jump to navigation

Badr al Qubra 18 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.
trackback
Ditulis oleh H.D. Bastaman
Perang Badar adalah peperangan pertama kali antara kaum Muslimin yang tinggal di Madinah dibawah pimpinan Rasulullah saw melawan kaum Quraisy yang berpusat di kota Makkah. Kisah ini meneladani tentang bagaimana rahasia kemenangan besar itu? dan Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari peristiwa besar itu.

Dilihat secara lahiriah kekuatan kedua kubu tersebut benar-benar tidak seimbang. Coba kita bandingkan: Pasukan Muslimin -setelah beberapa orang disisihkan karena sudah udzur atau masih di bawah umur- hanya terdiri dari 313 (314 dengan Nabi) orang yang sebagian besar belum banyak pengalaman berperang. Kendaraan yang dimiliki prajurit Muslim terdiri dari 70 ekor unta dan dua ekor kuda yang masing-masing dinaiki tiga orang bergantian. Persenjataan mereka sebagian besar “senjata putih” (pedang) dan hanya beberapa orang yang memiliki baju besi. Mereka dipimpin langsung oleh Rasulullah saw dengan didampingi beberapa orang sahabat beliau yang setia dan tangguh dari kalangan Anshar dan Muhajirin.

Di lain pihak kaum kafir Makkah terdiri dari 900 – 1000 orang prajurit profesional dengan 700 ekor unta dan 100 ekor kuda dengan persenjataan lengkap seperti pedang, tombak, perisai, dan baju besi. Bahkan kaum wanita pun ikut aktif berperan dalam mengobarkan semangat perang. Kaum kafir Makkah dipimpin oleh pemimpin paling berpengaruh di Makkah -yakni Abu Jahal- disertai 14 orang tokoh Makkah yang terkenal sebagai panglima-panglima perang berpengalaman yang sangat memusuhi Islam, seperti Hisab bin Mughira, Umayah bin Khalaf, Hakim bin Hizam, keluarga Rabiah dan keluarga Hajaj.

Tetapi bagaimana hasilnya? Ternyata kaum kafir Makkah yang profesional dan berjumlah banyak dengan persenjataan lengkap itu kalah total melawan kaum muslimin yang sedikit jumlahnya dengan jumlah korban yang cukup banyak yakni 70 orang tewas dan 70 orang lagi menjadi tawanan perang. Banyak sekali senjata dan perlengkapan perang serta harta benda yang ditinggalkan lari menjadi harta rampasan kaum muslimin. Dan yang terpenting 11 diantara 13 pemimpin mereka tewas termasuk Abu Jahal sendiri. Sedangkan di pihak kaum muslimin tercatat 14 orang gugur sebagai syuhada’ yang terdiri dari 6 orang Muhajirin dan 8 orang Anshar.

Perang Badar benar-benar merupakan kekalahan total yang memalukan bagi kaum kafir Makkah. Sebaliknya bagi kaum muslimin merupakan suatu kemenangan gilang-gemilang dengan efek sosial politik sangat menguntungkan dalam meninggikan citra Islam dan memperkuat posisinya sebagai negara. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila Perang Badar dimasyhurkan dengan Badr al-Qubra, Badar yang Besar dan para peserta perang Badar sangat dikasihi Rasulullah saw dan dimuliakan oleh segenap kaum muslimin.

Kisah-kisah heroik Perang Badar

Sejarah banyak mencatatat berbagai peritiwa, pelaku, kisah heroik pribadi dan nama-nama para sahabat Rasul yang melibatkan diri dalam perang besar itu. Sebagai contoh adalah Umair bin al-Hammam, orang Anshor yang pertama kali gugur sebagai syahid dalam Badar al-Qubra.

Ketika kaum Muslimin berhadapan dengan kaum Musyrikin, Rasulullah saw bersabda:
“Berdiri tegaklah menuju surga yang lebarnya seluas langit dan bumi”. Mendengar itu Umair bertanya: “Sorga yang lebarnya seluas langit dan bumi, ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab: “Benar”. Dan secara spontan Umair berkata: “Wah, wah, waaah” yang menyebabkan Rasul bertanya: “Apa yang membuatmu berkata demikian?”. Umair menjawab dengan lembut: “Demi Allah, tidak apa-apa wahai Rasulullah, kecuali harapan semoga aku menjadi penghuninya”. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya”.

Kemudian Umair mengeluarkan sejumlah korma bekalnya dari kantong anak panahnya dan berkata: “Jika aku hidup hingga aku memakan habis kurma-kurmaku ini sungguh ia merupakan hid up yang amat panjang”, lalu melemparkan kurma-kurma bawaannya itu dan dengan penuh semangat maju ke kancah pertempuran seraya mengalunkan sya’ir:

Majulah menuju Allah tanpa bekal
kecuali taqwa dan amal yang kekal
dan sabar dalam berjihad di jalanNya.
Setiap bekal pasti habis terbuang
kecuali taqwa, kebajikan dan kepemimpinan.

Kemudian ia bertempur habis-habisan sehingga gugur sebagai syahid disaksikan sendiri oleh junjungannya, Rasulullah saw.

Kisah lain adalah Sa’ad bin Khaitsamah, salah seorang pemimpin diantara duabelas orang pemimpin Anshar. Ketika Rasulullah menyerukan perang Badar, ayahnya yaitu Khaitsamah berkata kepada puteranya: “Harus ada diantara kita yang tinggal. Dan aku, ayahmu, meminta kamu agar mengutamakan aku untuk terjun berperang, dan kamu tinggal di rumah menjaga keluarga”. Tetapi Sa’ad menolak mentah-mentah permintaan itu dan berkata: “Seandainya bukan surga yang menantiku, pasti aku akan mendahulukan engkau, ayah. Tetapi aku sungguh-sungguh mengharapkan diriku mati syahid”. Ayah dan anak tidak ada yang mau mengalah, sehingga keduanya melakukan undian dan ternyata Sa’ad yang menang. Kemudian segera ia melibatkan diri dalam Perang Badar dan gugur sebagai syahid.

Kisah lain adalah anggota pasukan bernama Umair juga, Umair bin Abi Waqqash, seorang remaja berusia 15 tahun. Ketika Rasulullah saw memeriksa pasukan kamum muslim, Umair bersembunyi di belakang punggung orang-orang dewasa. Melihat itu saudaranya, Sa’ad bin Abi Waqqash bertanya: “Mengapa engkau bersembunyi, dik?”. Jawab Umair kecil: “Aku takut Rasulullah melihatku lalu beliau menganggapku terlalu kecil dan menolakku ikut berperang, padahal aku ingin sekali ikut dengan harapan semoga Allah mengurniakan syahid bagiku”.

Tetapi Rasulullah saw melihatnya, kemudian memanggilnya dan mengatakan bahwa ia tidak diizinkan ikut berperang, karena dianggap belum cukup umur. Mendengar itu Umair bin Abi Waqqash menangis tersedu-sedu dan memohon dengan penuh harap untuk dapat diikutsertakan, sehingga ahirnya Rasulullah saw mengizinkannya. Dan beliau sendiri yang mengikatkan pedang Umair yang terlalu panjang untuk ukuran badannya. Mengapa Umair bin al-Hammam begitu gembira menjemput maut, dan Sa’ad bin Khaitsamah berebutan dengan ayah kandungnya untuk menyambut seruan-jihad Rasulullah, bahkan si remaja Umair begitu kuat keinginan dan semangatnya untuk ikut berperang? Semuanya tidak lain karena iman yang mantap kepada Allah swt dan kasih yang mendalam kepada Rasulullah saw.

Rahasia Kemenangan Perang Badar

Bagaimana rahasia kemenangan besar itu? Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari peristiwa besar itu:

a. Mempersatukan niat dan tekad.

Sebelum berperang Rasulullah saw lebih dahulu menanyakan pendapat pemimpin-pemimpin prajurit muslimin dari golongan Muhajirin dan Anshar sejauh mana mereka bersedia untuk berperang. Miqdad bin al Aswad berdiri dan memberi jawaban tegas: “Kami tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan kaum Nabi Musa ‘Pergilah kamu dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami hanya duduk-duduk menanti di sini’.

Samasekali tidak, ya Rasulullah, tetapi kami siap berperang di sebelah kiri dan kanan Anda, juga di depan dan di belakang Anda”. Sa’ad bin Mu’az salah seorang pemimpin laskar Anshar dengan jantan merespons pertanyaan Rasulullah saw: “Kami telah beriman kepada engkau ya Rasulullah. Kami telah yakin bahwa apa-apa yang engkau sampaikan adalah benar. Dan kami akan patuh dan setia pada janji kami. Lakukanlah apa yang Anda kehendaki dan kami akan tetap bersama Anda. Demi Tuhan yang mengutusmu, sekiranya Anda menghadapi samudera dan kemudian terjun untuk menyeberanginya pasti kami semua akan terjun bersama. Kami adalah orang-orang yang tegar dan terhormat dalam setiap pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan sikap kami yang menyenangkan Anda” Dan ternyata semuanya melibatkan diri dengan gagah berani bersama Rasulullah saw dalam Perang Badar.

b. Mengobarkan semangat Jihad.

Ternyata seruan jihad itu disambut kaum muslimin dengan semangat dan keberanian luar biasa untuk melawan musuh. Dan gugur sebagai syuhada merupakan kehormatan dan dambaan setiap prajurit muslim. Sikap ini merupakan ungkapan iman dan taqwa yang mantap.

c. Mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan.

Rasulullah SAW mengutus beberapa sahabat a.l. Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, Basbas bin Amer dan Zubair bin Awwam untuk menyelidiki dan mendapatkan informasi mengenai kekuatan lawan. Dari jejak musuh dan keterangan penduduk sekitar Badar mengenai jumlah unta yang dipotong setiap hari untuk konsumsi prajurit Mekah dapat disimpulkan bahwa jumlah mereka antara 900 – 1000 orang.

d. Mengatur strategi perang.

Rasulullah SAW menempatkan para prajurit Muslim dekat sumber air, lalu membagi prajurit menjadi empat kelompok dengan posisi membelakangi matahari dan berdiri rapat satu sama lain untuk bersama-sama menahan gelombang serangan musuh. Dan ternyata serangan pasukan berkuda musuh dapat diredam.

e. Do’a RasulullahkKepada Allah SWT.

Do’a Rasulullah SAW yang makbul untuk memohon kemenangan bagi kaum Muslimin merupakan salah satu penentu kemenangan, karena pada hakikatnya hanyalah Allah swt semata-mata yang memberikan kemenangan. Do’a Rasulullah saw tercatat sebagai berikut:
Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datang dengan segala kecongkakan dan kesombongan mereka untuk memerangai Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah kalahkanlah mereka.

Atas do’a tersebut diriwayatkan bahwa Allah SWT menurunkan bantuan berupa “pasukan malaikat” yang tidak tampak untuk membantu Rasulullah saw dan pasukan mukminin dalam perang besar itu.

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfal/8: 17).

Dan di atas semua itu keimanan kepada Ilahi, Allah yang Maha Esa (Al Wahiid), yang Maha Perksa (Al Jabbaar), Sang Maha Sumber Kekuatan (Al Qowiyy), Maha Melindungi (Al Matiin), yang Maha Menghidupkan (Al Muhyi), dan Maha Mematikan (Al Mumit), serta Maha Pengasih (Ar Rahmaan) dan Maha Penyayang (Ar Rohiim), telah meresapi dan memenuhi kalbu, pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para sahabat seperti diteladankan sendiri oleh junjungan mereka, Rasulullah saw yang sangat mereka kasihi.

Itulah antara lain sumber kemenangan Perang Badar dan kemenangan peperangan lainnya yang tercatat 85 kali banyaknya selama masa kenabian Muhammad saw. Dan Rasulullah saw sangat mengasihi para prajurit yang ikut dalam Perang Badar dan kaum muslimin sangat memuliakan mereka.

Jihad Akbar

Tetapi di lain pihak, pernah Rasulullah saw menyambut pasukan yang kembali dari sebuah peperangan besar dengan kemenangan gemilang. Beliau bersabda: “Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil, dan masih harus melaksanakan jihad akbar”. Dan ketika para sahabat bertanya kepada beliau tentang makna jihad akbar, beliau menjawab: “Jihad akbar adalah jihad melawan nafsu sendiri (jihad al-nafs)”.

Mengapa jihad melawan nafsu sendiri dikatakan perang besar yang ditanggapi sebagai lebih sulit daripada perang-perang biasa yang dahsyat? Coba sekarang kita bandingkan kedua jenis peperangan ini.

Pertama, perang biasa berlangsung di sebuah kawasan sebagai medannya, tetapi medan pera ng akbar adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita harus berperang dalam diri sendiri?

Kedua, dalam perang biasa musuh dengan segala senjatanya dapat dilihat dan dapat dicari kalau pun mereka bersembunyi untuk diserang. Tetapi dalam jihad akbar musuh tidak kasatmata dan tak dapat ditangkap oleh panca indera lainnya, karena nafsu kita sebagai -sebagai musuh terbesar- benar-benar tersembunyi dalam diri kita sendiri.

Ketiga, senjata yang digunakan dalam perang biasa adalah senjata fisik seperti senapan, meriam, tank, bom, pedang, perisai, tombak dsb. Tetapi senjata-senjata tersebut jelas tak dapat digunakan dalam jihad akbar melawan nafsu yang berkecamuk dalam diri sendiri. Senjata apakah yang harus digunakan dalam melawan nafsu sendiri? Keempat, setiap pasukan dalam perang biasa senantiasa ada hubungan dengan markas besar tempat pimpinan tertinggi mengatur strategi dan taktik.

Demikian pula nafsu manusia senantiasa berhubungan erat dengan sumber segala keburukan dan kekejian yaitu Iblis yang sakti dengan para syaitan sebagai bala tentaranya yang penuh tipu muslihat dan dapat merasuki diri manusia mulai dari aliran darah sampai alam pikiran dan kalbu kita. Dalam hal ini sasaran jihad akbar tidak lain adalah nafsu-nafsu jahat manusia dan pengaruh negatif lingkungan serta iblis dan syaitan sebagai sumber suburnya segala nafsu keji manusia.

Nafsu Manusia

Kata “nafsu” berasal dari bahasa Arab “nafs”. Dawam Rahardjo dalam “Ensiklopedi al-Qur’an” menunjukkan bahwa istilah nafs ini mengandung berbagai pengertian yakni: Jiwa (soul), Pribadi (person), Diri (self/selves), Hidup (life), Hati (heart) dan Pikiran (mind).

Nafsu sebenarnya mengandung arti netral yakni tidak dengan sendirinya baik atau buruk (atau dapat menjadi buruk atau baik). Tetapi nafs sering mendapat nilai pejoratif artinya direndahkan derajatnya menjadi semata-mata dorongan seksual dan amarah. Tetapi pengertian hakiki tentang nafs ini tetap merupakan misteri. Mengapa demikian? Karena hampir semua istilah al-Qur’an mengandung aneka makna dan konotasi. Selain itu setiap istilah selalu berkaitan dan tak terpisahkan dengan istilah-istilah lainnya, misalnya saja nafs (nafsu) tak terpisahkan dari qalb (kalbu), ruh (ruh), ‘aql (akal). Disamping itu setiap istilah memiliki tahapan mulai dari pengertian konkrit-biologis sampai kepada yang abstrak-metafisis.

Sebagai contoh al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengemukakan makna nafs sebagai berikut:
Nafs memiliki dua arti. Arti pertama adalah nafsu-nafsu rendah, seperti dorongan agresif (ganas) dan dorongan erotik (birahi) yang dapat menjadi sumber malapetaka dan kekacauan apabila tidak berhasil dikendalikan dan diadabkan. Adapun nafsu dalam artian kedua adalah nafs al muthmainnah yang halus, suci, dan tenang yang diundang oleh Tuhan sendiri dengan lembutnya untuk masuk ke dalam surga-Nya. (QS. al-Fajr/89: 27 – 28).

Dari uraian singkat di atas, nyata bahwa nafsu dalam arti pertama adalah aspek psikofisik yang tak asing lagi di kalangan psikologi, karena menjadi salah satu kajian psikologi. Nafsu dalam artian ini adalah dorongan insting yang merupakan gejala-gejala kejiwaan yang ditelaah secara intensif dalam psikologi. Sedangkan unsur ini dalam arti metafisik bersifat ruhaniah dan suci serta merupakan inti kemanusiaan yang disebut dengan bermacam-macam nama, antara lain al-latifah al-ruhaniyyah atau al-latifah al-rabbaniyyah. Dan justru makna yang metafisis inilah yang dianggap sebagai hakikat kemanusiaan, karena hal itu merupakan sarana komunikasi dengan Tuhan, dan wadah atau titik-tangkap pencerahan dari-Nya. Tetapi sejauh ini makna yang metafisis ini tampaknya terabaikan dalam telaah psikologi modern, karena dianggap semata-mata kajian agama, khususnya menjadi ajang telaah dan olahan Tasawuf.

Sejalan dengan konsep nafs yang dijelaskan di atas, Dr. M. Quraisy Shihab dalam “Manusia dalam Pandangan A l Qur’an” mengemukakan bahwa al-Qur’an menunjukkan empat pengertin nafs yakni: (a) Nafs sebagai totalitas manusia (QS. al-Maidah/5: 32); (b) Nafs merujuk kepada apa yang terdapat dalam manusia yang menghasilkan tingkah laku (QS. ar-Ra’d/13: 11); (c) Nafs sebagai wadah dari ide dan kemauan keras (QS. ar-Ra’d/13: 11); nurani (QS. al-Qiyamah/75: 15); pengetahuan yang terpendam dalam alam tak sadar manusia (QS. Thaaha/20: 7); (d) Nafs digunakan oleh Tuhan untuk menunjukkan Diri-Nya (QS. al-An’am/6: 12).

Selanjutnya menurut Quraisy Shihab pengertian nafs (a-b-c) menunjukkan sisi-dalam (inner-world) manusia yang berpotensi baik atau buruk. Berlainan dari kalbu yang salah satu pengertiannya adalah juga “wadah” dari sesuatu yang positif dan disadari, maka Nafs adalah wadah dari hal-hal yang positif dan negatif, baik yang disadari maupun yang tak disadari. Dengan demikian kalbu pun merupakan sisi-dalam manusia yang secara ilustratif dapat digambarkan: Kalbu menempati kotak tersendiri yang berada dalam kotak besar Nafs.

Seperti halnya kalbu sebagai wadah yang dapat diisi (QS. al-Hujurat/49: 14); dan dikuras (QS. al-Hijr/15: 47); dapat meluas (QS. al- Syarh/94: 1) dan menyempit (QS. al-An’am/6: 125) serta dapat di tutup-rapat (QS. al-Baqarah/2: 7), demikian pula Nafs dapat mengalami kegelapan dan pencerahan. Sehingga muncul istilah Nafs al Ammarah, Nafs al Lawwamah, dan Nafs al Muthmainnah sebanding dengan perilaku baik dan buruk yang dilakukan pemiliknya dan sejauhmana nafs itu mendapat pencerahan (enlightenment). Dengan demikian Nafs pun memiliki dimensi metafisis yang dapat menerima pencerahan dari Tuhan.

Ragam Nafsu Manusia

Nafs’ al Ammarah adalah sumber dari sifat-sifat tercela dan perilaku keji (QS. Yusuf/12: 53). Nafsu ini erat kaitannya dengan dorongan-dorongan alami manusia yakni dorongan libido seksual (syahwat) dan dorongan agresif-destruktif (ghadlab). Sedangkan Nafs al Lawawamah adalah kondisi kejiwaaan yang ditandai oleh adanya rasa penyesalan atas kesalahan dan perbuatan dosa yang dilakukan (QS. al-Qiyamah/75: 2). Pada nafs ini telah berkembang moralitas dengan hati nuraninya yang mampu menilai baik-buruknya suatu perbuatan.

Adapun Nafs al Muthmainnah adalah kondisi jiwa yang suci dan tenteram yang dipanggil Tuhan dengan mesranya untuk masuk ke dalam surga-Nya (QS. al-Fajr/89: 27). Jenis nafs ini bersifat ruhaniah. Ketiga ragam nafs ini masing-masing dapat dibedakan, tetapi tak terpisahkan satu sama lain.

Nafs al Ammarah Sasaran Jihad Akbar

Nafsu al Ammarah yakni dorongan-dorongan agresif-destruktif (ghadab) dan libido seksual (syahwat) yang terpateri pada diri manusia dianggap sebagai sumber dari nafsu-nafsu buruk lainnya. Nafs al Ammarah ini sering diibarakan sebagai setitik bara api neraka yang telah dibenamkan ke dalam tujuh samudera agar menjadi lebih dingin.

Tetapi apa yang terjadi? Bukan bara apinya yang padam melainkan justru samuderanya yang menjadi kering memijar! Nah, setitik bara api yang “telah dibenam dan didinginkan di tujuh samudera” itulah yang tertanam dalam diri sebagai nafsu-nafsu buruk manusia. Perumpamaan ini mengisyaratkan pula bahwa Nafs al Ammarah hampir tak mungkin dihilangkan. Dan konon yang dapat memadamkannya tidak lain adalah air mata penyesalan. Artinya, Nafs al Ammarah ini dapat dikurangi (bahkan dihilangkan) melalui penyesalan atas maksiat dan perbuatan-perbuatan keji yang pernah dilakukan, maksiat yang sedang dilakukan dan mungkin dilakukan kelak. Tentu saja dengan niat kuat untuk segera menghentikannya samasekali.

Manfaat Nafs al Ammarah

Nafs al Ammarah yang tujuan utamanya meraih kenikmatan semata-mata ini kalau tak dikendalikan dan dibiarkan merasuk menguasai jiwa manusia akan mewujudkan kelakuan buruk dan keji yang akan menimbulkan bencana dan penderitaan pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Tetapi di lain pihak dorongan yang erat kaitannya dengan j asmani dan dimiliki juga oleh hewan ini merupakan sumber kekuatan dan semangat hidup yang sangat penting untuk bertahan hidup (survive,) mempertahankan diri, meningkatkan keberanian serta melestarikan keturunan. Dan Al-Islam tidak menghilangkan samasekali dorongan-dorongan ini, tetapi mengendalikan dan menyalurkan sesuai dengan ketentuan akhlak dan syari’at, sehingga bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan hidup bermasyarakat.

Memenangkan Jihad Akbar

Sejalan dengan rahasia-rahasia kemenangan Perang Badar, maka prinsip-prinsip memenangkan Jihad Akbar -yaitu perang melawan nafsu-nafsu sendiri- antara lain sebagai berikut:

a. Menyadari kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

Kesadaran atas keunggulan dan kelemahan pribadi merupakan langkah awal setiap usaha perkembangan pribadi. Hal ini dilakukan dengan jalan mawas diri dan meminta masukan dari orang lain. Setelah itu menetapkan satu atau beberapa kelemahan diri yang akan dihilangkan dan keunggulan-keunggulan yang akan ditingkatkan. Misalnya menetapkan sifat-sifat baik apa yang akan dikembangkan dan sifat-sifat buruk apa yang akan dihilangkan.

b. Memantapkan Niat.

Setelah menyadari keunggulan dan kelemahan-kelemahan pribadi, langkah selanjutnya adalah memantapkan niat untuk melakukan perubahan dirti ke arah kondisi diri yang lebih baik. Niat adalah motivasi dan kesediaan untuk pengembangan kepribadian.

c. Membuat rencana Pengembangan Pribadi.

Menentukan tujuan, langkah-langkah konkrit, dan cara-cara melakukan perkembangan pribadi, dengan selalu mempertimbangkan hal-hal yang dapat menunjang dan menghambat.

d. Melaksanakan Rencana.

Tahap ini adalah tahap paling penting, karena betapa pun baiknya suatu niat dan rencana tentu saja tidak akan ada hasilnya apabila tidak dilaksanakan. Dalam melaksanakannya tidak saja diperlukan niat dan tekad yang mantap, tetapi juga usaha keras serta sikap pantang menyerah menghadapi berbagai hambatan menuju keberhasilan.

e. Adanya Keteladanan

Seperti halnya Perang Badar dengan Rasulullah saw sebagai anutan dan panutan umat, dalam meraih keberhasulan jihad akbar pun perlu adanya tokoh teladan. Tokoh ini akan menjadi role model dan contoh nyata pribadi-pribadi yang berhasil meredam akhlak tercela dan sekaligus mengembangkan akhlak terpuji. Tokoh teladan terbaik bagi umat manusia adalah Rasulullah saw yang keluhuran akhlaknya mendapat pujian Allah swt dan dimasyhurkan sebagai pribadi sebagai “teladan terbaik” (uswatun hasanah), dan “berakhlak al Qur’an” dengan misi utama kerasulannya “memperbaiki akhlak manusia”.

f. Memperbanyak ibadah dan memohon pertolongan Allah swt.

Meraih kemenangan dalam jihad akbar ini tentu saja tidak mudah, karena yang dihadapi bukan saja sifat-sifat tercela diri sendiri dan pengaruh buruk lingkungan, tetapi juga iblis dan syetan yang tentu saja tidak akan membiarkan dihilangkan nafsu-nafsu jahat sebagai sarana mereka menjerumuskan manusia jurang noda dan dosa. Dalam hal ini mutlak diperlukan pertolongan Allah swt melalui do’a khusyu’ kepada-Nya serta memperbanyak ibadah dan dzikrullah serta berbuat amal baik.

Cara lain mengendalikan nafs al ammarah -dan ini paling baik- adalah mencegah diri melakukan nafsu al ammarah. Artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mencetuskan nafsu ini. Ini sesuai dengan ungkapan “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Jadi jauhilah ambang maksiat, karena begitu seseorang melangkahi ambang ini, maka sedikit demi sedikit dan secara tak disadari ia akan terseret kedalamnya dan akhirnya terjerat dalam cengkeraman kemaksiatan. Dalam kondisi parah serupa ini tentu saja tak mudah untuk dapat “kembali ke jalan yang benar”.

Jihad Akbar mengembangkan akhlak terpuji

Sebenarnya jihad akbar tidak semata-mata untuk menghilangkan nafsu-nafsu dan sifat t ercela (akhlakul madzmummah) yang ada dalam diri kita, tetapi juga menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (akhlakul mahmuddah). Untuk keperluan pengembangan ahlak terpuji (ahlakul karimah) Imam Al Ghazali mengemukakan empat metode, yaitu:

– Pembiasaan

– Pemahaman, Penghayatan dan Penerapan: lebih dahulu mencoba memahami arti dari suatu perilaku yang baik, kemudian mendalaminya dan menjiwainya, lalu secara sengaja menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini adalah cara yang lazim digunakan dalam pendidikan orang dewasa.

– Peneladanan: menyontoh tokoh-tokoh yang dikagumi (kebaikannya) untuk mengambil sikap-sikap atau nilai-nilai yang dikaguminya. Proses ini disebut proses identifikasi, yang syarat utamanya adalah harus mengenal tokoh identifikasinya. Dalam ilmu akhlak banyak sekali ditampilkan contoh-contoh perilaku terpuji dari tokoh-tokoh tertentu, dengan harapan dapat menimbulkan motifasi untuk mencontoh dan meneladaninya. Teladan yang paling baik dalam Islam adalah pribadi Nabi Muhammad SAW yang dimasyhurkan sebagai “Uswatun Hasanah” yakni suri teladan terbaik bagi manusia.

– Ibadah: ibadah dalam artian khusus (misalnya shalat, puasa, dsb) dan ibadah dalam artian umum (berbuat kebajikan karena Allah SWT) secara sadar atau tidak sadar akan mengembangkan akhlak yang baik dan menghilangkan/mengurangi akhlak yang buruk. Dan inti dari ibadah adalah Dzikrullah.

RANGKUMAN

Dalam pandangan Rasulullah saw perang melawan nafsu-nafsu (buruk) diri sendiri lebih berat daripada peperangan biasa, dan beliau menamakannya “Jihad Akbar”.

Dalam jihad akbar ini selain medan perang dan musuhnya adalah diri sendiri, kita pun harus berhadapan dengan sumber segala keburukan yaitu Iblis dan syetan-syetannya yang telah bersumpah untuk menjerumuskan manusia ke dalam kekejian.

Mengingat sulitnya memenangkan jihad akbar ini, selain upaya-upaya dan kesungguhan kita sebagai manusia diperlukan secara mutlak pertolongan dan bimbingan Allah swt sebagai maha sumber segala kemenangan. Tanpa itu jangan mengharap kemenangan ada di tangan. Ibadah pada umumnya dan shalat serta dzikrullah pada khususnya adalah kunci pembuka kemenangan jihad akbar.

Dengan shalat (khusyu’) tercegah perbuatan keji dan mungkar, dan dengan dzikrullah (yang benar metodologinya) akan terjadi penghayatan kehadiranNya. Dan siapa yang dekat dengan Yang Maha Menang akan turut mendapat kemenangan. Saat ini kita hidup dalam kurun yang penuh dengan krisis multi dimensi yang sumbernya permasalahannya tidak lain adalah diri manusia sendiri.

Para pakar ilmu-ilmu sosial menyebutnya sebagai krisis identifikasi, krisis karakter, krisis nilai dan krisis jati diri yang pada hakikatnya adalah krisis akhlak. Artinya, akhlak buruk (madzmummah) lebih mencuat tinimbang akhlak terpuji (mahmudah). Coba kita perhatikan, pada saat ini berbagai kemaksiatan yang menyebabkan para utusan Tuhan diturunkan ke dunia, seakan-akan semua kemasiatan tersebut sekaligus ada di hadapan kita.

Inilah Jihad Akbar untuk mengembangkan akhlak terpuji (akhlak al karimah) yang harus kita menangkan saat ini. Kerja keras (work hard) dan kerja cerdas (work smart) disertai doa yang khusyu’ dan ibadah penuh kesungguhan, Insya Allah akan menjolok-turun bimbingan, rahmat dan kurniaNya untuk memenangkan Jihad Akbar.

Sumber:
Penulis Drs. Hana Djumhana Bastaman, MPSi
Ciputat, 24 Desember 2006.
Disampaikan di Surau Syukurul Amin Palembang dalam acara Road Show Sumatera pada 7-14 Januari 2007

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: