jump to navigation

Kisah Abu Nawas 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.
add a comment

Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.

“Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu.”
“Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak.”
“Apa?”
“Raja kujadikan budak!”
“Kenapa kau lakukan itu suamiku.”
“Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara.”
“Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu.”
“Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun AL Rasyid kepadaku,”
“Pasti kau akan dihukum berat.”
“Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan.”

Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan sholat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang. Tidak berapa lama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.
“Ada apa?” tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.
“Huuuuuu…suamiku mati….!”
“Hah? Abu Nawas mati?”
“Iyaaaa…, !” Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar, menyenangkan dan menghibur Baginda Raja. Baginda Raja beserta beberapa pengawal beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia nnmberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu. Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.
“Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?”
“Ada Paduka yang mulia.” Kata istri Abu Nawas sambil mengangis.
“Katakanlah!” kata Baginda Raja.
“Suami hamba, Abu Nawas memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat.” Kata istri Abu Nawas terkata-kata.

“Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas.” kata Baginda Raja menyanggupi. Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata,
“Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku. Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya.”

Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, “Syukuuuuuuuur……. !” Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkurnpul lari tunggang langgang, tertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir.

Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder juga.

“Kau… kau… sebenamya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?” tanya Baginda dengan gemetar.
“Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku.”
“Jadi kau masih hidup?”
“Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang.”

“Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?”
“Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia.”
“Ajarkan ilmu itu padaku…”
Tidak mungkin Baginda, Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri,”
Dasar pelit!” Baginda menggerutu kecewa.

Abu Nawas dan Jeng Juminten 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.
add a comment

Satu hari Sultan merasa sungguh “boring n bete abis”, jadi dia bertanya kepada bendahara,

“Bendahara, siapa yang paling pandai di negeri kita saat ini?”

“Abu Nawas” jawab Bendahara.

Sultan pun memanggil Abu Nawas dan baginda bertitah :

“Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata mesti dimulai dengan huruf ‘J’.

Terperanjat Abu Nawas, tapi setelah berfikir, diapun mulai bercerita:

Jeng Juminten janda judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya-Jakarta.

Jamu jagoannya: jamu jahe.

“Jamu-jamuuu…, jamu jahe-jamu jaheee…!”

Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.

Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan.

Jeng Juminten jerit-jerit: “Jarikku jatuh, jarikku jatuh…”

Juminten jengkel, jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.

Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan,

juara judo.

Jantungnya Jeng Juminten janda judes jadi jedag-jedug.

Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack.

Johny justru jadi jelous Juminten jadi juliet-nya Jack.

Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung.

Julukannya, Johny Jago Joget.

“Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?” joke-nya Johny.

Jakunnya jadi jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten.

“Jangan jealous, John…” jawab Juminten.

Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil jerawatnya Juminten.

Juminten jerit-jerit: “Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil!!!”

Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran.

Jack jegal Johny, Jebreeet…, Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jenong, jadi jontor juga jendol… jeleekk.

“John, jangan jahilin Juminten…!” jerit Jack. Jantungnya Johny

jedot-jedotan,

“Janji, Jack, janji… Johnny jera,” jawab Johny.

Jack jadikan Johny join jualan jajan jejer Juminten.

Jhony jadi jongosnya Jack-Juminten, jagain jongko, jualan jus

jengkol jajanan jurumudi jurusan Jogja-Jombang, julukannya Jus

Jengkol Johny “Jolly-jolly Jumper.”

Jumpalagi, jek……..!!!

Jeringatan : Jangan joba-joba jikin jerita jayak jini

jagi ja…!!!

JUSAH…!!!

Jhe-END

Iblis Makhluk Pertama yang Takabbur 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.
add a comment

Surat al-Isro’, ayat 61-65:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَِدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ قَالَ ءَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِيْنًا (٦۱) قَالَ أَرَءَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ َلأََََََحْتَنِكَنَّ ذُرِّيـَّتـَهُ إِلاَّ قَلِيْلاً (٦۲) قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا (٦۳) وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا (٦٤) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلاً (٦٥)

Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk bersabda kepada kita semua, “ketika Allah ta’ala dawuh kepada malaikat-malaikat dan semua pengghuni langit: Sujudlah kalian semua kepada Adam, kemudian semuanya bersujud kecuali iblis. Dia membangkang bahkan dia membantah, Kenapa saya harus bersujud (hormat) kepadanya (Adam)? Padahal ia Engkau ciptakan dari tanah, sedangkan aku dari api; tanah dan api baik mana? Tanah itu kalau kena api kaku, ubluk-ubluk, tidak bisa apa-apa. Saya minta keterangan; kenapa Engkau memuliakannya sehingga para penghuni langit harus hormat? dia itu siapa? Kemudian iblis bersumpah, Berikanlah saya keenakan, berikanlah saya waktu dan jangan Engkau ambil nyawaku sampai hari kiamat, saya akan terus habiskan anak cucunya hingga yang baik tinggal sedikit. Saya akan ajak semua (anak cucu Adam) ke neraka Jahannam”. “Ya, sudah sana… !” dawuh Allah.

Nah, ini yang jadi misteri. Kenapa iblis diizini Allah. “Ya, sudah sana! siapa saja anak Adam yang ikut kamu, maka akan kusediakan balasan yang sempurna berupa Jahannam tempatnya. Bujuklah, bujuklah siapa saja dari anak cucu Adam semampumu; gembori dengan suaramu yang halus atau dengan suaramu yang kasar; kerahkan pasukan-pasukanmu, kerahkan semuanya; pasukan kaveleri (pasukan penunggang kuda) atau invanteri (pasukan pejalan kaki) untuk mengajak semua anak cucu Adam. Ajaklah! sekutukan dengan hartanya (riba) dengan anaknya (zina), janjikan mereka dengan janji yang muluk-muluk (menggiurkan) – dan tidak lain, janji yang kau berikan pasti palsu. Tetapi sungguh, hamba-hamba-Ku yang benar-benar seorang hamba. kamu semua (iblis) tidak akan bisa mengusai mereka, tidak akan bisa. Paling cuma bisa ngiming-ngiming saja. Karena hamba-Ku yang sesungguhnya, cukup hanya Aku, Allah yang dipasrahi (penjaganya), tidak akan butuh siapa pun lagi.”

Di sini ada yang menarik, iblis itu pembangkang sendiri, tidak mau mengikuti perintah Allah untuk bersujud (hormat) kepada nabi Adam. Akan tetapi, ketika iblis meminta waktu kepada Allah Ta’ala untuk memanjangkan umurnya – maka Allah pun mengabulkan permintaannya. Padahal sudah jelas pernyataan iblis, jika panjang umurnya itu hanya untuk menghabiskan, membujuk anak cucu Adam. Anak cucu Adam hanya dapat hidup seratus atau seratus lima puluh tahun saja. Sedangkan iblis, dapat hidup selamanya sampai hari kiamat kelak — perlunya agar mempunyai teman yang banyak di Jahannam nanti. Sebab Adam-lah orang yang membuatnya dilaknat Allah.

Inilah yang harus diperhatikan. Iblis berdosa karena tak mau diperintah Allah seperti malaikat-malaikat–Nya yang langsung hormat kepada nabi Adam. Apa penyebabnya?

penyebabnya dia itu sombong. “Hamba dibuat dari api sedang dia dibuat dari tanah”, hujjah iblis kepada Allah. Ini merupakan peringatan bagi kita bahwa sombong itu adalah dosa yang paling besar.

Untuk itu Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ منِِِ فِي قَلْبِِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Naudzubillah! “Tidak akan masuk surga, bagi orang yang hatinya sombong meskipun sekecil lugut.

Misalnya ketika melihat orang miskin, “sebenarnya dia itu orang atau tidak?”, mempunyai pangkat sedikit, melihat rakyat jelata ngier-ngier. Tampan sedikit saja, melihat orang yang tidak tampan geleng-geleng kepala. Beda dengan makan babi. Dosanya jelas terlihat, makan dideh pun juga begitu. Malah nyompros.

Sombong itu tidak terlihat, kadang-kadang terlihat seperti orang tawadlu’. “Gajiku hanya satu milyar, aku hanya orang miskin, orang bodoh tidak mengerti apapun. Cuma hafal alfiyah, ‘Ukudul Juman, Al-Ibriz, cukup itu saja yang kuhafalkan. Ngajiku tidak jauh-jauh, hanya di Makkah”. Kelihatannya tawadlu’, tetapi sebenarnya itu sombong. Seperti yang demikian itu ada, ngaku saja!

Bentuk seperti inilah yang berbahaya, sebab sombong adanya di dalam. Sikap sombong itu sendiri munculnya dari iblis. Mungkin baginya itu tidak merasakan apa-apa, tetapi sebenarnya tampak melalui sikapnya. Dengan orang, ‘nguyah’ merasa benar sendiri, berarti orang lain itu salah semua. Terus menyalahkan orang lain dengan membatin, “piye, kok begedude ngono, tidak seperti aku.”

Makanya ajaran Imam Ghozali, biar tidak sombong sebaiknya menjelek-jelekkan dirinya saja. “Aku ini merupakan orang yang paling jelek sendiri sekampung”.

Kalau ketemu orang tua, “orang tua itu sudah jelas lebih baik dari pada aku. Dia sudah berumur 80 tahun, ibadahnya sudah 80 tahun – sedangkan aku baru berapa? Ya Allah pasti dia lebih baik daripada aku.”

Jika ketemu anak kecil, “anak kecil itu lebih baik dari pada aku, dia belum mempunyai dosa sedikitpun, sedangkan aku selalu berdosa”.

Kemudian kalau ketemu remaja yang baru baligh, “anak itu baru baligh, mungkin dosanya baru 1 tahun – sedangkan aku sudah tua seperti ini, lalu berapa dosaku?.”

Bahkan ketemu orang yahudi pun, “belum tentu aku lebih baik daripada dia. Sebab, siapa tahu jika nanti di belakang hari dia tobat, jadi orang baik. Matinya pun khusnul khotimah. Sedangkan aku ini, memang kelihatannya seperti begini. Siapa tahu di belakang hari mbambung (sembrono). Berarti dia tetap lebih baik.”

Sesuatu yang dibilang baik itu belakangan, bukan sekarang. Jadi kalau seumpamanya kita membuat perkara yang baik, sebaiknya ngomong; “banyak yang bisa begini”. Bukannya ngomong; “kalau tidak aku, tidak bisa”. Itu namanya menyepelekan (sombong).

Salahnya Iblis itu, tidak pernah memandang yang mendawuhi. Kalau hambanya Allah tidak seperti itu. Contohnya malaikat, mereka tidak peduli, baik itu masuk akal atau tidak. Selama yang perintah itu Allah, mereka akan selalu patuh. Kalau melihat unsur-unsur seperti itu sebenarnya tidak masuk akal. La wong malaikat, lebih tua kan!. Malaikat sudah ada, iblis sudah ada, baru kemudian Adam diciptakan (baru orang kemarin sore lah gampangannya). “La wong kemarin sore saja, kenapa disuruh menghormati?”, itulah iblis.

Kalau malaikat tidak seperti itu, mereka hanya memandang Allah, “walau kemarin sore atau bagaimana pun wajahnya, Allah dawuh ‘hormat’, saya pun hormat”.

Kondisi seperti ini juga pernah dialami Sayidina Abu Bakar. Ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW membentuk pasukan, kebetulan yang diangkat menjadi komandannya adalah pemuda yang bernama Usamah, orangnya muda sekali. Tiba-tiba sebelum pasukan berangkat, Nabi meninggal. Akhirnya Sayidina Abu Bakar yang menggantikan Nabi. Saat itulah (ketika hendak memberangkatkan pasukan yang sudah dibentuk Kanjeng Nabi) orang-orang banyak yang usul, “orang muda seperti dia kok disuruh memimpin pasukan, bukannya diganti saja”. Kemudian Abu bakar menjawab, “kalau tidak mau dipimpin dia, biar aku saja yang menjadi pasukannya, aku bersedia ikut dia. Ini bukan soal tua atau mudanya. Ini yang menetapkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Aku tidak bisa merubah apa yang sudah ditetapkan Rosulullah SAW”. Begitulah sahabat Abu Bakar.

Jika itu yang mengutus Allah, maka semuanya jangan dipertimbangkan, laksanakan saja!. Kalau belakangan ini ada orang-orang yang mempertanyakan segala macam, berarti iblis gurunya. Oleh karena itulah, iblis dijuluki ‘Bapak Filsafat Dunia’, yang suka mempertanyakan; “aku itu begini, kok disuruh begini”.

Dulu, ketika Nabi masih hidup, kalau sahabat diperintah Nabi, tidak ada yang bertanya, “Kenapa sholat subuh itu hanya dua raka’at, itu bagaimana? Seandainya delapan raka’at, kan enak, itung-itung senam pagi.” Diperintah sholat, langsung sholat. Dua raka’at, ya dua raka’at. Empat rokaat ya empat rokaat, tidak lagi bertanya. Soalnya khawatir seperti iblis.

Setelah dia (Iblis) dilaknati Allah karena tidak mentaati perintah-Nya untuk bersujud kepada nabi Adam, maka dia sangat dendam kepada nabi Adam. “Ini gara-gara Adam. Seandainya tidak ada Adam mungkin aku tidak akan dilaknati Allah. Aku sudah hidup enak di surga, lalu dia diciptakan. Aku malah disuruh menyembah padanya. Aku tidak mau, malah aku yang dilaknati Allah. Awas nanti!”. Kemudian dia meminta izin pada Allah, “Ya Allah berilah aku umur yang panjang. Akan kuhabisi (kusesatkan) anak cucunya supaya mereka jera. Sebab dia yang membuat aku dilaknat. Anak cucunya harus menemaniku di Jahannam kelak”.

Allah pun mengizininya. “Sudah, lakukan bujuk, rayu dan ajak mereka ke Jahannam bersamamu. Terserah kamu mau memakai suara merdu atau suara keras. Kamu takut-takuti atau kamu iming-imingi atau kamu gertak dengan suaramu yang keras agar takut. Takut miskin, takut tidak bahagia di dunia. Kerahkan semua pasukanmu, yang berjalan maupun yang menunggang kuda. Ikutlah dengan harta mereka, agar mau berjudi dan mau melakukan rentenir, tidak cukup berdagang saja. Ikutilah, bujuklah anak-anak mereka, supaya mau melakukan perzinaan dan biarkan mereka, agar mau menjadi pengikutmu yang setia — dengan janji-janji yang menggiurkan, dan janjimu tiada lain, melainkan janji palsu”.

Iblis benar-benar melaksanakan sumpahnya menghabisi (menyesatkan) anak cucu Adam. Inilah yang harus disadari oleh anak cucu Adam. Kalau iblis memusuhi anak adam, itu sudah pantas karena memang nabi Adam-lah yang dianggap penyebab terlaknatnya. Sudah seharusnya bagi anak Adam untuk tidak berteman dengannya. Yang aneh sekarang ini dan lucu sekali, orang tidak membenci iblis tapi malah menjadikannya sebagai teman karib. Mungkin kalau tidak tahu tidak apa-apa. La wong sudah tahu, sudah didawuhi Gusti Allah, “Waspadalah terhadap Iblis, yang menyebabkan nenek moyangmu terusir dari surga. Sesungguhnya iblis adalah musuh yang nyata.”

Jadi kesimpulannya, kita sebagai anak Adam yang terbuat dari tanah, jangan sekali-kali mendekat kepada iblis yang terbuat dari api. Sebab kita bisa menjadi batu-bata, cowek dan

genteng. Kalau sudah beku seperti ini, tidak bisa-bisa berbuat apa-apa, lalu hancur menjadi kreweng tidak akan kembali lembut lagi menjadi tanah. Seandainya belum beku seperti itu, mungkin dapat dibuat segala macam; dibentuk segitiga, dibentuk persegi panjang, dibentuk kotak dan dapat dibentuk apapun. Tetapi kalau sudah terkena api (jadi kreweng), walaupun dimasukkan ke dalam air sak genuk, tetap tidak akan kembali lembut seperti sedia kala. Begitu hebatnya iblis!. Dapat kita bayangkan, belum sampai anak cucunya, baru Adam sendiri sudah terkena gelembuk (bujuk) iblis. La ilaha illallah!

Dalam diri manusia sebenarnya ada malaikat dan iblis yang menunggunya. Hal inilah yang membuat manusia istimewa. Tinggal manusia itu sendiri, ingin ikut malaikat atau ikut iblis. Kalau saja sama-sama terlihat, mungkin saya sendiri (Gus Mus. red.) akan ikut malaikat. Terkadang bujukan iblis itu sendiri hampir menyerupai omongannya malaikat. Masya Allah!

Tetapi hamba-hamba Gusti Allah yang sejati, inna ‘ibaadii laisa laka ‘alaihim sulthon (kamu), iblis tidak akan bisa memaksa, laisa laka ‘alaihim. Tidak bisa nggelandang (iblis tidak bisa mengajak hamba-hamba Allah yang sejati). Sebab mereka (hamba sejati) mengetahui Allah (aturan Allah).

Ketika Syeikh Abdul Qodir al-Jailani digoda iblis, dia (iblis) mendo-mendo (menyerupai) menjadi cahaya yang terang dan suara yang besar. “Hai Abdul Qodir! Sudah cukup bagimu, sekarang kau sudah baik. Jadi semua yang haram ku halalkan untukmu, karena kau sudah menjadi wali.” “Minggat kau, dasar iblis!” Bentak Syekh Abdul Qodir. Iblis pun bertanya, “Bagaimana kamu tahu kalau aku iblis, padahal sudah 60 wali ku bodohi dan mereka pun percaya. Kenapa kamu tidak percaya?” “Sebab mulutmu yang mengatakan bahwa semua yang haram-haram, sekarang menjadi halal. Itu tidak syariat Allah. Jelas-jelas itu haram kok bisa menjadi halal, kalau tidak iblis siapa lagi?” jawab Syekh Abdul Qodir.

Seperti inilah yang menakutkan, sebab iblis itu dapat berubah menjadi apa saja. Masya Allah! Berubah manusia, berubah menjadi orang yang dapat belusuk-belusuk. Kabarnya, ketika Adam belum disebul (diberi) nyawa, masih kelontongan tetapi sudah berbentuk manusia, itu saja sudah dimasuk-masuki iblis. “Wah, di dalam sini (kelontongan) kok berlubang semua? Kayaknya mudah dibodohi.” Bilang iblis. Masya Allah! Mungkin ini disebabkan karena iblis lebih tua dari Adam.

Wa kafaa birabbika wakila. “Jika hamba-hamba-Ku yang sejati, kamu (iblis) tidak akan bisa menguasai mereka, tidak dapat nggelandang. Paling kamu hanya bisa mengiming-iminginya. Sebab hamba-Ku yang sejati pasrahnya hanya kepada-Ku.” Mereka selalu minta perlindungan dengan menyebut ‘Audzu billahi minassyaithonir rajim. Di manapun tempatnya segera meminta pasrah kepada Allah. Apa berani iblis melawan Allah? Makanya orang-orang mukmin yang sejati, tidak bisa dikuasai iblis. Karena mereka itu kalau melakukan sesuatu, bendaranya (Allah) yang disebut. Jika ada orang membaca Al-Qur’an, hanya ingin dibilang suaranya bagus dan fasih sendiri, bisa-bisa iblis menelusup pada orang itu. “Pak! sampean suaranya kok merdu sekali, bacaannya fasih. Ya Allah! Orang desa sini tidak ada yang mampu menandingi. Kalaupun ada yang ingin mengejar sampean, sulitnya minta ampun.” “Masak iya!” sedikit bangga. Naudzubillah!. Makanya jika kita melakukan sesuatu kebaikan dianjurkan membaca ta’awudz (‘audzu billahi minassyaithonir rojim), agar syaithon tidak bisa menggoda.

Surat al-Isro’, ayat 66-67:

رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٦٦) وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا (٦٧)

Kita ini diingatkan Allah. Bahwa yang menjalankan perahu di laut itu, Allah. Meskipun ada layarnya ada mesinnya, jika Allah tidak menghendaki, perahu itu pasti tidak akan jalan. Sebab laut itu lautnya Allah. Yang membuat perahu bisa jalan sehingga digunakan untuk miyang, untuk mencari ikan, mencari mutiara dan lain-lain adalah Allah Ta’ala.

Allah itu sangat mengasihi manusia. Buktinya apa-apa semua untuk manusia; hutan untuk manusia, hewan untuk manusia, ayam untuk manusia, sapi untuk manusia, kambing untuk manusia. Sampai ikan-ikan beserta lautnya pun untuk manusia semua. Padahal laut itu isinya bukan ikan saja. Ada mutiaranya, dedemponya, rajungannya, dan segala macam ada semua.

Sekarang baru saya (Gus Mus. red.) usulkan; karena di Rembang itu sulit mendapatkan air tawar, bagaimana caranya air laut bisa menjadi air tawar dan langsung dapat diminum seperti yang terjadi di negara Arab Saudi dan Kuwait. Mestinya negara kita juga bisa memisahkan antara asin dan airnya – yang asin menjadi garam dan airnya menjadi air tawar.

MasyaAllah! Gusti Allah itu mengasihi manusia tidak karuan (luar bisa), tetapi manusia sendiri tidak pernah menerima apa yang telah diberikan Allah (tidak syukur) — padahal manusia itu sendiri tidak modal apa-apa, laut pun juga tidak bermodal apa-apa. Sudah diajangi jembar (diberi leluasa) oleh Allah, “Carilah sesuatu apapun sesukamu! Jika ingin membuat perahu, disitu sudah ada hutan dan kayunya.” Allah sudah menyediakan semuanya. “Kalau membutuhkan solar, gali saja disana! Di bawah sana ada segala macam, termasuk BBM juga ada di sana. Tersedia untuk kalian semua (manusia).” Lha ngono, yang diterimakasihi yang dianggap bahurekso (semacam danyang). Lailaha’illah! Padahal yang mengasihi itu Allah. Tidak berterimakasih kepada Allah, malahan berterimakasih kepada batu dan kayu. Itu bagaimana?

Padahal, seandainya di laut ada ombak besar, angin kencang, yang akan dipanggil bahurekso atau gusti Allah? Bahurekso atau mbah-mbah siapa saja, tidak akan pernah disebut. Jika disebut, malah-malah ombaknya tambah besar. Coba kalau tidak percaya!. Akhirnya “Ya Allah, ya Allah!”. Yang dipanggil hanya Allah.

Saya (Gus Mus. red.) itu pernah naik kapal besar — tidak perahu kecil seperti itu — di dalamnya saja ada bioskopnya, lapangannya, ada untuk tenis bahkan ada pemandian umumnya juga. Pokoknya besar, MasyaAllah! Saat di tengah-tengah laut, melihat ke barat tidak ada sesuatu kecuali air dan langit. Melihat ke timur juga hanya ada air dan langit, melihat ke utara juga ada air dan langit. Begitu juga ke selatan, tidak ada daratan sama sekali. Terlihat kecil terapung, MasyaAllah! Saat nyenyaknya tidur, sirinenya berbunyi “ngung-ngung-ngung” tanda bahaya. Air laut naik, kemudian orang-orang saling dermimil (berkomat-kamit) “Allah, Allah!” MasyaAllah ada yang membaca sholawat, ada yang membaca Yasin sampai terbalik-balik, tidak karu-karuan. Dan orang-orang diberi pelampung untuk memakainya.

Sama ketika saya (Gus Mus. Red.) naik pesawat dari Irak ke Kuwait. Saat pertama naik anak-anak muda ada yang bernyanyi ada yang main kartu. Kemudian badai datang. Pesawat pun molak-malik. “Huey…!” Orang-orang langsung diam semua. Yang asalnya nyanyi-nyanyi menjadi gembor-gembor (ketakutan). Anak-anak kecil menjerit dan yang tua jantungan. Kemudian mereka wiridan “Allah, Allah!” Tidak ada yang disebut kecuali Allah. Dan

anehnya, ketika selamat sampai ke Kuwait, mereka malah bertepuk tangan bukannya mengucap Alhamdulillah.

Kepepetnya hilang, sama sekali tidak mengingat Allah. Tidak punya uang saja sembahyangnya tepat di belakangnya imam. Kalau sudah punya uang sedikit, mundur ke shof kedua. Uangnya tambah, mundur satu shof lagi. Uangnya banyak bisa-bisa tidak di shof. Malah-malah tidak pernah datang ke surau.

Surat al-Isro’, ayat 68-69:

أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ثُمَّ لاَ تَجِدُوا لَكُمْ وَكِيلاً (٦۸) أَمْ أَمِنْتُمْ أَنْ يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَى فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا (٦٩)

Apakah kamu semua merasa aman bahwa Gusti Allah tidak bisa ngeblesno kamu di daratan, kok kamu hanya bisa teriak “Allah, Allah” saat berada di tengah lautan, ketika ada ombak besar dan angin kencang saja. Kamu kira dalam keadaan normal Allah tidak bisa ngeblesno kamu, entah itu di daratan atau di lautan. Bisa saja. Buktinya ada yang diblesno tidak hanya Qorun saja. Beberapa waktu lalu di Sumatra, tiba-tiba tanah langsung amblas beserta orang-orangnya. Kok, masih merasa aman itu bagaimana? lha yang punya kekuasaan mengencangkan angin dan membesarkan ombak saja mampu memendam orang tanpa angin kencang dan tanpa ombak besar, ketika selamat kok malah cengar-cengir. Dan ketika sampai di daratan malah berpestapora, minum-minuman. Bukannya alhamdulillah atau syukuran, tetapi malah mengo dari gusti Allah. Pikirnya apakah Allah tidak mampu mengembalikan semuanya?

Seandainya kamu dikembalikan lagi ke laut, kemudian Allah mengirim lagi angin yang dasyat yang bisa memecahkan kapal dan kamu pun tenggelam — apa yang akan kamu lakukan? Minta tolong siapa? Tsumma la tajiidu ‘alaina bihi tabi’a. Apakah ingin memanggil “Allah, Allah!” lagi. Padahal kemarin sudah seperti itu, malah kamu asyik-asyikan minum saja. Sekarang kalau sudah seperti ini memanggil Allah lagi. Rasakanlah sekarang rasanya minum air laut! Dan siapa yang kamu mintai pertolongan?

Jadi, jika Allah sudah menetapkan hukuman, maka tidak ada yang bisa menolong. Semua ini mengingatkan kepada kita, kalau ingat kepada Allah jangan saat kepepet dan bahaya saja. Tetapi di saat tidak bahaya (tentram, aman dan sentosa) kita juga harus ingat Allah. Sebab Allah itu berkuasa mengembalikan ke kondisi bahaya lagi. Allah bisa mengamankan, dan sebaliknya juga bisa membahayakan.

Manusia itu tenangnya luar biasa. Seperti saat ada gempa bumi di Jepang, tepatnya Kyoto, hingga seluruh kota hancur berantakan rata menjadi tanah. Orang-orang Indonesia tenang-tenang saja tetap ramah, senyam-senyum “kasihan ya orang Jepang!” Hanya bilang begitu, bukannya takut atau apa. Dan beranggapan kalau Jepang jauh. Dan ketika ada tsunami di China, “ kasihan orang China itu, la wong China jauh”. Sampai-sampai ketika tsunami di Aceh begitu banyaknya, ratusan ribu orang Aceh yang mati, MasyaAllah! Hanya kasihan saja. Setelah kasihan, “halah, Aceh jauh kok!”. Begitu pun di saat Jogja yang terkena gempa, orang Rembang hanya bilang, “halah Jogja jauh kok” masih tenang-tenang saja seakan tak pernah berpikir, “Jogja kena, masa sini tidak kena? lha, jika kena sini gimana?” di sini kok masih delurung (belum sadar) juga, kalau terjadi bagaimana. Soalnya kalau berpikir seperti itu, pasti mereka takut sendiri.

Surat al-Isro’, ayat 70:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (٧٠)

Ini pernyataan Allah SWT dan terbukti demikian, dawuh Allah; laqod karamna “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam yang namanya manusia”. Yang pada dasarnya, bawaannya tegak, gagah, memakai kaca mata pantas, dan tidak memakaipun juga pantas. La wong kuda ikut-ikutan memakai kacamata tidak pantas, jelek. Bisa berbicara, bisa berkomunikasi dengan perkataan, bisa berpikir, bisa melamun, dan bisa segala macam. Bandingkan dengan pohon kelapa yang hanya bisa melamun saja, tidak bisa berbicara (cuman tengar-tenger), dipanjat diam saja, ditebang diam saja, tetapi manusia tidak. Coba manusia ditebang, pasti akan lari. Allah benar-benar memuliakan manusia sendiri, diciptakan paling bagus, dianugerahi bisa hidup di daratan — yang kemudian bisa naik cikar, bebek, unta, bangau, sepeda onthel, perahu layar, perahu mesin, dan segala macam, dan bisa di udara. Begitulah manusia dimuliakan Allah. Terkadang kambing pun pernah juga naik truk, tetapi tidak pernah naik pesawat terbang.

Manusia disamping dimuliakan Allah, juga diberi rizqi yang baik-baik semua. Baru diberi sebatang pohon kelapa saja, MasyaAllah! Nikmatnya bukan main. Jikalau haus dapat minum airnya, degannya dapat diambil, cikalannya dimakan dengan gula juga enak, diparut menjadi santen untuk sayur lodeh pun enak, MasyaAllah! Sepetnya dapat dibuat sikat, dapat juga dibuat tali, blokangnya (kulit) dapat digunakan BBM, janurnya dapat digunakan untuk hiasan acara pernikahan, dapat pula dibuat ketupat. Padahal itu hanya dari sebatang pohon saja. Belum lagi yang terdapat di kanan kirinya.

Ada pohon jambu, semangka, terong, kambing domba, kambing kacang, ayam kampung, ayam horens, dan lainnya. Lha, sudah begitu kok masih mencari dideh. Itu ngapain? Padahal makanan yang baik begitu banyaknya. Sebenarnya lidahmu itu lidah apa? yang lebih enak banyak, ada yang namanya ribo, jrebeng. Kalau ingin yang atos ada hati, ingin kenyal ada jantung, kalau ingin yang renyah jika digoreng ada paru, pokoknya tersedia semua. Ingin ikan laut, banyak macamnya, tinggal pilih. Ingin demdempo, rajungan, ikan gatal, ikan Dorang ada semua. Kenapa kok ular dimakan juga?

Manusia itu lucunya bukan main, la wong sudah diberikan sesuatu yang baik-baik semua, malah pingin yang bukan-bukan. Kalau ingin makan ular, ada yang bentuknya seperti ular yaitu belut. Itu saja yang dimakan. Kambing itu enaknya luar biasa. Kalau ingin yang tidak prengus ada, itu kambing yang tidak dikandang, yang kluyuran seperti kambing gibas. Jangan anjing yang kluyuran yang disate. Lailaha illAllah! Begitulah sekarang ini, padahal yang thoyyibah masih banyak. Nanti kalau sudah terkena rabies baru rasa. Makan anjing nanti kalau menggonggong dari dalam gimana?

Manusia itu dihormati, dimuliakan dan diberi rizqi yang baik-baik oleh Allah. Selain itu juga diutamakan daripada yang lain. soalnya ciptaan Allah itu banyak sekali dan yang paling atas sendiri ialah manusia — bahkan yang baik bisa melebihi malaikat seperti Nabi Muhammad SAW. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat bergerak, hanya bisa berpikir dan merasakan. Pohon kelapa, mangga, jambu dan lain-lainnya, sebenarnya bisa berbicara, berpikir dan merasakan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, alias diam saja. Ditebang diam saja, disirami diam saja, terlalu banyak siraman pun juga diam, tiba-tiba langsung kering dan mati. Seperti halnya hewan, mereka bisa berkomunikasi tetapi itupun terbatas. Misalnya kambing, paling-paling cuma embek-embek saja. Dengan mengembeknya ini manusia itu kadang paham kadang tidak, embeknya ini minta tolong atau minta dipukul. Sama halnya dengan sapi, dia besar tetapi tidak bisa apa-apa, malah digunakan kalah-kalahanan manusia. sampai ada gajah yang begitu besar mau saja diakali, digunakan

manusia untuk mencari uang. Disuruh main, “ayo berdiri, berdiri” iapun berdiri, “ayo duduk, jalan, ini diangkat dan seterusnya”. Beda dengan manusia. Kalau manusia sudah jelas, cukup bilang, “kang sebenarnya keinginanku seperti ini, kang!”.

Makanya sekarang kita jangan nguyah manusia, sebab manusia itu dimuliakan Allah, lha kok kita nguyah diri kita sendiri — diri kita juga manusia. Jangan kok, “diri-diriku sendiri, aku meniru anjing terserah aku”. Maksudnya apa? Itu namanya merendahkan diri. Sudah baik-baik kenapa mau meniru anjing yang kesana-kesini terus gonggongin orang. Yang seperti itu namanya nguyah dirinya sendiri dan itu tidak boleh. Kita harus menyadari bahwa kita dimuliakan Allah. Jadi, kita harus mapakke tempat sebagai mahluk yang dimuliakan Allah. Itu harus dijaga dan jangan direndahkan; direndahkan seperti ayam, seperti kera. Kalau manusia, jika istrinya sedang melahirkan, maka suaminya harus menunggui dengan sabar dan memperhatikan anaknya yang akan lahir. Tidak seperti ayam; ayam betina sendirian mengerami telurnya, ayam jago sudah mejeng mencari betina lain. Kenapa manusia merendahkan diri sampai seperti ayam?. Walaqod karomna bani Adam, maksudnya dimuliakan, jangan di hina. Sebab orang lain juga manusia dan kita sendiri juga manusia. Kita tidak dihina mengapa harus menghina. Kalau menghina untuk tawadlu’, maka hinalah diri sendiri. Maksudnya seperti ini “aku belum baik, aku itu orang jelek”. Supaya diri kita tidak sombong. Tetapi kalau diri kita melakukan perbuatan-perbuatan mahluk Allah yang rendah-rendah itu namanya melecehkan diri sendiri yang berarti melecehkan kemanusiaannya.

Allah memuliakan manusia, sehingga yang menjadi kekasih-Nya, manusia yang paling manusia yaitu Nabi Muhammad SAW. Nanti umatnya Nabi Muhammad diharapkan menjadi manusia yang memang pantas dimuliakan. Tidak hanya dewan anggota yang terhormat, tetapi kita semua ini yang terhormat. Jadi, kita harus menghormati manusia lain, juga menghormati diri kita sendiri karena diri kita sendiri juga manusia. Kalau ada manusia kok dilecehkan itu tidak benar, apalagi di Indonesia ada “kemanusiaan yang adil dan beradab”, tidak kok “kebinatangan yang biadab”. Tidak ada binatang yang beradab, seperti halnya kambing, sebab tidak dimuliakan Allah. Begitu juga anjing, kita ajari apapun tidak akan bisa, sebab adabnya itu menggonggong dan menggigit orang. Cuma seperti itu kerjaannya. Makanya diri kita sendiri harus bersyukur.

Supaya diri kita tetap memuliakan diri kita sebagai manusia, maka kita harus mengikuti Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebab Nabi Muhammad SAW itu adalah manusia yang paling manusia. Waktunya sholat, ya sholat — waktunya bekerja, ya bekerja — waktunya bercanda dengan istri, ya bercanda — waktunya bercengkerama, ya bercengkerama — waktunya silaturahmi, ya silaturahmi. Itulah Kanjeng Nabi, manusiawi sekali. Apa kita mengira kalau Nabi selalu di masjid, wiridan terus? Berarti Nabi tidak pernah ke pasar kalau begitu.

Kanjeng Nabi pun terkadang juga ke pasar, tidur, sholat, puasa, kadang tidak puasa, itu Nabi. Kadang kala kita petenthengan, mengira kalau Nabi itu gimana? Yang petenthengan itu, karena kecampuran ajaran agama lain — dan memang ada agama-agama lain yang ajarannya seperti itu. Kalau semakin bersusah payah itu semakin baik. Tidur di tikar lebih baik daripada tidur di kasur, kalau tidur di atas paku itu malah lebih baik lagi sebab itu bersusah payah. Tidur berdiri malah baik lagi, apalagi tidur yang kepalanya di bawah, kakinya di atas. yang seperti itu ada.

Terkadang orang Islam ikut-ikutan, berpuasa dengan tidak berbuka, puasa pati geni namanya. Itu malah tidak benar, tidak manusiawi. padahal yang membuat aturan, yang memberi contoh itu manusia, ialah Nabi Muhammad SAW, manusia yang paling manusia. berarti yang baik sendiri itu, mencontoh Kanjeng Nabi. Jika berbuka puasa disuruh segera, sebab manusia itu lama tidak makan, makanya disuruh segera berbuka, dan bahkan dapat

bonus pahala. “Halah buka kok tergesa-gesa seperti santri baru.” Kalau begitu yang santri baru ya kamu itu. Ada orang sahur mendekati Subuh kok dipoyoki, “hey, puasa kok sahur jam segini, emangnya sarapan pagi?”. Lha yang bilang begitu adalah santri baru yang tidak tahu kalau sahur mendekati subuh itu yang paling baik. Daripada jam 12 sahur, paling jam 4 sudah lapar lagi, tidak manusia namanya. Ada yang dalil, al-ajru biqodri taab, itu hadits atau apa, pokoknya yang mengatakan begitu orangnya serbanan, kemudian percaya gitu aja. Entah itu berat atau ringan, yang penting asal ikut Kanjeng Nabi.

Kalau manusia tidak ada yang berat mengikuti Kanjeng Nabi. Kecuali kalau diri kita sudah tidak manusia lagi, lha itu baru berat. Kalau masih jadi manusia, pasti ringan dalam mengikuti Nabi. Sebab Nabi sendiri juga manusia. Kanjeng Nabi menikah kita ikut nikah, enak kan! Kadang-kadang Nabi sholat malam, kadang-kadang tidak. Kalau kebetulan kita tidak sholat malam, “Nabi juga pernah tidak sholat malam”. Mengapa kita harus petenthengan?. Kanjeng Nabi itu manusia, Allah pun tahu. Karena manusia dimuliakan Allah, maka dicarikan pemimpin sebagai suritauladan manusia yang paling manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW. Jika ada ajaran tidak boleh menikah, ajaran tidak boleh ke pasar karena bisa menghilangkan wira’i, itu tidak dari Kanjeng Nabi. Buktinya Nabi menikah dan Nabi tetap ke pasar. Apa Kanjeng Nabi tidak wira’i?.

Malah Nabi pernah juga bercanda di pasar dengan sahabatnya. Ada orang desa yang biasa sowan Nabi. Kanjeng Nabi melihat dia, dengan iseng Kanjeng Nabi merangkul dia dari belakang sambil berteriak “hey siapa yang mau membeli budakku”. Dia mengetahui kalau itu suara Kanjeng Nabi, maka dia pun menimpali canda nabi “tidak laku Kanjeng Nabi, hamba anda jual tidak laku”.

Kanjeng Nabi tidak pernah berkata atau memberi perintah pada kita, “bisa tidak bisa harus dilaksanakan”. Tetapi “laksanakan semampumu” itulah Kanjeng Nabi, sebab manusia itu ada batas kemampuannya bukannya ditekan dan dipaksa. Tidak bisa ruku’ kemudian disuruh mencari teman untuk menekuknya agar bisa ruku’, yang seperti itu tidak ada. Tidak bisa berdiri kemudian disuruh menanting ketiaknya, seperti itu tidak ada. Kalau tidak bisa berdiri, duduk saja sholatnya, sebab mampunya duduk. Jika selonjor ya sudah selonjor semampumu. Sekarang ini petenthengan, takbir kurang tinggi saja dimarahi, “hoy, nanti sholatmu tidak sah lo!”. Allaaah…! sampai methentheng-methentheng takutnya bukan main. Kalau memang tidak sah LailahaillAllah! Nabi tidak petenthengan seperti itu. Disamping Kanjeng Nabi itu manusia, saya (Gus Mus. Red.) sudah berkali-kali bilang, Nabi itu satu-satunya manusia dan yang mengerti manusia.

Sekarang banyak pemimpin yang kelihatannya manusia tetapi tidak begitu mengerti manusia. Orang tua diajak sembahyang, dia jadi imamnya, lamanya bukan main. Lha akhirnya gemetaran semua kakinya. Ini anak muda jangan diajak sembahyang lama-lama, nanti bisa-bisa protes tidak mau sembahyang. Pemimpin sekarang tidak seperti itu, tidak peduli “pokoknya kalau saya yang jadi imam, yang penting sabbihis dengan hal ataka”. Kalau nanti sembahyang sendirian, ‘qulhu dan inna a’thoina’. Nabi itu dawuhi kalau kita ngimami jangan panjang-panjang, tetapi juga jangan cepat-cepat. Karena yang makmum itu ada yang muda, ada yang tua ada juga yang ditunggu pekerjaan. Hal-hal seperti itu harus kita perhatikan semua. Kalau tidak bisa, tidak usah jadi imam. Dulu itu tidak ada yang namanya rebutan jadi imam, tetapi sekarang belum adzan sudah diam di lubangnya (tempat pengimaman). Ngapain kayak gitu? Padahal tanggungjawab imam harus ngemong semua itu, sekalian bacaannya — jika ada yang bacaannya tidak begitu lancar, dia yang nanggung.

Kanjeng Nabi kalau sholat, — rencananya ingin panjang — kalau istilah disini yang paling panjang itu sabbihis dan hal ataka. Ketika mendengar bocah menangis, maka

sholatnya dipercepat. Jadi, ayat yang kedua hal ataka malah jadi inna a’thoina, sebab ada bocah yang sedang menangis, “e, barangkali tidak yang menolong, yang menolong baru sholat” Kanjeng Nabi manusiawi sekali. Nabi juga bercanda seperti manusia lainnya, bukannya petenthengan terus. Kadang-kadang goda perempuan tua, “nJeng Nabi saya do’akan nanti masuk surga”, “halah mbah, di surga tidak ada orang tua seperti itu mbah”. Perempuan tua itupun menangis, “bagaimana nJeng nabi”? “Jangan nangis dulu, maksudnya di sana itu perempuan-perempuan tua dijadikan muda lagi”. Akhirnya perempuan tadi tertawa. Jadi Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga manusia.

K.H. A. MUSTHOFA BISRI

Jum’at, 11 Juli 2008

Surat al-Isro’, ayat 71-72:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلاَ يُظْلَمُونَ فَتِيلاً (٧١) وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلاً (٧٢)

Kanjeng Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah SWT untuk mengingatkan bahwa pada hari kiamat nanti, Allah akan memanggil seluruh umat manusia beserta para imam/pemimpinnya.” Imam disini ada yang menafsiri, ‘para nabi’, “Hai umat Ibrahim, hai umat Musa, hai umat Isa, hai umat Muhammad”. Ada yang menafsiri orang yang dianggap sebagai tokoh panutan, bisa bupatinya, ketua partainya, kantornya, uangnya ataupun kursinya. Ada pula yang menafsiri imam itu adalah tokoh panutan yang ditiru.

Pada hari itu semuanya akan dipanggil dengan membawa bendera masing-masing. Orang-orang yang adil dan tegas akan berada di bawah bendera Umar; orang-orang yang lembut hatinya akan berada di bawah bendera Abu bakar; orang-orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan akan berada di bawah bendera Ali; dan orang-orang yang wira’i, tawadlu’ dan pemalu akan berada di bawah bendera Utsman. Imam adalah orang panutan, akan tetapi jangan ditafsiri imam itu seperti rombongan Rhoma Irama, Haryono dan lain-lainya.

Intinya, nanti semua akan menerima kitabnya masing-masing. Ada yang menerima dengan tangan kanan dan ada juga yang menerima dengan tangan kiri. Kitab tadi berisi catatan amalnya masing-masing. Kitab itu bentuknya bisa seperti buku, CD, atau bisa saja berupa VCD seperti zaman modern. Sekarang saja yang agak modern, semua buku bisa dimasukkan hanya ke dalam satu keping. “Barang siapa yang menerimanya dengan tangan kanan maka isi catatan kitabnya menyenangkan semua, sedikit pun tidak akan dirugikan walaupun sedikit sekali (selugut: Jawa), arabnya fatilan (kulit arinya biji kurma).” Kita berharap, semoga nanti kita menerimanya dengan tangan kanan, Allahumma amin. Jadi mulai sekarang hendaknya dibiasakan kalau melakukan sesuatu yang baik dengan tangan kanan seperti makan, minum dan sebagainya. Jangan membiasakannya dengan tangan kiri. Jika nanti terbiasa, bisa-bisa di sana menerima dengan tangan kiri, naudzubillah!

Barang siapa di dunia buta (tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah). Rambu-rambu Allah tidak boleh dilanggar tapi diterjang saja. Orang yang demikian ini kelak akan lebih buta di akhirat, dia akan lebih tersesat dan tidak mengetahui jalan”. Kalau di dunia, kita masih ada yang mengingatkan. “Kang, itu api jangan didekati! nanti terbakar, kang itu jurang, jangan kesana! nanti jatuh”. Sedangkan kalau di akhirat, siapa yang akan mengingatkan?

Syrat al-Isro’, ayat 73:

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا َلاتَّخَذُوكَ خَلِيلاً (٧۳)

Kanjeng Nabi ghirrah (mempunyai tekad yang kuat) agar umatnya selamat. Jadi, semuanya diajak oleh Nabi. Beliau sangat senang bila ada orang yang mau diajak selamat. Makanya, jika ada sahabat yang membentak seseorang, maka akan dimarahi Nabi, “jangan, jangan dilulut-lulut.” Begitu besar keinginan beliau agar orang-orang kafir seperti Abu sofyan masuk Islam. Sampai-sampai “MasyaAllah!” beliau memberi hadiah unta, tidak hanya satu, dua, sejinah, atau dua jinah, malah-malah satu jurang. Padahal, saat itu unta adalah kebanggaan orang Arab. ”Unta kok segitu banyaknya, itu punya anda semua?” tanya Abu Sofyan. “Apa kamu suka?” timpal Nabi. ‘’Ya, aku suka, segitu banyaknya kok coklat semuanya.” kata Abu Sofyan.”Ya ambil semua”. ”Jangan bercanda Rosul”. “Ya, ambil semua”, kata Nabi meyakinkan. Karena melihat kedermawanan dan keagungan pribadi Kanjeng Nabi Muhammad SAW maka Abu Sofyan masuk Islam.

Semangat juang dan sifat dasar belas kasih Nabi Muhammad SAW luar biasa besarnya. Ketika pamannya Abu Tholib menghadapi sakaratul maut, beliua meminta dengan sungguh-sungguh untuk menyebut Allah. “Paman, ucapkan Allah saja, biar semua yang kemarin-kemarin aku yang memintakan ampunan pada Allah.” orang-orang kafir, seperti Abu Jahal mengetahui betul bahwa semangat dan kepribadian nabi itu sangat besar.

Hal ini di tegaskan oleh firman Allah dalam al-Qur’an: Laqod jaakum Rosulum min ‘anfusikum ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum. ’Azizun ‘alaihi ma anittum, maksudnya Kanjeng Nabi tidak boleh melihat orang yang susah, tidak boleh memandang orang yang sedang mengalami kesulitan. Jika Nabi melihat orang susah beliau menangis deleweran, melihat orang yang kelaparan, wajah beliau pucat. Itu sifat dasar Kanjeng Nabi. Makanya beliu sangat ceriwis (dalam pengertian positif). Jika ada orang yang munkar sedikit saja beliau langsung mencegah, “ojo, ojo” khawatirnya, kalau nanti ada orang yang digergaji kepalanya. Melihat orang lapar saja beliau tidak tega, apalagi melihat orang digergaji kepalanya dan disetrika punggungnya. Supaya tidak ada oang yang digergaji kepalanya dan disetrika punggungnya, maka amar ma’ruf nahi munkarnya luar biasa sekali − selalu amar ma’ruf nahi munkar (jangan begini, jangan begitu). Wong Kanjeng Nabi dilempari batu, beliau diam saja bahkan mendoakan. Itulah Nabi.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dakwah pertama kali di Makkah, kebetulan yang beriman kebanyakan orang-orang miskin. Kadang yang ikut itu tidak punya rumah, yang biasa tidur di masjid, tuna wisma yang tidak punya rumah (ahli Shuffah). Orang-orang kaya, tokoh-tokoh masyarakat seperti Abu jahal, Abu Sofyan, Umayyah bin Kholaf semuanya memusuhi Kanjeng Nabi. Mereka bersedia diajak Nabi Muhammad SAW asalkan permintaan mereka dipenuhi. Dari situ mereka semua berunding dengan Kanjeng Nabi dan membujuknya. “Jika orang-orang miskin itu diusir, kita orang mau mengikutimu, soalnya kita tidak biasa kumpul dengan orang miskin, sebab baunya itu lho. Baunya orang miskin itu beda dengan orang kaya”. Begitulah Kanjeng Nabi dibujuk orang kafir.

Hanya karena ingin mereka selamat, hampir saja Kanjeng Nabi termakan bujukan mereka yang menginginkan adanya perbedaan. Sedangkan hal ini sangat bertentangan dengan wahyu Tuhan yang mengatakan bahwa orang itu sama − ajaran Islam yang akan diajarkan Rosul untuk umat manusia. Ketentuan manusia itu tidak ada yang lebih tinggi (mulia) daripada lainnya. Siapa yang paling mulia? yang paling mulia adalah yang bertakwa. Jadi bukan yang kaya; yang tinggi pangkatnya; yang lebih gagah; yang lebik cantik, tetapi yang lebih taqwa. “Inna akramakum ‘indallaahi atqookum”. Padahal keinginan orang orang kafir itu tidak seperti itu; menyuruh memuliakan orang kaya, dan merendahkan orang-orang miskin.

Oleh karenanya disini difirmankan dalam Al-Qur’an:

In kaaduu layaftinuunaka hampir saja mereka (orang kafir) memfitnahmu”. Kalau orang kafir tahu watak dasar Kanjeng Nabi, maka Allah lebih mengetahuinya. “Seandainya kamu menuruti mereka (mengusir orang-orang miskin) lattakhoodzuka kholiila,maka kamu akan menjadi kekasih mereka”. Jika demikian berarti bertentangan dengan wahyu yang kamu terima dari Allah.

Surat al-Isro’, ayat 74-75:

وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيْلاً (٧٤) اِذَا لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَوَاةِ وَضِْف الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُلَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا(٧٥)

Seandainya Allah tidak menguatkan kamu,lau laa an tsabatnaaka”, sungguh kamu bisa condong kepada mereka, walaupun hanya sedikit. Andaikan demikian, maka akan ditambahkan siksa hidup dan siksa ketika matimu. Lalu siapa yang akan menolongmu, kamu tidak akan menemukan penolong yang bisa menghadapi Aku, “tsumma laa tajidu laka ‘alainaa nashiira”, sebab yang berkuasa itu adalah aku Allah”. Untungnya Nabi dikuatkan oleh Allah.

Jadi sangking asihnya Allah kepada Nabi, walaupun Nabi mempunyai semangat mengajak siapa saja, tetapi Allah memberi kekuatan kepada Nabi, sehingga sama sekali semangatnya itu tidak sampai melanggar apa yang diturunkan wahyu dari Allah. Kita sendiri harus berhati hati, sebab semangat dakwah kita, terkadang melanggar ketentuan Allah sendiri, hanya karena ingin orang-orang masuk Islam semua, terus akhirnya, jika mereka tidak ikut maka akan dipukuli kepalanya. Nah, itu yang melanggar, walaupun semua ini untuk Islam − “karena dia nggak mau, jadi saya pukuli”, seperti itu tidak benar. Nabi itu dikuatkan oleh Allah sehingga tidak terbujuk, terfitnah sampai condong kepada kemauan orang-orang itu, untuk kemudian meninggalkan wahyu-wahyu ketentuan Allah.

Surat al-Isro’, ayat 76-77:

وَإِكَادُوْا لَيْسَتَفِزُّ وَنَكَ مِنَ اْلأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا وَإِذًالاَّيَلْبَثُونَ خِلاَفَكَ إِلاَّقَلِيْلاً (٧٦) سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُّسَلِنَا وَلاَتَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً (٧٧)

Ada yang memaknai ketika Nabi berada di Madinah, seperti al ibriz yang memaknai lafadz min al ardhi itu dari bumi Madinah, sebab ini, menurut tafsir yang mengatakan bahwa ayat 76 ini ketika Nabi di Madinah. Sedangkan ayat 77 turun sebelumnya, saat Nabi dakwah pertama di Makkah. Kanjeng Nabi dakwah di Makkah 12 tahun, di Madinah 10 tahun. 12 tahun menghadapi Abu Jahal dan antek-anteknya yang berkeinginan supaya Nabi tidak mengikuti wahyu Allah. Malah Kanjeng Nabi pernah diajak berunding untuk bergantian menyembah. “Hari ini mari kita menyembah bersama-sama berhalaku, Latta, Uzza dan Manat. Sedangkan besok kita orang akan ikut kamu menyembah Allah (Jawa: apik-apikan aten). Tetapi semua itu dijawab oleh Nabi Muhammad SAW “tidak bisa”, lakum dinukum waliadin agama kita berbeda, kalau kamu percaya begitu ya begitu.

Ketika di Madinah, Kanjeng Nabi mempunyai musuh baru, tidak orang kafir melainkan orang yahudi dan orang munafik yang kerja sama (berkoalisi). Orang munafik itu yang lebih bahaya dari pada orang kafir Makkah, sebab mereka tidak memperlihatkan kekafirannya. Wah halus dan hormatnya luar biasa sekali, kalau di depan Kanjeng Nabi. Jika di belakang beliu, mereka membicarakan beliu dengan orang yahudi itu entek ngamek (habis-habisan). Berkali-kali mereka mengatur bagaimana caranya mengusir Nabi Muhammad.

Rajanya munafik itu namanya Ubay bin Salul. Dulu Ubay bin Salul itu hampir saja terpilih menjadi pimpinan Madinah. Namun saat Kanjeng Nabi datang, kemudian kalah pengaruhnya dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sehingga, orang-orang Madinah memilih Kanjeng Nabi. Karena sakit hatinya kemudian Ubay bin Salul menjadi musuh di dalam selimut, kelihatannya dia tawadlu’, tetapi di belakang dia memikirkan bagaimana caranya mengusir Kanjeng Nabi. Kemudian dia bekerja sama dengan orang-orang yahudi itu. Akhirnya Kanjeng Nabi mendapat wahyu dari Allah Ta’ala, “orang-orang mendesak kamu, agar kamu terusir keluar dari Madinah”. Ee… dia tidak tahu, tidak tahu adat kebiasaannya Allah, jikalau ada kaum yang mengusir, memusuhi utusannya Allah, pasti akan disikat, “seandainya kamu jadi terusir, sesudah kamu terusir tidak akan lama orang tersebut akan di hancurkan Allah”, wa in kaadu la yastafizzunaka minal ardhi liyukhrijuka minhaa waidzan laa yalbatsuuna khilafaka illa qolila, “tidak akan lama pasti akan di sikat oleh Allah”. Sebab, itu sudah menjadi sunnahnya Allah.

Dulu-dulu juga begitu, mulai dari nabi Nuh sampai nabi Isa. Jika ada kaum yang berani dengan utusannya Allah, atau, jika ada kaum sampai meminta mukjizat kepada Rosul, kemudian dikabulkan dan mereka masih mbangkang, pasti akan dihancurkan Allah. Karena itu sudah menjadi sunatullah yang tidak bisa dirubah-rubah. Makanya, jika orang Madinah mengeluarkan kamu (Kanjeng Nabi) ya percuma, sebentar saja mereka akan disikat semua. Untungnya tidak jadi, (makanya menggunakan lafadz wa in kaadu, hampir saja). Semua usaha Ubay bin Salul tidak akan berhasil, walau bagaimanapun taktiknya tetap tidak akan pernah berhasil. Hingga pada akhirnya orang yang mengikutinya, malah terusir dari Madinah.

Surat al-Isro’, ayat 78:

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (٧۸)

Sholat fajar disebut “qur’anal fajri”, sebab disitu dibacakan Al-Qur’an, tidak hanya fatihah saja, tetapi dengan surat-surat yang lain, masak sholat subuh dua raka’at hanya membaca inna a’thoina dan qulhu, itu keterlaluan.

Surat al-Isro’, ayat 79:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (٧٩)

Ini merupakan perintah mendirikan sholat mulai dari terbitnya matahari sampai gelapnya malam. Sholat Dzuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan juga sholat fajar atau sholat Subuh. Sebenarnya sholat subuh itu disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang. Malaikat malam belum pulang dan malaikat pagi sudah datang. Semua menyaksikan orang yang sholat subuh membaca Al-Qur’an. Jika kesiangan, Malaikat malam sudah pulang, “ini tidak waktunya”, kan ada sif (pergantian kerja dan serah terimanya pada subuh itu juga). Jika subuhnya sudah jam 9 siang, maka hanya disaksikan malaikat siang saja dan itu pun subuhnya sudah garing sebab sudah terpanggang matahari. Itu namanya mepe qunut sebab qunutnya gosong. “Aqimis sholata li dulukis syamsi ilaa ghosaqil lail”

Kisah dalam ayat sebelumnya menceritakan perjuangan yang berat, menghadapi orang yang primitif seperti orang Makkah dan orang licik seperti orang Madinah yang ingin mengusir Kanjeng Nabi. Semua itu membutuhkan kekuatan bathin. Jadi tidak ada perjuangan yang ringan, semua berat sekali. Makanya ayat ini pun turun. Kanjeng Nabi diperintah aqimissholat (mendirikan sholat). Kalau di ayat lain, wasta’inu bissobri was sholat. Sholat itu kekuatan bagi orang mukmin. Jadi jika ada orang sumpek seperti menghadapi kenaikan harga, coba sholatnya digempur, insyaAllah masalah akan hilang.

aqimis sholata li dulukis syamsyi ila ghosaqil lail waqura’anal fajri, mulai sholat dzuhur sampai sholat isya dan sholat subuh. Jika tertib melakukan itu, insya Allah akan diberi kekuatan lahir bathin oleh Allah. Apalagi jika malam harinya ditambah sholat tahhajud. Harapannya, dengan sholat tahajud ini kita nantinya akan diberi maqomam mahmudan. Ayat ini memang khusus untuk Nabi Muhammad SAW, tetapi bukankah kita semua mengikuti jejaknya Nabi? Walaupun maqom terpuji itu berbeda antara Nabi dengan kita semua, tetapi bukankah itu sama-sama maqomam mahmudah? Di dalam hadits qudsi, ”orang itu bisa dekat pada Allah, tidak ada jalan yang lebih praktis, yang lebih gampang dan yang lebih cepat melebihi pelaksanaan fardhu-fardhu yang diperintahkan Allah.” Sesuatu itu ada yang sunah dan ada yang fardu, tetapi yang paling cepat mendekati Allah itu, dengan melaksanakan fardu-fardu. Adapun nawafil (kesunatan-kesunatan) − seperti qobliyah, ba’diyah, dhuha dan tahajjud merupakan sarana-sarana yang menambah kedekatan kepada Allah. Jika itu dilakukan terus menerus. Nanti, tiba-tiba tangannya adalah tangan Allah, kakinya kakinya Allah, artinya sudah menjadi wali. Jadi, wali itu menakutkan, istilah Jawanya ‘idune idu geni’.

Nomor satu, menjaga dan melaksanakan semua kefardluan mulai dari “aqimis sholat” hingga “inna qur’anal fajri kana masyhudan” − ditambah semua kesunatan-kesunatan itu. Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dengan kesibukaannya seperti itu. MasyaAllah! Sudah mengatur pasukan perang, mengurus sosial kemasyarakatan, mengimami sholat di masjid, malamnya pun masih tahajjud. Kemudian masih ditambahi pula. Sebab diperintah Allah “waminal laili fatahajjad bihi inna fi llakalllak” Kanjeng Nabi diperintah demikian supaya mendapat maqom yang terpuji − maqom tersebut adalah maqom syafaat. Kanjeng Nabi diizini memberikan syafa’at kubro (syafa’at yang terbesar) yang tidak dimiliki siapa pun, termasuk nabi-nabi lainnya.

Dipadang ma’syar nanti, anda bisa bayangkan; tidak ada pepohonan, tidak ada bangunan dan tidak ada tempat berteduh sama sekali, semuanya rata. Jika kita memandang ke barat, ke timur, Jakarta-Surabaya pasti kelihatan semua, karena tidak terhalang apapun. Belum lagi ditambah mepet (dekat sekali) dengan matahari. Di dalam Hadits, digambarkan bahwa di sana, manusia itu tenggelam di dalam keringatnya sendiri, karena panasnya. Bayangkan! seperti apa panasnya. Ingin berteduh, tidak ada tempat untuk berteduh, berapa lama kita berjalan dan digiring seperti ini?, berapa hari, berapa minggu, berapa bulan, tidak jelas, tidak ada pengumuman sampai kapan keadaan ini berakhir.

Panik menghadapi pancaroba yang begitu luar biasa, orang-orang mendatangi nabi Adam yang terlihat tinggi, “Nabi Adam, jenengan manusia pertama. Tolonglah kami, anak cucu panjenengan, Memohonlah kepada Allah”. “Maaf, saya tidak bisa menolong kalian. Dulu saya diberi banyak kenikmatan, hanya dilarang menjauhi satu pohon saja, saya langgar. Sekarang saya tidak berani jika harus memohon kepada Allah”. Kemudian orang-orang mendatangi nabi yang lainnya, seperti nabi Musa a.s. sampai nabi Isa a.s. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia. “Nabi Musa, engkau hebat dan berani kepada Fir’aun, tolong mohonkanlah kepada Allah!”. “Saya tidak berani, sebab saya dulu pernah membunuh orang, kalau saja tidak ditolong Allah, mungkin saya malah membunuh dua orang”.

Akhirnya, hanya nabi Muhammad SAW sajalah yang mendapatkan maqoman mahmudah, yang dipuji oleh orang-orang banyak. Sebab Nabi Muhammad itu mensyafa’ati semua orang. Nabi selalu menjaga sholat fardunya dengan komplit. Selain itu masih ditambah dengan sholat malam, yakni tahajjud. Menurut riwyat Siti ‘Aisyah (istri nabi), bahwa Nabi Muhammad SAW kakinya sampai membengkak karena selalu sholat. La wong, sehari-hari selalu seperti itu dan malam harinya masih tahajjud pula.

Tahajjud itu ada yang memaknai bangun tidur. Jika bermakna demikian, berarti sholat tahajjud itu harus tidur dulu. Ada juga yang memaknai ‘tahajjud’ adalah waktunya tidur, berarti sholat malam. Sekarang kita tinggal mengambil makna yang mana. Jika mengambil makna yang awal, berarti tahajjud di sini harus ngelilir dulu. Dan jika mengambil makna yang kedua, berarti sholat yang dilakukan setiap malam. Makanya ada yang mengistilahkan sholat malam dengan istilah tahajjud dan ada juga yang mengistilahkan qiyamul lail. Memang ngelilir itu berat, baik bagi yang tua ataupun yang muda. Namun biasanya Allah memberi pertolongan kepada mereka yang tua sebagai wujud kasih sayang-Nya dengan cara kebelet kencing. Meskipun demikian, masih saja ada yang tidak faham kalau ditolong Allah. Disuruh bangun lalu sholat, setelah bangun, bukannya sholat, tetapi cuma kencing saja dan kembali tidur. Terkadang malah ada yang tidak cebok. Tahajjud memang berat, karena dilakukan setelah bangun tidur. Jika sebelumnya tidak tidur, tidak apa-apa. Tetapi ini setelah tidur. MasyaAllah, beratnya! Ini hampir sama dengan sholat subuh, sebab dilakukan setelah tidur.

Tahajjud itu sedikit-sedikitnya dua rokaat dan banyak-banyaknya delapan rokaat dan akan lebih baik lagi bila ditambah witir, (witir itu artinya ganjil). Kalau dua rokaat ditambah satu, jadi tiga, atau ditambah tiga, jadi lima. Jika delapan maka ditambah satu, jadi sembilan; atau ditambah tiga, jadi sebelas, yang penting ganjil. Jika sebelumnya sudah witir, jangan ditambah lagi, nanti bisa jadi genap. Jikalau ada kekhawatiran tidak bisa bangun, maka lebih baik witir sebelum tidur. Sebab witir itu tidak pernah ditinggalkan Nabi. Makanya orang-orang ahli fiqih menghukumi sholat witir itu sunnah mu’akadah (di kukuhkan). Nah, karena tidak pernah ditinggalkan Nabi, sahabat-sahabat pun tidak pernah meninggalkan witir pula.

Yang paling utama bagi para sahabat adalah mengikuti jejak Nabi meskipun dengan metode yang berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan karena kebiasaan yang berbeda-beda pula. Seperti halnya yang dilakukan sahabat Abu bakar dan sahabat Umar. Kalau sahabat Abu bakar melaksanakan witir sesudah sholat isya’. Kalaupun jika nanti bangun malam, beliau tetap melakukan sholat malam dua rokaat atau delapan rokaat dan tidak melakukan witir lagi. Berbeda halnya dengan sahabat Umar. Karena kebiasaannya bangun malam, maka sesudah isya’ beliau tidak witir dulu. Nah, di sinilah enaknya ada dua metode panutan, sekarang anda tinggal memilih yang mana? Jika memang biasa bangun malam, anda bisa meniru sahabat Umar, jika anda tidak terbiasa bangun malam (kadang-kadang bangun, kadang-kadang tidak), maka tirulah sahabat Abu bakar saja.

Banyak yang bertanya, “saya itu sudah witir, apa boleh sholat lagi?” mungkin menurutnya witir itu sholat yang terakhir, padahal witir itu maknanya ganjil. Jadi, kalau sudah sholat witir tiga rokaat, kalau nanti setelah tidur ingin sholat tahajjud dua rokaat saja, jangan ditambahi tiga, nanti malah jadi genap. Fatahajjad bihi nafilatalak. Jadi, sholat tahajjud kemudian menunggu subuh sekalian. Sebab itu, tidak hanya disaksikan malaikat malam dalam waktu sebentar, tetapi bisa dalam waktu lama, belum serah terima segala, malaikat malam sudah menunggu anda sampai datangnya malaikat siang. Jangan sampai menjelang subuh tidur lagi sampai jam sembilan.

Tengah malam, waktu sholat tahajjud, suasananya sangat berbeda. jarum jatuh saja terdengar dan suara-suara yang paling lembutpun bisa terdengar, bisa-bisa, suara malaikat terdengar juga, sebab malaikat menunggu anda. Terkadang jika anda salam, “assalamu ‘alaikum” terdengar suara berisik, itu suara malaikat yang menjawab salam anda. Berarti makmum anda banyak sekali. Tetapi saya tidak pernah mendengar, berarti sebab banget ngantuknya.

Surat al-Isro’, ayat 80:

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا (۸٠)

Ketika Nabi diperintah untuk hijrah, Nabi sudah menganjurkan anak buahnya untuk hijrah mulai ke Habasah (Ethiopia), menyebrang dari Asia ke Afrika sampai hijrah ke Madinah. Tetapi Nabi masih di Makkah, sedang sahabat Umar dan lainnya sudah hijrah semua. Sahabat Abu Bakar pun sebenarnya ingin ikut hijrah juga namun beliau ditahan oleh Nabi, “kamu menemaniku saja”, “ sampai kapan?” sampai menunggu perintah dari Allah. Setelah mendapat perintah hijrah, terus mendapat wahyu ayat ini.

Kanjeng Nabi diperintahkan supaya membaca ayat ini supaya keluar dari Makkah dan masuk ke Madinah dalam kedaan benar, tidak tersesat dan diridoi Allah Ta’ala − dan bagi orang yang akan pindah rumah supaya membaca ayat ini.

Nabi tidak pernah meninggalkan ikhtiar batin sebab memang gurunya Allah. Kanjeng Nabi dididik langsung oleh Allah model ikhtiar rangkap, ada sholat, ada tahajjud, ada doa. Itu semua kata Nabi menjadi silahul mukmin (senjatanya orang mukmin). Makanya, kita sebagai umat Nabi tidak boleh meninggalkan ajaran beliau. Ikhtiar apapun itu harus disertai ikhtiar batin.

Sudah saya katakan, mulai bekerja, mulai ngaji, mendidik anak dan seterusnya, tidak bisa mengandalkan kemampuan sendiri − baik tenaga maupun fikiran, tetapi meminta kepada Allah. Bekerja tidak bisa mengandalkan kemampuan usaha saja, “aku ini lulusan fakultas ekonomi, kalau soal pasar semuanya sudah saya kuasai, dijamin beres”. Tiba- tiba bangkrut, kemudian stress dan ijazahnya disobek-sobek. Makanya, ikhtiar harus di rangkapi. Buktinya, lulusan IKIP ahli pendidikan, mendidik anaknya saja sangat kerepotan sekali, sebab dia mengandalkan keahliannya saja, tidak mengandalkan ikhtiar batin.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dididik oleh Allah, “jika kamu hijrah, ikhtiar, ke tempat yang lebih baik, maka berdoalah dengan doa tersebut”, jadi seandainya mempunyai kekuasaan, kekuasaan inilah yang menolongnya, bukannya kesultanan yang malah menelantarkannya. Jadi ada kekuasaan yang membuat orang jadi jelek dan ada pula yang membuat orang jadi baik. Saat jadi lurah desa, desa jadi baik. Nah, ini sultonan nashiro, namanya kekuasaan yang menolong orang yang berkuasa. Tetapi jika jadi lurah hanya menelantarkan rakyatnya − ini yang dilaknati oleh rakyatnya, ini namanya tidak sultonan nasira tetapi sultonan laknat. Maka dari itu, berdoalah dengan doa di atas.

Sulthon itu dari Allah − yang di minta − tidak dari manusia, sebab Allah penolong manusia. Bila ada orang yang menginginkan kekuasaan, misalnya ingin jadi lurah atau ingin jadi gubernur, maka orang tersebut akan dibiarkan oleh Allah. Entah itu menipu rakyat atau membungkam rakyat. sebab itu keinginan anda sendiri. Tetapi kalau kekuasaan anda sebab dipilih orang banyak, itu akan ditolong oleh Allah. Seandainya seorang calon mengetahui rahasia ini, seharusnya jangan mau didorong-dorong oleh orang lain − karena yang bisa menolong itu hanya Allah. Jadi harus min ladunka dari Engkau (Allah), jika kekuasaan dari Allah, maka namanya sultanan nashira. Kalau tidak dari Allah, entah itu, dibiarkan saja.

Surat al-Isro’, ayat 81:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (۸١)

Haq itu, sesuatu yang benar, lawannya batil (Sesuatu yang tidak benar). Perkara batil akan sirna, lambat atau cepat itu pasti. Jika kebenaran datang, kebatilan akan sirna. Tetapi yang repot, jika kebenaran tidak datang, yang datang hanya batil dan batil, sampai besok tidak ganti-ganti tiada akirnya, batil terus. Padahal yang dibutuhkan adalah datang

kebenaran agar yang tidak benar sirna. Kalau yang datang hanya yang tidak benar, maka tidak bisa membenarkan yang tidak benar (jaal haq wazahaqol batil).

KH. A. MUSTHOFA BISRI

Jum’at, 18 Agustus 2008

Surat al-Isro’, ayat 82:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّ خَسَارًا (۸۲)

Dalam firman Allah; “Ingsun sudah menurunkan sesuatu dari al-Quran yang merupakan obat bagi orang-oarng mukmin. Sebaliknya bagi orang-orang musyrik hanya menambah kerugian-kerugian”.

Al-Qur’an itu bagi orang mukmin bisa menjadi obat hati, obat sumpek, obat malas dll. Jadi kalau anda lagi mempunyai masalah, lagi sumpek, bacalah al-Qur’an. Kalau ingin selalu bahagia, terhindar untuk tidak pernah mengalami kesumpekan dan keruwetan hidup, maka bacalah al-Qur’an setiap hari secara terus menerus (istiqomah), minimal ba’da sholat maghrib atau ba’da sholat subuh. Sukur-sukur kedua-duanya, ba’da maghrib dan ba’da subuh. Sedikit-sedikit tetapi terus. Supaya lumintu (istiqomah), bacalah sesuai dengan hati yang lega.

Begitu banyaknya manfaat dan kegunaan al-Qur’an. Imam Suyuthi membuat sebuah kitab kecil yang berisi kegunaan satu persatu ayat-ayat al-Qur’an. Entah beliau dapat dari mana? siapa yang tahu? Sebab beliau termasuk orang istimewa.

Anda sudah mengaji tafsir al-Ibriz, tentunya membuat anda menjadi mengerti isi-isi al-Qur’an. Makanya kalau mau membaca al-Qur’an, gunakanlah al-Ibris. Bacalah dengan pelan-pelan, dihayati, diangen-angen; artinya, jangan sampai membacanya kebut-kebutan. Orang-orang dulu itu kalau membaca al-Qur’an, tiga puluh tahun baru khatam. Berarti mereka memahami betul dengan isi yang terkandung di dalam al-Qur’an. Kalau anda mau membaca, sebaiknya denga cara langsung melihat Al Qura’an, meskipun anda sudah hafal. Misalnya, anda kan sudah hafal betul al-Fatihah, sebaiknya juga membaca sambil melihat langsung. Kata orang-orang dahulu, membaca al-Qur’an dengan cara melihatnya langsung, bisa membuat orang tidak cepat pikun.

Surat al-Isro’, ayat 83-84:

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا (۸٣) قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلاً (۸٤)

Ketika Allah memberi kenikmatan kepada orang kafir (insan). Aslinya seperti itu. Tafsir mana saja, ‘insan’ itu artinya orang kafir. Sekarang anda rasakan sendiri. Ternyata kok tidak orang kafir saja, orang islam juga sama saja. Untungnya kata-katanya insan, seandainya kata yang digunakan ‘kafir’ maka sudah tidak cocok lagi dengan keadaan sekarang. Kalimatnya seperti ini “Ketika Allah memberi kenikmatan kepada orang kafir, dia itu terus berpaling dan ketika mendapat musibah, dia putus asa”. Itulah sifatnya orang kafir. Jadi dia kelihatannya baik nyebat-nyebut “astaghfirullah”. Tapi kalau mendapat kenikmatan, dia lupa dengan segalanya dan tidak lagi nyebut-nyebut “astaghfirullah” karena dia sudah berpaling dari Allah. Sudah “’aradlo wa na’a bi janibi”. Maksudnya ‘aradlo itu tidak mau bersyukur dan na’a bi janibi itu sombong.

Seperti Qorun Pada zamannya nabi Musa, Dia itu melaratnya luar biasa, lalu memohon kepada nabi Musa supaya didoakan menjadi orang kaya; “Kalau saya kaya, saya akan dermawan kepada fakir miskin biar tidak ada lagi orang fakir miskin di kota ini” janji dia. Nabi Musa langsung mendo’akannya. Namanya nabi, doanya pasti langsung dikabulkan oleh

Allah. Qorun sekarang sudah menjadi orang kaya. Tapi dia lupa dengan janji-janjinya kepada Nabi Musa. “Qorun! katanya kalau anda kaya akan mendermawani fakir miskin?, kecewa aku mendoakanmu” ujar Nabi Musa kepada Qorun saat berpapasan di jalan. “Ini bukan karena doamu, tapi ini karena keahlianku dalam mencari uang. Aku kan pengusaha luar negeri” jawab Qorun dengan sombong. “Salahnya sendiri orang fakir miskin tak mau berusaha. Kalau mau berusaha seperti aku, tentu mereka akan kaya” Tambah Qorun. Qorun sekarang tambah kaya, tambah kaya…, tambah berpaling dan tambah berpaling dari Allah. Nah ini kan sifatnya orang kafir dan orang munafiq, seperti Qorun, Abu Jahal dan lain-lain.

Sekarang ini orang islam kok seperti itu. Kalau tak punya uang, dia sholatnya di belakang imam, sampai-sampai mau nyeruduk bokong imamnya. Imamnya sudah pulang, ia masih getthul berwiridan, tasbihnya diputar-putar sampai beberapa ribu “ya rozaku, ya rozaku”. Ketika dia mulai punya uang, sholatnya sudah tidak di belakang imam. Tapi sudah geser ke belakang sedikit. Dan ketika kaya, sholatnya di shof belakang. Tambah kaya, dan tambah kaya, sudah tidak sholat lagi. Berpaling wa na’a bi janibi sudah tidak ada kabar. Soalnya kaya itu membawa konsekuensi. Konsekuensinya itu nggak ada waktu. Jamaah buat apa? Lah ditemenin uang sebanyak ini, nanti kalau jamaah, hilang uangku ini. Yang diberi nikmat itu manusia. Jadi sekarang ini, insan bukan hanya insan yang dholim saja, yang tidak dholim kok sama. ’aradlo wa na’a bi janibi.

Ketika dia (pejabat atau penguasa) butuh, dia meminta doa kepada kyai. Sedangkan ketika sudah jadi, dia sudah tidak ada waktu, berpaling dari Allah SWT. “Anda dulu kan didoakan kyai jadi lurah. Kyai apa! Tidak! Ya karena aku terkenal itu, makanya rakyat memilihku”. Seandainya ketika dia butuh, depe-depenya kepada Allah SWT sampai mencari kyai segala direkam semuanya. Terus direkam kalau sudah kaya, sudah diberi nikmatnya Allah. Kayaknya kok bagus banget.

Manusia itu modelnya seperti itu. Kalau mendapat nikmat, dia melete, berpaling dari Allah SWT. Kalau mendapatkan musibah, dia putus asa. Memang dia tidak punya iman, jadi putus asa. Terus kendat (gantung diri). Bahkan ada yang sampai membunuh mertuanya sendiri, menyekik menantunya, menyekik anaknya, menyekik istrinya. Itu kalau sudah putus asa, tidak kuat menahan ketika mendapat musibah. “Kalau mendapat musibah putus asa, Kalau mendapat nikmat berpaling.” Itulah orang kafir.

Orang mukmin seharusnya tidak seperti itu. Kalau orang mukmim, mendapatkan nikmat bersyukur, kalau mendapat musibah sabar. Jadi orang mukmin itu mendapatkan terus. Dia sabar mendapatkan pahala. Tidak dapat di dunia ya di akhirat. Apalagi kalau dia mendapatkan nikmat lalu bersyukur, maka dia mendapatkan dua. Sudah mendapatkan nikmat dunia, mendapatkan nikmat akhirat. Makanya difirmankan “Tidak ada yang lebih enak, melebihi orang mukmim”.

Nah itulah orang mukmin; mendapat nikmat bersyukur, mendapat musibah sabar.

وَﻻَتَيْئَسُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

Dan janganlah anda putus asa, masih ada Allah

Diganjar kaya, diganjar miskin belum tentu mana yang lebih berat. Kadang-kadang diganjar miskin malahan rajin sholatnya. Ketika diganjar kaya malah jauh dari Allah. Tapi kalau strateginya ‘mendapat nikmat bersyukur, tertimpa musibah sabar, maka dalam kondisi apapun akan enak terus aman santosa dan sejahtera − tidak akan putus asa, karena masih punya Allah. Masa sama-sama hamba Allah, aku dilupakan sendiri, tidak mungkin.

Rosulullah SAW kedawuhan (mendapat perintah), untuk mengatakan pada orang kafir yang ngeyel-ngeyel itu − malah belakangan minta baik-baikkan hati. “Sekarang aku ikut

anda, besok anda ikut aku nyembah berhala. Sudah katakan saja sama orang-orang itu Muhammad “Qul kullun ya’malu ‘alaa syaakilatihi”. Sekarang menurut (memilih) jalannya masing-masing saja. Dibilangin tidak mau, ya sudah. Anda kesana aku kesini. Allah yang maha mengetahui, mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah.

Kalau kita sudah ikhtiar menasihati orang, tetapi dia tidak mau, ya sudah biarkan saja; “ini lo kang, kalau lurus terus itu benar dan kalau kesini, seperti yang sampean tempuh itu salah”. Ya tidak! yang benar kesini. Kalau dia ngeyel seperti itu, anda tidak usah mengambil kayu, tak pukul lo sampian kalau tidak kesini !”. Tidak boleh seperti itu. “Ya sudah kang, masing-masing mengambil jalan sendiri, kalau nanti sampean jatuh ke jurang, ya dirasakan sendiri, aku sudah menasihatimu”. Kita tidak usah memaksa orang lain, untuk menuju ke jalannya Allah yang benar

أُدْعُوا إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحَقِّ وَاْْلمَوْعِظَةِ اْلحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ.

Ajaklah ke jalan Pengeranmu dengan cara yang baik (mauidloh khasanah). Kalau perlu bantah-bantahan, ya bantah-bantahanlah dengan cara yang paling baik. Jangan yang menyakiti hati. Kalau dia tetep ngeyel ya sudah.

( لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْن) , (لَنَا أَعْمَلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَلُكُمْ) .

Lakum dinukum waliadin, artinya, bagimu agamamu bagiku agamaku, sudah masing-masing. Lana a’malun walakum a’malukum, artinya, bagiku amal perbuatanku dan bagimu amal perbuatanmu. Silahkan sana! Qul kullun ya’malu ‘alaa syaakilatihi, masing-masing anda dan saya beramal sesuai caranya masing-masing. Kalau aku begini anda begitu terserah.

Surat al-Isro’, ayat 85:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً (۸٥)

Kanjeng Nabi sudah mendapatkan ayat ini sebelum ditanya oleh orang-orang Yahudi itu. “Wa yas aluunaka ‘anir ruh”. Nanti orang-orang Yahudi akan bertanya kepadamu tentang ruh. Kalau nanti orang-orang Yahudi itu bertanya tentang ruh, maka jawablah ruh atau nyawa itu termasuk urusannya Allah. Aku dan kalian semuanya tidak diberi ilmu kecuali sedikit.

Pada tahun 1979, saya (Gus Mus. Red.) pernah ikut musyawarah terbatas dengan para kyai dan para ahli kedokteran. Penyebabnya adalah tidak berjalannya progam KB. Para dokter menyangka, hal ini disebabkan, karena kyai-kyai tidak setuju. Maka diusulkan untuk bermusyawarah dengan para kyai, biar tahu kyai itu yang nggak setuju apanya dan yang setuju apanya. Salah satu yang ditanyakan kyai-kyai dalam musyawarah itu kepada dokter-doker adalah; apa yang namanya hidup dan apa yang namanya mati? Soalnya di al-Qur’an itu ada “janganlah kalian membunuh anak-anak kalian” khos yata ‘imlaaq. Khawatirnya nanti kalau ada orang yang membunuh kandungannya atau aborsi, dan itu umur berapa? Para dokter menjawab; dokter-dokter masih belum menyepakati nyawa itu apa. Karena ada orang sudah gletak tidak bisa apa-apa, di mesin masih ada bunyi tek.. tek.. tek.. itu diyatakan masih hidup. Berarti nyawa itu di jantung? Ya tidak juga. Kadang dikatakan jantungnya mati, tapi di monitor otaknya masih tik.. tik.. tik.. dinyatakan belum mati. Kalau begitu di otak? Ya nggak juga. Nyawa itu dimana? nggak tahu?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW, 16 abad yang lalu sudah ditanya oleh orang-orang Yahudi tentang ruh. Maksudnya nguji. Orang Yahudi itu senangnya menguji. Mencocokkan argumennya; bahwa ruh itu urusannya Allah. Tidak ada manusia yang tahu mengenai ruh.

Ketika orang-orang Yahudi menanyai Kanjeng Nabi tentang ruh, maka Kanjeng Nabi sudah diberi tahu jawabannya oleh Allah SWT. Beliau pun menjawab “Arruhu min amri Robbik” Ruh itu termasuk urusannya Allah bukan urusannya manusia.

Manusia itu sampai sekarang kepingin mengetahui segalanya. Padahal ilmu yang diberikan Allah kepada manusia itu sedikit. Tapi semangatnya besar sekali. Sekarang ini, manusia ingin mengetahui, menyelidiki dan mencari, apakah di bulan ada air atau tidak? Sampai soal ruh pun juga pernah diselidiki oleh orang Jerman dan orang Inggris. Pada akhirnya, yang satu tidak berani meneruskan, karena ada larangan tidak boleh meneliti tentang ruh. Yang satunya, yang dari Jerman, masih terus menyelidiki. Tapi akhirnya bunuh diri. Kesimpulan terakhir, kata orang Jerman, nyawa itu naik ke atas seperti karakternya asap atau api. Berbeda dengan air. Karakternya ke bawah tidak ada yang naik ke atas. Illa qolilan.

Tetapi ahli-ahli tasawuf masih mau memaknai (membahas), berbeda dengan ahli-ahli fiqih yang srei (tidak mau) memaknainya. “Itu urusannya Allah maka tidak usah kita bahas kalau membahas nanti pusing kepalamu”. Menurut ahli-ahli tasawuf, dalil Qul ar-ruh min amri robbii itu bukan dalil larangan untuk membahas ruh, jadi oleh orang-orang tasawuf ruh itu dibahas. Ruh itu apa? kaitannya dengan tubuhnya manusia itu apa? Itu dibahas.

Menurut ahli-ahli tasawuf, semisal Imam Ghozali berpendapat bahwa manusia itu punya organ tubuh dua, ada yang jasad (daging, darah, tulang) dan ada yang ruh (cahaya). Inilah yang disebut dengan nyawa.

Qolbun itu mempunyai makna daging, secara fisik yaitu jantung yang disate seperti biasanya. Tapi ada qolbu yang dimaknai orang Jawa dengan hati. Kalau anda mengucap; “hati itu tidak enak semua”, yang dimaksud itu hati yang anda sate apa hati yang nggak disate? Jadi anda kalau di pasar Arab terus berkata “uridu an astaria qolban”, maksud anda, saya mau beli hati, pasti ditertawai orang banyak. Itu maksudnya apa? Kalau mereka mengerti bahasa Fushah, anda dikasih jantung. Maknanya Qolbun secara pasar itu jantung. Kalau anda haji dan mau beli hati jangan berkata qolbu nanti diberi jantung, tapi ucapkanlah kibdah.

Sebutan (nama) seseorang yang disebut orang itu nyawanya bukan kok fisiknya. Sutonoyo itu disebut orang karena ada nyawanya. Kalau tidak ada nyawanya disebut almarhum Sutonoyo atau jenazahnya Sutonoyo. Jadi ada namanya nurani, yang tidak kelihatan di monitor oleh dokter. Makanya harus menggunakan monitor baru yang bisa memonitor cahaya. Makanya di Indonesia ada dua istilah; ada hati, ada hati nurani.

Hati nurani itu tidak ada kaitannya dengan hati yang disate, karena hati yang disate itu namanya liver, kata dokter. Baru yang fisik saja dokter sudah pusing semua. Melihat saraf-saraf yang ada di otak, tulang punggung, hubungan antara jantung dengan otak, itu saja dokter sudah pusing, belum lagi yang seperti ruh. Tapi memang benar kalau membahas ruh itu bisa membuat kepala pusing. Nanti pertayaannya “sekarang ruhnya mbahku dimana? Melihat saya apa tidak?” Kita hanya diberi ilmu sedikit.

Surat al-Isro’, ayat 86-87:

وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْ هَبَنَّ بِالَّذِى أَوْ حَيْنَاإِلَيْكَ ثُمَّ لاَتَجِدُلَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيْلاً (۸٦) إِلاَّ رَحَمَةً مِّنْ رَّبِّكَ إَنَّ فَضْلَهُ وَكَانَ عَلَيْكَ كَبِيرًا (۸٧)

Kanjeng Nabi kalau menerima wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril seperti wa yas alunaka anil ruh…,. seketika itu Kanjeng Nabi langsung hafal. Kalau sampian, dibacakan saja tidak bisa hafal, mesti disuruh menuliskan dulu. Kanjeng Nabi tidak bisa nulis dan tidak

bisa membaca. Metodenya, Malaikat Jibril membaca, Kanjang Nabi langsung hafal. Begitu hafal tidak akan lupa selamanya. Satu al-Qur’an utoh beserta huruf-hurufnya pas semua. Padahal ayat-ayat al-Quran itu datangnya tidak langsung satu al-Qur’an penuh, tapi bertahap 3 ayat, 4 ayat sampai seterusnya − dari surat al-A‘la ayat 1-5 dan seterusnya. itu semua nggak ada yang hilang. Sangking cerdasnya.

Disini difirmankan, “Kalau saja Ingsun (Allah) menghendaki, bisa saja Aku menghilangkan ayat-ayat al-Qur’an yang Aku berikan kepadamu (Muhammad). Kalau Aku benar-benar menghilangkannya, kamu mau minta pertolongan kepada siapa untuk mengembalikannya. tidak ada yang sanggup melakukannya. “Stumma laa tajidu laka bihi ‘alainaa wakiilaa” yang kamu suruh untuk mengembalikan wahyu itu siapa. Tidak ada yang mampu melakukannya, kecuali Allah. Untungnya “Illa rohmatan min robbik” − yang seperti tadi tidak akan mungkin tejadi, karena ada rahmat dari Pengeranmu. Jadi tidak ada satu kalimat, satu ayat, satu kata yang kececeran − karena rahmat Allah − yang selalu menjaga al-Qur’an.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW, semangat ibadahnya kepada Allah, tidak mau kalah dengan da’wah beliau kepada umatnya. Coba anda bayangkan, siang da’wah kepada umatnya dan jika malam tiba beliau beribadah kepada Allah, sampai-sampai lutut beliau bengkak, karena lamanya sholat beliau. Kira-kira kalau cuma dua rokaat, empat rokaat, delapan rokaat, mungkin belum bengkak. Dua puluh rokaat pun mungkin juga belum bengkak. Jadi kalau Kanjeng Nabi berapa rokaat?

Sampai ada yang bilang pada Kanjeng Nabi, “Anda adalah utusan Allah sekaligus kekasihNya, bukankah utusan Allah itu sudah diampuni semua dosa-dosanya. Tetapi mengapa anda masih beribadah seperti itu?” Wajar kan kalau ada seseorang bertanya seperti itu! “Apakah saya tidak boleh kalau bersyukur kepada Allah?” Jawab Kanjeng Nabi.

Ibadahnya Rosul, sembahyangnya Rosul adalah merupakan rasa syukurnya kepada Allah SWT, karena beliau telah mendapat anugerah yang luar biasa (rahmat) yang kemudian diumumkan Kanjeng Nabi. Karena memang beliau didawuhi Allah “Wa amma bini’mati rabbika fahaddist”. Kanjeng Nabi menceritakan syukurnya, seperti sabda Nabi “kana rosulullah”. Yang seperti demikian itu yang dinamakan tahaddust binni’mah, “Aku memperlihatkan rasa syukurku kepada Allah”. Kalau Kanjeng Nabi sholat itu bukan karena ingin diampuni dosanya atau ingin yang lain. Tetapi hanya karena beliau bersyukur kepada Allah. Jadi esensinya sholat itu bersyukur.

Jika esensinya seperti itu, berarti orang melakukan sembahyang bukan karena terpaksa melainkan karena hasrat. Kalau ada orang sholat karena terpaksa, itu dikarenakan memandang sholat sebagai kewajiban. Akan tetapi, jika orang memandang sholat sebagai ungkapan rasa syukur, maka tidak akan ada rasa terpaksa melainkan ingin. Kalau kita ingin mempunyai sifat yang demikian, bagaimana caranya? Kita harus merasa, apakah kita mendapatkan nikmat dari Allah atau tidak?

Orang itu ada kalanya menyadari, bahwa dia mendapatkan nikmat dari Allah dan ada kalanya tidak menyadari. Contohnya, apabila kita sudah makan, minum, maka kita mengucapkan “Alhamdulillah”. Dapat untung kita juga bilang Alhamdulillah. Pulang haji tidak bilang Alhmdulillah tetapi mengundang orang banyak itu juga termasuk nikmat yang disadari. Tetapi kalau kita bisa bernafas, kita tidak pernah menyadarinya, bahwa bernafas itu nikmat Allah. Biasanya yang menyadari, hanya orang yang lagi sakit mengi (asma) yang sampai dibawa ke rumah sakit, setelah sembuh dia mengucapakan “Alhamdulillah saya bisa bernafas lagi”. Tapi kalau kita — yang masih sehat − tidak pernah mengucapkan “Alhamdulillah aku masih bisa bernafas”.

MasyaAllah, kalau anda sesak sebentar saja, tingkah anda tidak karuan. Kalau anda pingin mencoba, kepala anda masukkan ke dalam bak mandi, kira-kira selama 6 menit. Kalau nanti anda ditanya rasanya kayak apa? Jawab saja “Alhamdulillah”.

Di negara-negara maju seperti Amerika serikat dan juga belahan benua Eropa, untuk bernafas saja membutuhkan beberapa dollar, harus piknik ke daerah agar bisa bernafas dengan enak. Karena udara di kota sudah terkena polusi yang dihasilkan oleh asap kenalpot-kenalpot mobil dan asap pabrik. Sekarang bisa anda bayangkan, di Jakarta saja, mobil dan pabrik sudah begitu banyaknya, kira-kira di Amerika kayak apa? Di Amerika sana, orang yang melarat takersikut saja mempunyai mobil. Mobil tidak menandakan dia kaya, tapi merupakan tanda, bahwa dia masih hidup.

Di Amerika, ada daerah-daerah yang khusus untuk piknik orang-orang kota. Disitu orang-orangnya tidak diperbolehkan naik mobil, motor, tapi harus naik sepeda pancal, dokar dan andong. Biasanya, sabtu ahad, orang-orang piknik kesana hanya untuk menikmati bernafas. Kalau di Indonesia ada daerah, di Lampung sana yang ada pabrik karet terbesar, disitu anda tidak enak bernafas. Disini anda masih enak bernafas, tapi karena sudah terbiasa anda tidak menyadari bahwa itu suatu kenikmatan.

Bisa kencing tapi tidak pernah mengucapakan ‘Alhamdulillah’, karena belum pernah ke rumah sakit. Tidak bisa kencing, prostat saja itu puluhan juta bisa kencingkan orang. Anggop bisa kembali itu merupakan kenikmatan tapi ada anggop yang tidak bisa kembali dibawa kedokteran itu habis 6 juta baru bisa kembali lagi karena kelebaren anggop, maka engselnya geser. Bayangkan moled tidak bisa kembali terus menghadap kesana saja. Jadi kalau dihitung kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita itu tidak terhitung. Makanya ada firman Allah “kalau kamu mau menghitung tidak mungkin bisa menghitung kenikmatan Allah”. Nah kalau anda mengucapakan “Alhamdulillah” setiap habis kencing, bernafas, anngop, moled, dan lain-lain, pasti anda akan capek. Makanya Allah sangking rohmatnya kepada kaum dibuatkan pekerjaan yang dibuat syukur kepada-Nya. Seharusnya 50 waktu itu baru lengkap. Anda sholat 50 waktu, lumayanlah kalau lihat bandingan nikmatnya, nikmatnya sekian banyaknya sedangkan hanya 50 waktu itu agak lumayan. Ini tidak gara-gara usulnya nabi Musa tinggal 5 waktu saja anda kurangi itu kebangeten. Banyaknya kenikmatan hanya 5 waktu saja kok dikurangi, top baqilnya − top tidak mempunyai syukur yang banget sekali. Makanya Kanjeng Nabi itu 5 waktu kurang. Jadi kalau malam Kanjeng Nabi itu sembayang sendirian. Asalnya sholat di masjid karena orang-orang pada ikut terus Kanjeng Nabi itu mempunyai karakter yang tidak suka memberatkan orang. Nabi Muhammad SAW khawatir, jikalau beliau melakukan sholat tarawih setiap hari, sholat tarawih akan diwajibkan Allah SWT bagi umat Islam. Sehingga beliau jarang pergi ke masjid malam hari. Akhirnya beliau sholat tarawih 8 rokaat di masjid dan diteruskan di rumah hingga 20 rokaat, sehingga para sahabat hanya mengetahui bahwa sholat tarawih sholat Nabi Muhammad SAW hanya 8 rokaat ketika sholat di masjid secara berjamaah, tetapi menurut kesaksian Sayyidah Aisyah r.a., Nabi Muhammad SAW meneruskan hingga 20 rokaat. Sehingga kita tidak perlu heran dengan adanya sholat tarawih 8 rokaat dan 20 rokaat. Sehingga sahabat-sahabat Rosulullah saling berdiskusi tenteng adanya perbedaan bilangan rokaat sholat tarawih. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “seandainya tidak membebani umatku pasti aku suruh umatku untuk menggosok gigi ketika akan sholat” karena rasa sayangnya Rosulullah terhadap umat beliau, maka menggosok gigi tidak diwajibkan dan apabila diwajibkan maka umat beliau akan berdosa terus-menerus.

Kita menjadi umat beliau juga merupakan rahmat Allah SWT. Menghitung nikmat Allah SWT merupakan tindakan yang sangat-sangat mustahil untuk dilakukan. Seperti ‘wato ud-dunya’, siapapun pasti keberatan berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, tidak ada yang keberatan, adakalanya yang sifatnya lemah lembut ataupun yang sifanya keras − yang tidak

cocok. Ketika zaman kekhalifahan sahabat Abu Bakar r.a., ada sahabat yang menganggap sahabat Abu Bakar r.a. kurang tegas tetapi ketika kekhalifahan sahabat Umar r.a. dianggap terlalu tegas, tetapi pada zaman Nabi Muhammad SAW tidak ada seorang sahabat pun yang seperti itu bahkan seorang imampun jarang yang menegrti suasana hati para makmumnya, sehingga para makmumnya banyak yang menggerutu ketika sholat. Sehingga di zaman Nabi Muhammad SAW tidak ada seorang sahabat yang menyebarkan berita, bahwa makmumnya Kanjeng Nabi menggerutu tentang lamanya sholat ketika berjamaah dengan Kanjeng Nabi.

Nabi Muhammad SAW mendapat rahmatnya Allah SWT hingga meluap ke umat beliau, sehingga kita yang sebagai umat beliau harus memperbanyak shalawat agar kita sebagai umatnya mendapat luapan rahmat dari beliau.

KH. SYAROFUDDIN IQ.

Jum’at, 25Agustus 2008

Surat al-Isro’, ayat 88:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (۸۸)

Katakanlah Muhammad: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul (bersatu) untuk membuat yang serupa al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya. Sekalipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain”.

Dalam ayat di atas, mengapa yang didawuhi hanya manusia dan jin? Sedangkan malaikat tidak? Sebab malaikat sudah yakin kepada al-Qur’an, bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan mereka merasa kalau tidak mampu. Manusia dan jin-lah yang membangkang. Sedangkan malaikat sendiri itu baik − tidak ada malaikat yang kurang ajar bahkan malaikat itu penyayang. Jika ada malaikat yang iri, ingin menjadi manusia, seperti malaikat Jibril − karena manusia mempunyai sholat jamaah lima waktu, silaturahmi, ta’ziah, dan ada tajhizul janazah. Keutamaan itulah yang diinginkan malaikat Jibril. Sementara manusia sendiri tidak begitu paham bahkan ingin menjadi malaikat, apa ini tidak simpang siur?. Orang Jakarta ingin menjadi orang Rembang yang setiap pagi bisa mengaji seperti ini, sebaliknya orang Rembang ingin menjadi orang Jakarta. “Jadi, sebenarnya siapa yang goblok? Atau sama-sama gobloknya. Ya Allah! Kalau dipikir-pikir saya ini goblok sendiri. Saya tidak pernah memikirkan diri sendiri, malah memikirkan dan melihat keadaan orang lain, sebab saya belum menjadi orang”.

Malaikat didawuhiusjudu li adama langsung fasajadu illa iblis’. Nah iblis itu yang membangkang. Sebenarnya dia seleting (sejajar) dengan malaikat. Jin dan syetan sekarang sudah libur dan menganggur, sebab tidak ada lagi yang digoda. Lihat saja, orang sekarang saling bantah-bantahan. Wajarlah kalau orang sekarang kurang ajar dibandingkan dengan orang dahulu, barang kali karena syetannya sedikit. Dahulu satu orang digoda dua, tiga, empat, dan tujuh paling banyak. Tetapi, kalau sekarang satu orang digoda beberapa syetan, banyak sekali, sebab menetasnya banyak. Jika ada yang ngomong jorok (misoh), byuk…! syetannya langsung menetas. Sekarang saja berbicara jorok itu sudah jadi nasi sayur. Ingin ngomong begini misoh, ingin ngomong begitu misoh. Dengan istrinya, tetangganya, ngomongnya jorok, bahkan dengan anaknya sendiri. Sehingga syetan pun libur, karena orangnya sendiri menjadi syetan dan syetan yang tidak terlihat jadi bingung. Kalau seperti itu kenapa masih ada orang yang ingin melihatnya, padahal yang terlihat sudah banyak. Kalau orang bertanya, “syetan itu seperti apa?” Jawabnya seperti kamu, yang kurang ajar terus. Sebab itulah malaikat tidak dimasukkan dalam khitobnya Allah, hanya jin dan manusia yang dimasukkan.

Katakan pada mereka, kumpulkanlah! semua jin dan manusia. Kalau sudah berkumpul suruh mereka untuk membuat al-Qur’an atau bisa dibilang untuk menyaingi al-Qur’an dalam hal fasohahnya dan balaghohnya. Fasohah dan balaghoh al-Qur’an tidak akan mungkin tertandingi, seperti “inna a’athoinaka al-kautsar” dibandingkan dengan buatan Musailamah al-Kadzdzab; “inna a’thoinaka al-jawahir, fasolli lirabbika wahajjir, inna mudhgidhoka rajulun faajir”. Ia juga membuat; “alam tara kaifa fa’ala bil hubla, akhraja bihi nasamatan tasya’a, min baini syarrasyi fakasya” − dengan mencoba menyamakannya dengan surat alam taro. Bila kita dengarkan terasa hampir sama, bukan? Buktinya seperti ini, kalau memang mampu pastinya membuat. Tetapi kenyataannya? Baru disodorkan kepada teman-temannya saja, mereka sudah ngunen-uneni (mengolok-olok) “jangan

begitu, itu namanya apaan”. Namun ada pula diantara mereka yang kagum sehingga ia sombong dan dia gengsi karena tidak mendapat petunjuk dari Allah SWT. Wal Iyadzu billah.

Beruntung kita masih diingatkan dengan kejadian yang seperti itu. Sungguh sangat beruntung kita masih diingatkan Allah, kalau orang Jawa bilang bejo kemayangan. Di dalam al-Qur’an sudah jelas, namun ada saja yang tidak mau puas begitu saja, masih saja ada yang ingin melihat mukjizat nabi-nabi. Hal demikian ini tetap akan ada hingga hari akhir. Satu-satunya mukjizat yang masih utuh hanyalah al-Qur’an. Suatu saat orang akan mengatakan; “Lha, kok ini?” itulah model orang zaman sekarang. Jika diberi ijazah sholawat, mereka berkata; “kalau sholawat itu, aku sudah punya kok” seperti itu sekarang sudah ada. Al-Qur’an adalah pemberian yang paling akhir dan sudah terbukti untuk kita jadikan dalil, karena al-Qur’an itu sudah pasti benar dan tidak tersaingi. Jika ada yang menyaingi, menantang − dari dulu sampai sekarang, baru iplik-iplik sudah ditekuk lutut, bahkan oleh temannya sendiri “jangan kamu keluarkan, memalukan diri kita sendiri”.

Biasasanya orang itu akan tertantang untuk menaklukan saingannya. Sebagai contohnya sepak bola, setiap ada juara bertahan, di belakangnya sudah pasti ada yang persiapan untuk menyainginya. Ada tinju juara bertahan sampai leher beton pasti belakangan akan dikalahkan leher nangka. Sudah barang tentu ada yang bilang awas! Jika al-Qur’an sampai sekarang bahkan sampai kiamat tidak ada yang yang menyaingi, tidak ada yang menantang, itu semata-semata hanya karena mukjizat al-Qur’an − semata-semata hanya penjagaan dan jaminan Allah SWT.

Sekarang dapat kita bayangkan, dawuh ini sudah berapa ratus tahun? Di surat al-Baqoroh sudah ada wa in kuntum fi raibim mimma, kalau kamu ragu-ragu dengan apa yang Aku turunkan pada Muhammad, datangkanlah satu surat saja. Yang paling pendek saja − yang paling kita sukai saat kita sholat sendirian − seperti inna a’toinaakal kautsar.

Padahal di dalam al-Qur’an ada 114 surat. Membuat satu surat saja, kita tidak akan mampu meskipun dirombong bersama-sama, dikerjakan seluruh umat manusia yang hidup maupun yang sudah mati. Kelihatannya hanya sedikit, cuma inna a’athoinaka al kautsar. fasholli lirabbika wanhar, Inna syaaniaka huwal abtar. Musyailamah al-Kadzdzab ingin menyanginya, dia melihat surat al-kautsar diahiri dengan huruf ra’, maka dia bikin ‘inna a’thoinaka aljawahir’. Bandingkan al-Kautsar dengan al-Jawahir, tentunya sangat jauh –langit sumur bor − tidak dapat diukur. Jawahir maknanya mutiara. Apalah arti mutiara? sekedar dibuang di laut selesai. Berbeda dengan makna kautsar. Ulama-ulama besar memaknai secara pasti tidak bisa. Ada yang memaknai kautsar itu telaga, talang, ada juga yang memaknai kenabian. Disamping itu juga turunnya ayat tidak sekedar membuat, seperti membuat puisi. Kanjeng Rosul didawuhi langsung oleh Allah, seperti ayat ‘wa yas aluunaka ‘anirruhu’. Sebelum ayat ini turun, orang-orang geremeng-geremeng ingin bertanya tentang nyawa, maka turunlah ayat ini.

Sekarang mari kita sadari dengan sepenuh hati, bahwa sholat itu adalah sarana berkomunikasi dengan Allah SWT. Kita beruntung mempunyai Nabi (menjadi umat) Muhammad SAW. Sebab semula sholat itu 50 − karena Nabi sifatnya agung, welas asih dunia akhirat, beliau mau diajak berunding dengan bawahan. Seandainya sekarang atasan mau diajak berunding bawahan, insyaAlah tentram. “Turunkan minyaknya!” memang minyaknya turun? tetapi diturunkan dari truk. Seandainya saja Nabi Muhammad SAW tidak mau diajak berunding, dan bilang “siapa kamu dan pangkatmu tinggi aku” mungkin sholat jadi 50, apakah kita bisa pengajian? Boro-boro pegajian, ngliling istrinya saja, baru ngli- sudah iqomah lagi, padahal belum sampai -ling. Di hek belum sampai hik-hik sudah qomah lagi. Makan, baru ma- belum sampai kan sudah iqomah. Paling isinya iqomah terus seperti itu. apalagi saat kita jadi pengantin malah tidak sama sekali.

Kalau dipikir-pikir, kok bisa-bisanya nabi Musa itu, sedangkan beliau bukan umatnya Nabi Muhammad SAW. Seandainya beliau berpikiran, “biarin saja, mau remuk, mau apa, terserah sana?, “wong saya bukan umatnya”. Jika demikian apakah kita pernah memikirkan negara Amerika? Yang ada anak buahnya George Bush, dan George Bush-nya sekalian? Akan tetapi tidak demikian adanya. Nabi Musa itu kok sempat-sempatnya, lho Kanjeng Rosul pun ikut, mungkin disini ada rundingan yang baik “ya iya” dengan laporan sedikit-sedikit. Jika kita bayangkan tawar menawar (minta kortingan) yang naik turun seperti itu. Sekarang ibu-ibu itu kalau menawar bakul gendong saja, tidak mempunyai belas kasihan. Ibu-ibu menawarnya setengah kilo, “coba bawa sini!” dikiranya akan dapat untung, cuma diomongi saja “bagaimana, boleh tidak?”. Padahal harga sudah diturunkan. Akhirnya penjualnya pergi, dan dipanggilnya lagi, ternyata hanya ditambahi seratus rupiah.

Kita bayangkan betapa beratnya Kanjeng Rosul meminta kortingan pada Allah. akhirnya dapat kortingan menjadi lima waktu saja. Sebenarnya, sekalipun 50, bagi Kanjeng Rosul sendiri tidak masalah, kekuatan Rosul tidak ada ukurannya. Kadang-kadang orang merasa “wong sama-sama orangnya kok” − “kyai itu juga manusia kok”. Jika mereka ditanya “kalau kyai itu mengajar, kenapa kamu tidak?”. “Sebab aku tidak bisa”. Berarti tidak sama. Berarti itu orang goblok, tidak paham. Lam ya’nung, ora dunung atau lam ya’thuk, ora gathuk. Itulah istilah Arab campur Jowo.

Orang sekarang ini sangat membingungkan. Gayanya suka othak-athik. Ngaji sudah utuh, kemudian diganti dengan yang baru. Sekarang sudah banyak. Berkeinginan menjadi yang di depan, tiba-tiba tidak menjadi yang di depan dan akhirnya orangnya stres.

Orang yang ingin memahami, ingin mengetahui, ingin menikmati keindahan fasohah di sini, tidak boleh tidak harus sudah menguasai ilmu balaghoh. tidak segampang membuat puisi. Bukan cuma sekedar hanya melihat, menyamakan huruf akhirannya. Seperti “kal jawahir, fasolli lirabbika wahajir,” jauh sekali, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan “innaa a’thoinakal kautsar” − sama sekali tidak bisa disamakan; bainas sama’ wal ardhi, masih kurang puas, lalu diberi embel-embel, ditambahi bainas sama’ was sumber minyak. Jika seperti itu malah lebih dalam lagi. Apalagi menyamai, menyentuh saja tidak sama sekali − yang meniru sajak-sajak al-Qur’an itu banyak sekali, ada berzanjen, ada burdah dan lain-lain, semuanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan al-Qur’an.

Kita umat Islam, sebenarnya mempunyai senjata yang sangat ampuh, yang dengannya kita tidak akan tersesat selamanya, dengannya, jika terjadi perselisihan diantara kita umat islam, seharusnya, kembali kepadanya, karena dia adalah hakim yang paling bijak ialah al-Qur’an. Sekarang kalau sesama orang islam bertengkar lalu dibukakan al-Qur’an, mereka akan berkata “tidak usah qur’an-qur’anan” − “ini tidak qur’an-qur’anan kang!, ini Quran sungguhan kok” − “tidak kitab-kitaban, ini kitab sungguhan”. Ya Allah…! diberi akal oleh Allah kok tidak disyukuri. Padahal kalau akal kita tidak digunakan, nantinya tetap mendapatkan siksanya Allah, begitulah di dalam al-Qur’an disebutkan. Orang Islam sekarang ini memang aneh, orak dunung.

Adalagi yang aneh, ora dunung cara berpikirnya. Seperti halnya santri dari rumah (santri baru) biasanya wudlu’nya lengkap, semua kesunnahan dikerjakan, tidak ada yang ketinggalan − namun ketika dia sudah bisa membaca kitab, dia tahu hukumnya; “lho, ternyata apa yang aku lakukan, berkumur, mengulangi tiga kali basuhan, mendahulukan yang kanan, membasuh telinga dan membaca doa itu, ternyata sunah semua, berarti gak ada gunanya.” Kalau menjawab seperti itu berarti orang itu termasuk orang bodoh, padahal sudah tahu kitabnya. Seharusnya malah mapan, lebih yakin “dulu aku diajari berkumur, ternyata ini tho kitabnya, maka dari itu aku harus bersungguh-sungguh”. Kalau santri terpaksa bilang “berarti itu sunnat, halal! Kenapa dulu aku bersusah payah, kenapa wong

sunnat kok kesulitan? Sedangkan kalau ditinggal tidak berdosa!”. Jawabannya dibelokkan saja, “sunnat itu penting, sampai orang dapat suami atau istri itu sebab sunnat kok.” “biar orangnya tambah bingung” − yang dirembug itu hukum kok malah sampai nikah segala” “Biarin, la wong aku sudah sunat, sudah mengantisipasi, tidak laku-laku kok”. Jadi, ini yang stres yang mana ya..?

Mari kita kembali pada pokok bahasan. Fasohah itu seperti seperti ini lho, seperti yang biasa kita baca, “waddhuhaa wallaili idza sajaa, ma wadda’aka rabbuka wama qola”. Akhirannya a, a, semua, enak dibaca, enak diucapkan dan mempunyai arti yang luar biasa. Berbeda dengan yang di atas yang dibuat Musailamah al-Kaddzab, tidak mempunyai arti sama sekali. Seperti saat kita membuat api kendi-api kendi, itu maksudnya apa? Paling-paling melancarkan lisan saja untuk berbicara. Biar tidak kaku. Jika ada santri yang gagap berbicara, saya suruh wiridan; kakak kuku kakine kakekku kok kaku kaku kak. Kalau dia bisa seperti itu dengan cepat, insyaAllah ngomongnya lancar.

Fashohah dan balaghohnya al-Qur’an ini seperti yang digambarkan imam Busyairi, “Raddat balagotuha da’wa muaaridiha. Raddat al-ghoyuri yadaal janii anil khurami”. Jika ditantang, penantangnya sudah geblak, sudah bertekuk lutut duluan. Maknanya saja seperti telaga Lahaa ma’anin kamaujil bahri fi madadin”. Laut itu berombak, tetapi apakah sama antara yang depan dan yang di belakang? “yang satu hilang dan akan diikuti yang lain”. Coba perhatikan ombak laut, jangan cuma mengambil ikannya saja. “ombak ini kok hilang, sebenarnya yang tadi kemana?”. Lha, al-Quran demikian. Jadi bila kita mendidik putra seharusnya difahamkan al-Qur’an dan Hadits Nabi − sebab al-Qur’an dan hadits itu sampai kiamat pun ilmu yang ada di dalamnya tidak akan berkurang. Inilah yang harus kita ganduli, kita pegang erat-erat jangan sampai lepas. Untuk memahaminya kita harus ngaji, ngaji yang ada urut-urutannya, ada sanadnya yang sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai seperti kebanyakan mubaliqh jaman sekarang yang masih diragukan ngajinya, masih diragukan sanadnya. Sekarang malah tambah enak lagi, sudah ada internet, jika dibuka ada tulisan-tulisannya kyai-kyai. Kemudian dipelajari oleh orang-orang yang dangkal akalnya. Mereka gengsi kalau harus mengaji, mereka mengira tidak perlu adanya guru dan mereka ingin meniru Kanjeng Nabi yang gurunya langsung Allah, diotak atik sendiri sehingga otaknya jebol. Jadi terserah mereka. Biarkan saja otak mereka jebol. Sedangkan kita sendiri jangan sampai seperti mereka, kita harus istiqomah ngaji selasa-jum’at, karena inilah, beginilah ngaji yang benar.

Tantangan al-Qur’an sampai sekarang pun bahkan sampai kapan pun masih tetap terbuka. Dan sampai sekarang bahkan sampai kapanpun manusia dan jin, sekalipun bersatu mulai dari jaman nabi Adam sampai kiamat, mereka tidak akan mampu, mereka tidak akan bisa sama sekali. Inilah bukti kebenaran al-Qur’an. Kenapa mereka masih tidak percaya? Kata Imam Busairi “karena meraka gengsi, air putih itu segar dan menyagarkan, jika ada yang mengatakan tidak segar, pahit itu karena orangnya sakit. Jika ada matahari, lalu bilang gelap itu karena mereka bele’an”.

Setiap hurufnya al-Qur’an dan semua kalimatnya tidak ada yang sulit diucapkan dengan lisan. Jika ada yang merasa berat membaca al-Qur’an, itu berarti memang mulutnya yang agak rusak. Padahal kalau mendengarkan nyanyi-nyanyian yang cuma beberapa menit saja bisa hafal kok. Seperti campur sari itu hafal, nah menghafalnya itu kapan kok bisa hafal. Sedangkan kalau diberi ijazah diulang-ulang kok tidak hafal-hafal. Mengapa demikian, ya karena tidak ada keinginan. Seperti santri sulit menghafal, itu karena mereka tidak ada keinginan. Belajar itu kan karena ada daya khirsun (keinginan yang kuat). Kalau ada khirsun pasti usaha, seperti ingin memasang cangkul supaya tidak mudah copot, itu juga ada caranya.

Dimana-mana banyak yang manghafalkan al-Qur’an, mulai dari anak kecil, muda hingga yang tua, dan itu bisa hafal. Itu semua, disamping karena lafadznya itu mudah, hanya semata-mata karena keistimewaan dan mukjizat al-Qur’an. Wong kulitnya saja dapat digunakan untuk suwuk, wa minazzilin minal-Qur’an wahuwa syifaun. Coba anda memilih ayat apapun, terserah semua ada dalilnya.

Fasohah dan balagohnya al-Qur’an itu, ada yang mengatakan satu ayat. Tetapi ada juga yang tidak satu ayat, melainkan satu surat. Sebab ayat itu terkait satu dengan yang lainnya, tidak bisa diputus-putus sendiri sehingga jika diputus-putus sendiri bisa-bisa menimbulkan pengaruh yang negative, seperti ayat araaital ladzi yukaddzibu biddin fadzalikal ladzi yadu’ul yatim. Malah nanti ujung-ujungnya sampai qiro’ah sab’ah. Kalau ditulisan ‘fadzalikal ladzi yadzu’ul yatim’, padahal ada bacaan tidak seperti itu, yaitu, ‘araaital ladzi yukaddzibu biddin fadzaliklal yadz’ul yatim’. Ada bacaan yang di luar sembilan tadi namanya qiro’ah sepuluh. Tetapi ada juga yang lain, tulisan di al-Qur’an, ‘wakaana wara a-hum malikun ya’khudzu kulla safinatin ghosba’, tetapi ada yang membacanya tidak seperti itu, wakaana a’mamahum malikun dhollimun ya’khudzu kulla safinatin sholihatin ghosba’, tulisan dhollimnya tidak ada. Seperti ini malah tambah pusing lagi. Ilmu itu tidak sedikit, baru lafadznya al-Qur’an saja dipelajari, sampai habis umurnya belum ada apa-apanya. Jadi, anda janagan mudah menghina, ‘mondok kok nggak pulang-pulang” jangan begitukan saya. “Anda memang laris” dengan begitu bisa menjadikan lupa.

Jadi anda jangan sampai mencari senjata-senjata yang lain, baik senjata untuk di dunia maupun untuk akhirat − cukup al-Qur’an saja. Malah innal ladzi laisa fi jaufihi syaiun minal quran kal baitil khorro’. Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sebagian al-Quran, maka dia seperti halnya rumah remuk. Jadi kalau ada orang remuk, berarti di dalam hatinya tidak ada sebagian dari al-Quran. Demikian ini sebenarnya untuk diri kita sendiri, “kenapa kok aku bisa begini”.

Sekarang mari kita ngaji, belajar dengan apa yang sudah dibuat mbah Bisri, yaitu al-Ibriz, yang mudah, sudah ada makna gandulnya, dan makna gandul ini memang untuk kita. Lihat saja akhir-akhir ini, sedikit sekali orang yang mengerti makna gandul. Walaupun sekarang sudah ada terjemah, belum tentu terjemah itu pas. Katanya tahu kalau tidak percaya tunjukkan. Kemarin anda sudah didawuhi pembicara hari Selasa: “dalam naskah kitab hanya tertulis lafadz qul(katakanlah kamu Muhammad). Seandainya ditanya; mana yang menunjukkan makna ‘Muhammad’, coba yang mana? Padahal tidak ada tulisan Muhammad. “ ya pokoknya begitu”. Demikian juga lafald jalastu ‘alal kursyi”. Jika dimaknai gandul; jalastu, lungguh sopo ingsun − ‘alal kursyi, ingatase kursi. Pada lafadh jalastu, lafadz ‘jalasa’(duduk) lebih awal letaknya dari pada dhomir “tu” (saya). Padahal jika diterjemah saya duduk. “Loh, sayanya di belakang kok, mestinya kan jadi duduk saya?”. Ada duduk saya dan duduk sampean. Kalau Duduk Sampean itu di Gresik. Saya pernah pengajian “desanya mana”. Duduk sampean. Loh saya kok diduduk (digali)”.

Alhamdulillah’, segala puji bagi Allah, yang maknanya ‘segala’ yang mana? padahal tidak ada lafadz ‘segala’. Segala itu ‘kullun’. Terkadang orang sekarang saling pamer. Padahal baru tahu sedikit-sedikit, kalau ketemu teman-temannya; antum dari mana? kok antum dari mana, padahal antum menurut bahasa Arab itu untuk orang banyak. Kadang-kadang kita itu tidak mempunyai malu, mukanya muka apa? “Kemarin saat aku di rumahnya anu, orang-orang begini, bantahan dengan saya ya ketinggian. Mestinya dengan cucunya. Padahal baru saya suruh nasrif unsuro cret unsuru unsuri cret cret. “lo kok ada cret segala” ya ada! Kadang-kadang bacaan al-Quran ora dunung (tidak paham). Du saja belum apalagi sampai nung. Ya Allah! Jadi, nahwu shorof itu penting dan masing-masing saling membantu untuk memahami makna al-Qur’an.

Semua dawuh dalam al-Quran mempunyai makna. Tidak ada satu huruf pun yang lagho (sia-sia). Seperti yang ada di surat al-Baqoroh, fa’tu bi suratim mim mistlih wad’u syuhadaakum min dunillahi in kuntum shodiqiin”. Terusnya, faillam taf’alu”. Mongko lamun wis ora bakal, wis ora. Fiil mudhori’ jika bertemu ‘lam nafi’, zamannya berubah menjadi madzi. Kalau ya’kulu, makan − lan ya’kula tidak akan makan, lam ya’kul, sudah tidak makan. Qul huwallahu ahad allahus shomad lam yalid, dan sebagainya. Sudah, nanti kalau diteruskan malah ngajar nahwu. Tapi sekali-kali tak apa-apa, saya buat seperti itu. Sebab sekarang banyak yang bermunculan orang krecek-krecek seperti itu. Biar panas di-krecek-no (nanti kalau sudah panas didinginkan). Tadi, faillam taf’alu’ yang terusnya memakai lan, ‘wa lan taf’alu’, jika kamu sudah tidak sanggup membuat. Sudah itu maksudnya sudah dari dahulu. Wa lan taf’alu (lan ora bakal iso gawe). Jika kalian sudah begitu maka kalian takutlah!, ‘fattaqun narol lati wa quduhan nasu wal hijaroh’. Sudah, kalian tidak akan bisa kok, kalau begitu takut saja dengan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan jin. Kalau kamu tidak takut, ya sudah kamu saja yang dijadikan bahan bakarnya, sebab kamu itu manusia.

U’idat lilkafirin, maksudnya, yang disediakan untuk orang kafir (termasuk kamu), jika tidak percaya kepada al-Qur’an. Jika kamu percaya, terusnya ayatwabasyiril ladzina amanu wa amilus sholihat’. Al-Qur’an itu berurut-urutan seperti itu. Jika kamu menurut kepada Allah maka kamu akan dibahagiakan. Itupun masih ditawar, “bahagianya kan besok?”. Jika diberi sekarang sedikit serta lelah. Kalau diberi besok, katanya tidak ikut ngopeni, kelamaan. Manusia itu yang diinginkan yang bagaimana? Tidak mempunyai pekerjaan, minta pekerjaan. Kalau sudah ada pekerjaan tidak pernah kelihatan. Katanya lelah, tidak punya uang katanya mepet. Punya uang banyak, itang-itung bosan membelanjakan uang. Jadi yang diminta itu sebenarnya apa? Saya tidak paham. Katanya minta enak, ditanya minta enak yang bagaimana tidak menjawab. “Yi, semoga saya di doakan supaya hidup saya enak”. Yang di minta enak itu yang model bagaimana, saya mintakan? Orangnya malah diam saja.

Bukankah seperti itu hanya tebak menebak? Tak bedanya dengan lamunan saja, “saya minta enak”. Kalau menurut anda enak itu yang bagaimana? Disini itu beda-beda, bilang enak itu keinginannya spontan-spontan. Saat ada motor bagus, ingin memilikinya. Kalau ada orang muda istrinya cantik, ingin nikah lagi. Bukankah begitu? Demikian itu tidak enak, karena selalu berubah. Jadi enak itu apa sebenarnya? Dipahami dulu, biar kyai yang mendoakan biar jelas. “Saya didoakan biar hidup saya enak” menurut saya hidup anda sudah enak. Kok bilang belum enak, menurut anda enak itu yang bagaimana biar nanti saya mintakan pada Allah. “ya” . Ya, yang bagaimana? Ini coba direnungkan sendiri. Diri kita bingung sendiri.

Lha, pengajian semacam ini merupakan nikmat yang tidak ada harganya. Tergantung merasa atau tidak begitu saja. Diri kita bisa hadir di majelis ta’lim, itu sudah termasuk surganya Allah. Ini tidak bisa dibeli. Ada orang melihat, bingung, wah! Paling-paling kalau ditanyai, “jika mau aku pun bisa”. Nyatanya sudah begitu lama kalau ditanya tidak mau kok, berarti tidak bisa-bisa. Coba, kalau anda ketinggalan satu selasa atau satu jumat, pasti anda akan menyesal. Ya atau tidak? Ya karena seperti sekarang belum ada pekerjaan.

Surat al-Isro’, ayat 89:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآَنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا (۸٩)

Dan Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan (supaya jadi pelajaran, supaya manusia mau memerima pitutur), tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari-Nya.

Di dalam al-Qur’an sudah ada contoh nabi Nuh, nabi Musa. Seharusnya ini, kenapa dahulu ada umat nabi Nuh seperti itu, ada putranya Ham dan Yafidz yang ikut selamat bersama ayahnya. Ada putranya nabi Nuh yang namanya Kan’an yang tidak ikut ayahnya, jadi tidak selamat. Berarti semua itu merupakan pelajaran bagi kita. Ada Lukmanul Hakim, “wa idz qola luqmanubnihi wahuwa yaidzuhu Ya bunayya laa tusyrik billah”.

Apabila mendidik putra ya seperti itu. “cung, anakku yang bagus sendiri, jangan sekali-kali kamu menyekutukan Allah”. “Innas syirka ladzulmun adzim”. Sebab syirik, menyekutukan Allah adalah dosa yang paling besar. Berarti kita mendidik harus seperti itu sebab ada di al-Qur’an. Paham ya!

Termasuk lagi ketika nabi Ya’kub, an kuntum syuhadaa idz hadloro yaakuba bani maut”. Ketika nabi Ya’kub menjelang wafat, putranya dikumpulkan. Apa pertanyaannya? ayat ini sudah dibaca terus, waqoola libaniihi ma ta’buduna mim ba’dii”. Keduabelas putranya dikumpulkan, “cung, jika nanti bapak dipanggil Allah, siapa yang kalian sembah?” Ini berarti kita kalau berpesan pada anak kita ya seperti itu. Khawatir kalau nanti anak kita ada yang menyembah patung − “aku menyembah gunung Bromo pak!”. Wal iyadzu billah. Seperti putra nabi Ya’kub itu kompak, qoolu na’budu ilaahaka wa ilaaha abaika ibrahima wa ismaila wa ishaqo ilaahaw wahidah, wa nahnu lahu muslimun”. Wah! Punya putra seperti itu ya enak. Malah sekarang ada yang dalam satu rumah saja, memiliki keyakinan sendiri-sendiri.

Perkara yang akhir-akhir ini malah blengeri lagi. Seperti yang di atas ini sudah ada semua di al-Qur’an hadist. Tetapi selama ini apakah yang seperti itu. “cung nanti kalau bapak meninggal, kalian nanti menyembah siapa?” Apakah ada? Seandainya ada, mungkin sang anak akan membantah, “Bapak itu model apa sih? Tanya kok cuma begitu, mestinya kalau aku ditinggal, apa yang bapak bagikan buat aku” bukankah seperti itu. “Mumpung bapak masih hidup, cepat dibagikan biar anak-anak bapak tidak bertengkar”.

Malah sekarang sudah banyak seorang anak yang mengajari bapaknya. Anak itu anak apa, dulu buatnya gimana? Bapaknya sakit, digrayang-grayangi, mencari titipan bank yang ada atau tidak. Putra nabi Ya’kub tidak ada yang seperti itu. Jadi orang tua sekarang gregetan, “cung, mumpung bapak masih hidup, tak sangkutkan cung”. Anak dianggap seperti peci. Bukankah yang disangkutkan itu peci? Tetapi anaknya tidak sakit hati seperti itu. “tak sangkut-sangkutkan cung, nanti kalau mati anak sudah disangkutkan” kalau istilah Rembang tidak tersangkut tetapi mentas. “Alhamdulillah anak saya sudah mentas semua yi”. Jika belum mentas apa tidak boleh Alhamdulillah. Mentas itu jembling; rumah-rumah. Kalau nanti anak sudah rumah-rumah, mereka bingung kemudian ikut bingung lagi.

Segala sesuatu kalau tidak berpagang pada agama pasti akan selalu membuat bingung. Walaupun di beri 19 pabrik pun, tetap saja pusing sebab sekarang ada kenaikan solar. Ya apa tidak? Terus tambah kurang tambah kurang. Tetapi kalau berpegang al-Qur’an, memakai agama pasti akan seperti putranya nabi Ya’kub tadi. Jadi, ikutlah Al-Qur’an dan coba nanti dipraktekkan. Nabi Ya’kub berpesan pada anaknya seperti itu. Nabi Ibrahim juga begitu, “inna-llahastofa lakum dinanikum”. Jika ingin membuat apa-apa ikut nabi Ibrahim yaitu berdoa. Doa diri kita sendiri hingga tembus ulama-ulama. Membasuh muka ya berdoa dan membasuh tangan ya berdoa. Tetapi kalau sekarang kelamaan, jika berwudlu seperti itu. Apakah anda pernah wudlu dan berdoa secara lengkap sekali? Bapaknya saja tidak pernah apalagi anaknya.

Jadi ilmu kalau dipraktekkan itu akan selalu bertambah. Suatu saat ada yang bertanya pada saya. “Ilmu kalau dipraktekan kok malah tambah, saya belum nalar”. Ilmu itu ada teorinya, jika teori itu lalu dipraktekan itu yang namanya tambah. Yang dulunya tidak tahu kemudian menjadi tahu. Mungkin keinginan orang sekarang bisa tambah seperti uang.

Umumnya manusia itu tidak seperti demikian, ada yang angas, kalau tidak percaya bisa membuka al-Qur’an di surat Yasin, ada. Tinggal memilih kabar gembira di sana, berarti sekarang tidak bisa memilih. Nanti kalau gembira khawatirnya bisa dibilang ‘tamak’ (yang sudah pernah saya singgung). Kalian senang-senang di atasku tetapi kalian menentang Allah. Nanti kalian akan susah di sana, sendirian tidak ada temannya. Itulah perkataan bumi. Jadi kalau kita menginjak bumi harus pelan-pelan. “Mi, aku amit mi”. Bumi saling berbicara, “kamu enak-enakan diterangi matahari, tetapi nanti di dalamku tidak ada lampu, tidak ada penjual lampu mercury”. “La itu kok ada?” “Jika ada yang mendoakan jembar kuburnya, terang kuburnya”. Jembar kuburnya, terang kuburnya jika memang mematuhi perintah Allah. Makanya nanti seperti sholat diwujudkan seperti mahluk. Seperti surat-surat, huruf-huruf al-Qur’an juga menjemput pembacanya dari kuburnya. Seharusnya kita percaya, kalau yang lain tidak percaya, biarkan. “Plonga-plongo koyo jiboh gene”. Kita bangun tengah malam, tek, langsung dikerubung bidadari. Kadang-kadang seperti kyai Mahmud masih berdoa, ‘allahuma towil umri’, kok tidak khawatir ditawari malaikat, “ingin hidup berapa ribu tahun lagi anda?”

Nanti yang seperti demikian ini akan ada di sana. Jadi jangan kaget apabia ada yang membentuk seperti ini. Makanya tinggal kita ingat sholat kita saat di dunia. Tiba-tiba bilang, “loh kok hidungnya pesek” mungkin sholat subuhnya qodlo’. “Semua, hidungnya mancung-mancung, kok saya pesek sendiri, padahal aku dulu subuh kok pak” − tetapi kamu subuhnya mepe dedeh. Yang seperti ini ada dalam al-Qur’an yang ada di dalam solawat, hadzaka illah mautihii la yazaal. Ilaa qobrihi haq jahol kunkirom. Wafii kasriudda bighoiri hisab. Nanti yang seperti ini yang tidak dihisab, sebab dibantu al-Qur’an. Kalau sudah begitu, ‘fayadhulu jannata rabbil anam’. Yang aka dimasukan ke dalam surganya Rabbil Anam (Allah). Kalau sudah begitu ngapain? Ya bercanda tawa. Wa fi darrido maahu hurrun ‘in, bersama bidadari yang belalak matanya, yang tidak seperti ngaji kelamaan. Ngaji kelamaan sampai matanya suthup-suthup. Yaftuhu alaihi ahabbul gulam. Yang menyuguhi nanti ‘muhalladun’ bocah kecil yang dari kecilnya orang mukmin yang wafat sebelum baligh. Sering-seringlah baca ayat ini. Merogoh saku yang tampak kosong tak ada uang, ya berdo’a lagi. Hidup enak kok dibuat susah. Anda mungkin rasan-rasan, “ya, kamu masih di pondok”.

Kebanyakan manusia itu tidak percaya angas (menentang). Nanti kalau sudah dibacakan baru mereka percaya, tetapi kenapa tidak dipraktekkan. Tembusannya orang yang tidak percaya menantang Kanjeng Nabi. Walah, seperti nyuil-nyuil langit. “Coba keluarkan” langit dicuil kemudian dijatuhkan ke kalian, pasti akan habis semua. Tidak masuk akal sama sekali. Ya, yang namanya emosi. Jadi jaga diri kita dari sifat emosi dan buang jauh-jauh.

KH. YAHYA CHOLIL STAQUF

Selasa, 8 Juli 2008

والثامنة والعشرون:إيناس روحه ونسمته وإكرامها فتجعل فى أجواف طير خضر مع الإخوان الصالحين فرحين مستبشرين بما آتاهم الله من فضله

Keutamaan ke-28;

Para kekasih, wali-wali Allah ketika di alam Barzah, ruh mereka diberi kenyamanan (kebahagiaan) dan kemulyaan oleh Allah. Para kekasih Allah ketika masih berada di dunia, mereka selalu istiqomah mengabdi kepada Allah SWT. Begitu juga orang-orang yang mati dalam keadaan ‘syahid’ (syahid yang berasal dari kata syaahid (isim fa’il), yaitu menyaksikan kebenarannya iman kepada Allah − atau syahid yang berasal dari kata masyhuud (isim maf’ul), yaitu wafatnya disaksikan oleh banyak orang, bahwa orang yang wafat tadi jelas-jelas termasuk orang yang beriman, sholih, istiqomah untuk mengabdi kepada Allah) merupakan orang-orang yang wafat di tengah-tengah peperangan membela agama Allah. Mengapa mereka dinyatakan mati syahid? Karena jelas-jelas bahwa mereka bersedia mengorbankan nyawanya untuk membela agama Allah, jelas-jelas memilih pahala akhirat dari pada berlama-lama hidup di dunia. Orang yang berani mengorbankan nyawanya seperti itu, jelas-jelas adalah orang yang beriman − kalau tidak beriman tidak mungkin berani mengorbankan nyawanya. Sedangkan orang yang berani mengorbankan nyawanya, berarti disaksikan oleh orang banyak kalau orang itu beriman kepada Allah dan hari akhir.

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (آل عمران : ١٦٩)

Janganlah engkau (Muhammad) menyangka kalau orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mati syahid) itu telah mati, sebaliknya mereka masih hidup di sisi Tuhannya, dalam keadaan diberi rizki (diberi anugrah)”.

Jadi orang-orang yang mati syahid meskipun sudah tidak ada di dunia sesungguhnya mereka tidak wafat; seperti sayyidina Hamzah, para sahabat perang Badar yang wafat, itu sejatinya masih hidup. Begitu juga para wali Allah yang wafat memperjuangkan agama Allah, itu juga masih hidup hingga sekarang dan sampai kapanpun.

Suatu saat para tabi’in bertanya kepada Abdullah ibnu Mas’ud − salah satu sahabat Nabi SAW, ketika itu Nabi SAW sudah wafat. Mereka menanyakan tentang ayat tersebut; “Wahai Abdullah Ibnu Mas’ud, mengapa di dalam al-Qur’an diterangkan, bahwa orang-orang yang mati syahid itu belum mati?, padahal jelas-jelas mereka sudah dikubur. Ini bagaimana?”. Kemudian Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: “Dahulu, kita para sahabat juga pernah menanyakannya kepada Nabi SAW hal seperti itu. Nanti, orang-orang yang mati syahid, Ruh mereka akan diletakkan di dalam burung hijau ( طَيْرٌخُضْرٌ ). Dan burung hijau tadi bertempat di surga, mempunyai pangkringan (tempat bertengger) seperti lampu gandul (lentera) yang berada di singgasana Allah SWT (‘Arsy). Burung-burung hijau tadi berterbangan dan menikmati surga. Kemudian setelah mereka berkumpul dan bertengger di ‘Arsy, Allah menawarkan kepada mereka; ”sekarang, apapun keinginan kalian pasti akan Aku kabulkan.” Ini menunjukkan bahwa Allah SWT menggelar rahmat-Nya untuk orang-orang yang mati syahid. Kemudian orang-orang yang mati syahid menjawab; “Ya Allah,

kami sudah bisa terbang di ‘Arsy, di surga-Mu, bisa dekat dengan-Mu, itu saja sudah merupakan kenikmatan yang luar biasa yang telah Engkau berikan, lalu apa lagi?”.

Kemudian Allah SWT menanyai mereka kembali; ”Ayo, sekarang kalian menginginkan apa?” Dengan jawaban yang sama sampai berulang-ulang, sampai akhirnya orang-orang yang mati syahid tadi mengatakan; “Kalau boleh, kami ingin nyawa kami Engkau kembalikan ke dalam jasad kami, biar kami berperang lagi di jalan-Mu, supaya kami mati syahid lagi.”

Imam Ghozali juga pernah menyatakan seperti itu, bahwa orang yang mati syahid, sejatinya belum mati. Mati syahid; mati di tengah-tengah perjuangan membela agama, berjuangan menjunjung asma Allah, itu bukan hanya dalam perang, sebab berjuangan membela agama bukan hanya perang. Perang saja ada syarat dan aturannya, tidak boleh sembarangan. Boleh, jika orang mukmin dalam keadaan di serang dan dimusuhi orang kafir. Jika orang-orang kafir menyatakan damai, jangan di perangi, malahan orang kafir yang hidup di negara Islam, yang mengakui akan pemerintahan Islam, itu tidak boleh diapa-apakan, misal jika seorang muslim menganiaya orang kafir, maka orang muslim tadi harus di qishos. Orang kafir yang seperti ini disebut kafir dzimi. Orang kafir yang boleh diperangi itu disebut kafir kharbi.

Disini bisa disimpulkan, mati syahid itu adalah mati di tengah-tengah perjuangan di jalan Allah. Bentuk dari mati syahid itu tidak hanya perang, seperti para walisongo, para kyai, insyaallah mereka semua mati dalam keadaan syahid dan tidak ada salahnya jika kita sowan di pesarean para wali dan kyai. Karena sesungguhnya mereka semua belum wafat, namun masih hidup di sisi Allah, apalagi Nabi Muhammad SAW. Kanjeng Nabi SAW pernah menyatakan: “Barang siapa yang ziarah di makamku, sama saja dia bertamu kepadaku ketika aku masih hidup”. Karena hakikatnya Nabi SAW belum wafat. Maka dari itu kita ngalap wasilah dan berkah dari para nabi dan para wali, karena sesungguhnya mereka masih hidup, meskipun sudah tidak bernafas. Nafas itu sendiri hanya merupakan tanda bagi orang yang masih hidup di atas tanah, bukanlah merupakan sebab kehidupan.

Jadi tidak bisa dikatakan kalau orang yang tak bernafas itu tidak hidup. Meskipun para wali sudah dikubur, mereka itu masih hidup dan bisa mendengarkan, bahkan lebih dari mendengarkan. Para wali yang sudah di kubur itu seperti orang yang mempunyai handphone yang kehabisan pulsa. Bisa menerima pesan namun tak bisa mengirim. Tapi juga ada yang bisa mengirim pesan. Dan yang bisa seperti ini adalah para wali yang derajatnya tinggi. Pada umumya orang yang mati, itu hanya bisa menerima. Para wali yang telah bersemayam itu bisa mendengarkan. Dan kita sendiri matur-matur, berwasilah: Njeng sunan, kyai, kula wasilah panjenengan dumateng gusti Allah. Panjengan suwunake wonten ngarsane gusti Allah, mugi kajat kula dipun paringi kabul “. (kanjeng sunan, kyai, kami wasilah melalui engkau kepada Allah. Engkau mintakan kepada-Nya, semoga hajat kami dikabulkan). Begitulah cara untuk mengutarakan wasilah, jadi yang dimintai itu tetap Allah bukan para wali atau para kyai. Sesudah mengutarakan wasilah tadi ; ”Ya Allah kula nyuwun, sowan ngadep marang Panjenangan, kanthi wasilah kaliyan kekasih panjenengan, mugi-mugi kanjeng sunan puniki, Panjenengan syafa’ataken dateng kula”. (ya Allah kami memohon kepadaMu, melalui kekasihMu, mudah-mudahan kekasihMu ini bisa memberi syafaat terhadap kami). Begitulah cara mengutarakanya.

Apakah boleh wasilah seperti ini? Ada cerita dari mbah Munawar. Dulu ada orang bertanya kepada mbah Syahid. Dia menanyakan hukum wasilah itu bagaimana. Karena mbah Syahid itu orang yang alim tetapi tidak memperlihatkan kealimannya, beliau tidak secara langsung memberitahukan akan kealiman-nya. Begitupun ketika beliau mengijazahi suatu amalan, beliau secara tidak langsung memberikannya. Mbah Syahid menjawabnya; “Wah, kalau bab itu saya kurang paham. Tapi saya punya sebuah kitab, mungkin bisa menjawab pertanyaan sampean. “Kalau boleh, saya dipinjami sebentar Kyai.” “Baik, tunggu sebentar saya ambilkan”. Mbah Syahid mengambil kitabnya yang bentuknya agak kecil, dengan tulisan yang kecil pula. “Ini kitabnya.” Setelah orang tadi membuka-buka

kitab mbah Syahid, dia meraba-raba sakunya untuk mencari sesuatu. “Lho, sampean mencari apa?” “Anu Mbah, saya mencari kaca mata saya, tulisannya kekecilan.” Kemudian mbah Syahid berkata: “Nah, jawabannya sudah sampean temukan sendiri gitu kok. Kacamata tadi merupakan wasilah untuk melihat, karena mata kita kurang mampu melihat dengan jelas. Begitu juga masalah wasilah yang sampean tanyakan tadi. Karena diri kita masih kotor, maka tidak salah kalau diri kita wasilah kepada para wali Allah.” “Jadi hukamnya bagaimana, Mbah?” “Ya, seperti itu. Kalau tidah boleh berwasilah, berarti sampean tidak boleh menggunakan kacamata, sepeda, naik angkot, dan sebagainya. Karena semua itu juga merupakan wasilah.”

Oleh karena itu, jangan terkejut kalau ada orang yang suka bolak-balik berziarah ke makam para wali Allah. Karena orang itu sudah merasakan enaknya wasilah. Biasanya, orang yang sudah merasakan enak, itu jadi tuman (keterusan). Yang penting kita sendiri harus ingat, kalau wasilah, itu adalah wasilah, atau lantaran (sarana). Yang namanya sarana, itu bukanlah tujuan. Jangan sampai keliru, kalau tujuannya itu tetaplah Allah semata. Kalau wasilah dianggap sebagai tujuan, itu namanya ‘syirik’. Misalnya, orang makan, merupakan sarana untuk beribadah, jangan jadikan makan sebagai tujuan. Apabila tidak bisa wasilah dengan wali yang ini, cari wali yang lain − yang penting tujuannya, bukan sarana yang menjadi tujuan. Termasuk orang yang mencalonkan diri sebagai bupati, pejabat petinggi, mereka harus ingat kalau semua itu adalah sarana untuk beribadah.

Kyai Mus (KH. Mustofa Bisri) pernah menyatakan, kalau sarana itu tidak perlu dimasukkan dalam hati. Kemudian Kyai Mus menggambarkan; sendok itu merupakan sarana untuk makan, dan sendok tadi tidak perlu dimasukan ke dalam perut. Kalau tidak dapat sarana yang satu ini, cari sarana lainnya, yang penting tujuannya − dan semua tujuan itu, tidak lain supaya mendapatkan ridlo Allah Ta’ala.

والتاسعة والعشرون: الحشر فى العز والكرامة من حلل وتاج وبراق

Keutamaan yang ke-29;

Kekasih-kekasih Allah dikumpulkan dalam kemuliaan dan kekeramatan secara khusus, mengenakan pakaian mahkota dan menaiki buroq. Jika kita bisa istiqomah dengan sungguh-sungguh, kita bisa ikut golongan mereka.

والثلاثون: بياض الوجه ونوره

Keutamaan yang ke-30;

Wajahnya putih bersinar.

Allah berfirman:

وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة

Hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan anugerah ini, tidak semua ahli surga. Yaitu anugerah, pemberian yang bisa melihat Dzat Allah Ta’ala. Dan surga itu ada kelas-kelasnya, mulai dari kelas endek sampai kelas VIP, seperti layaknya kereta api. Ada kelas ekonomi, bisnis, dan VIP.

Ada yang masuk surga; karena dimasukkan, ada yang masuk dengan sendirinya, ada yang dimasukkan tanpa ikut mempunyai, ada yang masuk seenaknya saja menempati, ada yang masuk dan diberi tempat tersendiri oleh Allah, dan ada juga yang masuk pokoknya masuk asal tidak di neraka. Semuanya sama-sama ahli surga, tapi ada satu pemberian yang

yang tidak semua ahli surga mendapatkannya yaitu pemberian berupa kemampuan untuk bisa melihat Dzat Allah Ta’ala. Padahal Allah itu Dzat yang Maha Indah. Para wali-wali

Allah, besok kelak diberi wajah-wajah bersinar dan bisa melihat Dzat Allah. Dalam al-Qur’an, Allah berfiman:

وجوه ضاحكة مسفرة يومئذ مستبشرة

Semua tadi adalah orang yang istiqomah dan mau jihad fi sabililah. Wujud Puncak ibadah yang paling luhur yaitu jihad fi sabililah dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk melaksanakan tiga perkara. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

يَااَيُّهَا اَّلذِيْنَ أَمَنُوْا إِتَّقُوْا اللهَ وَابْتَغُوْا اِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِى سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن

Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk melaksanakan tiga perkara :

1. Taqwa

2. Mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT

3. Jihad fi sabililah agar menjadi orang yang beruntung.

Dulu mbah Bisri Almagfurlah pernah ngendikan; “Seumpama boleh menambahi rukun Islam, aku ingin menambahi satu rukun lagi, yaitu jihad fi sabilillah”. Ini menyatakan bahwa jihad fi bilillah itu sangat penting. Karena kalau tidak ada jihad, Islam sudah mati. Anak cucu kita tidak ada yang Islam lagi. Kita bisa mengenal Islam, sebab para wali melakukan jihad. Firman Allah tadi mengingatkan kita akan tiga ibadah yang cara pelaksanaannya berbeda-beda.

Pertama, taqwa adalah ibadah yang cara pelaksanaannya ada 2 cara;

Perorangan seperti puasa. Maka dari itu tidak ada orang yang melaksanakan puasa berjamaah, dalam arti seseorang tidak bisa merasakan rasa lapar dari orang lain.

Berjamaah maupun sendirian seperti halnya sholat, dapat dilakukan sendiri-sendiri dan dilakukan secara berjamaah juga bisa, tapi lebih afdlolnya dilakukan dengan berjamaah. Karena sholat berjamaah pahalanya 27 derajat. Dalam arti berlipat ganda dari kualitas jamaahnya. Dari keterangan mbah Bisri almagfurlah, 27 derajat itu bisa 27 kelentheng, juga bisa 27 semangka. Apabila kita melakukan jamaah dari awal, 27-nya bisa 27 semangka. Jadi kalau sampean makmum terlambat, maka mendapatkan 27 kelenteng. Beda kalau sampean jamaah di masjid mulai dari awal, sampean bisa mendapatkan 27 semangka. Malahan tidak hanya 27 semangka tetapi bisa 27 masjid sekaligus. Seperti itulah mbah Bisri memaknai 27 derajat. Seperti halnya sholat, wiridan, tahlil, Yasinan dan sedekah, itu juga dilakukan sendirian ataupun berjamaah. Sedekah, misalnya untuk membangun masjid, mengurusi madrasah, yang dilakukan bersama-sama, juga bisa dikatakan sebagai jamaah. Semua ini adalah merupakan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, yaitu wasilah.

Ketiga, yaitu jihad fi sabilillah, adalah ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan cara berjamaah. Orang tidak bisa sendiri-sendiri dalam melakukan jihad, dalam bentuk apapun. Misalnya jihad dalam mengurus masjid, jihad mengurusi madrasah, dan mengajar. Kalau jihad mengajar dilakukan sendiri-sendiri, itu tidak mungkin. Harus ada murid dan guru. Itu semua adalah jihad fi sabilillah. Maka dari itu Kanjeng Nabi SAW berpesan kepada kita semua untuk membudayakan jamaah, supaya terbiasa dan siap mental melaksanakan jihad fi sabilillah. Kalau sudah namanya jamaah, kita semua harus membagi tanggung

jawab dan tugas, juga harus sama tujuannya. Harus mempunyai sikap toleransi dan saling mengawasi. Apabila ada orang lain yang keberatan mengemban tugas maka harus dibantu. Itulah yang disebut jamaah. Sama seperti jamaah sholat, imam harus melihat-lihat makmumnya jangan mentang-mentang hafal al-Qur’an, terus membaca surat yang panjang-panjang − dan ini akan berakibat fatal bagi makmumnya. Bagi yang tua bisa pingsan, bagi yang muda kabur sebelum sholat berakhir. Bahkan sahabat Mu’adz bin Jabal, pernah ditegur oleh Kanjeng Nabi SAW, karena terlalu lama dalam mengimami sholat. Jamaah yang baik itu tidak perlu lama-lama. Namun jangan mentang-mentang imam muda, melaksanakan sholat dengan begitu cepatnya, sampai-sampai makmum yang tua terengah-engah dan tidak bisa mengikuti gerakan imam.

والله أعلم بالصواب

KH. YAHYA CHOLIL STAQUF

Selasa, 15 Agustu 2008

Anugerah yang ke-29;

والتاسعة والعشرون : الحشر فى العز والكرامة من حلل وتاج وبراق

Dikumpulkan di hari kiamat dengan penghormatan.

Orang-orang yang dikasihi oleh Allah yaitu para wali-wali Allah SWT, besok di hari kiamat dikumpulkan dengan diberi penghormatan yang khusus dari Allah SWT. diberi pakaian-pakaian yang khusus, diberi mahkota-mahkota khusus dan disediakan kendaraan yang bernama buroq, seperti kendaraan yang di tumpangi Nabi SAW waktu isro’ mi’roj. Jadi besok di akhirat bisa dititeni kalau ada sekelompok orang yang hebat-hebat, maka itu adalah wali-wali Allah SWT − Orang-orang yang waktu hidup di dunianya istiqomah lahir batin dalam berjuang mengabdi di jalan Allah SWT–.

Anugerah yang ke-30;

الثلاثون : بياض الوجه ونوره

Wajahnya putih bercahaya.

Besok di surga wajah-wajahnya kekasih Allah itu semuanya akan tampak putih dan bercahaya. Bercahaya disini artinya mencorong yang bersinar.

(وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة) وقال (وجوه يومئذ مسفرة ضاحكة مستبشرة)

Khusus bagi wali Allah. Besok di hari kiamat, wajah-wajah para wali Allah itu, mencorong dan bisa melihat Pengerane, yaitu Allah SWT.

Besok di hari kiamat wajahnya bersinar dan bisa melihat wujud Allah SWT. Sedangkan yang lainnya, besok di hari kiamat, wajahnya pada ketakutan semua

وجوه يومئذ خاشعة Tapi sebaliknya وجوه يومئذ ناعمة

Bagi orang-orang husus yang dikasihi oleh Allah SWT, besok di hari kianmat, wajahnya tampak senang, bahagia dan terang bercahaya, karena istiqomahnya di dunia. Salah satu yang menjadikan wajah seseorang di akhirat nanti bersinar itu, adalah sisa air wudhu yang masih menempel di anggota wudhu. Oleh karenanya termasuk kesunahan setelah wudhu jika ada air yang masih membasahi anggota wudhu, maka dibiarkan kering dengan sendirinya. Bukan dilap dengan kain handuk atau sejenisnya. Karena air yang masih menempel itu, merupakan air barokah. Disamping itu − insyaAllah ketika masih di duniakeutamaan air wudhu itu sangat besar, diantaranya; bisa meredakan amarah dalam hati dan anda bisa mencobanya. Ketika anda sedang marah, anda sedang berhubungan dengan syaitan sedangkan dia terbuat dari api, lalu anda berwudhu, insyaAllah, amarah anda akan reda. Perasaan marah itu berbahaya.

Perasan manusia itu bermacam-macam, ada yang bisa dituruti, ada yang tidak. Artinya, kalau dituruti bisa berdampak baik juga bisa buruk. Tergantung perasaan yang diinginkan. Seperti halnya orang yang mempunyai keinginan. Jika keinginannya itu dituruti, bisa berdampak baik, buruk, atau tidak berdampak apa-apa. Begitu juga orang yang mempunyai perasaan suka − jika yang disukai itu baik, maka berakibak baik, kalau buruk, ya buruk. Begitu pula perasaan sengit. Sengit itu baik kalau sengit terhadap perkara yang

buruk. Sebaliknya kalau sengit terhadap perkara yang baik, maka berakibat buruk. Ada juga perasan manusia yang apabila dituruti, pasti buruk, yaitu:

1. Marah. Berbeda dengan sengit. Sengit memang sudah didasari perasaan tidak suka terhadap apa yang disengiti. Tetapi kadang-kadang yang disengiti itu memang pas. Sedangkan marah, bawaannya ingin ngaplok, dan lainnya. Pokoknya yang buruk-buruk ingin dilakukan. Orang yang sedang marah, itu tidak bisa berhenti dengan sendirinya, kalau tidak dihentikan orang yang marah itu sendiri. Kalau dibiarkan, bisa-bisa yang tidak ikut dalam permasalhan, bisa terkena imbasnya juga. Terkadang, sengit bisa menjadi marah. Sengit dengan Ahmadiyah, itu baik. karena mereka beranggapan kalau masih ada Nabi setelah Nabi Muhhammad SAW. Tetapi kalau sudah menjadi marah, jadinya tidak baik. Rumah-rumah jamaah Ahmadiyah dibakar, jamaahnya dipukuli − dan ini merupakan perbuatan dzolim, yang seharusnya tidak dilakukan.

Ada kisah, ketika itu Sayyidina ‘Ali karromAllahu wajhah dalam keadaan perang, karena sengit dengan kelakuan orang kafir sebagai musuh beliau. Di tengah-tengah perang, musuh tadi sudah dihantam pedang, dan terkapar. Dalam posisi ini si musuh meludahi, tepat dimuka Sayyidina ‘Ali. Bukannya langsung dibunuh, tetapi beliau langsung meninggalkan musuhnya tadi. Karena saat itu beliau dalam keadaan marah, dan beliau tidak mau menuruti amarahnya. Beliau takut, kalau membunuh dalam keadaan marah, bukan karena berjuang untuk Allah.

Seorang hakim kalau dalam keadaan marah, harus istirahat sampai marahnya hilang. Suatu saat Nabi SAW kedatangan tamu. Tamu tadi minta nasihat dari Nabi SAW bagaimana menjadi orang yang baik. Nabi SAW menasihatinya “la taghdlob”, jangan marah!. Tamu tadi mengulangi permintaannya sampai berulang-ulang, namun jawaban Nabi SAW tetap sama. Karena marah itu bahaya. Apalagi kalau marah dengan pasangan sendiri, bisa bahaya kalau tidak direm − dan salah satu untuk meredakan amarah, yaitu wudhu.

2. Shukhkhun mutho (nggoh eman). Tidak rela memberikan apa yang dimilikinya untuk orang lain. Mau bayar hutang nggoh eman, mau memberi sesuatu nggoh eman. Itu namanya Shukhkhun, jangan sampai dituruti. perasaan nggoh eman, itu bisa merusak tatanan masyarakat. Bisa terlihat kalau orang-oramg miskin, anak-anak yatim tidak ada yang mau merawat, karena banyak orang mempunyai perasaan nggoheman. Kalau seseorang nggoheman dengan sesuatu yang besar, otomatis juga yang kecil. Nggoh eman, itu bahaya. Karena tanda dari orang yang beriman kepada Allah itu mau menginfakkan barang yang disukainya untuk orang lain. Kalau memberi barang yang tidak disukai dan sudah tidak dibutuhkan, sama saja bohong.

Orang yang benar imannya pasti berkeyakinan kalau apa yang telah mereka berikan, pasti akan diganti oleh Allah. Dalam al-Qur’an

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَئٍّ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

kalau percaya akan isi ayat ini pasti bisa menahan perasaan nggoh eman. Namun perasaan ini tetap masih ada karena memang merupakan sifat dasar manusia

إِِِ نَّ الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعَا, إِذَا مَسَّهُمُ الشَرُّ جَزُوعَا. وَ إِذَا مَسَّهُمُ الخَيْرُ مَنُوْعَا

Jadi, bakhil itu merupakan sifat dasar setiap manusia. Cuma saja ada yang bisa menahan dan ada yang tidak bisa menahan. Kalau orang yang iman dengan sungguh-sungguh, pasti sifat ini tidak akan dituruti. Misalnya zakat hasil panen padi kalau pengairannya dengan irigasi sendiri, zakat yang dikeluarkan sebanyak 5%. Kalau dengan tadah hujan, yang dikeluarkan sebanyak 10% dari hasil panen. Kalau saja hasil panen

sedikit, mungkin zakat yang dikeluarkan tidak terasa. Namun kalau hasilnya banyak, misalnya saja 500 ton dengan pengairan sendiri. Maka zakat yang harus dikeluarkan sebanyak 50 ton. Jika orang panen tadi mempunyai sifat nggoheman, dengan melihat jumlah zakat yang dikeluarkan sebanyak 50 ton pasti rasa nggoh emannya akan timbul. Semakin banyak hasil panen, semakin nggoh eman untuk mengeluarkan zakat. Ini yang merusak tatanan masyarakat. Karena sebenarnya Allah menurunkan rizki di dunia ini, pasti cukup untuk makan semua manusia di dunia ini. Tapi mengapa sekarang masih banyak orang kapiran? Karena sekarang ini banyak orang yang kelebihan harta namun tidak mau menyisihkan harta mereka untuk orang lain yang membutuhkan.

3. Hasud. Yaitu perasan iri disertai dengan keinginan, supaya orang yang dihasud itu celaka. Ini yang sangat bahaya. Namun, kalau iri dengan seseorang dan ingin mendapatkan seperti apa yang didapatkan dari orang tadi, tanpa disertai keinginan agar seseorang tadi celaka, itu namanya bukan hasud, tapi ghiroh. Misalnya, ada orang pandai, dan sampean iri kepadanya dan sampean ingin seperti dia, dengan belajar leih giat. Ini yang namanya ghiroh. Tapi kalau seumpama ada orang yang dulunya lebih pandai dari sampean, namun sekarang dia mempunyai pesantren dengan santri yang banyak. Sampean iri dan berharap agar pesantrennya bubar, ini yang dinamakan hasud.

Sifat hasud merupakan maksiat pertama kali yang dilakukan oleh makhluk Allah, yaitu Iblis. Dia iri atas penciptaan nabi Adam. Dia iri karena nabi Adam dijadikan kekasih Allah. Padahal dia sudah beribadah selama beribu-ribu tahun. Orang yang sudah hasud, itu seperti Iblis tadi. Orang yang sudah mempunyai sifat hasud, tidak akan perduli terhadap apapun, entah yang dihadapi itu benar atau salah − yang penting dirinya lah yang benar. Oleh karena itu, kita diperintah oleh Allah, agar senantiasa berlindung kepada Allah dari marabahaya yang ditimbulkan oleh orang hasud. Jadi orang hasud itu tidak bisa dihadapi sendiri. Apabila ada orang yang hasud dengan sampean, sampean hadapi sendiri, sudah pasti sampean kewalahan. Orang hasud tadi pasti takkan kurang jalan untuk mencelakai orang yang dihasud. Pandangan matanya saja sudah mencelakai.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (۲) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (۵)

Jadi derajat orang yang hasud, itu seper-syaitan. Kita tidak akan mampu menhadapi orang seperti ini sendirian, selain pasrah mohon perlindungan Allah. Ada ijazah dari KH. Bisri Mustofa, yaitu apabila ada perasaan tidak enak terhadap hatikita, rasa marah,atauadakebencian yang menyelimuti hati, segeralah mengucapkan لافاعل إلا الله (tidak ada yang berbuat kecuali Allah), semua yang terjadi, merupakan kehendak Allah. Apa saja yang kita alami, itu pasti atas kehendak Allah.

Mengapa Allah memberi rasa tidak enak? Karena rasa tidak enak tadi merupakan cobaan dari Allah. Ada kematian-kehidupan, itu semua merupakan cobaan dari Allah, untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya. Oleh karena itu, tidaklah pantas kita berkeluh kesah hidup di dunia ini. Karena kita hidup di dunia ini, memang hidup di alam yang penuh cobaan. Nikmat merupakan cobaan, begitu juga kesengsaraan. Kalau nikmat merupakan cobaan untuk bersyukur, kalau sengsara merupakan cobaan untuk bersabar. Seperti anak-anak sekolah, cobaan juga ada nilainya. Kalau orang itu bisa menghadapi cobaan yang diberikan dengan sabar, dan selalu bersyukur − dia akan mendapat nilai yang baik dan nilai itu yang nantinya akan menentukan kedudukan orang tersebut di hari akhir nanti.

Memang dasarnya kita diciptakan sebagai makhluk yang tidak berdaya. Sudah begitu terlahir sebagai orang jawa, kakek-nenek juga jawa, ditambah lagi tidak menjumpai Nabi SAW. Oleh karena itu yang bisa kita andalakan agar selamat di hari akhir nanti, yaitu;

Pertama, belas kasihan dari Allah, dengan bersyukur kepada Allah dan husnudzonn kepada Allah. Kira-kira, Allah memandang kita bisa melakukan seperti itu, kita sudah hebat, meskipun hanya orang Jawa yang tak pernah menjumpai Nabi SAW. Seperti itulah kita berhusnudzon kepada Allah. Kedua berharap mendapatkan syafa’at dari Nabi SAW. Semua amalan-amalan yang telah kita lakukan di dunia ini tidak bisa diandalkan. Tapi jangan terus tidak melakukan ibadah, dengan hanya berharap dan berharap. Maka tidak usah tertarik, tidak usah ikut-ikutan bila ada ajakan-ajakan dari orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi, tidak usah dihiraukan. Karena sudah pasti bohong.

Kita hidup di duna ini, semua pengakuan perlu pembuktian. Kita mengaku iman, juga perlu bukti. Kalau tidak dibuktikan takkan diakui oleh orang lain. Kita mengaku ikhlas, juga perlu pembuktian. Semua ada tes-tes tersendiri supaya pengakuan tadi terbukti. Orang mengaku iman, dulu waktu zaman Nabi, Nabi saja sampai mengucapkan “kapan pertolongan Allah akan turun?” sampai begitu Allah menguji iman orang-orang terdahulu. Dan kita sendiri tidak akan pernah dibiarkan bgitu saja, setelah mengaku iman pasti ada tes. Seperti halnya mengaku ikhlas. Kita sebenarnya − kalau tidak sedang malas − tidak ada yang merasa keberatan untuk melakukan kebaikan, malah suka. Lumrahnya orang yang melakukan kebaikan itu mendapatkan pujian, dimuliakan dan sebagainya. Akan tetapi kalau sudah beberapa kali melakukan kebaikan dan selalu mendapat pujian, suatu saat orang tadi bukannya mendapat pujian tetapi mendapat celaan − apakah mungkin orang tadi masih melanjutkan melakukan kebaikan seperti yang dikilakukannya sebelum dia dicela? atau tidak? Kadang-kadang seperti itu bentuk tes yang diberikan. Begitu juga sabar, syukur, juga perlu pembuktian.

Anugrah ke-31;

الحادية والثلاثون : الأمن من أهوال يوم القيامة

Keadaan aman, selamat dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat.

Pada hari kiamat nanti − diilustrasikan, digambarkan − kalau matahari itu lebih dekat daripada kepala. Rasa panas yang amat sangat, rasa berdebar akan menghadapi pengadilan Allah. Jadi kesusahan di hari kiamat itu macam-macam dan semuanya berat-berat. Bagi orang-orang yang dicintai oleh Allah, dijamin selamat dan aman dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Mereka tidak akan merasakan kesusahan sedikit pun.

Allah berfirman;

أَمْ مَنْ يَأْتِي آَمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ (فصلت : ٣٠)

Apakah ada orang-orang yang menghadapi siksa di hari kiamat?”

Di dalam al-Qur’an dan hadist, banyak digambarkan kesusahan-kesusahan yang terjadi di hari kiamat nanti. Ketika orang-orang dibangunkan dari kubur, digiring ke padang Mahsyar. Di sana terdapat banyak kesusahan-kesusahan. Dalam kedaan seprti ini, ada orang-orang yang dilindungi Allah shingga tidak mengalami kesusahan hari kiamat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Nanti dihari kiamat, ada tujuh golongan manusia yang diberi perlindungan oleh Allah, dimana dalam keadan tidak ada perlindungan kecuali Allah. Ada matahari yang sangat panas, mereka tidak merasakan panas − orang lain takut − tujuh golongan tadi tidak merasakan takut. Orang lain merasakan kesusahan yang luar biasa beratnya, mereka tidak merasakannya. Siapa saja tujuh golongan tersebut?

Pertama, Imam yang adil. Yaitu imam yang tidak nyeleweng dari amanat untuk mengurus rakyatnya. Oleh karena itu, orang-orang yang jadi petinggi, bupati, gubernur, presiden dan sebagainya. Tidak usah kebanyakan wiridan atau sholat sunah. Tidak terlalu

suka memberi, tidak apa-apa, yang penting adil. Imam yang adil adalah (وضع شىء فى محله) apa saja dilakukan sebagaimana mestinya, tidak nyeleweng dari aturan dan dari HAM.

Akan tetapi kita sendiri sebaliknya, jika menghadapi ulil amri atau penyelenggara pemerintah − kalau di negara demokrasi seperti Indonesia, yaitu DPR, MPR, Presiden, hakim, jaksa, polisi, kita seharusnya tidak usah mengharap kedermawaanan mereka. Biasanya orang-orang kalau membuat proposal, kebanyakan mencantumkan alamat orang-orang yang menjadi ulil amri tersebut untuk mendapatkan sumbangan. Ini yang menjadikan kadang-kadang kita mempunyai pandangan kalau ada orang menjadi ulil amri yang penting ke-dermawaannya, bukan keadilannya. Kita lebih menyukai para pemimpin yang dermawan meskipun mereka korupsi. Dan itu menyebabkan para ulil amri yang duduk di kursi kepemerintahan kurang memperhatikan kadilan dan mendorong mereka untuk korupsi, agar bisa membuat rakyat senang dengan kedermawanan mereka. Padahal sebenarnya, yang dicari dari para ulil amri adalah keadilannya, bukan kedermawaannya.

Kalau sekarang kita berani membuat suatu gerakan, yang pada intinya tidah usah meminta-minta sumbangan dari mereka, maka itu sangat bagus. Seperti yang dilakukan Kyai Mu’ad Thohir, dari Pati. Beliau diminta orang-orang untuk menjadi ketua NU Pati. Pada mulanya beliau tidak mau. Tetapi karena orang-orang meminta dengan sangat, beliau mau menjadi ketua NU Pati dengan syarat, yaitu kalau beliau menjadi ketua Nu, jangan sampai dari anggota ada yang membuat proposal atas nama NU. Kalau ada kegiatan apa saja, kita harus urunan, jangan sampai meminta, mengajukan proposal, karena proposal menurut beliau itu haram. Memang benar selama beliau menjadi ketua, tidak ada yang membuat proposal. Semua biaya kegiatan diperoleh dari urunan pengurus dan warga NU sendiri. Dan ini yang menjadikan NU Pati lebih baik. Logikanya kalau orang mau urunan − dengan disertai penuh kesadaran, sudah pasti merasa ikut memiliki. Berbeda kalau biayanya diperoleh dari proposal, pasti orang-orang yang tergabung di dalamnya merasa tidak memiliki dan berakibat kerjanya tidak optimal.

Kalau ada kejadian di Pesantren TPI Rembang, yaitu mendapatkan komputer dengan fasilitas internet, dan juga alat pengolah air minum, itu bukan sumbangan menteri, tetapi merupakan program pemerintah yang dinamakan ‘Warintek’. Namun sebenarnya malah membebani santri. Karena menghidupkan komputer dan alat tadi juga memerlukan daya listrik yang lebih tinggi − selain itu bukan saja untuk kalangan santri sendiri namun juga untuk masyarakat sekitar. Dan itu semua ditanggung oleh SPP dari para santri sendiri. Pokoknya tidak usah meminta sumbangan dari uli amri.

Jika kita mampu bersikap demikian, suatu saat nanti, para ulil amri akan merasa heran, mengapa tidak ada lagi yang meminta sumbangan. Yang bisa diharap kedermawaannya itu adalah orang kaya. Kalau mereka tidak mau, bisa dengan pemaksaan. Karena kalau para orang-orang kaya tadi tidak dermawan, masyarakat bisa rusak. Sama seperti kalau ulil amri tidak adil, masyarakat akan rusak. Begitu juga orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, masyarakat juga akan rusak. Orang faqir harus berdoa yang baik-baik, kalau tidak, masyarakat akan rusak.

Kedua, Dua orang yang saling mencintai hanya karena Allah, baik dalam keadaan berkumpul maupun berpisah. Karena kita tahu kalau yang dikerjakan merupakan pekerjaan- pekerjaan yang diperintahkan Allah, pekerjaan-pekerjaan yang dianjurkan oleh Allah. Misalnya, kita cinta dengan seseorang, karena dia istiqomah beribadah, istiqomah ngaji, istiqomah mengajarkan ilmunya, istiqomah khidmah dengan masyarakat. Itu yang namanya cinta karena Allah, bukan karena sering diberi sesuatu, bukan karena ketampanannya, bukan karena kekayaannya dan bukan karena pangkatnya, tetapi semata-mata hanya karena Allah.

Ketiga, Pemuda yang senang beribadah. Karena sejak kecil sudah dibiasakan beribadah. Oleh karena itu jika kita mempunyai anak, maka didiklah sejak dini, latihlah rajin beribadah, agar nantinya terbiasa.

Keempat, Orang yang hati selalu ingat masjid. Selalu melakukan berjemaah di masjid. Pokoknya kalau pergi ke masjid dia sangat suka.

Kelima, Pemuda yang apabila digoda untuk melakukan ho-hi-he oleh wanita cantik yang mempunyai kedudukan dan kemuliaan, tetapi dia tidak mau karena takut pada Allah. Seperti Nabi Yusuf a.s., beliau muda, tampan yang digoda oleh Zulaikho. Padahal dia cantik dan kaya. Namun Nabi Yusuf a.s. tidak berkenan untuk menuruti godaan Zulaikho karena takut pada Allah. Dan peristiwa seperti ini tidak hanya dialami oleh para nabi saja. Mungkin, pada hari ini semua manusia mengalami. Seperti acara TV, Koran, itu mengarah ke sana. Misalnya, iklan permen saja menggunakan model wanita, kan tidak ada sangkut-pautnya. Mengapa sampai begitu, kok tidak pakai model laki-laki saja? Ini karena wanita tidak kepingin. Makanya nanti di surga orang laki-laki diiming-imingi bidadari. Sedangkan wanita tidak diming-imingi bidadara.

Keenam, Orang yang bersedekah secara sirri (sembunyi) hingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya bahkan tangan kirinya sendiri pun tidak mengetahui.

Ketujuh Orang yang berdzikir atau ingat pada Allah dengan berlinangan air mata dan berada di tempat yang sepi. Dia menangis karena teringat dosa-dosanya, takut akan ancaman dan adzab Allah. Dia selalu meminta, mengharap ampunan dan rahmat-Nya. Bukan seperti yang sering kali kita lihat di TV, dzikir bersama lalu pada menangis, bukan seperti itu! Kalau itu entah apa yang mereka tangisi.

Jika orang sudah mendapatkan perlindungan dari Allah di hari kiamat, itu merupakan nikmat yang luar biasa. Belum masuk surga saja sudah diberi kenikmatan. Sebelum itu, semoga kita diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW, mengharapkan syafatnya. Dan bukti jika kita memang mengharapkan syafaat Nabi SAW, itu memperbanyak membaca sholawat.

KH. YAHYA CHOLIL STAQUF

Selasa, 29 Agusgtus 2008

والثانية والثلاثون الكتاب باليمين ومنهم من كفى الكتاب رأسا

Anugerah yang ke-32;

Yaitu menerima catatan amal dengan tangan kanan bahkan ada yang tidak melalui dihisab terlebih dahulu, dia langsung masuk surga.

Kita sudah sering mendengar keterangan bahwa besok di yaumul hisab semua orang akan di beri catatan amal masing-masing. Orang yang amal baiknya lebih banyak dari pada amal buruknya, maka akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanan. Sebaliknya orang yang lebih banyak amal buruknya maka akan menerimanya dengan tangan kiri. Disana, dalam penerimaan buku catatan amal tidak bisa dimanipulasi − yang semestinya menerima dengan tangan kiri, tidak bisa memakai tangan kanan. Semua telah diatur oleh Allah sehingga setiap orang tak bisa seenaknya saja, bahkan mulut pun terkunci. Di yaumul hisab, siapa saja tidak bisa mengelak pengadilan Allah. Tidak bisa merekayasa dan tidak bisa berbohong. Semua itu seperti apa yang sebenarnya terjadi. Tidak seperti pengadilan di dunia, apalagi di Indonesia. Pengadilan di dunia, masih bisa diatur sedemikian rupa − bila saksi yang ditanya hakim tidak mengaku, semua tak akan tahu. Tapi pengadilan Allah di yaumul hisab semua sudah tidak bisa apa-apa dan mulut terkunci.

أليوم نختم على أفواههم وتكلمون أيديهم وتشهد أرجلهم بما كانوا يكسبون

Mulut dikunci, ganti anggota tubuh kita yang berbicara memberikan kesaksian seperti apa adanya. Kaki, tangan semua akan mengaku telah digunakan untuk apa saja di dunia. Kita tak bisa mencegahnya. Dan tidak bisa membantah karena mulut kita terkunci rapat. Untuk orang-orang yang beramal baik akan menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan. Berarti orang yang menerimanya dengan tangan kanan, bisa ditengarai bahwa ia akan masuk surga. Bagi mereka yang menerimanya dengan tangan kiri berarti harus mampir ke neraka.

ومنهم من كفي آلكتاب

Untuk kekasih-kekasih Allah − yang luhur kedudukannya di sisi Allah − mereka tidak perlu bersusah-payah menunggu pembagian catatan amalnya. Mereka bisa langsung masuk surga. Itulah janji Allah untuk kekasih-kekasihnya di yaumul hisab nanti. Sementara yang lainnya pada dag dig dug menanti catatan amal mereka.

والثالثة والثلاثون تيسير الحساب ومنهم من لايحاسب اصلا

Anugerah yang ke-33;

Keringanan hisab

Di akhirat nanti, semua perbuatan manusia yang pernah dilakukan di dunia − yang baik maupun yang buruk— semua akan ditimbang dengan terinci, tak ada yang terlewatkan. Bagi orang-orang yang dikasihi Allah SWT timbangan amalnya akan diringankan. Seumpama seperti pedagang di pasar, apabila yang membeli adalah pembeli langganan yang sudah sangat dekat, pasti kalau menimbang ditambahi. Begitu juga Allah SWT kalau untuk orang-orang yang dikasihi, timbangan amal buruknya akan diringankan dan amal baiknya diberatkan. Kadang-kadang di dunia ini, mereka juga berbuat amal buruk, tapi Allah SWT tidak menghitung amal tersebut. Terkadang lagi, mereka hanya melakukan perbuatan baik

puasa Ramadhan saja, toh begitu Allah tetap memberi pahala yang besar − karena Allah telah mengasihi orang itu. Sehingga bagaimanapun timbangan amal baiknya lebih banyak daripada amal buruknya. Malah ada yang tidak dihisab sama sekali.

Sesudah menerima buku catatan amalnya di padang mahsar, sebelum melewati sirothol mustaqim semua manusia diberhentikan, berbaris untuk menimbang amal mereka sesuai buku catatan amalnya. Apabila amal baiknya lebih banyak, mereka akan bisa melewati sirothol mustaqim langsung sampai ke surga. Malah dikatakan, disana disediakan kendaraan sesuai amal masing-masing. Ada keterangan, ketika melewati sirothol mustaqim, bermacam macam caranya. Ada yang jalannya lambat, ada yang sedang dan ada juga yang bisa terbang secepat kilat. Bagi orang yang amal baiknya terpaut sedikit dengan amal buruknya, mereka melewatinya dengan berjalan pelan, tapi apabila terpaut banyak mereka bisa melewatinya dengan cepat. Jadi sebelum masuk ke areal sirothol mustaqim semua amal ditimbang terlebih dahulu. Malah ada sebagian dari wali-wali, kekasih-kekasih Allah yang tidak ditimbang sama sekali, termasuk wali-wali Allah yang mati di waktu jihad fi sabilillah.

والرابعة والثلاثون ثقل الميزان منهم من لا يوقف للوزن اصلا

Anugerah yang ke-34;

Diberatkanya timbangan amal baiknya

Ada juga yang timbangan amal baiknya ditambahi, diberatkan Allah SWT. Sebagai perumpamaan, apabila ada pedagang yang sudah akrab dengan si pembeli, tentunya pedagang tadi tak akan tanggung-tanggung untuk menambahi timbangannya. Apalagi kalau yang beli itu teman sendiri yang dikasihi.

ومنهم من لايقاف لوزن ٲصلا

Sebagian dari kekasih-kekasih Allah SWT, ada yang tidak ditimbang sama sekali ketika melewati sirothol mustaqim, mereka langsung masuk ke dalam surga Allah.

والخامسة والثلاثون ورود الحوض على النبي صلى الله عليه وسلم فيشرب شربة لا يظمأ بعدها ابدا

Anugerah yang ke-35;

Datangnya telaga atas Nabi Muhammad SAW.

Besok di padang mahsar, ketika semua orang kehausan, ketika rasa panas tak terhingga, ketika matahari berada di atas kepala, maka datanglah sebuah telaga yang khusus untuk Nabiyullah SAW. Telaga ini juga disediakan untuk umatnya yaitu orang-orang mukmin yang dikasihi Allah SWT. Walaupun hanya minum seteguk saja dari air telaga itu, rasa haus di tenggorokan akan hilang untuk selamanya. Itulah khasiat dari telaga yang khusus disediakan untuk nabi Muhammad saw. Apabila kita dzibaan bacalah sepenggal ayat ini;

حوضك الصوف المبرد وردون يوم النشور

Telaga yang disediakan untuk Nabi, sangat jernih dan segar. Kita berharap, mudah-mudahan bisa sampai kesana dan bisa minum dari telaga itu.

والسادسة والثلا ثون جواز الصراط والنجا من النار حتى ان منهم من لا يسمع حسيسها وهم فيما اشتهت انفسهم خالدون وتخمد لهم النار

ِِAnugerah yang ke-36;

Melewati jembatan sirothol mustaqim dengan selamat.

Kekasih-kekasih Allah yang sholeh, nanti bisa melewati jembatan sirothol mustaqim dengan selamat. Tidak akan kepleset ke dalam neraka apalagi tercebur ke dalamnya. Kena sedikit saja tidak akan bisa − malah walaupun hanya khasis saja, tidak akan terdengar oleh mereka. Yang dimaksud khasis adalah suara yang ditimbulkan oleh percikan api. Bisa dibayangkan, khasis yang keluar dari api yang digunakan untuk masak saja suaranya sudah seperti itu, apalagi khasis yang akan ditimbulkan oleh api neraka yang sangat berkobar-kobar. Tapi sebagian dari wali-wali Allah tak akan mendengar suara itu. Api neraka akan padam sebentar untuk menghormatinya dan mereka melewatinya dengan sangat cepat. Bagi orang-orang biasa pasti akan mendengar khasis dari api neraka itu dan merasa bergetar ketakutan mendengarnya.

Di dalam surga itu semuanya tersedia, tanpa harus bersusah-susah untuk mendapatkanya − tidak seperti di dunia − di dunia kadang-kadang apa yang kita inginkan tercapai kadang juga tidak. Yang kita dapatkan kadang-kadang tidak seperti yang kita inginkan. Kalaupun dapat pasti dengan susah payah cara untuk mendapatkannya. Seperti istri yang cantik kadang dapat kadang tidak. Tapi walaupun dapat − namanya di dunia − pasti dengan cara yang susah. Makanan yang paling enak menurut kita itu apa? Misalnya dumbek, mulai dari caranya membuat isinya dan bungkusnya itu susah sekali. Setelah jadi, juga masih susah. Misalnya, kalau makan dumbek sampai kekenyangan itupun masih susah, karena perut terasa sakit ingin buang hajat − itu kalau kita ada di dunia.

Berbeda kalau kita berada di surga, disana tak ada kesusahan-kesusahan seperti di dunia. Mendapatkan apa saja yang di inginkan dengan mudah dan tak ada lagi susah setelah mendapatkannya. Di surga tidak ada makanan yang berlabel haram, semua makanan dikhalalkan, seperti arak misalnya. Selain halal juga lebih nikmat dan tidak memabukkan. Untuk kekasih Allah, semua telah tersedia dan mereka akan tinggal disana selama lamanya.

والسابعة والثلا ثون الشفاعة فى عرصات القيامة نحوا من شفاعة الأنبياء والرسل

Anugerah yang ke-37;

Syafa’at yang dimiliki oleh para kekasih Allah.

Para wali-wali Allah besok di hari kiamat meskipun bukan nabi, diberi hak untuk memberi syafa’at, sama dengan para nabi dan para rosul. Sehingga tidak hanya dirinya sendiri saja yang bisa merasakan enak tapi juga orang yang dikasihi berkat syafaatnya. Wali-wali yang pernah kita ziarahi itu, mungkin ada yang mendapat hak memberi syafaat kepada kita. Itulah keutamaan dari wali-wali Allah. Siapa tahu kita yang jelek seperti ini juga bisa mendapat anugerah yang seperti itu.

والثامنة والثلا ثون ملك الابد فى الجنة

Anugerah yang ke-38;

Kerajaan yang abadi di dalam surga.

Dulu pernah, saya (Gus Yahya. Red.) berkunjung ke Istana Negara, waktu itu saya muter-muter ke kamar satu persatu, itu saja sudah lelah, karena terlalu besar istananya − apalagi ini di dalam surga padahal surga itu besarnya seukuran langit dan bumi. Sekarang ini sudah banyak orang-orang yang ingin mencoba membuat istana yang megah, karena merasa sudah banyak uang. Saya (Gus Yahya. Red.) pernah ke rumahnya mantan pejabat, masyaAllah, katanya ada tiga ratus kamar. Karena obsesi ingin mempunyai istana. Padahal

dia bukan seorang presiden. Besok di dalam surga istana-istana yang disediakan untuk ahli surga besarnya sampai langit dan bumi. Dan tidak akan ada kesusahannya. Kalau di dunia kan istri paling-paling cuma satu, terus ingin tambah tapi tidak berani. Kalau di surga sudah disediakan bidadari − yang perempuan juga sama disediakan tempat yang indah bersama sang suami waktu di dunianya. Itu semua secuil gambaran-gambaran kenikmatan di dalam surga.

والتاسعة والثلاثون الرضوان الاكبر

Anugerah yang ke-39;

Di ridhoi Allah SWT.

Apa yang disebut ridho itu? Yang dimaksud ridho adalah senang yang tanpa ganjalan (puas). Berbeda dengan kita, apabila kita suka pada seseorang terkadang masih ada ganjalannya. Seperti ini “aku suka dengan dia tapi sayangnya dia ini ngentutan, aku juga suka dengan dia tapi sayangnya dia itu pelit”. Sama-sama ridho tapi masih ada ganjalan sedikit. Lha besok di dalam surga, wali-wali Allah diberi ridho tanpa ada rasa yang mengganjal. Ridho yang agung.

والاربعون لقاء رب العالمين اله الاولين والاخرين بلا كيف جل جلا له

Anugerah yang ke-40;

Bisa melihat wujud Allah.

Besok ketika di dalam surga, para wali Allah akan diberi satu kenikmatan yang tidak semua bisa mendapatkannya, meskipun sama-sama wali Allah, yaitu bisa melihat wujud Allah SWT yang sangat indah. Kenikmatan ini adalah kenikmatan yang paling agung yang akan diberikan Allah kepada wali-wali khusus yang dikasihi-Nya. Kita tak akan bisa membayangkan bagaimana indahnya Dzat Allah SWT karena sangat indahnya. Keindahan yang paling agung dari Dzat Allah SWT, sampai-sampai tidak bisa diterangkan.

ألله جميل يحب جمل

Allah itu Dzat yang paling indah, keindahan apa saja tak ada yang bisa menyamai Allah. Bila diingat-ingat, kita melihat sesuatu yang indah di dunia ini rasanya senang. Seperti ada motor bagus, motor bagus kan indah, rasanya seneng. Melihat keindahan barang-barang seni seperti ukiran bagus, lukisan bagus walaupun tidak paham arti sebuah lukisan, tapi juga senang.

Mbah Mus pernah membuat lukisan, ada orang-orang yang penampilannya seperti kyai yang sedang dzikir. Ada yang memakai sorban, yang memakai peci haji terus di tengahnya ada perempuan yang sedang berjoget yang diberi judul “berdzikir bersama Inul”, bila kita melihat pasti tidak paham maksudnya bagaimana kok ada dzikir bersama Inul. Kyai-kyai duduk berputar mengelilingi Inul yang sedang bergoyang. Kalau melihat lukisan, sekilas sudah terlihat keindahannya. Namanya keindahan itu pasti bisa dirasakan.

Ada pelukis yang namanya Affandi yang melukis memakai aliran ekspresionisme. Kita melihat pasti tidak paham gambar apa sebenarnya. Tapi kalau kita lihat dengan seksama, keindahanya akan bisa kita rasakan. Sama-sama memakai cat − pelukis ahli seperti Affandi dengan tukang cat biasa − hasilnya akan berbeda. Itulah yang namanya keindahan. Kita melihat pemandangan alam, terlihat indah. Perempuan melihat laki-laki ganteng, indah. Laki-laki melihat perempuan cantik juga indah. Jika Seseorang melihat keindahan kadang-kadang bisa lupa segalanya. Contohnya, waktu kita lapar, lalu melihat istri kita yang cantik,

maka dengan sendirinya bisa kenyang. Sedangkan Allah SWT itu Dzat yang Maha Indah dan tidak bisa dibayangkan seperti apa indahnya. Seseorang yang diberi nikmat bisa melihat Dzat Allah itu akan mendapatkan dan menikmati keindahan yang tak ada tandingannya. Inilah nikmat yang paling tinggi. Karena keindahan itu memang menjadi inti dari semua rasa. Makan terasa enak, minum terasa segar, kalau disaring dan diambil inti sarinya, maka inti sarinya adalah keindahan. Semua hal yang dilihat indah itu memang karena ada unsur indah tersebut.

Besok, bagi orang-orang yang khusus, akan diberi kenikmatan yang paling tinggi yaitu bisa melihat Dzat Allah. Tidak semua bisa mendapatkannya, meskipun sama-sama masuk surga.

Kemudian imam Ghozali menerangkan;

ثم أقول وإنما عددت ذلك على حسب فهمى ومبلغ علمى فى قصوره ونقصه

Imam Ghozali berkata (di depan kan telah diterangkan ada empat puluh anugerah yang akan diberikan kepada wali-wali (kekasih-kekasih) Allah; “Semua yang telah aku sampaikan adalah sekedar yang aku pahami, sekedar yang aku tahu”. Imam Ghozali yang sudah hebat seperti itu, merasa masih kurang ilmunya. Itulah Imam Ghozali. Apalagi diri kita sendiri.

Orang itu kalau tidak pernah punya uang, punya uang lima ribu saja sudah merasa kaya. Sebaliknya orang yang biasa punya uang jutaan rupiah, punya uang seratus ribu ia merasa tidak punya uang. Karena dia terbiasa memegang uang banyak. Jadi punya uang seratus ribu, ia merasa tidak punya, masih merasa kurang. Sama halnya dengan orang bodoh. Mempunyai ilmu sedikit saja sudah bangga. Sebaliknya bagi orang alim, seperti imam Ghozali, semakin banyak ilmunya, semakin ia merasa kurang. Semakin pintar semakin merasa bodoh.

Begitu juga orang yang takabur atau orang yang sombong. Pasti yang disombongkan tidak cocok, tidak sesuai dengan kenyataannya. Misalnya orang yang menyombongkan kekayaannya, berarti ia tidak sungguh-sungguh kaya. Orang yang menyombongkan kepintarannya, pasti orangnya bodoh. Orang yang menyombongkan kemulyaannya, berarti tidak mulia. Menyombongkan pangkatnya berarti pangkatnya asor (rendah).

Seperti halnya Iblis yang merasa lebih mulia dari pada nabi Adam. Disuruh menghormati nabi Adam tidak mau, karena merasa lebih mulia daripada nabi Adam. Malah ia berkata “aku ini lebih baik daripada dia, karena aku tercipta dari api sedangkan dia tercipta dari tanah”. Itulah rasa sombongnya iblis di hadapan nabi Adam. Tapi kenyataanya, apa benar api itu lebih mulia daripada tanah? Jawabannya salah besar. Karena semua yang timbul akibat api itu hanyalah abu. Tapi tanah itu bisa menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan yang lebih berguna. Jadi kalau dilihat dari segi hasil yang diberikan, maka jauh lebih mulia tanah. Kesalahan iblis yang kedua − tadi kan sudah nyata − nyata dia salah, seumpama dia benar, kalau api itu lebih mulia daripada tanah, itu juga dia tidak berhak sombong kepada nabi Adam. Karena apa? Karena nabi Adam itu − sebelum semua penduduk langit diperintah menghormatinya − telah diberi ilmu oleh Allah SWT.

Nabi Adam diberi bermacam-macam ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan pada malaikat-malaikat-Nya maupun iblis. Tidak ada yang diberikan dan tak ada yang tahu ilmu itu, kecuali hanya nabi Adam saja. Ini artinya, nabi Adam mempunyai kelebihan ilmu lebih banyak dibandingkan dengan malaikat dan iblis. Lah, sebagian hal yang bisa membuat orang menjadi luhur atau mulia ialah; pertama, adalah asal usul, kedua, adalah prestasi. Orang bisa luhur karena asal-usulnya. Contohnya, Gus, anaknya kyai, dimuliakan karena nasabnya dari keturunan kyai. Tapi kalau ada anaknya petani yang kepandaiannya melebihi anak

seorang kyai, maka anaknya petani bisa mempunyai keluhuran yang lebih daripada anaknya kyai tadi.

Jadi seumpama iblis itu benar kalau api itu lebih mulia daripada tanah, akan tetapi nabi Adam lebih pandai daripada iblis dan malaikat. Meskipun asal-usulnya dianggap lebih asor, tapi nabi Adam lebih unggul di dalam kemampuan ilmunya. Makanya harus lebih mulia daripada iblis, malahan lebih mulia daripada malaiakat. Maka dari itu, orang kalau sombong pasti tidak seperti apa yang ada pada kenyataannya.

Meskipun Imam Ghozali masih merasa kurang ilmunya, tapi dalam menyebutkan ke empatpuluh kenikmatan tadi, beliau sudah berusaha membuat susunan yang paling sempurna, membuat ringkasan yang paling pas menurut ilmunya Imam Ghozali.

Empatpuluh kenikmatan tadi tidak disebut secara terperinci, masih global. Bila disebutkan lebih terperinci lagi bisa-bisa kitabnya tidak muat untuk menjelaskannya. Keraton abadi disebut Imam Ghozali sebagai salah satu nikmat. Misalnya keraton (istana, kerajaan) abadi adalah salah satu nikmat, itu saja. Keraton abadi bila disebut dengan terperinci, ada beberapa macam isinya ada banyak gedung-gedung yang bermacam-macam, pakaian-pakaian yang bermacam-macam, perhiasan yang bermacam-macam, dan banyak bidadari-bidadari yang jenisnya sampai empatpuluh macam dan masih banyak lagi. Apabila setiap bagian dari nikmat itu diperinci, maka tidak ada yang mampu, hanya Allah saja lah yang bisa memerincinya.

Allah pernah berfirman;

فلاتعلم نفس ماأخفي لهم من قرة أعين

Bahwa nikmat-nikmat surga yang qurrotul a’yun itu adalah hal menyenangkan pandangan kita. Apabila kita mempunyai putra-putra, cucu-cucu dan lainya meskipun hanya melihat mereka berlarian, bemain dengan sendirinya, tentunya semua hal-hal yang susah itu akan hilang dengan sendirinya dan sudah membuat hati kita senang. Makanya kita sendiri sering-sering berdoa kepada Allah semoga orang-orang yang berada di dekat kita − bila dipandang bisa menyenangkan hati kita. Semua hal yang disediakan oleh Allah memang sengaja disamarkan dari calon-calon penghuni surga dan kita hanya diberitahu sedikit-sedikit saja. Tapi sejatinya masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan yang belum dijelaskan.

Kemudian Nabi Muhammad SAW menjelaskan, Nabi sudah pernah berkata bahwa semua isi di dalam surga itu adalah hal yang belum pernah dilihat oleh mata, telinga belum pernah mendengar dan hati belum pernah memikirkan apa yang jadi isinya surga. Kita baru bisa tahu kalau kita sudah pernah merasakannya sendiri. Di dunia juga ada yag hampir mirip seperti kenikmatan itu, apa itu? Kawin. Kenikmatan pada waktu kawin kan tidak bisa diceritakan. Jadi orang baru akan tahu bagaimana nikmatnya kawin kalau memang dia sudah pernah melakukannya. Tidak ada yang pernah melihat kawin itu caranya bagaimana, lha wong waktu melakukannya sembunyi-sembunyi. Itu baru kenikmatan kawin, besok waktu di surga akan ada nikmat yang jauh lebih nikmat daripada itu.

Orang itu kalau mau mencatat segala bentuk nikmatnya Allah SWT dengan menggunakan tinta, meskipun yang dibuat tinta itu air laut, sebelum nikmat-nikmat Allah habis, tinta itu sudah habis terlebih dahulu. Kalimat apakah yang dimaksud itu? Kalimat yang tak akan pernah habis walau dicatat menggunakan air laut yang dibuat menjadi tinta. Kalimat itu adalah kata-kata Allah yang akan digunakan untuk berbincang-bincang dengan orang yang dikasihi besok di dalam surga dengan halus dan dimuliakan. Semua ini menunjukan bahwa Allah bersifat ramah kepada ahli surga. Sehingga waktu orang-orang

yang berbincang-bincang dengan Allah, kalimat yang dikatakan oleh Allah itu seperti banyak sekali dan tak akan mampu dicatat dengan tinta berapapun banyaknya. Yang dimaksud disini adalah nikmat-nikmat Allah yang sengaja disamarkan. Nikmat itu memang seperti itu, seperti apa yang dikatakan oleh para nabi-nabi dan para ulama. Maka kita sebagai manusia bagaimana mungkin dapat menguraikanya dengan detail. Walaupun seper sejuta bagian dari nikmat itu kita tak akan mampu untuk menyebutkanya. Karena kita adalah manusia biasa.

Kalau hanya dengan ilmu saja tak akan mungkin untuk menyebutkan berbagai kenikmatan-kenikmatan yang telah disediakan oleh Allah SWT. Walaupun ilmu yang dimiliki oleh malaikat sekalipun, maka sudah pasti akal kita tak akan sampai untuk memikirkannya. Dan memang seperti itulah nikmat yang disediakan Allah SWT karena saking banyaknya sehingga membuat akal tidak mampu untuk memikirkannya. Karena nikmat yang diberikan Allah adalah anugerah yang sangat agung, bukan anugerah yang biasa-biasa saja − dan yang memberi nikmat dengan kewelasan yang telah disediakan sejak zaman dahulu.

Bila kita sudah tahu anugerah yang akan diberikan Allah seperti yang telah disebutkan tadi, sekarang tinggal kita beramal dan berusaha untuk mengerahkan segala upaya untuk mendapatkan anugerah itu − dan ini adalah cita-cita semua orang di dalam akhirat − apabila kita berhasil mendapatkannya kita tak akan merasakan kecewa. Semua itu berbeda dengan cita-cita dunia. Di dunia kita bercita-cita menjadi seorang dokter tapi apabila tercapai seseorang bisa kecewa, ternyata aku jadi dokter tak bisa istirahat, baru sebentar saja sudah ada pasien yang datang, baru asyik-asyiknya bercengkerama dengann istri ada telepon dari rumah sakit disuruh datang segera. Begitu juga dengan cita-cita yang lainya seperti petinggi, bupati, gubernur, apalagi presiden. Coba saja, nanti kalau sudah jadi pasti akan mengeluh kuwalahan. Saya juga pernah mendengarnya, lha wong adikku juga jadi wakil bupati.

Karena itu semua adalah cita-cita dunia, biasanya seseorang bila mempunyai cita-cita maka yang diangan-angankan itu hal-hak yang enak-enaknya saja. Coba saja tanyakan kepada orang-orang yang belum pernah kawin pasti yang dibayangkan hanyalah yang enak-enak saja. Tapi coba saja kalau sudah pernah merasakanya pasti berbeda kenyataanya. Pasti ada rasa kecewa.

Wallahu a’lam

KH. YAHYA CHOLIL STAQUF

Selasa, 19 Agustus 2008

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبيآء والمرسلين سيدنا ومولانا محمد وعلى آله واصحابه اجمعين. أما بعد.

Bapak ibu yang terhormat,

Alhamdulillah, kitab Minhajul Abidin karangannya Syeih Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozzali Ath-Thusi, sekarang sudah sampai pada ujung, insyaAllah nanti akan kita baca sampai selesai.

Menurut teman-teman abah (KH. M. Cholil Bisri), mengajar kitab Minhajul Abidin ini selama 9 th. Sampai beliau meninggal. Kira-kira mendapat setengah. Lalu kami baca bergantian dengan KH. Syarofuddin IQ, hanya kira-kira berjalan selama 4 tahun, sekarang sudah sampai ujung, insya Allah nanti khatam. Jadi lebih cepat. Ini disebabkan kalau abah dulu membacanya sedikit, tetapi banyak sekali keterangan yang dibubuhkan, yang dikembangkan. Sedangkan saya kebanyakan hanya membaca saja.

Setelah nanti kita selesaikan kitab Minhajul Abidin ini, KH. Mustofa Bisri ndawuhi agar dilanjutkan dengan kitab Irsyadul ‘Ibad karangannya Syeh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Almalibary yang juga pengarang kitab Fathul Mu’in.

Sekarang marilah kita mulai bacaan kitab Minhajul Abidin.

Semoga semua pengajian Minhajul Abidin mulai dari awal sampai akhir yang kita ikuti benar-benar dimasukkan kedalam hati kita oleh Allah SWT, dan diberi manfaat di dunia dan di akhirat.

____________________

بسم الله الرحمن الرحيم

Sudah tuntas imam Ghozzali menerangkan tantangan-tantangan orang-orang yang ingin beribadah, khidmah kepada Allah SWT yang berjumlah tujuh. Oleh Imam Ghozzali diistilahkan dengan ‘Aqobah’.

Aqobah orang-orang yang ingin beribadah, khidmah kepada Allah SWT ada 7, yaitu:

Pertama; Aqobatul Ilmi (tantangan ilmu). Orang yang akan beribadah harus mempunyai ilmu, mengetahui siapa yang disembah, seperti apa sifat-sifat zat yang disembah. Selain itu juga harus mengetahui bagaimana cara menyembah, karena menyembah kepada pengeran yang haq itu tidak bisa seenaknya saja, ada tuntunan yang harus ditaati yang berasal dari wahyu dan tuntunan kanjeng Rosul SAW.

Kedua; Aqobatut Taubah (tantangan taubat). Sebelum menjalankan khidmah kepada Allah SWT, seseorang hendaknya taubat dari segala kesalahan dan dosa-dosanya. Menurut Imam Ghozzali, dosa itu ada tiga tingkatan, yaitu dosa syirik, dosa bid’ah dan dosa maksiat.

Orang taubat yang benar menurut Imam Ghozzali itu tidak hanya sekedar mengapoki (menyesal dan tidak akan mengulangi kembali) suatu perbuatan tertentu yang dilanggarnya saja, tetapi dia ngapoki segala perbuatan maksiat. Orang taubat yang benar, mempunyai tekad tidak akan melakukan maksiat apapun itu setelah bertaubat. Jika sudah bertaubat ternyata masih terpeleset dosa lagi, maka dia harus cepat-cepat bertaubat untuk yang

kedua kalinya, melakukan kesalahan lagi, taubat lagi, meskipun berulang-ulang jangan sampai bosan, jangan sampai malu dan jangan sampai malas bertaubat setelah melakukan kesalahan. Sebab kita tidak akan tahu kapan kita dipanggil oleh Allah SWT. Semoga kita semua mendapat kenikmatan dipanggil oleh Allah dalam keadaan setelah melakukan taubat dan sebelum sempat melakukan kesalahan lagi.

Ketiga; ‘Aqobatul Awaaiq’ (tantangan yang berupa sesuatu yang menghalangi seseorang sehingga tidak cepat-cepat dalam melakukan khidmah kepada Allah).

Adapun sesuatu yang menghalangi seseorang sehingga tidak cepat-cepat dalam melakukan khidmah kepada Allah, menurut Imam Ghozzali itu ada empat, yaitu harta, makhluk, syaitan dan nafsu. Karena terhalang empat hal inilah yang membuat manusia terhambat melakukan amal. Maka dari itu sebisanyalah harta itu dizuhudi (dijauhi), sebisa mungkin menjaga jarak dengan makhluk, kumpul dengan makhluk seperlunya saja. Tidak usah terlalu sering kumpul dengan makhluk agar tidak terkena halangan dalam menjalankan khidmah kepada Allah SWT.

Syeitan − yang sudah jelas pekerjaannya menggoda manusia − harus dimusuhi dan nafsu yang mempunyai watak malas dan suka mengajak pada suatu keburukan harus dipaksa agar mau melakukan ibadah kepada Allah.

Keempat; Aqobatul Awaariq (hambatan-hambatan yang menghadang dijalan). Adapun hambatan-hambatan yang menghadang dijalan menurut imam Ghozzali ada empat,yaitu: Pertama; rizki, karena betah mencari rizki membuat seseorang terlena hingga tidak melakukan khidmah kepada Allah SWT. Kedua; kekhawatiran-kekhawatiran terhadap sesuatu yang bisa merugikan atau membahayakan terhadap dirinya. Ketiga; musibah/cobaan dari Allah berupa keadaan yang sulit, kehilangan atau yang lainnya. Keempat; tidak puas terhadap qodho’ dan qodar Allah SWT.

Untuk menghadapi keempat Aqobatul Awaariq tersebut, menurut Imam Ghozzali seseorang harus:

  1. Tawakkal kepada Allah dalam bab rizqi.

  2. Pasrah kepada Allah SWT dalam bab kekhawatiran-kekhawatiran terhadap sesuatu yang bisa merugikan atau membahayakan terhadap dirinya.

  3. Sabar menerima musibah/cobaan dari Allah SWT dalam bentuk apapun

  4. Ridho kepada apa saja yang menjadi qodho dan qodarnya Allah SWT yang merupakan bagian yang telah diberikan Allah kepada kita dan menjadi ketetapan-Nya.

Kelima; Aqobatul Bawaaits (sesuatu yang mendorong seseorang untuk bangkit dalam menjalankan hidmah kepada Allah SWT).

Ada dua, yaitu roja’ (mengharap kemurahan dan ganjaran dari Allah SWT) dan khouf (takut terhadap ancaman-ancaman Allah SWT terhadap orang-orang yang melakukan maksiat)

Keenam; Aqobatul Qowaadhih (sesuatu yang bisa mengotori ibadah yang telah dilakukan). Ibadah yang telah dilakukan bisa menjadi rusak, tidak ada pahalanya jika ternodai oleh kotoran. Adapun kotoran itu adalah riya’ dan ujub. Riya’ yaitu dalam melakukan ibadah tidak karena Allah, tapi ada pamrih terhadap selain Allah. Adapun ujub, yaitu mengagumi diri sendiri termasuk mempunyai keyakinan bahwa ibadahnya bukan hanya karena pertolongan Allah saja, tetapi juga karena jasa atau faedah dari selain Allah.

Maka kita harus mewaspadai hati kita masing-masing dalam melakukan ibadah supaya benar-benar ikhlas, bersih dalam melakukan ibadah hanya semata-mata karena mengharap pamrih pahala dan ridho dari Allah SWT.

Ketujuh; Aqobatul Khamdi wa Syukri (hambatan muji dan syukur). Orang yang sudah berhasil melakukan ibadah harus juga mampu memuji dan syukur kepada Allah karen segala yang dilakukan tidak akan berhasik kecuali dengan pertolongan dari Allah SWT.

1) Ilmu, 2) Amal, 3) Ikhlas, 4) Rasa Khouf (takut atau khawatir kalau-kalau amalnya ternodai kotoran-kotoran yang menyebabkan amalnya tidak diterima oleh Allah SWT. wal ‘iyadzu bilah.

Setelah tuntas menerangkan, Imam Ghozzali berkata:

ونحن نستغفرالله تعالى من كل مازل به القدم او طغا به القلم ونستغفره من كل اقاويلنا التى لا توافق اعمالنا

Wujud tawadlu’ dari Imam Ghozzali setelah selesai mengarang kitab Minhajul Abidin, beliau meminta ampunan kepada Allah jikalau ada sesuatu yang menyebabkan tergelincir, sesuatu kekeliruan di dalam menulis.

Di dalam al-Qur’an disebutkan;

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ (الصف: ۳)

Artinya : “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Jika ada orang yang mengajak melakukan kebaikan namun dirinya sendiri tidak mau melakukan, melarang hal-hal yang jelek namun dirinya sendiri mau melakukan hal tersebut, maka dia bisa medapatkan kemarahan yang besar dari Allah SWT. Maka dari itu Imam Ghozzali meminta pengampunan kepada Allah dan kita juga meminta pengampunan kepada Allah, jika ada ucapan-ucapan yang tidak sesuai dengan amal. Tidak sesuai antara kata dan perbuatan.

قوله : ونستغفره من كل ما ادعيناه واطهرناه من العلم بدين الله تعالى مع التقصير فيهخ

Imam Ghozzali berkata: “Jika aku mengaku-ngaku mengerti terhadap suatu perkara dari agamanya Allah dan memperlihatkan pengetahuanku, maka pengetahuanku itu, ilmu yang aku miliki itu, kurang teliti atau ada keteledoran, ada perkara yang menurutku faham namun ternyata ada bagian-bagian yang ku anggap remeh, maka aku memohon ampunan-Nya.

ونستغفر من كل خطرة دعتنا الى تصنع وتزينا فى كتاب سطرناه اوكلام نظمناه او علم افدناه

Imam Ghozzali meminta pengampunan kepada Allah, jikalau dalam keadaan sadar maupun tidak, ada sesuatu yang dibuat-buat, baik kata-kata yang dihiasi, ilmu yang ditambah atau dikurangi dari kitab yang sudah dikarang ini.

ونسأله ان يجعلنا واياكم يا معشر الا خوان بما علمناه عاملين ولو جهه به مريدين

Imam Ghozzali mendoakan kita semua, semoga bisa mengamalkan segala yang kita tahu dari ilmu, khususnya ilmu agama Islam, juga khususnya kitab Minhajul ‘Abidin yang kita kaji ini.

ولا يجعله وبالا علينا

Semoga ilmu yang kita dapat tidak menjadikan sebagai sebab kerusakan kita dikarenakan riya’ dan ujub atau yang lainnya.

وان يضعه فى ميزان الصالحات اذا ردت اعمالنا الينا انه جواد كريم

Semoga besok di yaumil hisab, ketika amal diberikan, ilmu-ilmu yang kita dapat dan kita amalkan ikhlas karena Allah SWT semoga dicatat dihitung sebagai amal yang sholeh. Amin.

قال الشيخ رضى الله عنه : فهذا ما اردنا ان نذكره فى شرح كيفية سلوك طريق الا خرة وقد وفينا بالمقصود. والحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات . وبفضله تنـزل البر كات

Tujuan Imam Ghozzali dalam mengarang kitab Minhajul abidin telah tercapai. Meskipun demikian beliau tidak merasa berhak mendapatkan pujian apapun. Karena segala puji hanya milik Allah SWT yang memberi nikmat sehingga bisa sempurna segala kebagusan, memberi anugerah sehingga turunlah barokah.

وصلى الله على خير مولود دعا الى أفضل معبود محمد النبى وآله وسلم تسليما كثيرا طيبا مباركا فيه على كل حال

Gila 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Notes.
add a comment

Gila
by: Shod Klowor

Aku seakan gila saat mengenalmu
Aku merasa gila ketika semakin dekat denganmu
Aku mulai gila karena merasa mencintaimu
Aku menjadi gila saat semakin menyayangimu
Aku benar-benar gila ketika sangat merindukanmu
Gilakah aku jika berharap kau juga cinta, sayang dan rindu padaku?
Semoga aku tak akan pernah gila meski tidak bisa mendapatkan kasih sayangmu.
Gila…?
Tidak.
Gila…?
Tidak.
Gila…?
Tidak.

Tujuh Tantangan Berkhidmah Pada Allah 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.
add a comment

Ada tujuh tantangan(عقبة ) bagi hamba yang ingin melakukan ibadah khidmah kepada Allah:

1. Tantangan ‘ilmi (العلم عقبة )

Orang yang mau beribadah harus mempunyai ilmu, pengetahuan tentang siapa yang akan dia sembah, seperti apa sifat-sifat Dzat yang akan disembah, selain itu harus tahu bagaimana cara untuk menyembah-Nya. Karena dalam menyembah Tuhan tidak boleh asal-asalan. Ada tuntunan yang harus dituruti, dari ajaran Nabi Muhammad, yang telah diberi wahyu oleh Allah SWT.

2. Tantangan Taubat ( التوبةعقبة )

Sebelum menlaksanakan ibadah khidmah, terlebih dahulu seseorang harus taubat dari segala dosa-dosanya. Menurut Imam Ghozali, dosa itu ada tiga tingkatan:

1.Dosa syirik

2.Dosa bid’ah

3.Dosa ma’siat

Orang yang benar-benar taubat, menurut Imam Ghozali bukan hanya jera terhadap suatu dosa tertentu saja yang telah diperbuatnya, tetapi jera dan mempunyai tekad untuk tidak mengulanginya lagi semua macam ma’siat. Apabila orang yang benar-benar taubat tadi terlanjur mengulangi suatu ma’siat yang pernah diperbuatnya, dia langsung bertaubat kembali, walaupun sampai berulang kali. Oleh karena itu kita jangan sampai merasa bosan, malu, tidak bersemangat untuk melakukan taubat setelah melakukan kesalahan. Sebab kita, sebagai manusia tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah SWT, semoga kita mendapat kenikmatan ketika dipanggil oleh Allah, yaitu setelah melakukan taubat dan sebelum melakukan kesalahan lagi.

3. Tantangan berupa perkara-perkara yang membuat seseorang menunda-nunda melaksanakan ibadah khidmah (عقضة العوائق).

Menurut Imam Ghozali ada empat perkara:

1. Duniawi

2. Makhluk

3. Syaitan

4. Nafsu

Karena perkara-perkara ini, seseorang yang ingin melakukan ibadah bisa-bisa tidak jadi melakukan ibadahnya, jika dia dikalahkan olehnya. Oleh karena itu, kalau bisa perkara duniawi itu dizuhudi dan dijauhi; makhluk diberi jarak agar tidak terlalu dekat; syaitan sudah terang perbuatannya suka menggoda dan harus dimusuhi; nafsu yang mempunyai watak malas dan suka mengajak perkara-perkara buruk harus dipaksa agar bisa melakukan ibadah.

4. Tantangan berupa perkara-perkara yang menghadang ditengah jalan. Sudah melakukan ibadah khidmah, tetapi ditengah perjalanan ada suatu perkara yang menghadang, yang bisa mengendurkan semangat, bahkan menjadikan ibadah khidmah terhenti. Menurut Imam Ghozali, ada empat perkara penghadang:

1.Rizki

2.Kekhawatiran-kekhawatiran adanya suatu parkara yang mampu menjadikannya sengsara

3.Musibah; cobaan dari Allah yang berupa keadaan yang tidak enak, kehilangan sesuatu atau yang lain.

4.Macam-macam qodho dan takdir dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu Imam Ghozali menyarankan agar:

1.Senantiasa bertawakkal kepada Allah mengenai bab rizki

2.Pasrah kepada Allah bab perkara-perkara yang dikhawatirkan

3.Sabar menghadapi cobaan dalam bentuk apapun

4.Ridlo akan qodho dan takdir dari Allah yang menjadi kehendak-Nya

5. Tantangan berupa perkara-perkara yang mampu membangkitkan, mendorong melaksanakan ibadah khidmah, yaitu:

1. Roja’: mengharapkan belas kasihan dan pahala dari Allah

2. Khouf: takut akan ancaman-ancaman Allah yng diperuntukkan bagi orang-orang yang ma’siat.

6. Tantangan berupa perkara-perkara yang mampu mengotori ibadah-ibadah yang telah dilampauinya, yaitu:

1. Riya’: seseorang melakukan ibadah bukan karena Allah, tetapi karena selain Allah. Menginginkan pamrih selain dari Allah.

2. ‘Ujub: berbangga diri atas apa yang telah dia perbuat, termasuk menyangka kalau ibadah yang dia lakukan bukan karena pertolongan Allah, tetepi karena jasa yang lain.

Jadi kita harus mewaspadai isi hati kita dalam menjalankan suatu ibadah, supaya benar-benar ikhlas karena Allah, serta mengharapkan pamrih, pahala, dan ridlo dari Allah SWT.

7. Tantangan puji dan syukur (عقبة الحمد والشكر)

Orang yang telah melaksanakan ibadah

Berita Besar Oleh KH Syarofuddin 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.
add a comment
Pak Syarof

Pak Syarof

Apa saja yang diciptakan oleh Allah Ta’ala, harus dimasukkan dalam angan-angan dan difikirkan. Agar hal ini tercapai, maka harus menggunakan ilmu tersebut.

Allah berfirman:

أَلاَ يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (6)

Dalam ayat tersebut merangkan, nanti pada Hari Agung (لِيَوْمٍ عَظِيمٍ) dihari itu nanti seluruh umat manusia dari umat Nabi Adam sampai umat Nabi Muhammad dikumpulkan. Dan memang hari itu sangat menakutkan. Karena mau tidak mau seluruh umat manusia menghadap kepada Tuhan alam semesta (Allah).

Kalau kita sudah semakin terpuruk akan perkara duniawi, maka kita harus senantiasa mengingat ayat yang seperti ini. Tapi, kalau sedang mengalami kesusahan, maka ingatlah ayat yang menerangkan tentang kenikmatan surga. Jadi jangan selalu membaca ayat yang berisikan satu tema, misalnya tentang perang. Karena dikhawatirkan, setelah membaca ayat-ayat tadi dikiranya semua orang yang ada di depannya merupakan musuhnya. Oleh karena itu, mamahami makna Al-Quran sesuai dengan keadaan yang kita alami, bisa menjaga keseimbangan dalam diri kita.

Yang kedua, yang membuat Imam Ghozali merasa kagum adalah orang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Apakah dia tidak berfikir, tidak berangan-angan secara yakin suatu perkara yang akan terjadi di hadapannya. Di ingatkan kembali kalau nanti akan terjadi gempa yang luar biasa, kesulitan-kesulitan yang sulit, itu semua merupakan Berita Besar (النباء) .

Dalam juz ‘Amma,dalam surat An Naba’ kurang lebihnya ada ayat yang menerangkan;

orang-orang yang mendapat siksaan di Jahannam sampai berkama-lama tanpa batas, karena

mereka tidak percaya, tidak yakin, tidak takut akan Hisab dan mereka mendustakan ayat-

yat Allah.

Kalau sudah terkena bencana kemudian mereka teringat akan Nabi Muhammad, melamun

tetapi memang ingin bersama dengan Nabi Muhammad, sambil menyebut-nyebut nama

Muhammad. Dengan berdoa kepada Allah; Ya Allah, semoga Engkau senantiasa

mencurahkan sholawat kepada Nabi Muhammad selamanya. Karena Nabi Muhammad-lah yang bisa diandalkan untuk setiap marabahaya yang datang, apalagi marabahaya yang bertumpuk-tumpuk secara merata, yaitu di hari kiamat nanti. Kalau mambiasakan bersholawat, InsyaAllah nanti akan mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW.

Marabahaya yang merata hanyalah di hari kiamat nanti. Takkan ada yang mampu menghindari ataupun bersembunyi. Kemarin ada bencana Tsunami, itu hanya sebagian marabahaya saja dari belahan dunia, bukan secara keseluruhan yang merata. Di hari kiamat nanti semua permukaan bumi menjadi rata (padang Mahsyar). Ada yang berpendapat kalau padang mahsyar berada di Mekkah, tetapi bukan itu. Kita sebagai umat Islam diperintah untuk mempercayainya, bukan diperintah untuk melihatnya. Seperti malikat, dan makhluk gaib lainnya, kita diperintah untuk mengimanimya (اللذين يؤمنون بالغيب).

Orang-orang yang berilmu, kemudian mereka tidak mengamalkan ilmunya, ini bisa saja terjadi karena mereka tidak berfikir, malahan tidak mempercayai kalau nanti akan tiba hari kiamat yang begitu berbahaya. Kalau mereka tahu akan bahayanya hari kiamat, mestinya perlu untuk persiapan mulai sekarang. Misalnya ada kabar kalau akan terjadi kemarau panjang, bisa dipastikan orang yang mendengar berita itu langsung melakukan persiapan untuk menghadapinya. Padahal berita tentang terjadinya hari kiamat, itu tercantum dalam Al Quran yang sudah pasti kebenarannya dan pasti wujud.

Yang ketiga, orang yang beramal tanpa ikhlas.

Nanti kalau orang yang beramal tanpa ikhlas tadi menuntut hasil amal yang telah ia perbuat sewaktu di dunia, sudah pasti akan ditolak. Imam Ghozali menyatakan,”Apakah mereka itu tidak berfikir tentang ayat Al Quran?” yaitu; akhir dari surat Al Kahfi:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)….

110. ……. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Supaya tidak terjadi seperti orang yang ketiga ini, maka sebaiknya kembali dan berangan-angan tewrhadap ayat di atas.

Yang keempat, orang yang ikhlas, tetapi tidak mempunyai kekhawatiran.

Misalnya ada orang yang membaca Al Quran tanpa memikirkan apa-apa kecuali hanya Allah, tetapi dia tidak mempunyai kekhawatiran, dan dia beranggapan kalau surga sudah menjadi miliknya. Walaupun sudah ikhlas, dia tidak mendapatkan hasil amalnya, padahal dia masih mengandalkan kekuasaan mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah.

لعل رحـمة رب حين يقسمها تأتى على حسب العصيان فى القسم

Beramal dengan ikhlas, itu saja sangat menanggung risiko. Ini yang membuat Imam Ghozali merasa kagum. Karena orang yang keempat ini tidak mempunyai rasa khawatir, sehingga dia tidak mempunyai tatakrama terhadap Allah. Dia tidak pernah menganalisis muamalah (sambungan kerja) yang dimiliki oleh Allah, beserta orang-orang bersih hatinya, para kekasih Allah, dan juga beserta para pelayan Allah, yang memberi petunjuk antara Allah dan makhluk-Nya. Sehingga Allah berkata terhadap makhluk yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW :

ولقد أوحى إليك وإلى اللذين من قبلك .الاية

(dan sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu)

Kita bisa mengambil dari contoh kehidupan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan juga Imam Abul Qosim Al- Junaid.

Nabi Muhammad bersabda, yang maknanya kurang lebih sebagai berikut; “Surat Hud beserta surat yang lain telah menjadikan rambutku beruban”.

Semua kumpulan ini tercakup, disimpulkan di dalam Al Quran, dalam empat ayat.

Ayat pertama:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ (المؤمنون : 115)

115. Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

Ayat kedua :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر:18)

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dahulu ketika zaman Rasulullah, beliau pernah berkhutbah dan ditanya oleh seseorang, “Ya Rasulallah, Kapankah hari kiamat terjadi?” Rasulullah menjawabnya,” Apakah kamu sudah melakukan persiapan untuk menghadapinya?” Seketika itu orang yang bertanya tadi terdiam dan terlihat seperti orang yang bingung. Lalu dia menjawab pertanyaan Rasulullah,” Saya mempunyai dua modal untuk menghadapinya, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah menanggapi jawaban orang tadi,”Ya, kamu benar.” Karena nanti orang-orang akan bersama dengan yang dicintainya. Misalnya jika seseorang mencintai oarang ‘alim, maka nanti dia akan bersama orang ‘alim. Jika seseorang mencintai yang tidak benar, maka nanti dia akan bersamanya. Ini yang dinamakan mahabbah.

Nabi Musa dulu pernah ditanya oleh Allah Ta’ala.”Apakah kamu tahu amalmu yang Ku-tempatkan ditempat yang baik?”. Nabi Musa menjawab,”Ya, ini, ibadahku kepada-Mu”, “Bukan”, “yang ini”, “Bukan, bukan itu amalmu itu adalah cintamu kepada-Ku.”

Zaman sekarang, misalnya saja ada seorang nenek yang menyekolahkan anak cucunya, selalu mengharapkan imbalan dari anak cucunya, atas apa yang telah dia perbuat untuk mereka. Jadi nanti kalau diakhirat, dia tidak bisa meminta hasil amalnya di dunia, karena sudah diganti oleh Allah di dunianya.

Ayat ketiga :

(وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت : 69

69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Ayat keempat :

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (العنكبوت : 6)

6. dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Kita sholat, bersilaturrahim, menafkahi keluarga, dengan pendidikan yang baik, nanti manfaat dari semua itu akan kembali kepada diri kita masing-masing.

Lirik Lagu Ungu 22 November 2008

Posted by ibnu_taheer in Notes.
add a comment

Jika Itu Yang Terbaik

oleh: Ungu

Tiada bisa ku lupa
Saat yang indah, yang terindah
Yang kita lewati bercinta

Semua kebiasaan
Yang kita lalui berdua
Kini jadi puing kenangan

Sebab engkau t’lah pergi
Sambil menangis kau katakan
Kau tak akan pernah kembali

Dan dapat ku pahami
Satu alasan yang kau beri
Apa yang mereka ingini
S’gala yang terbaik untukmu

(Sendiri aku dalam gelapku tiada satupun menemaniku)[2x]

Jika itu memang terbaik, untuk dirimu
Walau berat untukku, berpisah denganmu
Hapus sudah air matamu, aku mengerti
Ini bukan maumu, ini bukan inginmu

(Sendiri aku dalam gelapku tiada satupun menemaniku)

Jika itu memang terbaik, untuk dirimu
Walau berat untukku, berpisah denganmu
Hapus sudah air matamu, aku mengerti
Ini bukan maumu, ini bukan inginmu

Ungu – Sesungguhnya

saat dunia berhenti berputar
saat manusia tak sanggup lagi berharap
ketika mentari tak sanggup lagi bernjanji
menyinari dunia yang tak kau singgahi

mampukah kau untuk berbagi
tanpa hasrat ingin diberi
dihadapannya, dihadapanmu ya Allah

sesungguhnya manusia
takkan bisa menkmati surga
tanpa ikhlas di hatinya
sesungguhnya manusia
takkan bisa menyentuh nikmatnya
tanpa tulus di hatinya

Tercipta Untukku

oleh: Ungu

Menatap indahnya senyuman diwajahmu
Membuat ku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku

Banyak kata
Yang tak mampu kuungkapkan
Kepada dirimu

Chorus:
Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
Disetiap langkah
Yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku

Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
Disetiap langkah
Yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tau
Kuslalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku

Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
Disetiap langkah
Yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tau
Kuslalu milikmu
Yang mencintaimu

Rasa Sayang

oleh: Ungu

Arti hadirmu dalam hidupku
Kau bawa mimpi indah temani tidurku
Yang tak pernah kurasakan
Sebelumnya disaat kau masih dalam hayalku

Cinta terlahir diantara kita
Melewati seribu senyummu
Yang tak pernah kurasakan
Sebelumnya disaat kau masih dalam hayalku

Berjuta rasa cinta tercipta
Mengiringi langkah kau dan aku
Menyelimuti masa yang lalu
Dan tak mungkin terpisahkan

Kata sayang untuk dirimu
Yang ku hembuskan kepadamu
Sebagai tanda cintaku untuk dirimu

Takkan hilang di telan waktu
Takkan punah termakan ragu
Menghiasi seluruh hidup dan matiku

Ijinkan Aku (Verse)

oleh: Ungu

Seperti yang pernah ku rasa
Dari kekasihku yag dulu yang pernah singgah
Dalam peraduan cintaku

Andai semua bisa terucap dari mulutku
Yang keluh dihadapan dirimu
Mungkin semua takkan begini menyebutkanku
Terdiamkahku dihadapanmu

Ijinkan aku
Menjadi kekasih hatimu yang baru
Ijinkan aku
Menyatakan bahwa ku sayang padamu

Dimasa yang telah tercipta
Kulukiskan bayang dirimu
Semakin membuatku inginkan kamu
Menjadi kekasihku

Ijinkan aku
Menjadi kekasih hatimu yang baru
Ijinkan aku
Menyatakan bahwa ku sayang padamu

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.