jump to navigation

Perang Shiffin 9 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.
trackback

Suatu Strategi Munafiquun Memecah belah Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Ketika terjadi fitnah pada pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra., Abdulah bin Saba dan kaumnya mendatangi Ali bin Abi Thalib ra. dan kemudian memprovokasinya untuk menggantikan Utsman bin Affan ra. Namun Ali bin Abi Thalib ra. menolak provokasi tersebut bahkan kemudian membunuh sebagian pengikut Abdullah bin Saba namun Abdullah bin Saba sendiri berhasil melarikan ke Mesir.
Ketika berada di Mesir dia bertemu dengan beberapa kaum munafiquun untuk merencanakan suatu makar yang hebat. Kemudian dengan pengaruhnya, Abdullah bin Saba berhasil membuat opini tentang keburukan pemerintahan Utsman bin Affan ra di Madinah. sehingga beberapa orang kaum muslimin terpengaruh oleh cerita yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba tersebut.
Setelah dirasakan banyak kaum muslimin yang terpengaruh olehnya maka Abdullah bin Saba berangkat ke madinah beserta rombongannya menuju Madinah. Sesampainya Madinah Abdullah bin Saba dan rombongannya membuat fitnah yang besar terhadap Khalifah Utsman bin Affan.
Saking hebatnya fitnah itu karena juga disebarkan oleh rombongan Abdullah bin Saba yang besar jumlahnya maka sebagian sahabat radhiyallahu anhum terpengaruh oleh ucapan kaum munafiquun tersebut sampai sampai putra Khalifah pertama yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi Khalifah Utsman bin Affan ra. dengan marah dan menarik jenggotnya.
Dan pada puncaknya kaum munafiquun dan sebagian kaum muslimin yang baik yang terprovokasi oleh ucapan Abdullah bin Saba dan pengikutnya mengepung rumahUtsman bin Affan ra. kemudian membunuhnya. Setelah meninggalnya Utsman bin Affan ra. maka kaum munafiquun dan sebagian sahabat serta kaum muslimin yang lain membai’at Ali bin Abi Thalib ra. sebagai Khalifah berikut. Kemudian munculah fitnah yang menyebabkan sahabat terpecah belah yaitu tentang hukuman bagi para pembunuh Utsman bin Affan ra.
Sahabat radhiyallahu’anhum terpecah menjadi 2 kubu yaitu kubu Ali bin Abi Thalib ra. dan kubu ‘Aisyah ra., Mu’awiyyah ra., Thalhah ra., Zubair ra dan lainnya. Kubu ‘Aisyah ra dan sahabat lainnya menuntut disegerakannya hukuman qishas bagi pembunuh Utsman bin Affan ra. Namun Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. menundanya karena 2 ijtihad, pertama negara dalam keadaan kacau sehingga perlu ditertibkan dahulu dan yang kedua pembunuh Utsman bin Affan ra. sebagian adalah munafiquun dan sebagian lagi kaum muslimin yang baik yang termakan provokasi, maka Ali bin Abi Thalib ra. membutuhkan kepastiannya.
Namun ‘Aisyiah ra., Thalhah ra., Zubair ra., dan sahabat nabi yang lain tetap pada ijtihadnya yaitu menuntut Ali bin Abi Thalib ra untuk menyegerakan hukuman qishas terhadap para pembunuh Utsman bin Affan ra. Akhirnya setelah masing – masing sahabat Nabi tersebut membawa pasukan dan siap untuk berperang, lalu kemudian Ali bin Abi Thalib ra. sepakat dengan pihak ‘Aisyah ra. dan menyetujui untuk menyegerakan hukuman qishas terhadap para pembunuh Utsman bin Affan ra. Rupanya kesepakatan Ali dengan kubu ‘Aisyah ra. membuat gerah kaum munafiquun yang dipimpin oleh Abdullah bi Saba’.
Pada malam harinya (Perang Jamal berlangsung pada malam hari) kaum munafiquun menyusup ke barisan sahabat Thalhah ra. dan Zubair ra. dan melakukan penyerangan mendadak. Karena merasa diserang maka kubu Thalhah ra. dan Zubair ra. balas menyerang ke pasukan Ali bin Abi Thalib ra dan perang besar pun tak terhindarkan. Perang ini disebut Perang Jamal dan berakhir dengan kemenangan Ali bin Abi Thalib ra. dan meninggalnya 2 orang sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Thalhah ra. dan Zubair ra.

Sahabat Mu’awiyyah ra. yang pada waktu itu masih menjadi Gubernur di Damaskus menggerakan pasukannya menuju Madinah dengan tuntutan yang sama yaitu menyegerakan mengqishas pembunuh Utsman bin Affan ra.

Karena keadaan yang semakin kacau Ali bin Abi Thalib ra. tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut lalu terjadilah perang yang berikutnya yang dikenal dengan nama Perang Shiffin yang berakhir dengan gencatan senjata meskipun pada waktu itu Ali bin Abi Thalib ra. hampir memenangkan pertempuran tersebut. Lalu Mu’awiyyah ra. kembali ke Damaskus dan tetap menolak membaiat Ali bin Abi Thalib ra. sebagai Khalifah (Lalu sebagian kaum muslimin membai’at Muawiyyah ra. sebagai Amirul Mukminin)Dan pada itu negara Islam terbagi 2 yaitu Ali bin Abi Thalib ra di Madinah dan Mua’wiyyah ra. di Damaskus.

Pada kondisi tersebut ada sebagian kecil kaum muslimin yang tidak puas kepada keduanya, dan kaum muslimin yang tidak puas kepada Ali ra. dan Mu’awiyyah ra. mereka membentuk firqah baru (inilah firqah pertama dalam Islam, disusul Syiah, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah,

Qadariyyah, Jabariyyah dan lain sebagainya) yang disebut sebagai Khawarij dan mereka mengkafirkan kedua sahabat nabi tersebut. Lalu kaum Khawarij mengutus pembunuh kepada keduanya, namun qadarullah hanya Ali bin Abi Thalib ra yang terbunuh, sedangkan percobaan pembunuhan terhadap

Kelebihan sayyidina `Ali karramallahu wajhah.

Beliau adalah anak dari paman Rasulullah, Abu Thalib. Semenjak kecil beliau selalu bersama Rasulullah. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam bukunya fathul mubin menyebutkan banyak sekali kelebihan beliau diantaranya:
  • Beliau islam dalam usia yang masih muda yaitu 9 tahun dan merupakan orang pertama yang masuk islam dari golongan anak-anak.
  • Beliau belum pernah menyembah berhala semenjak kecil, sehingga beliau mendapat gelar karramallahu wajhah (Allah telah memuliakan wajahnya)
  • Beliau adalah salah satu menantu Rasullah, suami dari penghulu dari segala wanita, siti fathimah radhiyallahu `anha .
  • Beliau adalah salah satu sahabat yang terkenal luas ilmunya, seorang pemberani, sangat zuhud dan seorang yang pandai berpidato
  • Beliau mengikuti semua peperangan yang diikuti oleh Rasulullah, kecuali perang tabuk, pada saat itu beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjaga kota Madinah dan pada saat itu Rasulullah mengatakan : انت منى بمنزلة هارون من موسىKamu denganku bagaikan nabi Harun dengan nabi Musa
  • Beliau diberi kepercayaan oleh Rasulullah untuk memegang bendera islam dalam banyak peperangan . Terutama sekali dalam perang Khaibar, pada saat benteng pertahanan kaum yahudi khaibar sulit untuk ditembus, akhirnya Rasulullah menyerahkan bendera islam kepada Saidina `Ali dan mengatakan kemenangan berada ditangan saidina `Ali . Dalam peperangan tersebut beliau berhasil membuka pintu benteng kaum yahudi dan menjadikannya sebagai perisai. Padahal pintu benteng tersebut sangatlah berat, hanya sanggup diangkat oleh empat puluh orang.
  • Banyaknya ayat–ayat Al qur an yang diturunkan berkenaan dengan beliau, diantaranya: (a. Surat al Baqarah ayat 274) الذين ينفقون أموالهم باليل والنهار سرا وعلانية فلهم أجرهم عند ربهم ولا خوف ولاهم يحزنون . Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan disiang harinya secara sembunyi-sembinyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala disisi tuhannya. Tidak ada kekhawtiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati “. Ibnu Abbas mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan dengan saidina `Ali .pada saat beliau memiliki empat dirham beliau infakkan satu dirham pada waktu malam, satu dirham pada waktu siang, satu dirham secara terang- terangan dan satu dirham lagi secara tersembunyi .(b. Surat As sajadah ayat 18) أفمن كان مؤمنا كمن كان فاسقا لا يستوونMaka apakah orang-orang beriman sama seperti orng-orang yang fasik? mereka tidak sama. “ Ibnu Abbas mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan dengan saidina Ali bin Abi Thalib, dan Walid bin `Uqbah . (c. Surat Al qisash ayat 61) أفمن وعدناه وعدا حسنا فهو لقيه كمن متعناه متاع الحيوة الدنيا ثم هو بوم القيامة من المحضرين Mujahid mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan tentang sayyidina Ali ,hamzah dan Abi Jahal .(d. Surat Az zumar ayat 22) افمن شرح الله صدره للاسلم فهو على نور من ربه …… Al Wahidy mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan dengan Saidina Ali dan Saidina Hamzah. (e. Surat Al insan ayat 8)Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” Ibnu Abbas mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan dengan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Dan masih ada beberapa ayat Alqur’an lainya yang menunjuki kelebihan Sayyidina Ali .
  • Banyaknya hadis –hadis rasulullah yang menjelaskan keutaman beliau dintaranya :(a. Hadis riwayat At tabrany dari ummu Salamah) عن أم سلمة رضى الله عنها قالت :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :من أحب علي فقد أحبنى ومن أحبنى فقد أحب الله .ومن أبغض علي فقد أبغضنى ومن أبغضنى فقد أبغض اللهDari ummu Salamah ra Rasulullah berkata, siapa yang mencintai Ali berarti ia telah mencintaiku ,barang siapa mencintaiku ia telah mencintai Allah, dan barangsiapa memusuhi Ali berarti ia telah memusuhiku dan barangsiapa memusuhiku berarti ia telah memusuhi Allah(b. Hadis riwayat Ibnu sammak) عن عائشة رضي الله عنها قالت : رأيت أبا بكر يكثر النظر الى وجه علي فقالت :ياأبات رأيتك كمثر تانظر الى وجه علي ؟فقال يا ابنية سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول النظر الى وجه علي عبادةDari `Aisyah, beliau berkata: aku melihat Abu Bakar memperbanyak melihat kepada muka sayyidina Ali, aku bertanya “Hai bapakku aku mlihat kamu memperbanyak melihat muka saidina Ali“. Abu Bakar menjawab: aku dengar Rasulullah bersabda “melihat wajah saidina Ali adalah `ibadah”. (c. Hadis riwayat Bukhari dan muslim dan imam hadis lainnya) عن سهل بن سعد والبراز عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يوم الخيبر :”لأعطين الراية غدا رجلا يفتح الله على يده يحب الله ويحب رسوله ويحبه الله رسوله “فلما اصبح الناس غدوا كل يرجو ان يكون هو فقال:أين علي بن أبي طالب ؟فقيل يشتكى عينيه قال “فأرسلوا اليه “فأتى به فتفل رسول الله صلى الله عليه وسلم فى عينه ودعاله فبرئ حتى كأن لم يكن به وجع ,وأعطاه الراية وفتح الله على يدهDari sahal bin Sa`ad dan baraz dari Ibnu `Abbas ‘Rasulullah saw berkata pada perang khaibar “esok akan ku berikan bendera kepada seorang laki-laki ,Allah akan memberikan kemenangan pada tangannya ia mencintai Allah dan RasulNya, dan Allah dan Rasul Nyamencintainya. Berkatalah Rasulullah dimana `Ali bin abi Thalib.” (d. Hadis riwayat Turmuzi dari Ibnu `Abbas ra:) عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما مررت بسماء الا واهلها يشتاقون الى علي رضي الله عنه وما فى الجنة الا نبي الا وهو يشتاق الى علي رضي الله عنهDari Ibnu `Abbas Ra Rasulullash berkata: tiada akui lalui langit kecuali penghuninya merindukan `Ali, dan tiada seorangpun nabi didalam surga kecuali mereka rindu kepada `Ali ra “. (e. Hadis riwayat Imam Ahmad dari Fathimah) قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ان السعيد حق السعيد م احب عليا رضي الله عنه فىحياته وبعد موتهRasulullah berkata orang yang benar –benar bahagia adalah orang yang mencitai `Ali dalam hidupnya dan sesudah matinya “ Dan masih banyak hadis-hadis Nabi lainnya yang menerangkan kelebihan Saidina Ali.


Kelebihan sayyidina Mu`auwiyah r.a

Menurut hikayat Alwaqidi beliau masuk islam sesudah perjanjian Hudaibiyah sedangkan menurut yang lainnya beliau masuk islam pada hari perjanjian Hudaibiyah tetepi beliau menyembunyikan keislamannya hingga hari penaklukan Makkah
Selain beliau adalah seorang sahabat, ada beberapa hal yang menunjuki betapa agungnya sahabat ini disi Allah dan RasulNya diantaranya :
  • Hadis riwayat imam Ahmad bin hanbal dalam kitabnya Musnad imam Ahmad
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أللهم علم معاوية الكتاب والحساب وقه العذاب

Ya Allah berikan kepada Mu`auwiyah ilmu tentang kitab dan hisab dan peliharalah ia dari azab

  • Hadis riwayat Turmuzy

عن عبد الرحمن بن ابي عميرة الصحابي المدنى ان النبي صلى الله عليه وسلم قال لمعاوية:اللهم اجعله هاديا مهديا واهد به الناس

Dari Abdir Rahman bin Abi Amirah Ash shahaby ,Nabi SAW bersabda: Ya Allah jadikanlah dia (Sayyidina Mu`auwiyah) orang yang memberi petunjuk dan terpetunjuk, dan tunjukilah manusia dengan dia
  • Beliau adalah salah satu penulis wahyu Rasulullah
  • Beliau adalah salah satu ipar Rasulullah, saudara ummul mu`minin Ummu Habibah
  • Imam Bukhary dan imam Muslim juga meriwayatkan hadis dari beliau, padahal imam bukhary dan muslim hanya meriwayatkan hadis dari orang – orang stiqah(terpecaya). Hal ini menunjuki bahwa beliau termasuk orang yang terpecaya juga .
  • Para ulama muhaddisin juga menuliskan kalimat radhiyallahu `anh (keridhaan Allah atasnya) tanpa membedakannya dengan para sahabat lainnya
  • Abdullah bin Mubarrak pernah ditanyai oleh seseorang “Hai Aba `Abdir Rahman, siapa yang lebih afdhal Saidina Mu`auwiyah atau Umar bin `Abdil `Aziz? beliau menjawab Demi Allah, sesungguhnya debu yang masuk kedalam hidung kuda saidina Mu`auwiyah lebih afdhal dari Umar bin `Abdul `Aziz seribu kali, beliau shalat dibelakang Rasulullah, maka Rasulullahpun berkata sami`allahuliman hamidah (semoga Alllah mendengar orang-orang yang memujiNya, beliaupun menjawab Rabbana lakal hamdu ….(Ya tuhan kami segala pujian bagimu …) Nb. Umar bin Abdul aziz adalah seorang khalifah Bani Umayyah yang sangat alim dan adil. Pada masa beliau keadilan merata di muka bumi, tetapi walaupun demikian Abdullah bin Mubarrak -seorang sufi yang sangat terkenal-mengatakan bahwa debu yang masuk kedalam hidung Saidina Mu`auwiyah masih lebih afdhal dibandingkan dengan umar bin Abdul Aziz. Maka terlihatlah betapa mulia dan agung sahabat ini.
  • Disebutkan dalam Sahih Bukhary: dari ikrimah beliau berkata: Aku berkata pada ibnu Abbas, bahwasanya Mu’auwiyah melaksanakan witir satu raka`at .Ibnu Abbas menjawab ia adalah seorang ahli fiqah
  • Nabi sendiri telah memberi kabar gembira kepada saidina Mu`auwiyah bahwa beliau akan menjadi khalifah. Sabda Nabi kepada Saidina Mu`auwiyah :
اذا ملكت فأحسن

Apabila kamu menjadi raja maka berbuat baiklah

  • Rasulullah sendiri pernah mendo`akan beliau. Tersebut dalam hadis riwayat imam Ahmad dalam Musnadnya Rasulullah berkata :“Ya Allah berilah ilmu kepada Muauwiyah tentang kitab dan hisab dan jauhkanlah ia dari azab “ Do`a Rasulullah sangat mustajabah, Allah pasti akan mengabulkan permintaan beliau. Maka dapatlah diketahui bahwa Allah tidak akan menyiksa beliau atas segala perbuatan beliau bahkan Allah akan memberi beliau pahala karena beliau adalah seorang mujtahid . Masih banyak hal-hal lain yang menjadi bukti yang kuat bahwa beliau memiliki kedudukan yang istimewa disisi Allah dan RasulNya .

Sebab timbulnya peperangan

Setelah syahid amiril mu`minin Saidina Usman ra ditangan para pemberontak, timbul fitnah di kota Madinah. Para pembunuh Saidina Usman berkeinginan menguasai Madinah dan membunuh penduduk Madinah. Untuk mengatasi hal tersebut, para shahabat mengangkat saidina Ali sebagai khalifah. Pada mulanya saidina Ali menolak jabatan tersebut dan menyerahkannya kepada sahabat yang lain, namun para sahabat lainnya juga menolak. Setelah berlalu tiga hari semenjak syahidnya saidina Usman, berkumpullah para sahabat yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka meminta kepada saidina Ali untuk bersedia menjadi khalifah demi menjaga agama dan kota hijrah (Madinah), akhirnya beliau menerimanya karena takut terjadinya kekosongan kepemimpinan yang merupakan satu hal yang dilarang dalam agama .
Setelah Saidina Ali menjadi khalifah sebagian para sahabat menginginkan supaya kasus pembunuhan terhadap saidina Usman dituntaskan dengan segera, diantara sahabat yang berpandangan demikian adalah saidina Mu`auwiyah ,Thalhah, Zubair bin Awam dan Siti `Aisyah. Sedangkan Saidina Ali berpendapat bahwa, karena para pembunuh sidina Usman berasal dari berbagai suku dan kabilah, bahkan menurut satu riwayat jumlahnya mencapai sepuluh ribu orang yang berasal dari Kufah, Basrah, Mesir dan daerah lainnya, dan mereka telah berbaur dengan kaum muslimin lainnya, maka yang terlebih dahulu harus dilakukan adalah membentuk pemerintah yang kuat setelah itu baru beliau akan menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut.

Menurut ijtihad saidina Mu`auwiyah, menunda penyelesain pembunuhan Saidina Usman r.a, merupakan masalah yang cukup besar karena mereka telah membunuh sahabat Rasulullah bahkan mereka telah merusak tiga kehormatan, darah ,bulan, dan kehormatan kota suci Madinah Almunawwarah. Maka tindakan Saidina Ali mengundur waktu untuk menyelesaikannya segera merupakan satu hal yang mengharuskan untuk memerangi imam(saidina Ali ) Akhirnya peperanganpun tak dapat dielak lagi, maka terjadilah kehendak Allah ta`ala yang maha berbuat terhadap semua hambanya apa yang ia kehendaki.

Pandangan Ahlussunnah wal jama`ah

Kaum Ahlussunnah sangat menghormati dan menghargai para Sahabat Rasulullah saw, hal ini berdasarkan dalil-dalil dan bukti–bukti yang cukup kuat yang menunjuki bahwa para sahabat Rasulullah lebih mulia dibandingkan dengan orang- orang sesudah mereka. Sebagaimana Rasulullah sendiri pernah mengatakan :
ولا تسبوا أصحابى فانهم خياركم

“janganlah kamu mencela sahabatkau, karena mereka adalah sebaik-baik kamu “

karena keluasan ilmu mereka, para sahabat Rasulullah telah sampai pada tingkatan mujtahid mutlak, sehingga dalam masalah yang tidak diperdapatkan didalam alqur’an dan Hadis, terhadap mereka dibolehkan untuk berijtihad menurut pendapat mereka masing- masing. Terhadap seorang mujtahid tidak dibenarkan mengikuti pendapat mujtahid lainnya. bila hasil ijtihad mereka benar maka Allah akan memberikan kepada mereka dua pahala, pahala ijtihad dan pahala karena hasil ijtihadnya benar. Bila hasil ijtihad mereka salah maka Allah akan memberi kepada mereka satu pahala, yaitu pahala berijtihad dan terhadap mereka tidak ada dosa sama sekali. Dalam satu hadis Rasulullah bersabda :
Apabila seorang Hakim berhukum, maka ia berijtihad, kemudian bila ijtihadnya benar maka ia akan mendapat dua pahala dan apabila ia berhukum, maka ia berijtihad, dan ijtihadnya itu salah maka ia akan mendapat satu pahala “(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai dan Turmuzi)
Saidina Mu`auwiyah dan sahabat lain yang berperang dengan Saidina Ali merupakan para Mujtahid, karena ijtihad mereka tersalah maka mereka mendapat satu pahala, sedangkan Saidian Ali mendapat dua pahala , karena ijtihad beliau benar .
Sebenarnya Rasulullah sendiri telah mengetahui bahwa suatu saat akan terjadi peperangan diantara para sahabat, karena Allah tidak akan mewafatkan Rasulullah sebelum Allah memberitau Rasulullah seluruh kejadian yang akan terjadi di muka bumi ini . Ini adalah salah satu mu`jizat Rasulullah yang diberikan oleh Allah. sehingga beliau sendiri melarang ummatnya untuk mempermasalah perselisihan yang terjadi antara sesama para sahabat beliau .
Peperangan yang terjadi antara saidina Ali k.w dan saidina Mu`auwiyah r.a, bukanlah peperangan yang timbul karena memperturutkan hawa nafsu dan memperebutkan kekuasaan. Tetapi mereka berperang berdasarkan ijtihad masing-masing. menurut ijtihad saidina Ali, menyerahkan pembunuh saidina Usman terlebih dahulu kepada saidina Mu`auwiyah (sebagaimana permintaan beliau ) yang terdiri dari berbagai suku dan kabilah-bahkan menurut satu riwayat jumlahnya mencapai sepuluh ribu orang yang berasal dari Kufah, Basrah, Mesir dan daerah lainnya dan mereka telah berbaur dengan kaum muslimin lainnya, akan mengakibatkan hancurnya pemerintahan Islam.Saidina Ali terlebih dahulu ingin membentuk pemerintahan yang kokoh, baru kemudian menyelesaikan perkara pembunuhan saidina Usman.
Satu bukti yang menunjukkan bahwa kelompok Sayyidina Mu`auwiyah tidak keluar dari Islam dengan sebab berperang dengan Sayyidina Ali yaitu hadis Nabi saw :
Sesungguhnya anakku ini (Hasan) penghulu. mudah-mudahan Allah akan memperdamaikan dengannya dua golongan besar dari kaum muslimin
Yang dimaksud dengan “fiatain” (dua golongan) adalah golongan Sayyidina Hasan ra yang diangkat menjadi khalifah sesudah Sayyidina Ali k.w dan golongan Sayyidina Mu`auwiyah ra. Rasulullah masih memasukkan golongan Sayyidina Mu`auwiyah kedalam kaum muslimin tanpa membedakannya dengan golongan sayyidina Hasan ra. Hal menunjukkan bahwa kedua golongan ini tiada berbeda dan Sayyidina Mu’auwiyah tidak menjadi fasik dan menjadi satu kekurangan dengan sebab berperang dengan sayyidina Ali krw, walaupun beliau tetap dikatakan sebagai pemberontak terhadap pemerintah yang sah ,hal ini dikarenakan beliau berperang berdasarkan ijtihad beliau, maka seperti yang telah dijelaskan bahwa para mujathid tidak mendapat dosa walaupun ijtihadnya salah

Sebelum Sayyidina Muauwiyah berperang dengan sayyidina Ali, beberapa Sahabat terkemuka lainnya yang lebih mulia dari sayyidina Mu`auwiyah seperti Siti Aisyah, Thallah dan Zubair telah terlebih dahulu berperang dengan sayyidina Ali, dengan kemenangan dipihak saidina Ali krw dengan landasan yang sama seperti Sayyidina Mu`auwiyah yaitu menurut ijtihad mereka penundaan penyelesain kasus pembunuhan terhadap Sayyidina Usman ra merupakan satu hal yang mengharuskan untuk memerangi khalifah Sayyidina Ali. Setelah usai peperangan sayyidina Ali tetap memperlakukan Siti Aisyah dan pengikutnya dengan sebaik-baiknya. Hal ini menjadi satu bukti bahwa mereka tidak bersalah dengan sebab berperang dengan Sayyidina Ali. Kalau memang mereka bersalah pasti sayyidina Ali akan menghukum mereka .

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: