Abu Bakar Ash-Shidiq r.a, Sahabat Yang Dijamin Masuk Syurga 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Ia Adalah Orang Pertama Yang Akan Masuk Surga Setelah Rasulullah SAW
Ketika Rasulullah Muhammad Saw menceritakan suatu kisah yang berkaitan dengan peristiwa Isra Mi’raj, beliau berkata, “kemudian Jibril menarik tanganku untuk menunjukkan kepadaku pintu surga yang akan dimasuki oleh umatku.”
Mendengar cerita Rasulullah Saw. Abu Bakar r.a. berkata dengan penuh semangat dan kerinduan, “Wahai Rasulullah aku ingin berada denganmu ketika itu, sehingga aku juga dapat melihat pintu surga tersebut.”
Rasulullah Saw terdiam sejenak dan berkata, “Kamu adalah orang pertama diantara umatku yang akan memasuki pintu surga tersebut.”
Ia Adalah Orang Yang Paling Banyak Disambut Oleh Seluruh Penghuni Syurga
Dilain waktu dikisahkan ketika Nabi Saw berkata, “Akan masuk surga seorang laki-laki yang mendapatkan sambutan penuh para penghuni surga, hingga masing-masing dari mereka berkata, “Selamat datang…datanglah kesini… datanglah kesini…”
Dengan penuh kerinduan, Abu Bakar r.a. berkata, “Wahai Rasulullah Saw, apakah yang telah diperbuat oleh orang itu sehingga ia bisa masuk surga?”
Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. Nabi Saw. memandanginya dengan pandangan yang cerah dan mendalam lalu memberikan kabar gembira kepadanya dengan perkataannya, “Wahai Abu Bakar, orang tersebut adalah engkau.”
Seluruh Pintu Surga Akan Berebutan Memanggilnya Mengajaknya Masuk
Ketika Rasulullah Saw. itu berkata, “Barang siapa yang mengeluarkan dua macam harta fi sabilillah, maka ia akan dipanggil dari pintu surga… Wahai hamba Allah, sungguh ini perbuatan baik. Dan barang siapa yang selalu melaksanakan shalat, akan dipanggil dari pintu shalat. Dan barang siapa yang ikut berjihad, ia akan di panggil dari pintu jihad. Dan barang siapa yang selalu melaksanakan puasa, akan dipanggil dari pintu yang memancarkan air yang segar. Dan barang siapa yang selalu memberikan sedekah, akan di panggil dari pintu sedekah”.
Maka kemudian Abu Bakar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bisa seseorang dipanggil dari semua pintu surga tadi?” Mendengar pertanyaan Abu Bakar r.a. itu bibir Rasulullah Saw terbuka lalu berkata, “Ya, dan aku sangat berharap engkau termasuk satu diantara orang yang dipanggil dari semua pintu surga.” HR. Bukhari )
Bidadari Tercantik Telah Disiapkan Untuk Abu Bakar Ash – Shiddiq ra
Manakala Nabi Saw. dimikrajkan keatas langit dan memasuki surga Adn, beliau melihat seorang bidadari yang sangat cantik bagaikan bulan purnama yang kecantikannya tidak ada bandingannya. Bulu matanya lentik bagaikan lambaian sayap burung rajawali. Kemudian, Rasulullah Saw. bertanya kepadanya, “Untuk siapa kamu?”
Ia menjawab pertanyaan Rasulullah Saw, “Aku (dipersiapkan) untuk seorang khalifah setelah engkau”.
Dikutip dari Buku 100 Kisah Teladan Abu Bakar RA, penulis: M. Shiddiq Al-Minsyawi
Kisah Abu Dzar r.a, Pejuang Sebatang Kara 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam mengikutinya memeluk Islam.
Disamping sifatnya yang radikal dan revolusioner, Abu Dzar ternyata seorang yang zuhud (meninggalkan kesenangan dunia dan mengecilkan nilai dunia dibanding akhirat), berta’wa dan wara’ (sangat hati-hati dan teliti). Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar”, dikali lain beliau SAW bersabda, “Abu Dzar – diantara umatku – memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam”.
Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut ‘La Haula Walaa Quwwata Illa Billah’. “
Dipinggangnya selalu tersandang pedang yang sangat tajam yang digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda padanya, “Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu) Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku (di akhirat)”, maka sejak itu ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari pedangnya.
Dengan lidahnya ia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan, keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut meneriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka, kening dan pinggang mereka akan diseterika dihari kiamat!”
Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku”
Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin Affan turun tangan untuk menengahi. Ustman bin Affan menawarkan tempat tinggal dan berbagai kenikmatan, tapi Abu Dzar yang zuhud berkata, “aku tidak butuh dunia kalian!”.
Akhir hidupnya sangat mengiris hati. Istrinya bertutur, “Ketika Abu Dzar akan meninggal, aku menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai istriku? Aku jawab, “Bagaimana aku tidak menangis, engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku menguburkanmu”.
Namun akhirnya dengan pertolongan Allah serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Ma’ud ra (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga) melewatinya. Abdullah bin Mas’ud pun membantunya dan berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”.
(Sumber tulisan oleh : NN, dengan beberapa edit oleh Penjaga Kebun Hikmah)
Kecintaan Abu Dzar Al-Ghifari pada Nabi SAW 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Dalam perjalanan menuju perang Tabuk, Abu Dzar tertinggal di belakang pasukan karena beliau mengendarai hewan yang lambat jalannya. Saat mengetahui hal ini, para sahabat memberitahukan hal tersebut Nabi Saw. Nabi Saw memutuskan mendirikan tenda di sebuah tempat terdekat. Sementara itu Abu Dzar yang tertinggal di belakang merasa kecewa dengan kendaraannya, lalu turun dan berjalan kaki.
Saat itu salah seorang sahabat berteriak bahwa ada seseorang dikejauhan sedang menuju kemari. Nabi SAW berkata : “ Ya Allah, semoga itu Abu Dzar.” Sahabat lainnya memberitahu Nabi SAW. bahwa orang itu memang Abu Dzar. Maka Nabi SAW berdo’a: “Semoga Allah SWT mengampuni Abu Dzar ! ia berjalan sendirian, akan mati sendirian dan akan dibangkitkan kembali sendirian,” Kemudian beliau memerintahkan kepada para sahabat agar memberinya air. Tetapi ketika Abu Dzar tiba, beliau melihatnya sedang membawa sewadah air. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Kamu punya air tetapi kamu tampak kehausan? “
“Ya, Nabi Allah ! Semoga kedua orang tuaku dikorbankan untukmu! Ditengah jalan aku merasa kehausan, lalu aku pergi kesebuah tempat yang ada airnya. Setelah mencicipinya aku merasa sejuk dan enak dan aku berkata pada diriku, tidaklah adil jika aku meminum air ini sebelum Nabi meminumnya“ jawab Abu Dzar.
Mendengar ini Nabi Saw berkata , “Wahai Abu Dzar ! Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu! Engkau akan meniti hidupmu kelak dalam kesendirian, mati dalam kesendirian yang jauh dari rumah penduduk, dan kemudian masuk syurga sendirian.
Umar Yang Gagah Berani 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Yang aku ketahui (demikian Sayyidina Ali ra mengawali ceritanya ketika menggambarkan kegagahberanian Umar bin Khatab ra), ketika semua orang hijrah (ke Madinah) secara sembunyi-sembunyi, tapi tidak bagi seorang Umar bin Khatthab. Ketika niat hijrah sudah ditanamkan di hatinya, iapun menyandang pedang di tangannya dan panah di tangannya yang lain. Didatanginya satu per satu rumah para petinggi Quraisy di halaman rumah mereka dan memanggilnya keluar, kemudian ia menuju Ka’bah seorang diri, iapun melakukan thawaf dan shalat sunnat dua rakaat di dekat makam Ibrahim. Selesai itu ia mendatangi para pembesar Quraisy yang sudah berkumpul dan sejak tadi memperhatikan dirinya, seraya berkata,
“Hai wajah-wajah jelek cemberut, barangsiapa yang menginginkan anak dari ibunya mati, anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda, maka hendaklah ia menyusulku di balik lembah bukit itu.”
Maka tak ada seorang pun dari mereka yang berani mengikuti tantangannya.
(HR. Ibnu Asakir, dikutip dari bukui 10 Sahabat Yang Dijanjikan Masuk Surga, Abdul Hamid Kisyik, hal. 63, penerbit Amanah Tuban]
Sekilas Tentang Abu Bakar Ash-Shidiq ra 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Namanya ialah Abdullah Bin Utsman bin ‘Aamir Al Quraisyi Abu Bakar Bin Abi Qahafah Attaymi. Ia merupakan Khalifah Ar-Rasyidin yang pertama dan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga tanpa dihisab. Ia termasuk orang-orang yg paling pertama masuk islam dan orang dewasa laki-laki pertama yang masuk Islam.
Dia mengerahkan tenaga dan hartanya untuk Islam. Ia selalu membela Nabi Saw. dengan gagah berani. Allah menjadikannya sebagai pelindung agama Islam, juga memberikan rezeki keimanan dan keyakinan kepadanya. Ia adalah salah satu pembesar kaum muslimin dan sebagai pedang yang menebas leher orang-orang munafik dan murtad.
Ia dilahirkan dua tahun setengah sebelum kejadian ‘Aamul Fiil. Ia tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemuda yang lurus dan tidak pernah melakukan tindakan yang menyimpang dan lalim. Ia menjauhkan diri dari keburukan masa jahiliyah dan menghiasi dirinya dengan sisi baik dari akhlak bangsa Arab.
Ia merupakan orang yang suka bergaul sekaligus seorang teman bicara yang menyenangkan. Ia selalu menepati janji dan selalu mencintai orang lain. Ia telah mengharamkan minuman keras bagi dirinya sebelum Islam sendiri mengharamkannya. Selain itu, ia gemar melakukan perbuatan kebaikan dan selalu menghargai orang lain. Ia juga selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan membela orang-orang yang lemah. Ia memiliki Nasab yang terkenal, baik dari nenek moyangya atau pun para keturunannya. Ia juga selalu membela orang-orang yang lemah dan dan menyukai orang-orang yang kuat.
Ia adalah tuan para pembesar dan dia sering membayarkan diyat orang lain. Jika ada orang yang meminjam uang kepadanya untuk membayar diyat, ia sedekahkan uang itu. Jika ada orang yang hendak membayar diyat kepadanya, ia akan menolak diyat itu.
Ia memiliki kedudukan yang tinggi, kata-katanya didengarkan. Ia adalah seorang saudagar yang besar yang ahli dalam perniagaan yang piawai. Ia pandai menafsirkan ru’yah dan mimpi serta semua hal yang ia lihat oleh seseorang dalam tidurnya.
Ia diberi julukan ‘Atiiq karena ketampanan wajahnya, kebagusan nasabnya, dan kesucian nenek moyangnya. Dirinya tidak memiliki cela sedikitpun. Ia memiliki akal yang sangat cerdas dan jernih. Ia adalah orang yang tampan dan gagah, memiliki kulit yang putih dan tubuh yang ramping, kelopak mata yang cekung, tubuh yang langsing, dahi yang menonjol dan wajah yang rampin.
Ia mencintai Nabi Muhammad Saw dan selalu merasa rindu kepada beliau. Ia memeluk Islam tanpa ragu-ragu. Ia memeluk keimanan dengan erat. Ia keluarkan hartanya untuk mendukung agama dan membebeskan para budak muslimyang lemah. Ia selalu berlaku sabar terhadap perbuatan aniaya kaum musyrik. Manakala aniaya mereka menjadi-jadi hingga menjadikannya sulit bernafas, maka dia berhijrah meninggalkan kota mekkah.
Ia mempercayai cerita kejadian Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw tanpa keraguan sedikitpun dan membela Nabi Saw dengan sekuat tenaga . Oleh karena itu, Nabi Saw menjulukinya Ash-Shiddiq. Ia adalah kekasih dan sahabat Nabi Saw. Ia kawinkan putrinya, Siti Aisyah ra, yang suci, bersih, perawan, yang memilki keturunan yang mulia, kepada Nabi Saw.
Ia ikut keluar hijrah dengan Nabi Saw pada waktu menjelang shubuh dan setelah itu keduanya bersembunyi di Gua Hira. Ia menyaksikan berbagai peristiwa bersama-sama Nabi Saw dan bersama-sama menghadapi berbagai tantangan, serta ikut berbagai pertempuran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan oleh Allah SWT.
Pada waktu malam, ia selalu bangun untuk melaksanakan shalat, sedangkan pada waktu siangnya, ia berpuasa. Bila berada ditengah-tengah, ia selalu menunjukan sikap yang tawadhu. Ia juga giat mencari dunia sekaligus bersikap zuhud. Ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai ilmu agama dan selalu mempraktikkannya. Ia memiliki berbagai kumpulan sifat yang utama.
Ia selalu mengetuk dan memasuki pintu kebaikan, selalu mengikuti jalan kebaikan. Ia sangat peka dengan lingkungannya, mudah menitikkan air mata, selalu berusaha menyenangkan orang lain, dan menghormati orang-orang yang baik. Nabi Saw. memberitahukan kepadanya bahwa ia telah dibebaskan dari api neraka dan dia akan berada disurga dengan orang-orang yang terpilih.
Ketiika ia dibai’at untuk menjadi khalifah, maka ia tidak mau. Ia terus mnyembunyikan dirinya dirumah karena tidak mau memegang jabatan kekhalifahan. Manakala ia bersedia untuk memegang kekhalifahan, ia kirim tentara yang dipimpin oleh Usamah untuk memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang bersikeras menolak membayar zakat.
Ia mengirimkan tentara keberbagai belahan dunia hingga menjadikan guncang berbagai kerajaan. Ia menciptakan berbagai kemenangan dalam peperangan itu, sehingga wilayah Islam semakin terbuka luas. Ia satukan Al-Qur’an serta menyebarkan agama dan keimanan.
Ia adalah seorang orator, khalifahyang bijaksana yang dikenal dengan sifat yang sangat lembut, ramah, bertaqwa dan berilmu. Ia adalah orang pertama yang masuk Islam, orang pertama yang menyebarkan kedamaian, orang pertama yang menjadi imam shalat, dan orang pertama yang menjadi khalifah.
Ia selalu menghormati orang dewasa sekaligus menyayangi anak kecil. Orang yang lemah menjadi kuat dihadapannya hingga mereka dapat mengembalikan haknya. Orang yang kuat menjadi lemah dihadapannya hingga dapat diambil hak orang lain dari mereka. Ketika para panglimanya menaiki kuda, ia berjalan kaki di samping mereka. Ia perah susu dari sapi untuk diminum oleh anak-anak tetangganya. Ia menikah sebanyak enam kali dan dari perkawinannya itu ia dikaruniai enam orang anak .
Ia merupakan orang yang lembut dan berwibawa. Ia menemani Nabi Saw baik didunia maupun di kuburan. Ia juga yang menemaninya di kolam surga pada hari kiamat. Abu bakar r.a. wafat di Madinah, tiga belas tahun setelah Hijrahnya Rasulullah SAW ke kota Madinah. Ia dimakamkan disisi Makam Rasulullah SAW.
Dikutip dari Buku 100 Kisah Teladan Abu Bakar RA, penulis: M. Shiddiq Al-Minsyawi
Khalifah Umar Bin Khatab, Pemimpin Yang Penuh Tanggung Jawab 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya. Inilah beberapa kisahnya.
Pada suatu malam hartawan Abdurrahman bin Auf dipanggil oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk diajak pergi ke pinggir kota Madinah.
“Malam ini akan ada serombongan kafilah yang hendak bermalam di pinggir kota, dalam perjalanan pulang”, kata Khalifah Umar kepada Abdurrahman bin Auf.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Abdurrahman.
“Kafilah ini akan membawa barang dagangan yang banyak, maka kita sebaiknya ikut menjaga keselamatan barang dari gangguan tangan-tangan usil. Jadi nanti malam kita bersama-sama harus mengawal mereka”, sahut sang Khalifah. Abdurahman dengan senang hati membantu dan siap mengorbankan jiwa raganya menemani tugas khalifah yang ia cintai ini.
Demikianlah sang khalifah menjalankan tugasnya, turun tangan langsung untuk memastikan rakyatnya tidur dan hidup dengan tenang. Bahkan malam itu khalifah Umar mendesak Abdurahman untuk tidur sambil siaga sementara ia sendiri tetap terjaga hingga pagi hari.
Khalifah Umar bin Khattab memang dikenal sebagai seorang pemimpin yang selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik secara diam-diam. Orang yang ditolongnya sering tidak tahu, bahwa penolongnya adalah khalifah yang sangat mereka cintai.
Pernah suatu malam Auza’iy pernah ‘memergoki’ Khalifah Umar masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza’iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumahnya untuk mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang tersebut! Padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tak lain adalah adalah khalifah yang sangat ia kagumi selama ini.
Pada suatu malam lainnya ketika Khalifah Umar berjalan-jalan di pinggir kota, tiba-tiba ia mendengar rintihan seorang wanita dari dalam sebuah kemah yang lusuh. Ternyata yang merintih itu seorang wanita yang akan melahirkan . Di sampingnya, duduk suaminya yang kebingungan. Maka pulanglah sang Khalifah ke rumahnya untuk membawa isterinya, Ummu Kalsum, untuk menolong wanita yang akan melahirkan anak itu. Tetapi wanita yang ditolongnya itu pun tidak tahu bahwa orang yang menolongnya dirinya adalah Khalifah Umar, Amirul Mukminin yang mereka cintai.
Pada kisah lainnya, ketika sang Khalifah sedang ’meronda’, ia mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Dari pinggiran jendela ia mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya. Rupanya anaknya menangis karena kelaparan sementara sang ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak malam itu. Sang ibupun berusaha menenangkan sang anak dengan berpura-pura merebus sesuatu yang tak lain adalah batu, agar anaknya tenang dan berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar diluar jendela, sang ibupun bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba susah. Khalifah Umar yang mendengar hal ini tak dapat menahan tangisnya, iapun pergi saat itu juga meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang makanan yang ada di kota, dan mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul karung makanan itu dan tidak mengizinkan seorang pegawainya yang menemaninya untuk membantunya. Ia sendiri pula yang memasak makanan itu, kemudian menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Dan keluarga itu tak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin Khatab !
Rasulullah Muhammad SAW Berbicara mengenai Para Sahabatnya 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.add a comment
Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam
sakit.
Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud
(ta’wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab “ilmu pengetahuan.”
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Ustman juga dikenal sebagai pribadi yang pemalu, hingga Rasulullah SAW pernah berkata bahwa malaikatpun malu untuk bertemu dengan Utsman.
Mengenai Ali, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”
Sumber : Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen
ORANG YANG PALING BERANI 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Naskah Islami.add a comment
Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Musnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, “Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, “Hai kaum Muslimin, sia pakah orang yang paling berani ?”. Mereka menjawab, “Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin.” Kata Ali, “Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami selesai membuatkan Nabi sebuah gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemani Rasulullah saw dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia kecuali Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati gubuk Nabi saw. Itulah orang yang paling berani.” “Pada suatu hari aku juga pernah menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakitinya, mereka berkata, “Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?” Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, “Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah ?”. Kemudian sambil mengangkat kainnya, beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, “Adakah orang yang beriman dari kaum Fir’aun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?” Semua jamaah diam saja tidak ada yang menjawab. Ali melanjutkan, “Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Fir’aun walaupun mereka sepuluh dunia, karena orang beriman dari kaum Fir’ aun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya.” Bagaimana dengan kita ?
Abdullah bin Mas’ud, Sang Pelayan Rasul 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Masyarakat di sekitarnya memanggilnya Ibn Umm Abd atau putra dari budak wanita. Namanya sendiri adalah Abdullah dan nama ayahnya adalah Mas’ud. Dia adalah sahabat Rasulullah SAW yang ketika kecil merupakan penggembala kambing milik salah satu ketua adat Bani Quraisy bernama Uqbah bin Muayt.
Suatu hari, ia mendengar kabar tentang kenabian Rasulullah. Namun Abdullah tidak tertarik dan tidak ingin tahu mengingat usianya yang masih kecil. Selain itu, ia memang jauh dari komunitas masyarakat Makkah, karena pekerjaannya sebagai penggembala kambing, yang terbiasa berangkat pagi dan pulang petang hari.
Satu hari, ketika ia tengah menjaga ternaknya, ia melihat dua orang pria paruh baya bergerak mendekatinya dari kejauhan. Mereka terlihat lelah, dan sangat kehausan. Mereka kemudian berjalan ke arahnya, memberikan salam dan memintanya memerah susu kambing yang ia gembalakan sehingga mereka dapat minum. Namun Abdullah berkata ia tidak bisa memberikannya kepada mereka. ”Kambing-kambing ini bukan milikku, saya hanya memeliharanya,”ujarnya jujur.
Mendapat jawaban seperti itu, kedua pria ini tidak memberikan bantahan. Meskipun mereka sangat kehausan, namun mereka sangat senang dengan jawaban jujur dari sang bocah penggembala ini. Kegembiraan ini terlihat jelas dari wajah mereka. Di lubuk hati Abdullah, ia juga mengagumi tamunya.
Kedua pria ini ternyata Rasulullah SAW dan sahabatnya, Abu Bakar Shiddiq. Hari itu, keduanya melarikan diri ke pegunungan Makkah untuk menghindari perlakuan kejam dari kaum Quraisy. Melihat sikap tamunya, pria muda ini terkesan dengan sikap Rasulullah dan sahabatnya, dan dengan segera menjadi cukup dekat dengan keduanya.
Tak lama setelah peristiwa itu, Abdullah menyatakan diri sebagai Muslim. Bahkan, ia menawarkan dirinya sebagai pelayan Rasul. Abdullah bin Mas’ud menerima pelatihan kerumahtanggaan yang istimewa dari Rasul. Dia senantiasa berada di bawah pengawasan Rasul, karenanya ia meniru semua kebiasaan dan mengikuti setiap apa yang dikerjakan Rasulullah. Tak heran kalau ia disebut sebagai orang yang paling mendekati Rasulullah dari sisi karakternya.
Di kemudian hari, ia merupakan salah satu penghapal Alquran yang terbaik di antara para sahabat dan ia sangat memahami kandungan Alquran dibanding siapapun. Ia juga merupakan orang yang paling memahami syariah Islam dan tidak ada satupun yang bisa menggambarkannya dengan lebih baik lagi kecuali Abdullah bin Mas’ud.
Khalifah Umar bin Khattab mempunyai kisah tentang sosok Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam, kata Umar, Rasulullah sedang berbindang-bincang bersama Abu Bakar Shiddiq tentang situasi umat Islam. Sesudah Rasulullah pergi, para sahabat itu pergi bersamanya dan melewati masjid. Di dalamnya ada seorang pria yang tidak mereka kenali. Rasulullah lalu berjalan mendekatinya dan mendengarkannya. Rasulullah lalu berbalik dan berkata, ”Barangsiapa yang ingin membaca Alquran seperti yang barusan diperdengarkan, maka suruhlah ia pergi dan belajar kepada Ibn Umm Abd.”
Abdullah bin Mas’ud telah mencapai pemahaman yang sangat luar biasa akan Alquran. Ia pernah berkata, ”Demi Allah yang tiada tuhan di samping-Nya, tak ada satu ayatpun dalam Alquran yang tidak saya ketahui. Demi Allah, jika ada orang yang pemahamannya tentang Alquran lebih baik dari saya, maka saya akan belajar dengan sungguh-sungguh padanya.” Abdullah tidak melebih-lebihkan apa yang ia bilang tentang dirinya.
Abdullah bin Mas’ud bukan hanya orang yang mengerti Alquran, ia juga orang yang sangat taat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Namun ia juga merupakan orang yang sangat kuat dan tangguh. Suatu hari para sahabat berada di Makkah dan jumlah mereka masih sangat sedikit, lemah, dan tertindas. Para sahabat berkata bahwa orang Quraisy belum mendengar Alquran dibacakan secara terbuka dengan suara dikeraskan pula. Abdullah bin Mas’ud dengan suka cita menyatakan dirinya yang akan melakukannya.
Ketika para sahabat meragukannya, Abdullah menyebut bahwa Allah-lah yang akan melindunginya. Ia lalu pergi ke masjid mendekati makam Nabi Ibrahim yang letaknya hanya beberapa meter dari Kabah. Saat itu orang-orang Quraisy tengah duduk mengelilingi Kabah. Abdullah lalu berhenti dan mulai membaca Alquran.
Mendengar ayat-ayat Alquran dilantunkan dengan keras, orang Quraisy menjadi sangat marah. Mereka mulai memukuli wajah dan menyiksanya. Namun Abdullah terus membacakan Alquran. Ketika ia kembali kepada para sahabat, wajahnya sudah dipenuhi darah. Ketika para sahabat mengkhawatirkannya, ia menyatakan bahwa ia siap melakukan hal yang sama keesokan harinya.
Abdullah bin Mas’ud hidup hingga zaman pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Suatu hari ketika ia jatuh sakit dan terkulai lemah di atas tempat tidur, Usman datang dan bertanya kepadanya soal penyakitnya. Abdullah menjawab ia sakit karena berdosa dan ia mengharapkan Allah mengampuninya. Usman lalu menawarkan kepadanya gaji yang selama ini ditolak Abdullah. Saat itupun Abdullah tetap menolaknya, dan meski Usman menyatakan bahwa uang itu untuk anak-anaknya, Abdullah tetap bersikeras menolaknya.
”Apakah engkau mengkhawatirkan kemiskinan yang akan terjadi pada anak-anakku? Aku telah menyuruh mereka membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, seperti yang dikatakan Rasulullah bahwa siapapun yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan miskin sampai kapanpun.” Malam itu, Abdullah bin Mas’ud meninggal dunia. Ia selalu dikenang sebagai sosok yang senantiasa mengingat Allah dan selalu melantunkan ayat-ayat-Nya.
Tabloid Jumat Republika
Saat Tsabit Bin Qais, Pengkhutbah Rasulullah Menitikkan Air Mata 11 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sahabat Nabi.add a comment
Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat kuat, jelas, benar, ringkas tapi padat dan indah. Ketika delegasi Bani Tamim datang pada tahun pendelegasian ke Madinah, mereka mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Kami datang untuk menantangmu, maka izinkan kepada penyair kami dan pengkhutbah kami.” Rasulullah SAW tersenyum seraya berkata kepada mereka,
“Aku mengizinkan kepada pengkhutbah kalian. Bicaralah!”
Tsabit bin Qais adalah pengkhutbah dan prajurit yang unggul. Ia memiliki jiwa besar, hati yang khusyu’, lagi taat. Ia seorang yang sangat takut kepada Allah SWT.
Ia mengikuti perang Uhud dan peperangan-peperangan setelahnya bersama Rasulullah SAW. Dalam peperangan menghadapi kaum murtad, ia memegang panji kaum Anshar. Dalam perang Yamamah, ia melihat peristiwa penyerangan yang sangat sengit yang dilakukan pasukan pimpinan Musailamah al-Kadzdzab terhadap kaum muslimin di awal peperangan. Maka ia berteriak dengan suaranya yang lantang, “Demi Allah, tidak demi-kian kami dahulu berperang bersama Rasulullah SAW.”
Kemudian ia pergi, lalu kembali dalam keadaan telah me-makai obat pengawet dan memakai kain kafannya. Ia berteriak lagi, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dibawa oleh mereka yakni pasukan Musailamah al-Kadzdzab dan aku memohon ampunan kepadaMu dari apa yang diperbuat oleh mereka, yakni ketidak segeraan kaum muslimin dalam berperang.” Kemudian Salim maula Rasulullah SAW yang membawa panji kaum Muhajirin bergabung kepadanya. Keduanya menggali lobang untuk dirinya, sebuah lobang yang cukup dalam, kemudian keduanya turun di dalamnya dalam keadaan berdiri. Keduanya lalu menimbuni pasir pada dirinya hingga mencapai pinggang masing-masing. Keduanya menebas setiap orang yang mendekatinya dari pasukan kaum Musailamah al-Kadzdzab dengan pedangnya hingga keduanya mati syahid di tempatnya. Kesyahidan keduanya ini adalah seruan paling besar yang ber-jasa mengembalikan kaum muslimin ke tempat mereka semula, dan menjadikan pasukan Musailamah al-Kadzdzab sebagai debu yang diinjak-injak oleh telapak kaki.
Demikianlah keberanian dan jihadnya di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah. Sekarang marilah kita lihat kewara’an dan ketakwaannya, serta air matanya yang mengucur karena malu dan takut kepada Allah. Marilah kita perhatikan air mata kaum yang shalih pada orang yang shalih ini.
Ketika turun ayat ini, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18).
Tsabit bin Qais mengunci pintu rumahnya, lalu duduk sambil menangis. Ia masih saja seperti ini beberapa waktu lama-nya, hingga Rasulullah SAW mengetahui perihalnya. Ketika beliau memanggilnya dan bertanya kepadanya, maka Tsabit berkata, “Wahai Rasulullah SAW, aku suka baju bagus dan sandal bagus, tetapi aku takut termasuk orang-orang sombong dengan semua ini.” Mendengar hal itu, Nabi SAW menjawab dengan tertawa karena ridha,
“Sesungguhnya kamu bukan termasuk golongan mereka, tetapi kamu hidup dalam keadaan terpuji, kamu gugur sebagai syahid dan Allah memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. al-Baihaqi, 2/ 243)
Ketika turun firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak ter-hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2).
Tsabit mengunci pintu rumahnya, dan langsung menangis. Ketika Rasul SAW merasa kehilangan dia, maka beliau bertanya tentangnya. Kemudian beliau mengutus seseorang untuk me-manggilnya. Tsabit pun datang dan Rasul SAW bertanya tentang penyebab ketidak hadirannya. Maka ia menjawab Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku adalah seorang yang sangat keras suaranya. Aku telah mengeraskan suaraku melebihi suaramu, wahai Rasulullah. Kalau begitu, sia-sialah amalku, dan aku termasuk ahli neraka.”
Rasulullah SAW menjawab,
“Sesungguhnya kamu bukan termasuk golongan mereka, tetapi kamu hidup dengan kebaikan dan mati dengan membawa ke-baikan, dan kamu akan masuk surga.”**
Ternyata kabar kenabian dari Nabi tercinta, Muhammad SAW terbukti dalam peperangan menghadapi Musailamah al-Kadzdzab, dan ia (Tsabit) gugur sebagai syahid dalam peperangan tersebut.
Mahabenar Allah, ketika berfirman,”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (Ali Imran: 169).
CATATAN:
* Tsabit bin Qais bin Syammas al-Khazraji al-Anshari adalah seorang sahabat yang menjadi peng-khutbah Rasulullah SAW, dia mengikuti perang Uhud dan setelahnya, dia mati syahid pada saat perang Yamamah tahun 12 H, lihat al-A’lam 2/98
** Rijal Haula ar-Rasul SAW , Khalid Muhammad Khalid, hal. 214-220, dengan sedikit perubahan