jump to navigation

Sahabat Dan Tabi’in Wanita 2 Januari 2009

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
Tags: , ,
add a comment

Ummu Hani binti Abu Thalib (wafat 40 H.)

Nama aslinya adalah Fakhitah binti Abu Thalib bin Hasyim, ada yang
berpendapat beliau ini adalah Fatimah binti Abu Thalib, paman nabi
yaitu saudara kandung Ali bin Abu Thalib. Beliau banyak meriwayatkan
hadis dalam kitab sunah.

Ummu Haram (Malikah binti Milhan bin Khalid Al-Anshariah)
(wafat 28 H.)

Seorang sahabat wanita yang selalu ikut berangkat bersama pejuang
muslim dan sempat mengikuti beberapa kali pertempuran. Beliau sempat
ikut dalam penaklukan Siprus bersama suaminya tetapi ia terjatuh
dari tunggangannya sehingga dia mati syahid di tempat itu.

Ummu Imarah (Nusaibah binti Kaab) (wafat 13 H.)

Sahabat wanita yang terkenal berani ini, termasuk pahlawan perang
yang sempat mengikuti Baiat Aqabah, Perang Uhud, perdamaian
Hudaibiah, Perang Khaibar dan Perang Hunain. Dia ikut langsung
berperang dan memberi minum tentara yang terluka. Pada waktu Perang
Uhud beliau terluka sebanyak dua belas goretan, sedangkan pada waktu
Perang Yamamah sebelah tangannya terputus.

Ummu Kulsum binti Uqbah bin Muit (wafat 40 H.)

Sahabat wanita yang masuk Islam di Mekah ini adalah wanita yang ikut
berhijrah dalam priode pertama. Beliau berjalan kaki dari Mekah
menuju ke Madinah.

Ummu Qais binti Mihsan

Nama aslinya adalah Aminah binti Mihsan Al-Asadiah, seorang sahabat
wanita yang telah memeluk Islam dari sejak dini dan ikut berhijrah
dan membaiat Nabi saw. Dialah wanita yang datang menyerahkan bayinya
kepada Nabi yang kemudian oleh Nabi diletakkan di atas pangkuannya,
bayi tersebut buang air kecil, Nabi menyuruh mengambil air dan
menyiramkannya ke atas bagian pakaian yang terkena air kencing tanpa
dicuci.

Ummu Waraqah binti Abdullah bin Harits (wafat 15 H.)

Sahabat wanita yang sempat berbaiat kepada Rasulullah saw ini,
adalah hafal dan mempunyai koleksi Alquran. Beliau sempat mengikuti
Perang Badar, di saat itu dia aktif mengobati tentara yang terluka
dan merawat yang sakit.

Zainab binti Ali bin Abu Talib (wafat 62 H.)

Dia adalah saudara kandung Hasan dan Husain yang sempat ikut bersama
saudaranya Husain dalam Perang Karbela. Dia dikenal dengan
kewibawaan dan kepandaian berpidato dengan gaya bahasa yang menarik.

Arwa binti Abdul Muthalib (wafat 15 H.)

Bibi Rasulullah saw ini, termasuk wanita yang terpandang pada masa
Jahiliah dan masa Islam. Beliau memiliki ide-ide yang jernih dan
profesional melantunkan syair.

Asma binti Abu Bakar (wafat 73 H.)

Seorang sahabat wanita yang terkemuka dan termasuk orang yang
memeluk Islam dari sejak dini. Dalam peristiwa hijrah beliau
menahankan berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran. Dia dijuluki
dengan julukan “Dzaatin Nithaqain” (Wanita yang memiliki dua sabuk).
Dia sempat ikut Perang Yarmuk dan mendapat cobaan. Asma adalah
wanita yang fasih berbahasa dan pandai melantunkan syair. Dialah ibu
dari Abdullah bin Zubair dia pulalah muhajirin yang terakhir
meninggal dunia.

Asma Binti Yazid Al-Anshariah (wafat 30 H.)

Salah seorang orator wanita Arab terkemuka yang terkenal berani dan
selalu tampil ke depan. Dia adalah seorang ahli hadis yang sempat
mengikuti Perang Yarmuk. Dalam perang tersebut ia bertugas mensuplai
minuman kepada para pejuang dan mengobati yang terluka. Suatu
ketika, di saat peperangan sedang berkecamuk, dia mengambil tiang
kemahnya dan maju ke medan pertempuran dan berhasil membunuh
sembilan prajurit Romawi.

Fatimah binti Qais bin Khalid (wafat 50 H.)

Sahabat wanita yang berpandangan luas ini termasuk rombongan yang
pertama berhijrah. Di tempat kediamannyalah diselenggarakan
pertemuan tokoh-tokoh Islam (ahli syura) untuk memusyawarahkan
pengganti khalifah sepeninggal Umar.

Gazalah Al-Haruriah (wafat 77 H.)

Istri Syabib bin Yazid Al-Haruri ini terkenal sebagai wanita
pemberani dan tangkas. Beliau ikut berperang dalam beberapa kali
pertempuran sebagaimana pahlawan lainnya. Terdapat sebuah cerita
populer tentang dirinya yaitu larinya Hajjaj karena tidak mampu
menghadapinya dalam sebuah pertempuran.

Hindun binti Utbah bin Rabiah (wafat 14 H.)

Sahabat wanita dari suku Quraisy yang terkenal dengan kefasihan,
kelantangan, ide-ide yang gemilang dan tegas ini, cukup profesional
dalam membacakan syair. Sebelum masuk Islam dia sering membangkitkan
semangat kaum musyrikin untuk menghantam kaum muslimin. Dia masuk
Islam pada waktu penaklukan Kota Mekah dan berkesempatan pula
mengikuti Perang Yarmuk serta aktif membangunkan semangat kaum
muslimin dalam melawan tentara Romawi.

Juwairiah binti Abu Sofyan (wafat 54 H.)

Seorang sahabat dan pejuang wanita yang turut menggempur musuh
secara langsung pada Perang Yarmuk. Beliau juga ikut dalam berbagai
pertempuran lainnya yang membuktikan bahwa dia adalah wanita pionir
yang tangkas.

Khansa binti Amru (Tamadhir binti Amru bin Haris) (wafat tahun
24 H.)

Penyair tersohor ini, datang menjumpai Rasulullah saw. mewakili
kaumnya, kemudian ia masuk Islam dan melantunkan syair yang membuat
Rasulullah saw. kagum. Beliau sempat mengikuti Perang Qadisiah
bersama dengan empat orang anaknya. Dia terus menerus memberikan
semangat kepada anak-anaknya di medan pertempuran dan akhirnya semua
anaknya gugur dalam pertempuran tersebut

Khaulah binti Azwar Al-Asadi (wafat 35 H.)

Penyair wanita yang termasuk pemberani ini mirip dengan Khalid bin
Walid dalam aktifitas kemiliterannya. Dia mempunyai kumpulan cerita
tentang penaklukan negeri-negeri Syam. Syair-syairnya dianggap
sebagai syair yang melukiskan kemuliaan dan kemegahan.

Laila Al-Gifariah (wafat 40 H.)

Sahabat wanita yang terpandang ini sering mengikuti Rasulullah saw
ke medan tempur untuk mengobati pejuang yang sakit dan terluka. Pada
waktu Perang “Jamal” ia ikut berangkat ke Basrah berperang di
barisan Ali bin Abu Thalib.

Lubabah Kubra (Lubabah binti Harits Al-Hilali) (wafat 30 H.)

Istri Abbas bin Abdul Muthalib ini, termasuk wanita terhormat yang
melahirkan banyak tokoh. Beliau masuk Islam di Mekah setelah
Khadijah, dengan demikian dia adalah wanita kedua masuk Islam.

Muazah binti Abdullah Al-Adawiah (wafat 83 H.)

Wanita ini adalah pakar hadis yang banyak meriwayatkan hadis dari
Aisyah dan Ali bin Abu Thalib ra. Dia termasuk perawi yang
terpercaya yang mencapai tingkat siqah dan hujjah dalam ilmu hadis.

Qatilah binti Harits bin Kaldah (wafat 20 H.)

Penyair wanita ranking pertama ini, adalah saudara kandung Nadhar
yang sering menghalang-halangi orang-orang yang ingin menemui Nabi
saw. Beliau berhasil menawan dan membunuh saudaranya pada Perang
Badar, seraya melantunkan sebuah syair yang dianggap merupakan sebab
Rasulullah saw. melarang membunuh tawanan Quraisy. Beliau masuk
Islam dan meriwayatkan hadis-hadis dari Rasulullah saw.

Rabayi` binti Mi`waz bin Harits Al-Anshariah (wafat 45 H.)

Sahabat wanita yang terkemuka ini sempat membaiat Rasulullah saw.
pada waktu Baiat Ridwan dan turut dalam berbagai pertempuran bersama
Rasulullah saw. Dia bertugas mensuplai minuman kepada para pejuang
dan merawat serta mengobati mereka serta mentransportasikan pahlawan
yang gugur dan yang luka-luka ke Madinah.

Rufaidah Al-Anshariah (wafat 35 H.)

Sahabat wanita juru rawat tentara yang luka-luka ini telah
mengabdikan dirinya untuk melayani para pejuang Islam dan dianggap
sebagai juru rawat pertama dalam sejarah Islam. Dialah yang membalut
luka Saad bin Abu Waqash ketika dibawa ke kemahnya sewaktu Perang
Khandaq.

Rumaisha binti Milhan (wafat 30 H.)

Sahabat wanita terpandang, ibu Anas bin Malik ini, ikut dalam
beberapa kali pertempuran. Pada waktu Perang Uhud, dia bertugas
sebagai pensuplai minuman para pejuang dan mengobati yang cedera.
Pada waktu Perang Hunain dia bersama Aisyah bertugas mengambil air
dan membawanya dengan kantong-kantong kulit untuk diberikan kepada
kaum muslimin di saat perang sedang berkecamuk, setelah itu mereka
kembali lagi mengambil air dan membawanya ke barisan kaum muslimin.

Subaiah binti Harits

Subaiah binti Harits Al-Aslamiah ini, adalah seorang sahabat wanita
yang pernah kawin dengan Saad bin Khaulah dari suku Bani Amir yang
berasal dari Bani Luai. Saad, suaminya, sempat ikut dalam Perang
Badar dan wafat ketika melaksanakan haji wada. Umar bin Abdullah bin
Arqam meriwayatkan hadis yang berkenaan dengan talak dari sahabat
wanita ini.

Syifa binti Abdullah Al-Adawiah Al-Qurasyiah (wafat 20 H.)

Sahabat wanita yang terkemuka ini, pada zaman Jahiliah sudah pandai
tulis-baca dan setelah Islam dia mengajari Hafsah (istri Rasulullah
saw.) tulis-baca. Rasulullah sw. memberikan kepadanya sebuah rumah
di Madinah. Umar bin Khattab selalu mengutamakan pendapatnya.

Ummu Athiyah Al-Anshariah (Nasibah binti Harits) (wafat 8 H.)

Sahabat wanita terkemuka ini, sempat berbaiat kepada Rasulullah saw,
meriwayatkan hadis-hadis dari beliau dan mengikuti beliau berperang
sebanyak tujuh kali peperangan. Dia bertugas membuat makanan untuk
pejuang muslimin, mengobati tentara yang terluka dan merawat yang
sakit.

Ummu Darda (Khairah binti Abu Hadrad Al-Aslami) (wafat 30 H.)

Sahabat wanita yang terkemuka dan memiliki ide-ide yang cemerlang
ini berhasil menghafal banyak hadis Rasulullah saw. Banyak tabiin
yang meriwayatkan hadis dari beliau, seperti Sofwan bin Abdullah.
Beliau berdomisili di Madinah dan meninggal di negeri Syam (Suriah).

Para Sahabat 2 Januari 2009

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
Tags:
add a comment

Abdurrahman bin Azhar (wafat 63 H)

Kemenakan Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat yang lebih dikenal
dengan julukan Abu Jubair. Beliau sempat mengikuti Perang Hunain.
Dia berhasil menghafal banyak hadis langsung dari Rasulullah saw.
Beliau berdomisili di Madinah dan meninggal dunia dalam Perang
Harrah (63 H/683 M).

Abdurrahman bin Samurah (wafat 50 H)

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Samurah bin Habib bin Abdu
Syams Al-Qurasyi, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Said.
Beliau masuk Islam ketika penaklukan Kota Mekah, dia sempat ikut
dalam Perang Muktah, penaklukan Sijistan, Kabul, Sind serta
Khurasan. Beliau meninggal dunia di Kota Basrah.

Abu Ayub Al Anshari (wafat 52 H/672 M)

Nama lengkapnya adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib, seorang sahabat
asal Ansar dari suku Khajraj. Beliaulah yang menjamu Nabi saw ketika
sampai di Madinah dalam perjalanan Hijrah dari Mekah. Beliau ini
sempat mengikuti baiat Akabah, perang Badar, perang Uhud, perang
Khandak dan peristiwa-peristiwa lainnya yang diikuti Rasulullah saw.
Beliau ini meninggal dalam kepungan pasukan Bizantium.

Abu Bakr Siddik (51 SH-13 H/ 573-634 M)

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir, Dialah lelaki
yang pertama beriman dan Khulafaur Rasyidin yang pertama (11-13
H-632-634 M). Beliau selalu mengikuti Rasulullah saw sebelum dan
sesudah menjadi nabi. Banyak cobaan yang diderita oleh beliau, di
pihak lain beliau banyak sekali mendermakan hartanya. Beliau terus
mengikuti Rasulullah saw selama di Mekah dan berkesempatan menemani
Rasulullah di gua Tsaur, hijrah dan semua peperangan yang diikuti
Rasulullah. Sepeninggal Rasulullah saw beliau dinobatkan menjadi
khalifah, setelah itu beliau memberantas kaum yang murtad dan yang
tidak mau membayar zakat.

Abu Bakrah (wafat 52 H)

Nama aslinya adalah Nafi bin Harits bin Kildah As-Tsaqafi, salah
seorang sahabat yang berasal dari penduduk Taif. Beliau meriwayatkan
sebanyak 132 hadis dan meninggal dunia di Kota Basrah.

Abu Barzah (wafat 65 H)

Nama aslinya adalah Nadlah bin Ubaid bin Harits Al-Aslami, seorang
sahabat yang pernah tinggal di Kota Madinah dan Basrah. Beliau ikut
bersama pasukan Ali bin Abu Thalib ketika memerangi penduduk
Nahrawan dan Perang Azariqah bersama Mahlab bin Abu Shufrah. Beliau
meriwayatkan sebanyak 46 hadis.

Abu Basyir Al-Anshari (wafat 63 H)

Nama lengkapnya ialah Abu Basyir Al-Anshari Al-Haritsi, seorang
perawi yang hadisnya dalam masalah jihad banyak diriwayatkan oleh
Ibad bin Tamim Al-Anshari. Beliaulah yang banyak menderita luka
parah dalam Perang Harrah kemudian meninggal dunia akibatnya.

Abu Burdah Al-Anshari (wafat 41H)

Nama aslinya adalah Hani bin Niar bin Amru Al-Balwa, paman Barraa
bin Azib. Beliau ikut dalam Perang Badar. Hadisnya banyak
diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah dan Abdurrahman bin Jabir dalam
kitab “memerangi orang-orang murtad”. Beliau meninggal dunia di awal
Kekhalifahan Muawiah.

Abu Dardaa (wafat 32 H/652 M)

Nama lengkapnya adalah Uamir bin Malik, seorang sahabat perawi hadis
dari Ansar, suku Khajraj. Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah
saw dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang
terjadi setelah perang Uhud, namun keikut sertaannya dalam perang
Uhud terdapat silang pendapat. Hakim yang pernah bertugas di
Damaskus ini meninggal dunia di masa kekhalifahan Usman bin Affan ra.

Abu Dujanah Al Anshari (wafat 11 H)

Beliau ini adalah seorang sahabat yang sempat mengikuti perang Badar
dan meninggal dunia dalam perang Yamamah. Beliau ini ikut serta
melawan Musailamah.

Abu Hurairah (wafat 59 H/678 M)

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shakhr Al Azdi. Beliau
memeluk Islam pada tahun penaklukan Khaibar yaitu tahun ke 7 H
dimana beliau sempat mengikuti perang Khaibar itu bersama Rasulullah
saw. Beliau selalu mendampingi Rasulullah karena ingin belajar ilmu
pengetahuan yang sebanyak-banyaknya. Beliau termasuk ulama yang
banyak mengeluarkan fatwa. Khalifah Umar bin Khattab pernah
mengangkat beliau sebagai penguasa di Bahrain, akan tetapi khalifah
melihat beliau terlalu sibuk dengan amal ibadah, maka khalifah
mencopotnya. Beliau meninggal di Madinah.

Abu Juhaifah (wafat 74 H)

Nama aslinya adalah Wahab bin Abdullah bin Muslim bin Janadah
As-Sawai, seorang sahabat yang di waktu Nabi saw. mangkat masih
dalam keadaan bayi. Beliau bertempat tinggal di Kota Kufah dan
pernah menjadi bendahara baitul mal pada zaman Ali bin Abu Thalib.
Beliau biasa dipanggil dengan panggilan “Wahab yang baik”. Dialah
sahabat yang terakhir meninggal di Kota Kufah.

Abu Khuzaifah bin Utbah (wafat 11 H)

Nama lengkapnya adalah Abu Khuzaifah bin Utbah bin Rabiah bin Abdu
Syams bin Abdul Manaf. Beliau ini adalah sahabat asal Quraisy
termasuk orang yang masuk Islam dari sejak dini. Beliau ini sempat
mengikuti dua kali hijrah, ke Abessinia dan ke Madinah dan sempat
melaksanakan salat ke dua arah kiblat, ke Baitulmakdis dan Kakbah.
Beliau ini sempat mengikuti perang Badar dan meninggal dalam perang
Yamamah.

Abu Masud Al-Anshari (wafat 40 H)

Nama lengkapnya adalah Uqbah bin Amru bin Tsaklabah Al- Anshari
Al-Badri yang dijuluki dengan Abu Masud. Sahabat yang ikut dalam
Baiat Akabah, Perang Uhud dan peristiwa-peristiwa lainnya ini adalah
salah seorang pengikut Ali, ketika singgah di Kota Kufah diangkat
menjadi penggantinya pada saat Ali dan pasukannya bergerak ke
Shiffin. Beliau meriwayatkan lebih dari 100 hadis.

Abu Musa Asy’ari (wafat 44 H)

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais. Beliau sempat ikut hijrah
ke Abessina, kemudian datang ke Madinah setelah perang Khaibar.
Khalifah Usman bin Affan mengangkatnya sebagai penguasa di Koufah.
Beliau ini termasuk arbitrator dalam peristiwa arbitrasi Shiffin.

Abu Said Al Khudri (wafat 74 H)

Nama lengkapnya adalah Said bin Malik bin Sannan. Sahabat periwayat
hadis dari Rasulullah saw ini berasal dari kelompok Ansar, suku
Khajraj. Beliau adalah pakar hadis yang terkemuka di kalangabn
sahabat. Beliau sempat mengikuti dua belas kali peperangan.
Jabatannya yang terakhir adalah mufti Madinah, beliau ini wafat di
Madinah.

Abu Salamah Al Makhzumi (wafat 4 H.)

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdul Asad. Saudara Nabi
sesusuan ini termasuk orang yang pertama-pertama masuk Islam. Beliau
sempat ikut hijrah ke Abessina dan Madinah dan sempat mengikuti
perang Badar. Beliau meninggal di Madinah dan termasuk orang yang
pertama diberikan daftar amalnya dengan tangan kanannya kelak.

Abu Sofyan bin Harb (wafat 31 H/652 M)

Nama lengkapnya adalah Sakhar bin Harb bin Umaiah. Beliau ini
termasuk orang kaya Quraisy, pada mulanya termasuk musuh Islam nomor
satu, di mana beliau sempat memimpin pasukan kaum Musyrikin dalam
perang Uhud dan Khandak. Beliau masuk Islam pada waktu penaklukan
kota Mekah. Dia adalah ayah dari Muawiah, pendiri Daulat Umaiah.

Abu Syuraih Adawi (wafat 68 H)

Nama aslinya adalah Khuwailid bin Amru bin Shakhr Al-Khuzai
Al-Kaabi, seorang sahabat yang memeluk Islam di hari penaklukan Kota
Mekah saat mana dia membawa panji-panji Bani Kaab. Beliau meninggal
di Ailah.

Abu Ubaidah bin Jarah (wafat 18 H/639 M)

Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah. Sahabat asal Quraisy ini
termasuk sepuluh sahabat yang diproyeksikan oleh Nabi masuk surga.
Beliau ini dijuluki dengan pemegang amanat kaum Muslimin yang sempat
mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw. Dia termasuk
komando dalam penaklukan Syam (Suriah, Libanon, Yordan dan Palestina
sekarang). Ayahnya termasuk pasukan musyrikin yang berhasil
ditumbangkan dan dibunuhnya. Beliau meninggal dunia akibat penyakit
pes yang meraja lela.

Abu Umamah (Wafat 1 H)

Nama lengkapnya adalah Asad bin Zararah, seorang sahabat asal Ansar
yang telah lama masuk Islam, di mana beliau sempat ikut dalam baiat
Akabah I dan II. Beliau adalah kepala suku, dialah yang pertama
mengucapkan baiat pada malam baiat Akabah dan beliau pulalah orang
pertama membawa Islam ke Madinah

Abu Usaid (wafat 60 H)

Nama sebenarnya ialah Malik bin Rabiah bin Baden As-Saidi, seorang
sahabat yang ikut dalam Perang Badar bersama Nabi saw. Beliaulah
sahabat prajurit Badar yang terakhir meninggal. Di akhir hayatnya,
beliau mengalami kebutaan dan meninggal dunia di Kota Madinah.

Abu Waqid Al-Laitsi (wafat 68 H.).

Nama aslinya adalah Auf bin Harits Al-Laitsi, dijuluki Abu Waqid.
Beliau adalah sahabat yang pernah ikut dalam perang Badar. Dia
sempat singgah di Kota Madinah dan meninggal dunia di Kota Meru pada
zaman Khalifah Muawiah.

Abu Zar Al Gifari (wafat 32 H/652 M)

Beliau ini adalah seorang sahabat yang masuk Islam dari sejak dini.
Semasa Jahiliah beliau ini telah melarang minum khamar dan beliau
tidak pernah ikut menyembah berhala oleh sebab itu beliau terkenal
orang takwa. Dia selalu mengajak fakir miskin agar integrasi dengan
orang kaya. Beliau ini mengikuti penaklukan Baitulmakdis bersama
khalifah Umar bin Khatab. Rasulullah saw pernah bersabda tentang
beliau “semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Abu Zar, yang
hidup menyendiri, mati menyendiri dan akan dibangkitkan sendiri pula”

Adi bin Hatim (wafat 68 H)

Nama lengkapnya adalah Adi bin Hatim bin Abdullah bin Saad bin
Hasyraj At-Thai, dijuluki dengan Abu Wahab dan Abu Tarif. Sahabat
yang masuk Islam pada tahun 9 H ini terkenal sebagai orator yang
sangat pandai. Beliau adalah kepala suku Thai baik pada masa
jahiliah maupun masa Islam. Dia mempunyai jasa besar dalam menumpas
kaum murtad dan ikut serta dalam penaklukan Irak. Beliau berdomisili
di Kota Kufah dan wafat di sana.

Ahnaf bin Qais (wafat 67 H)

Nama lengkapnya adalah Ahnaf bin Qais bin Hashin Mari El Munqari At
Tamimi. Pimpinan Bani Tamim ini termasuk kelompok cerdik pandai dan
orator. Beliau ikut dalam perang melawan Khurasan di bawah komando
Abu Musa Asy`ari. Dalam perang Jamal beliau ini sempat keluar
barisan karena menghindari terjadinya fitnah, namun dalam perang
Shiffin beliau termasuk dalam barisan Ali bin Abi Thalib. Ketika
pemilihan Abu Musa Asy`ari menjadi arbitrator, beliau tidak
sependapat dengan Ali bin Abi Thalib, namun setelah Muawiah menjadi
khalifah beliau ini menolak permintaan khalifah untuk ditunjuk
sebagai pejabat.

Akra’ bin Habis (wafat 31 H/651 M)

Nama lengkapnya adalah Akra` bin Habis bin Iqal Ad Darimi. Beliau
termasuk pemuka masyarakat Arab di zaman jahiliah. Ketika delegasi
bani Darim datang menemui Rasulullah saw beliau ikut di dalamnya, di
saat itulah dia mengumumkan Islamnya bersama anggota delegasi. Dia
mengikuti Khalid bin Walid dalam banyak peperangan di Yamamah di
saat konfrontasi melawan kaum yang murtad. Beliau juga sempat
mengikuti perang panaklukan Irak, di saat itulah beliau mendapat
berbagai cobaan (luka parah). Beliau wafat sebagai syahid dalam
perang Khauzjan.

Alaa bin Hadhrami (wafat 21 H)

Nama lengkapnya adalah Alaa bin Abdullah bin Ammar Al-Hadrami,
seorang sahabat yang lahir dan besar di Kota Mekah. Beliau diangkat
menjadi gubernur Bahrain oleh Nabi Muhammad saw. pada tahun 8 H dan
giat menumpas kaum murtad yang ada di sana. Konon beliaulah pemimpin
armada Islam pertama dalam rangka ekspansi wilayah kekuasaan Islam.

Ali bin Abu Thalib (23 SH-40 H/600 – 661 M)

Khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin ini adalah anak asuh, putra
paman sekaligus menantu Nabi Muhammad saw. Beliau termasuk pahlawan
perang Badar, Uhud, Khandak dan Hunain. Kaum muslimin menobatkannya
menjadi khalifah sepeninggal Usman bin Affan. Beliau ini termasuk
orator kawakan dan pakar peradilan. Beliau menjadi pimpinan dalam
perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan.

Amar bin Ma’d Yakrib (wafat 21 H)

Beliau masuk Islam pada tahun kesembilan hijrah. Sepeninggal
Rasulullah saw dia sempat murtad dan bertaubat kembali menjadi
Muslim yang baik. Beliau sempat mengikuti perang Yarmuk, dia
menderita luka parah di mana sebelah matanya tercongkel. Dalam
perang Qadisiah dia juga menderita luka parah dan akhirnya meninggal
dalam perang Nahawand.

Amir bin Fahirah At Tamimi

Sahabat yang berasal dari suku Azdi ini termasuk orang yang memeluk
Islam dari sejak dini. Beliau adalah seorang yang beragama yang
baik, dalam buku-buku sejarah namanya banyak disebut sebagai
pahlawan yang gigih. Beliau mati syahid dalam perang Bi`ri Maunah.

Amir bin Rabiah (wafat 35 H)

Amir bin Rabiah termasuk orang yang memeluk Islam dari sejak dini
dan berkesempatan mengikuti emigrasi ke Abessinia dan hijrah ke
Madinah. Beliau sempat mengikuti perang Badar dan berbagai perang
berikutnya. Khalifah Usman bin Affan mengangkatnya sebagai
pemerintah di Madinah sewaktu khalifah menunaikan ibadah haji.
Beliau meninggal beberapa hari setelah Usman meninggal dunia.

Ammar bin Yasir (wafat 37 H/657 M)

Sahabat yang memeluk Islam dari sejak dini ini masuk Islam bersama
ayah dan ibunya (Yasir dan Sumaiyah) yang akibatnya mereka sama-sama
menderita berbagai cobaan dari suku mereka yaitu Mahzum. Ayahnya
sempat meninggal dalam cobaan tersebut, sedangkan ibunya ditikam
oleh Abu Jahal sehingga menemui ajalnya. Beliau pergi emigran ke
Abessinia, sekembalinya dari Abessinia dia ikut hijrah ke Madinah.
Dalam perang Badar dan Khandak beliau ini menderita luka parah.
Beliau ikut perang Shiffin di belakang Ali bin Abu Thalib dan
meninggal dalam perang tersebut.

Amru bin Ash (wafat 43 H./664 M.).

Amru bin Ash bin Wail bin Hasyim bin Said bin Saham ini adalah
pimpinan Arab terkenal yang menaklukkan Mesir dan membangun kota
Fustat (Cairo sekarang). Beliau sempat mengikuti arbitrasi seusai
perang Shiffin di mana Muawiah menang berkat kecerdikannya. Beliau
meninggal di Cairo.

Amru bin Jammuh (wafat 3 H)

Sahabat asal Ansar ini tergolong bangsawan kaum Ansar yang oleh Nabi
saw mengangkatnya menjadi pemimpin Bani Salamah. Beliau meninggal
dalam perang Uhud.

Amru bin Umaiah (wafat 55 H)

Nama lengkapnya adalah Amru bin Umaiah bin Khuwailid bin Abdullah
Ad-Dlamiri, seorang sahabat yang sangat pemberani. Ketika Perang
Badar dan Uhud, beliau masih berada dalam barisan kaum musyrikin.
Setelah dia memeluk Islam, dia ikut partisipasi dalam Perang Bir
Maunah. Beliau meriwayatkan 20 hadis dan meninggal di Kota Madinah
pada zaman Muawiah bin Abu Sofyan.

Anas bin Malik bin Nadar (wafat 93 H)

Sahabat asal Ansar, suku Khajraj ini adalah pembantu Rasulullah saw
yang sempat mengikuti berbagai penaklukan. Beliau termasuk rawi yang
banyak meriwayatkan hadis. Dia berdomisili dan meninggal di kota
Basrah.

Asid bin Khudair (wafat sekitar tahun 20 H)

Sahabat yang satria ini berasal dari kelompok Ansar, kepala suku
Aus. Beliau termasuk orang-orang yang masuk Islam dari sejak dini,
di mana beliau termasuk tokoh penting dalam baiat Akabah. Rasulullah
saw mempersaudarakannya dengan Zaid bin Haritsah. Beliau meninggal
di zaman pemerintahan Umar bin Khattab ra.

Ayad bin Ganim (wafat 20 H)

Nama lengkapnya adalah Ayad bin Ganim bin Zuhair Al Fihri Al
Qurasyi. Beliau termasuk emigran pertama-tama, sempat mengikuti
perang Badar dan perang-perang yang sesudah itu. Beliau termasuk
komando penakluk yang berani. Sewaktu singgah di Syam (Suriah dan
sekitarnya) beliau berhasil menaklukkannya berikut kawasan
semenanjung Arab lainnya. Beliau meninggal di negeri Syam.

Barra` bin Azib (wafat 71 H/690 M)

Sahabat asal suku Khajraj ini sempat mengikuti penaklukan Persia,
perang Jamal dan Shiffin di barisan Ali bin Abi Thalib dan
pembantrasan kaum sparatis (Khawarij). Beliau berdomisili dan
meninggal dunia di kota Koufah

Nukman bin Makran (wafat 21 H/642 M)

Nukman bin Makran bin Umar bin Aiz ini adalah sahabat asal suku
Mazani yang menjadi komando dalam perang penaklukan Persia. Beliau
berhasil menduduki wilayah Qarmisin, namun terbunuh dalam perang
Nahawand.

Qais bin Saad (wafat 60 H)

Nama lengkapnya adalah Qais bin Saad bin Ubadah bin Dulaim
Al-Anshari Al-Khajraji, seorang sahabat yang menjabat kepala polisi
pada zaman Nabi Muhammad saw. Oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib
beliau diangkat menjadi gubernur Mesir tahun 36 H. Beliau wafat di
Kota Madinah.

Qaka` bin Amar At Tamimi (wafat 40 H)

Sahabat ini adalah seorang patriot Arab di zaman jahiliah dan Islam,
dia sempat mengikuti perang Yarmuk. Dalam perang Qadisiah dia
menderita luka parah. Dia ikut berjuang dalam perang Jamal di
belakang Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar pernah bicara tentang dia “
Teriakannya dalam suatu pertempuran lebih bermanfaat dari kehadiran
seribu serdadu”. Beliau berdomisili dan meninggal dunia di Koufah.

Qatadah bin Nukman Al Anshari (wafat 23 H)

Beliau ini termasuk juru tembak terkenal, dia mengikuti semua
peperangan yang diikuti Rasulullah saw. Dalam perang Uhud sebelah
matanya cedera sampai jatuh keluar. Rasulullah saw memasukkannya
kembali ke tempatnya, sampai akhir hayatnya mata tersebut terus
sehat. Beliau meninggal di Madinah.

Rafi bin Khudaij (wafat 73 H)

Nama lengkapnya ialah Rafi bin Khudaij bin Rafi Al-Ausi Al-Anshari,
seorang sahabat yang meriwayatkan hadis dari kedua pamannya, Zuhair
dan yang satu lagi tidak diketahui namanya. Beliau berdomisili di
Kota Madinah dan meninggal dunia di sana.

Saad bin abi Waqqas (wafat 55 H/ 675 M)

Sahabat asal Quraisy dari suku Zuhri ini termasuk sepuluh orang yang
diproyeksikan Rasulullah saw masuk surga. Beliau ini memimpin
pasukan dalam penaklukan Persia dan berhasil memukul pasukan
panglima Rustum dalam perang Qadisiah. Beliau inilha yang membangun
kota Koufah.

Saad bin Muaz (wafat 5 H/ 627 M)

Saad bin Muaz bin Nukman asal Madinah, suku Aus ini adalah seorang
sahabat yang mempunyai jiwa patriot. Beliau adalah bangsawan suku
Aus yang masuk Islam antara baiat Akabah I dan baiat Akabah II.
Rasulullah saw pernah mengaplikasikan pendapatnya sekitar
pembangkangan dan pembatalan perjanjian yang ditanda tangani Nabi
dengan bani Quraizah yaitu membunuh kaum lelaki dan memperbudak kaum
wanita dan anak-anak mereka. Beliau mati syahid dalam perang Khandak

Saad bin Ubadah (wafat 14 H/ 635 M)

Sahabat asal Ansar, suku Khajraj ini termasuk pangeran terpandang di
masa jahiliah dan Islam. Beliau sempat mengikuti baiat Akabah,
perang Uhud, perang Khandak. Beliau ini mempunyai ambisi menjadi
khalifah sepeninggal Rasulullah saw, sehingga dia tidak ikut
membaiat Abu Bakar Siddik dan Umar bin Khattab ra. Beliau menyingkir
ke daerah Khauran dan meninggal di daerah tersebut.

Saddad bin Aus (wafat 58 H)

Saddad bin Aus bin Tsabit Al Khajraji yang dijuluki dengan Abu
Abdurrahman ini sempat mengikuti prang Badar. Beliau ini mempunyai
dua keistimewaan, masing-masing bila bicara, jelas sekali dan bila
marah dapat dipendam. Beliau meninggal di Palestina dan dimakamkan
di Baitulmakdis di masa pemerintahan Muawiah.

Sahal bin Hunaif (wafat 38 H)

Nama lengkapnya adalah Sahal bin Hunaif bin Wahib Al-Ausi
Al-Anshari, seorang sahabat yang ikut serta dalam hampir seluruh
peperangan bersama Rasulullah saw. juga termasuk yang bertahan pada
posisinya saat kekalahan kaum muslimin di Perang Uhud. Beliau
diangkat oleh Ali bin Abu Thalib menggantikan kedudukannya di
Madinah ketika pasukan akan bergerak ke Kota Basrah, setelah itu
menjabat sebagai gubernur Persia.

Sahal bin Saad Saidi (wafat 91 H)

Nama lengkapnya Sahal bin Saad bin Malik Al-Anshari As-Saidi,
seorang sahabat yang sebelumnya bernama Hazen kemudian diganti oleh
Rasulullah saw. dengan Sahal. Beliaulah sahabat yang terakhir
meninggal dunia di Kota Madinah dalam usia 100 tahun.

Saib bin Yazid (wafat 91 H)

Nama lengkapnya adalah Saib bin Yazid bin Said bin Tsumamah bin
Aswad Al-Kindi, seorang sahabat yang dalam usia 7 tahun, dibawa
kedua orang tuanya melaksanakan haji wada bersama Nabi Muhammad saw.
Beliau wafat di Kota Madinah.

Said bin Ash (wafat 59 H/679 M)

Said bin Ash bin Said bin Ash bin Umaiah bin Abdu Syams keturunan
Umawi ini adalah seorang sahabat yang mempunyai sifat dermawan dan
berkelakuan baik. Pada tahun 30 H khalifah Usman bin Affan
mengangkatnya sebagai penguasa di Koufah. Beliau ini termasuk
pembantu khalifah dalam program pengkodifikasian Al Qur`an. Beliau
meninggal di Madinah.

Said bin Zaid (wafat 51 H/671 M)

Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Al Adawi ini adalah seorang
sahabat asal Quraisy yang berkesempatan mengikuti semua peperangan
yang disertai Rasulullah saw kecuali perang Badar. Beliau termasuk
sepuluh orang yang diproyeksikan masuk surga oleh Nabi saw. Beliau
ikut dalam penaklukan negeri Syam (Suriah dan sekitarnya), kemudian
meninggal di Madinah.

Salim, Maula Abu Huzaifah (wafat 11 H)

Salim bin Ubaid bin Rabiah adalah termasuk orang yang masuk Islam
dari sejak dini dan termasuk empat orang guru Al Qur`an yang
mendapat rekomendasi dari Rasulullah saw. Beliau diserahi pemegang
bendera Islam dalam perang penumpasan kaum murtad di saat mana kedua
tangan beliau terputus kemudian beliau mati syahid.

Salmah bin Akwa` (wafat 47 H)

Sahabat ini termasuk orang yang membaiat Nabi dalam baiat Ridwan.
Beliau mengikuti Rasulullah saw dalam tuju kali peperangan. Dia
mempunyai jiwa patriot, juru tembak dan tangkas larinya melebihi
keccepatan kuda. Beliau ini meninggal dalam usia 80 tahun

Salman Al Farisi (wafat 35 H/ 655 M)

Sahabat yang dulunya penganut agama Majusi dari Persia ini berangkat
meninggalkan kampung halamannya dengan suatu tujuan mencari agama
yang benar. Pertama sekali dia menganut agama Kristen, dia ditawan
dan dijual dan berpindah-pindah tangan, terakhir sampai ke Madinah
lalu dibeli dan dimerdekakan oleh Rasulullah saw. Beliau inilah yang
mempunyai ide penggalian paret dalam perang Khandak. Beliau
mengikuti semua peperangan termasuk penaklukan Irak, kemudian dia
diangkat sebagai pemerintah di Madain. Dia berdomisili dan meninggal
di pos terakhirnya ini.

Samurah bin Jundub (wafat 56 H)

Beliau ini sangat jujur, tidak pernah bohong dan mencintai Islam,
salah seorang pejabat kekhalifahan yang berasal dari Ansar. Beliau
berdomisili dan meninggal di Basrah di masa pemerintahan Muawiah,
bila beliau pergi tugas ke kota Koufah beliau digantikan oleh Ziad.
Beliau ini sangat tegas dalam menghadapi kaum sparatis Khawarij.

Shaab bin Jatsamah Al-Laitsi (wafat 25 H)

Nama lengkapnya adalah Shaab bin Jatsamah bin Qais Al-Laitsi, salah
seorang sahabat yang terkenal berani. Beliau selalu ikut andil dalam
banyak peperangan pada zaman Nabi Muhammad saw. juga dalam perang
menaklukkan Istakher dan Persia.

Shuhaib Ar Rumi (wafat 28 H)

Shuhaib bin Sannan bin Malik ini dijuluki dengan Ar Rumi, karena
beliau lama berdomisili di Roma ketika dia tertawan. Beliau ini
masuk Islam di Dar Arqom bersama Ammar. Beliau termasuk orang-orang
lemah yang menerima berbagai macam cobaan dalam mempertahankan
agamanya. Beliau ikut berhijrah ke Madinah dan sempat mengikuti
perang Badar. Kaum Quraisy memberi pilihan kepadanya antara hijrah
ke Madinah dan hak-miliknya yang berada di Mekah, tetapi dia memilih
hijrah, oleh karena itulah Firman Allah turun tentang beliau yang
berarti ” Ada sebagian orang yang berani membeli dirinya demi
mengharap rida Allah” Al Baqarah ayat 207. Beliau sempat mengikuti
semua perang mulai dari perang Badar, kemudian meninggal di Madinah.

Shukbah bin Najiah bin Iqal bin Muhammad bin Sofyan adalah pemuka
Arab dan pimpinan suku Tamim di masa jahiliah dan Islam Beliau
inilah warga Tamim pertama membayar tebusan agar tidak menanam putri
suku mereka hidup-hidup, sehingga di saat Islam muncul beliau
mempunyai 104 orang putri yang ditebusnya dari orang tua mereka
masing-masing agar tidak ditanam.

Suhail bin Amr (wafat 15 H)

Suhail bin Amr bin Abdu Syams Al Amiri ini adalah pimpinan delegasi
Quraisy dalam perjanjian Hudaibiah. Kaum Muslimin berhasil
menawannya dalam perang Badar, namun dia dibebaskan setelah membayar
tebusan dirinya. Beliau tetap dalam agama aslinya sampai penaklukan
kota Mekah. Pada saat itulah beliau masuk Islam, seterusnya
berangkat dan berdomisili di Madinah. Beliau sempat mengikuti perang
penaklukan negeri Syam (Suriah dan sekitarnya) dan perang Yarmuk dan
meninggal dalam perang terakhir ini.

Sulaiman bin Sharad (wafat 65 H)

Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin Sharad bin Jun bin Abu Jun Abdul
Uzza bin Munqiz As-Saluli Al-Khuza`i, seorang sahabat yang dijuluki
dengan Abu Mathraf. Sebelumnya beliau dinamai Yasar lalu diganti
oleh Rasulullah saw. dengan Sulaiman. Beliaulah pemimpin Jamaah
orang-orang yang bertaubat yang menuntut bela atas kematian Imam
Husain. Beliau gugur dalam peperangan melawan tentara Abdullah bin
Ziyad.

Suraqah bin Malik (wafat 24 H)

Orang inilah yang berhasil mengejar Rasulullah saw ketika hijrah ke
Madinah, namun berkat doa Rasulullah saw, kedua kaki kudanya
tertanam di pasir. Atas permohanannya sendiri dia minta dibebaskan,
dengan syarat dia tidak akan memberitahukan kepada siapapun. Beliau
ini masuk Islam pada penaklukan kota Mekah dan meninggal dunia di
masa pemerintahan Usman bin Affan ra.

Thalhah bin Abdullah (wafat 36 H/ 656 M)

Thalhah bin Abdullah bin Usman bin Kaab bin Said, sahabat asal
Quraisy ini adalah salah seorang dari enam konsultan Rasulullah saw
dan termasuk sepuluh orang yang diproyeksikan masuk surga oleh Nabi.
Beliau ini mengikuti perang Uhud dan menderita luka parah yang luar
biasa. Dia membuat dirinya menjadi perisai bagi Rasulullah saw dan
mengalihkan panah yang akan menancap diri Rasulullah saw dengan
tangannya sehingga semua jari-jarinya terputus. Beliau meninggal
akibat panahan pada perang Jamal.

Thulaib bin Umair (wafat 13 H)

Thulaib bin Umair bin Wahab bin Abi Katsir bin Qushai adalah seorang
sahabat asal Quraisy. Beliau ini termasuk peserta emigran ke
Abessinia. Beliaulah orang pertama menumpahkan darah kaum musyrikin
dalam sejarah Islam karena mempertahankan Nabi. Dia berkesempatan
mengikuti perang Badar dan berbagai peperangan berikutnya sampai
beliau menemui ajalnya dalam perang Ajnadin.

Tsabit bin Dlahhak (wafat 64 H)

Nama lengkapnya Tsabit bin Dlahhak bin Khalifah Asyhali Al-Ausi
Al-Madani, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Zaid. Beliau
ikut dalam peristiwa Baiat Ridwan, dia dibonceng oleh Nabi Muhammad
saw. pada Perang Khandaq. Beliau meriwayatkan 14 hadis.

Tsauban, budak yang dibebaskan Rasulullah (wafat 54 H)

Namanya Tsauban bin Mujaddid, seorang budak yang dibeli oleh
Rasulullah saw. lalu dibebaskan. Kemudian beliau masih terus
berkhidmat kepada Nabi saw. sampai wafatnya dan meriwayatkan 128
hadis.

Tsumamah bin Atsal (wafat 11 H)

Tsumamah bin Atsal bin Nukman bin Maslamah Al Hanafi ini berasal
dari daerah Yamamah. Beliau adalah seorang satria yang ditakuti dan
pemuka dalam kaumnya. Beliau datang ke Madinah dan menyatakan ke
Islamannya di hadapan Rasulullah saw, setelah itu dia pergi ke Mekah
meneruskan dakwah Nabi, menantang ide Musailamah Al Kazab. Pada
tahun 8 H beliau diangkat oleh Nabi menjadi pemerintah di Bahrain
Dalam berbagai peperangan melawan kaum musyrikin, Tsumamah ini
selalu memberikan bala bantuan.

Ubadah bin Shamit (wafat sekitar 34 H)

Ubadah bin Shamit bin Qais, sahabat asal Ansar, suku Khajraj ini
termasuk salah seorang pimpinan dalam baiat Akabah. Rasulullah saw
mepersaudarakan beliau dengan Abu Murtsid Al Ganawi. Beliau sempat
mengikuti perang Badar dan semua peperangan lainnya termasuk perang
penaklukan Mesir. Beliaulah hakim Islam pertama di daerah Palestina
dan termasuk hafiz yang mempunyai kodifikasi Al Qir`an di zaman
Rasulullah saw. Beliau menginggal di Ramlah.

Ubai bin Kaab bin Qais (wafat 21 H)

Sebelum kedatangan Islam, Ubai ini adalah termasuk pendeta Yahudi
yang banyak membaca kitab-kitab klasik. Beliau ini sempat mengikuti
baiat Akabah II, ketika itulah dia mengumumkan keislamannya
sekaligus membaiat Rasulullah saw. Sejak itu Ubai masuk ke dalam
kelompok juru tulis wahyu. Beliau sempat mengikuti perang Badar,
Uhud dan semua perang yang diikuti Rasulullah saw. Beliau ini
termasuk empat orang pengajar Al Qur`an yang hafiz dan mempunyai
kodifikasi Al Qur`an di zaman Rasulullah saw, dia terkenal dengan
julukan Said El Qurra` (Boss semua Qari).

Ukbah bin Amir Al Juhani (wafat 59 H)

Sahabat ini meriwayatkan banyak hadis langsung dari Rasulullah saw,
sebaliknya banyak pula sahabat dan tabiin yang meriwayatkan hadis
Nabi dari beliau. Beliau ini adalah seorang pandai Al Qur`an, pakar
Faraidl dan ilmu Fikih disamping sebagai puitis juga sebagai penulis
kawakan. Beliau ini termasuk hafiz Al Qur`an, sempat mengikuti
perang penaklukan kota Damaskus dan perang Shiffin dan akhirnya
meninggal di masa pemerintahan Muawiah.

Umair bin Wahab Al Jamhi (wafat 24 H)

Suku Quraisy pernah mengutusnya untuk membunuh Nabi saw akan tetapi
sebelum melakukan niatnya beliau bertaubat dan memeluk Islam. Beliau
sempat mengikuti perang Uhud dan peperangan-peperangan lain setelah
itu. Dia berjuang menumpas kaum murtad. Beliau termasuk dalam
pasukan penaklukan Syam, ikut bersama Amru bin Ash menaklukkan kota
Alexandria. Beliau hidup sampai awal pemerintahan Usman bin Affan ra.

Umar bin Abu Salamah (2-83 H)

Nama lengkapnya ialah Umar bin Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad
Al-Khajraji, dilahirkan di Abessina. Beliau dibesarkan dan dididik
oleh Nabi Muhammad saw. Dia pernah menjadi gubernur di Bahrain pada
masa Ali bin Abu Thalib serta berjuang dalam barisannya ketika
Perang Jamal tahun 36 H/656 M. Beliau wafat di Kota Madinah.

Umar bin Khattab (40 SH-23 H/584-644 M)

Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin ini memeluk Islam lima tahun
sebelum hijrah dan dinobatkan menjadi khalifah sepeninggal Abu Bakar
Siddik. Beliau inilah orang yang pertama mendapat julukan Amirul
Mukminin. Di masa pemerintahan Abu Bakar beliau diserahi tugas
Hakim, beliau inilah hakim pertama dalam Islam. Keadilannya menjadi
objek perumpamaan. Yang memulai kalender tahun hijriah adalah
beliau, yang pertama membuat Dewan (registrasi) dalam Islam juga
beliau. Di masa pemerintahannyalah terjadi penaklukan daerah Syam
(Suriah dan sekitarnya), Irak, Baitulmakdis, Madain, Mesir,
Semenanjung Arab, Khurasan, Sijistan dan Cyprus.

Usamah bin Zaid (wafat 54 H/674 M)

Usamah lahir dari keluarga yang sudah Muslim. Semasa mudanya, Nabi
Muhammad saw menyerahkan pimpinan pasukan militer yang besar
kepadanya. khalifah Umar bin Khattab menaruh respek kepadanya.
Beliau termasuk orang yang menyingkirkan diri dari pemerintahan
karena menghindari terjadinya fitnah sepeninggal khalifah Usman bin
Affan. Usamah meninggal di Medinah

Usman bin Afffan (47 SH-35 H./ 577-656 M.).

Khalifah ketiga dari Khulafaur Rasyidin (23 H/644 M) ini berasal
dari Quraisy, suku Umawi yang dilahirkan di Mekah dan memeluk Islam
segera setelah Nabi dibangkitkan. Di zaman jahiliah beliau termasuk
orang kaya dan terpandang. Beliau berhasil mempersunting dua putri
Nabi, masing-masing Ruqayah dan Umu Kaltsum, sehingga dijuluki
dengan “yang memiliki dua cahaya” . Beliau inilah yang mengadakan
kodifikasi Al Qur`an. Di antara aktifitasnya yang terbesar adalah
mempersiapkan pasukan Islam pada tahun ke sembilan Hijrah di mana
Rasulullah saw ikut berjuang dalam peperangan Tabuk tersebut.
Sepeninggal Umar bin Khattab beliau dinobatkan sebagai khalifah, di
masa pemerintahannyalah ditaklukkan daerah-daerah Armenia, Trans
Caucasia, Khurasan, Karman, Sijistan, Tunisia dan Cyprus. Beliau
inilah yang memperluas Masjidilharam dan Mesjid Nabi di Madinah dan
beliaulah khalifah Islam yang pertama mengadakan sistem kepolisian
dan Peradilan.

Usman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M)

Sahabat yang termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliah ini sempat
mengikuti perang Badar dan meninggal dunia sekembalinya dari perang
tersebut. Beliau inilah yang pernah berniat membujang dan
meninggalkan keduniaan akan tetapi Rasulullah saw melarang berliau
dari niat tersebut. Sepeninggal beliau Rasulullah saw menciumnya
sambil mengalirkan air mata. Beliau inilah sahabat pertama meninggal
di Madinah.

Wahsyi bin Harb (wafat 25 H)

Sahabat ini termasuk pahlawan dari kelompok budak Mekah di zaman
Jahiliah. Beliau inilah pembunuh Hamzah dalam perang Uhud, setelah
itu beliau memeluk Islam. Beliau sempat mengikuti perang penumpasan
kaum murtad dan berhasil membunuh Musailamah. Beliau juga ikut dalam
perang Yarmuk, kemudian dia berdomisili dan meninggal dunia di Homs.

Ya’la bin Umaiah (wafat 37 H)

Nama lengkapnya adalah Ya`la bin Umaiah bin Abu Ubaidah bin Hammam
At Tamimi Al-Handali, seorang sahabat yang masuk Islam pada hari
penaklukan Kota Mekah. Beliau ikut bersama Nabi saw. dalam Perang
Taif, Hunain dan Tabuk. Oleh Khalifah Abu Bakar beliau diangkat
menjadi gubernur Yaman.

Zaid bin Arqam (wafat 68 H)

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Arqam bin Yazid bin Qais bin Nukman
bin Malik bin Agar bin Tsalabah bin Kaab bin Khajraj, seorang
sahabat yang menyertai Nabi Muhammad saw. dalam 17 kali peperangan,
yang pertama adalah pada Perang Khandaq. Beliau juga banyak
meriwayatkan hadis.

Zaid bin Haritsah (wafat 8 H/629 M)

Sahabat ini pernah diangkat oleh Rasulullah saw sebagai anak angkat,
sebelum legalitas anak angkat dicabut. Rasulullah saw mengawinkannya
dengan Zainab binti Jahasy putri pamannya kandung, setelah keduanya
cerai, Rasulullah saw mengawinkannya lagi dengan Umu Kaltsum Binti
Uqbah. Rasulullah saw memerdekakannya setelah pergaulan mereka akrab
dengan catatan pembayaran tebusan dari keluarganya. Beliau
diserahkan memimpin pasukan dalam perang Muktah.

Zaid bin Khalid Al-Juhani (wafat 68 H)

Zaid bin Khalid Al-Juhani ini adalah seorang sahabat yang ikut dalam
Perdamaian Hudaibiah. Pada hari penaklukan Kota Mekah beliau
dipercayakan memegang bendera suku Juhainah. Beliau banyak
meriwayatkan hadis Nabi yang termuat dalam kitab Sahih Bukhari dan
Muslim.

Zaid bin Khattab (wafat 11 H)

Zaid bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza adalah saudara sebapak
Umar bin Khattab ra. Beliau ini termasuk peserta emigran
pertama-tama yang berkesempatan mengikuti semua peperangan mulai
dari perang Badar. Beliau ikut dalam perang penumpasan kaum Murtad
di Yamamah dan meninggal dalam perang tersebut.

Zaid bin Tsabit (wafat 45 H/ 665 M)

Sahabat asal Ansar, suku Khajraj ini termasuk tokoh sahabat dan
pakar ilmu faraid. Beliau ditugasi oleh Rasulullah saw belajar
bahasa Suryani dan Ibrani agar dapat mengetahui isi surat-surat yang
diterma Rasulullah saw dari kedua suku ini. Beliau ini adalah
termasuk juru tulis wahyu.

Zubair bin Awam (wafat 36 H/656 M)

Sahabat asal Quraisy ini adalah putra bibi Rasulullah saw sekaligus
pendampingnya. Beliau termasuk 10 orang yang telah diproyeksikan
masuk surga. Dia mengikuti semua perang bersama Rasulullah saw.

Aabdullah bin Jahsy (wafat 3 H/625 M)

Abdullah bin Riab bin Yakmur adalah seorang sahabat asal dari suku
Bani Asad, saudara kandung Zainab binti Jahsy, ummul mukminin. Ipar
Rasulullah saw ini meninggal dalam perang Uhud.

Abbas bin Abdul Muthalib (wafat 32 H/653 M)

Paman Rasulullah saw ini termasuk pemuka Quraisy baik semasa
jahiliah maupun setelah Islam. Beliau ini mempunyai posisi yang
sangat terhormat di pandangan Rasulullah saw. Sebelum beliau masuk
Islam dia ikut dalam rombongan Ansar ketika baiat Akabah. Dinasti
Abbasiah mengambil nama dari beliau. Dia meninggal di Madinah.

Abdullah bin Abbas (wafat 68 H)

Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki
dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat
Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam,
di mana beliau terus mendampingi Rasulullah saw sehingga beliau
mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah saw. Beliau
ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang
Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan
sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia
tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.

Abdullah bin Abu Aufa (wafat 86 H)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abu Aufa Al-Aslami, dijuluki
dengan Abu Muawiah. Sahabat yang ikut dalam Perdamaian Hudaibiah dan
peristiwa-peristiwa lainnya ini, berdomisili di Kota Madinah sampai
Rasulullah saw. wafat, setelah itu beliau pindah ke Kota Kufah.
Dialah sahabat yang terakhir meninggal di sana.

Abdullah bin Amru bin Ash (wafat 65 H)

Beliau ini masuk Islam sebelum ayahnya dan tergolong sahabat yang
banyak amal ibadahnya. Di masa jahiliah beliau ini telah pandai
tulis baca dan menguasai bahasa Suryani. Beliau mengikuti berbagai
peperangan dan hobbi berperang dengan menggunakan dua pedang.
Muawiah mengangkatnya sebagai penguasa di Koufah dalam waktu yang
tidak terlalu lama. Para ulama bersilang pendapat sekitar tempat
meninggalnya, ada yang mengatakan beliau meninggal di Mesir.

Abdullah bin Amru bin Haram (wafat 3 H/ 635 M)

Seorang sahabat yang terpandang di kalangan peserta baiat Akabah dan
perang Badar, di mana beliau ini termasuk pimpinannya. Beliau
meninggal dalam perang Uhud. Diriwayatkan bahwa malaikat
membayang-bayangi jenazahnya di saat kematiannya

Abdullah bin Jakfar (wafat 80 H)

Abdullah bin Jakfar bin Abu Thalib yang dijuluki dengan Abu Jakfar
ini adalah seorang sahabat yang pertama lahir di Abessina pada masa
awal Islam. Dia datang ke Kota Madinah bersama ayahnya dan banyak
menghafal serta meriwayatkan hadis langsung dari Rasulullah saw.
Beliau wafat di Kota Madinah.

Abdullah bin Khuzafah As Sahmi (wafat 28 H)

Sahabat yang memeluk Islam dari sejak dini sempat mengikuti emigrasi
ke Abessinia kemudian hijrah ke Madinah. Beliau sempat mengikuti
penaklukan daerah Syam (Suriah dan sekitarnya), tapi malang beliau
tertawan oleh pasukan Romawi dalam penyerbuan di Kaisariah. Beliau
meninggal di Mesir di masa pemerintahan Usman bin Affan ra.

Abdullah bin Masud bin Gafil (wafat 32 H)

Sahabat ini termasuk orang yang memeluk Islam dari sejak dini dan
termasuk sepuluh orang yang diproyeksikan masuk surga oleh Nabi saw.
Beliau termasuk juru tulis wahyu dan pengajar Al Qur`an terkemuka.
Beliau terkenal pakar dalam tafsir dan ilmu sebab-sebab turunnya
suatu ayat. Semua peperangan yang diikuti Rasulullah, belia
mengikutinya. Disamping kepakarannya dalam bidang fikih dan hadis
beliau juga termasuk sastrawan dan puitis. Sepeninggal Rasulullah
saw beliau dipercayakan mengurusi baitul mal di Koufah. Di masa
pemerintahan Usman bin Affan ra beliau datang ke Madinah dan
meninggal di sana.

Abdullah bin Mughaffal (wafat 57 H.).

Abdullah bin Mughaffal Al-Mazani, adalah seorang sahabat yang sempat
ikut dalam Baiatus Syajarah (sumpah prasetia di bawah sebatang
pohon) dalam peristiwa Baiat Ridwan. Beliau masuk kelompok
orang-orang yang diutus Khalifah Umar bin Khattab mengajarkan
ilmu-ilmu keislaman kepada kaum muslimin di Kota Basrah, kemudian
beliau menetap di kota tersebut dan meninggal dunia di sana.

Abdullah bin Rawahah (wafat 8 H/ 629 M)

Sahabat asal Ansar dari suku Khajraj ini termasuk orang yang memeluk
agama Islam dari sejak dini yang merupakan salah seorang pimpinan
dalam baiat Akabah. Berliau ini sempat mengikuti perang Badar dan
peperangan-peperangan sesudah itu, akhirnya beliau meninggal dalam
perang Muktah.

Abdullah bin Salam (wafat 43 H/663 M)

Sahabat yang sebelumnya penganut Yahudi ini memasuki Islam segera
setelah kedatangan Rasulullah saw hijrah ke Madinah. Beliau
mengikuti perang penaklukan Baitulmakdis bersama Umar bin Khattab ra
dan akhirnya beliau meninggal di Madinah.

Abdullah bin Umar bin Khattab (wafat 73 H/692 M)

Sahabat pemuka Quraisy ini memeluk Islam bersama ayahnya semasa
kecil dan mengikuti hijrah bersama ayahnya ke Madinah. Beliau
termasuk pemuka, ilmuan dan juru fatwa kaum muslimin. Beliau
mengikuti penaklukan kota Mekah, perang Yarmuk dan penaklukan Mesir.
Dia meninggal di Mekah.

Abdullah bin Ummi Maktum (wafat 14 H)

Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini
termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai
di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah saw. Beliau meninggal dalam
perang Qadisiah membawahi sebuah brigade.

Abdullah bin Zaid (wafat 32 H)

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Zaid bin Tsalabah Al- Anshari
Al-Khajraji, dijuluki dengan Abu Muhammad. Sahabat ini berdomisili
di Kota Madinah, beliaulah orang yang pernah memimpikan bunyi azan
dikumandangkan.

Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshari (7-63 H)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Zaid bin Ashim bin Kaab
An-Naggari Al-Anshari, dijuluki Abu Muhammad. Sahabat ini
berdomisili di Kota Madinah dan sempat mengikuti Perang Badar.
Beliaulah yang membunuh Musailamatul Kazzab di waktu Perang Yamamah.
Beliau meriwayatkan 48 buah hadis dan gugur dalam peristiwa Harrah
tahun 63 H/683 M.

Abdullah bin Zam’ah (wafat 35 H)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Zam’ah bin Aswad Al-Qurasyi
Al-Asadi, seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Nabi
saw. Beliau hidup dan meninggal dunia di Kota Madinah.

Abdullah bin Zubair (wafat 73 H)

Beliau ini adalah putra pasangan Zubair bin Awam dan Asma binti Abu
Bakar. Dia ikut serta dalam berbagai penaklukan, dia ikut berjuang
di barisan Aisyah dalam perang Jamal. Beliau minta bela atas
penguasa Umaiah di Hijaz, beliau mengklaim dirinya sebagai khalifah
sepeninggal Yazid bin Muawiah dengan membuat kota Madinah sebagai
pusat pemerintahan. Kekuasaannya berkelanjutan selama sembilan tahun
akhirnya ditumbangkan oleh Hajjaj As Tsaqafi dalam suatu peperangan
di Mekah.

Abdurrahman bin Abu Bakar (wafat 53 H)

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abu Bakar Siddik bin Abu
Quhafah Al-Qurasyi At-Tamimi, saudara kandung Saidah Aisyah, istri
Rasulullah saw. Beliau sempat mengikuti Nabi saw. dalam Perdamaian
Hudaibiah, ikut berjuang dalam Perang Yamamah serta penaklukan
wilayah Syam (Suriah, Lebanon,Yordania dan Palestina) di bawah
komando Panglima Khalid bin Walid.

Abdurrahman bin Auf (wafat 32 H/652 M)

Abdurrahman bin Auf bin Harits bin Zuhrah, seorang sahabat asal
Quraisy dari suku Zuhri adalah di antara orang yang masuk Islam dari
sejak dini dan termasuk sepuluh orang yang diproyeksikan masuk surga
oleh Rasulullah saw serta termasuk enam orang konsultan Nabi. Beliau
mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah termasuk perang
Badar. Beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di Baqi`.

Kaab bin Ujrah (wafat 51 H)

Namanya Kaab bin Ujrah Al-Anshari, seorang sahabat yang dijuluki
dengan Abu Muhammad. Beliau mendengar hadis dari Nabi Muhammad saw.
dan hadisnya tentang haji dan umrah banyak diriwayatkan oleh
Abdurrahman bin Abu Laila serta Abdullah bin Mughaffal. Dia wafat di
Kota Madinah.

Kaab bin Zuhair (wafat 26 H)

Putra puitis Zuhair bin Abi Salma ini adalah seorang puitis yang
hidup dalam dua zaman (jahiliah dan Islam). Beliau sempat mencaci
Islam, Rasulullah saw serta kaum wanita Islam sehingga Nabi saw
menghalalkan darahnya, namun dia cepat-cepat minta maaf kepada
Rasulullah dan menyampaikan kasidah penyesalannya di hadapan Nabi.
Nabi memaafkannya dan memberikan hadiah baju kepada beliau.

Khabbab bin Art (wafat 37 H/657 M)

Sahabat yang telah masuk Islam dari sejak dini ini berkesempatan
mengikuti semua peperangan yang diikuti Rasulullah saw. Dalam
mempertahankan agama yang dianutnya ini, beliau menerima banyak
cobaan. Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan Jubair bin
Atiq. Beliau meninggal di kota Koufah.

Khabib bin Adi (wafat 4 H)

Sahabat asal Ansar, suku Aus ini berkesempatan mengikuti perang
Badar. Rasulullah saw mendelegasikan beliau ke suku Bani Adal dan
Bani Qarah dengan suatu missi untuk mengajari mereka ajaran-ajaran
agama Islam, namun mereka menipu Nabi, beliau ditangkap dan dijual
penduduk daerah tersebut kepada suku Bani Harits bin Amir bin
Naufal. Oleh karena di waktu perang Badar Khabib berhasil membunuh
kakek mereka, maka merekapun membunuhnya.

Khalid bin Walid (wafat 21 H/642 M)

Sahabat asal suku Makhzumi ini adalah bangsawan Arab yang
dipercayakan memimpin pasukan Islam dalam penaklukan Persia dan Syam
(Suriah dan sekitarnya). Beliau berhasil mengalahkan pasukan Romawi
dalam perang Ajnadin dan Yarmuk, namun kemudian beliau meninggal di
kota Homs.

Khuzaimah bin Tsabit Al Anshari (waat 37 H)

Khuzaimah bin Tsabit bin Fakah bin Saidah al Anshari ini adalah
termasuk orang yang masuk Islam dari sejak dini yang berkesempatan
mengikuti semua peperangan yang diikuti Rasulullah sejak perang
Badar. Rasulullah saw menganngap kesaksiannya setaraf dengan
kesaksian dua orang lelaki sebagai prioritas buat beliau. Beliau
adalah komando pasukan dalam perang Shiffin dan meninggal dalam
perang itu.

Ma`qil bin Yasar

Nama lengkapnya adalah Ma`qil bin Yasar bin Abdullah Al- Mazni,
seorang perawi hadis yang dijuluki dengan Abu Ali. Beliau
berdomisili di Kota Basrah, wafat pada masa Khalifah Muawiah ketika
Abdullah bin Ziyad menjabat gubernur di sana. Imam Hasan Basri
banyak meriwayatkan hadis beliau tentang nikah dan tafsir surat
Al-Baqarah.

Malik bin Huwairits (wafat 74 H)

Malik bin Huwairits Al-Laitsi ini adalah seorang sahabat yang
dijuluki dengan Abu Sulaiman. Dia banyak mendengar hadis langsung
dari Nabi Muhammad saw. dan hadisnya tentang salat diriwayatkan oleh
Abu Qilabah. Beliau berdomisili di Kota Basrah dan meninggal dunia
di sana.

Miqdad bin Aswad al Kindi (wafat 33 H/653 M)

Nama lengkapnya adalah Miqdad bin Umar bin Tsaklabah bin Malik.
Beliau ini termasuk tujuh orang yang masuk Islam dari sejak dini dan
satria pertama yang terjun ke medan perang dengan mengendarai kuda
dalam Islam. Beliau ini mempersunting Daba`ah binti Zubair bin Abdul
Muthalib, ponakan Rasulullah saw. Beliau termasuk orang yang
mengikuti dua kali hijrah, ke Abessina dan ke Madinah dan sempat
mengikuti perang Badar dan semua perang yang sesudah itu. Beliau
meninggal se waktu pemerintahan Usman bin Affan ra.

Miswar bin Makhramah (wafat 64 H)

Nama lengkapnya ialah Miswar bin Makhramah bin Naufal bin Ahyab
Al-Qurasyi Az-Zuhri, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu
Abdurrahman. Beliau sempat menyaksikan hidupnya Nabi Muhammad saw.
ketika dia masih kanak-kanak dan sempat mendengar beberapa hadis
langsung dari Nabi. Dia meriwayatkan hadis dari khulafaurrasyidin
yang empat dan tokoh perawi sahabat yang lainnya.

Mu`aiqib (wafat 40 H)

Mu`aiqib bin Abu Fatimah Ad-Dusi ini adalah seorang sahabat yang
hadisnya diriwayatkan oleh Abu Salamah bin Abdurrahman. Beliau
berdomisili di Kota Madinah.

Muawiah bi Abu Sofyan (20 SH-60 H/ 603-680 M)

Muawiah bi Abu Sofyan bin Harb bin Umaiah Al Qurasyi Al Umawi adalah
pendiri Daulat Umaiah di Suriah. Beliau lahir di Mekah dan sempat
memusuhi Islam dan akhirnya memeluk Islam ketika penaklukan kota
Mekah (8 H). Beliau sempat belajar tulis baca dan matematika,
sehingga Rasulullah saw mengangkatnya menjadi juru tulisnya. Beliau
bertugas di Suriah di masa pemerintahan Umar bin Khattab dan Usman
bin Affan. Beliau menentanag Ali dan berkonfrontasi dengan Ali dalam
perang Shiffin (37 H/657 M) yang berakhir dengan sebuah arbitrase.
Beliau dinobatkan menjadi khalifah (40-60 H/661-680 M) di mana ibu
kota pemerintahan dia pindahkan ke Damaskus. Beliau termasuk tokoh
penakluk ternama dalam sejarah Islam, di mana penaklukannya sampai
ke daerah di Lautan Atlantik.

Muaz bin Jabal (wafat 18 H/ 639 M)

Sahabat asal Ansar dari suku Khajraj ini sempat mengikuti baiat
Akabah dan semua peperangan yang diikuti Rasulullah saw. Rasulullah
saw pernah menugaskan beliau menjadi hakim di Yaman. Beliau termasuk
kelompok enam yang mempunyai kodifikasi sekaligus hafiz Al Quran di
zaman Nabi. Beliau sempat mengikuti perang Yarmuk dan meninggal
akibat penyakit pes yang melanda di kala itu.

Mugirah bin Syukbah (wafat 50 H/670 M)

Sahabat asal suku Tsaqafi ini adalah termasuk cendekia Arab. Beliau
meriwayatkan banyak hadis dari Rasulullah saw dan sempat mengikuti
baiat Ridwan, perang Yamamah, penaklukan negeri Syam (Suriah dan
sekitarnya) dan penaklukan Irak. Sewaktu pemerintahan Umar bin
Khattab ra. beliau ini diserahi memerintah kota Basrah dan Koufah.
Setelah Usman naik tahta kekhalifahan, beliau diberhentikan, namun
setelah Muawiah naik tahta beliau kebali diangkat sebagai pemerintah
kota Koufah yang akhirnya beliau meninggal di tempat terakhir ini.

Muhammad bin Maslamah (wafat 43 H)

Sahabat asal Ansar dari suku Aus ini termasuk yang mempunyai
keutamaan. Dia termasuk orang yang bernama Muhammad di zaman
Jahiliah. Beliau ikut membunuh Kaab bin Asyraf yang menghasut suku
Quraisy untuk memerangi Nabi saw. Beliau ini sempat mengikuti perang
penaklukan Mesir dan Syam. Beliau tidak mengikuti perang Jamal dan
Shiffin karena menghindari terjadinya fitnah. Beliau meninggal di
Madinah.

Mujasyi` bin Masud (wafat 36 H)

Nama lengkapnya adalah Mujasyi` bin Masud bin Tsalabah As-Salami,
seorang sahabat yang terkenal berani. Dia sempat ikut dalam perang
menaklukkan Kota Kabul dan menanda tangani perjanjian damai dengan
rajanya, kemudian meneruskan peperangan sampai ke Makran dan daerah
pedalaman. Ketika Perang Jamal terjadi, beliau saat itu menjabat
kepala suku Bani Salim, dia berpihak kepada Aisyah, tetapi keburu
terbunuh sebelum perang tersebut terjadi dan dikuburkan di Kota
Basrah.

Musayab bin Hazen

Nama lengkapnya adalah Musayab bin Hazen bin Abu Wahab bin Amru
Al-Makhzumi Al-Qurasyi, seorang sahabat yang ikut dalam peristiwa
Baiat Ridwan bersama Nabi Muhammad saw. Beliau adalah ayah dari Said
bin Musayab, seorang ahli fikih.

Mushab bin Umair (wafat 3 H/ 625 M)

Beliau termasuk sahabat yang mempunyai keistimewaan. Dia memeluk
Islam tetapi merahasiakan keislamannya terhadap keluarganya. Setelah
keluarganya mengetahui keislamannya, mereka mengurungnya kemudian
melepaskannya kembali. Setelah itu dia ikut berijrah ke Abessinia
dan kembali ke Mekah seusai baiat Akabah I. Beliau menyibukkan diri
mengajari kaum muslimin Al Qur`an dan mengimami salat mereka. Beliau
sempat mengikuti perang Badar dan Uhud membawahi sebuah brigade.
Beliau mati syahid dalam perang Uhud.

Naim bin Masud (wafat 30 H)

Sahabat asal suku Bani Asyjak ini memeluk Islam pada malam perang
Khandak Beliau berhasil memecah antara pasukan Bani Quraizah dengan
Bani Gathfan dalam perang Khandak tersebut. Beliau berdomisili dan
meninggal di Madinah.

Nukman bin Basyir (wafat 65 H/684 M)

Sahabat yang sastrawan ini pernah memerintah di Koufah sewaktu
pemerintahan Muawiah, di Homs sewaktu pemerintahan Yazid. Karena
beliau ikut membaiat Abdullah bin Zubair, beliau dibunuh oleh lawan
politiknya. Beliau ini mempunyai kumpulan puisi.

Bilal bin Rabah Al Habasyi (wafat 20 H/641 M)

Sahabat ini dibeli oleh Abu Bakr Siddik dari orang musyrik ketika
beliau melihat Bilal disiksa oleh kaum Musyrikin karena dia beriman,
setelah itu memerdekakannya. Sahabat ini terus menerus mendampingi
Rasulullah saw dan menjadi muazinnya, malah mengikuti semua
peperangan yang dikuti oleh Nabi saw. Rasulullah saw
mempersaudarakan natara beliau dengan Abu Ubaidah bin Jarah.
Sepeninggal Rasulullah saw beliau ini mengikuti perang dan syahid
dalam perang di Syam.

Buraidah (wafat 63 H)

Nama lengkapnya adalah Buraidah bin Husaib bin Abdullah bin Harits
Al-Aslami Al-Madani, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Sahal.
Beliau termasuk sahabat yang pernah tinggal di Kota Madinah kemudian
pindah ke Kota Basrah dan ikut dalam perang di kawasan Khurasan.
Beliau meninggal dunia di Meru.

Dahiah Al Kalabi (wafat 45 H/665 M)

Sahabat ini menjadi tumpuan perumpamaan karena kegantengannya,
sampai-sampai malaikat Jibril as pernah turun membawa wahyu kepada
Rasulullah dengan gambaran fostur tubuhnya. Perang yang pertama
diikutinya adalah perang Khandak, konon kabarnya beliau juga
mengikuti perang Uhud, namun tidak sempat mengikuti perang Badar.
Rasulullah saw pernah mengutusnya menjadi delegasi kepada Kaisar
Hiraklius di Roma. Beliau ini hidup sampai masa pemerintahan Muawiah.

Fadel bin Abbas (wafat 13 H)

Fadel bin Abdul Muthalib bin Hasyim Al-Qurasyi yang dijuluki dengan
Abu Muhammad ini adalah anak tertua dari Abbas bin Abdul Mutalib,
paman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal Rasulullah saw. beliau ikut
dalam pasukan yang diutus ke Syam, beliau gugur sebagai syahid dalam
Perang Ajnadin.

Habbab bin Munzir bin Jamuh (wafat 20 H)

Sahabat pemberani ini adalah tokoh yang diminta pertimbangannya oleh
Rasulullah saw ketika perang Badar yang mengemukakan pendapatnya
agar pasukan diposkan di tempat-tempat sumber air dalam melawan
musuh. Semasa jahiliah juga beliau ini termasuk konsultan yang
diperhitungkan. Beliau sempat mengikuti perang Badar, Uhud dan semua
perang yang diikuti Rasulullah saw. Beliau ini meninggal di masa
pemerintahan Umar bin Khattab ra.

Hakim bin Huzam (wafat 54 H)

Nama lengkapnya adalah Hakim bin Huzam bin Asad bin Abdul Gazi,
ponakan Khadijah istri Rasulullah saw. Sebelum dan setelah kenabian
beliau ini adalah teman akrab Rasulullah saw, sewaktu kaum Quraisy
memboikot Rasulullah, beliau tidak termasuk, karena menghormati Nabi
saw. Beliau baru masuk Islam ketika penaklukan kota Mekah dan
terkenal sebagai orang yang banyak jasa baik dan derma.

Hamzah bin Abdul Muthalib (wafat 3 H/625 M)

Paman Rasulullah saw sekaligus saudara sesusuannya ini adalah
seorang bangsawan Quraisy yang masuk Islam pada tahun kedua setelah
kebangkitan Rasul. Beliau komitmen dalam meebela Rasulullah dan ikut
hijrah ke Madinah. Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan
Zaid bin Haritsah. Beliau ikut dalam perang Badar dan meninggal
dalam perang Uhud.

Haris bin Kildah (wafat 50 H)

Sahabat asal Taif dari suku Tsaqafi ini adalah dokter dan pilosof
Arab yang terkemuka di masanya. Beliau lahir di masa jahiliah dan
hidup semasa dengan Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Beliau pergi
belajar ilmu kedokteran ke Persia, dia mempunyai kumpulan karya
tulis seputar kedokteran antara lain buku polemik kedokteran antara
beliau dengan Kisra. Beliau juga seorang puitis. Dia meninggal
semasa pemerintahan Muawiah.

Hasan bin Ali (wafat 50 H)

Putra sulung dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah ini sangat
mirip dengan Rasulullah saw. Beliau dinobatkan sebagai khalifah
sepeninggal ayahnya, namun beliau memilih tidak berperang, untuk itu
beliau mengundurkan diri dari tahta kekhalifahan sekaligus
menobatkan Muawiah dengan satu catatan sepeninggal Muawiah, beliau
akan kembali naik tahta. Hasan meninggal di Madinah.

Hisyam bin Ash (wafat 13 H)

Hisyam bin Ash bin Wail bin Hsyim As Sahmi ini dari sejak dini telah
memeluk Islam di Mekah. Beliau sempat ikut emigran ke Abessinia
tetapi dia kembali ke Mekah untuk menyusul Nabi saw yang dia dengar
berhijrah ke Madinah, namun malang dia dikurung oleh orang tua dan
keluarganya di Mekah. Beliau baru dapat keluar dari Mekah ke Madinah
setelah perang Khandak. Beliau dapat mengikuti semua peperangan yang
terjadi setelah Khandak, beliau meninggal dalam perang Ajnadin.

Huzaifah bin Yamman (wafat 36 H/656 M)

Sahabat tokoh penaklukan ini banyak memegang rahasia-rahasia Nabi.
Khalifah Umar bin Khattab ra. mengangkatnya menjadi pemerinah di
Madain. Pada tahun 642 M, dia berhasil mengalahkan pasukan Persia
dalam perang Nahawand, kemudian dia mengikuti perang penaklukan
Jazirah Arab dan akhirnya meninggal di kota Madain.

Ikrimah bin Abu Jahal (wafat 13 H/ 634 M)

Sahabat asal Quraisy dari suku Mahzumi ini adalah anak musuh Islam
nomor satu. Beliau melarikan diri ke Yaman setelah penaklukan kota
Mekah tetapi istrinya yang bernama Umu Hakim menyuruhnya kembali
setelah mendapat persetujuan keamanan dari Rasulullah saw.
Sesampainya di Mekah beliau masuk Islam dan menjadi pemeluk Islam
yang baik. Beliau ini sempat mengikuti perang penumpasan kaum murtad
dan meninggal dalam perang Yarmuk.

Imran bin Husain (wafat 52 H)

Imran bin Husain bin Ubaid, adalah sahabat yang masuk Islam pada
tahun terjadinya Perang Khaibar (7 H). Pada perang penaklukan Kota
Mekah, beliau memegang bendera suku Khuzaah. Beliau wafat di Kota
Basrah.

Itban bin Malik (wafat 50 H)

Nama lengkapnya ialah Itban bin Malik bin Amru bin Aglan Al-Anshari
As-Salimi, salah seorang sahabat yang turut dalam Perang Badar.
Beliaulah yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw. dengan Umar bin
Khattab. Beliau meriwayatkan 10 hadis dan wafat pada masa Khalifah
Muawiah bin Abu Sofyan.

Jabir bin Abdullah Al-Anshari (wafat 78 H)

Nama lengkapnya adalah Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram
Al-Anshari As-Salami, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu
Abdullah. Pada akhir hayatnya beliau mengalami kebutaan dan sempat
meriwayatkan beberapa hadis dari Nabi Muhammad saw. dan Abu Said.
Dia berdomisili di Kota Madinah dan meninggal dunia di sana.

Jabir bin Samurah (wafat 74 H)

Nama lengkapnya ialah Jabir bin Samurah bin Janadah As-Sawai
Al-Madani, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Abdullah. Ibunya
bernama Khalidah binti Abu Waqqas, saudara kandung Saad dan Utbah.
Beliau wafat pada masa khilafah Abdul Malik bin Marwan.

Jakfar bin Abu Thalib (penerbang) (wafat 8 H)

Jakfar bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim ini masuk Islam
dari sejak dini dan sempat mengikuti hijrah ke Abessinia, malah
sempat mempublikasikan Islam di daerah itu. Dalam perang Muktah
beliau diserahi menjadi pemegang bendera Islam, setelah tangan
kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri, namun
tangan kirinya juga terpotong lagi, sehingga dia memegang bendera
itu dengan dadanya. Berbagai cobaan ditahankannya dalam mengemban
tugas ini, akhirnya beliau mati syahid di mana dalam tubuhnya
terdapat sekitar 90 goretan dan tembakan. Dalam suatu hadis
diriwayatkan, bahwa kelak di Surga Allah swt akan menggantikan kedua
tangannya dengan sepasang sayap. Oleh sebab itulah, maka beliau
dijuluki dengan nama Jakfar Penerbang atau Jakfar yang punya
sepasang sayap.

Jubair bin Mut`im bin Adi (wafat sekitar 57 H)

Sahabat asal Quraisy ini termasuk pemuka dan pakar genetis Quraisy.
Beliau masuk Islam antara perang Hudaibiah dan penaklukan kota
Mekah. Dia meninggal di masa pemerintahan Muawiah bin Abi Sofyan.

Jundub Al-Alaqi (wafat 64 H)

Nama lengkapnya adalah Jundub bin Abdullah bin Abu Sofyan Al-Bajli
Al-Alaqi, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Abdullah. Pernah
berdomisili di Kota Kufah kemudian pindah ke Basrah. Beliau
meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang ada di kedua kota itu.

Kaab bin Malik (wafat sekitar 50 H/ 660 M)

Sahabat ini adalah seorang puitis yang banyak membantah cemoohan
yang dilontarkan kepada Nabi. Setelah memeluk Islam dia mengikuti
baiat Akabah dan berkesempatan mengikuti semua peperangan kecuali
perang Badar dan Tabuk. Beliau adalah termasuk sasaran ayat
[Terhadap tiga orang yang penerimaan taubatnya ditangguhkan sampai
mereka merasa dunia ini sempit dan jiwa merekapun terasa sesak
akibat ulah mereka sendiri dan mereka menduga bahwa tidak ada jalan
untuk selamat kecuali mengikuti petunjuk Allah, pada saat itulah
Allah baru menerima taubat mereka agar taubat mereka itu
benar-benar. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat]. (At Taubah
ayat 118).

Ummu Haram Binti Malhan -Rodhiallaahu ‘anha- 3 Desember 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment

Beliau adalah saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Beliau adalah istri dari sahabat yang agung yang bernama Ubadah bin ash-Shamit. Kedua saudaranya adalah Sulaim dan Haram; keduanya ikut di dalam perang Badar dan Uhud dan kedua-duanya syahid pada perang Bi’ir Ma’unah. Adapun Haram adalah seorang pejuang yang tatkala ditikam dari belakang beliau mengatakan, “Aku telah berjaya demi Rabb Ka’bah”.

Beliau adalah Ummu Haram binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghannam bin Adi bin Nazar al-Anshariyah an-Najjariyyah al-Madaniyyah.

Ummu Haram termasuk wanita yang terhormat, beliau masuk Islam, berbai’at kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan ikut berhijrah. Beliau meriwayatkan hadits Anas bin Malik meriwayatkan dari beliau dan ada juga yang lain yang meriwayatkan dari beliau.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memuliakan beliau dan pernah mengunjungi beliau di rumahnya dan istirahat sejenak di rumahnya. Beliau dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam baik apabila dihubungkan dengan sepersusuan ataupun dikaitkan dengan nasab, sehingga menjadi halal menyendiri keduanya.

Anas bin Malik berkata; “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah kami, yang mana tidak ada yang didalam melainkan saya, ibuku (Ummu Sulaim) dan bibiku Ummu Haram. Beliau bersabda : “Berdirilah kalian, aku akan shalat bersama kalian”. Maka beliau shalat bersama kami pada saat bukan waktu shalat wajib.

Ummu Haram berangan-angan untuk dapat menyertai peperangan bersama mujahidin yang menaiki kapal untuk menyebarkan dakwah dan membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Allah saja. Akhirnya Allah mengabulkan angan-angannya dan mewujudkan cita-citanya. Tatkala dinikahi oleh sahabat agung yang bernama Ubadah bin Shamit, mereka keluar untuk berjihad bersama dan Ummu Haram mendapatkan syahid disana dalam perang Qubrus (Syprus).

Anas berkata: “Adalah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila pergi ke Quba’ beliau mampir kerumah Ummu Haram binti Malhan, kemudian Ummu Haram menyediakan makanan bagi beliau. Adapun suami Ummu Haram adalah Ubadah bin Shamit. Pada suatu hari Rasululllah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mampir kerumah beliau, Ummu Harampun menyediakan untuk beliau, makanan kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyandarkan kepalanya dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tertidur. Tidak beberapa lama kemudian beliau bangun lalu beliau tertawa. Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa ya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam?” Beliau bersabda: “Sekelompok manusia dari kelompok-Ku, mereka berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berlayar di lautan sebagaimana raja-raja diatas pasukannya atau laksana para raja yang memimpin pasukannya”.

Ummu Haram berkata: “Wahai Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam do`akanlah agar aku termasuk golongan mereka”.

Kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendo`akan Ummu Haram lalu meletakkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau terbangun dan tertawa.

Ummu Haram bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam apa yang membuat anda tertawa?”.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sekelompok manusia dari umatku akan diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah Ta’ala laksana raja bagi pasukannya”.

Ummu Haram berkata : “Wahai Rasululllah! do`akanlah agar saya termasuk golongan mereka”.

Rasululllah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Engkau termasuk golongan para pemula”.

Anas bin Malik berkata: Ummu Haram keluar bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Tatkala telah melewati laut, beliau naik seekor hewan kemudian hewan tersebut melemparkan beliau hingga wafat. Peristiwa tersebut terjadi pada perang Qubrus (Syprus), sehingga beliau dikubur disana. Ketika itu pemimpin pasukan adalah Mu`awiyah bin Abi Sufyan pada masa khalifah Utsman bin Affan, semoga Allah merahmati mereka seluruhnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 27 Hijriyah.

Begitulah, Ummu Haram adalah termasuk salah satu dari keluarga mulia yang setia terhadap prinsip yang dia pegang, yang mana beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan ‘aqidah tauhid yang murni. Beliau tidak mengharapkan setelah itu melainkan ridha Allah `Azza wa Jalla.

(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN)

Fathimah binti Al-Yaman -Rodhiyallahu ‘anha- 3 Desember 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment

Fathimah binti Al-Yaman Rodhiallahu ‘anha adalah salah seorang sahabiyat yang orang tuanya sahabat-sahabiyat, dan saudaranya sahabat dan sahabiyat.

Saudara laki-laki Fathimah binti Al-Yaman yang dimasukkan ke dalam para sahabat antara lain, Hudzaifah bin Yaman dan Shafwan bin Al-Yaman. Di Al-­Istiab, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa keduanya gugur sebagai syahid di Perang Uhud bersama ayahnya.

Hudzaifah bin Al-Yaman, termasuk sahabat terkenal dan pilihan. Ia pemegang rahasia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang tidak diketahui siapa pun selain dia. Ia menghadiri Perang Uhud dan perang-perang sesudahnya. Ia mempunyai peran menonjol di Perang Khandaq, karena pada malam perang tersebut, ia diutus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mencari informasi tentang kaum musyrikin.

Para penulis biografi menyebutkan bahwa Fathimah binti Al-Yaman mempunyai dua saudara perempuan, yaitu Ummu Salamah binti Al-Yaman yang termasuk wanita beriman, Muslimah, dan ahli ibadah. Dan Khaulah binti Al-Yaman yang juga menjadi sahabiyat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Di lingkungan keluarga Al-Yaman, Fathimah binti Al-Yaman tumbuh. Ia merasakan kenikmatan hidup di bawah naungan Islam, sejak pertama kali ia mendengarnya dan berkembang di Madinah di kalangan kaum Anshar. Setelah itu, ia menjadi salah seorang wanita yang berbaiat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, menjadi sahabiyat beliau, dan salah seorang sahabiyat yang bernama Fathimah.

Fathimah adalah nama wanita. Seorang wanita dinamakan Fathimah atau Fitham. Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi Ali bin Abu Thalib pakaian diberi garis-garis dengan sutera dan bersabda, “Robeklah menjadi beberapa kerudung untuk Fathimah-Fathimah.”

Al-Qutaibi berkata, “Di antara Fathimah-Fathimah tersebut ialah pemimpin para wanita yaitu Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan istri Ali bin Abu Thalib. Kedua, Fathimah binti Asad bin Hasyim, ibu Ali bin Abu Thalib. Ia masuk Islam dan merupakan wanita pertama dari Bani Hasyim yang melahirkan anak dari Bani Hasyim. Ketiga. Fathimah binti Hamzah bin Abdul Muththalib, pemimpin para syuhada’.”

Al-Hasan dan Al-Husain dinamakan anak Fathimah-Fathimah, karena ibu keduanya ialah Fathimah Az-Zahra’, nenek keduanya adalah Fathimah binti Asad, dan nenek Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari jalur ayah beliau ialah Fathimah binti Abdullah bin Amr bin Imran bin Makhzum.

Jumlah sahabiyat yang bernama Fathimah lebih dari dua puluh. Di antara mereka ialah Fathimah Az-Zahra’ binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Fathimah binti Asad yang tidak lain adalah ibu Ali bin Abu Thalib, Fathimah binti Khaththab yang tidak lain adalah saudara perempuan Umar bin Khaththab, dan Fathimah binti Al-Yaman.

Fathimah binti Al-Yaman dan Periwayatan Hadits
Ketika menyebutkan tentang Fathimah binti Al-Yaman, Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Fathimah binti Al-Yaman Al-Absiyah adalah sahabiyat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang-orang yang meriwa­yatkan hadits darinya ialah keponakannya bernama Abu Ubaidah bin Hudzaifah bin Al-Yaman (Abu Ubaidah bin Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Absi Al-Kufi. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya, bibinya dari jalur ayah bernama Fathimah, Adi bin Hatim, dan Abu Musa Al-Asy’ari. Orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya ialah Muhammad bin Sirin, Yusuf bin Maimun, Khalid bin Abu Umaiyah Al-Kufi, dan lain-lain. Abu Hatim berkata, “Namanya tidak disebutkan.” Ibnu Hibban memasukkan Abu Ubaidah bin Hudzaifah ke dalam Ats-Tsiqaal) berkata, “Fathimah binti Al-Yaman Al-Absiyah adalah sahabiyat Rasulullah

Rib’i (Rib’i ialah anak Hirasy bin Jahsy Al-Absi alias Abu Maryam Al-Kufi), ia datang ke Syam dan mendengar khutbah Umar bin Khaththab di Syam. Ia meriwayatkan hadits dari Umar bin Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, Imran bin Hushain, Hudzaifah bin Al-Yaman, Thariq Al-Muharibi, Abu Al-Yusr Ka’ab bin Umar As-Sulami, Abu Mas’ud, dan lain­-lain. Orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya ialah Abdul Malik bin Umair, Abu Malik Al-Asyjai, Asy-Sya’bi, Nu’aim bin Abu Hindun, Manshur bin Al-Mu’tamir, Hilal (mantan budak Rib’i), Hushain bin Abdurrahman, dan lain-lain.

Ibnu Al-Madini berkata, “Anak Hirasy berjumlah tiga orang, yaitu Rib’i, Rabi’, dan Mas’ud. Tidak ada hadits yang diriwayatkan dari Mas’ud kecuali perkataannya setelah kematiannya. Al-­Ajli berkata, ‘Rib’i ialah tabi’in, perawi terpercaya, orang pilihan, dan tidak pernah berdusta sekali pun.’ Abu Nu’aim, ‘Rib’i meninggal pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz.’ Abu Ubaidah berkata, ‘Ia meninggal pada tahun 100 H.’ Ibnu Sa’ad berkata, ‘Ia perawi tepercaya dan mempunyai hadits-hadits shahih.’ Ia disebutkan Ibnu Hibban di Ats-Tsiqaal. Ibnu Hibban berkata, ‘Ia termasuk ahli ibadah orang-orang Kufah. Ia bersumpah tidak akan tertawa, hingga ia mengetahui ia masuk surga atau neraka’.” )

Ibnu Abdul Barr berkata, “Fathimah binti Al-Yaman meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mempunyai banyak hadits.

Di antara hadits riwayat Fathimah binti Al-Yaman ialah hadits tentang kunjungannya kepada istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat beliau sakit yang membawa beliau kepada kematian.

Buku-buku hadits menyebutkan hadits dengan sanad sampai kepada keponakan Fathimah binti Al-Yaman, Abu Ubaidah bin Hudzaifah bin Al­-Yaman, dari bibinya dari jalur ibu, Fathimah binti Al-Yaman, yang berkata, “Kami menjenguk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kaum wanita. Tiba-tiba tempat air digantung, sedang airnya menetes mengenai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena saking panasnya sakit demam yang beliau derita. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau berdoa kepada Allah, agar Dia menghilangkan penyakit darimu?’ -di riwayat lain, kenapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan penyakit dari­mu?’- Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesung­guhnya manusia yang paling berat ujiannya ialah para nabi, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang sesudah me­reka’. “

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abdul Barr meriwayatkan hadits dari saudara perempuan Hudzaifah bin Al-Yaman, Fathimah binti Al-Yaman, yang berkata,
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah kepada kami. Beliau bersabda, ‘Hai para wanita, bukankah kalian berhias dengan perak? Tidaklah salah seorang dari kalian berhias dengan emas dan dipamerkan, melainkan ia disiksa dengannya.’ Para wanita setelah itu memakai kancing di lengan baju mereka untuk merahasiakan emas dan cincin mereka. “

Jika hadits di atas shahih, maka telah dibatalkan, atau bahwa tidak mengenakan perhiasan itu lebih baik dari mengenakannya.

Itulah Fathimah binti Al-Yaman salah seorang putri sahabat, salah seorang yang meriwayatkan hadits mulia, salah seorang putri syuhada’, saudara perempuan syuhada’, salah seorang yang mengisi kehidupannya dengan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, dan berbuat apa saja yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya untuk akhiratnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Fathimah binti Al-Yaman, menem­patkannya di surga tertinggi bersama orang-orang yang bersandar di atas sofa yang bagian dalamnya adalah sutra tebal, dan memetik buah dengan dekat. Balasan kebaikan ialah kebaikan.

Sumber: Banaatu-shahaabat

Ummu Fadhl -Rodhiallahu ‘anha- 3 Desember 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment

Beliau adalah Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, dikenal dengan kuniyahnya yakni Ummu Fadhl. Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Keempat wanita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl, Asma’ dan Salma.

Adapun Maimunah adalah Ummul Mukminin Rodhiallahu ‘anha saudara kandung dari Ummu Fadhl. Sedangkan Asma’ dan Salma adalah kedua saudari dari jalan ayahnya sebab keduanya adalah putri dari ‘Umais.

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha adalah istri dari Abbas, paman Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, dan ibu dari enam orang yang mulia, pandai dan belum ada seorang wanita pun yang melahirkan laki-laki semisal mereka. Mereka adalah Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma’bad, Qatsam dan Abdurrahman.

Tentang Ummu Fadhl ini Abdullah bin Yazid berkata,
Tiada seorangpun yang melahirkan orang-orang yang terkemuka yang aku lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadh
Putra dari dua orang tua yang mulia
Pamannya Nabiyul Musthafa yang mulia
Penutup para Rasul dan sebaik-baik rasul

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha masuk Islam sebelum hijrah, beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (Ummul Mukminin Rodhiallahu ‘anha) sebagaimana yang dituturkan oleh putra beliau Abdullah bin Abbas Rodhiallahu ‘anhu, “Aku dan Ibuku adalah termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak. “

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan para wanita. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam terkadang mengunjungi beliau dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha adalah seorang wanita yang pemberani dan beriman, yang memerangi Abu Lahab si musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah berkata, “Abu Rafi’ budak Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Aku pernah menjadi budak Abbas, ketika Islam datang maka Abbas masuk Islam disusul oleh Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya.”

Abu Lahab tidak dapat menyertai perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak mengikuti suatu peperangan maka ia mewakilkan kepada orang lain.

Tatkala datang kabar tentang musibah yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab, maka sebaliknya kami merasakan adanya kekuatan dan ‘izzah pada diri kami. Aku adalah seorang laki-laki yang lemah, aku bekerja membuat gelas yang aku pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah suatu ketika aku duduk sedangkan di dekatku ada Ummu Fadhl yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang sampai kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari kemudian duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, “Ini dia Abu Sufyan bin Harits telah datang dari Badar. Abu Lahab berkata, “Datanglah kemari sungguh aku menanti beritamu.

Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, “Wahai putra saudaraku beritakanlah bagaimana keadaan manusia (dalam perang Badar)?” Abu Sufyan berkata, “Demi Allah tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah sekalipun demikian tatkala aku menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah.”

Abu Rafi’ berkata, “Aku mengangkat batu yang berada di tanganku, kemudian berkata, ‘Demi Allah itu adalah malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangannya dan memukul aku dengan pukulan yang keras, maka aku telah membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia dudukkan aku dan memukuliku sedangkan aku adalah laki-laki yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha mengambil sebuah tiang dari batu kemudian beliau pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha berkata, ‘Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya.’

Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, Demi Allah ia tidak hidup setelah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kepadanya penyakit bisul yang menyebabkan kematiannya.”

Begitulah perlakuan seorang wanita mukminah yang pemberani terhadap musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga menjadi gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya karena ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang telah mencatat Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha sebagai teladan bagi para wanita yang dibina oleh Islam.

Ibnu Sa’d menyebutkan di dalam ath-Thabaqat al-Kubra bahwa Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah saya bermimpi seolah-olah sebagian dari anggota tubuhmu berada di rumahku.” Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Mimpimu bagus, kelak Fatimah melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha keluar dengan membawa kegembiraan karena berita tersebut, dan tidak berselang lama Fatimah Rodhiallahu ‘anha melahirkan Hasan bin Ali Rodhiallahu ‘anhu yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha.

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha berkata, “Suata ketika aku mendatangi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, dengan membawa bayi tersebut maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini karena dia telah mengencingiku.”

Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha berkata, “Maka aku ambil bayi tersebut dan aku cubit sehingga dia menangis, aku berkata, “Engkau telah menyusahkan Rasulullah karena engkau telah mengencinginya.” Tatkala melihat bayi tersebut menangis Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang menyusahkanku karena telah membuat anakku menangis.” Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam meminta air lalu beliau percikkan ke tempat yang terkena air kencing kemudian bersabda,
“Jika bayi laki-laki maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi wanita maka cucilah.”

Di antara peristiwa yang mengesankan Lubabah binti al-Haris Rodhiallahu ‘anha adalah tatkala banyak orang bertanya kepada beliau ketika hari Arafah apakah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam shaum ataukah tidak? Maka dengan kebijakannya, beliau menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin dengan cara beliau memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau berada di Arafah, kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dengan dilihat oleh semua orang beliau menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya.

Di sisi yang lain Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha mempelajari Hadits asy-Syarif dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah sang putra beliau Abdulllah bin Abbas Rodhiallahu ‘anhu, Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik, dan lainnya.
Kemudian wafatlah Ummu Fadhl Rodhiallahu ‘anha pada masa khalifah Ustman bin Affan Rodhiallahu ‘anhu setelah meninggalkan kepada kita contoh yang baik yang patut ditiru sebagai ibu yang shalihah yang melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas Rodhiallahu ‘anhu; kyai umat ini dan Turjumanul Qur’an (yang ahli dalam hal tafsir al-Qur’an), Begitu pula telah memberikan contoh terbaik bagi kita dalam hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian yang mampu menjatuhkan musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling keras permusuhannya.

Sumber : Mengenal Shahabiah Nabi karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly

Al Hudzaifah 23 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment
Sebab Turunya Ayat
Dalam Perang Badar yang berkecamuk antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Abbas berhasil ditawan oleh Abul Yusr, Ka’ab bin Amru, yang menurut Ahli sejarah kedua tangannya kurus dan perawakannya juga lemah, sedangkan Abbas seorang yang tinggi besar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bertanya keheranan, “Ya Abal Yusr, bagaimana kau bisa menawan Abbas?”
“Ya Rasulullah, aku dibantu oleh seorang yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudah itu (lalu ia mengutarakan ciri-ciri dan perawakan orang itu),” jawab Abul Yusr.
“Kau dibantu oleh seorang malaikat yang pemurah,” sabda Rasulullah.
Ketika Abbas jatuh sebagai tawanan, pertanyaan pertama yang terlontar adalah tentang keadaan Muhammad kepada yang menawannya, “Bagaimana keadaan Muhammad dalam peperangan ini?”
“Allah memuliakan dan menenangkannya,” jawabnya.
“Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?” tanya Abbas
“Rasulullah melarang kami membunuhmu,” jawabnya.
“Itu bukan kebaikannya yang pertama.”

Abbas diborgol dan dikumpulkan bersama tawanan perang lainya. Kiranya, ikatannya terlalu keras sehingga ia merintih kesakitan. Ternyata rintihan itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Berapa orang shahabat yang melihatnya belum tidur, menegurnya, “Wahai Nabi Allah, sudah jauh malam, engkau belum tidur?”
“Aku mendengar riuntihan Abbas,” jawab Nabi.
Orang itu lalu pergi melonggarkan ikatannya, kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.bertanya lagi, “Mengapa sekarang aku tidak mendengarkan rintihannya?”
“Aku longgarkan ikatannya, ya Rasulullah,” jawab shahabat
“Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya,” perintah Nabi.

Pagi harinya, semua tawanan dihadapkan kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Akhirnya, sampai giliran Abbas.
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Abbas, tebuslah dirimu dan keponakanmu aqil bin Abi Thalib, Naufal bin al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amru bin Jahdam karena engkau seorang kaya.”
“Ya Rasulullah, saya ini seorang Muslim, tetapi saya dipaksa ikut berperang oleh mereka,” ucap Abbas.
“Allah saja yang Maha Tahu dengan keislamanmu itu: kalau pengakuanmu itu benar, Allah akan mengganjarmu, namun aku melihatmu dari segi lahirmu maka bayarlah tebusanmu itu.”
‘Aku tidak mempunyai uang, ya Rasulullah.”
“Mana uang yang kau simpan pada Ummul Fadhal, isterimu, ketika kau hendak keluar ikut berperang, lalu pesanmu kepadanya, ‘Kalau aku tewas dalam peperangan, uang itu dibagi-bagikan antara kau, Fadhal, Abdullah, Ubaidullah, dan Qatsam.’?” tanya Rasulullah.
“Dari mana kau tahu ini padahal aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapa pun?” tanya Abbas keheranan.
“Allah Subhânahu wata’âla Yang memberitahukan rahasiamu itu,” jawab Nabi.
“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur.”

Pada saat itu, turunlah firman Allah Subhânahu wata’âla.
“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:”Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.,S. al-Anfal: 70)
Abbas berkomentar, “Allah berkenan menepati janji-Nya kepadaku, memberikan kebaikan lebih dari apa yang diambil: 20 uqiyah diganti dengan 20 orang budak. Kini, aku sedang menantikan pengampun-Nya. Aku diberi kuasa mengurus air zamzam dan aku bisa merasa bangga lebih dari itu, meskipun aku memiliki semua harta penduduk kota Mekkah. Kini, aku sedang menantikan pengampunan-Nya.”
Akan tetapi, darimana ia memiliki harta bila membeli dua puluh orang budak dan tiap budak memiliki modal edar yang diperdagangkan?
Ibnu Sa’ad dalam bukunya, ath-Thabaqat al-kubra, menyebutkan bahwa al-Ala’ bin al-Hadhrami mengirimkan kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Harta benda sebanyak 80.000. Belum pernah Nabi menerima lebih dari itu. Kemudian Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengundang kaum muslimin. Begitu mereka melihat timbunan harta itu, penuh sesaklah masjid dengan orang-orang. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan hartra itu seolah-olah tanpa perhitungan dan pertimbangan, masing-masing diberikan segenggam.
Abbas datang, lalu berkata kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam., “Ya Rasulullah, aku telah memberikan tebusanku dan tebusan Aqil bin Abi Thalib dalam perang Badar. Aqil tidak punya uang penggantinya. Berikan aku dari uang ini!”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tertawa lebar sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, “Harta itu diambil seperlunya; yang lain dikembalikan!”
Ia lalu pergi dengan mengambil seperlunya, seraya berucap, “Janji Allah kepadaku, yang satu sudah ditepati dan yang lain aku belum tahu!”

Renungan
Abas bin Abdul Muththalib radhiallâhu ‘anhu, paman Rasululah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan saudara kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.
Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu, membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.
Ia memberikan gambaran kepada mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup mereka jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan mulus kecuali kalau mereka terpaksa.
Pada akhir perundingan, sesudah ia yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit mempertemukan tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan tangan wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai, disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata’ala mudah-mudahan persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan hidayah-Nya.
Ketika Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana. Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh’afin di Mekah yang belum bisa hijrah meninggalkan Mekah.
Abbas patuh kepada perintah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.
Pada permulaan Islam, Abbas banyak melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini, alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.
Ia menjadi tawanan dalam Perang Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.
Tawanan lain harus, membayar uang tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal salehnya.
Pada suatu hari, Khalifah Umar ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. Sesudah diberitahukan bahwa pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu. Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan pemasangan pancuran.
Tiba giliran Umar untuk memperluas masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan hukum agama.
Sikap Umar untuk menggusur rumah Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum muslimin, sesudah Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai paksaan dan kekuasaannya.

Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu 23 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment
“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang”. (Q.,s. al-Anfaal : 7)

Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.

Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu
Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”
Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai’at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, iadilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.
Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazamya itu
Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada’-nya. Ia meninggaldunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma’bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hatimeninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.
Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katamya, ia memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, “Kau lebih baik tinggal di Mekah “.
Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi’, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam.Akan tetapi, Abbastakut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya.”
Ia selalu menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ka’bah. Ka’ab bin Malik mengutarakan, “Kami (saya dan al-Barra’ bin Ma’rur) mencari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, ‘Apakah kalian berdua mengenalnya?’ Kami menjawab, ‘Tidak!’. Ia lalu bertanya, ‘Kalian mengenal Abbasbin Abdul Muththalib, pamannya?’
Kami menjawab, ‘Ya!’ Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, ‘Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!”.
Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di sebelahnya”.
Abbas radhiallahu ‘anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikandalam baiat al-Aqabah. Iaorang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata
“Wahaikaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahuitelah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerangkalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kaliandengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur.”
Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka.Ia lalu berkata lagi, “Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?”.
Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, “Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kamidan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami”.
Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, “Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?”.
“Ya, lengkap,” jawab mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah bersabda, “Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa”.
Keterangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah, yang berucap dengan lantang, “Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!”
Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul Khaththab, “Ya Aba Hafsah,ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!”
“Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik,” ucap Umar.
Akan tetapi, Rasulullah tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, “Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah kaku yucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!” Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.
Pada suatu hari, Abbas pergi berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.telah membemberikan sebidang tanah kepadanya berdekatan dengan tempat kediamannya.
Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata, “Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!”
Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu beliau mengumpulkan kaum muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata’âla dan bersabda, “Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhânahu wata’âla?”
“Engkau, ya Rasulullah!” jawab hadirin.
“Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup.”
Kabilah orang itu datang mengahadap Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah.”
Pernyataan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas radhiallâhu ‘anhu. tentang sabdanya, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku.”
Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh harap, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?”
Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, “Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan.”
Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam., tetapi malah Ali bin Abi Thalib radhiallâhu ‘anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, “Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!”
Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya ,”Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang.”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesemopatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.
Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, “Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Menjawab, “Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!”
Sesudah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.menuiakan risalah Alalh Subhânahu wata’âla dengan baik, manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu.
Abbas hidup terhormat di bawah pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu..
Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai shalat, datanglah Abbas seraya berkata, “Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam..”
Khalifah Umar menjawab, “Aku mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan menaiki pundakku.”
Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu.
Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam itu.

Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian menjadi kecil karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?
Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, “Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu’minin yang belum. Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu’minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid.”
Abbas menjawab, “Aku tidak mau.”
Umar berkata; “Pilihlah satu diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan masjid mereka.”
Abbas berkeras, “Aku tidak mau terima semaunya.”
Umar berharap, “Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.’
Abbas menjawab, “Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka’ab.”

Keduanya pergi menemui Ubai bin Ka’ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.
Ubai berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Subhânahu wata’âla pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, ‘Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.’ Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah Subhânahu wata’âla lalu mewahyukan kepadanya, ‘Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah membangunnya!’ Nabi Daud menjawab, ‘Ya Allah, aku lakukan pada anakku!’ Allah berfirman lagi, ‘Siapa anakmu?””
Khafilah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka’ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, “Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum muslimin!”
Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan shahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu.Umar lalu berkata kepada para hadirin, “Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Alalh memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat orang menyebut-nyebut namaNya?”
Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu menjawab’ “Ya, saya mendengar!” Disambut oleh yang lain, “Ya, saya juga mendengar!” Dari sudut sana ada pula yang menyambung, “Saya juga mendengar!”
Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu lalu berkata kepada Abbas radhiallâhu ‘anhu, “pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu.”
Abbas radhiallâhu ‘anhu berkata, “Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah.”
Memang Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesehjahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum muslimin.
Demikian tokoh-tokoh model “sekolah Rasulullah” dan “sekolah Al-Qur’anul Karim” radhiallahu ‘anhum ajma’in. Mereka angkatan kaum muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.
Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka’ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutrarakan, “Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka.”
Umar berakta, “Ini dia paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim.”
Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, “Ya Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!”
Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata’âla, “Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu”.
Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir.”
Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah Subhânahu wata’âla. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhânahu wata’âla dan mengucapkan selamat kepada Abbas, “Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah.”
Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, “Paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.!”
Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas radhiallâhu ‘anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakkannya Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi’ di Madinah, rahimullah wa radhiallahu’anhu.

Abu Sufyan bin Harits, Habis Gelap Terbitlah Terang 18 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment

Dipublikasi pada Kamis, 31 Januari 2008 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 1258 kali.
Topik: Kisah Sahabat

Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu’awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka …. Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut … !

Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam … ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi’ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa’diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja’far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:
“Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul’alamin .. . !”
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ….

Di Abwa’ kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja’far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
“Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: “Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah”.

Rasulullah pun menjawab:
“Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!”

Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: — “Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini”.

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: “Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!”

Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
“Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!” Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas….

Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan ‘Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.

Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: – “Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!”

Ujar Abu Sufyan bin Harits: – “Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka …! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!”

– yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?

Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti …. Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul’alamin … !

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini….

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.

Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya

berseru: “Hai manusia … ! Saya ini Nabi dan tidak dusta… ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib … !”

Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja’far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.

Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.

Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling …. Kiranya didapatinya seorang Mu’min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.

Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: “Siapa ini … ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits… !” Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan “saudaraku”, hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ….

Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya: -

“Warga Ka’ab dan ‘Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menejuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridla;in Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali”.

Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya… !

Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi’ sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:

“Aku sedang menyiapkan kuburku ….”.

Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: — “Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa…!”

Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini …

Abu Sufyan bin Harb 18 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya diatas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Anfaal: 36-37)

Menurut keterangan beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Sufyan bin Harb radhiallâhu ”anhu.

Abu Sufyan bin Harb terkenal sebagai salah seorang tokoh Quraisy pada zaman Jahiliah.

Dia seorang saudagar terkenal, banyak mengenal keinginan pasar. Sebagai tokoh masyarakat Quraisy, ia banyak mengetahui gaya hidup masyarakatnya. Ia juga seperti yang dikatakan banyak orang, antara lain al-”Abbas bin Abdul Muththalib, senang dipuji dan dibanggakan orang.

Ia dilahirkan sepuluh tahun sebelum terjadinya penyerbuan tentara gajah ke Mekkah. Ia sering memimpin kafilah perdagangan kaum Quraisy ke negeri Syam dan ke negeri ”ajam (selain Arab) lainya. Ia suka keluar dengan membawa panji para pemimpin yang dikenal dengan ”Al-”Uqab”. Panji itu tidak dipegang melainkan oleh pemimpin Quraisy. Kalau terjadi peperangan, panji itu pun hanya dipegang olehnya.

Putranya, Mu”awiyah bin Abi Sufyan radhiallâhu ”anhu adalah seorang penulis wahyu. Ia pernah diangkat menjadi gubernur negeri Syam sebelum pemerintahan Khalifah Umar ibnul-Khaththab radhiallâhu ”anhu. Putrinya, Ramlah binti Abu Sufyan radhiallâhu ”anha. (Ummu Habibah), adalah istri Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam . Dan termasuk salah seorang dari Ummahaatul Mukminin radhiallahu ”anhunna.

Ummu Habibah, istri Abdullah bin Jahsy, pergi berhijrah ke negeri Habasyah bersama dengan suaminya. Di negeri nun jauh itu tiba-tiba suaminya tergoda masuk agama Nashrani. Karenanya, ia minta cerai. Sesudah berakhir ”iddahnya, Raja Najasyi memanggilnya seraya berkata kepadanya, “Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam telah menulis surat kepada saya untuk mengawinkan anda dengan beliau” .

Ramlah lalu berkata, “semoga Allah akan menggembirakan dan membahagiakan Paduka tuan juga!”

Ramlah pun akhirnya menjadi isteri Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam. Ketika Abu Sufyan mendengar berita perkawinan puterinya itu dengan Rasulullah, ia berkata, “Unta jantan ini semoga tidak dipotong hidungnya!”

Abu Sufyan mendengar dakwah yang dikumandangkan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan ternyata dia merupakan orang yagn paling gigih melawan dan memeranginya. Dia pernah juga menyertai delegasi kaum Quraisy yang dikirim menemui Abu Thalib, meminta kepadanya supaya mau menyerahkan keponakannya (Muhammad Shallallahu ”alaihi wasallam) untuk disembelih oleh mereka, dengan syarat akan menggantikannya dengan seorang pemuda Quraisy lainya yang mereka pandang lebih mendatangkan keberuntungan bagi mereka semua.

Dia juga pernah mengadakan persekutuan jahat dengan pemimpin Quraisy lainnya terhadap Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan kaum muslimin, dengan mendatangkan surat pernyataan memblokade Bani Hasyim, yaitu tidak mengadakan hubungan perkawinan dan jual-beli dengan mereka.

Tiba saatnya Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan kaum muslimin pergi berhijrah ke Madinah. Ternyata, kaum muslimin hidup aman dan berbahagia di negeri yang tentram ini.

Pada suatu saat, Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam mengetahui bahwa Abu Sufyan sedang dalam perjalanan dari Syam ke Mekkah, memimpin kafilah dagang kaum Quraisy, kaum yang selama lebih dari sepuluh tahun telah menyiksa dan menyengsarakan mereka, yang telah mengusir mereka keluar dari negerinya dan juga merampas harta kekayaannya. Abu Sufyan sendiri terlibat dalam perbuatan jahat dan keji itu.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam memberitahukan hal itu, terutama kepada kaum Muhajirin, “Kafilah dagang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan segera akan melintasi daerah kita. Marilah kita keluar mencegatnya. Barangkali Allah akan menggantikan apa-apa yang telah mereka rampas dari kita dahulu!”

Ketika tiba di perbatasan Hijaz, Abu Sufyan mulai dirundung firasat tidak enak. Ia selalu bertanya kepada setiap orang atau kafilah yang datang dari jurusan Madinah dengan perasaan was-was dan takut. Akhirnya ia mendengar dari salah satu sumber yang meyakinkan bahwa Muhammad telah mengerahkan orang-orangnya untuk mencegat kafilah yang dipimpinnya.

Abu Sufyan lalu membayar seorang kurir untuk mengirimkan kabar tentang hal itu ke kota Mekkah, namanya Dhamdham bin Amru al-Ghifari. Dalam pesannya itu, ia berharap supaya kaum Quraisy mengirimkan pasukannya untuk melindungi kafilah yang dipimpinnya dari serangan Muhammad dan para sahabatnya.

Ternyata diluar dugaan, Abu Sufyan berhasil menempuh jalan keluar dari kepungan Nabi Muhammad Shallallahu ”alaihi wasallam. Ia segera mengirim kurir yang lain untuk menemui kaum Quraisy yang hendak melindungi kafilahnya. Ia berkata, “Kalian keluar untuk menyelamatkan kafilah, harta, dan orang-orang kalian. Kini, semuanya itu sudah diselamatkan oleh Allah. Kami harap kalian segera kembali ke Mekkah”.

Abu Jahal berkata kepada anggota pasukannya , “Demi Allah, kami tidak akan kembali hingga sampai ke Badar. Disana, kami akan berdiam tiga hari tiga malam, bersuka ria, memotong ternak, makan-makan, minum-minuman keras, dan wanita menyanyi dan menari agar bangsa Arab mendengar dan mengetahui perjalanan dan berkumpulnya kami, dan senantiasa menakuti kami. Ayo jalan terus!”

Terjadilah peperangan di Badar antara pasukan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan pasukan yang dipimpin Abu Jahal. Dalam peperangan itu, Abu Jahal dan banyak tokoh Quraisy lain tewas, dan banyak juga yang tertawan. Diantara yang tertawan itu adalah Abul ”Ash bin ar-Rabi”, suami Zainab binti Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam . Kaum Quraisy mengirimkan tebusan untuk pembebasan para tawanannya, sedangkan Zainab binti Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam mengirimkan liontin pemberian ibunya, Khadijah binti Khuwalid.

Setelah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam melihatnya, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya dengan penuh haru, “Kalau kalian ridha melepaskan tawanannya dan mengembalikan hartanya, silahkan!”

Mereka menyambutnya, “Baiklah, ya Rasulullah!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam meminta janji Abul ”Ash bahwa ia akan melepaskan putrinya, Zainab, pergi ke Madinah. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam telah mengirimkan Zaid bin Haritsah dan seorang lainnya dari orang Anshar untuk mengawalnya. Rasulullah bersabda kepada orang itu, “Kalian berdua hendaklah menunggu kedatangan Zainab di Lembah Ya”jaj kemudian menyertainya hingga datang ke sini”.

Sesudah Abul ”Ash tiba di Mekkah, ia langsung memerintahkan Zainab (isterinya) pergi ke Madinah untuk menyusul ayahnya. Sesudah keberangkatannya dipersiapkan, ia meminta kepada saudaranya, Kinanah bin ar-Rabi”, untuk mengawal keberangaktan isterinya itu. Kinanah berangkat di siang hari dengan mengendarai unta, membawa panah dan busurnya, sedangkan sayyidatina Zainab di atas haudaj.

Keluarnya Zainab ini sempat membuat ketegangan di kalangan kaum Quraisy yang baru kalah perang di Badar. Mereka mengejarnya dan berhasil menyusulnya di suatu tempat yang bernama Dzi Thuwa. Orang yang pertama berhasil mengejarnya ialah Hubar bin al-Aswad bin Abdul Muththalib bin Ased.

Kinanah dengan cekatan menghadang Hubar seraya berkata, “Demi Allah, jangan ada yang mendekati kami. Kalau tidak, aku tidak ragu-ragu melepaskan panahku ini”. Orang-orang pun menjauh darinya.

Tak lama setelah itu, Abu Sufyan datang dengan rombongannya hendak melerai kedua rombonga itu. Ia berkata: “Kinanah! Masukkanlah anak panahmu. Kami akan berbicara denganmu”. Ia pun lalu memasukkan anak panahnya ke sarungnya.

Abu Sufyan lalu menasehatinya: “Kamu tidak tepat membawa keluar wanita itu di siang hari, padahal kamu tahu benar apa yang telah dilakukan Muhammad terhadap tokoh kita di Badar baru-baru ini. Dengan mengeluarkan putrinya di siang hari dari tengah-tengah kita, akan menimbulkan anggapan pada masyarakat bahwa kita melakukannya dalam keadaan hina dan lemah. Kami tidak berkepentingan untuk memisahkannya dari ayahnya, namun kami ingin wanita itu dibawa dahulu ke Mekkah, sampai suara-suara yang membicarakan kekalahan perang di Badar itu usai, barulah kamu membawanya keluar secara diam-diam.

Kinanah membawa Zainab kembali lagi ke Mekkah. Sesudah beberapa malam, ketika pembicaraan Quraisy tentang kekalahannya sudah mulai mereda, barulah ia membawa keluar dengan diam-diam dan menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan rekannya itu.

Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufyan telah bertindak bijaksana sekali hingga dapat mengekang amarah kaum Quraisy yang sedang berkobar-kobar dan sekaligus berhasil juga memenuhi keinginan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam untuk mengirimkan putrinya ke Madinah.

Belum setahun dari kekalahanya di Badar, kaum Qurasiy telah berhasil mengarahkan kabilah-kabilah yang ada di sekitar Mekkah untuk emerangi Muhammad. Abrang dagangan dari kafilah yang berhasil diselamatkan dari akum muslimin dahulu itu diapakai sebagfai modal utama untuk membiayai peperangan yang akan mereka lancarkan. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan sendiri. Ia Keluar dengan isterinya, Hindun binti Utbah.

Ternyata, dalam peperangan itu, kaum Quraisy meraih kemenangan karena pasukan panah kaum muslimin melanggar perintah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam untuk tidak meninggalkan kedudukannya di atas Bukit Uhud. Allah Ta”ala ingin memelihara kaum muslimin yang akan mengemban tugas menyebarkan agama-Nya ke seluruh penjuru dunia, agar mereka senantiasa bersatu padu, tidak bercerai berai, dan selalu kompak dan patuh pada perintah pimpinannya.

Sesudah peperangan usai, Abu Sufyan naik ke atas puncak Gunung Uhud seraya berteriak dengan suara keras, “Peperangan berakhir dengan seri, Perang Badar dengan perang Uhud. Pujalah Dewa Hubal, agamamu telah menang!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam bersabda, “Wahai Umar, jawablah mereka dan katakanlah, ”Allah Maha Agung. Mayat orang-orang kami di surga dan mayat orang-orang kalian di api neraka”.

Sesudah Umar menjawab pertanyaannya, Abu Sufyan berkata kepadanya, “Wahai Umar, mari Anda ke sini!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam memerintahkan kepada Umar, “Hampirilah, Umar! Apa maunya?”

Umar pergi menghampirinya, lalu Abu Sufyan bertanya, “Saya mohon kepadamu, wahai Umar apakah pasukan kami telah membunuh Muhammad ?”

Umar menjawab, “Demi Allah, tidak. Dia mendengar bicaramu itu hingga kini”.

Ia lalu berkata dengan tegas: “Saya lebih percaya kepadamu daripada Ibnu Qamiah, yang mengatakan ia telah berhasil membunuh Muhammad!”

Sewaktu ia akan kembali pulang, Abu Sufyan mengatakan lagi, “Kita akan bertemu lagi di tahun yang akan datang di Badar“.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam memerintahkan salah seorang sahabat untuk menjawab tantangan Abu Sufyan itu, “Katakanlah kepadanya, kami akan sambut tantanganmu”.

Abu Sufyan kembali dengan pasukannya. Di tengah jalan, ada seorang yang berkata kepada mereka, “Kita memang telah membunuh banyak pimpinan tertinggi kaum muslimin. Akan tetapi, mengapa kita tidak menumpas sisa-sisanya agar tidak memberikan kesempatan hidup lagi kepada mereka?”

Abu Sufyan termakan oleh pendapat itu. Akan tetapi, belum sempat ia memutar kepala kudanya, ia melihat Ma”bad bin Ma”bad al-Khuza”i datang dari arah uhud. Abu Sufyan lalu bertanya kepadanya, “Ada kabar apa, wahai Ma”bad?”

Ia menjawab, “Muhammad dan kawan-kawanya sedang mengejar-ngejar kalian dengan pasukan yang tiada taranya. Orang-orang yang tidak ikut berperang bersamanya, kini sedang berkumpul dan menyesali diri. Mereka dengan perasaan marah akan mengejar kalian dan membalas dendam atas kekejaman yang derita kawan-kawannya”.

Abu Sufyan mengigil ketakutan. Ia bertanya, “Celaka, Apa katamu?”

Ma”bad berkata lagi, menegaskan: “Menurut pendapat saya, sebaiknya kalian cepat-cepat pulang kembali!”

Abu Sufyan berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami berniat akan kembali dan menumpas sisa tokoh mereka yang masih hidup”.

Ma”bad menasehati mereka, “Saya menasehatimu, janganlah Anda melakukannya!”

Setelah mendengar nasihat Ma”bad, mereka cepat-cepat kembali pulang ke Mekkah.

Abu Sufyan telah mengerahkan pasukannya dan mendatangkannya untuk menyerang kaum muslimin di Uhud. Dia juga telah bertindak sebagai panglima tertinggi dalam peperangan ini sehingga banyak sahabat pilihan Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam yang tewas karenanya, bahkan ia telah berjanji akan melancarkan serangan lagi tahun depan.

Lalu, apa yang mungkin dilakukan sedangkan kekayaan, perlengkapan, dan pasukan mereka tidak terbilang banyaknya?

Memang Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Lahab sudah tewas. Kalau Abu Sufyan termasuk orang yang tewas juga tentu keadaan akan berubah jauh, tentu banyak orang yang menganut Islam dengan terang-terangan.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang Abu Sufyan; ternyata banyak diantara mereka yang memberikan saran supaya dibunuh saja. Ia bertanggung jawab atas tewasanya para sahabat pilihan di medan Uhud. Jadi, kalau ia dibunuh, ini hanya merupakan qishas semata-mata, bukan suatu tindakan kejahatan. Rasululklah Shallallahu ”alaihi wasallam puas atas hasil musyawarah itu.

Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam memutuskan untuk mengirimkan Amru bin Umayyah ad-Dhamri dan seorang dari golongan Anshar pergi ke Mekkah untuk membunuh Abu Sufyan.

Kedua orang itu pergi memenuhi perintah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam.

Amru menceritakan misinya, “Saya keluar bersama rekan saya yang kurang sehat. Saya membawanya diatas untaku hingga mencapai Lembah Ya”jaj, tidak jauh dari Mekkah.

Aku berkata kepada rekanku: “Kita tinggalkan unta kita disini dan kita pergi mencari Abu Sufyan dan membunuhnya. Kalau kamu melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, cepat-cepat pergi ke tempat unta itu dan kembali menemui Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan ceritakan apa-apa yang telah terjadi kepadanya, tidak usah memikirkan aku”.

Kami memasuki kota Mekkah. Aku menyandang sebilah Khanjar (belati). Aku sengaja persiapkan kepada siapa-sapa saja yang menghalang-halangiku. Rekanku berkata kepadanya, ”Apakah tidak sebaiknya kita Thawaf dahulu dan Shalat dua raka”at?”

Saya menjawabnya, ”Biasanya penduduk kota Mekkah duduk-duduk di halaman rumah mereka dan saya mengenali mereka”.

Kami memasuki Baitullah, lalu kami thawaf dan shalat dua raka”at disana, kemudian kami keluar dan melewati tempat mereka duduk-duduk. Ternyata, sebagian dari mereka mengenaliku, lalu berteriak sekeras-kerasnya, ”Itu Amru bin Umayyah”.

Penduduk kota Mekkah keluar mengejar kami dan berkata:” dia tidak datang melainkan utnuk melakukan suatu kejahatan”.

Aku berkata kepada rekanku, ”Selamatkan dirimu!”

Kami melarikan diri keatas gunung, lalu memasuki sebuah gua. Kami bermalam dua hari dua malam disana, menunggu keadaan tenang. Tiba-tiba Utsman bin Malik dengan menunggang kuda ada di pintu goa. Saya keluar dan menikamnya dengan khanjarku. Dia berteriak dengan sekeras-kerasnya sehingga penduduk Mekkah datang menghampirinya, sedangkan saya kembali bersembunyi. Mereka menemukannya sudah dalam keadaan sekarat. Mereka bertanya kepadanya, ”Siapa yang menikammu?”

Dia menjawab, ”Amru bin Umayyah,” lalu ia menghembuskan napas terakhirnya dan tak sempat memberitahukan kepadanya tempat persembunyianku. Kini mereka disibukan mengurusi mayatnya sehingga tidak sempat mencari tempat persembunyianku. Aku tinggal di gua itu dua hari lagi sampai keadaan menjadi benar-benar tenang.

Setelah itu, kami keluar menuju Tan”im, suatu tempat yang tidak jauh dari Mekkah. Disana, saya menemukam mayat Khubaib tergantung diatas sebuah kayu; disekitarnya terdapat beberapa orang pengawal. Saya menurunkan mayatnya, lalu memanggulnya. Belum sampai empat puluh langkah dari tempatnya, mereka sadar dan mengejar saya. Saya meletakkan mayat Khubaib dan melarikan diri, sampai mereka tidak mengejarku lagi. Adapun rekanku telah kembali dengan mengendarai untanya dan menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam mengenai mayat Khubaib, sejak saat itu tidak terlihat lagi, seolah-olah telah di telan bumi”.

Dikisahkan bahwa Abu Sufyan berkata kepada Khubaib ketika hendak dibinihnya, “Ya Khubaib, maukah kau kalau menggantikan tempatmu sekarang, akan kami penggal batang lehernya sedangkan aku duduk dengan keluargaku.”

Abu Sufyan terheran-heran, “Belum pernah aku melihat ada seseorang yang mencintai seseorang lebih dari sahabat Muhammad mencintai Muhammad.” Dia pun lalu dibunuhnya.

Sudah menjadi takdir Allah Ta”ala bahwa Abu Sufyan tidak mati terbunuh. Misi ”Amru bin Umayyah gagal untuk membunuhnya. Abu Sufyan hidup dan berkesempatan untuk mengerahkan para kabilah Arab untuk memerangi Muhammad Shallallahu ”alaihi wasallam. Kali ini, ia bertujuan untuk menyerang kota Madinah. Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam mencium rencana jahat mereka, lalu baginda memerintahkan kaum muslimin untuk menggali parit sesuai dengan saran Salman al-Farisi radhiallâhu ”anhu. Begitu parit itu selesai digali, pasukan Quraisy dibawah pimpinan Abu Sufyan tiba, tetapi mereka tidak berhasil menerobos kota Madinah. Mereka mendirikan perkemahannya di luar parit itu. Pada saat itu, kaum muslimin menghadapi musuh baru dari Madinah yaitu kaum Yahudi. Pada waktu itu Huyai bin Ahthab datang menemui Ka”ab bin Asad, pimpinan baru Quraizhah. Dia sudah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam atas nama kaumnya. Ia lalu menutup pintu bentengnnya dan tidak memberi izin kepada Huyai untuk memasukinya, seraya berkata, ”Kau seorang yang sial. Saya sudah mengadakan perjanjian dengan Muhammad dan ternyata dia tetap setia dengan perjanjiannya itu”.

Huyai menjawab, “wahai Ka”ab, saya datang membawa berita gembira dan kemuliaan abadi. Saya datang kepadamu dengan membawa pimpinan Quraisy dan Ghathafan. Mereka sudah berjanji kepadaku untuk tidak akan meninggalkan negeri ini sebelum menumpas Muhammad dan para sahabatnya”.

Ka”ab menjawab: “Kalau begitu, kau telah mengundang kehinaan abadi!” Celaka kau, wahai Huyai, biarkanlah aku bersama dengan Muhammad!”

Akan tetapi, Huyai tidak membiarkan Ka”ab melepaskan diri dari cengkramanannya, sampai ia mau melanggar perjanjian yang telah dibuat dengan Muhammad Shallallahu ”alaihi wasallam . Dia mengadakan perjanjian dengan Huyai, “Kalau sampai Quraisy dan Ghathafan kembali dan tidak berhasil menumpas Muhammad, saya akan berjanji memasuki bentengmu dan hidup senasib dengan kau!”

Pada saat itu, kaum muslimin menderita ketakutan yang luar biasa karena harus menghadapi dua front: Quraisy dan Ghathafan dari luar serta Yahudi Bani Quraizhah dari dalam, seperti yang dilukiskan dalam Al-Qur”an:

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 10-11)

Malapetaka ini terjadi karena lebih dari dua puluh malam, kedua pasukan yang sudah berhadapan itu tidak dapat berbuat selain menggunakan panahnya masing-masing. Tiba-tiba Nu”aim bin Mas”ud al-Asyja”i datang menemui Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ini sudah masuk Islam, tetapi kaumku belum ada yang tahu. Perintahlah aku sesuka hatimu”.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam menjawab, “Kamu hanya sendirian. Lakukanlah apa yang mungkin kamu lakukan untuk menyelamatkan kami karena peperangan itu tipu daya”.

Nu”aim lalu pergi menemui tokoh-tokoh bani Quraizhah. Kebetulan di zaman jahiliyyah, mereka bersahabat . Nu”aim berkata kepada mereka: “kalian sudah mengetahui hubungan baik antara aku dan kalian”.

Mereka menjawab: “Memang, kami tidak mempunyai kecurigaan sedikitpun terhadapmu”.

Lalu, sambungnya lagi, “Kalian telah membela Quraisy dan Ghathafan melawan Muhammad padahal mereka tidak senasib dengan kalian. Negeri ini adalah tanah airmu; disana terdapat kekayaan, anak-anak, dan isteri-isterimu, dan kalian tidak mungkin bisa meninggalkan semua itu, sedangkan Quraisy dan Ghathafan, kalau mereka melihat kemenangan, mereka akan ribut, kalau mereka melihat lain dari itu, mereka akan melarikan diri ke negeri mereka dan meninggalkan kalian menjadi makanan empuk Muhammad dan kalian pasti tidak akan sanggup melawannya. Janganlah kalian memeranginya sebelum kalian mendapat jaminan dari tokoh-tokoh mereka agar kalian yakin bahwa mereka tidak akan meninggalkan kalian sebelum mereka berhasil menumpas Muhammad”.

Mereka menjawab, “Sungguh, nasihatmu itu tepat sekali!”

Kemudian Nu”aim pergi menemui Abu Sufyan dan tokoh Quraisy lainya, seraya berkata, “Kalian sudan mengetahui hubungan baikku dengan kalian dan kerengganganku dengan Muhammad. Saya mendengar bahwa Bani Quraizhah menyesali tindakannya dan mereka telah mengirim delegasi kepada Muhammad dan menanyakan, ”Apakah Anda mau menerima kalau kami meminta jaminan tokoh-tokoh Quraisy dan Ghathafan, kemudian kami serahkan kepada Anda untuk dipenggal batang leher mereka, kemudian kami dan anda memperkuat persahabatan yang telah ada?”

Tampaknya, tawaran mereka itu diterima baik. Jadi, kalau mereka meminta jaminan tokoh-tokoh kalian, janganlah kalian memenuhinyya meskipun hanya seorang saja”.

Nu”aim lalu pergi menemui pimpinan Ghathafan dan berkata, “Kalian terbilang keluarga dan familiku sendiri”. Ia lalu memperingatkan mereka seperti yang disampaikan kepada pimpinan Quraisy.

Begiru Nu”aim pergi, Abu Sufyan mengirimkan delegasinya dibawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal untuk menemui pimpinan Bani Quraizhah, seraya berkata kepada mereka, “Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus segera melancarkan peperangan untuk menumpas Muhammad”.

Ternyata jawaban mereka persis seperti yang dikatakan Nu”aim, “Kami tidak bersedia berperang bersama dengan kalian kecuali kalau kalian mau memberi jaminan yang meyakinkan kepada kami. Kami khawatir, kalian akan segera kembali ke negeri kalian dan membairkan kami menjadi umpan Muhammad sedang kami berada di negerinya”.

Delegasi Ikrimah kembali dari perkampungan Bani Quraizhah dengan tangan hampa. Ia menyampaikan kepada Abu Sufyan semua yang didengarnya. Lalu, sambut Abu Sufyan, “Demi Allah benar sekali apa yang dikatakan Nu”aim bin Mas”ud!”

Abu Sufyan lalu mengirimkan jawaban tegas kepada Bani Quraiszah, Demi Allah kami tidak akan menyerahkan tokoh-tokoh kami seorangpun juga!”

Berkata tokoh Bani Quraizah yang menerimannya, “Sungguh tepat apa yang dikatakan Nu”aim bun Mas”ud kepada kami”.

Allah Ta”ala mengacau-balaukan rencana jahat mereka, sementara itu, ke perkemahan Quraisy dan Ghathafan dikirimkan angin kencang yang memporak-porandakan kemah dan perlengkapannya, seperti yang dilukiskan Al-Qur”anul Karim:

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)

Abu Sufyan kabur kembali dengan pasukannya ke Mekkah. Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam pada saat itu bersabda, “Kini kami yang akan menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kami lagi”.

Ternyata sabda Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam itu tepat sekali, perjanjian damai antara Quraisy dan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam berhasil ditandatangani.

Dalam kesempatan baik ini, Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam mengirimkan surat dan delegasinya ke seluruh penjuru bumi, mengundang raja-raja dan kepala negaranya untuk masuk agama Islam. Diantara surat-suratnya itu ada yang dikirimkan kepada Heraclius, Kaisar Bizantium, yang dibawa oleh Dahyah al-Kullabi.

Konon, Kaisar bersedia menerima tawaran Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam itu, namun baginda khawatir terhadap reaksi rakyatnya.

Ketika Heraclius ada di negeri Syam kebetulan banyak pedagang dari Mekkah sedang berdagang di sana. Mereka telah dihadapkan kepada baginda beberapa orang, antara lain Abu Sufyan. Heraclius mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya seraya berkata: “Saya akan bertanya kepadamu. Kalau ia berbohong, sangkallah!”

Abu Sufyan berkata mengenang peristiwa itu: “Kalau saya tidak khawatir dicap pembohong, tentu saya akan berbohong kepadanya. Saya ditanyai tentang Nabi, saya berusaha memperkecil perannya, namun baginda tidak menghiraukan keterangan saya itu, lalu tanyanya tiba-tiba:

“Bagaimana kedudukan keluarganya di antara kalian?”
“Keluarganya terbilang keluarga bangsawan”.
“Apakah ada diantara keluarganya yang mengaku Nabi?”
“Tidak!”.
”Apakah ada hak-haknya yang pernah kalian rampas?”
“Tidak”.
“Siapa para pengikutnya?”
”Mereka terdiri atas para orang lemah, miskin, dan anak muda”.
”Apakah para pengikutnya mencintai dan mematuhinya, atau meninggalkannya?”
“Tidak ada yang mengikutinya lalu meninggalkannya”.
“Bagaimana peperangan yang terjadi antara dia dan kamu?”
“Sekali kami menang dan sekali lagi dia yang menang”.
“Apakah dia pernah berbuat curang?”
“Saya tidak pernah mencurigainya. Kini, kami sedang berdamai dengan dia, namun kami tidak saling curiga”.

Heraclius berkata lagi: “Saya bertanya kepadamu tentang nasabnya, Anda mengatakan bahwa dia terbilang keluarga bangsawan dan begitulah para nabi umumnya”.

Saya bertanya kepadamu, apakah ada diantara keluarganya yang mengaku nabi, Anda mengatakan tidak.

Saya bertanya kepadamu, apakah ada hak-haknya yang kalian rampas, lalu dia bangkit untuk menuntutnya, anda mengatakan tidak.

Saya bertanya kepadamu tentang para pengikutnya, anda mengatakan mereka terdiri atas para mustadh”afiin dan fakir miskin, dan memang begitulah pengikut para rasul.

Saya bertanya kepadamu tentang para pengikutnya, apakah mereka mencintainya atau meninggalkannya, anda mengatakan bahwa para pengikutnya mencintainya dan tidak ada yang meninggalkannya. Begitulah lezatnya keimanan apabila sudah memasuki kalbu seseorang, tidak akan sudi keluar lagi.

Saya bertanya kepadamu, apakah ia pernah melakukan kecurangan, anda menjawab tidak. Kalau Anda mau percaya, dia pasti akan menaklukkan bumi yang ada dibawah telapak kakiku ini. Rasanya aku ingin sekali mencuci kedua kakinya. Nah, kini, silahkan anda melakukan tugas-tugas Anda!”

Selanjutnya, Abu Sufyan berkata: ”Aku keluar dari hadapan Kaisar Heraclius dengan rasa takjub, lalu berkata: ”Sungguh menakjubkan keadaan Ibnu Abi Kabsyah ini (yakni Muhammad). Kaisar Romawi merasa takut kekuasaannya akan terancam”.

Akan tetapi, mengapa Abu Sufyan tidak cepat masuk Islam? Apakah ia ragu-ragu akan kejujuran Muhammad?
Raja Romawi tidak mengingkari kenabian Muhammad. Malah, kalau ia ada dihadapannya, tentu ia akan mencuci kedua kakinya.

Sesungguhnya, rintangan utama yang menghalang-halangi Abu Sufyan masuk Islam tidak lain hanyalah soal kekuasaan dan kewibawaan, yaitu kepemimpinan Quraisy. Dia Khawatir semuanya itu akan jatuh ke tangan Muhammad, sampai ada diantara mereka yang nekat berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Qur”an) ini, dialah yang benar di sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab pedih”. (QS.al-Anfaal: 32)

Ternyata Allahlah yang menentukan segalanya itu. Abu Sufyan tidak lama memegang tampuk kepemimpinan atau tongkat komando. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam bahwa Quraisy sesudah perang Khandaq tidak akan mampu menyerang kaum muslimin lagi, tetapi giliran kaum musliminlah yang akan menyerang mereka untuk menaklukkan kota Mekkah.

Memang benteng kaum kafir dan musyrik itu harus dikikis habis dari muka bumi.

Abu Sufyan mengetahui benar apa tujuan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam menaklukkan kota Mekkah. Kali ini, ia pergi seorang diri tanpa pasukan menuju ke Medinah, tidak membawa senjata dan perlengkapan apa pun.

Ia pergi ke Medinah dengan penuh rasa gelisah dan ketakutan. Setiba disana, ia langsung menemui putrinya, Ummu Habibah, isteri Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam ketika ia hendak duduk diatas permadani yang biasa di duduki oleh Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam, putrinya cepat-cepat menariknya dan menggulungnya.

Abu Sufyan marah sekali atas perlakuan putrinya itu dan berkata, “Apakah kau lebih menghargai permadani itu daripadaku?”. Dia berkata lagi,” Putriku, sungguh kamu sudah kerasukan setan!” Dia lalu keluar pergi menemui Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam namun beliau tidak mau menjawabnya sepatah katapun.

Dia lalu keluar dan pergi menemui Abu Bakar, meminta agar ia mau membantunya memperlunak sikap Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam tetapi Abu Bakar radhiallâhu ”anhu menjawabnya dengan tegas, “Saya tidak dapat melakukannya!”

Dia lalu pergi menemui Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ”anhu melihat Abu Sufyan, ia cepat-cepat memasuki kemah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam. Dan memberitahukan hal itu seraya meminta, “Ya Rasulullah, berikanlah izin kepadaku untuk memenggal batang lehernya!”

Abbas radhiallâhu ”anhu mendahuluinya dan berkata, “Ya Rasulullah, saya sudah melindungi dan menjaminya!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam lalu memerintahkan, “Bawa pergilah dia dan bawa kembalilah nanti siang. Kami sudah memberinya perlindungan”.

Siang harinya, Abbas membawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam lagi, Rasulullah menegurnya, “Celaka kau, Wahai Abu Sufyan! Apakah kau belum juga mau sadar bahwa tiada tuhan selain Allah?”.

Abu Sufyan menjawab: “Tentu, hal itu tidak dapat saya menyangkalnya sedikit pun”.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam menegurnya lagi, “Celaka kau Abu Sufyan, apakah kau belum juga sadar bahwa saya Rasul Allah?”

Abu Sufyan menjawab, “Kalau soal ini, rasanya dalam jiwaku masih terdapat keberatan sedikit”.

Abbas lalu membentaknya, “Celaka kau! Ucapkanlah syahadat dengan sebenarnya sebelum kepalamu berpisah dari tubuhmu” .

Dia lalu mengucapkan syahadatain bersama dengannya; telah menyatakan islamnya juga: Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa”.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam lalu menyuruh Abbas supaya menahan Abu Sufyan hingga usai parade militer, ”Tahan dia sampai melihat pawai tentara Allah!”

Abbas berkata kepada Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan senang juga pada pujian. Berikanlah sesuatu yang ia bisa banggakan kepada kaumnya!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam menjawab, “Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, aman; siapa yang memasuki rumah Hakim bin Hizam, aman; siapa yagn memasuki Masjidil Haram, aman; dan siapa yang menutup pintu rumahnya, dia juga aman!”

Selanjutnya, Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Saya mengajak Abu Sufyan duduk diatas sebuah puncak gunung, lalu pawai tentara Allah itu mulai bergerak di hadapan kami, rombongan demi rombongan: Kabilah Aslam, Juhainah, barisan Muhajirin dan Anshar, dan seterusnya. Setelah Abu Sufyan melihat pameran kekuatan itu, ia berkata, ”Sungguh besar kerajaan anak saudaramu itu!”

Saya menjawabnya, ”Celaka kau. Ia bukan kerajaan, tetapi kenabian!”
Abu Sufyan berkata, ”Benar juga!”

Abbas lalu memerintahkan kepada Abu Sufyan supaya segera kembali ke Mekkah dan memperingatkan kaumnya jangan sampai mereka melanggar perintah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam.

Abu Sufyan dan Hakim bin Hizam segera pulang kembali ke kota Mekkah. Setiba di Masjidil Haram, keduanya berteriak-teriak memanggil kaumnya, Wahai kaum Quraisy, pasukan Muhammad telah datang dengan kekuatan yang tidak terbilang besarnya”.

Keduanya berkata lagi, “Siapa yang memasuki rumahku, dia akan aman; siapa yang memasuki Masjidil Haram, dia akan aman; siapa yang menutup pintunya, dia akan aman. Wahai kaum Quraisy, masuklah Islam, kalian akan selamat!”

Allah Ta”ala menakdirkan Abu Sufyan masuk Islam dan menjadi penyeru Islam. Orang yang selama bertahun-tahun menjadi panglima kaum musyrikin, kini sudah menjadi seorang tentara Allah. Ayah Mu”awiyah radhiallâhu ”anhu, penulis wahyu Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam kini sudah masuk Islam. Kini, ia ikut serta menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru bumi yang jauh.

Ayah Ummu Habibah, isteri Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam sudah masuk Islam. Ayah Yazid bin Abi Sufyan, kini sudah masuk Islam. Isterinya pun, yang dinyatakan sebagai salah seorang penjahat perang, telah masuk Islam juga, malah ia telah menghancur luluhkan berhala yang ada dirumahnya, seraya berkata, “Selama ini, kami tertipu oleh kamu!”

Kehidupan Abu Sufyan berjalan mulus dalam pengkuan Islam. Sejarah tidak mencatat sesuatu yang berarti kecuali sesudah wafatnya Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam ketika kaum Muhajirin dan Anshar mengadakan rapat di Saqifah Bani Saa”idah untuk memilih Khalifah kaum muslimin. Ali bin Abu Thalib radhiallâhu ”anhu tidak menghadiri bai”at itu karena sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam . Ternyata kaum muslimin telah memilih Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam .

Abu Bakar adalah laki-laki pertama yang menyatakan beriman kepada dakwah Rasulullah, orang pertama yang mempercayainya ketika kembali dari Isra” dan Mi”raj. Ia berkata kepada orang membawa berita itu kepadanya, “Kalau dia (Muhammad) sudah mengatakan demikian, tentu beritanya itu benar!”

Dia adalah kawan senasib dan sependeritaan dengan Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam ketika berada dalam gua, ketika keduanya hendak berhijrah ke Madinah.

Pada saat-saat kritis seperti itu, Abu Sufyan tampil kepermukaan seraya berkata, “Tampaknya, melihat pencemaran yang sulit dihapus kecuali dengan darah, Wahai keturunan Abdi Manaf. Apa hak Abu Bakar menangani urusanmu?”

Ia lalu datang kepada ”Ali bin Abi Thalib seraya mengulurkan tangannya dan berkata, “Ulurkan tanganmu, saya akan membai”atmu!”.

”Ali bin Abi Thalib membentaknya seraya berkata kepadanya, “Kamu tidak menghendaki dari perbuatan itu selain untuk membangkitkan fitnah. Saya tidak butuh nasihatmu!”

Dalam perang Yarmuk, ia ingin menebus semua dosanya terhadap Islam dan kaum muslimin. Ia berperang mati-matian sampai salah satu matanya tercongkel.

Ia meninggal dunia pada tahun 33 Hijrah di usia 88 tahun pada zaman Khalifah Utsman bin Affan radhiallâhu ”anhu. Jenazahnya dishalati oleh putranya, Mu”awiyah, dan dikuburkan di Baqi”.

Sebab turunya ayat

Menurut Muhammad bin Ishaq dan murid-muridnya, ketika Abu Sufyan berhasil menyelamatkan kafilah Quraisy dari Muhammad Shallallahu ”alaihi wasallam dan para sahabatnya, sementara tokoh-tokoh Quraisy yang ingin melindungi kafilah itu berhasil diterwaskan dalam perang Badar, maka timbullah inisiatif Abu Sufyan untuk mengobarkan peperangan yang lebih dahsyat terhadap kaum muslimin dengan mengerahkan pasukan yang lebih besar dan terlatih, dan menghimpun dana yang lebih banyak, termasuk hasil penjualan barang dagangan dari kafilah yang berhasil diselamatkannya itu. Ia berkata kepada kaumnya: “Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membunuh tokoh-tokoh kalian maka dukunglah kami untuk menuntut balas dengan harta yang dapat kami selamatkan ini”.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya diatas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Anfaal: 36-37)

Renungan

Dirirwayatkan oleh ”Urwah bin az–Zubair bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam :”Ya Rasulullah, apakah engkau pernah merasa menghadapi kesulitan lebih dahsyat dari pada Perang Uhud?”

Beliau menajwab, “Aku telah menghadapi berbagai kesulitan yang lebih dahsyat dari kaummu, terutama ketika aku menawarkan Islam pada hari Aqibah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, namun dia tidak menjawab sepatah katapun. Kemudian, aku pergi dengan perasan pedih dan sedih. Aku tidak sadar, tiba-tiba aku tiba di Qarnits Tsa”alib. Ketika aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat awan sedang memayungiku dan mendengar Jibril memanggilku, ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar omongan kaummu dan reaksi mereka terhadap tawaran-tawaranmu, dan Dia telah mengirimkan Raja Pegunungan kepadamu agar kamu memerintahkan kepadanya apa yang kamu inginkan terhadap kaummu itu!”

Ujar Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam selanjutnya: “Lalu, Raja Pegunungan itu mengucapkan salam kepadaku dan berkata, ”Ya Muhammad, Allah Ta”ala telah mendengar omongan-omongan kaummu terhadapmu. Aku Raja Pegunungan, Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk diperintahkan sesuai dengan yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, aku akan menimpakan pegunungan ini di atas mereka!”

Aku menjawab, ”Tidak, malah aku berharap Allah Ta”ala akan melahirkan dari mereka itu orang-orang yang akan menyembah Allah dan tidak musyrik sedikitpun kepada-Nya”.

Siapa gerangan mereka selalu menghalang-halangi penyebaran dakwah dan menyakiti hati Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam itu? Siapa gerangan orang yang senantiasa menyiksa kaum mustadh”afin di Mekkah dan lain-lain, setelah mereka memaklumatkan Islamnya? Siapa gerangan mereka yang telah mengusir Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam keluar dari kampung halamannya dan menghalang-halangi penyebaran dakwahnya?

Sejarah mencatat nama-nama mereka dan tidak akan melupakannya. Mereka telah mendongakkan kepalanya, menutup rapat pintu hatinya, memejamkan matanya sehingga tidak melihat cahaya kebenaran memancar di hadapannya, dan memalingkan perhatian dari tanda-tanda hidayah dan keimanan.

Adapun tokoh-tokoh sesat yang paling terkenal di antara mereka ialah: Abu Jahal (al-Hakam bin Hisyam), Utbah bin Ra”biah, Syaibah bin Ra”biah, al-Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Mu”ith dan Abu Sufyan bin Harb.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam tidak mau mengutuk dan mendoakan kaumnya agar mendapat siksa seperti halnya umat para nabi yang terdahulu, setelah mereka tetap membangkang tidak mau menyambut dakwah para nabi mereka.

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam bisa saja meneladani para nabi yang sebelumnya, memohon kepada Rabbnya untuk menghukum kaumnya yang jahat dan angkara murka itu, namun baginda sebagai Nabiyur-rahmah hanya bisa mengucapkan: ” semoga Allah akan melahirkan dari mereka keturunan yang mengabdikan diri kepada Allah!”

Sejarah telah mencatat juga kepada kita, berapa banyak dari keturunan mereka orang yang paling gigih memerangi Nabi Shallallahu ”alaihi wasallam dan agamanya. Begitu juga dengan orang yang telah ikut serta menyebarkan agama ini ke seluruh penjuru bumi. Mereka sebagai kaum muslimin, baik sebagai prajurit, panglima, maupun sebagai dai, telah berhasil menyampaikan agama tauhid ini kepada kita.

Ikrimah bin Abu Jahal radhiallâhu ”anhu sebagai contoh, ketika ia menemui Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam untuk menyatakan Islamnya, ia disambut baginda, “Marhaban, selamat datang kepada sang musafir yang muhajir!”

Dia berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yang terbaik yang baginda ketahui supaya aku mengucapkannya!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam memerintahkan, “Ucapkanlah syahadatain!”.

Ikrimah radhiallâhu ”anhu mengucapkan syahadatain, lalu ia memohon ampun atas dosa-dosanya yang lalu dan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam pun memberinya ampun. Kemudian, ia menyatakan janji, “Demi Allah, berapa besar dana yang telah aku keluarkan selama ini untuk menghalang-halangi penyebaran agama Allah, kini aku akan menebusnya dengan pengeluaran yang serupa dalam upaya mengembangkan agamaNya; berapa besar kegigihanku untuk memenangkan agama dan penganut agama itu”.

Ternyata, kesaksianya itu ia penuhi dengan sebaik-baiknya. Ia berusaha menjadi ahli ibadah dan agama yang takwa, dan sekaligus menjadi pahalwan perang yang patut dibanggakan. Akhirnya, ia syahid dalam perang Yarmuk.

Begitu pula dengan Khalid bin Walid radhiallâhu ”anhu, seperti yang dilukiskan oleh Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam kepada para sahabatnya, ketika Khalid masuk Islam. Rasulullah bersabda, “Kota Mekkah telah melemparkan anak tersayangnya pada kalian!”

Sementara itu, Abu Bakar ash-Shidiq radhiallâhu ”anhu berkata: “Kaum wanita kita belum mampu melahirkan anak seperti Khalid!”

Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam menggelarinya “Saifullah” (Pedang Allah) terhadap kaum kafir dan musyrik. Tidak ada yang berani di hadapannya untuk menghadang dakwah kepada Allah.

Begitu pula dengan Abu Sufyan, yang senantiasa menjadi pimpinan tertinggi Quraisy dalam memerangi Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam dan kaum uslimin, Allah Ta”ala berkenan kepadanya memberikan anak-anak yang besar jasanya dalam mengembangkan agama Allah, antara lain; Yazid bin Abi Sufyan yang digelari “Yazid al-Khair”. Ia berperang di pihak Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam di Hunain dan mendapat kemenangan perang di sana sebanyak seratus unta dan empat puluh uqiya (ukuran emas) yang ditimbangkan oleh Bilal. Dalam pemerintahan Khalifah Abu Bakar, ia diangkat menjadi seorang pembantunya, dan ketika hendak pergi ke posnya, Khalifah mengantarnya dengan berjalan kaki.

Diantaranya juga Mu”awiyah bin Abu Sufyan, penulis wahyu Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam.

Sunnguh benar apa yang diramalkan Rasulullah Shallallahu ”alaihi wasallam bahwa agama Islam akan dimasuki oleh banyak umat secara beramai-ramai dan berbondong-bondong.

Lalu, mana para tiran yang angkara murka itu? Mana mereka yang dengan gigih hendak menghalang-halangi penyebaran agama Allah itu? Mana para penguasa diktator yang mengangkat dirinya sebagai tuhan dimuka bumi, yang mendekatkan orang yang dicintainya, dan menyiksa serta menganiaya orang yang dibencinya meskipun tanpa salah dan dosa.

Mana mereka itu sekarang? Mereka sudah pergi setelah menderita kekalahan, baik karena tewas, maupun terusir, sementara agama Allah Ta”ala tetap berjaya, panji kebenaran senantiasa berkibar-kibar dengan megah, sesuai dengan janji-Nya untuk dimenangkan di atas agama-agama yang lainnya (at-Taubah: 33)

Allah Ta”ala juga sudah berjanji, “Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh”. (al-Anbiyaa”: 105)

Apakah ada diantara para tiran abad ke-21, para penguasa angkara murka yang merusak bumi dan merusak semua yang hidup diatasnya, yang mau merenunginya? Apakah mereka belum juga mau sadar bahwa pada akhirnya tentara Allah jugalah yang akan meraih kemenangan akhir? Apakah mereka masih saja belum sadar, sebelum berbagai musibah dan petaka datang bertubi-tubi menimpa mereka?

Sesungguhnya kemenangan Allah sudah dekat sekali. Pada saat itu kaum mukminin akan bersuka cita atas kemenangan Allah itu.

Abu Hurairah 17 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.
add a comment

Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab: عبدالرحمن بن صخر الأذدي‎) (lahir 598 – wafat 678), yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة‎), adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni.

Masa muda

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya.

Menjadi muslim

Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

Peran politik

Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak.

Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu diantara mereka.

Periwayat hadits

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: “Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah”.

Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.

Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa’ Abi Hurairah.

Keturunan

Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi’in terkemuka.

Wafat

Pada tahun 678 atau tahun 59 H, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Baqi’.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.