya.
Malfoy cepat-cepat mengangkat tongkatnya dan ber-
teriak, “Serpensortia!”
Ujung tongkatnya meledak. Harry mengawasi, ter-
peranjat, ketika seekor ular panjang hitam melesat
dari ujung tongkat itu, terjatuh di lantai di antara
mereka berdua dan mengangkat kepalanya, siap me-
nyerang. Anak-anak menjerit-jerit, mundur ketakutan.
“Jangan bergerak, Potter,” kata Snape santai, jelas
senang melihat Harry berdiri bergeming, berhadapan
dengan ular yang marah. “Akan kulenyapkan…”
“Biar aku saja!” teriak Lockhart. Diacungkannya
tongkatnya ke arah si ular dan terdengar letusan
keras. Si ular, alih-alih lenyap, terbang setinggi tiga
meter dan terjatuh kembali di lantai dengan bunyi
berdebam keras.
Marah sekali, mendesis-desis berang, ular itu me-
lata menuju Justin Finch-Fletchley dan mengangkat
kepalanya lagi, memamerkan taringnya, siap menye-
rang.
Harry tidak tahu apa yang membuatnya berbuat
begitu. Dia bahkan tidak sadar telah memutuskan
untuk melakukannya. Yang diketahuinya hanyalah
kakinya membawanya maju, seakan ada rodanya, dan
bahwa dia berteriak bodoh kepada si ular, “Jangan
ganggu dia!” Dan ajaib sekali—tak bisa dijelaskan—si
ular terpuruk di lantai, jinak seperti slang air besar
hitam, matanya sekarang memandang Harry. Harry
merasa ketakutannya memudar. Dia tahu ular itu tidak
241
akan menyerang siapa-siapa sekarang, meskipun bagai-
mana dia tahu, dia tidak bisa menjelaskannya.
Dia menengadah menatap Justin, tersenyum, ber-
harap Justin kelihatan lega, atau bingung, atau bahkan
berterima kasih. Tetapi Justin justru tampak marah
dan ketakutan.
“Kaupikir apa yang kaulakukan?” teriaknya, dan
sebelum Harry sempat berkata apa-apa, Justin telah
berbalik dan bergegas meninggalkan aula.
Snape maju, melambaikan tongkatnya, dan si ular
lenyap dalam kepulan asap hitam. Snape juga me-
natap Harry dengan cara yang tak terduga: tajam,
licik, dan penuh perhitungan, dan Harry tidak me-
nyukainya. Dia juga samar-samar menyadari bisik-
bisik tak senang di seluruh ruangan. Kemudian dia
merasa ada yang menarik bagian belakang jubahnya.
“Ayo,” kata Ron di telinganya. “Kita pergi—ayo…”
Ron memimpinnya meninggalkan aula. Hermione
bergegas mengiringi. Ketika mereka akan melewati
pintu, anak-anak di kanan-kiri mereka minggir men-
jauh, seakan takut akan kejangkitan sesuatu. Harry
sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan
baik Ron maupun Hermione tidak menjelaskan apa
pun sampai mereka telah membawanya ke ruang
rekreasi Gryffindor yang kosong. Kemudian Ron men-
dorong Harry ke kursi berlengan dan berkata, “Kau
Parselmouth. Kenapa kau tidak bilang pada kami?”
“Aku apa?”
“Parselmouth!” kata Ron. “Kau bisa bicara dengan
ular!”
“Aku tahu,” kata Harry. “Maksudku, tadi itu baru
242
kedua kalinya aku bicara dengan ular. Aku pernah
tak sengaja melepaskan boa pembelit dan membuat
sepupuku Dudley ketakutan di kebun binatang—
ceritanya panjang—tapi ular itu memberitahuku bahwa
dia belum pernah melihat Brasil, dan tanpa sengaja
aku seolah telah membebaskannya. Itu sebelum aku
tahu aku penyihir…”
“Ular boa pembelit memberitahumu dia belum
pernah melihat Brasil?” Ron mengulang lemas.
“Jadi?” kata Harry. “Pasti banyak orang di sini bisa
melakukannya.”
“Oh, tidak, mereka tak bisa,” kata Ron. “Itu ke-
mampuan yang sangat tidak umum. Harry, ini buruk
sekali.”
“Apa yang buruk?” kata Harry, mulai jengkel.
“Kenapa sih dengan kalian semua? Dengar, kalau aku
tidak melarang ular itu menyerang Justin…”
“Oh, itu yang kaukatakan padanya?”
“Apa maksudmu? Kau ada di sana… kau men-
dengarku.”
“Aku mendengarmu bicara Parseltongue,” kata Ron,
“bahasa ular. Kau bisa saja ngomong entah apa. Tak
heran Justin panik, kedengarannya kau menyemangati
si ular untuk melakukan sesuatu. Mengerikan, tahu.”
Harry melongo.
“Aku bicara bahasa lain? Tapi—aku tidak me-
nyadarinya—bagaimana mungkin aku bisa bicara
bahasa lain tanpa diriku sendiri tahu?”
Ron menggeleng. Baik dia maupun Hermione ke-
lihatan seolah baru saja kematian teman. Harry tak
mengerti apa yang begitu menyedihkan mereka.
243
“Kalian mau memberitahuku apa salahnya meng-
hentikan ular besar mencaplok kepala Justin?” katanya.
“Apakah penting bagaimana aku melakukannya, asal
hasilnya Justin tidak usah bergabung dengan Per-
buruan Tanpa-Kepala?”
“Itu penting,” kata Hermione, akhirnya bicara de-
ngan suara tertekan, “karena Salazar Slytherin ter-
kenal justru karena kemampuannya bicara dengan
ular. Itulah sebabnya simbol asrama Slytherin adalah
ular.”
Harry ternganga.
“Persis,” kata Ron. “Dan sekarang seluruh sekolah
akan mengira kau cucu-cucu-cucu-cucu-cucunya atau
entah keturunan keberapa…”
“Tapi aku bukan keturunannya,” kata Harry dengan
kepanikan yang tak dapat dijelaskannya.
“Susah dibuktikan,” kata Hermione. “Dia hidup kira-
kira seribu tahun yang lalu; bisa saja kau memang
keturunannya.”
* * *
Harry terbaring tak bisa tidur selama berjam-jam ma-
lam itu. Lewat celah kelambu yang mengelilingi tem-
pat tidur besarnya, dia memandang salju yang mulai
melayang turun melewati jendela menara, dan ber-
tanya-tanya dalam hati.
Mungkinkah dia keturunan Salazar Slytherin? Dia
toh tak tahu-menahu tentang keluarga ayahnya.
244
Keluarga Dursley selalu melarangnya mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang keluarga penyihirnya.
Diam-diam, Harry mencoba mengatakan sesuatu
dalam Parseltongue. Kata-katanya tak mau keluar.
Rupanya dia harus berhadapan langsung dengan ular
untuk bisa melakukannya.
Tetapi aku di Gryffindor, pikir Harry. Topi Seleksi
tidak akan menempatkanku di sana kalau aku punya
darah Slytherin….
Ah, kata suara kecil tidak menyenangkan di dalam
otaknya. Tetapi Topi Seleksi kan sebetulnya ingin
menempatkanmu di Slytherin, apa kau tidak ingat?
Harry berbalik. Dia akan bertemu Justin besok di
kelas Herbologi dan dia akan menjelaskan bahwa dia
justru menyuruh ular itu pergi, bukan mendekat, dan
(dia berpikir dengan marah sambil menggembungkan
bantalnya) semua orang bodoh seharusnya juga tahu.
* * *
Tetapi paginya, salju yang mulai turun di malam hari
telah berubah menjadi badai salju, begitu hebatnya
sehingga pelajaran Herbologi terakhir tahun ajaran
itu dibatalkan. Profesor Sprout ingin memakaikan kaus
kaki dan syal ke Mandrake-mandrake, tugas rumit
yang tak bisa dipercayakannya kepada orang lain.
Apalagi sekarang, ketika penting sekali bagi Man-
drake-mandrake itu untuk segera tumbuh dan meng-
hidupkan kembali Mrs Norris dan Colin Creevey
245
Harry resah, ia berceloteh terus tentang Justin di
sebelah perapian di ruang rekreasi Gryffindor, semen-
tara Ron dan Hermione menggunakan jam kosong
mereka untuk main catur sihir.
“Astaga, Harry” kata Hermione, putus asa, ketika
salah satu menteri Ron bergulat menjatuhkan perwira-
nya dari kudanya dan menyeretnya keluar papan.
“Pergilah, cari Justin kalau itu begitu penting bagimu.”
Maka Harry bangkit dan keluar lewat lubang
lukisan, bertanya-tanya dalam hati di mana kiranya
Justin.
Kastil lebih gelap daripada biasanya di siang hari,
karena salju tebal abu-abu yang berpusar di semua
jendela. Bergidik, Harry berjalan melewati ruang-ruang
kelas tempat pelajaran sedang berlangsung,
menangkap sedikit-sedikit apa yang sedang terjadi di
dalam. Profesor McGonagall sedang berteriak kepada
seseorang yang, kedengarannya, telah mengubah
temannya menjadi luak. Melawan keinginan untuk
melongok, Harry terus berjalan, berpikir bahwa Justin
mungkin menggunakan jam kosong ini untuk me-
ngerjakan PR, dan memutuskan untuk mengecek per-
pustakaan lebih dulu.
Serombongan anak-anak Hufflepuff yang seharusnya
ikut pelajaran Herbologi ternyata memang duduk di
bagian belakang perpustakaan, tetapi kelihatannya
mereka tidak sedang bekerja. Di antara deretan rak
buku yang tinggi, Harry bisa melihat bahwa kepala
mereka berdekatan dan mereka kelihatannya sedang
terlibat obrolan mengasyikkan. Dia tidak bisa melihat
apakah Justin berada di antara mereka. Dia sedang
246

Komentar»

1. moegy - 6 Maret 2009

hallo sobat, maaf mau tanya nich,bagaimana agar kita bisa memasukkan lagu dan dapat didownload pengunjung blog kita?thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: