Mengenang Ibu 25 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.add a comment
“Kasih ibu…, kepada beta…, tak terhingga sepanjang masa….
Slalu memberi.., tak harap kembali…, bagai sang surya menyinari dunia…”
Dulu , ketika aku masih duduk di bangku kelas I sekolah dasar, Ibu guru ku selalu mengajarkan lagu Sang Surya Menyinari Dunia. Hampir setiap hari lagu itu selalu dinyanyikan bersama-sama anak-anak satu kelasku, sebelum kami semua pulang meninggalkan bangku kelas, untuk kemudian kami pulang menuju rumahnya masing-masing. Kini 26 tahun sudah masa-masa itu aku tinggalkan. Seiring dengan berjalannya sang roda waktu dan bertambahnya usiaku. Lagu itu masih dapat kuhafal dengan jelas dan tak terlupakan satu nada pun. Lagu ini mengingatkanku pada sesosok wanita mulia yang baik hati dan lembut hati, penuh pengertian dan sabar. Sangat memanjakan aku disaat aku masih kecil dulu. Wanita itu adalah Ibuku.
Mengenang sosok Ibu, seolah-olah tidak akan pernah ada habisnya. Bagai sebuah mata air yang sejuk dan menyejukkan. Airnya jernih dan berlimpah, mengalir deras menyusuri kali-kali dan selokan, hingga akhirnya tertampung dalam bejana lautan nan luas. Airnya tak kunjung mengering meskipun kemarau nan panjang menerpa belantara kehidupan ini. Maka tidaklah keliru jika sebuah syair lagu sang surya yang menyinari isi dunia dijadikan sebagai perumpamaan kasih sayang seorang Ibu terhadap anak-anaknya. Sang surya dengan sinarnya menerangi isi bumi, walaupun sejatinya tak pernah sedikitpun bumi dan isinya balik menyinari sang surya.
Demikian juga dengan kasih sayang Ibu. Kasih sayang Ibu yang murni tanpa mengharap balas jasa dari anak-anaknya, terus tercurah sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidup anak-anaknya. Dari semenjak ia dilahirkan dengan bertaruh nyawa Ibunda, hingga ia meninggal dunia. Kasih sayang Ibu senantiasa ada untuk anak-anaknya. Walaupun terkadang dan tidak jarang perlakuan dari anak-anak yang dicintainya bertolak belakang dengan apa yang dicurahkannya. Ibarat pepatah; Air susu dibalas dengan air tuba.
Bicara soal kasih sayang seorang Ibu, identik dengan cinta sejati. Jadi teringat ketika wkaktu dulu aku aktif di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Aku pernah mendengar sebuah Taushiah dari seorang senior ku, dalam suatu acara pengkaderan Taruna Melati;
“Didunia ini tidak ada cinta sejati. kecuali 4 hal yang bisa disebut sebagai cinta nan sejati;
Cinta Alloh SWT kepada hamba-hambanya,
CInta Rasululloh kepada ummatnya,
Cinta Ibu kepada anak-anaknya, dan
Cinta seorang suami terhadap Istrinya.
Selain dari itu adalah bukan cinta sejati. Melainkan Syahwat”.
Aku tidak tau persis bersumber dari manakah Taushiah tersebut. Namun logika dan idealismeku masih bisa menerima hal itu sebagai suatu kebenaran.
Selama hayatnya, Ibuku selalu rajin dan disiplin. Pekerja keras, jujur dan tekun beribadah. Dalam mendidik anak-anaknya, beliau selalu menekankan pada kedisiplinan dan kejujuran, walaupun terkesan keras. Tidak jarang beliau memukul ku jika aku tidak patuh pada perintah dan nasihat-nasihat beliau. Namun Ibuku juga orangnya lembut dan penyayang. Dulu, tak ada satupun permintaanku yang tidak pernah di penuhi. Walaupun harus mengorbankan kepentingannya sendiri.
Teringat saat dulu, ketika aku lulus SD, Ibu sangat bangga sekali terhadapku. Karena pada waktu itu Nilai Ebtanas Murniku (NEM) paling tinggi di Rayon SD tempatku belajar. Nilai rata-rata NEM ku mendapat angak 7. Terutama Nilai Mata Pelajaran Matematika, mendapat angka 8. Tak henti-hentinya Ibuku bercerita kepada orang-orang tentang prestasiku di sekolahan. Apalagi ketika aku di terima di SMP N 01 Margasari, SMP Vaforit di kampungku. Semenjak diterimanya aku di SMP Negeri I, akulah yang selalu di utamakan oleh Ibu. Ketimbang pekerjaan lainnya sperti, mengisi bak kamar mandi, membersihkan rumah, menyapu halaman, mencuci pakaian dan seabreg pekerjaan rumah tangga yang lainnya.
Aku masih ingat sekali, dulu ketika hari pertama aku masuk SMP dan wajib mengikuti penataran P4 pola 45 Jam. Setiap pagi aku harus datang pagi untuk mengikuti upacara rutin, Apel Pagi. Pada waktu itu keluarga kami sedang dalam kesulitan ekonomi yang teramat sangat. Ba’da isya, sehabis sholat witir, Ibu pergi ke rumah Pa De’ buat pinjam uang dan satu kaleng beras. Ibu meminjam uang ke Pa De’ seperlunya saja, Rp. 300,-. Uang itu buat sangu aku berangkat ke sekolah keesokan harinya. Dua ratus rupiah buat naik dokar –kereta kuda- pulang pergi dari kampungku ke Margasari dan sebaliknya, yang seratus rupahnya lagi buat dibelikan gorengan buat lauk dan sekedar minum. Sementara untuk makan siang, Ibu membuatkan aku lontong dari beras yang di pinjam dari Pa De’ tadi. Begitu selama seminggu, selama masa-masa penataran P4 pola 45 jam yang aku ikuti di SMP 01 Margasari.
Ibuku orangnya sangat pekerja keras. Pantang menyerah dan tidak pernah mengeluh. Ketika beliau sedang mengandung adikku 8 bulan, pernah Ibu bekerja sendirian tanpa dibantu oleh seorangpun. Menggendong gabah seberat 75 Kg, dibawa ke penggilingan padi yang jaraknya kurang lebih 1,5 KM dari rumah kami, untuk di jemur kemudian selanjutnya digiling menjadi beras. Pekerjaan itu dilakoni Ibu selama 1 bulan, selama musim panas berlangsung. Sampai kemudian Adik saya perempuan lahir. Adikku lahir ketika aku berusia 10 tahun. Selama masa-masa itu Ibu tetap mengutamakan kepentingan-kepentinganku, walaupun tanpa aku minta sekalipun. Ibu bekerja keras siang dan malam tanpa mengenal lelah. Berjuang mengutamakan anak-anaknya yang sangat disayanginya.
Seingatku, semenjak aku kecil hingga akhir hayatnya Ibu, sehabis sholat magrib, Ibu selalu rajin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kecuali jika beliau “berhalangan” saja, maka beliau libur tidak membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ibu membaca Al-Qur’an mulai dari sehabis sholat magrib hingga masuk waktu sholat Isya. Bahkan, tidak jarang pula sehabis Isya, jika semua pekerjaan sudah selesai, Ibu melanjutkan membaca Al-Qur’an hingga larut malam. Tidak jarang dalam satu bulan saja, Ibu sudah khatam Al-Qur’an dua kali.
Pada tahun 1992, Ibu sakit keras. Ibu terkena kanker rahim dan harus di operasi. Aku benar-benar salut dan kagum sama Ibu, dalam penderitaan sakitnya, beliau masih tetap menyempatkan kebiasaannya membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an,. Yang selalu dilakukannya sehabis magrib hingga terdengarnya azan Isya. Ibu tidak menyerah begitu saja dengan sakitnya. Walaupun musti bolak balik di papah oleh aku dan Bapak ke kamar mandi untuk berwudlu, Ibu bersikukuh untuk tetap rajin beribadah. Benar-benar manusai Super yang sudah teramat langka ditemui dizaman edan seperti sekarang ini.
Begitu istiqomahnya Ibuku yang aku dan sebagian masyarakat di kampungku saksikan. Mungkin Karena kesalehan Ibu inilah, Ibu sangat di segani oleh masyarakat di kampungku. Walaupun Ibuku hanya seorang wanita kampung yang lugu dan sederhana, yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 6 SR dimasa kolonial dulu.
Sebelum waktu ashar menjelang Ibu wafat, aku pergi kewarung sebentar membeli minyak tanah untuk bahan bakar lampu tempel sebagai penerangan di rumah kami. Sudah tiga bulan listrik dirumah kami padam karena sudah 5 bulan kami belum sanggup membayar tagihan listrik. Waktu itu suasana mendung sekali,
“tampaknya akan turun hujan lebat malam ini”. Begitu gumamku dalam hati.
Tiba-tiba entah datangnya darimana, angin yang sangat kencang berhembus menyapu rumah-rumah penduduk. Hingga banyak yang gentengnya kabur beterbangan dan berantakan. Bahkan tidak sedikit rumah-rumah yang jendela kacanya pada pecah lantaran diterjang angin yang sangat kencang tersebut. Aku berteduh di halaman sebuah rumah. Sesaat itu pula, angin yang bertiup sangat kencang tadi langsung berhenti. Ditempat aku berteduh , ada seorang kakek-kakek, namanya pak Kisro. Pak Kisro ini dikenal sebagai penganut aliran kejawen dikampungku. Dia bilang kepadaku waktu itu;
“Man…, Ini kayaknya pertanda tidak lama lagi akan ada Orang Besar yang akan meninggal dunia. Dulu, ketika Bung Karno mau meninggal juga terjadi Angin kencang yang aneh seperti ini” begitu tuturnya.
Tak terbersit sedikitpun kalau yang dimaksud Orang Besar tersebut adalah Ibuku. Setidaknya dalam pandanganku; Ibuku adalah Orang Besar yang sangat aku hormati. Jauh melebihi penghormatanku terhadap para penguasa yang korup dan lalim.
Semenjak ‘asyar tadi Ibu minta tidur dipangkuanku. Setelah terdengar ‘Azan magrib, Ibu minta sholat diimami oleh aku. Sembari berbaring Ibu melaksanakan sholat magrib dan aku sebagai Imamnya. Ibu meng-amini Alfatihah yang aku bacakan, dengan jelas dalam sholatnya. Setelah salam, Ibu minta tidur di pangkuanku lagi.
Ibu meninggal dalam pangkuanku. Ba’da magrib tanggal 3 maret 2003. Sebelum Ibu mengehembuskan nafas yang terakhir, entah dapat inspirasi dari mana, sempat -sempatnya aku menuntun Ibu untuk melafaz kan kalimat Thoyyibah; “Laa illaa haillalloh…”. Lima kali aku membisikan kalimat thoyyibah tersebut di telinga kanan Ibu, lima kali juga Ibu mengikutinya dengan suara yang lirih. Sesaat setelah itu, badan Ibu langsung lunglai dan dingin. Detak jantung dan denyut nadinya berhenti. Kedua tangannya bersilang diatas uluhatinya. Nafasnya sudah tidak ada lagi. Innalilahi wainna ilaihi roji’un. Ibuku sudah meninggal dunia. Sontak saja terdengar tangisan anggota keluargaku yang sangat memilukan. Sekuat tenaga aku membendung tangis ku yang sudah mencekik tenggorokan. “Aku harus kuat….”, begitu gumamku dalam hati. Aku tidak ingin kesedihanku akan memberatkan langkah kepergian Ibu menghadap Illahi robbi.
Masih lekat dalam ingatanku, siang tadi adalah tanggal 1 Muharram. Tahun baru Islam. Malam itu berarti sudah masuk tanggal 2 Muharam. Tahun hijriyahnya aku lupa persisnya. Yang jelas tanggalan masehi waktu itu menunjukkan tahun 2003. Harinya hari senin malam selasa. Setelah sholat isya, aku dengan dibantu para tetangga, mempersiapkan segala sesuatu untuk mengurus jenazah Ibu. Kursi-kursi dan meja semua dikeluarkan. Secara maksimal dan dengan sukarela mereka membantu kami. Aku tidak tau siapa yang mengundang mereka datang ke rumah kami. Tau-tau saja sudah banyak orang-orang dan tetangga-tetangga yang datang membantu.
Entah siapa yang menyiapkan, tau-atu di ruang tengah sudah tersedia kain kafan sepanjang 15 meter.
“Rahman…, biar kami saja yang mengurus kain kafan ini, sebaiknya kamu mandikan saja jenazah Ibu mu”. Bisik beberapa orang Ibu dari Jam’iyah Fatayat NU dan dari Jam’iyah ‘Aisiyah Muhammadiyah kepadaku.
Aku lupa siapa persisnya kedua Ibu itu. Drum-drum air sudah disiapkan berjejer untuk menampung air yang akan digunkanan untuk memandikan jenazah Ibu di halaman samping.
Sesuai dengan ajaran Rosululloh SAW yang aku pelajari selama mengaji, jika memandikan jenazah, maka aku memulai memandikan jenazah Ibu dari anggota tubuh yang biasa dipakai bila berwudlu. Dimulai dari kedua telapak tangan, wajah, mulut, kedua lengan, rambut, kepala dan kedua telinga, dan selanjutnya kedua kaki Ibu, semuanya aku basuh dengan sangat hati-hati. Sebelum aku memandikan jenazah Ibu, terlebih dahulu aku mengurut uluhati dan perut Ibu agar kotoran-kotaran yang masih tersisa dalam perut bisa keluar. Sehingga jazad Ibu dikuburkan sekaligus menghadap Alloh Robbul’izzati benar-benar dalam keadaan suci. Mbak Zaitun, anak pertama Ibu sekaligus kaka perempuanku yang pertama, Ikut membantu memandikan Jenazah Ibu.
Setelah prosesi pen-sucian jenazah ibu selesai dilakukan, aku dengan dibantu Pa’ De’, kakak dari Ibu, dan Paman, Adik paling bungsu Ibu, mengangkat jenazah Ibu untuk di kafankan. Sementara itu diruangan yang lain, dan diberbagai sudut raungan kosong rumah kami, tidak sedikit Ibu-Ibu duduk bergerombol, bersimpuh melingkar mengitari ruangan, melantunkan bacaan Surat Yasin. Sebagaimana lazimnya ada orang yang meninggal dunia. Lantunannya begitu syahdu terdengar mengalun. Mengisi tiap sudut bilik tiap-tiap ruangan di rumah kami. Berbaur dengan suasana haru biru dan terlarut dalam suasana duka cita keluarga yang ditinggalkan Ibu. Terutama aku anak laki-laki Ibu yang paling besar.
Dengan dibantu beberapa ibu-ibu anggota Jam’iyah Fatayat NU dan ‘Aisyiah Muhamamdiyah, aku ikut melakukan proesesi peng-kafanan jenazah Ibu. Proses ini tidak begitu sulit, karena saya dibantu oleh Ibu-Ibu yang sudah piaway dalam hal mengurus jenazah. Tiba-tiba ada seorang wnaita tua, bulik dari Ibu yang datang dengan membawa bedak menghampiri jenazah Ibu yang hampir selesai dikafani.
“Badhe nopo mbah….?” (mau apa mbah..?) Aku bertanya pada wanita itu.
“Ibumu pan ngadep maring Gsuti Alloh. Dipupuri disit. Ben ayu…”. (Ibumu akan menghadap Gusti Alloh, dibedaki dulu. Biar cantik….). Begitu wanita tua itu menjelaskan.
Sebenarnya aku tidak percaya sedikitpun terhadap adat istiadat penduduk kampungku. Apalagi hal itu jelas-jelas menyimpang dari keyakinan ku yang aku percayai. Namun apalah dayaku, disaat suasana hati yang sedang dalam dirundung kedukaan, terkadang orang akan terasa sulit mengungkapkan apa yang ada didalam hati dan benaknya.
Seusainya jenazah Ibu dikafankan, kemudian disemayamkan di ruang tamu. Karena menurut pertimbang kami ruang tersebut relative cukup luas untuk men-solatkan jenazah. Tanpa terasa prosesi pengurusan jenazaha Ibu berlangsung cukup cepat dan rapi. Dari memandikan sampai dengan mengkafankan berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Subhanalloh. Waktu itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.30. Berangsur-angsur, secara bergiliran orang-orang yang hadir mulai mensholatkan jenazah Ibu. Berdiri ber shaf-shaf, empat kali takbir hingga salam. Kemudian berdoa. Ada yang berdoanya panjang, ada juga yang berdoanya pendek saja. Satu rombongan jama’ah selesai mensholatkan jenazah Ibu, kemudian berganti dengan jama’ah yang lain. Begitu seterusnya. Hingga waktu menunjukkan pukul 23.00, barulah rumah kami mulai sepi. Orang-orang dan tetangga yang tadi ramai berdatangan, satu persatu pulang kerumahnya masing-masing. Suasana rumah kami muali agak lengang, tidak seramai tadi sore. Hanya beberapa kerabat dekat Ibu dan teman-teman baik keluarga kami yang masih berada dirumah kami menemani kami yang sedang berkabung.
Selepas itu, aku dengan ditemani adik laki-laki ku yang paling kecil, duduk bersila disisi jenazah Ibu. Aku buka Al-Qur’an kecil yang aku beli dimasa aku SMA dulu. Kemudian aku buka surat Yasin dan kemudian aku bacakan. Jika sudah selsai surat Yasin aku baca, maka aku mengulanginya lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang aku bacakan Surat Yasin disisi jenazah Ibu hingga ‘azan subuh berkumandang. Semenjak saat itu, aku jadi suka dan sering membaca surat Yasin.
Keesokan paginya, Mbakyuku yang kedua, mbak En, anak kedua Ibu, kakakku persis, sudah tiba datang dari Jakarta. Rupanya tadi malam ada sanak kerabat yang interlokal mengabarkan kepada nya kalau Ibu sudah wafat. Jam 6.30 persis mobil yang dinaiki Mbak En masuk ke halaman rumah yang sudah mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melayat serta mengiringi acara penguburan jenazah Ibu yang akan dilaksanakan beberapa saat lagi. Banyak sekali orang-orang yang datang melayat jenazah ibu. Bukan hanya penduduk kampungku saja, ada banyak juga dari tetangga kampung sebelah. Tidak tau persis jumlahnya berapa, tapi yang jelas jalanan didepan rumahku ramai penuh sesak dengan warga yang melayat jenazah Ibu. Subhanalloh…, laksana seorang pejabat saja yang meninggal dunia. Sampai-sampai lalulintas jalan didepan rumah sempat dialihkan ke jalur alternative oleh aparat desa karena macet.
Ibuku hanya orang biasa saja. Sebagai mana perempuan kampung pada umumnya. Namun seingat ku, Ibu selalu berbuat baik pada siapa saja. Suka menolong tetangga, bahkan orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Pernah suatu ketika ada tetangga yang istrinya melahirkan dan tidak mempunyai biaya untuk ke bidan, Ibuku mengiklaskan uang hasil menjual buah mangga milik nya. Jumlahnya tidak terlalu banyak, Cuma Rp 120.000,- saja. Tapi pada saat itu ekonomi keluarga kami sedang memprihatinkan. Kami jarang makan nasi. Setiap hari kami hanya makan bubur atau nasi jagung. Tapi Ibu dengan tidak perhitungan, diberikannya sejumlah uang itu untuk membantu tetangga yang sedang dalam kesusahan.
“Sudahlah.., diiklaskan saja.., yang penting kita sehat. Mereka sedang sangat membutuhkan uang ini. Insya Alloh ada rizki lain buat kita.” Begitu kata Ibu waktu itu. Kenangku dalam hati.
Kini jenazah Ibu sudah siap untuk dibawa ke pemakaman. Seorang tokoh ulama kampung kami sudah menyampaikan taushiah-taushiah dan nasihat-nasihatnya tentang seputar musibah dan kematian kepada segenap orang yang hadir pada hari itu. Sesaat sebelumnya, aku memimpin kedua kakakku dan kedua adikku menyolatkan jenazah Ibu. Kami adalah jama’ah yang paling akhir, yang men-sholatkan jenazah Ibu.
Dengan diiringi tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, keranda mayat yang didalamnya terdapat jenazah Ibu, dengan diusung empat orang pemuda kampung, perlahan-lahan bergerak meninggalkan pelataran rumah kami. Aku berjalan didepan, disebelah kanan keranda yang membawa jenazah Ibu. Orang-orang melarangku untuk ikut mengusung jenazah Ibu. Entah apa alasan mereka, namun yang jelas kepercayaan penduduk di kampung kami; seorang anak dilarang ikut mengusung jenazah orang tuanya yang sudah meninggal.
Sesampainya di pemakaman, disana sudah siap sepetak liang lahat yang akan digunakan untuk menguburkan jazad Ibuku. Semuanya sudah tertata rapi dan sudah siap digunakan untuk acara penguburan jenazah. Setelah keranda dibuka dan jenazah Ibu siap untuk diangkat dan selanjutnya diletakkan ke liang lahat, tanpa dikomando aku langsung turun kedalam liang lahat untuk menerima jenazah Ibu untuk diletakkan menghadap arah kiblat. Kemudian menyusul kakak sepupuku dan kaka iparku turun ke liang lahat. Jenazah Ibu diangkat oleh tiga orang dan dijulurkan kepada kami yang sudah berada di dalam liang lahat. Aku mengangkat bagian tengah jenazah Ibu, aku peluk erat-erat dan dengan sangat hati-hati. Sementara kakak Iparku mengankat bagian kepala, dan kakak sepupuku, anak dari pa De’, mengangkat bagian kaki Ibu. Sesaat setalah jenazah Ibu sudah kami usung bersama-sama, secara bersama-sama pula kami letakkan jenazah Ibu kedalam liang lahat dengan kepala Ibu membujur kearah utara, dan tubuh Ibu dimiringkan dengan muka menghadap kiblat.
Saat-saat yang sangat mendebarkan itu akhirnya datang juga. Dimana saat-saat yang paling penghabisan aku memandang wajah Ibuku. Selanjutnya entah kapan lagi bisa kusaksikan senyum dan wajah yang dimiliki Ibuku. Aku buka seluruh ikatan kain kafan yang mengikat bungkusan jenazah Ibu. Dari ikatan kepala, pinggang dan kaki. Kemudian aku buka wajah Ibu. Ada keanehan waktu aku lihat wajah Ibuku. Tadi pagi ketika mbakyu ku anak Ibu nomor dua membuka wajah Ibu, terlihat jelas banyak bedak diwajah Ibu. Tapi kala itu yang aku saksikan wajah Ibu begitu bersih dan basah, laksana orang yang habis membilas wajahnya dengan air yang segar.
Sesaat aku terpaku menatap wajah Ibu yang sepintas terlihat seperti orang yang sedang tidur. “Ya Alloh…, apakah ini yang disebut dengan perpisahan haqiqi…?. Sebentar lagi aku sudah tidak dapat menemui Ibuku lagi. Wajah Ibuku masih bisa aku tatap dan aku sentuh. Namun beberapa saat lagi semua ini akan berakhir. Entah kapan lagi aku bisa menemui Ibuku…”. Lidah ini terasa kelu. Diam seribu bahasa. Tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Tak ada saupun kalimat yang dapat melukisakan kesedihan hatiku saat itu. Aku hanya mampu berguman dan bertanya-tanya dalam hati saja; “YA Alloh…, kapan lagi aku bisa bertemu dengan Ibuku lagi…..?”.
Tiba-tiba terasa punggungku ada yang menepuk, menyadarka aku dari keterpakuanku. “Rahman.., kamu yang iklas ya..?, Ibumu sekarang sudah saatnya untuk dikuburkan. Jangan dibiarkan berlama-lama. Kasihan Ibumu. Kamu harus Iklas”. Suara pak ustad Mubin, guru agamaku waktu aku SD menyadarkanku. Aku hanya bias mengangguk saja.
Selanjutnya seseorang turun disebelahku. Aku masih diliang lahat waktu Itu. Orang itu lalu mengumandangkan ‘Azan dan Iqomat persis disisi kepala Ibu. Setelah itu papan-papan penutup liang lahat satu persatu mulai diturunkan dan dipasang. Dan tanah-tanah merah yang sedari tadi bergunung-gunung disekitar liang lahat, kini sedikit demi sedikit mulai menimbun jazad Ibu. Aku perhatikan dengan seksama, lama kelamaan jazad Ibu tidak kelihatan. Yang tampak hanyalah gundukan tanah merah dengan sepasang batu nisan bertuliskan nama Ibuku. Kini aku sudah tidak punya Ibu lagi.
Tidak ada tanda-tanda kalau Ibu mau pergi meninggalkan kami semua. Ibu sakit komplikasi yang teramat parah. Liver dan ginjalnya mengalami peradangan. Begitu juga selpaut paru-paru Ibu yang sebelah kanan. Belum lagi ditambah dengan Diabetes yang sudah Ibu derita semejak habis di operasi kandungannya dulu. Dengan sekuat tenaga, semampunya kami semua berikhtiar melakukan berbagai pengobatan untuk Ibu. Kami, terutama aku, tidak putus asa untuk berupaya mencari biaya pengobatan untuk Ibu tercinta. Bahkan tidak sedikit barang-barang rumah kami dan perabot rumah tangga yang kami punyai, kami jual untuk tambahan biaya pengobatan Ibu. Namun Alloh SWT berkehendak lain. Jalan yang terbaik bagi Ibu sudah ditentukan.
Dulu ketika Ibu masih hidup, kehadiran Ibu dirasa bukanlah apa-apa, seakan-akan tidak ada kesan yang istmewa. Cuman kadang aku butuh Ibu jika hanya ada masalah saja. Namun kini, setelah Ibu tiada, selalu hadir perasaan rindu yang teramat sangat kepada Ibu. Seperti perasaan rindunya sang anak kecil yang ditinggal pergi Ibunya kepasar tanpa pamit terlebih dahulu. Anak kecil itu akan menangis meraung-raung mencari Ibunya kesana kemari. Seperti itulah gambaran rasa rinduku pada Ibu yang aku rasakan hingga detik ini. Kian hari kian berat saja kurasa. Hanya mimpi bertemu dengan Ibu lah satu-satunya pengobat rindu ini.
Hingga detik ini, sosok Ibu dalam diriku tidak pernah tergantikn dengan apapun. Bahkan dalam keseharianku, aku masih merasakan kalau Ibuku masih hidup. Tidak jarang jika aku jalan-jalan ke Mall dan pusat-pusat perbelanjaan, aku sering membelikan kain untuk Ibuku. Lucunya, setelah kain itu aku bayar dikasir, aku baru ingat kalau Ibu sudah tiada.
Ya Alloh.., jika Engkau perkenankan Ibuku hidup kembali, walau hanya sesaat. Aku ingin bersujud di kedua kaki Ibuku. Memohon ampun atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanku yang sering aku lakukan dimasa hidupnya. Biarlah semua penderitaan dan kepedihan hidup yang pernah aku alami Engkau timpakan kembali kepadaku. Asalakan dapat kudengar langsung dari mulut Ibuku, menerima dengan iklas semua maaf atas kesalahan-kesalahanku.
Arif Rahman Hakim
Kumpulan Puisi 25 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.Tags: kumpulan, puisi, madah, cinta
add a comment
waktu yang berlalu
aku adalah daun yg gugur
dalam musim semi yg kau ciptakan
mengeringkan asa yg tercipta untuk masa
sedemikian hidup ku rancang
agar tak berserakan
seperti mimpi dalam hening malam
seperti doa yg tersusun rapi dalam ucap-ucap bibir
aku nyanyikan lagu ini
kau menarilah
sedemikian lagu ini aku dendangkan
dengan doa bulan purnama
dengan nafas sang pujangga
berserakan seperti bintang dihari ini
aku bersinar tak akan lelah
seperti mentari
kau teruslah berlari ditengah kerisauan
aku mananti dalam ribuan tahun jarum karat.
BUNGA DIPADANG GERSANG
Dipadang gersang tumbuh sekuntum Bunga Mawar
Tercium semerbak harum bunga
Kau terelok akan keindahannya
Kau tak tahu bunga yang kau petik Bunga Mawar Berduri
Kau simpan dalam ruang tidurmu
Dalam setiap derap langkah dan hari-harimu
Tlah kau lalui bersama dalam suka dan duka
Tanpa praduga dan prasangka Bunga Mawar itu jatuh
Jantungmu berdegup kencang, langkah kakimu pun berhenti
Kau ambil bunga yang jatuh ketanah
Tanpa kau sadari Bunga itu tlah melukaimu
Guinevere
Pada pandang mengayunkan langkah kaki,
berkejaran dengan temaram senja.
Lembayung merah membayang,
lesu, getir dan sunyi menerbangkan
kepak-kepak kepenatan.
Guinevere, pada pelita malam dan
kelip-kelip bintang, hinggap tinggi
kepada malam yang masih panjang.
Sejenak aku melupakan diri,
berbisik angin lembah membisikan getar-getar gairah
kepada api kecintaan untuk dirimu.
Tergeletak dalam layu dan sosok gersang,
embun pagi menghidupkanku untuk tegak berdiri
dan membangun kembali impian.
Di puncak kubah sebuah tempat ibadah,
aku terkapar gamang, kupaksa tuk menatap cakrawala
dalam detak-detak temaram yang menghujam.
Kucari pelita, tengadah ke langit,
tidak ada bintang-bintang,
kubuka baju selubungku, tak kurasakan desiran angin
yang menghidupkan harapan-harapan.
dunia ini telah sepi, cedera dan tinggal sebagai sebuah tanda yang cemas
untuk nanti akan dikatakan sebagai apa.
Guinevere …..
dalam diamku memimpikan pagi,
aku masih terasing pada sebuah malam yang aneh.
Aku diam …. diam ….
hingga kutemukan sebuah bara dalam hatiku,
kemudian aku berdiri telanjang,
aku berkata lirih “sialan Engkau Tuhan”
dan malam pun semakin sepi, sunyi
bersama kelip kecil lentera yang akan segera padam.
Berakhir …….
love
Love is It
Love is unpredictable Love is uncontainable
Love is reliable Love is infallible
Love is right Love is wrong
Love is weak Love is strong
Love is good Love is pure
Love is real Love is sure
Love is jealous Love is pain
Love is lost Love is gained
Love is naked Love is raw
Love is everything Love is all
Love is here Love is there
Love is beautiful Love is fair
Love is great Love is shit
Love is demanding Love is it….
Paul LaFalce
rindu jiwa
Hilangnya asa
Hilangnya rasa
Hilangnya gairah
Itu semua karena cinta
Tapi cinta……..
Bisa membuat indah
Bisa membuat bahagia
Bisa pula membuat derita
Jika kau merindukan-ku
Bacalah puisi-puisi-ku
Melalui itu, kau bisa melihat jiwaku
Akupun merindukan mu
Selalu Rasa Cinta
Setiap saat kututup mataku
Wajahmu selalu terbayang
terbayang wajahmu setiap kali mimpiku
setiap saat kututup telingaku ingin ku melupakan
terdengar suaramu tapi ku tak mampu
Saat kubuka mata ini
Aku sadar aku orang yang tak mampu
bayanganpun hilang kembali aku sadar aku orang yang jelek
yang ada hanya ku sendiri tapi seandainya kau melihat hatiku
dan kenyataan kau tak kembali ada sesuatu dalam batinku
yang sangat ingin ku utarakan
Ingin ku utarakan isi dihatiku padamu..
tapi tak tahu bagaimana caranya
ku sudah tak perduli dengan aturan Rasa cinta yang datang tiba-tiba
yang memandang cinta hanya dengan harta aku tak mampu menolaknya
hanya aku tinggal menunggu jawabmu
Kau tahu aku mencintaimu mungkinkah kaupun menyukaiku
kau tahu aku merindukanmu
tapi mengapa kau jauhi aku
Rasa cinta yang datang tiba-tiba
apa kau ingin menguji aku
aku tak mampu menolaknya
aku pun ingin menjauhinya
Kuselalu rindu
tapi aku tak kuasa menahannya
setiap waktu
Aku hanya bisa menunggu
Walau hari berganti
cintaku berlalu
walau bumi terbalik
walau matahari tenggelam
dan bulan tak nampak
walau seribu maut menjemputku
ku selalu sayang padamu
by: RHR
KAU LAYAK TERBANG
Terpandang disudut kecil tikungan
Sinar coba hangatkan aku
seorang anak perempuan
dari dinginnya angin
menangis tersedu-sedu sendiri
sinar coba terangi aku
meratapi hidupnya ini
dari gelapnya malam
Melihat bekas rumahnya terbakar habis
Sinar coba terangi langkahku
teringat akan kedua orangtuanya
tuk maju kedepan
seraya menangisi takdir hidupnya
sinar rasuki tubuhku
setelah ia lihat temannya bahagia
dari gelapnya hidupku
Sigadis kecil pun berdiri
tak pernah berlalu
dengan gagah berani
butuhkan kamu tuk terangi hidupku
sigadis kecilpun melangkah maju
pernah jauh dariku
menggapai hidup yang baru
sinar
ku butuh kamu
Sebab kau layak terbang
kau layak terbang
kibaskan sayapmu kedepan musuhmu
tunjukanlah dirimu mampu
railah hidup barumu yang menunggu
Cobaan saat ini pasti bisa kau hadapi
dengan gagah berani
usap kini air mata dipipi
dan langkahkan kaki lalui hari
kebahagiaan telah menanti didepanmu
by: RHR
Oh Mama Oh hujan tolonglah aku
Oh mama..oh mama
Hujan datang mengiringi langkahku
basahi tubuhku dengan air surgawi alam ini
Kasihmu lebih berharga
dari seluruh harta di dunia
menyambar membelah angkasa, langitku
kebaikanmu tak terhingga
gemuruh badai dan petir
sepanjang segala masa
menghiasi langitku yang gelap ini
Walau terkadang ku menganggapnya salah
hujan dinginkan aku
kau tak perduli dan masih mencintai
dari panasnya api yang membara
walau terkadang kau sangat tegas
hujan basahi aku
tapi kau penyayang
dari semua amarah dalam dada
hujan tolonglah aku
Maafkan aku yang selalu melawanmu
dan terkadang tak menghiraukanmu
jangan biarkan air matamu mengalir
itu adalah surga bagiku
Maafkan aku Mah…….
by:RHR
Cinta Aku Mengerti
Bila kau mencintai seseorang
Tak perlu katakan lagi
cintailah dengan cara sederhana
aku pun mengerti
karena..
tak perlu banyak bicara
mungkin esok lusa
aku tahu
orang yang kau cintai
adalah orang yang paling kau benci
Semua telah berlalu
kenangan masa lalu
Dan bila kau membenci seseorang
bencilah dengan cara sederhana
Ku akan pergi
karena..
tak akan kembali
mungkin esok lusa
ku mengerti
orang yang kau benci
ku pergi
adalah orang yang paling kau cintai
Walau kenangan ini tak terasa indah
kan selalu kuingat
walau saat-saat bersamamu
tinggalah mimpi bagiku
by: SaRAH
satu canda yg ku ciptakan dari perih
matahari
tertawa
turun kebumi
lihat diri ku yg dilanda mabuknya cinta
ku minta tolong
bakar sisa2 nafas masa lalu
kemudian rangkai rembulan diufuk timur
tapi pindahkan agar
ia terbit di ufuk barat
ahhh…
tak perlu takut akan akhir
semua jadi bahagia
semua yg tertutupi akan terlihat
tak ada samar
tak ada mega
dan juga hanya teriknya iya bernyanyi
dan siapa aku?
Tuhan bertanya dalam malam
dalam mimpi ku
aku menjawab
tapi bisu
keluh bibirku
bukan berontak
tapi tak kuasa aku tertakjub pada dunia
pada mahkluk ciptaan-Nya
pada janjinya aku bariskan awan
yg hitam didepan kemudian yg putih kurangkai belakangan
agar hujan pertama datang
agar aku dapat menagis
agar aku dapat berdoa
susun cerita diujung senja
agar dapat ku berikan kepada
penguasa abad
penguasa hari,waktu dan air mata.
banda aceh
26 may 0
ungkapan hati
daun gugur
yg mendengar langkahku
angin yg berhembus
yg mendengar detak jantung ku
katakan padanya
aku merindukan lamunan
merindukan tawanya
aku mencintainya
melebihi apa pun
melebihi mentari terik
melebihi purnama temaram
tapi tak selebih mencintai pencipta wujud
Puisi Hari Ini
18Dec2007 Oleh: Kenzt dalam: Puisi KenzT
Hari ini aku mencintaimu
Seperti kemarin ketika rasa ini mulai tumbuh
Hari ini aku tetap mengharapkanmu
Seperti mula aku memintamu mendampingku
Hari ini tak ada satupun yang berubah
Hanya waktu yang semakin panjang untuk sebuah penantian
Tapi kupastikan… hari ini tetap kan ada sepanjang masa
Sayap patah
Sayap2 aku yang patah…
Aku bentangkan dengan jiwa terluka
kucoba paksakan namun angin begitu kuat…
aku mulai sadar begitu sempurna purnamaku…
Aku jalan merangkak kelangit
hanya tertatih dan melayang…
jauh diatas kau tak tersentuh…
kubalutkan luka sayapku…
Ku tunggu angin reda diudara
berdiri dipunggung merindukan bulan berharap
menemukan satu jarum diantara ribuan jerami…
oh takdirlah yang menguatkan aku dan akan ku tunggu sempurnaku demi bulan dan jerami emasku hingga sinarnya menerangi sadarku…
pada dia yg selalu
kisah dalam mimpi
kususun walau aku terjaga
walau seribu jarum menusuk jantung
buat diriku terdiam
pada pola tingkahnya
makhluk itu adalah indah
ciptaan surgawi yg mengetuk sanubari
yg membuat ku tersenyum
suaranya tak membuat ku gentar
parasnya membuat ku gemetar
pada hari yg kulalui
dia membuatku lupa pada luka
perihnya yg kutanggalkan
darahnya yg kukeringkan
ketakjubanku yg kuhitung
bukan kesalahan nafas
bukan rasa akan asa
bukan lelah pada malam
karena malam aku melihatnya
dibawah purnama aku memperhatikannya bernari
aku mencintainya
sejelas-jelasnya
seperi embun yg enggan lepas dari ilalang.
medan
30 may 08
Di Bayang Wajahmu
Melalui senja ini,
dalam temaram cahaya matahari
kulihat guratan hatimu terukir
untuk mengatakan sebuah kata.
Kata yang lepas, bebas seperti rajawali yang terbang tinggi
dan suci seperti api malam menyibakan kabut dingin.
Dibayang wajahmu, kulihat segurat senyum
lambaian kasih yang tegar dan tiada gentar menjelang
gelap malam yang mulai membayang.
Dalam temaram senja ini, kulihat pelita matamu
memancarkan harapan-harapan manusiawi yang suci
untuk dunia yang cedera, letih dan penuh kepalsuan.
Sebelum senja ini beranjak gelap, engkau sapa pejalan ini
dengan senyum mu sembari engkau berkata
“dunia ini masih membutuhkan para pejalan sepertimu,
agar tempat-tempat hidup ini menyandarkan maknanya
dapat engkau ceritakan kepada mereka yang masih setia
dan mencintai hidup”
Sejenak aku lihat, temaram senja pun menjadi gelap,
engkau pergi bersama cahaya matahari yang lepas dari cakrawala.
Kemudian sepi mulai bertahta untuk malam-malam yang aneh.
(mengenang dian, jogjakarta Mei 2006)
Sayap patah
Sayap2 aku yang patah…
Aku bentangkan dengan jiwa terluka
kucoba paksakan namun angin begitu kuat…
aku mulai sadar begitu sempurna purnamaku…
Aku jalan merangkak kelangit
hanya tertatih dan melayang…
jauh diatas kau tak tersentuh…
kubalutkan luka sayapku…
Ku tunggu angin reda diudara
berdiri dipunggung merindukan bulan berharap
menemukan satu jarum diantara ribuan jerami…
oh takdirlah yang menguatkan aku dan akan ku tunggu sempurnaku demi bulan dan jerami emasku hingga sinarnya menerangi sadarku…
Sebersit indah lamunan kala lalu
angin berhembus
memberi Nafas pada hidup
Menyibak kabut meredup
Membentang Indah Warna Pelangi
Balut Garis fatamorgana
Kembali membawa kepak masa itu
terteguk kembali gelisah resah
terbuai angan kembali merayu rayu
titian putaran waktu
Kembali memutarkan
Melantunkan lambaian kasih
Sebersit indah lamunan kala lalu
dengan kata tak bersuara
Aku berteriak dalam diam
Tentang rasa ku kepada bidadari
aku merindukan..aku mencintainya..
Tapi semua tertelan hening yang bening
pelita indah bersambut
memancarkan harapan dan impian diri
tapi harus kubunuh ingin yang terlalu mengingini
Kubuiarkan mimpi lepas dari cakrawala nurani
Biarlah semua kembali bisu tanpa jejak sebuah hati
Depok 2 Juli 2008
Original By Erwin Arianto
SEBUAH RUANG RINDU
Aku mencari,..
Didalam ingatanku
Dilubuk hatiku
Dijejak langkahku
Didetak nadiku
Dihembusan napasku
Dialiran darahku
Disepanjang waktu
Dan kutemukan,..
Jiwa yang menyapa
Dalam sebuah ruang rindu
Lalu,..kuserukan gaungnya
Dilengkungan pelangi
Dikerlipan bintang
Dipijaran surya
Digemerlap bulan
Digugusan mega
Dipenghujung lautan
Diluasnya angkasa
Diseluruh penjuru semesta
Hingga detaknya
Mendekap keajaibanmu
–
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas
Madah cinta mimpi
Wahai sayang ku…..
Ujung jarimu ku kucup mesra malam tadi
Arrrghhhhhh…!
Rupa-rupanya aku bermimpi…..!
Salahkah jika aku bermimpi…?
Berganding mesra bersama mu disebuah taman
Lalu mengikat janji asmara dakapan mesra
Sehidup semati hingga keshurga….
Salahkah jika aku bermimpi?
Mengharap cinta mu sepenuh hati dan jiwa-raga
Suka dan duka hidup bersama
Sehingga kehujung dunia…..
Salahkah jika aku bermimpi?
Menyintai diri mu sehingga mati..!
MADAH CINTA RINDU 03
Tahukah kau ….sayang ku?
Masa berlalu begitu perlahan tanpa diri mu..
Diri ku jadi tidak menentu…!
Aku rindu ingin bersama mu
Aku rindu ingin menyentuh mu
Aku rindu senyuman mu..
Aku rindu belai manja mu
Aku rindu nada suara mu
Aku rindu sentuhan mu
Aku rindu belaian kasih mu…
Arrrggghhhhhh…!
Aku dilamun rindu…!
MADAH CINTA LAGU RINDU
Ingin ku nyayikan lagu rindu
Ingin ku luahkan rasa hati ku
Hanya pada mu
Kerana aku rindu
Terlalu rindu…
Aku cinta pada mu!
MADAH CINTA – HARI RAYA IDIL FITRI
Ku ucapkan kepada semua umat islam
Selamat menyambut hari raya idil fitri
Maaf zahir dan bathin
Dan…
selamat bertemu dilain masa
Dan dilain tulisan
MADAH CINTA DAN KARYA SASTERA
Aku tengok….
Mereka bukannya sibuk menulis!
Mereka bukannya sibuk menambahkan hasil karya mereka!
Tetapi….
Apa yang aku nampak ialah…
Mereka lebih sibuk berbincang, bercerita dan berborak pasal teory sastera!
Botol kicap atas meja
Banyak cakap kurang kerja!
Mereka sibuk mengkritik puisi orang lain!
Mereka sibuk mengulas karya orang lain!
Mereka sibuk cakap ini….cakap itu…..!
Namun….memperbanyakkan hasil karya itu sendiri…mereka tidak pentingkan!
Itulah yang telah aku lihat kenyataannya!
Botol kicap atas meja
Banyak cakap malas kerja!
Kalau tukang cakap memang banyak!
Kalau tukang mengulas memang banyak!
Kalau tukang nak betolkan tulisan orang lain memang banyak!
TETAPI….
Tukang mengarang dan meluahkan rasa hati jiwa sendiri…AMATLAH sedikit!
Botol kicap atas meja
Jangan dibiarkan masuk angin
Kan nanti ….tak sedap pulak rasanya!
Aku berpendapat…
Apa yang penting ialah menghasilkan karya sastera itu sendiri!
Yang penting Menghasilkan LUAHAN inspirasi masing2!
LUAHAN…
Demi luahan……
Demi luahan…demi luahan…!
Itulah yang lebih penting!
(samada orang lain suka atau tidak..itu tidak penting!)
Kerana yang sebenarnya…
Apabila kita cuba menghasilkan sebuah hasil karya dengan luahan rasa hati kita….
Kita SEBENARNYA telah bekerja MENGGILAp HATI JIWA KITA SENDIRI…!
Kita sebenarnya telah berusaha melembutkan dan memperhaluskan hati perasaan jiwa kita sendir!
MENGILAP DAN MENCUCI HATI JIWA SENDIRI ITU ADALAH PENTING..!!
Aku kata…
Bekerjalah dan berusahalah mencuci hati jiwa sendiri sepanjang hayat!
Dan aku kata lagi….
Seni tulis sastera itu….adalah salah satu alat pencuci hati!
Alat pelembut hati jiwa sendiri…!
Barangkali …kita TIDAK akan berjaya untuk mencuci hati jiwa SEMUA manusia dengan karya kita!
Barangkali …karya kita TIDAK berjaya memuaskan hati orang lain!
Barangkali …karya kita di tuduh rendah nilai sasteranya!
Barangkali …karya kita dikata…tidak mempunyai nilai mesej yang baik kepada masyarakat!
Barangkali….
Barangkali….
Namun yang pentingnya ialah….
Kita telah berjaya menyentuh perasaan hati jiwa kita sendiri dengan karya kita!
Kita telah berjaya bekerja mengilap dan mencuci hati jiwa kita sendiri dengan hasil karya kita!
Kita telah berjaya melembutkan kerasnya hati kita sendiri dengan hasil karya kita!
ITULAH YANG LEBIH MUSTAHAK!
Kerana itulah…
Saorang seniman itu sebenarnya bekerja memperindahkan hati jiwanya sendiri supaya…lebih berjiwa halus, indah, lembut lagi murni!
PUISI CINTA SUDAH HILANG!
Aku sudah tidak berdaya!
Puisi cinta ku sudah hilang!
Hilang entah kemana..?
Hati ini menjadi begitu membara
Bila mendapat tahu kisah seorang suami celaka yang suka memperbodoh2kan isterinya!
Kesian si isteri itu!
Kisah si isteri yang sering ditipu olih suaminya!
Kisah si isteri yang sering digertak2 olih suaminya…supaya taat dan patuh kepada suaminya yang laparkan wang ringgit serta membesarkan egonya!
Kisah si isteri yang dihalang olih si suami daripada dapat pergi bercampur mesra bersama ahli keluarganya sendiri!
Kisah si isteri yang dilarang olih suaminya dari pergi mengaji al Quran kerumah ibunya!
Kisah si isteri yang dilarang olih suaminya dari mengaji al Quran bersama2 adik beradiknya!
Kisah si isteri yang sering diperbodoh2kan dan digertak2 olih si suami …yang mengunakan hujah2 agama … agar si isteri menjadi bahalul mengikut perintah si suami tanpa usul periksa!!
Kisah si suami yang pandai berpura-pura dan berlagak alim dan warak dihadapan orang lain semata2 untuk mendapat pujian dan wang ringgit dari orang lain!
Kisah si suami yang sering rasa dengki dan busuk hati terhadap kelebihan orang lain!
DAN…
Kerana itulah…
Aku telah kehilangan puisi cinta ku!
MADAH CINTA DAN HARI RAYA IDUL FITRI
Bulan Shawal berkunjung tiba
Ramadhan sudah berlalu pergi…
Takbir hari raya dilaungkan
Memuji Tuhan sekelian alam
Penuh kesyukuran dalam rintihan
Penuh harapan…..
Wajah ceria berpandangan
Saling maaf – bermaafan
Buang yang keruh ambil yang jernih
Bertekad azam didalam dada
Memperbaharui amal dihari muka.
Hidup didunia hanya sementara
Peluang beramal sentiasa terbuka
Pencucui isi dada dari daki dunia
Satu perjalanan keluhuran jiwa
Meniti usia kehari tua.
MADAH CINTA DAN BULAN RAMADHAN KU
Kali ini bulan ramadhan tiba lagi!
Seperti biasa ramai umat islam berpuasa…
Aku tidak pasti berapa ramaikah yang berpuasa kali ini…
Kadang2 aku terfikir…
Cuaca tidak menentu
Kadang2 panas dan kadang2 hujan
Kenderaan begitu sibuk dijalan raya kota
Manusia zaman ini begitu ligat bergerak kesana kesini
Masing2 dengan usaha masing2 cuba mengejar kejayaan kehidupan….
Ada yang stress dan ada yang keletihan
Masih adakah yang sanggup berpuasa di bulan ramadhan ini..???
Masih adakah yang mahu membersih diri fikiran hati dan jiwanya dengan berpuasa di bulan ramadhan..??
Entah..lah!
Aku pun tidak tahu…
Apa yang ku tahu ialah…
Bulan ramadhan sentiasa bakal tiba setiap tahun!
Selagi dunia belum kiamat!
MADAH CINTA SEDIH
Hatiku terluka lagi!
Siapa yang dapat memahami diri ku ini?
Pada sekeping hati nurani
Dan pandangan yang jauh serta sebuah shurga
Satu kebenaran….
Bagai perisai dan sebuah senjata
Pemagar diri yang terluka ini.
Hatiku terluka lagi..!
Disebalik kabus kejahilan dan kedegilan
Mereka2 yang mengambil mudah erti kewujudan
Pada sekeping hati…
Dan sebuah impian kesejahteraan
Yang pasti kekal abadi!
MADAH CINTA SEBUAH TULISAN.
Wahai kawan2 ku…
Dengarlah bisikan kata2 ku ini.
Tulislah wahai kawan2 ku..!
Tulislah madah cinta mu
Tulislah puisi cinta mu
Tulislah apa2 yang telintas dihati mu!
Rasakan getaran suara hati naluri mu
Biarkan ia bersuara menjerit
Biarkan seisi dunia mendengarkannya luahannya
Luahan rasa hati seorang manusia!
Wahai kawan ku…!
Jangan engkau berdiam diri
Jangan engkau hanya menjenguk disana sini
Komentar sana komentar sini!
Bukankah engkau juga mempunyai rasa hati?
Sedikit naluri untuk berpuisi?
Wahai kawan ku…
Percayalah bahawa …
kita cuma insan biasa
cuba meneroka rahasia kehidupan
Sama-sama juga ada kekurangan
sama-sama ada sedikit kepahitan
Didalam merenangi lautan madah cinta ini
cuba membongkar rahasia hakikat puisi cinta!
PUISI CINTA AIR MATA
Jangan engkau titiskan air matamu ……wahai manis ku!
Jangan engkau murungkan wajahmu ….wahai manis ku
Jangan engkau kurungi diri mu ………… wahai manis ku
Kerana aku…..
Tidak akan dapat meneruskan hidup ku ini
Untuk melihat engkau
Terus berduka!
PUISI CINTA TIDAK DATANG LAGI.
Aku tahu
PUISI CINTA sudah mulai pergi
tidak datang lagi
sudah lari jauh dariku
terlalu jauh
entah dimana.
Aku tahu
PUISI CINTA sedang sakit
tidak lagi bangkit
terlalu uzur untuk memandang ku
tidak mahu bersama ku
dan bosan terhadap ku.
Aku tahu
PUISI CINTA mulai benci terhadap ku
Kerana aku….
dan ramai manusia lain…
sudah berhati batu!
PUISI CINTA KENANGAN BERSAMA.
Pada sekuntum mawar yang mekar
dan air sungai yang mengalir
disitu ku lihat
terukir wajah mu
dan tertulis….
kisah cinta kita berdua.
Sebuah nostalgia yang lalu
tidak mudah untuk ku lupakan
dan masih ku simpan erat-erat
didalam sebuah potret
wajah kita bersama.
PUISI CINTA AKU MIMPI.
Semalam aku bermimpi
datang seorang puteri
melafaskan kata-kata cinta nya kepada ku
Dan aku tersadar dari lena ku.
Harum baunya
Maseh sahaja terasa
Dan diri ini
Sering terbuai dek mimpi
Lalu aku sering bertanya
bilakah kita
dapat bertemu lagi….
Mawar dan kupu – kupu
siang iTu…
aQu duduk merenung…
saat itu…
angin bErhembus dengan lembut….
meninggalkan semilir semilir dingin pada kulitku…
maTahari mEmancarkan sinarnya yang terik…
Tiba – Tiba
kuLihat seekor kupu -kupu…
terbang melintasi bunga – bunga yang ada di halaman
sampai pada akirnya dia hinggap di salah satu tumbuhan berwarna merah
yang mempunyai bau harum yang kusebut mawar…
aQu mulai membandingkan sang mawar dan sang kupu-kupu
keduanya sama – sama cantik
namun kecantikannya terbentuk secara berbeda…
sang mawar yang harus di rawat secara hati – hati karena sangat rapuh
namun memiliki duri yang sangat Tajam…
sang mawar yang manja dan rapuh…
sang kupu – kupu yang berasal dari ulat yang sangat jelek dan akirnya
menjadi kepompong yang tak kaLah jeleknya…
namun pada akhirnya menjadi kupu2 yang cantik…
sEmua karena perjuangannya….
sang kupu – kupu yang mandiri dan kuat…
dan aQU pun berpikir…
mana yang lebih baik…
kian kuberpikir,
smakin tak kutemukan jawabannya…
namn akHirnya aQu tau…
keduanya sama2 penting…
saling melengkapi…
sama2 melalui perjuangan untuk menjadi canTik…
sang mawar menumbuhkan duri untuk melindungi dirinya…
sang kupu – kupu membentuk lapisan – lapisan dalam kepompongnya untuk
melindungi dirinya…
dari situ pun aQU sadar…
sETiap perempuanpun mengeluarkan duri untuk melindungi dirinya, walau
terkadang duri itu menusuk dirinya sendiri…
sEtiap perempuan pun membuat Lapisan2 yang di sebut topeng untuk
menutupi kekurangan dirinya….
karena Tak ada ornag yang sempurna…
dan Tidak ada perempuan yang terlahir benar-benar sempurna….
Kecantikan setiap perempuan terbentuk dari proses yang panjang dan
terkadang menyakitkan….
Perempuan cantik tidak hanya di nilai dari penampilan luarnya saja….
namun juga dari hatinya…
karena jika Hatinya bersinar maka di mata orang Lain… ia mEnjadi
cantik sEmpurna…..
Sajak Untuk Kamu
Sahabat…
Adakalanya hidup terpaku di persimpangan
Diam tanpa gerak dengan tatap mata yang kosong
Langkah tergontai tak tentu arah
Semua pasrah…pasrah akan kematian yang semakin mengarah
Rutinitas harian tidak lebih bagai mesin penggerak raga
Robot² tanpa ambisi lalu lalang di setiap pagi
Mereka sk…dengan keskan yang tak pasti
Mereka lelah…lelah untuk sesuatu yang tak terarah
Jiwa² yang lelah ini…
….semakin terkulai lemah…
Mereka ingin singgah di singgasana nan damai
Namun tak ada yang mengerti…
….dan tak ada yang mau memahami…
Hidup dipandangnya tidak lebih seperti budak zaman
…yang tunduk…patuh pada kehendak tuan
Mereka ingin bersandar di pundak kepasrahan
Mereka ingin berjalan dengan tongkat penuh keputusasaan
….tapi tidak ada alternatif lain…
Kecuali berusaha tetap bertahan…
Hampir setiap orang sudah tidak peduli dengan makna hidupnya
Makna hidup bagi dirinya adalah bagaimana agar tidak lapar…
Bagaimana agar tidak haus di muara sungai keegaliteran
Pandangannya hanya sebatas hari ini…
Karena esok hari adalah mimpi
Masa depan hanyalah sebutir angan
Akankah hari esok masih ada untuknya…? ??
Sahabat…
Aku di sini menatap setiap langkahnya
Jejak kaki itu nampak semakin jelas di pematang sawah nan basah
Aku terhenyak… akan setiap jerit tanpa suara
….yang lirih menyisakan isak tangis derita
….dengan nafas tersenggal – senggal
….berusaha menghirup segarnya polutan peradaban
Aku terbelalak atas setiap asa di balik awan jingga
….yang hanya mampu menyuguhkan sensasi penuh kekejaman
….yang hanya mempertontonkan rasa permusuhan
….yang hanya menampilkan impian – impian
Sementara kita hidup berpijak…
….di antara daratan dan lautan yang terbentang
Aku tafakur….
….tafakur atas setiap langkah yang telah kutempuh
Adakah jalan yang ku lalui ini…
….adalah jalan menuju ridlo Illahi
Ataukah sebatas menghabiskan waktu di usia yang tersisa ?
Tentu tidak….
Dan di persimpangan ini kita harus putuskan sebuah sikap
Untuk menjadi umat terbaik…
….yang selalu berpedoman pada keimanan…
Semoga….
….semoga kita bisa menemukan “Akhir Kemuliaan”. Amin
Khayal………
Bayangan yang hadir malam ini………
Melintasi hayal yang terjadi………
Berharap rembulan kan mengetahui……..
Kebimbangan akan isi hati………..
Angin sepoi-sepoi meniup hadirmu……….
Purnama terpancar dalam bayanganmu……..
Berdo’a semoga engkau tahu……….
Segala kegundahan tentang dirimu……..
Rasa rindu yang bergejolak didada…….
Tak tertahan mendobrak sukma………
Akankan harap ini kan bias……
Tak berharap kan jadi khayal semata…..
Jakarta, 26 june 2008 jam 7:28
Fonda
Kerinduan…..
Menyentuh hangatnya cinta………..
Sebagai tetesan embun…..
Senyum yang terlukis indah……..
Mendamaikan hari yang ceria……….
Bergulir damai biru nan merona………
Menghiasi cakrawala dunia………
Bermekaran bunga-bunga surga……..
Terlambangkan hati yang terpana…
Bisikan syair-syair cinta……
Dendangkan sympony ceria…..
Eidelweist yg tersenyum….
Mengisyaratkan suatu makna…..
Kerinduan memenuhi bendungan hati…..
Bergejolak menggugurkan janji…..
Melepas segenap cinta nan suci….
Tak tertahan kerinduan hati…….
(matiin lampu)
Jakarta, 26 juni 2008 jam 9:16
Fonda
Kekasihku yang baik hati
Kekasihku yang baik hati
Kau baik, kau manis, kau cantik
Ku bahagia mengenal dirimu
Terimakasihku atas cinta yang kau berikan
Kunikmati semua kasih sayangmu
Kuterbuai dalam semua cinta mu
Cinta yang murni dan suci
Dan tidak untuk menyakiti
Setiap detik yang terlewati denganmu
Adalah masa yang terindah yang kumiliki
Tak ingin ku menjauh darimu
Termanjakan aku atas kasihmu
Terimakasih untukmu atas semua ini
Ku tak mau ini berhenti
Kuharap ini tidak untuk sesaat
Kuingin ini ada selama aku bernyawa
Kekasihku yang baik hati
Kan kujaga semua ini tak ingin terganti
Ku hanya ingini dirimu disisi
Sampai nanti tiba jiwa ku harus pergi
Terilhami untuk matahariku yang baik hati Terimakasih untuk cinta yang kau beri.
Depok 2 Agustus 2007; 20:58pm
Erwin Arianto
Merekah cinta sekujur badan
Dalam dekapan buana yang mengagumkan
Kuncup putik sari menuai rindu
Yang telah kau semai semenjak bertemu
Angin bisiki untaian kata mesra padaku
Tuntun aku, tuk ungkapkan kalimat mencintai mu
Karena Mulutku terkunci
Bila tatap mata yang indah itu
Merasuk, menusuk, dan memasung relung bathinku
Kuamit jemari mu ajak arungi samudera
Menuju arah cakrawala matahari senja
Menggapai muasal mentari berbinar
Dan aku tak akan pernah resah sedikitpun
Bila jatuh cintaku padamu
Telah kau rengkuh dalam keranjang hatimu
endroadi-On the Way
Sang pencinta
Angin Cinta bertiup menyejukan
Membawa gairah pada sang pencinta
Tentang suatu impian, harapan tentang rasa bergelora
Seperti sang katak berharap kan sang hujan
Dalam sunyi malam
Sang pencinta hanya dapat menanti
Menanti di sudut jiwa menanti sejati
Sejati terwakili oleh jiwa yang suci
Dalam jiwa yang resah sang pencinta menanti
Menanti datang suatu asa yang pasti
Bukan asa yang datang untuk kembali pergi
Tetapi rasa yang untuk berbagi dan menyayangi
Sang pencinta pun semakin lelah
Dengan kalbu yang semakin lemah
Untuk menanti berkawan dengan gelisah
Penantian yang tak usai sudah
Tiba suatu masa datang lah suatu berkah
Bahwa telah datangya seorang putrid hati
Bersama dengan rasa yang dimiliki
Dengan rasa yang akan bersama sampai mati
Untuk melebur dua menjadi satu untuk kekasih hati
Yang tidak dapat terganti sampai nanti.
Dalam Perenungan malam, Hanya membuat suatu arti untuk dunia
Cikarang-Bekasi 23 Augustus 2007 08:00
Erwin Arianto,SE
Sepenggal Waktu Berdetik
Sebuah ingatan
Tersusun rapi
Dalam relung-relung imaji
terhempas di badai fantasi
Sepenggal waktu berdetik
Merambat, merangkak, dan berlari
Sebuah Elegi yang terpatri
Ada seperti tiada, terus teratapi
Kabut diri menjadi pelangi
Tidak hanya berbuih putih
Tapi teraroma Berwarna-warni
sesuatu mulia, hina, tiada lagi
Tetesan air suci
ikut mengenangi
Setelah kata lagi
kini hanya ada sepi
berpalingkah kau kini
Setelah tiada lagi nyanyi puisi
Adalah makna berharap sunyi
mungkin bukan saatnya kita meratapi
Membiarkan semua terjadi
Erwin Arianto
Depok, 15 Agustus
Keindahan Cinta
Cinta…satu kata nan indah mencerahkan jiwa…
begitulah adanya cinta
dan cinta akan senantiasa indah, meski meninggalkan luka dan lara..
Cinta adalah pembelajaran di setiap tahap kehidupan manusia. ia mengajarkan kita untuk mencintai, untuk dicintai, dan untuk menerima setiap hikmah yang diberikan.
Setiap manusia pasti pernah kehilangan, atau setidaknya kehilangan karena ia tidak bisa memiliki
tapi apakah itu menjadikan kita untuk tidak mengenal cinta kembali??
bagaimanapun kita berusaha untuk melupakan, cinta pasti kan selalu hadir
—-
Cinta dulu pernah menyentuhku, cinta terindah yang buatku tersadar tentang arti menyayangi
penuh sahaja dan ketulusan..dan aku sepenuhnya mencintai dia..tapi aku terlalu egois,..aku terlalu mencinta, aku terlalu menginginkan cinta sehingga takdir terlanjur mengambil kepingan itu dan menjauhkan aku dengan dirinya.
cinta kala itu memang serta merta kutinggalkan…
namun..dalam kesunyian dan kesendirian kurasakan hikmah terdalam akan makna cinta : ‘Sang penguasa pasti memberikan yang Terbaik untukku’…begitulah cinta kemudian hidup dalam diriku, dan dalam keyakinanku..
Kini…Entah bagaimana …cinta hadir kembali dalam indahnya…
anugerah terbaik sang Penguasa tercipta lagi,
Dia yang dengan lembutnya buatku tersadar dicintai
…dengan segenap jiwa dan hatinya, memberikan kehangatan untukku
sentuh setiap helai bunga-bunga hatiku
…apakah aku bisa menolak cinta yang begitu bercahaya ini??
tiada keraguan lagi,..dia-lah sang belahan jiwa
aku kan mencintainya sepenuh hati sebagaimana ia juga mencintaiku…
kubiarkan ia merengkuh cintaku
sedalam dalamnya
Cinta…
inilah makna cinta yang sesungguhnya……
Jiwa ini kan selamanya bersandar pada dirinya…dalam kerendahan hati
Indahnya cinta….
—intan—
?!!!
dengan belum begitu pasti,
aku memilih hidup sendiri
cinta
tak menyapaku mesra
dan bahagia
tak kutemui bidadari
wanita
sudah dipesona dunia
dan dosa
dan aku masih senang sendiri
tak perlu basa-basi
tak perlu janji-janji
tak perlu berhawa nafsu-nafsi
ringan beban
dan tanggung-jawab
lepas dan bebas
bagai burung di angkasa luas
Ilahi,
sudah kujulur hawa nafsu berahi itu;
tak seindah mimpi
Ilahi,
aku tak perlu isteri
kuperlu bidadari;
- memurni hidup dan mati
11.5.08
arti sebuah penantian
penantian adalah wujud kesetiaan
kebersamaan yang begitu singkat
membuat kita terikat
cintamu memberiku semangat
tuk jalani hidup yang penuh tipu muslihat
sarang heyo…na mani mogosipoyo
by;joenty
pesonamu
seuntai kata terungkap dari jiwa
ku ulum nada tapi tak bersuara
hanya lewat angin kutulis kata
aku …………………………….
kangen ………………………….
kamu………………………………
cayang…………………………
waktu boleh berhenti
hari boleh lewat
bulan boleh pergi
tahun boleh lewat
dunia boleh berahkir
tapi namamu selalu melekat dihatiku
by:joenty
Lamunanku
Dalam lamunanku..
Ku temukan bayang dirimu
Menari-nari dipelupuk mataku
walau tersapu angin dan berlalu
kuberharap cintamu tak ikut tersapu
Wahai cintaku..
Andai kau ada disisiku saat ini
Mungkin hatiku tak segalau sekarang ini
Aku akan memelukmu dan tak akan ku lepaskan lagi
Hanya cintamu yang buat ku mampu berdiri menatap pagi