EMPAT KALI PITU 8 Januari 2009
Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.Tags: empat, pitu, pitulung
add a comment
EMPAT KALI PITU
By: Klowor’s
Sopo wonge sing gelem ngalap pitutur, mongko entuk pituduh. nuli yen gelem ngetokake pitukon, mongko entuk pitulung.
Adalah suatu ungkapan yang didhawuhake oleh syaikhina KH. Maimun zubair, pengasuh pondok pesantren Al-Anwar Sarang. Seperti yang dijelaskan oleh pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin, KH. Yahya cholil Staquf putra pertama dari Almarhum syaikhina KH. Cholil Bisri. Cukup sederhana akan tetapi sarat akan makna, di mana jika ditelusuri lebih dalam masing-masing dari kata tersebut sangat tak ternilai harganya.
Pitulung berarti nasihat berupa semua kejadian atau kata-kata yang mengandung akibat positif bagi siapa saja yang melihat, mengalami atau mendengarkannya sehingga orang orang cerdas dan berakal pasti dapat mengambil hikmah di balik semuanya. Orang bijak mengatakan bahwa orang yang berakal adalah mereka yang dapat menatap masa depan dan mengetahui apa saja yang akan terjadi dengan segala yang telah dialami, dilihat dan didengarkannya.
Hal ini mencakup semua hukum yang berlaku baik dalam suatu tatanan negara maupun agama yang meliputi Al-qur’an dan Al-hadist nabi Muhammad saw. siapapun pasti akan beruntung jika berbuat dengan yang telah diatur didalamnya. mereka akan menjadikanya sebagai rambu-rambu yang harus dipatuhi sehingga akan mendapatkan petunjuk darinya dan sampai pada tempat tujuan denan selamat. sebaliknya yang melanggar dna menerjang akan tersesat bahkan akan tergaelincir dalamjurang kesengsaraan. inilah yang dimaksud dengan kata yang kedua yakni pituduh, hidayah atau petunjuk dari Allah. swt.
Namun tidak sembarangan yang mendapatkan pituduh tersebut. ada yang berupa pitukon, mahar atau syarat yang harus terpenuhi. yakni hanya mereka yang beriman dan bertaqwa kepada allah. swt serta mengimani apa saja yang tercakup dalam rukun iman. termasuk didalamnya adalah iman kepada datangnya hari akhir atau hari kiamat. hari dimana semua amal perbuatan manusia dipertangung jawabkan dan sisapapun tidak akan dapat mengelak persidangan agung yang secara langsung allah. swt sebagai hakim sekaligus eksekutornya. Yang bersalah akan mendapatkan hukuman setimpal dengan kesalahanya dan yang beriman akan mendapatkan bonus pahala sesuai dengan amal kebaikannya.
Oleh karena itu, dengan berbekal iman dan taqwa kepada allah. swt siapapun akan selamat dan akan mendapatkan pitulung atau pertolongan dari allah. swt meskipun bisa saja allah. swt menghukum mereka dengan mencari-cari kesalahan mereka. akan tetapi allah. swt tidak akan berbuat seperti itu karena allah. swt adalah sang eksekutor yang sangat adil dan yang paling adil dengan semua keputusan-keputusanya. mereka yang telah mendapatkan pertolongan akan dengan mudahnya menghadapi dan melewati segala kesulitan dan marabahaya yang akan terjadi di hari akhir nanti. bahkan mereka akan tersenyum melihat yang lain ribut dan kebingungan mencari pertolongan. mereka akan berkata:”inilah (hari)yang telah dijanjikan oleh allah. swt dan terbukti sudah apa yang telah disampaikan oleh para utusan (kepada kalian semua)”.
Semoga allah. swt berkenan memberi akal sehat dan cerdas kepada kita, sehingga kita dapat menjadikan nasihat-nasihat sebagai pedoman agar mendapatkan petunjuk yang benar, serta kita diberikan keimanan dan ketakwaan yang selalu menempel dan menancap dalam hati sehingga nantinya kita mendapatkan dari allah. swt baik hidup didunia maupun di akhirat nanti. amin yaa rabbal aalamiin. Wallaahhu a’lam.
Rembang, 080109
MBAH SODIQ INGIN DICINTA 8 Januari 2009
Posted by ibnu_taheer in Notes.add a comment
MBAH SODIQ INGIN DICINTA
Mbah Sodiq, tokoh kita yang satu ini adalah sosok figur teladan yang sangat disegani, apalagi fatwa-fatwanya seringkali dijadikan sebagai acuan dan pedoman oleh segenap para santri di pondok kita tercinta ini. Di bawah ini adalah sekelumit cerita tentang kisah teladan beliau. Selamat membaca!!!
……..
“Assalaamu ‘alaikum warohmatuullah”. Menengok ke kanan.
“Assalaamu ‘alaikum warohmatuullah”. Menengok ke kiri.
Diam, termenung dan tampak raut wajah penyesalan atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Air mata menetes, mengalir membasahi pipi. Begitulah Mbah Sodiq setiap selesai salat fardlu maupun sunnah. Mungkin Mbah Sodiq teringat masa lalunya yang kelam, mungkin juga sedih menyaksikan nasib bangsa ini atau mungkin juga ingat akan kiamat yang sudah dekat (sinetron kali…) sementara ini baru sedikit amal kebajikan yang telah dikerjakan, padahal banyak dosa yang telah diperbuat olehnya.
”Apa sich yang selalu Mbah Sodiq fikirkan?” Tanya Gogon -seorang santri lugu yang selalu ingin tahu- pada suatu kesempatan.
“Husss!. Nggak pantes tanya begitu sama Mbah Sodiq!” Sela Kang Anhar.
Mbah Sodiq tersenyum, lalu… “Nggak apa-apa”. Tampak keduanya antusias mendengarkan Beliau. “Begini, Cung. Dunia ini sudah tua. Kita tidak tahu apa yang dapat kita kerjakan besok. Maka…., introspeksilah diri kalian”. Mbah Sodiq mengakhiri wejangannya.
“Kamu paham dengan apa yang dimaksudkan Mbah Sodiq?”. Tanya Gogon kepada sohibnya, Kang Anhar. Kang Anhar diam sejenak. “Emm… Begini, Gon. Kita harus memperbanyak amal ibadah kita sejak dini sebelum usia kita serenta dunia ini. Itu yang pertama. Yang kedua, kita tidak tahu kapan kita akan mati. Jadi kita harus cepat-cepat bertaubat, mumpung ada kesempatan. Dan yang terpenting, jangan terlalu bangga dengan apa yang telah kita perbuat. Belum tentu yang kita lakukan selalu lebih baik daripada yang orang lain kerjakan. Begitulah kira-kira maksud Beliau.”
……….
“Teeet…., teeet…, teeeeeeet.”. Bunyi bel pada suatu Ahad pagi, sesaat setelah pengajian tafsir Jalalain. Nampaknya rutinitas Ahad pagi akan segera dilaksanakan, ro’an atau kerja bakti di pondok kami. Mulai menyapu halaman, menguras kamar mandi dan tempat wudlu, membersihkan selokan dan sebagainya.
“Gogon, Paijo, Mbah To, dan Ulin, sapu halaman depan Komplek Anggrek!”. Mbah Sodiq memimpin aktifitas tersebut. “Kak Tho –panggilan akrab Thohari-, ajak anak buahmu nguras kulah depan, bawah Rampai dan WC utara. Kang Asep, aula depan dan halaman depan pondok harus disapu bersih”.
Belum selesai Mbah Sodiq bicara, tiba-tiba Kak Tho nyeloteh. ” Lho, entar meja dan Kursi tempat Pak Kyai mengajar boleh saya bawa pulang dong. Trus sepeda-sepeda yang di depan bisa dikilokan tuch di tempat Gus Topik. Wah, kalo gitu saya saja yang melakukannya, Mbah. Lumayan, bisa buat beli makan di warung Mbok Bariyah”
“Ha…, haa…, haaaa” sorak anggota ro’an sangat kompak. Tenyata jawaban Kak Tho mengundang tawa mereka. Dia tampak kebingungan dengan reaksi mereka. “Dasar samin. Mbok ya jangan dimakan mentah to ngendikane Mbah Sodiq. Maksudnya, kotoran dan sampah yang ada harus disapu sampai bersih. Kalau perlu lantainya dipel sekalian biar kinclong. Gitu…. Paham!”. Kak tho mengangguk tanda mengerti, sementara Mbah Sodiq hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Dan Beliau melanjutkan, “Kang Ipung, yang akan memimpin anggotanya membersihkan got, dan membersihkan daerah sekitarnya. Selamat bertugas!”
Sejam kemudian, aktifitas tersebut selesai. Setelah semuanya dianggap beres, Mbah Sodiq dan kawan-kawan beristirahat sambil menikmati sarapan yang telah disajikan oleh Mbok Bariyah.
Pukul 07:30 bel berbunyi lagi, tanda masuk madrasah di pagi hari. “Ayo, ayo, madrasah, madrasah! Bangun, Kang! Bangun! Saatnya sekolah, saatnya sekolah.” Tampak Kang Ihsan dan Kang Mat Korek berulang kali mengucapkan kata-kata itu, berusaha membangunkan anak-anak, sedangkan mereka yang sudah bangun dan mereka yang sengaja tidak tidur segera berbenah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Madrasah.
Sementara itu, Mbah Sodiq telah mempersiapkan diri untuk melaksanakan salat Dluha. Rutinitas Beliau di saat-saat seperti itu, di mana ketika matahari telah berada sekitar satu ujung tombak di sebelah timur, kita disunnahkan untuk melaksanakan salat tersebut. Dengan khusyu’ dan penuh hidmat Beliau melakukannya, begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain, seperti puasa, salat fardlu, salat sunnah tahajud dan seterusnya. Kehidupannya selalu diisi dengan ibadah dan ibadah agar selalu bisa mendekatkan diri kepada Allah swt Sang Pencipta alam semesta. Semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya. Amien yaa Rabbal’aalamien. Sekian.
By: Klowor’s
Ringkasan Pengasas Empat Mazhab 8 Januari 2009
Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.add a comment
Ringkasan Pengasas Empat Mazhab
Pengasas Mazhab Hanafi – Imam Abu Hanifah (80-150 H / 699-767 M)
Abu Hanifah An Nukman b. Tsabit b. Zufi’at At Tamimi adalah pengasas Mazhab Hanafi. Beliau dilahirkan di Kufah, pada masa pemerintahan Al Khalid b Abd Malik. Sejak dari kanak-kanak lagi beliau telah mengkaji dan menghafal Al-Quran. Untuk mendalami lagi ilmu pengetahuannya tentang Al-Quran, beliau telah berguru dengan Imam Abu A’sim iaitu seorang ulamak yang terkenal pada waktu itu. Beliau juga mempelajari ilmu Fiqh dari sahabat-sahabat Nabi s.a.w, seperti dari Anas b. Malik, Abdullah b. Aufa, Abu Tufail b. Amir dan ramai lagi. Dari sahabat-sahabat ini juga beliau mempelajari ilmu hadis. Beliau sangat tekun dalam mempelajari ilmu Fiqh dari seorang ulama yang terkenal pada waktu itu iaitu Humad b. Abu Sulaiman tidak kurang dari 18 tahun. 10 tahun selepas kematian gurunya (130 H) beliau berangkat ke Mekah pula. Di sana beliau berguru dengan salah saorang murid Abdullah b. Abbas r.a. Imam Abu Hanifah terkenal sebagai seorang yang sangat dalam ilmunya, ahli zuhud, tawaduk dan sangat teguh memegang ajaran agama. Beliau tidak tertarik kepada jawatan rasmi kerajaan dengan sebab beliau pernah menolak jawatan hakim yang ditawarkan oleh Khalifah Al Mansur. Diriwayatkan kerana penolakannya, beliau dipenjarakan hingga ke akhir hayatnya. Beliau wafat pada usia 70 tahun dan dimakamkan diperkuburan Khizra. Pada tahun 450 H / 1066 M didirikan sebuah sekolah agama yang dinamakan Jami’ Abu Hanifah. Diantara kitab karangan beliau seperti Al Musu’un, Al Makha’rij dan Fiqh Akhbar.
Pengasas Mazhab Maliki – Imam Malik B. Annas (93-179 H / 172-258 M)
Imam Malik b Annas adalah pengasas Mazhab Maliki. Beliau dilahirkan di Madinah dan berasal dari Kabilah Yamaniah. Sejak kecil lagi beliau telah menghafal Al-Quran dan ibunya sentiasa memberi dorongan agar beliau bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau mula belajar dari seorang ulama yang terkenal waktu itu yang bernama Ribiah dan mendalami ilmu Hadis dari Ibnu Syihab disamping mempelajari ilmu Fiqh daripada para sahabat. Kerana ketekunan dan kecerdasan fikirannya, beliau terkemuka dalam bidang ilmu Hadis dan Fiqh. Beliau juga sangat berhati-hati dalam memberi fatwa. Beliau akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan sekalian para para ulama sebelum mengeluarkan sesuatukan fatwa. Imam Malik memiliki daya ingatan yang sangat kuat. Pernah beliau mendengar 31 Hadis dari Ibnu Syihab tanpa menulisnya dan bila diminta mengulanginya semula tidak satu baris pun yang dilupainya. Beliau berkata : Ilmu itu adalah cahaya, ia mudah dicapai dengan hati yang takwa dan khusyuk. Beliau juga menasihati agar menjauhkan keraguan katanya. Sebaik-baik perkerjaan ialah yang jelas, jika salah satu dirinya meragukanmu maka kerjakanlah apa yg lebih yakin menurut perkiraanmu. Antara kitab karangan beliau yang termahsyur ialah Al Muwatha iaitu sebuah kitab Hadis dan Fiqh. Imam Malik wafat pada usaha 86 tahun.
Pengasas Mazhab Syafie – Imam Muhammad B. Idris Asy Syafie Al Quraisyi (150-240 H / 717-820 M)
Nama penuh beliau ialah Muhammad b. Idris Asy Syafie Al-Quraisyi pengasas Mazhab Syafie. Beliau dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H bertepatan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Meskipun beliau dilahirkan dalam keadaan yatim dan di besarkan dalam keluarga yang miskin, itu tidak menjadikan beliau merasa rendah diri apa lagi malas. Beliau begitu bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu Hadis dari ulamak hadis yang terdapat di Mekah ketika itu. Pada usaha yang masih kecil lagi beliau telah menghafal Al-Quran. Pada usianya 20 tahun, beliau telah berguru dengan Imam Malik dalam ilmu Fiqh dan Hadis di Madinah. Seterusnya beliau pergi ke Iraq dan berguru dengan sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah. Setelah wafat Imam Malik (179 H) beliau berangkat ke Yaman untuk mengajar ilmu di sana. Selepas itu Khalifah Harun Al Rashid pula mengundang beliau untuk datang ke Baghdad. Pada tahun 198H beliau pergi ke Negeri Mesir dan mengajar di Masjid Amru b. As. Kitab karangan beliau yang mahsyur ialah seperti Al-Um, Amali Kubra, Kitab Risalah dan Usul Figh. Adapun dalam menyusun Usul Fiqh Imam Syafie dikenali sebagai orang yang pertama mempelupuri penulisan dalam bidang tersebut. Akhirnya beliau wafat disana.
Pengasas Mazhab Hambali – Imam Ahmad B. Hambal (164-241 H / 780-855 M)
Nama penuh beliau ialah Abu Abdullah Ahmad b. Muhammad b. Hambal b. Bilal Al Syaibani. Beliau dilahirkan di Baghdad dan dibesarkan dalam yatim oleh ibunya. Ayahnya meninggal semasa beliau masih bayi. Semenjak kecil beliau telah menunjukan sifat dan peribadi yang mulia. Sehingga menarik minat ramai terhadapnya, serta amat tekun dalam menuntut ilmu pengetahuan. Beliau memulai dengan belajar menghafal Al-Quran, Bahasa Arab, Hadis, Sejarah Nabi serta para sahabat dan para tabi’in. Untuk memperdalamkan ilmunya, beliau pergi ke Basrah dan berguru dengan Imam As Syafie. Beliau juga pergi menuntut ilmu ke Mesir dan Yaman. Diantara guru beliau ialah Yusuf Al Hassan, Ibnu Human dan Ibnu Abbas. Beliau banyak mempelajari dan meriwayatkan hadis tetapi tidak mengambilnya, kecuali yang sudah jelas sahihnya. Kitab karangan beliau yang terkenal ialah `Musuad Ahmad Hambali ‘. Beliau mula mengajar ketika berusia 40 tahun. Pada masa pemerintahan Al Muktasim ( Khalifah Abbasiah ) beliau telah dipenjarakan kerana bersependapat dengan fahamam yang mengatakan bahawa Al-Quran itu adalah mahkluk. Beliau dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Al Mutawakkil. Imam Ahmad wafat di Baghdad dalam usia 77 tahun.
MISTERI RUH 8 Januari 2009
Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.add a comment
MISTERI RUH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (ألزمر:42)
Artinya : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”
Nyawa, jiwa atau yang biasa dikenal dengan ruh adalah suatu misteri yang sangat luar biasa. Sejak zaman purba, manusia tak henti-hentinya berusaha mengungkap rahasia ruh tersebut. Sampai sekarangpun tidak diketahui apakah sebenarnya ruh itu? Sungguh suatu misteri yang tak pernah terpecahkan hakikat kebenarannya.
Para ilmuwan saling silang pendapat tentang apa yang menjadi sebab kematian makhluk hidup. Apakah karena detak jantung berhenti? Penemuan mutakhir menyatakan bahwa ketika jantung manusia atau hewan dipotong, ia masih akan berdenyut dan kembang kempis selama beberapa menit lamanya. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan baru : apakah berhentinya detak jantung yang mengakibatkan kematian atau malah sebaliknya kematian yang menyebabkan detak jantung terhenti.
Termasuk misteri ruh adalah kondisi orang tidur. Hal ini lebih aneh lagi bahwa orang bermimpi di saat tidur sebenarnya hidup atau mati. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebenarnya orang tidur itu mengalami suatu kematian. Orang yang telah ditetapkan kematiannya ruhnya akan dilepas oleh Allah swt dan tidak akan pernah dikembalikan lagi pada jasadnya. Berbeda dengan orang mati, ketika seseorang sedang tidur nafsu al hayat (ruh kehidupan) akan ditahan oleh Allah swt, sedangkan nafsu at tamyiz (ruh kesadaran) akan dilepaskan dan dikembalikan lagi saat seseorang bangun dari tidurnya karena memang belum tiba masa ajalnya.
Oleh karena itu, ada persamaan dan perbedaan antara orang mati dengan orang yang bermimpi. Konotasinya adalah nafsu at tamyiz keduanya sama-sama dilepaskan dari jasadnya baik di saat tidur maupun ketika mengalami suatu kematian. Namun jika orang mati, maka kedua ruhnya yakni nafsu al hayat dan nafsu at tamyiznya akan dicabut dan dilepaskan, sedangkan orang tidur hanya ruh kesadaran saja yang diambil oleh Allah swt dan ruh kehidupan dibiarkan bersemayam di dalam jasadnya.
Sayyidina Ali karramallahu wajhahu berkata : “Ketika tidur, ruh kita dibawa ke langit yakni nafsu at tamyiz. Di sana ruh kita bertemu dengan ruh-ruh lain termasuk ruh orang yang sudah mati terdahulu”. Ru’yatu al haq (mimpi yang benar dan nyata) terjadi pada saat ruh berada di langit. Di sana ia akan menjumpai ruh-ruh orang sekelilingnya termasuk ruh para ulama, orang-orang soleh, para wali bahkan para nabi sekalipun. Akan tetapi dalam perjalanan kembali ke jasad, ruh akan diganggu oleh syetan dan dipermainkannya sehingga banyak sekali orang tidur yang bermimpi tidak jelas keberadaannya bahkan seringkali mereka tidak ingat tentang apa yang telah dimimpikannya. Sungguh mimpi yang tidak pernah diharapkan oleh setiap insan.
Semua yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Allah swt. masing-masing terdapat rahasia di belakangnya. Hanya sedikit yang bisa terungkap dan banyak sekali yang masih menyisakan suatu misteri termasuk haliyyah ruh, jiwa atau nyawa manusia. Kita hanya bisa berharap agar diberi pemahaman atas sirru al qodlo’ oleh Allah swt. Para ulama berkata : “Barang siapa bisa memahami rahasia kehendak Allah swt, niscaya tidak ada beban berat dalam hidupnya yang tidak mudah diatasi, takkan ada kesulitan dalam menghadapi segala musibah, apapun bentuknya.”. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani). Nabi Muhammad saw bersabda : “Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian”. (HR. Ad-Dailami)
Allah selalu memberikan pertolongan dan bersama orang-orang yang bertakwa dan terus bertawakkal kepada-Nya. Diriwayatkan dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata : “Hadits ini hasan shohih”)
Dalam riwayat selain Tirmidzi dengan redaksi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dikasihi-Nya. Amin yaa rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawwab.
Rembang, 7 Nopember 2008