Cerpen – Cerpen Gus Mus 27 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.add a comment
Cerpen: Kang Kasanun
7 Nopember 2005 16:20:02
Oleh: A. Mustofa Bisri
Mendengar cerita-cerita tentang tokoh yang akan aku ceritakan ini, baik dari ayah atau kawan-kawannya seangkatan di pesantren, aku diam-diam mengaguminya. Bahkan seringkali aku membayangkannya seperti Superman, Spiderman, atau si Pesulap Mandrake. Wah, seandainya aku berkesempatan bertemu dengannya dan dapat satu ilmu saja, lamunku selalu. Ayah maupun kawan-kawannya selalu menyebutnya dengan Kang Kasanun. Tidak ada yang menyebut namanya saja. Boleh jadi karena faktor keseniorannya atau karena ilmunya.
Kiai Mabrur, guruku ngaji Quran dan salah seorang kawan ayah di pesantren, paling semangat bila bercerita tentang Kang Kasanun. Aku dan kawan-kawanku paling senang mendengarkannya; apalagi Kiai Mabrur bila bercerita tentang tokoh yang dikaguminya itu acapkali sambil memperagakannya. Misalnya ketika bercerita bagaimana Kang Kasanun dikeroyok para begal, Kiai Mabrur memperagakan dengan memperlihatkan jurus-jurus silat. “Kang Kasanun itu pendekar yang ilmu silatnya komplit,” katanya terengah-engah.
“Yang saya peragakan itu tadi jurus silat Cibadak. Jurus yang digunakan Kang Kasanun membekuk tujuh begal yang mencegatnya di perjalanan. Tujuh orang dan Kang Kasanun sendirian. Bayangkan! Kami sendiri, saya dan beberapa kawan yang berminat, setiap malam Jumat dia ajari jurus-jurus silat dari berbagai cabang. Tapi mana mungkin bisa seperti dia? Dia itu bahkan mempunyai ilmu cicak. Bila sedang bersilat, bisa nempel dan merayap di dinding.”
Ayah sendiri sering juga bercerita tentang Kang Kasanun, tapi tidak dengan memperagakannya seperti Kiai Mabrur. “Nggak tahu, dia itu ilmunya dari mana?” kata ayah suatu hari ketika sedang bercerita tentang kawannya yang disebutnya jadug itu. “Di samping menguasai ilmu silat, ilmu hikmahnya aneh-aneh. Hanya dengan merapalkan bacaan aneh –campuran bahasa Arab dan Jawa– dia bisa membuat tidur seiisi mushalla. Pernah dia menjadi tontonan orang sepasar gara-gara dia dihina penjual lombok lalu lombok satu pikul dimakannya habis. Dia tidak apa-apa, tapi penjualnya kemudian yang murus. Kata kawan-kawan dia juga bisa memanggil burung yang sedang terbang di udara dan ikan di dalam sungai.”
“Kata Kiai Mabrur, Pak Kasanun juga bisa menghilang, betul Yah?” tanya saya.
Ayah tersenyum dan pandangannya seperti menerawang ke masa lalunya. “Pernah beberapa kawan diajarinya ilmu halimunan entah apa. Pokoknya ilmu untuk menghilang. Mereka disuruh puasa tujuh hari mutih, artinya bukanya hanya dengan nasi tanpa lauk apa-apa. Lalu ada satu malam ngebleng, semuanya tidak boleh tidur sama sekali. Ayah juga ikut.”
Ayah berhenti sejenak, tersenyum-senyum sendiri, mungkin terbawa kenangan masa lalunya, baru kemudian melanjutkan ceritanya. “Dari sekian orang yang ikut program halimunan itu, hanya ayah yang gagal. Ayah tahu kalau gagal, ketika ilmu itu dipraktikkan. Hari itu, kami beramai-ramai, di bawah pimpinan Kang Kasanun sendiri, datang ke toko Cina yang terkenal paling galak di kota. Kang Kasanun berpesan siapa pun di antara kami yang nanti di toko masih melihat orang lengkap dengan kepalanya, jangan sekali-kali mengambil sesuatu. Karena tandanya kalau kami sudah benar-benar hilang, tidak terlihat orang, yaitu apabila kepala semua orang tidak tampak. Dan ingat, kata Kang Kasanun, kita bukan niat mencuri tapi mengamalkan ilmu. Jadi ambil barang seadanya dan yang murah-murah saja.”
Ayah berhenti lagi, tersenyum-senyum lagi, baru sejurus kemudian melanjutkan. “Wah, saya lihat waktu itu kawan-kawan ada yang mengambil sabun, ada yang mengambil potlot, sisir, minyak rambut, dan lain-lain. Mabrur, guru Quranmu itu, malah sengaja mengambil manisan yang terletak persis di depan Cina pemilik toko yang galak itu. Anehnya, baik si pemilik toko maupun pelayan-pelayannya, seperti tidak melihat apa-apa. Setelah mengambil barang-barang itu, kawan-kawan ngeloyor begitu saja dan tak ada yang menegur. Saya yang malah ditanya Kang Kasanun, kenapa saya tidak mengambil apa-apa? Saya menjawab bahwa saya masih melihat kepala semua orang yang ada di toko. Jadi, sesuai pesan Kang Kasanun sendiri, saya tidak berani mengambil apa-apa. ’Sampeyan kurang mantap sih!’ komentar Kang Kasanun. Memang terus terang, waktu itu –sebelum menyaksikan sendiri adegan di toko itu– saya tidak percaya ada ilmu halimunan, ada orang bisa menghilang.”
“Ada tamu ya, Bu?!” tanyaku kepada ibuku yang sedang sibuk membenahi kamar tamu.
“Ya,” jawab ibu tanpa menoleh, “Kawan lama ayahmu di pesantren. Beliau akan menginap beberapa malam. Mungkin mau kangen-kangenan sama ayahmu. Dengar itu, tawa mereka.”
“Ya, asyik benar tampaknya,” timpalku. “Tamu dari mana sih, Bu?”
“Kata ayahmu tinggalnya sekarang di luar Jawa. Namanya Kasanun atau siapa?!”
“Kasanun?” tanya aku setengah berteriak.
“Ee, jangan berteriak!” bisik ibu. Tapi aku sudah bergegas meninggalkannya. Dari gorden jendela aku mengintip ke ruang tamu. Sekejab aku jadi ragu-ragu. Tamu ayah tidak seperti yang aku bayangkan. Tidak gagah, malah terlihat kecil sekali di depan ayahku yang bertubuh besar. Kurus lagi. Ah, jangan-jangan ini bukan Kasanun sang pendekar yang sering diceritakan Kiai Mabrur. Masak kerempeng begitu. Tapi setelah nguping, mendengar pembicaraan ayah dan tamunya itu sebentar, aku menjadi yakin memang itulah sang Superman, Kang Kasanun. Apalagi tak lama kemudian Kiai Mabrur datang dan saling berpelukan dengan si tamu. Nanti malam, aku harus menemuinya, kataku mantap dalam hati. Aku harus mendapatkan salah satu ilmu hikmahnya.
Kebetulan sekali, malam ketika ayah akan mengajar ngaji, aku dipanggil dan katanya, “Kenalkan, ini kawan ayah di pesantren, Kang Kasanun yang sering ayah ceritakan! Kawani dulu beliau sementara ayah mengaji.”
Begitu ayah pergi, aku segera menjabat tangan orang yang selama ini aku idolakan. Beliau menerima tanganku dengan menunduk-nunduk penuh tawadluk.
“Gus, putra ke berapa?” tanyanya dengan suara lembut.
“Nomor dua, Kiai!” jawabku sambil terus mengawasinya.
“Jangan panggil saya kiai!” katanya bersungguh-sungguh. “Saya bukan kiai. Saya memang pernah mondok di pesantren bersama ayahanda Gus, tapi tidak seperti ayahanda Gus yang tekun belajar. Saya di pesantren hanya main-main saja.”
Aku tidak begitu menghiraukan apa yang beliau katakan, aku sudah punya rencana sendiri dari tadi. Mengapa harus ditunda, inilah saatnya, mumpung hanya berdua. Kapan lagi?
“Bapak Kasanun,” kata saya sengaja mengganti sebutan kiai dengan bapak, “sebenarnya saya sudah lama mendengar tentang Bapak, baik dari ayah maupun yang lain. Sekarang mumpung bertemu, saya mohon sudilah kiranya Bapak memberi ijazah kepada saya barang satu atau dua dari ilmu hikmah Bapak.”
Mendengar permohonan saya, tiba-tiba tamu yang sejak lama aku harapkan itu menangis. Benar-benar menangis sambil kedua tangannya menggapai-gapai.
“Jangan, jangan, Gus! Gus jangan terperdaya oleh cerita-cerita orang tentang bapak. Apalagi kepingin yang macam-macam seperti yang pernah bapak lakukan. Biarlah yang menyesal bapak sendiri. Jadilah seperti ayahanda saja. Belajar. Ngaji yang giat. Dulu ayahanda Gus pernah sekali ikut dengan kegilaan masa muda bapak, tapi gagal. Mengapa? Bapak rasa karena ayahanda memang tidak serius. Beliau hanya serius dalam urusan belajar dan mengaji. Dan sekarang, lihatlah bapak dan lihatlah ayahanda Gus! Ayahanda Gus menjadi kiai besar, sementara bapak lontang-lantung seperti ini. Kawan-kawan bapak yang dulu ikutan bapak mendalami ilmu-ilmu kanuragan seperti ini rata-rata kini hanya jadi dukun. Ini masih mendingan, ada yang malah menggunakan ilmu itu untuk menipu masyarakat dengan mengaku-aku sebagai wali dan sebagainya. Orang awam yang tidak tahu, mana bisa membedakan antara karomah dan ilmu sulapan seperti itu?”
Aku tidak bisa ceritakan perasaanku melihat orang yang selama ini kukagumi menangis. Masih terdengar sesekali isaknya ketika beliau melanjutkan. “Ayahanda dan Kiai Mabrur pasti tak pernah cerita bahwa bapak ini pernah dinasihati seorang singkek tua. Karena memang bapak tak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Sekarang ini bapak ingin menceritakannya kepada Gus. Mau mendengarkan?”
Saya hanya bisa mengangguk.
“Pernah dalam suatu perjalanan bapak, bapak kehabisan sangu. Bapak pun mampir ke sebuah toko milik seorang singkek yang sudah tua sekali. Begitu masuk toko, bapak rapalkan aji halimunan bapak. Semua pelayan dan pelanggan yang ada tak ada yang bisa melihat bapak. Bapak langsung menuju ke meja si singkek tua yang terlihat terkantuk-kantuk di kursi tingginya. Pelan-pelan aku buka laci mejanya, tempat ia menyimpan uang. Bapak ambil semau bapak. Si singkek tua tidak bergerak. Namun begitu tangan bapak akan bapak tarik dari laci, tiba-tiba tangan keriput si singkek tua memegangnya dan langsung seluruh tubuh bapak lemas tak berdaya.
’Ilmu begini, kok kamu pamel-pamelkan,’ katanya hampir tanpa membuka mulut. “Ini nyang kamu peloleh sekian lamanya belajal, he?! Kasihan kamu olang! Ilmu mainan anak-anak begini untuk apa? Paling-paling buat gagah-gahahan ha. Siapa yang nganggep kamu gagah? Anak-anak kecil sama olang-olang bodoh dan olang-olang jahat saja ha! Ada olang pintel kagum sama kamu olang? Ada? Siapa? Olang hidup apa nyang dicali? Olang hidup cali baik buat dili sendili, kalau bisa buat olang lain. Cali senang sendili, jangan bikin susah olang lain ha!’
Pendek kata, habis bapak dinasehati. Setelah itu bapak dikasih uang dan disuruh pergi. Sejak itulah bapak tidak pernah lagi mengamalkan ilmu-ilmu gila bapak. Nasihat yang bapak dapat dari singkek tua itu sebenarnya hanyalah memantapkan apa yang lama bapak renungkan tentang kehidupan bapak, tapi bapak selalu ragu.”
Pak Kasanun memegang kedua tanganku penuh sayang. Katanya kemudian, “Kini bapak sudah mantap. Jalan yang bapak tempuh kemarin salah. Mestinya sejak awal bapak mengikuti jejak ayahanda Gus. Karena itu, Gus, sekali lagi, ikutilah jejak ayahanda dan jangan mengikuti jejak bapak ini. Carilah ilmu yang bermanfaat bagi diri Gus dan bagi sesama!”
Aku tidak sempat memberi komentar apa-apa karena keburu datang Kiai Mabrur dan beberapa tamu kawan lamanya yang lain. Tapi aku masih mempunyai banyak waktu untuk merenungkan nasihatnya. (*)
Rembang, 29 September 2002
Cerpen : Lebaran Tinggal Satu Hari Lagi
27 Oktober 2005 22:00:02
Oleh : A. Mustofa Bisri
Saat pamit dua minggu yang lalu, suaminya berjanji akan pulang sebelum lebaran. Kini lebaran sudah tinggal satu hari dan belum ada kabar berita dari suaminya itu. Hatinya jadi gelisah. Sebetulnya suaminya pergi seminggu-dua minggu sudah biasa. Selama ini dia sama sekali tidak pernah merasa gelisah. Tapi ini menjelang lebaran. Selama ini mereka selalu berlebaran bersama. Mungkin juga berita-berita yang selalu didengarnya, turut mempengaruhi batinnya.
Setelah ledakan bom di Bali, tampaknya semua orang bisa saja diciduk aparat. Setiap rumah bisa digeledah polisi. Seperti beberapa orang yang dicurigai polisi itu, dia juga tidak begitu mengetahui kegiatan suaminya di luaran. Selama ini, sebagai orang yang berasal dari desa yang dikawin orang kota, dia merasa tidak pantas bila bertanya macam-macam urusan lelaki. Jika suaminya bilang bisnis, itu sudah cukup baginya; dia tidak pernah kepingin tahu bisnis apa. Tapi sekarang, dia mulai was-was. Jangan-jangan apa yang dibilang suaminya bisnis itu merupakan kegiatan seperti yang dilakukan oleh mereka yang saat ini dicurigai polisi itu. Ah, tapi tidak. Suaminya orangnya lembut dan tidak neko-neko. Tidak mungkin. Tapi kebanyakan yang ditangkap polisi itu sepertinya juga tidak tampak sangar dan neko-neko. Ah.
Sehabis menidurkan anak semata wayangnya, Siti sembahyang Isya’. Tidak seperti biasanya, kali ini doanya panjang sekali. Semua doa yang dihafalnya dibaca semua, bahkan ditambah doa dengan bahasa ibunya. Dia pernah mendengar dari seorang kiai, doa menggunakan bahasa ibu, terasa jauh lebih khusyuk. Ternyata benar. Air matanya sampai berlelehan saat dia meminta keselamatan suaminya.
Dia teringat semua kebaikan suaminya yang selama ini tidak begitu ia perhatikan. Bicaranya yang selalu lembut kepadanya. Jika pulang dari bepergian, jauh atau dekat, selalu tidak lupa membawa oleh-oleh untuk dirinya dan anak mereka. Bila memberi uang, suaminya tidak pakai hitungan. Seringkali, belum sempat dia meminta, suaminya seperti sudah tahu dan langsung memberikan uang yang ia perlukan. Tidak jarang suaminya, jika sedang di rumah, ikut membantunya; tidak hanya momong anak, tapi juga mencuci dan di dapur.
Siti tersenyum sendiri, teringat ketika suaminya berlelelahan air matanya saat membantunya merajang bawang merah. “Ya Allah, lindungilah suamiku! Jauhkanlah dia dari segala mara bahaya!”
Ketika kemudian Siti merebahkan badannya di sisi anaknya yang pulas, dia masih terus berzikir. Tiba-tiba terdengar suara orang menggedor-gedor pintunya. Buru-buru Siti meloncat turun. Sejenak dia merasa lega. Ini pasti suaminya. Alhamdulillah. Namun betapa kagetnya ketika baru saja dia membuka pintu, beberapa orang berhamburan masuk. Semuanya berwajah waspada atau lebih tepatnya angker.
“Kami petugas,” kata salah seorang di antara mereka, “Kami mendapat perintah mencari suami Anda. Anda istri Mat Soleh?”
Siti hanya mengangguk asal mengangguk. Pikirannya tak karuan. Ketika dilihatnya orang-orang itu menyebar ke seluruh ruang rumahnya, yang terpikir oleh Siti hanyalah anaknya yang sedang tidur. “Tolong jangan terlalu berisik!” pintanya, “anak saya baru saja tidur.”
Tapi tak ada gunanya. Dari biliknya, Intan, anaknya yang baru berumur lima tahun itu sudah keluar sambil menangis, memanggil-manggilnya. Siti segera menghambur memeluk buah hatinya itu sambil berusaha menenangkannya. “Bu, takut! Siapa mereka ini, Bu?” tanya si anak masih sesenggukan.
“Syhh, syhh, tidak ada apa-apa, sayang. Bapak-bapak ini petugas yang sedang mencari sesuatu.” Siti asal menjawab. “Bapal-bapak inilah yang sering ibu ceritakan sebagai pelindung-pelindung kita.”
Orang-orang itu mengobrak-abrik seisi rumah. Tak ada satu benda pun yang selamat dari pemeriksaan mereka. Bahkan grobok tempat makanan pun mereka udal-udal, entah mencari apa? Salah seorang di antaranya mencecar Siti dengan pertanyaan-pertanyaan tentang suaminya. Kapan kenal, kapan kawin, bagaimana kelakuannya selama ini; dan kapan terakhir bersama suaminya. Semua pertanyaan dijawab Siti apa adanya. Setelah puas dan tidak mendapatkan apa yang mereka cari, seorang di antara mereka pun memberi isyarat pergi. Namun sebelumnya dia masih sempat mengatakan kepada Siti bahwa mereka akan datang lagi.
Begitu mereka keluar, Siti buru-buru menutup pintunya sambil berdoa semoga mereka tidak berubah pikiran dan balik lagi. Dia kembali menidurkan anaknya dan berbaring di sampingnya dengan pikiran yang kalut. Ternyata apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Suaminya dicari polisi. Bagaimana mungkin. Seingatnya, suaminya tidak pernah bohong dan menyembunyikan sesuatu kepadanya. Kalau benar dugaan polisi, pastilah Mat Soleh, suaminya itu, aktor yang luar biasa. Atau dia yang terlalu lugu sebagai istri, sehingga suaminya merahasiakan sesuatu selama ini tanpa sedikit pun dia mengetahuinya. Jadi selama ini suaminya pergi tidak untuk bisnis seperti yang dikesankan kepadanya. Ah, terlalu kau, Kang. Tega benar kau mendustaiku.
Besok paginya, koran-koran memuat berita tentang temuan baru polisi dengan huruf besar di halaman depan. “Polisi Menemukan Tokoh Intelektual Pengeboman Bali”; “Diduga Otak Pengeboman Bali Berinitial MS”; “Polisi Sedang Mencari Mat Soleh, Otak Pengeboman di Bali”. Semua menceritakan pernyataan dari Tim Investigasi yang mengatakan bahwa berdasarkan penyelidikan terhadap para tersangka, telah ditemukan tokoh intelektual pengeboman di Bali yang selama ini dicari-cari. Diceritakan juga bahwa polisi sudah melakukan penggerebekan di rumah tersangka, namun tidak menemukan tersangka yang dicari. Juga dilaporkan bahwa rumah tersangka juga telah digeledah, namun polisi tidak menemukan apa-apa.
Siti tidak bisa membendung tangisnya. Sambil mengelus-elus anaknya, dia terus mengucap doa, “Ya Tuhan, selamatkan suamiku! Selamatkan suamiku!” Tiba-tiba dirasanya ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
“Hei, ada apa ini?” Terdengar suara lirih, “Ada apa dengan suamimu? Ini suamimu telah datang, sayang. Kenapa pintu tidak dikunci? Sengaja menungguku, ya? Lihat. Seperti janjiku, aku datang sebelum lebaran.”
Siti kaget. Dibalikkan tubuhnya dan masya Allah, dilihatnya suaminya tersenyum dengan lembut. Dipagutnya suaminya dan diciuminya kedua pipinya habis-habisan. Meski bingung, suaminya hanya tertawa-tawa saja melihat kelakuan istrinya yang tidak seperti biasanya. Mungkin rindu, pikirnya. Atau mungkin karena merasa bahagia karena dia menepati janji dan mereka bisa berlebaran bersama.
Setelah melepaskan suaminya, Siti tersenyum-senyum sendiri. Juga ketika suaminya bertanya ada apa, Siti tidak menjawab. Hanya terus tersenyum-senyum sendiri. Juga ketika suaminya keluar akan ke kamar mandi, Siti masih tersenyum-senyum sendiri; kali ini sambil mendesiskan syukur, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamdu! (*)
Rembang, akhir Ramadan 1423 H
Cerpen: Mbok Yem
5 Januari 2006 18:13:09
Oleh: A. Mustofa Bisri
Alhamdulillah, sebelum wukuf di Arafah aku bisa menemukan ibu dan adikku di pondokan mereka di Mekkah. Mereka tinggal di kamar yang sempit bersama 4 pasang suami-istri. Masing-masing menempati kapling semuat dua orang yang hanya diberi sekat kopor-kopor. Di tengah-tengah ada sedikit ruang kosong yang dipenuhi bermacam-macam makanan dan peralatan makan. Ibu memperkenalkan saya kepada kawan-kawan kelompoknya.
Ini anak saya yang belajar di Mesir;” katanya bangga. “Sudah empat tahun tidak pulang.”
Malu-malu saya menyalami mereka satu per satu. Di antara mereka itu ada dua sejoli yang sudah sangat tua. Lebih tua dari ibu. Yang laki-laki dan dipanggil Mbah Joyo lebih tua lagi. Beberapa tahun lebih tua dari Mbok Yem, istrinya. Berbeda dengan Mbah Joyo yang agak pendiam, Mbok Yem orangnya ramah dan banyak bicara, mendekati ceriwis.
Yang kemudian menarik perhatian, sekaligus membuatku agak geli, adalah kemesraan kedua sejoli itu. Mereka laiknya pengantin baru saja. Seperti tidak menghiraukan senyum-senyum dan lirikan-lirikan menggoda kawan-kawannya yang memperhatikan mereka, Mbok Yem menggelendot manja di pundak Mbah Joyo.
“Pak, kita beruntung ya,” katanya sambil mengelus rambut suaminya yang putih bagai kapas. “Nak Mus ini belajar agama di Mesir, dia bisa menjadi muthawwif kita dan membimbing manasik kita.” Lalu ditujukan kepadaku, “Bukan begitu, Nak Mus?”
Aku mengangguk saja sambil tersenyum.
“Kalau perlu Nak Mus pasti tidak keberatan mengantar kita ke mana-mana,” katanya lagi. “Nanti Mbok Yem bikinkan sayur asem kesukaan Mbah Joyo. Mbok Yem paling ahli bikin sayur asem. Tanyakan Mbah Joyo ini, lidahnya sampai njoget jika Mbok Yem masak sayur asem.”
“Tapi dia juga baru sekarang ini ke Mekkah,” tukas ibuku. “Jadi di sini pengalamannya tidak lebih banyak dari kita-kita ini.”
“Ya, tapi Nak Mus kan pasti pandai bahasa Arab; jadi tak akan kesasar dan bisa menolong kita jika belanja. Kita tak perlu lagi menawar-nawar pakai bahasa isyarat, kaya orang bisu.”
Orang-orang pada ketawa.
“Tapi, Nak Mus ini kan tidak tinggal di sini bersama kita,” kata salah seorang jamaah sambil menyodorkan segelas teh. “Terima kasih!” aku menyambut teh panas yang disodorkan.
“Ya, Nak Mus tinggalnya di mana?” tanya yang lain.
“Saya tinggal bersama kawan-kawan mahasiswa yang lain,” kataku, “tapi tidak jauh dari sini kok. Saya bisa sering kemari.”
“Nah, Pak, nanti kita bisa jalan-jalan ke mana saja tanpa khawatir,” kata Mbok Yem lagi sambil memijit-mijit lengan Mbah Joyo. “Kita punya pengawal yang masih muda dan bisa berbahasa Arab.”
“Kamu ini bagaimana,” Mbah Joyo yang dari tadi hanya diam dan senyum-senyum tiba-tiba angkat bicara. “Nak Mus ke sini ini kan bukan untuk kamu saja. Tapi terutama untuk ibu dan adiknya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka pasti ingin berkangen-kangenan.”
“Ya, saya tahu,” sahut Mbok Yem sambil mleroki suaminya. “Saya juga tidak bermaksud menguasai Nak Mus sendiri. Maksud saya kita bisa nginthil, ikut bersama-sama ibu dan mbak bila mereka ke masjid atau ke mana saja.”
“Enak saja!”
“Sudah, sudah,” kata ibuku memotong. “Sudah jam setengah sebelas. Ayo kita siap-siap ke masjid!”
***
Alhamdulillah, sejak di Arafah saya bisa bergabung bersama rombongan ibu. Malam menjelang wukuf, kami sudah sampai ke padang luas yang menjadi seperti lautan tenda itu. Beberapa orang tampak letih. Justru Mbok Yem dan Mbah Joyo –anggota rombongan yang paling tua– sedikit pun tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan pancaran semangat dua sejoli ini tampak jelas seperti mempermuda usia mereka. Ketika paginya, saya ajak mereka keluar kemah untuk melihat suasana Arafah yang begitu luar biasa. Meski mentari belum begitu mengganggu dengan sengatan panasnya, dia telah memberikan cahayanya yang benderang pada hamparan putih Arafah. Sejauh mata memandang, putih-putih tenda dan putih-putih kain ihram mendominasi pemandangan. Di sana-sini bercuatan bendera-bendera negara atau sekadar tanda rombongan jamaah tertentu. Dari kejauhan tampak “bukit manusia” dengan puncak sebuah tugu yang juga berwarna putih. “Apakah itu Jabal Rahmah?”
“Ya, itulah Jabal Rahmah.”
“Apa betul itu tempat pertemuan pertama Bapa Adam dengan Ibu Hawa setelah mereka turun dari sorga?”
“Wallahu a’lam ya, tapi memang banyak yang percaya.”
“Apa kita akan ke sana?”
“Ah, tak perlu. Lagi pula itu jauh. Kelihatannya saja dekat. Wukuf yang penting di Arafah, beristighfar dan berdoa. Di sini saya kira kita bisa lebih khusyuk.”
Ketika kembali ke kemah, tampaknya kawan-kawan jamaah masih membawa kesan mereka dari melihat panorama yang belum pernah mereka saksikan itu.
“Orang kok sekian banyaknya itu dari mana saja ya?”
“Ya, ada yang hitam sekali, putih sekali, yang coklat, malah ada yang seperti tomat kemerah-merahan.”
“Sekian banyak orang kok pakaiannya putih-putih semua, masya Allah!”
Semua yang berbicara itu mengarahkan pandangannya kepadaku, seolah-olah komentarku memang mereka tunggu. Atau ini hanya perasaanku saja. Tapi aku bicara juga. “Kata guru saya, inilah gambaran mini nanti saat kita di padang Makhsyar, ketika semua orang dibangunkan dari alam kubur. Tak ada kaya tak ada miskin; tak ada orang besar tak ada orang kecil; tak ada bangsawan tak ada jelata; semuanya sama. Semuanya digiring di padang terbuka seperti di Arafah ini. Bedanya, di sini masih ada tenda dan naungan-naungan lain; di sana kelak, tidak. Masing-masing orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama hidup di dunia.”
Aku berhenti, karena kudengar ada isak tangis yang semakin lama semakin mengeras. Ternyata tangis Mbok Yem di pangkuan Mbah Joyo yang juga terlihat berkaca-kaca kedua matanya. Seisi kemah pun terdiam. Sampai datang seorang petugas kloter menyuruh semuanya bersiap-siap untuk acara salat bersama –Dhuhur dan Asar– dan melanjutkan ritual wukuf dengan berdzikir dan berdoa.
Aku perhatikan, sejak selesai acara salat dan berdoa bersama, hingga akhirnya masing-masing berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri, Mbok Yem dan Mbah Joyo terus menangis dan hanya mengulang-ulang astaghfirullah, astaghfirullah… Memohon ampun kepada Allah. Tak terdengar kedua sejoli tua ini berdzikir atau berdoa yang lain.
***
Malam ketika arus air bah kendaraan dan manusia mengalir dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, di atas bus kami sendiri, hanya terdengar talbiyah dan takbir. Kecuali sepasang mulut yang masih terus beristighfar. Mulut Mbok Yem dan Mbah Joyo.
Menjelang dini hari kami sampai wilayah Muzdalifah. Dari kejauhan, kerlap-kerlip lampu tampak semakin memperindah panorama Masy’aril Haram. Bus kami berhenti dan rombongan berhamburan turun dalam gelap, mencari batu-batu kerikil untuk melempar Jamrah. Ibu aku minta tetap di bus, aku dan adikku saja yang turun. Yang lain ternyata turun semua. Beberapa di antaranya ada yang sudah siap dengan lampu senter kecil dan kantong kain tempat batu-batu kerikil. Di sana-sini terlihat beberapa kendaraan juga sedang parkir, menunggu para penumpangnya mencari kerikil.
“Jangan jauh-jauh!” terdengar suara ketua rombongan memperingatkan. Orang-orang tidak mau mendengarkan. Bukan karena apa-apa. Mereka sudah telanjur tidak simpati kepada petugas yang menurut mereka hanya pandai bicara saja. Tak pernah ngurus jamaah. Menemui jamaah hanya kalau mau menarik pungutan ini-itu yang tidak jelas peruntukannya.
Tapi ketika sudah cukup lama dan masih banyak yang ke sana-kemari, aku dan beberapa orang yang sudah dari tadi selesai mencari kerikil, ikut membantu ketua rombongan meneriaki dan bertepuk-tepuk tangan; memperingatkan mereka agar segera naik kendaraan. Apalagi sopir bus –orang Mesir– sudah ngomel-ngomel terus sambil naik-turun bus, tidak sabar. Apalgi kendaraan-kendaraan yang lain pun sudah cabut bersama para penumpangnya menuju Mina.
Mereka akhirnya kembali juga naik bus, meski ada di antara mereka yang sambil menggerutu, “Sopir kok didengerin. Ini kan ibadah. Di sini aturannya kita kan menginap. Mengapa buru-buru?”
“Sudahlah, mungkin si sopir mempertimbangkan padatnya lalu-lintas, takut terlambat sampai Mina,” aku mencoba menyabarkan si penggerutu.”Lagi pula kita kan di sini sudah melewati jam 12. Jadi sudah terhitung menginap.”
Tiba-tiba, ketika ketua rombongan baru mengabsen dan menghitung jamaah, terdengar Mbok Yem teriak histeris, “Mbah Joyo! Mana Mbah Joyoku?!” Seketika semuanya baru menyadari bahwa Mbah Joyo belum kembali. Mbok Yem meloncat turun dari bus sambil terus menangis dan menjerit-jerit memanggil-manggil suaminya. Hampir seisi bus ikut turun. Ibu dan adikku mengikutiku mengejar Mbok Yem, mencoba menenangkannya.
“Tenanglah, Mbok Yem,” bujuk ibuku sambil merangkul perempuan tua itu. “Mbah Joyo tidak ke mana-mana. Kita pasti akan menemukannya.”
“Iya, Mbok,” adikku ikutan membujuk. “Kalau pun Mbah Joyo kesasar, di sini ada petugas khusus yang ahli menemukan orang kesasar. Percayalah.”
“Ya, Mbok, kalau memang betul-betul kesasar, saya nanti yang akan menghubungi polisi atau petugas yang lain,” aku menimpali. “Mbah Joyo pasti kembali bersama kita lagi.”
Aku sendiri dan mungkin juga ibu dan adikku tidak begitu yakin dengan apa yang kami katakan. Namun alhamdulillah, meski masih terisak dan bicara sendiri, Mbok Yem bisa agak tenang. “Mbah Joyo itu penyelamatku!” desisnya berkali-kali.
Kepala rombongan dan beberapa orang lelaki, termasuk sopir, yang mencoba mencari sampai di luar area tempat mereka tadi mencari kerikil, sudah kembali tanpa hasil. Ada yang menduga Mbah Joyo mungkin kesasar naik kendaraan lain yang diparkir di dekat mereka. Kita berunding dan sepakat akan meneruskan perjalanan sambil mencari. Semua kembali naik bus. Mbok Yem yang dibimbing ibu dan adikku, sebentar-sebentar masih menoleh ke arah padang gelap Muzdalifah. Ibu mengawani duduk dan masih terus merangkul sahabat tuanya yang kini diam saja itu.
***
Subuh, kami baru sampai Mina. Semuanya terlihat letih, lebih-lebih Mbok Yem. Untung, tidak lama mencari, kami telah sampai kemah maktab kami. Dan, begitu masuk kemah, bukan main terkejut kami. Kami melihat Mbah Joyo sedang duduk bersila menyantap buah anggur dari pinggan besar yang penuh aneka buah-buahan. (Selain anggur, ada apel, jeruk, pisang, buah pir, dll).
Mbok Yem langsung menjerit, “Mbah Joyo!” dan menghambur serta memeluk dan menciumi suaminya itu sambil menangis gembira. Mbah Joyo sendiri hanya tersenyum-senyum agak malu-malu. Sejenak yang lain masih terpaku keheranan. Baru kemudian meluncur hampir serempak, “Alhamdulillaaaah!”
Semuanya kemudian merubung Mbah Joyo yang masih terus dipeluk, dielus, dan diciumi Mbok Yem. Semuanya gembira.
“Sudah dulu, Mbok Yem,” tegur ketua rombongan, “nanti dilanjutkan kangen-kangenannya. Biarlah Mbah Joyo bercerita dulu.” Kemudian kepada Mbah Joyo, “Mbah Joyo, Sampeyan ke mana saja semalam?”
“Iya, Mbah,” sela yang lain, “Sampeyan salah masuk bus ya?!”
“Kok tahu-tahu Mbah Joyo sudah sampai di sini ini ceritanya bagaimana?” tanya yang lain lagi.
“Mbah Joyo sudah melempar jumrah ’aqabah?”
Mbah Joyo mengangguk sambil tersenyum. “Lihat, kan saya sudah pakai piyama!” Kemudian bercerita seperti sedang menceritakan sebuah dongeng.
“Saya tidak kesasar dan tidak salah naik bus. Saya bertemu dengan seorang muda yang gagah dan ganteng dan diajak naik kendaraannya yang bagus sekali. Saya bilang bahwa saya bersama rombongan kawan dan istri saya. Dia bilang sudah tahu dan meyakinkan saya bahwa nanti saya akan ketemu juga di Mina. Bapak sudah tua, katanya, nanti capek kalau naik bus. Akhirnya saya ikut. Sampai Mina saya dibawa kemari, disuruh istirahat sebentar. Saya tertidur entah berapa lama. Tahu-tahu menjelang subuh saya dibangunkan dan diajak melempar jumrah ’aqabah. Setelah itu saya diantar kemari lagi. Sambil meninggalkan buah-buahan ini, dia pamit dan katanya sebentar lagi kalian akan datang. Dan ternyata dia benar.”
“Dia itu siapa, Mbah? Orang mana?”
“Wah iya. Saya lupa menanyakannya. Soalnya begitu ketemu dia itu langsung akrab. Jadi saya kemudian sungkan dan akhirnya, sampai dia pergi, saya lupa menanyakan nama dan asalnya.”
“Ajaib!”
***
Sesudah selesai melempar jumrah ’aqabah, rupanya jamaah sudah tak tahan lagi. Mereka bergelimpangan melepas lelah. Dan tak lama terdengar suara ngorok dari sana-sini. Kulihat Mbok Yem sendiri yang tampak masih segar dan ceria. Dia malah bercerita sambil memijit kaki ibuku. “Mumpung Mbah Joyo tidur,” katanya. Sementara aku dan adikku ikut mendengarkan sambil tiduran. Namun tersentuh cerita Mbok Yem, tak terasa kami berdua akhirnya terduduk juga.
Rupanya Mbok Yem yakin apa yang dialami Mbah Joyo itu merupakan anugerah Allah yang ada kaitannya dengan amal perbuatannya. Dia menceritakan mengapa dia sampai histeris ketika Mbah Joyo hilang di Muzdalifah. Mbok Yem ternyata dulunya adalah WTS –sekarang “diperhalus” istilahnya menjadi Pekerja Seks Komersial– dan Mbah Joyo adalah “langganan”-nya yang dengan sabar membuatnya sadar, mengentasnya dari kehidupan mesum itu, dan mengawininya. Lalu Mbok Yem dan Mbah Joyo memulai kehidupan yang sama sekali baru. Di samping mendampingi Mbah Joyo bertani, Mbok Yem berjualan pecel, kemudian meningkat dengan membuka warung makan kecil-kecilan. Dan sebagian dari hasil pekerjaan mereka itu, mereka tabung sedikit demi sedikit. Bahkan mereka rela hidup tirakat, demi mencapai cita-cita mereka: naik haji. Mereka mempunyai keyakinan bahwa dosa-dosa mereka hanya bisa benar-benar diampuni, apabila beristighfar di tanah suci, di Masjidil Haram, di Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina. Seperti kata pak kiai di kampungnya, haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ternyata baru setelah setua itu, uang yang mereka tabung cukup untuk ongkos naik haji.
“Alhamdulillah, Mbah Joyo tidak benar-benar hilang,” kata Mbok Yem mengakhiri ceritanya. “Sehingga kami berdua masih berkesempatan menyempurnakan ibadah haji kami. Semoga Allah memudahkan. Setelah selesai nanti, kami ikhlas, kalau Yang Maha Agung hendak memanggil kami kapan saja. Syukur di sini, di tanah suci ini.”
Mbok Yem mengusap airmatanya, airmata bahagia, baru kemudian pelan-pelan dibaringkan tubuhnya di sisi ibuku. ***
Cerpen : Lukisan Kaligrafi
2 Maret 2006 16:36:10
Oleh: A. Mustofa Bisri
Bermula dari kunjungan seorang kawan lamanya Hardi. Pelukis yang capai mengikuti idealismenya sendiri lalu mengikuti jejak banyak seniman yang lain: berbisnis; meski bisnisnya masih dalam lingkup bidang yang dikuasainya. Seperti kebanyakan bangsanya, Hardi sangat peka terhadap kehendak pasar. Dia kini melukis apa saja asal laku mahal. Mungkin karena kecerdasannya, dia segera bisa menangkap kela-kuan zaman dan mengikutinya. Dia melukis mulai perempuan cantik, pembesar negeri, hingga kaligrafi.
Menurut Hardi, kedatangannya di samping silaturrahmi, ingin berbincang-bincang dengan Ustadz Bachri soal kaligrafi. Ustadz Bachri sendiri yang sedikit banyak mengerti soal kaligrafi Arab, segera menyambutnya antusias.
Namun, ternyata tamunya itu lebih banyak berbicara tentang aliran-aliran seni mulai dari naturalis, surealis, ekpresionis, dadais, dan entah apa lagi. Tentang teknik melukis, tentang komposisi, tentang perspektif, dan istilah-istilah lain yang dia sendiri baru dengar kali itu. Sepertinya memang sengaja menguliahi Ustadz Bachri soal seni dan khususnya seni rupa.
Yang membuat Ustadz Bachri agak kaget, ternyata, meskipun sudah sering pameran kaligrafi, Hardi sama sekali tak mengenal aturan-aturan penulisan khath Arab. Tak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq’ah dan Kufi. Apalagi falsafahnya. Katanya dia asal “menggambar” tulisan, mencontoh kitab Quran atau kitab-kitab bertulisan Arab lainnya. Dia hanya tertarik dengan makna ayat yang ia ketahui lewat Terjemahan Quran Departemen Agama, lalu dia tuangkan ayat itu ke dalam kertas atau kanvas. Bila ayat itu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, maka dia pun melukis pemandangan, lalu di atasnya dituliskan ayat yang bersangkutan. Kalau tidak begitu, dia tulis ayat yang dipilihnya dalam bentuk-bentuk tertentu yang menurutnya sesuai dengan makna ayat. Ada hurufnya yang ia bentuk seperti mega, burung, macan, tokoh wayang, dan sebagainya.
Ustadz Bachri bersyukur atas kedatangan kawannya yang -meskipun agak sok- telah memberinya wawasan mengenai kesenian, terutama seni rupa.
***
RINGKAS cerita, begitu si tamu berpamitan seperti biasa Ustadz Bachri mengiringkannya sampai pintu. Nah, sebelum keluar melintasi pintu rumahnya itulah si tamu tiba-tiba berhenti seperti terkejut. Matanya memandang kertas bertulisan Arab yang tertempel di atas pintu, lalu katanya, “Itu tulisan apa? Siapa yang menulis?”
Ustadz Bachri tersenyum, “Itu rajah. Saya yang menulisnya sendiri.”
“Rajah?”
“Ya, kata Kiai yang memberi ijazah, itu rajah penangkal jin.”
“Itu kok warnanya aneh; sampeyan menulis pakai apa?” Matanya tanpa berkedip terus memandang ke atas pintu.
“Pakai kalam biasa dan tinta cina dicampur sedikit dengan minyak za’faran. Katanya minyak itu termasuk syarat penulisan rajah.”
“Wah,” kata tamunya masih belum melepas pandangannya ke tulisan di atas pintu, “sampeyan mesti melukis kaligrafi.”
“Saya? Saya melukis kaligrafi?” katanya sambil tertawa spontan.
“Tidak. Saya serius ini,” tukas tamunya, “sampeyan mesti melukis kaligrafi. Goresan-goresan sampeyan berkarakter. (“Ini apa pula maksudnya?” Ustadz Bachri membatin, tak paham). Kalau bisa di atas kanvas. Tahu kanvas kan?! Betul ya. Tiga bulan lagi, kawan-kawan pelukis kaligrafi kebetulan akan pameran; Nanti sampeyan ikut. Ya, ya!”
Ustadz Bachri tidak bisa berkata-kata, tapi rasa tertantang muncul dalam dirinya. Kenapa tidak, pikirnya. Orang yang tak tahu khath saja berani memamerkan kaligrafinya, mengapa dia tidak? Namun, ketika didesak tamunya, dia hanya mengangguk asal mengangguk.
Setelah tamunya itu pergi, dia benar-benar terobsesi untuk melukis kaligrafi. Setiap kali duduk-duduk sendirian, dia oret-oret kertas, menuliskan ayat-ayat yang ia hapal. Dia buka kitab-kitab tentang khath dan sejarah perkembangan tulisan Arab. Bahkan dia memerlukan datang ke kota untuk sekadar melihat lukisan-lukisan yang dipajang di galeri dan toko-toko, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membeli kanvas, cat, dan kuas.
Anak-anak dan istrinya agak bingung juga melihat dia datang dari kota dengan membawa oleh-oleh peralatan melukis. Lebih heran lagi ketika dia jelaskan bahwa dialah yang akan melukis. Meski mula-mula istri dan anak-anaknya mentertawakan, namun melihat keseriusannya, ramai-ramai juga mereka menyemangati. Mereka dengan riang ikut membantu membereskan dan membersihkan gudang yang akan dia pergunakan untuk “sanggar melukis”.
Mungkin tidak ingin diganggu atau malu dilihat orang, Ustadz Bachri memilih tengah malam untuk melukis. Istri dan anak-anaknya pun biasanya sudah lelap tidur, saat dia mulai masuk ke gudang berkutat dengan cat dan kanvas-kanvasnya. Kadang-kadang sampai subuh, dia baru keluar. Di gudangnya yang sekarang merangkap sanggar itu, berserakan beberapa kanvas yang sudah belepotan cat tanpa bentuk. Di antaranya sudah ada yang sedemikian tebal lapisan catnya, karena sering ditindas. Karena begitu dia merasa tidak sreg dengan lukisannya yang hampir jadi, langsung ia tindas dengan cat lain dan memulai lagi dari awal. Hal itu terjadi berulang kali. “Ternyata sulit juga melukis itu,” katanya suatu ketika dalam hati, “enakan menulis pakai kalam di atas kertas.”
Hampir saja Ustadz Bachri putus asa. Tapi, istri dan anak-anaknya selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang kedengaran di telinganya seperti menyindir nyalinya. Maka, dia pun bertekad, apa pun yang terjadi harus ada lukisannya yang jadi untuk diikutkan pameran.
Sampai akhirnya, ketika seorang kurir yang dikirim oleh Hardi kawannya itu, datang mengambil lukisannya untuk pameran yang dijanjikan, dia hanya-atau, alhamdulillah, sudah berhasil-menyerahkan sebuah “lukisan”.
Ketika sang kurir menanyakan judul lukisan dan harga yang diinginkan, seketika dia merasa seperti diejek. Tapi kemudian dia hanya mengatakan terserah. “Bilang saja kepada Mas Hardi, terserah dia!” katanya.
Dia sama sekali tidak menyangka.
***
MESKIPUN ada rasa malu dan rendah diri, dia datang juga pada waktu pembukaan pameran untuk menyenangkan kawannya Hardi, yang berkali-kali menelepon memaksanya datang. Ternyata pameran-di mana “lukisan” tunggalnya diikutsertakan-itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang. Wah, rasa malu dan rendah dirinya pun semakin memuncak.
Dengan kikuk dan sembunyi-sembunyi dia menyelinap di antara pengunjung. Dari kejauhan dilihatnya Hardi berkali-kali menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin mencari-cari dirinya. Ada pidato-pidato pendek dan sambutan tokoh kesenian terkenal, tapi dia sama sekali tidak bisa tenang mendengarkan, apalagi menikmatinya. Dia sibuk mencari-cari “lukisan”-nya di antara deretan lukisan-lukisan kaligrafi yang di pajang yang rata-rata tampak indah dan mempesona. Apalagi dipasang sedemikian rupa dengan pencahayaan yang diatur apik untuk mendukung tampilan setiap lukisan. “Apakah lukisanku juga tampak indah di sini?” pikirnya, “di mana gerangan lukisanku itu dipasang?”
Sampai akhirnya, ketika acara pidato-pidato usai dan para pengunjung beramai-ramai mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, dia yang mengalirkan diri di antara jejalan pengunjung, belum juga menemukan lukisannya. Tiba-tiba terbentik dalam kepalanya “Jangan-jangan lukisanku diapkir, tidak diikutkan pameran, karena tidak memenuhi standar.” Aneh, mendapat pikiran begitu, dia tiba-tiba justru menjadi tenang. Dia pun tidak lagi menyembunyikan diri di balik punggung para pengunjung. Bahkan, dia sengaja mendekati sang Hardi yang tampak sedang menerang-nerangkan kepada sekerumunan pengunjung yang menggerombol di depan salah satu lukisan. Lukisan itu sendiri hampir tak tampak olehnya tertutup banyak kepala yang sedang memperhatikannya.
“Lha ini dia!” tiba-tiba Hardi berteriak ketika melihatnya. Dia jadi salah tingkah dilihat oleh begitu banyak orang, “Ini pelukisnya!” kata Hardi lagi, lalu ditujukan kepada dirinya, “Kemana saja sampeyan. Sudah dari tadi ya datangnya? Sini, sini. Ini, bapak ini seorang kolektor dari Jakarta, ingin membeli lukisan sampeyan.” Astaga, ternyata lukisan yang dirubung itu lukisannya. Dia lirik tulisan yang terpampang di bawah lukisan yang menerangkan data lukisan. Di samping namanya, dia tertarik dengan judul (yang tentu Hardi yang membuatkan): Alifku Tegak di Mana-mana. Wah, Hardi ternyata tidak hanya pandai melukis, tapi pandai juga mengarang judul yang hebat-hebat, pikirnya. Di kanvasnya itu memang hanya ada satu huruf, huruf alif. Lebih kaget lagi ketika dia membaca angka dalam keterangan harga. Dia hampir tidak mempercayai matanya: 10.000 dollar AS, sepuluh ribu dollar AS! Gila!
“Begitu melihat lukisan Anda, saya langsung tertarik;” tiba-tiba si bapak kolektor berkata sambil menepuk bahunya, “apalagi setelah kawan Anda ini menjelaskan makna dan falsafahnya. Luar biasa!”
Dia tersipu-sipu. Hardi membisikinya, “Selamat, lukisan sampeyan dibeli beliau ini!”
“Katanya, Anda baru kali ini ikut pameran,” kata si bapak kolektor lagi tanpa memperhatikan air mukanya yang merah padam, “teruskanlah melukis dari dalam seperti ini.”
(“Melukis dari dalam? Apa pula ini?” pikirnya)
Wartawan-wartawan menyuruhnya berdiri di dekat lukisan alifnya itu untuk diambil gambar. Dia benar-benar salah tingkah. Pertanyaan-pertanyaan para wartawan dijawabnya sekenanya. Mau bilang apa?
Besoknya hampir semua media massa memuat berita tentang pameran yang isinya hampir didominasi oleh liputan tentang dirinya dan lukisannya. Hampir semua koran, baik ibu kota maupun daerah, melengkapi pemberitaan itu dengan menampilkan fotonya. Sayang dalam semua foto itu sama sekali tidak tampak lukisan alifnya. Yang terlihat hanya dia sedang berdiri di samping kanvas kosong!
Beberapa hari kemudian, beberapa wartawan datang ke rumah Ustadz Bachri. Bertanya macam-macam tentang lukisan alifnya yang menggemparkan. Tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana dia menemukan ide melukis alif itu, tentang prinsip keseniannya, dlsb. Seperti ketika pameran dia asal menjawab saja.
Ketika makan siang, istri dan anak-anaknya ganti mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan tentang lukisan alifnya itu pula.
“Kalian ini kenapa, kok ikut-ikutan seperti wartawan?!” teriaknya kesal.
“Tidak pak, sebenarnya apa sih menariknya lukisan Bapak? Kok sampai dibeli sekian mahalnya?” tanya anak sulungnya.
“Kenapa sih Bapak hanya menulis alif?” tanya si bungsu sebelum dia sempat menjawab pertanyaan kakaknya, “mengapa tidak sekalian Bismillah, Allahu Akbar, atau setidaknya Allah, seperti umumnya kaligrafi yang ada?”
Istrinya juga tidak mau kalah rupanya. Tidak sabar menunggu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya.
“Terus terang saja, Mas, sampeyan menggunakan ilmu apa, kok lukisanmu sampai tidak bisa difoto?”
Ustadz Bachri geleng-geleng kepala. Kepada para wartawan dan orang lain, dia bisa tidak terus terang, tapi kepada keluarganya sendiri bagaimana mungkin dia akan menyembunyikan sesuatu. Bukankah dia sendiri yang mengajarkan dan memulai tradisi keterbukaan di rumah.
“Begini,” katanya sambil menyantaikan duduknya; sementara semuanya menunggu penuh perhatian,
“terus terang saja; saya sendiri sama sekali tidak menyangka. Kalian tahu sendiri, saya melukis karena dipaksa Hardi, tamu kita yang pelukis itu. Saya merasa tertantang.”
“Saya sendiri baru menyadari bahwa meskipun saya menguasai kaidah-kaidah khath, ternyata melukis kaligrafi tidak semudah yang saya duga. Apalagi, kalian tahu sendiri, sebelumnya saya tidak pernah melukis. Lihatlah, di gudang kita, sekian banyak kanvas yang gagal saya lukisi. Bahkan, saya hampir putus-asa dan akan memutuskan membatalkan keikutsertaan saya dalam pameran. Tapi, Hardi ngotot mendorong-dorong saya terus.”
“Lalu, ketika cat-cat yang saya beli hampir habis, saya baru teringat pernah melihat dalam pameran kaligrafi dalam rangka MTQ belasan tahun yang lalu, seorang pelukis besar memamerkan kaligrafinya yang menggambarkan dirinya sedang sembahyang dan di atas kepalanya ada lafal Allah. Saya pun berpikir mengapa saya tidak menulis Allah saja?”
Ustadz Bachri berhenti lagi, memperbaiki letak duduknya, baru kemudian lanjutnya, “Ketika saya sudah siap akan melukis, ternyata cat yang tersisa hanya ada dua warna: warna putih dan silver. Tetapi, tekad saya sudah bulat, biar hanya dengan dua warna ini, lukisan kaligrafi saya harus jadi. Mulailah saya menulis alif. Saya merasa huruf yang saya tulis bagus sekali, sesuai dengan standar huruf Tsuluts Jaliy. Namun, ketika saya pandang-pandang letak tulisan alif saya itu persis di tengah-tengah kanvas. Kalau saya lanjutkan menulis Allah, menurut selera saya waktu itu, akan jadi wagu, tidak pas. Maka, ya sudah, tak usah saya lanjutkan. Cukup alif itu saja.”
“Jadi, tadinya Bapak hendak menulis Allah?” sela si bungsu.
“Ya, niat semula begitu. Yang saya sendiri kemudian bingung, mengapa perhatian orang begitu besar terhadap lukisan alif saya itu. Saya juga tidak tahu apa yang dikatakan Hardi kepada kolektor dari Jakarta itu, tetapi dugaan saya dialah yang membuat lukisan saya bernilai begitu besar. Termasuk idenya memberi judul yang sedemikian gagah itu.”
“Tetapi, sampeyan belum menjawab pertanyaan saya,” tukas istrinya, “sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan itu ketika difoto tidak jadi dan yang tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?”
“Wah, kamu ini ikut-ikutan mempercayai mistik ya?! Ilmu apa lagi? Saya tadi kan sudah bilang, alif itu saya lukis hanya dengan dua warna yang tersisa. Sedikit putih untuk latar dan sedikit silver untuk huruf alifnya. Mungkin, ya karena silver di atas putih itu yang membuatnya tak tampak ketika difoto.”
Istri dan anak-anaknya tak bertanya-tanya lagi; tetapi Ustadz Bachri tak tahu apa mereka percaya penjelasannya atau tidak. *
cerpen : GUS JAKFAR
29 September 2005 23:37:09
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.
“Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri,” cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.”
“Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa,” kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. “Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, ‘Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?’. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya.”
“Kang Kandar kan juga begitu,” timpal Mas Guru Slamet. “Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, ‘Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?’ Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal.”
“Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar,” sahut Ustadz Kamil, “Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar.”
“Saya malah mengalami sendiri,” kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. “Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus Jakfar bilang kepada saya, ‘Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?’ Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi.”
“Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?” tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
“Mungkin saja,” jawab Ustadz Kamil. “Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu.”
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
“Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu,” komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. “Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?”
“Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;” kata Lik Salamun. “Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah.”
“Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya,” ujar Ustadz Kamil. “Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau.”
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum’at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: “Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan.”
“Perubahan apa?” tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. “Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah.”
“Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang,” tukas Mas Guru Slamet, “kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau.”
“O, itu,” kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, “Ceritanya panjang.” Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
“Kalian ingat, saya lama menghilang?” akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. “Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing.”
“Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk.”
‘Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu’ katanya. ‘Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?’
‘Kiai Tawakkal.’
‘Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.’
“Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu.”
“Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah.”
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, “Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi ‘Ahli Neraka’. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!”
“Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka.”
“Baru setelah beberapa minggu tinggal di ‘pesantren bambu’, saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya.”
“Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang.”
“Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.
‘Mas Jakfar!’ tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, ‘Kasi kawan saya ini tempat sedikit!’ Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, ‘Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya’. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan”.
“Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, ‘Minum kopi ya?!’ Saya mengangguk asal mengangguk. ‘Kopi satu lagi, Yu!’ kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. ‘Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk.”
“Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan ‘kawan-kawan’-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah.”
‘Mas, sudah larut malam,’tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. ‘Kita pulang, yuk!’ Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. ‘Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!’ katanya.”
“Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. ‘Kita istirahat sebentar,’ katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. ‘Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.’
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, ‘Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?’ Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara.
‘Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda “Ahli Neraka” di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?’
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. ‘Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak’
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.
‘Ayo kita pulang!’ tiba-tiba Kiai bangkit. ‘Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.’ Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini.”
“Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. ‘Apakah sampeyan Jakfar?’ tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. ‘Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.’
‘Beliau di mana?’ tanya saya buru-buru.
‘Mana saya tahu?’ jawabnya. ‘Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.’
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri.”
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.
Rembang, Mei 2002
Cerpen : Rizal dan Mbah Hambali
14 April 2006 11:45:17
Oleh: A Mustofa Bisri
Sebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin. Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu. Seolah-olah bersekongkol dengan kawan-kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum
Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek. Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa?
“Terus teranglah, Zal. Sebenarnya cewek seperti apa sih yang kau idamkan?” tanya Andik menggoda, saat mereka berkumpul di rumah Pak Aryo yang biasa dijadikan tempat mangkal para aktivis LSM kelompoknya Rizal itu. “Kalau tahu maumu, kita kan bisa membantu, paling tidak memberikan informasi-informasi.”
“Iya, Zal,” timpal Budi, “kalau kau cari yang cantik, adikku punya kawan cantik sekali. Mau kukenalkan? Jangan banyak pertimbanganlah! Dengar-dengar kiamat sudah dekat lho, Zal.”
“Mungkin dia cari cewek yang hafal Quran ya, Zal?!” celetuk Eko sambil ngakak. “Wah kalau iya, kau mesti meminta jasa ustadz kita, Kang Ali ini. Dia pasti mempunyai banyak kenalan santri-santri perempuan, termasuk yang hafizhah.”
“Apa ada ustadz yang rela menyerahkan anaknya yang hafizhah kepada bujang lapuk yang nggak bisa ngaji seperti Rizal ini?” tukas Edy mengomentari.
“Tenang saja, Zal!” ujar Kang Ali, “kalau kau sudah berminat, tinggal bilang saja padaku.”
“Jangan-jangan kamu impoten ya, Zal?” tiba-tiba Yopi yang baru beberapa bulan kawin ikut meledek. Rizal meninju lengan Yopi, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecut.
“Tidak sumbut dengan tampilannmu,” celetuk Pak Aryo ikut nimbrung sehabis menyeruput kopinya. “Tampang boleh, sudah punya penghasilan lumayan, sarjana lagi; sama cewek kok takut! Aku carikan bagaimana?”
“Jawab dong, Zal!” kata Bu Aryo yang muncul menghidangkan pisang goreng dan kacang rebus, mencoba menyemangati Rizal yang tak berkutik dikerubut kawan-kawannya.
“Biar saja, Bu,” jawab Rizal pendek tanpa nada kesal. “Kalau capek kan berhenti sendiri.”
Memang Rizal orangnya baik. Setiap kali diledek dan digoda kawan-kawannya soal kawin begitu, dia tidak pernah marah. Bahkan diam-diam dia bersyukur kawan-kawannya memperhatikan dirinya. Dan bukannya dia tidak pernah berpikir untuk mengakhiri masa lajangnya; takut pun tidak. Dia pernah mendengar sabda Nabi yang menganjurkan agar apabila mempunyai sesuatu hajat yang masih baru rencana jangan disiar-siarkan. Sudah sering –sampai bosan– Rizal menyatakan keyakinannya bahwa jodoh akan datang sendiri, tidak perlu dicari. Dicari ke mana-mana pun, jika bukan jodoh pasti tidak akan terwujud. Jodoh seperti halnya rezeki. Mengapa orang bersusah-payah memburu rezeki, kalau rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya dari Atas. Harta yang sudah di tangan seseorang pun kalau bukan rezekinya akan lepas. Dia pernah membaca dalam buku “Hikam”-nya Syeikh Ibn ’Athaillah As-Sakandarany sebuah ungkapan yang menarik, “Kesungguhanmu dalam memperjuangankan sesuatu yang sudah dijamin untukmu dan kesambalewaanmu dalam hal yang dituntut darimu, membuktikan padamnya mata-hati dari dirimu.”
Setiap teringat ungkapan itu, Rizal merasa seolah-olah disindir oleh tokoh sufi dari Iskandariah itu. Diakuinya dirinya selama ini sibuk –kadang-kadang hingga berkelahi dengan kawan– mengejar rezeki, sesuatu yang sebetulnya sudah dijamin Tuhan untuknya. Sementara dia sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan.
“Suatu ketika mereka akan tahu juga,” katanya dalam hati.
***
Syahdan, pada suatu hari, ketika kelompok Rizal berkumpul di rumah Pak Aryo seperti biasanya, Kang Ali bercerita panjang lebar tentang seorang “pintar” yang baru saja ia kunjungi. Kang Ali memang mempunyai kesukaan mengunjungi orang-orang yang didengarnya sebagai orang pintar; apakah orang itu itu kiai, tabib, paranormal, dukun, atau yang lain. “Aku ingin tahu,” katanya menjelaskan tentang kesukaannya itu, “apakah mereka itu memang mempunyai keahlian seperti yang aku dengar, atau hanya karena pintar-pintar mereka membohongi masyarakat sebagaimana juga terjadi di dunia politik.” Karena kesukaannya inilah, oleh kawan-kawannya Kang Ali dijuluki pakar “orang pintar”.
“Meskipun belum tua benar, orang-orang memanggilnya mbah. Mbah Hambali. Orangnya nyentrik. Kadang-kadang menemui tamu ote-ote, tanpa memakai baju. Kadang-kadang dines pakai jas segala. Tamunya luar biasa; datang dari segala penjuru tanah air. Mulai dari tukang becak hingga menteri. Bahkan menurut penuturan orang-orang dekatnya, presiden pernah mengundangnya ke istana. Bermacam-macam keperluan para tamu itu; mulai dari orang sakit yang ingin sembuh, pejabat yang ingin naik pangkat, pengusaha pailit yang ingin lepas dari lilitan utang, hingga caleg nomor urut sepatu yang ingin jadi. Dan kata orang-orang yang pernah datang ke Mbah Hambali, doa beliau memang mujarab. Sebagian di antara mereka malah percaya bahwa beliau waskita, tahu sebelum winarah.”
Pendek kata, menurut Kang Ali, Mbah Hambali ini memang lain. Dibanding orang-orang “pintar” yang pernah ia kunjungi, mbah yang satu ini termasuk yang paling meyakinkan kemampuannya.
“Nah, kalau kalian berminat,” kata Kang Ali akhirnya, “aku siap mengantar.”
“Wah, ide bagus ini,” sahut Pak Aryo sambil merangkul Rizal. “Kita bisa minta tolong atau minimal minta petunjuk tentang jejaka kasep kita ini. Siapa tahu jodohnya memang melalui Mbah Hambali itu.”
“Setujuuu!” sambut kawan-kawan yang lain penuh semangat seperti teriakan para wakil rakyat di gedung parlemen. Hanya Rizal sendiri yang, seperti biasa, hanya diam saja; sambil senyum-senyum kecut. Sama sekali tak ada tanda-tanda dia keberatan. Apakah sikapnya itu karena dia menghargai perhatian kawan-kawannya dan tak mau mengecewakan mereka, atau sebenarnya dia pun setuju tapi malu, atau sebab lain, tentu saja hanya Rizal yang tahu. Tapi ketika mereka memintanya untuk menetapkan waktu, dia tampak tidak ragu-ragu menyebutkan hari dan tanggal; meski seandainya yang lain yang menyebutkannya, semuanya juga akan menyetujuinya, karena hari dan tanggal itu merupakan waktu prei mereka semua.
***
Begitulah. Pagi-pagi pada hari tanggal yang ditentukan, dipimpin Kang Ali, mereka beramai-ramai mengunjungi Mbah Hambali. Ternyata benar seperti cerita Kang Ali, tamu Mbah Hambali memang luar biasa banyaknya. Pekarangan rumahnya yang luas penuh dengan kendaraan. Dari berbagai plat nomor mobil, orang tahu bahwa mereka yang berkunjung datang dari berbagai daerah. Rumahnya yang besar dan kuno hampir seluruh ruangnya merupakan ruang tamu. Berbagai ragam kursi, dari kayu antik hingga sofa model kota, diatur membentuk huruf U, menghadap dipan beralaskan kasur tipis di mana Mbah Hambali duduk menerima tamu-tamunya. Di dipan itu pula konon si mbah tidur. Persis di depannya, ada tiga kursi diduduki mereka yang mendapat giliran matur.
Ternyata juga benar seperti cerita Kang Ali, Mbah Hambali memang nyentrik. Agak deg-degan juga rombongan Rizal cs melihat bagaimana “orang pintar” itu memperlakukan tamu-tamunya. Ada tamu yang baru maju ke depan, langsung dibentak dan diusir. Ada tamu yang disuruh mendekat, seperti hendak dibisiki tapi tiba-tiba “Au!” si tamu digigit telinganya. Ada tamu yang diberi uang tanpa hitungan, tapi ada juga yang dimintai uang dalam jumlah tertentu.
Giliran rombongan Rizal cs diisyarati disuruh menghadap. Kang Ali, Pak Aryo, dan Rizal sendiri yang maju. Belum lagi salah satu dari mereka angkat bicara, tiba-tiba Mbah Hambali bangkit turun dari dipannya, menghampiri Rizal. “Pengumuman! Pengumuman!” teriaknya sambil menepuk-nepuk pundak Rizal yang gemetaran. “Kenalkan ini calon menantu saya! Sarjana ekonomi, tapi nyufi!” Kemudian katanya sambil mengacak-acak rambut Rizal yang disisir rapi, “Sesuai yang tersurat, kata sudah diucapkan, disaksikan malaikat, jin, dan manusia. Apakah kau akan menerima atau menolak takdirmu ini?”
“Ya, Mbah!” jawab Rizal mantap.
“Ya bagaimana? Jadi maksudmu kau menerima anakku sebagai istrimu?”
“Ya, menerima Mbah!” sahut Rizal tegas.
“Ucapkan sekali lagi yang lebih tegas!”
“Saya menerima, Mbah!”
“Alhamdulillah! Sudah, kamu dan rombonganmu boleh pulang. Beritahukan keluargamu besok lusa suruh datang kemari untuk membicarakan kapan akad nikah dan walimahnya!”
Di mobil ketika pulang, Rizal pun dikeroyok kawan-kawannya.
“Lho, kamu ini bagaimana, Zal?” kata Pak Aryo penasaran. “Tadi kamu kok ya ya saja, seperti tidak kau pikir.”
“Kau putus asa ya?” timpal Budi. “Atau jengkel diledek terus sebagai bujang lapuk, lalu kau mengambil keputusan asal-asalan begitu?”
“Ya kalau anak Mbah Hambali cantik,” komentar Yopi, “kalau pincang atau bopeng, misalnya, bagaimana?”
“Pernyataanmu tadi disaksikan orang banyak lho,” kata Eko mengingatkan. “Lagi pula kalau kau ingkar, kau bisa kualat Mbah Hambali nanti!”
“Jangan-jangan kau diguna-gunain Mbah Hambali, Zal!” kata Andik khawatir.
Seperti biasa, Rizal hanya diam sambil senyum-senyum. Kali ini tidak seperti biasa, Kang Ali juga diam saja sambil senyum-senyum penuh arti.
Rembang, 2004
MBAH SIDIQ
13 Oktober 2005 21:15:21
Oleh KH A. Mustofa Bisri
Berita tentang Mbah Sidiq sudah sampai ke daerah kami. Entah siapa yang mula-mula menyebarluaskannya. Yang jelas, kini kebanyakan penduduk-sebagaimana penduduk di beberapa daerah lain-sudah seperti mengenal Mbah Sidiq, meski belum pernah bertemu dengan orang yang dianggap istimewa itu. Memang ada diantara mereka yang mengaku sudah mengenalnya secara pribadi, bahkan mengaku sudah menjadi orang dekatnya. Sering dibawa-bawa pergi keliling. Bila si Mbah datang ke daerah kami, selalu singgah ke rumah mereka. Dari mereka inilah nama Mbah Sidiq “melegenda”, termasuk di daerah kami.
Mereka yang mengaku dekat dengan Mbah Sidiq ini paling suka bercerita atau ditanya tentang Mbah Sidiq. Cerita mereka selalu mengasyikkan, terutama karena cara mereka bercerita memang benar-benar meyakinkan. Seperti Nasrul-seorang “aktivis” di tempat kami yang memang biasa mengantar orang ke tempat Mbah Sidiq itu. Wah, dasar pinter omong, kalau bercerita tentang Mbah Sidiq, Nasrul bisa membuat orang lupa acaranya sendiri.
“Percaya tidak, saya pernah diajak beliau ke makam Sunan Ampel di Surabaya,” kata Nasrul suatu hari di warung Wak Rukiban yang biasa dipakai mangkal Nasrul dan kawan-kawan. “Saya piker beliau akan berdo’a di makam wali itu; ternyata tidak. Tahu apa yang beliau kerjakan di makam?” Nasrul sengaja berhenti sejenak, seperti menunggu jawaban dari orang-orang yang asyik mendengarkannya.
“Apa?” tanya beberapa orang serempak.
Nasrul tersenyum. Senang pancingannya bersambut. Dia menghirup kopinya dulu sebelum kemudian melanjutkan,
“Tahu tidak? Beliau berdiskusi dengan Sunan Ampel serius sekali.”
“Berdiskusi?” kini serempak semua yang mendengarkan bertanya. Nasrul tampak semakin senang.
“Ya, berdiskusi laiknya dua tokoh yang sedang membahas suatu masalah penting.”
“Dari mana kau tahu beliau sedang berdiskusi dengan Sunan Ampel?” tanya Pak Manaf, guru SD yang mulai tertarik dengan tokoh yang menjadi buah bibir itu.
“Bagaimana saya tidak tahu, wong saya duduk di belakang beliau. Memang saya sendiri tidak mendengar suara Mbah Sunan, tapi dari bicara dan sikap Mbah Sidiq, jelas beliau sedang berdiskusi.”
“Apa yang mereka diskusikan?” tanya Mas Slamet Pemborong, benar-benar ingin tahu.
“Saya tidak tahu persis, tapi saya dengar Mbah Sidiq berkali-kali mengatakan, ‘Eyang harus menolong mereka!’ Tentu saja saya tidak berani bertanya kepada beliau, siapa yang beliau maksud dengan ‘mereka’. Tapi ketika meninggalkan makam, beliau berkata kepada saya, ‘Sudah, beres sekarang! Orang-orang itu suka berbuat seenaknya sendiri; nanti kalau ada masalah, awak pula yang disuruh memecahkan. Dasar politisi!’ Dari sini saya menduga agaknya beliau mendiskusikan soal politik dengan Mbah Sunan.”
Siapa Srul, orang-orang yang digerunduli Mbah Sidiq dan disebut politisi itu?” Tanya Mas Slamet lagi.
“Persisnya saya tak tahu. Soalnya banyak orang gede dari Jakarta yang sowan Mbah. Mulai dari pengusaha besar; anggota DPR, sampai menteri. Bahkan ada jenderal yang sering sowan sendirian. Saya hanya tahu beberapa diantara mereka; kebetulan saya sering melihat mereka di TV.”
“Ngapain aja orang-orang gede itu datang ke Mbah Sidiq?”
“Lho, orang-orang gede itu kan banyak mikir ini-itu, dan di jaman sekarang ini banyak hal yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan pakai otak. Mereka itu, kalau sudah buntu pikirannya, datang ke Mbah minta fatwa dari langit.”
“Ngomong-ngomong, apa benar; Srul, Mbah Sidiq itu suka menggigit tamunya?” tanya Wak Rukiban tiba-tiba.
“Ah, ya nggak mesti,Wak. Lihat-lihat tamunya. Biasanya, Mbah menggigit telinga orang yang wataknya bandel. Seperti Parman yang suka bikin jengkel ibunya itu kan pernah kena gigit. ‘Telinga gunanya untuk mendengar!’ kata Mbah waktu itu sehabis menggigit telinga Parman. Tapi ada juga tamu yang beliau ciumi atau beliau kasih duit.”
“Katanya Mbah Sidiq tidak pernah salat Jum’at, Kang Nasrul” tanya Haji Kusen yang dari tadi mendengarkan sambil menyantap nasi rawon.
“Lho Mbah Sidiq kan tidak seperti kita. Mbah kalau Jum’atan di Mekkah. Sampeyan tidak pernah mendengar cerita Haji Narto yang bertemu Mbah di pasar Seng Mekkah? Padahal tahun ini Mbah Sidiq tidak naik haji. Tanyakan kepada isteri-isteri Mbah yang selalu menerima oleh-oleh dari beliau! Kadang-kadang Mbah mengoleh-olehi mereka karung; kadang akik Fairuz; kadang kurma Medina. Pokoknya Mbah selalu membawa buah tangan dari tanah suci untuk isteri-isterinya. Padahal setahu orang-orang, Mbah tidak kemana-mana.”
“Berapa sih isteri Mbah Sidiq Srul?” tanya Wak Rukiban sambil meletakkan piring pisang goreng yang masih mengepul.
“Seandainya boleh lebih, ya bisa banyak, Wak. Wong banyak yang ngunggah-ngunggahi, kepingin mendapat berkah. Tapi kan kuotanya cuma empat. Jadi Mbah cuma punya empat.”
“Tapi apa benar dia itu kiai?” tiba-tiba Pak Guru Manaf kembali bertanya. “Saya dengar dia itu tidak bisa mengaji.”
Nasrul kelihatan tidak suka dengan pertanyaan Pak Manaf; apalagi dia menggunakan kata ganti “dia” untuk orang yang sangat dihormatinya, tidak menggunakan “beliau”. Maka dengan nada jengkel yang tidak ditutup-tutupi, Nasrul berkata, “Memang orang yang tidak tahu ilmu hakikat pasti bingung melihat Mbah Sidiq. Mbah Sidiq itu-tidak seperti kau-bisa pagi tidak tahu apa-apa, malam harinya tiba-tiba sangat alim melebihi kiai mana pun!”
“Ah, masak iya, Srul?” tukas Pak Manaf tidak percaya.
“Wow kamu sih. Dasar sekolah umum!” Nasrul mulai benar-benar marah lantaran ceritanya tak dipercayai. “Beliau itu setiap hari ketemuan Syeikh Abdul Qadir Jailani. Jangan sembarangan kau! Kualat baru tahu! Saya menyaksikan sendiri bagaimana Mbah berdebat dengan kiai, dengan dosen, dengan orang-orang pintar; semuanya tidak berkutik di hadapan Mbah.
***
Beberapa bulan kemudian di warung Wak Rukiban. “Ada yang tahu kabarnya Nasrul?” tanya Wak Rukiban kepada para langganannya sambil menyodorkan kopi pesanan. “Sudah lama sekali dia tidak ngopi kemari.”
“Mungkin sedang keliling dengan Mbahnya,” sambut Pak Manaf.
“Jangan-jangan sakit?” celetuk Mas Slamet Pemborong.
“Nggak kalau sakit,” sahut Haji Husen. ‘Kemarin dulu saya kerumahnya. Kata orang yang nungguin rumahnya, dia sedang keluar kota. Istrinya malah sudah duluan pergi. Mungkin Nasrul nyusul istrinya.”
“Orang yang nungguin rumahnya nggak bilang mereka ke mana, urusan apa?” tanya Mas Slamet.
“Wah, saya tidak macam-macam,” jawab Haji Kusen, “wong saya datang hanya karena ingin ketemu Nasrul yang sudah lama tidak kelihatan batang hidungnya. Nggak ada urusan lain.”
“Pastilah seperti biasa, Nasrul ngederekke Mbah Sidiq!” tegas Pak Manaf yakin.
“Nggak!” sela Wak Rukiban “Kalau pergi mengikuti Mbah Sidiq, paling lama seminggu-dua minggu. Malah cerita tentang dia kemudian yang berminggu-minggu.”
“Bagaimana kalau nanti kita ramai-ramai ke rumahnya?” usul Mas Slamet.
Belum lagi semuanya menyampaikan persetujuan, tiba-tiba masuk orang yang sedang mereka bicarakan.
“Wah, panjang umur kau, Srul!” sambut Wak Rukiban gembira. “Baru saja kami membicarakanmu.”
Semuanya pun berdiri menyalami seperti menyambut orang penting datang. Nasrul sendiri kelihatan tidak seperti biasanya. Badannya tampak kurus. Wajahnya pucat. Dia menyalami kawan-kawannya tanpa semangat. Bahkan secuil senyum pun tak tersungging di bibirnya. Duduknya pun seperti terhempas begitu saja. Dia mengambil nafas panjang, baru kemudian berkata lirih, “Kopi, Wak!”
Tentu saja kawan-kawannya heran. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Bertanya-tanya dalam diam. Tapi seperti sepakat, mereka tidak berkata apa-apa, menunggu Nasrul sendiri yang mulai bercerita seperti biasanya. Ketika Wak Rukiban menyodorkan kopi pun mereka hanya mengucap, “Silahkan Srul!”
“Terimakasih, Wak!” kata Nasrul lirih, kemudian menuang kopi pelan-pelan ke lepeknya. Kawan-kawannya hanya mengawasinya. Mereka melihat tangan Nasrul gemetar hingga menumpahkan kopi di sekitar lepeknya, tapi mereka semua tetap diam.
Nasrul menghirup kopinya sambil memejamkan kedua matanya, seperti angin meresapkan sari kopi ke dalam dirinya. Begitu habis kopi di lepek diminumnya, dia menuang lagi dan menumpahkan lagi di sekitar lepek. Setelah meminum kopi yang kedua kalinya, tangannya merogoh saku dan mengeluarkan rokok kreteknya. Dengan gemetar dilolosnya sebatang dan diselipnya di mulutnya. Tanpa berkata-kata, Pak Manaf yang ada di dekatnya menyalakan korek untuknya.
Seperti ketika meminum kopi, Nasrul kemudian menghisap rokoknya sambil memejamkan mata. Dua-tiga isapan, baru kemudian Nasrul memandangi satu-satu wajah kawan-kawannya, seolah-olah dia baru menyadari kehadiran mereka. Pak Manaf sudah hampir tidak sabar menunggu. Sudah hamper membuka mulut. Tiba-tiba terdengar suara Nasrul seperti bukan dari mulutnya sendiri. Lirih tapi terdengar sangat keras dan tajam bagai sembilu: “Sidiq bajingan!”
Hampir semua mulut kawan-kawannya ternganga seperti merekalah yang terkena tikam umpatan Nasrul itu.
Belum hilang tanda tanya mereka, Nasrul sudah bergumam lagi, “Wali macam apa itu? Seperti tahi termakan, aku menyesal ikut membesar-besarkan namanya. Bangsat! Penipu!” Semakin serak suara Nasrul, kemudian pecahlah tangisnya.
Diletakkannya kepalanya di atas meja tanpa menghiraukan tupahan kopi yang mengotorinya. Spontan Pak Manaf meletakkan dan menepuk-nepuk tangan ke pundaknya penuh iba.
“Sabar Srul. Apa yang terjadi? Ceritakanlah kepada kawan-kawanmu ini. Tumpahkan semua isi dadamu, biar lega!”
“Maaf, Kang!” Nasrul mencoba mengangkat kepalanya kembali. “Aku kurang sabar bagaimana? Semua yang diminta -bahkan banyak yang tidak diminta-sudah aku berikan. Sawah dan sapiku kuserahkan kepadanya. Sepeda motor kujual untuk menyenangkannya. Lho kok tega-teganya membawa kabur isteriku! Masyaallah! Manusia laknat macam apa itu?! Dipukulnya tangannya ke meja hingga menggulingkan beberapa cangkir dan gelas.
Semuanya terkesiap. Semuanya seperti tak percaya akan apa yang mereka dengar. Semuanya merasa seperti ada tikaman duka yang mengenai Nasrul, tembus ke dada-dada mereka sendiri.
Rembang, 6 Oktober 2002
ANATOMI SASTRA 27 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.Tags: anatomi, bahasa, kreatif, sastra
add a comment
Konsep Seni Sastra
-
Pengertian sastra
Kata “sastra” atau “kesusastraan” dapat ditemui dalam sejumlah pemakaian yang berbeda-beda, karena merupakan satu ’istilah payung’ yang meliputi sejumlah kegiatan yang berbeda-beda, seperti:
-
-
Kegiatan penyimakan atau pembacaan naskah, pamflet, makalah atau buku.
-
Sesuatu yang diasosiasikan dengan karakteristik sebuah bangsa atau kelompok manusia.
-
Pembahasan mengenai sudut sejarah atau gerakan tertentu,misalnya sastra romantik.
-
Secara fundamental, sastra adalah sesuatu dimana kita terlibat secara sukarela atau spontan; bagian dari kehidupan manusia; berbicara dan memperjuangkan kepentingan hidup manusia. Jadi sastra itu adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Sastra tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori atau sistem berpikir manusia. Sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia. Obyek seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama yang menyangkut sosial budaya, kesenian, dan sistem berpikir.
Di dalam menangkap pengalaman hidup manusia sebagai bahan bakunya; seniman memilih dan menyeleksinya secara kreatif pula, kemudian menuangkannya ke dalam bentuk karya sastra dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Dengan begitu, sastra dalam wujudnya mempunyai dua aspek penting, yaitu isi dan bentuknya. Isinya merupakan pengalaman hidup manusia, sedangkan bentuknya adalah segi-segi yang menyangkut penyampaian, yaitu cara sastrawan memanfaatkan bahasa yang indah untuk mewadahi isinya.
Berbicara tentang pengertian sastra secara lebih luas, maka kita harus berbicara tentang seni, bahasa, dan institusi sosial yang memerlukan dan membentuknya.
-
Sastra sebagai karya kreatif
Suatu karya sastra akan tidak berdaya menyandang predikat kreatif manakala ia tidak memiliki unsur seni. Karena seni itu lahir akibat adanya perpaduan yang harmonis antara manusia dan alam; dan manusia itu semenjak kehadirannya di muka bumi tidak terlepas dari rasa seni (ekspresi jiwa). Segala situasi estetis yang dialami manusia tersimpan dalam khazanah pengalamannya, dan pengalaman itu hidup dalam jiwa beserta kehidupan rohaniah manusia. Dan karena manusia itu memiliki suatu kreativitas, ia terdorong untuk merealisasikan pengalamannya itu ke dalam wujud bentuk, maka lahirlah karya itu berupa kebudayaan dan kesenian. Dalam refleksi rohaniah atau akal budinya terhadap momentum estetis yang dirasakanya, seniman berupaya menjelmakannya dengan baik supaya dapat pula dirasakan dan dinikmati oleh orang lain dalam bentuk karya seni.
Suatu karya seni yang representatif, adalah suatu kualitas pengalaman yang dapat memperkaya pengalaman rohaniah kita. Karena yang disuguhkan dalam karya seni tidak hanya materi saja, tetapi hakikatnya kita berhadapan dengan sesuatu yang ada dibelakang materi itu, sesuatu yang mengandung makna yang jauh lebih luas.
Seniman mempunyai kontak dan hubungan dengan masyarakat penikmat karya seni melalui karya-karya seni itu sendiri. Dengan begitu, seniman harus mengerti masyarakat dengan aspirasinya dan sebaliknya masyarakat harus mengerti tentang seniman dan karyanya, sehingga terjadi suatu peristiwa estetis alias kesenian. Nilai seni itu muncul karena adanya kaharmonisan pertemuan keduanya itu.
Sastra adalah karya seni, ia harus diciptakan dengan suatu daya kreativitas dalam memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman hidup manusia yang dihayatinya. Ini berarti pembaca ikut menentukan penciptaan. Jadi, sastrawan yang kreatif bermakna orang yang mampu menemukan nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat, tidak menciptakan nilai-nilai, serta berupaya menangkap dan menemukan yang terbaik dan terus menemui yang terbaik untuk menyampaikannya.
Karya seni berfungsi sosial membudayakan manusia, dan karya sastralah yang mempunyai fungsi sosial yang lebih besar, karena menggunakan medium bahasa yang lebih leluasa mengekspresikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi penyempurnaan kehidupan manusia.
-
Bahasa sebagai media sastra
Bahasa yang berperan sebagai media sastra adalah bunyi-bunyi bahasa yang distingtif yang dipakai sebagai pola yang sistematis untuk mengkomunikasikan segala perasaan dan pikiran. Bahasa sebagai alat komunikasi dan kontrol sosial, tentu saja lebih luas cakupannya dari sastra. Bahasa meliputi segala macam komunikasi yang menyangkut penggunaan lambang bunyi bahasa, sedangkan sastra hanya meliputi satu daerah tertentu dari seluruh daerah kekuasaan bahasa. Oleh karena itu, kemampuan pengarang menggunakan bahasa sangat menentukan sastra tidaknya sebuah ”karya sastra” (dalam hal ini tidak melengahkan isi dan pesan).
Bahasa dalam kesusastraan berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam konteks lainnya. Karena tujuan pengucapan dan fungsi pengucapannya yang berlainan, maka bahasa dalam karya sastra pada keseluruhannya tetap mengandung perbedaan yang secara praktis dapat dirasakan.
Bahasa adalah media pengucapan yang fleksibel. Fleksibilitas bahasa itu dieksploitasi dengan seluas mungkin oleh pengarang, untuk mencapai suatu kesan sensitivitas dan kehalusan rasa. Pengarang menggunakan kata-kata yang khusus untuk perasaan-perasaan yang khusus, dan untuk meninggalkan kesan sensitivitas yang khusus pula, yang dapat melampaui berbagai dimensi sesuai dengan daya tanggap seseorang. Pemberdayaan pilihan kata itu mampu meninggalkan kesan sensitivitas pembaca. Nilai konotasi yang lebih luas dari pengertian denotasi sangat penting.
Kesusastraan adalah pengucapan atau tulisan yang tergolong ke dalam jenis yang kreatif-imajinatif. Kelebihan ini terletak pada:
-
-
unsur-unsur bahasa serta interaksi antara unsur-unsur tersebut dengan dunia nyata yang berada diluar dirinya
-
memberi makna yang lebih luas terhadap komunikasi dan hubungan antar manusia
-
bahasa sastra mengungkapkan yang tersurat maupun yang tersirat
-
Sastra merupakan pernyataan yang amat kompleks dan amat dielaborasi tentang penulis dan pembaca, didalamnya pun terkait masalah cita rasa dan pandangan hidup. Bahasa yang diatur pengimajian, ungkapan, perbandingan dan kehidupan bunyi yang terlihat pilihan kata-katanya, akan memperoleh kesan, sebagian darinya adalah estetik.
-
Misi sastra
Ada sastrawan yang mengatakan bahwa tugas sastra adalah untuk mencapai keindahan, ”seni untuk seni”; sementara pendapat lain mengatakan bahwa sastra adalah untuk memberi pelajaran tentang kehidupan. Sebenarnya keduanya tak bisa dipisahkan dan berdiri sendiri. Karena untuk mendapatkan keindahan adalah naluri manusia, sama halnya dengan sifat mau tahu atau mau mempelajari tentang kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan yang baik antara nilai keindahan dan nilai kegunaannya.
Sastra, karena sifatnya tidak normatif; lebih mudah berkomunikasi, dan nilai-nilai yang disampaikan dapat lebih fleksibel baik isi maupun cara penyampaiannya. Hampir setiap zaman sastra mempunyai peranan yang amat penting karena beberapa alasan.
-
-
Sastra mempergunakan bahasa
-
Berlainan dengan seni-seni yang lain, sastra menggunakan bahasa sebagai mediumnya dengan segala kelebihannya. Bahasa dapat menampung hampir seluruh kegiatan manusia;
-
-
-
Memunculkan fisafat, ketika memahami dirinya sendiri
-
Memunculkan agama, ketika memahami hubungan dengan penciptanya
-
Memunculkan ilmu pengetahuan, ketika memahami alam semesta
-
Memunculkan ilmu sosial, ketika mengatur hubungan antara sesamanya
-
-
Dengan demikian manusia dan bahasa pada hakikatnya adalah satu.
-
-
Sastra terkait dengan berbagai cabang ilmu
-
Di dalam sebuah karya sastra yang baik kita akan menemui unsur-unsur dari ilmu filsafat, ilmu kemasyarakatan, psikologi, sains, dan sebagainya. Sastra mampu mencakupi alam kehidupan yang lebih luas dan lebih kompleks.
-
-
Sastra didukung oleh cerita
-
Sastra dimulai dengan cerita, dengan cerita orang lebih mudah mengemukakan gagasan.
Sastra adalah untuk rakyat/masyarakat, walaupun terdapat keterbatasan penyebarannya di dalam masyarakat, bukan berarti karya sastra ditulis untuk segolongan masyarakat saja. Menurut Prof. Haji Saleh (1979), tugas pertama sastra adalah sebagai alat penting pemikir-pemikir untuk menggerakkan pembaca pada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan bila ia menghadapi masalah. Sastrawan yang baik akan berusaha mendekati hakikat kehidupan agar karya-karyanya bisa bermakna bagi pembacanya. Penulis itu adalah hati nurani masyarakat dan zamannya. Penulis harus hidup dalam dua dunia, dunia individunya dan dunia dimana ia menjadi anggota masyarakatnya.
Dalam peranannya di masyarakat, sastra juga bermanfaat sebagai pengimbang sains dan teknologi, meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif, dan menjadi suatu tempat dimana nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya. Sejak dahulu hingga kini, terdapat tiga daerah fundamental yang menjadi pusat misi sastra, yaitu:
-
-
Sastra dan agama
-
Agama merupakan kunci sejarah, kita dapat memahami suatu masyarakat dengan memahami agamanya. Sepanjang sejarah, hasil pertama karya-karya kebudayaan yang kreatif disebabkan karena ilham agama dan diabdikan kepada tujuan-tujuan agama. Agamalah yang merupakan sumber filsafat yang selalu mengudik kembali kepadanya.
Bagi kebanyakan bangsa pada berbagai macam tingkat kemasyarakatan, agama merupakan:
-
-
-
Fungsi konservatif, yaitu daya penyatu yang sentral dalam pembinaan kebudayaan
-
Faktor yang kreatif dan dinamis, yaitu bertindak sebagai perangsang yang memberi makna kehidupan, dan mempertahankan masyarakat dalam pola-pola kemasyarakatan yang telah tetap.
-
-
Sastra dan dorongan sosial
-
Dorongan sosial pada umumnya melahirkan berbagai macam aktivitas kehidupan, seperti aktivitas sosial, ekonomi, politik, etik, kepercayaan, dan lain-lain. Maka dorongan sosial yang akhirnya mendorong penciptaan sastra mau tidak mau memperjuangkan berbagai bentuk aktivitas sosial tersebut.
-
-
Sastra dan dorongan personal
-
Dorongan sosial ikut pula membangun karya-karya sastra terutama mengenai semangat hidup manusia untuk mempertahankan eksistensinya dan menyempurnakan kehidupannya ke arah yang lebih baik dan bermartabat. Seniman yang baik biasanya dapat menggarap bahan yang sifatnya pribadi ini menjadi suatu yang universal. Dorongan personal yang dimilikinya mampu dijadikannya sebagai milik bersama. Secara sadar atau tidak, sastrawan mengungkapkan peristiwa batiniah ke dalam karyanya yang dimaksudkan sebagai konsumsi mental dan pikiran orang lain.
Dari ketiga unsur itu sastra memperoleh dorongan bagi kehadirannya. Jadi misi pokok sastra adalah mempertahankan, memperjuangkan dan mengembangkan agama, masyarakat dan tata nilai.
Suatu hal yang perlu diingat, apapun tugas yang dibebankan kepada sastra namun ia tidak boleh kehilangan hakikatnya sebagai suatu karya seni, ia harus memberikan kenikmatan kepada pembacanya. Ini penting agar misinya dapat dijalankan dengan baik, agar tidak terjadi keterpencilan di wilayahnya, agar ia menjadi sahabat banyak orang.
-
Sastra dan keindahan
Berbicara tentang keindahan merupakan suatu hal yang sangat rumit, karena sukar sekali merumuskannya. Oleh sebab itu hampir tidak mungkin untuk membuat standar keindahan yang berlaku bagi semua orang. Ukuran objektif tentang keindahan itu belum diperoleh.
Menurut Kant, keindahan adalah kesadaran jiwa yang mengalami sesuatu di luar jiwa itu sendiri. Kesadaran jiwa itu sendiri merupakan sesuatu yang subyektif yang sangat tergantung kepada rasa dan visi perorangan. Seorang seniman akan berupaya agar karyanya mempunyai daya tarik. Karena itu, ia berupaya memburu keindahan dalam karyanya.
Thomas Aquino mengemukakan bahwa keindahan itu mengandung tiga syarat; (1) keutuhan atau kesempurnaan, (2) keselarasan bentuk atau harmoni, dan (3) kejelasan atau kecemerlangan. Sedangkan menurut James joyce keindahan itu mempunyai tiga ciri:
(1) kepaduan (integrity), merupakan suatu kesatuan yang bulat
(2) keselarasan (harmony), merupakan perpaduan yang baik dan seimbang antara unsur yang membentuknya
(3) kekhasan (individuation), merupakan suatu keunikan yang terdapat pada sesuatu yang menimbulkan keindahan.
Karya sastra yang indah adalah karya sastra yang secara khusus merefleksi suatu objek tertentu menurut titik pandangan tertentu. Ini berarti cetak ulang dari apa yang sudah ada sebelumnya tidak dapat menimbulkan keindahan. Keindahan bukanlah sesuatu yang didapat secara intuitif melainkan hasil upaya memadukan sifat-sifat yang dimiliki objek dengan keinginan jiwanya.
Sastra sebagai suatu karya seni jelas merupakan hasil ciptaan seniman, karena itu keindahan yang terdapat di dalamnya bukanlah keindahan alamiah melainkan merupakan daya cipta dan hasil kreasi sastrawan. Keindahan yang dapat dirasakan dan ditangkap pembaca sebagai penikmat bergantung pula pada kesesuaian sifat antara pembaca dengan yang dibaca, antara subjek dengan objek. Dalam arti bahwa subjek menemukan dirinya dalam objek yang pada gilirannya menimbulkan kepuasan sekaligus merasakan sebagai suatu keindahan, dan merupakan kewajiban bagi seniman untuk mempertemukan keduanya.
Saat ini terlihat gejala-gejala yang mengusik; bahwa pada banyak bidang kesenian bukan lagi pada sisi keindahan, dan keharmonisan, melainkan sesuatu yang mengejutkan dan menggemparkan; bahwa faktor keindahan dan kelembutan itu mulai mengabur dan melihat bahwa karya sastra hampir tidak mempunyai batas yang tegas lagi dengan karya tulis nonsastra. Hal ini disebabkan karena dalam karya sastra terdapat kategori-kategori lain yang turut ambil bagian. Manusia tidak melulu sebagai homo estheticus, tetapi juga homo politicus, homo economicus.
-
Sastra dan kebenaran
Terdapat ekuivalensi antara jiwa seniman dengan karyanya. Yang dapat ditangkap oleh pembaca dan penikmat hanyalah karya itu saja, sedangkan kondisi kejiwaan seniman itu sendiri secara konkrit tidak mungkin dicapai. Bila hendak mengetahui cara berpikir seorang seniman hanya mungkin diketahui melalui karyanya dengan jelas.
Dalam pengungkapan pengalaman jiwa terdapat pula berbagai hambatan, terutama pada sarana penyampaiannya, yaitu bahasa. Bahasa sebagai alat pelahiran itu tidak mungkin lengkap untuk menampung dan menggambarkan cita rasa atau pengalaman batin sastrawan. Ketidaksanggupan bahasa menjalankan perannya itu mungkin disebabkan oleh kelemahan bahasa itu sendiri atau mungkin karena kekurangmampuan sastrawan menguasai bahasa tersebut, atau dapat pula karena kedua faktor tersebut.
Seni sastra menggunakan lambang-lambang bahasa sebagai alatnya untuk melahirkan pengalaman jiwa sejelas-jelasnya. Tetapi bahasa atau lambang-lambang yang berkaitan dengan itu hanya mampu mewakili pengertian yang pada dasarnya bersifat abstrak, meskipun pengertian itu sendiri menyangkut benda-benda konkrit. Oleh sebab itu, pendapat bahwa seni merupakan tiruan alam tidak dapat diterima sepenuhnya, karena suatu ketika ia merupakan tafsiran tentang alam.
Dalam kenyataan, ukuran kebenaran merupakan ukuran yang sering digunakan dalam menilai suatu karya sastra. Memang tanggung jawab terhadap kebenaran ini harus ada pada setiap sastrawan dengan hasil karyanya. Kebenaran yang dimaksudkan bukanlah kebenaran yang klop dengan kenyataan pengalaman sehari-hari. Tetapi lebih luas dari itu, yaitu kebenaran yang ideal, kebenaran yang bukan saja bertumpu pada kehidupan nyata yang terjadi sekarang. Tetapi juga kebenaran yang sepatutnya terjadi, kebenaran yang diinginkan.
Penafsiran kebenaran yang lebih luas adalah kebenaran yang mencakup segi perlambangan (the criterion of symbolic truth). Dalam pengertian kebenaran semacam itu membantu memberikan jawaban yang wajar tentang mengapa kita dapat menerima cerita-cerita dongeng atau kepahlawanan yang diperbaurkan dengan keajaiban, sebagai suatu bentuk karya sastra yang bernilai.
By : Teemanue Rulcho
Gus Dur dan Celana Dalam 26 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.comments closed
Oleh Emha Ainum Nadjib
Kalau anda bersedia berpikir mandiri dan menghilangkan skeptisme psikologis atas segala hal yang selama ini menyodorkan kecurigaan dan kebingungan,sehingga Anda siap memperoleh pemahaman yang jernih dan ketentraman hati maka perkenankan saya mengajak Anda memahami Indonesia melalui Gus Dur.
Sekali lagi hapus skeptisme di benak anda. Kapan-kapan Gus Dur bisa anda lihat sebagai RI-1 ulama besar dan pejuang demokrasi, tokoh ini dan itu, atau apapun saja. Tapi yang paling diperlukan kali ini pertama-tama adalah kesediaan melihat Gus Dur sebagai manusia.
Kedua ia adalah orang yang kita gaji untuk mengurusi kesejahteraan dan keadilan kita semua rakyat Indonesia. Kita rakyat Indonesia adalah pihak yang berkedudukan tertinggi Gus Dur adalah salah satu bawahan kita. Ia harus taat kepada kita,karena kitalah yang mengesahkan setiap butir undang-undang yang kemudian kita bersama sama mengikatkan diri padanya.
Kenapa memahami Indonesia harus melalui Gus Dur ? Pertama karena justru Gus Dur belum tentu punya kerendahan hati untuk memahami kita.
Kedua karena kita harus men-thawafi Indonesia sedemikian unit dan spesifiknya, Indonesia sedemikian rupa. Kita harus memahami Indonesia dari segala sisi dan sudut,yang di dalam metodologi thawaf sisi dan sudut itu berjumlah tak terhingga. Indonesia sedemikian unit dan spesifiknya, Indonesia adalah satu paradigma sejarah,suatu jenis antropo-sosiologi yang hampir tak ada duanya. Ya kecanggihannya, ya kedunguannya, ya keruwetannya, ya….
Sehingga tidak mungkin kita menolak thawaf, kalau tidak ingin selalu salah sangka dan kecele dalam memahaminya. Juga kalau kita mendekati Indonesia hanya melalui dan….kepentingan subyektif pihak dan kelompok kita, percayalah kita akan menyongsong malapetaka demi melapetaka lagi yang lebih menyengsarakan.
Kita harus memulai kembali menata pemahaman kita atas negeri, bangsa dan manusia Indonesia. Melalui segala sisi dan sudut dan apapun seluas-luasnya. Memahaminya kembali melalui kandungan tanah dan bebatuannya. Melalui jenis darah dan gen penghuninya. Melalui habitat sosio-kulturalnya. Melalui kecenderungan kelakuan politiknya. Kita memahami Indonesia melalui orang-orang kecil yang menjarah toko-toko, melalui kakilima-kakilima sepanjang jalan, melalui monyet-monyet di hutannya, melalui Gus Dur, melalui kaum intelektual, ulama-ulama, melalui siapa dan apa saja.
Bahkan kali ini kita belajar dari celana dalam dulu di masa mudanya Gusr Dur kuliah di Kairo, Mesir. Suatu sore bersama sahabatnya, Gus Mus alias KH Mustafa Bisri, beliau menerima tamu seorang ‘yunior’ pelajar yang baru datang dari tanah air dan akan kuliah di sana. Sekarang si yunior ini sudah menjadi kiai besar disebuah pesantren di Jawa Timur selatan-barat.
Mestinya adegan-adegan ini saya kisahkan langsung di panggung dengan formula teater, karena bentuk tulisan seperti ini tidak bisa mengangkut nada, irama dan musikalitas secara maksimal. Oleh karena itu saya padatkan saja, tanpa teaterikalisasi audio-visual.
Singkat kata Gus Dur dan Gus Mus maenyambut si yunior dengan penuh keakraban. Mempesilakannya duduk, menawarkannya minum. Si yunior memilih kopi, Gus Mus memasak air, Gus Dur mengambil cangkir, lepek dan lap pembersih. Di sinilah pusat tema kita.
Lap pembersih itu bukan kain lap sebagaimana lazimnya. Yang dipegang Gus Dur adalah cawat alias celana dalam. Cangkir dan lepek dengan celana dalam itu, Gus Dur berkeliling secara prima. Wajahnya tanpa ekspresi, tanya ini itu kepada si yunior, sambil tangannya mantap menggosok-gosokkan celana dalam itu ke cangkir dan lepek.
Tentu saja si yunior jadi BI. Salah tingkah, namanya tersinggung, tapi tidak punya keberanian untuk tersinggung, karena tuan rumahnya ini jangan-jangan adalah seorang wali yang menyimpang karamah dan barakah di balik celana dalamnya si yunior berpikir mungkin ini sebuah fatwa: Gus Dur bisa jadi sedang memberi peringatan kepadanya agar selama kalian di Kairo ia benar-benar menumbuhkan kemampuan iman dan akhlak untuk menjaga muatan celana dalamnya semaksimal mungkin. Pokoknya berhati-hatilah dengan segala hal yang berkaitan dengan celana dalam.
Tapi itu semua adalah realitas nilai. Realitas moral dan teologi. Yang paling yunior rasakan sekarang adalah kopi yang bercampur dengan segala unsur yang dimungkinkan terkandung oleh celana dalam. Dan lagi secara psikologis maka mungkin minum kopi sambil merasakan gigir celana dalam dengan segala citra dan imajinya di antara dua …. Kayaknya belum pernah ada mitos, buku hasil riset atau bahan apapun yang pernah memberikan ada orang membersihkan cangkir kopi dengan celana dalam. Juga tidak pernah ada riwayat tentang orang paling gila dari belahan bumi manapun yang kelakuannya mblunat seperti ini. Apalagi karena si yunior memiliki ilmu kasyful hijah sehingga ia tahu bahwa tuan rumahnya inilah yang kelak sempat menjadi orang nomor satu di negaranya. pasti epidemi yang muncul kelak adalah penyakit pusing kepala di seantero nusantara.
Tapi sudahlah. Mau bagaimana. Si yunior akhirnya menganggap bahwa seniornya ini memang sedang mempelonconya, si yunior mengerahkan segala daya upaya psikologis untuk mengikhlaskan dirinya meminum kopi celana dalam ini. Bahkan iapun ikhlas tatkala Gus Dur masuk kamar mandi mengambil sikat gigi, kemudian mengaduk kopinya dengan sikat gigi.
Saya harus ambil ‘jalan tol’ apa pendapat anda mengenai celana dalam dan sikat gigi presiden kita ini ?
Kalau pakai husnudh-dhon atau positive-thinking. Kita bisa melontarkan argumentasi. Siapa bilang itu celana dalam ? Itu adalah kain. Dan Gus dur belum pernah memakainya. Kain itu bersih, baru dari toko dan sudah sempat dicuci satu kali. Secara kedokteran kain itu well-recommended untuk dijadikan lap cangkir. Juga sikat giginya belum pernah menyentuh gusinya Gus Dur. Ia bersih seratus persen. Pak dokter tak akan marah dan menyalahkan Gus Dur.
Tapi tidak etis, dong ? “Bahwa ini adalah celana dalam”, demikian kira-kira kata Gus Dur kepada si yunior. “Itu adalah persepsi yang berasal dari konsepmu sendiri, sedangkan bagiku ini adalah kain yang bersih”.
Ah, betapa luasnya masalah ini. Betapa panjang kalau kita mendiskusikannya. Pandanglah dari sudut filosofi satuan-satuan ilmu, managemen, empirisme sosial, atau apapun saja. Kita men-thawaf-i celana dalam, tapi saya akan mengambil dari satu sudut kecil saja. PKB atau celana dalam atau kain ? PDIP, Golkar, PPP, PAN dan lain-lain itu celana dalam atau kain.
Mungkin Golkar itu jas, PDIP celana panjang, PPP satu PAN kaos, PKB celana dalam, atau terserah bagaimana anda mengindetifikasinya. Tapi yang jelas celana dalam kaos jas dan lain-lain itu sama-sama kain, PKB, PDIP, Golkar dan lain-lain itu sama-sama Indonesia. dan tidak pernah ada cerita tentang celana dalam bertengkar lawan kaos, jas lawan dasi, atau celana panjang lawan kemeja. Mereka semua bekerja sama untuk menutupi aurat pemakainya, bekerjasama untuk membangun kehormatan bagi pemakainya.
Sesudah menjadi presiden, Gus Dur sendiri tak boleh berpikir dan bertindak dengan orientasi celana dalam. Ia harus berpikir kain dan mengambil keputusan berangkat dari kain dan kain untuk pemakai kain itu. Gampangnya Gus Dur bukan orang PKB, bukan NU, melainkan Indonesia.
Emha Ainun Nadjib Pengamat Sosial & Budayawan
Mengenang Ibu 25 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.add a comment
“Kasih ibu…, kepada beta…, tak terhingga sepanjang masa….
Slalu memberi.., tak harap kembali…, bagai sang surya menyinari dunia…”
Dulu , ketika aku masih duduk di bangku kelas I sekolah dasar, Ibu guru ku selalu mengajarkan lagu Sang Surya Menyinari Dunia. Hampir setiap hari lagu itu selalu dinyanyikan bersama-sama anak-anak satu kelasku, sebelum kami semua pulang meninggalkan bangku kelas, untuk kemudian kami pulang menuju rumahnya masing-masing. Kini 26 tahun sudah masa-masa itu aku tinggalkan. Seiring dengan berjalannya sang roda waktu dan bertambahnya usiaku. Lagu itu masih dapat kuhafal dengan jelas dan tak terlupakan satu nada pun. Lagu ini mengingatkanku pada sesosok wanita mulia yang baik hati dan lembut hati, penuh pengertian dan sabar. Sangat memanjakan aku disaat aku masih kecil dulu. Wanita itu adalah Ibuku.
Mengenang sosok Ibu, seolah-olah tidak akan pernah ada habisnya. Bagai sebuah mata air yang sejuk dan menyejukkan. Airnya jernih dan berlimpah, mengalir deras menyusuri kali-kali dan selokan, hingga akhirnya tertampung dalam bejana lautan nan luas. Airnya tak kunjung mengering meskipun kemarau nan panjang menerpa belantara kehidupan ini. Maka tidaklah keliru jika sebuah syair lagu sang surya yang menyinari isi dunia dijadikan sebagai perumpamaan kasih sayang seorang Ibu terhadap anak-anaknya. Sang surya dengan sinarnya menerangi isi bumi, walaupun sejatinya tak pernah sedikitpun bumi dan isinya balik menyinari sang surya.
Demikian juga dengan kasih sayang Ibu. Kasih sayang Ibu yang murni tanpa mengharap balas jasa dari anak-anaknya, terus tercurah sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidup anak-anaknya. Dari semenjak ia dilahirkan dengan bertaruh nyawa Ibunda, hingga ia meninggal dunia. Kasih sayang Ibu senantiasa ada untuk anak-anaknya. Walaupun terkadang dan tidak jarang perlakuan dari anak-anak yang dicintainya bertolak belakang dengan apa yang dicurahkannya. Ibarat pepatah; Air susu dibalas dengan air tuba.
Bicara soal kasih sayang seorang Ibu, identik dengan cinta sejati. Jadi teringat ketika wkaktu dulu aku aktif di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Aku pernah mendengar sebuah Taushiah dari seorang senior ku, dalam suatu acara pengkaderan Taruna Melati;
“Didunia ini tidak ada cinta sejati. kecuali 4 hal yang bisa disebut sebagai cinta nan sejati;
Cinta Alloh SWT kepada hamba-hambanya,
CInta Rasululloh kepada ummatnya,
Cinta Ibu kepada anak-anaknya, dan
Cinta seorang suami terhadap Istrinya.
Selain dari itu adalah bukan cinta sejati. Melainkan Syahwat”.
Aku tidak tau persis bersumber dari manakah Taushiah tersebut. Namun logika dan idealismeku masih bisa menerima hal itu sebagai suatu kebenaran.
Selama hayatnya, Ibuku selalu rajin dan disiplin. Pekerja keras, jujur dan tekun beribadah. Dalam mendidik anak-anaknya, beliau selalu menekankan pada kedisiplinan dan kejujuran, walaupun terkesan keras. Tidak jarang beliau memukul ku jika aku tidak patuh pada perintah dan nasihat-nasihat beliau. Namun Ibuku juga orangnya lembut dan penyayang. Dulu, tak ada satupun permintaanku yang tidak pernah di penuhi. Walaupun harus mengorbankan kepentingannya sendiri.
Teringat saat dulu, ketika aku lulus SD, Ibu sangat bangga sekali terhadapku. Karena pada waktu itu Nilai Ebtanas Murniku (NEM) paling tinggi di Rayon SD tempatku belajar. Nilai rata-rata NEM ku mendapat angak 7. Terutama Nilai Mata Pelajaran Matematika, mendapat angka 8. Tak henti-hentinya Ibuku bercerita kepada orang-orang tentang prestasiku di sekolahan. Apalagi ketika aku di terima di SMP N 01 Margasari, SMP Vaforit di kampungku. Semenjak diterimanya aku di SMP Negeri I, akulah yang selalu di utamakan oleh Ibu. Ketimbang pekerjaan lainnya sperti, mengisi bak kamar mandi, membersihkan rumah, menyapu halaman, mencuci pakaian dan seabreg pekerjaan rumah tangga yang lainnya.
Aku masih ingat sekali, dulu ketika hari pertama aku masuk SMP dan wajib mengikuti penataran P4 pola 45 Jam. Setiap pagi aku harus datang pagi untuk mengikuti upacara rutin, Apel Pagi. Pada waktu itu keluarga kami sedang dalam kesulitan ekonomi yang teramat sangat. Ba’da isya, sehabis sholat witir, Ibu pergi ke rumah Pa De’ buat pinjam uang dan satu kaleng beras. Ibu meminjam uang ke Pa De’ seperlunya saja, Rp. 300,-. Uang itu buat sangu aku berangkat ke sekolah keesokan harinya. Dua ratus rupiah buat naik dokar –kereta kuda- pulang pergi dari kampungku ke Margasari dan sebaliknya, yang seratus rupahnya lagi buat dibelikan gorengan buat lauk dan sekedar minum. Sementara untuk makan siang, Ibu membuatkan aku lontong dari beras yang di pinjam dari Pa De’ tadi. Begitu selama seminggu, selama masa-masa penataran P4 pola 45 jam yang aku ikuti di SMP 01 Margasari.
Ibuku orangnya sangat pekerja keras. Pantang menyerah dan tidak pernah mengeluh. Ketika beliau sedang mengandung adikku 8 bulan, pernah Ibu bekerja sendirian tanpa dibantu oleh seorangpun. Menggendong gabah seberat 75 Kg, dibawa ke penggilingan padi yang jaraknya kurang lebih 1,5 KM dari rumah kami, untuk di jemur kemudian selanjutnya digiling menjadi beras. Pekerjaan itu dilakoni Ibu selama 1 bulan, selama musim panas berlangsung. Sampai kemudian Adik saya perempuan lahir. Adikku lahir ketika aku berusia 10 tahun. Selama masa-masa itu Ibu tetap mengutamakan kepentingan-kepentinganku, walaupun tanpa aku minta sekalipun. Ibu bekerja keras siang dan malam tanpa mengenal lelah. Berjuang mengutamakan anak-anaknya yang sangat disayanginya.
Seingatku, semenjak aku kecil hingga akhir hayatnya Ibu, sehabis sholat magrib, Ibu selalu rajin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kecuali jika beliau “berhalangan” saja, maka beliau libur tidak membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ibu membaca Al-Qur’an mulai dari sehabis sholat magrib hingga masuk waktu sholat Isya. Bahkan, tidak jarang pula sehabis Isya, jika semua pekerjaan sudah selesai, Ibu melanjutkan membaca Al-Qur’an hingga larut malam. Tidak jarang dalam satu bulan saja, Ibu sudah khatam Al-Qur’an dua kali.
Pada tahun 1992, Ibu sakit keras. Ibu terkena kanker rahim dan harus di operasi. Aku benar-benar salut dan kagum sama Ibu, dalam penderitaan sakitnya, beliau masih tetap menyempatkan kebiasaannya membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an,. Yang selalu dilakukannya sehabis magrib hingga terdengarnya azan Isya. Ibu tidak menyerah begitu saja dengan sakitnya. Walaupun musti bolak balik di papah oleh aku dan Bapak ke kamar mandi untuk berwudlu, Ibu bersikukuh untuk tetap rajin beribadah. Benar-benar manusai Super yang sudah teramat langka ditemui dizaman edan seperti sekarang ini.
Begitu istiqomahnya Ibuku yang aku dan sebagian masyarakat di kampungku saksikan. Mungkin Karena kesalehan Ibu inilah, Ibu sangat di segani oleh masyarakat di kampungku. Walaupun Ibuku hanya seorang wanita kampung yang lugu dan sederhana, yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 6 SR dimasa kolonial dulu.
Sebelum waktu ashar menjelang Ibu wafat, aku pergi kewarung sebentar membeli minyak tanah untuk bahan bakar lampu tempel sebagai penerangan di rumah kami. Sudah tiga bulan listrik dirumah kami padam karena sudah 5 bulan kami belum sanggup membayar tagihan listrik. Waktu itu suasana mendung sekali,
“tampaknya akan turun hujan lebat malam ini”. Begitu gumamku dalam hati.
Tiba-tiba entah datangnya darimana, angin yang sangat kencang berhembus menyapu rumah-rumah penduduk. Hingga banyak yang gentengnya kabur beterbangan dan berantakan. Bahkan tidak sedikit rumah-rumah yang jendela kacanya pada pecah lantaran diterjang angin yang sangat kencang tersebut. Aku berteduh di halaman sebuah rumah. Sesaat itu pula, angin yang bertiup sangat kencang tadi langsung berhenti. Ditempat aku berteduh , ada seorang kakek-kakek, namanya pak Kisro. Pak Kisro ini dikenal sebagai penganut aliran kejawen dikampungku. Dia bilang kepadaku waktu itu;
“Man…, Ini kayaknya pertanda tidak lama lagi akan ada Orang Besar yang akan meninggal dunia. Dulu, ketika Bung Karno mau meninggal juga terjadi Angin kencang yang aneh seperti ini” begitu tuturnya.
Tak terbersit sedikitpun kalau yang dimaksud Orang Besar tersebut adalah Ibuku. Setidaknya dalam pandanganku; Ibuku adalah Orang Besar yang sangat aku hormati. Jauh melebihi penghormatanku terhadap para penguasa yang korup dan lalim.
Semenjak ‘asyar tadi Ibu minta tidur dipangkuanku. Setelah terdengar ‘Azan magrib, Ibu minta sholat diimami oleh aku. Sembari berbaring Ibu melaksanakan sholat magrib dan aku sebagai Imamnya. Ibu meng-amini Alfatihah yang aku bacakan, dengan jelas dalam sholatnya. Setelah salam, Ibu minta tidur di pangkuanku lagi.
Ibu meninggal dalam pangkuanku. Ba’da magrib tanggal 3 maret 2003. Sebelum Ibu mengehembuskan nafas yang terakhir, entah dapat inspirasi dari mana, sempat -sempatnya aku menuntun Ibu untuk melafaz kan kalimat Thoyyibah; “Laa illaa haillalloh…”. Lima kali aku membisikan kalimat thoyyibah tersebut di telinga kanan Ibu, lima kali juga Ibu mengikutinya dengan suara yang lirih. Sesaat setelah itu, badan Ibu langsung lunglai dan dingin. Detak jantung dan denyut nadinya berhenti. Kedua tangannya bersilang diatas uluhatinya. Nafasnya sudah tidak ada lagi. Innalilahi wainna ilaihi roji’un. Ibuku sudah meninggal dunia. Sontak saja terdengar tangisan anggota keluargaku yang sangat memilukan. Sekuat tenaga aku membendung tangis ku yang sudah mencekik tenggorokan. “Aku harus kuat….”, begitu gumamku dalam hati. Aku tidak ingin kesedihanku akan memberatkan langkah kepergian Ibu menghadap Illahi robbi.
Masih lekat dalam ingatanku, siang tadi adalah tanggal 1 Muharram. Tahun baru Islam. Malam itu berarti sudah masuk tanggal 2 Muharam. Tahun hijriyahnya aku lupa persisnya. Yang jelas tanggalan masehi waktu itu menunjukkan tahun 2003. Harinya hari senin malam selasa. Setelah sholat isya, aku dengan dibantu para tetangga, mempersiapkan segala sesuatu untuk mengurus jenazah Ibu. Kursi-kursi dan meja semua dikeluarkan. Secara maksimal dan dengan sukarela mereka membantu kami. Aku tidak tau siapa yang mengundang mereka datang ke rumah kami. Tau-tau saja sudah banyak orang-orang dan tetangga-tetangga yang datang membantu.
Entah siapa yang menyiapkan, tau-atu di ruang tengah sudah tersedia kain kafan sepanjang 15 meter.
“Rahman…, biar kami saja yang mengurus kain kafan ini, sebaiknya kamu mandikan saja jenazah Ibu mu”. Bisik beberapa orang Ibu dari Jam’iyah Fatayat NU dan dari Jam’iyah ‘Aisiyah Muhammadiyah kepadaku.
Aku lupa siapa persisnya kedua Ibu itu. Drum-drum air sudah disiapkan berjejer untuk menampung air yang akan digunkanan untuk memandikan jenazah Ibu di halaman samping.
Sesuai dengan ajaran Rosululloh SAW yang aku pelajari selama mengaji, jika memandikan jenazah, maka aku memulai memandikan jenazah Ibu dari anggota tubuh yang biasa dipakai bila berwudlu. Dimulai dari kedua telapak tangan, wajah, mulut, kedua lengan, rambut, kepala dan kedua telinga, dan selanjutnya kedua kaki Ibu, semuanya aku basuh dengan sangat hati-hati. Sebelum aku memandikan jenazah Ibu, terlebih dahulu aku mengurut uluhati dan perut Ibu agar kotoran-kotaran yang masih tersisa dalam perut bisa keluar. Sehingga jazad Ibu dikuburkan sekaligus menghadap Alloh Robbul’izzati benar-benar dalam keadaan suci. Mbak Zaitun, anak pertama Ibu sekaligus kaka perempuanku yang pertama, Ikut membantu memandikan Jenazah Ibu.
Setelah prosesi pen-sucian jenazah ibu selesai dilakukan, aku dengan dibantu Pa’ De’, kakak dari Ibu, dan Paman, Adik paling bungsu Ibu, mengangkat jenazah Ibu untuk di kafankan. Sementara itu diruangan yang lain, dan diberbagai sudut raungan kosong rumah kami, tidak sedikit Ibu-Ibu duduk bergerombol, bersimpuh melingkar mengitari ruangan, melantunkan bacaan Surat Yasin. Sebagaimana lazimnya ada orang yang meninggal dunia. Lantunannya begitu syahdu terdengar mengalun. Mengisi tiap sudut bilik tiap-tiap ruangan di rumah kami. Berbaur dengan suasana haru biru dan terlarut dalam suasana duka cita keluarga yang ditinggalkan Ibu. Terutama aku anak laki-laki Ibu yang paling besar.
Dengan dibantu beberapa ibu-ibu anggota Jam’iyah Fatayat NU dan ‘Aisyiah Muhamamdiyah, aku ikut melakukan proesesi peng-kafanan jenazah Ibu. Proses ini tidak begitu sulit, karena saya dibantu oleh Ibu-Ibu yang sudah piaway dalam hal mengurus jenazah. Tiba-tiba ada seorang wnaita tua, bulik dari Ibu yang datang dengan membawa bedak menghampiri jenazah Ibu yang hampir selesai dikafani.
“Badhe nopo mbah….?” (mau apa mbah..?) Aku bertanya pada wanita itu.
“Ibumu pan ngadep maring Gsuti Alloh. Dipupuri disit. Ben ayu…”. (Ibumu akan menghadap Gusti Alloh, dibedaki dulu. Biar cantik….). Begitu wanita tua itu menjelaskan.
Sebenarnya aku tidak percaya sedikitpun terhadap adat istiadat penduduk kampungku. Apalagi hal itu jelas-jelas menyimpang dari keyakinan ku yang aku percayai. Namun apalah dayaku, disaat suasana hati yang sedang dalam dirundung kedukaan, terkadang orang akan terasa sulit mengungkapkan apa yang ada didalam hati dan benaknya.
Seusainya jenazah Ibu dikafankan, kemudian disemayamkan di ruang tamu. Karena menurut pertimbang kami ruang tersebut relative cukup luas untuk men-solatkan jenazah. Tanpa terasa prosesi pengurusan jenazaha Ibu berlangsung cukup cepat dan rapi. Dari memandikan sampai dengan mengkafankan berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Subhanalloh. Waktu itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.30. Berangsur-angsur, secara bergiliran orang-orang yang hadir mulai mensholatkan jenazah Ibu. Berdiri ber shaf-shaf, empat kali takbir hingga salam. Kemudian berdoa. Ada yang berdoanya panjang, ada juga yang berdoanya pendek saja. Satu rombongan jama’ah selesai mensholatkan jenazah Ibu, kemudian berganti dengan jama’ah yang lain. Begitu seterusnya. Hingga waktu menunjukkan pukul 23.00, barulah rumah kami mulai sepi. Orang-orang dan tetangga yang tadi ramai berdatangan, satu persatu pulang kerumahnya masing-masing. Suasana rumah kami muali agak lengang, tidak seramai tadi sore. Hanya beberapa kerabat dekat Ibu dan teman-teman baik keluarga kami yang masih berada dirumah kami menemani kami yang sedang berkabung.
Selepas itu, aku dengan ditemani adik laki-laki ku yang paling kecil, duduk bersila disisi jenazah Ibu. Aku buka Al-Qur’an kecil yang aku beli dimasa aku SMA dulu. Kemudian aku buka surat Yasin dan kemudian aku bacakan. Jika sudah selsai surat Yasin aku baca, maka aku mengulanginya lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang aku bacakan Surat Yasin disisi jenazah Ibu hingga ‘azan subuh berkumandang. Semenjak saat itu, aku jadi suka dan sering membaca surat Yasin.
Keesokan paginya, Mbakyuku yang kedua, mbak En, anak kedua Ibu, kakakku persis, sudah tiba datang dari Jakarta. Rupanya tadi malam ada sanak kerabat yang interlokal mengabarkan kepada nya kalau Ibu sudah wafat. Jam 6.30 persis mobil yang dinaiki Mbak En masuk ke halaman rumah yang sudah mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melayat serta mengiringi acara penguburan jenazah Ibu yang akan dilaksanakan beberapa saat lagi. Banyak sekali orang-orang yang datang melayat jenazah ibu. Bukan hanya penduduk kampungku saja, ada banyak juga dari tetangga kampung sebelah. Tidak tau persis jumlahnya berapa, tapi yang jelas jalanan didepan rumahku ramai penuh sesak dengan warga yang melayat jenazah Ibu. Subhanalloh…, laksana seorang pejabat saja yang meninggal dunia. Sampai-sampai lalulintas jalan didepan rumah sempat dialihkan ke jalur alternative oleh aparat desa karena macet.
Ibuku hanya orang biasa saja. Sebagai mana perempuan kampung pada umumnya. Namun seingat ku, Ibu selalu berbuat baik pada siapa saja. Suka menolong tetangga, bahkan orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Pernah suatu ketika ada tetangga yang istrinya melahirkan dan tidak mempunyai biaya untuk ke bidan, Ibuku mengiklaskan uang hasil menjual buah mangga milik nya. Jumlahnya tidak terlalu banyak, Cuma Rp 120.000,- saja. Tapi pada saat itu ekonomi keluarga kami sedang memprihatinkan. Kami jarang makan nasi. Setiap hari kami hanya makan bubur atau nasi jagung. Tapi Ibu dengan tidak perhitungan, diberikannya sejumlah uang itu untuk membantu tetangga yang sedang dalam kesusahan.
“Sudahlah.., diiklaskan saja.., yang penting kita sehat. Mereka sedang sangat membutuhkan uang ini. Insya Alloh ada rizki lain buat kita.” Begitu kata Ibu waktu itu. Kenangku dalam hati.
Kini jenazah Ibu sudah siap untuk dibawa ke pemakaman. Seorang tokoh ulama kampung kami sudah menyampaikan taushiah-taushiah dan nasihat-nasihatnya tentang seputar musibah dan kematian kepada segenap orang yang hadir pada hari itu. Sesaat sebelumnya, aku memimpin kedua kakakku dan kedua adikku menyolatkan jenazah Ibu. Kami adalah jama’ah yang paling akhir, yang men-sholatkan jenazah Ibu.
Dengan diiringi tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, keranda mayat yang didalamnya terdapat jenazah Ibu, dengan diusung empat orang pemuda kampung, perlahan-lahan bergerak meninggalkan pelataran rumah kami. Aku berjalan didepan, disebelah kanan keranda yang membawa jenazah Ibu. Orang-orang melarangku untuk ikut mengusung jenazah Ibu. Entah apa alasan mereka, namun yang jelas kepercayaan penduduk di kampung kami; seorang anak dilarang ikut mengusung jenazah orang tuanya yang sudah meninggal.
Sesampainya di pemakaman, disana sudah siap sepetak liang lahat yang akan digunakan untuk menguburkan jazad Ibuku. Semuanya sudah tertata rapi dan sudah siap digunakan untuk acara penguburan jenazah. Setelah keranda dibuka dan jenazah Ibu siap untuk diangkat dan selanjutnya diletakkan ke liang lahat, tanpa dikomando aku langsung turun kedalam liang lahat untuk menerima jenazah Ibu untuk diletakkan menghadap arah kiblat. Kemudian menyusul kakak sepupuku dan kaka iparku turun ke liang lahat. Jenazah Ibu diangkat oleh tiga orang dan dijulurkan kepada kami yang sudah berada di dalam liang lahat. Aku mengangkat bagian tengah jenazah Ibu, aku peluk erat-erat dan dengan sangat hati-hati. Sementara kakak Iparku mengankat bagian kepala, dan kakak sepupuku, anak dari pa De’, mengangkat bagian kaki Ibu. Sesaat setalah jenazah Ibu sudah kami usung bersama-sama, secara bersama-sama pula kami letakkan jenazah Ibu kedalam liang lahat dengan kepala Ibu membujur kearah utara, dan tubuh Ibu dimiringkan dengan muka menghadap kiblat.
Saat-saat yang sangat mendebarkan itu akhirnya datang juga. Dimana saat-saat yang paling penghabisan aku memandang wajah Ibuku. Selanjutnya entah kapan lagi bisa kusaksikan senyum dan wajah yang dimiliki Ibuku. Aku buka seluruh ikatan kain kafan yang mengikat bungkusan jenazah Ibu. Dari ikatan kepala, pinggang dan kaki. Kemudian aku buka wajah Ibu. Ada keanehan waktu aku lihat wajah Ibuku. Tadi pagi ketika mbakyu ku anak Ibu nomor dua membuka wajah Ibu, terlihat jelas banyak bedak diwajah Ibu. Tapi kala itu yang aku saksikan wajah Ibu begitu bersih dan basah, laksana orang yang habis membilas wajahnya dengan air yang segar.
Sesaat aku terpaku menatap wajah Ibu yang sepintas terlihat seperti orang yang sedang tidur. “Ya Alloh…, apakah ini yang disebut dengan perpisahan haqiqi…?. Sebentar lagi aku sudah tidak dapat menemui Ibuku lagi. Wajah Ibuku masih bisa aku tatap dan aku sentuh. Namun beberapa saat lagi semua ini akan berakhir. Entah kapan lagi aku bisa menemui Ibuku…”. Lidah ini terasa kelu. Diam seribu bahasa. Tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Tak ada saupun kalimat yang dapat melukisakan kesedihan hatiku saat itu. Aku hanya mampu berguman dan bertanya-tanya dalam hati saja; “YA Alloh…, kapan lagi aku bisa bertemu dengan Ibuku lagi…..?”.
Tiba-tiba terasa punggungku ada yang menepuk, menyadarka aku dari keterpakuanku. “Rahman.., kamu yang iklas ya..?, Ibumu sekarang sudah saatnya untuk dikuburkan. Jangan dibiarkan berlama-lama. Kasihan Ibumu. Kamu harus Iklas”. Suara pak ustad Mubin, guru agamaku waktu aku SD menyadarkanku. Aku hanya bias mengangguk saja.
Selanjutnya seseorang turun disebelahku. Aku masih diliang lahat waktu Itu. Orang itu lalu mengumandangkan ‘Azan dan Iqomat persis disisi kepala Ibu. Setelah itu papan-papan penutup liang lahat satu persatu mulai diturunkan dan dipasang. Dan tanah-tanah merah yang sedari tadi bergunung-gunung disekitar liang lahat, kini sedikit demi sedikit mulai menimbun jazad Ibu. Aku perhatikan dengan seksama, lama kelamaan jazad Ibu tidak kelihatan. Yang tampak hanyalah gundukan tanah merah dengan sepasang batu nisan bertuliskan nama Ibuku. Kini aku sudah tidak punya Ibu lagi.
Tidak ada tanda-tanda kalau Ibu mau pergi meninggalkan kami semua. Ibu sakit komplikasi yang teramat parah. Liver dan ginjalnya mengalami peradangan. Begitu juga selpaut paru-paru Ibu yang sebelah kanan. Belum lagi ditambah dengan Diabetes yang sudah Ibu derita semejak habis di operasi kandungannya dulu. Dengan sekuat tenaga, semampunya kami semua berikhtiar melakukan berbagai pengobatan untuk Ibu. Kami, terutama aku, tidak putus asa untuk berupaya mencari biaya pengobatan untuk Ibu tercinta. Bahkan tidak sedikit barang-barang rumah kami dan perabot rumah tangga yang kami punyai, kami jual untuk tambahan biaya pengobatan Ibu. Namun Alloh SWT berkehendak lain. Jalan yang terbaik bagi Ibu sudah ditentukan.
Dulu ketika Ibu masih hidup, kehadiran Ibu dirasa bukanlah apa-apa, seakan-akan tidak ada kesan yang istmewa. Cuman kadang aku butuh Ibu jika hanya ada masalah saja. Namun kini, setelah Ibu tiada, selalu hadir perasaan rindu yang teramat sangat kepada Ibu. Seperti perasaan rindunya sang anak kecil yang ditinggal pergi Ibunya kepasar tanpa pamit terlebih dahulu. Anak kecil itu akan menangis meraung-raung mencari Ibunya kesana kemari. Seperti itulah gambaran rasa rinduku pada Ibu yang aku rasakan hingga detik ini. Kian hari kian berat saja kurasa. Hanya mimpi bertemu dengan Ibu lah satu-satunya pengobat rindu ini.
Hingga detik ini, sosok Ibu dalam diriku tidak pernah tergantikn dengan apapun. Bahkan dalam keseharianku, aku masih merasakan kalau Ibuku masih hidup. Tidak jarang jika aku jalan-jalan ke Mall dan pusat-pusat perbelanjaan, aku sering membelikan kain untuk Ibuku. Lucunya, setelah kain itu aku bayar dikasir, aku baru ingat kalau Ibu sudah tiada.
Ya Alloh.., jika Engkau perkenankan Ibuku hidup kembali, walau hanya sesaat. Aku ingin bersujud di kedua kaki Ibuku. Memohon ampun atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanku yang sering aku lakukan dimasa hidupnya. Biarlah semua penderitaan dan kepedihan hidup yang pernah aku alami Engkau timpakan kembali kepadaku. Asalakan dapat kudengar langsung dari mulut Ibuku, menerima dengan iklas semua maaf atas kesalahan-kesalahanku.
Arif Rahman Hakim
Kumpulan Puisi 25 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Notes.Tags: cinta, kumpulan, madah, puisi
add a comment
waktu yang berlalu
aku adalah daun yg gugur
dalam musim semi yg kau ciptakan
mengeringkan asa yg tercipta untuk masa
sedemikian hidup ku rancang
agar tak berserakan
seperti mimpi dalam hening malam
seperti doa yg tersusun rapi dalam ucap-ucap bibir
aku nyanyikan lagu ini
kau menarilah
sedemikian lagu ini aku dendangkan
dengan doa bulan purnama
dengan nafas sang pujangga
berserakan seperti bintang dihari ini
aku bersinar tak akan lelah
seperti mentari
kau teruslah berlari ditengah kerisauan
aku mananti dalam ribuan tahun jarum karat.
BUNGA DIPADANG GERSANG
Dipadang gersang tumbuh sekuntum Bunga Mawar
Tercium semerbak harum bunga
Kau terelok akan keindahannya
Kau tak tahu bunga yang kau petik Bunga Mawar Berduri
Kau simpan dalam ruang tidurmu
Dalam setiap derap langkah dan hari-harimu
Tlah kau lalui bersama dalam suka dan duka
Tanpa praduga dan prasangka Bunga Mawar itu jatuh
Jantungmu berdegup kencang, langkah kakimu pun berhenti
Kau ambil bunga yang jatuh ketanah
Tanpa kau sadari Bunga itu tlah melukaimu
Guinevere
Pada pandang mengayunkan langkah kaki,
berkejaran dengan temaram senja.
Lembayung merah membayang,
lesu, getir dan sunyi menerbangkan
kepak-kepak kepenatan.
Guinevere, pada pelita malam dan
kelip-kelip bintang, hinggap tinggi
kepada malam yang masih panjang.
Sejenak aku melupakan diri,
berbisik angin lembah membisikan getar-getar gairah
kepada api kecintaan untuk dirimu.
Tergeletak dalam layu dan sosok gersang,
embun pagi menghidupkanku untuk tegak berdiri
dan membangun kembali impian.
Di puncak kubah sebuah tempat ibadah,
aku terkapar gamang, kupaksa tuk menatap cakrawala
dalam detak-detak temaram yang menghujam.
Kucari pelita, tengadah ke langit,
tidak ada bintang-bintang,
kubuka baju selubungku, tak kurasakan desiran angin
yang menghidupkan harapan-harapan.
dunia ini telah sepi, cedera dan tinggal sebagai sebuah tanda yang cemas
untuk nanti akan dikatakan sebagai apa.
Guinevere …..
dalam diamku memimpikan pagi,
aku masih terasing pada sebuah malam yang aneh.
Aku diam …. diam ….
hingga kutemukan sebuah bara dalam hatiku,
kemudian aku berdiri telanjang,
aku berkata lirih “sialan Engkau Tuhan”
dan malam pun semakin sepi, sunyi
bersama kelip kecil lentera yang akan segera padam.
Berakhir …….
love
Love is It
Love is unpredictable Love is uncontainable
Love is reliable Love is infallible
Love is right Love is wrong
Love is weak Love is strong
Love is good Love is pure
Love is real Love is sure
Love is jealous Love is pain
Love is lost Love is gained
Love is naked Love is raw
Love is everything Love is all
Love is here Love is there
Love is beautiful Love is fair
Love is great Love is shit
Love is demanding Love is it….
Paul LaFalce
rindu jiwa
Hilangnya asa
Hilangnya rasa
Hilangnya gairah
Itu semua karena cinta
Tapi cinta……..
Bisa membuat indah
Bisa membuat bahagia
Bisa pula membuat derita
Jika kau merindukan-ku
Bacalah puisi-puisi-ku
Melalui itu, kau bisa melihat jiwaku
Akupun merindukan mu
Selalu Rasa Cinta
Setiap saat kututup mataku
Wajahmu selalu terbayang
terbayang wajahmu setiap kali mimpiku
setiap saat kututup telingaku ingin ku melupakan
terdengar suaramu tapi ku tak mampu
Saat kubuka mata ini
Aku sadar aku orang yang tak mampu
bayanganpun hilang kembali aku sadar aku orang yang jelek
yang ada hanya ku sendiri tapi seandainya kau melihat hatiku
dan kenyataan kau tak kembali ada sesuatu dalam batinku
yang sangat ingin ku utarakan
Ingin ku utarakan isi dihatiku padamu..
tapi tak tahu bagaimana caranya
ku sudah tak perduli dengan aturan Rasa cinta yang datang tiba-tiba
yang memandang cinta hanya dengan harta aku tak mampu menolaknya
hanya aku tinggal menunggu jawabmu
Kau tahu aku mencintaimu mungkinkah kaupun menyukaiku
kau tahu aku merindukanmu
tapi mengapa kau jauhi aku
Rasa cinta yang datang tiba-tiba
apa kau ingin menguji aku
aku tak mampu menolaknya
aku pun ingin menjauhinya
Kuselalu rindu
tapi aku tak kuasa menahannya
setiap waktu
Aku hanya bisa menunggu
Walau hari berganti
cintaku berlalu
walau bumi terbalik
walau matahari tenggelam
dan bulan tak nampak
walau seribu maut menjemputku
ku selalu sayang padamu
by: RHR
KAU LAYAK TERBANG
Terpandang disudut kecil tikungan
Sinar coba hangatkan aku
seorang anak perempuan
dari dinginnya angin
menangis tersedu-sedu sendiri
sinar coba terangi aku
meratapi hidupnya ini
dari gelapnya malam
Melihat bekas rumahnya terbakar habis
Sinar coba terangi langkahku
teringat akan kedua orangtuanya
tuk maju kedepan
seraya menangisi takdir hidupnya
sinar rasuki tubuhku
setelah ia lihat temannya bahagia
dari gelapnya hidupku
Sigadis kecil pun berdiri
tak pernah berlalu
dengan gagah berani
butuhkan kamu tuk terangi hidupku
sigadis kecilpun melangkah maju
pernah jauh dariku
menggapai hidup yang baru
sinar
ku butuh kamu
Sebab kau layak terbang
kau layak terbang
kibaskan sayapmu kedepan musuhmu
tunjukanlah dirimu mampu
railah hidup barumu yang menunggu
Cobaan saat ini pasti bisa kau hadapi
dengan gagah berani
usap kini air mata dipipi
dan langkahkan kaki lalui hari
kebahagiaan telah menanti didepanmu
by: RHR
Oh Mama Oh hujan tolonglah aku
Oh mama..oh mama
Hujan datang mengiringi langkahku
basahi tubuhku dengan air surgawi alam ini
Kasihmu lebih berharga
dari seluruh harta di dunia
menyambar membelah angkasa, langitku
kebaikanmu tak terhingga
gemuruh badai dan petir
sepanjang segala masa
menghiasi langitku yang gelap ini
Walau terkadang ku menganggapnya salah
hujan dinginkan aku
kau tak perduli dan masih mencintai
dari panasnya api yang membara
walau terkadang kau sangat tegas
hujan basahi aku
tapi kau penyayang
dari semua amarah dalam dada
hujan tolonglah aku
Maafkan aku yang selalu melawanmu
dan terkadang tak menghiraukanmu
jangan biarkan air matamu mengalir
itu adalah surga bagiku
Maafkan aku Mah…….
by:RHR
Cinta Aku Mengerti
Bila kau mencintai seseorang
Tak perlu katakan lagi
cintailah dengan cara sederhana
aku pun mengerti
karena..
tak perlu banyak bicara
mungkin esok lusa
aku tahu
orang yang kau cintai
adalah orang yang paling kau benci
Semua telah berlalu
kenangan masa lalu
Dan bila kau membenci seseorang
bencilah dengan cara sederhana
Ku akan pergi
karena..
tak akan kembali
mungkin esok lusa
ku mengerti
orang yang kau benci
ku pergi
adalah orang yang paling kau cintai
Walau kenangan ini tak terasa indah
kan selalu kuingat
walau saat-saat bersamamu
tinggalah mimpi bagiku
by: SaRAH
satu canda yg ku ciptakan dari perih
matahari
tertawa
turun kebumi
lihat diri ku yg dilanda mabuknya cinta
ku minta tolong
bakar sisa2 nafas masa lalu
kemudian rangkai rembulan diufuk timur
tapi pindahkan agar
ia terbit di ufuk barat
ahhh…
tak perlu takut akan akhir
semua jadi bahagia
semua yg tertutupi akan terlihat
tak ada samar
tak ada mega
dan juga hanya teriknya iya bernyanyi
dan siapa aku?
Tuhan bertanya dalam malam
dalam mimpi ku
aku menjawab
tapi bisu
keluh bibirku
bukan berontak
tapi tak kuasa aku tertakjub pada dunia
pada mahkluk ciptaan-Nya
pada janjinya aku bariskan awan
yg hitam didepan kemudian yg putih kurangkai belakangan
agar hujan pertama datang
agar aku dapat menagis
agar aku dapat berdoa
susun cerita diujung senja
agar dapat ku berikan kepada
penguasa abad
penguasa hari,waktu dan air mata.
banda aceh
26 may 0
ungkapan hati
daun gugur
yg mendengar langkahku
angin yg berhembus
yg mendengar detak jantung ku
katakan padanya
aku merindukan lamunan
merindukan tawanya
aku mencintainya
melebihi apa pun
melebihi mentari terik
melebihi purnama temaram
tapi tak selebih mencintai pencipta wujud
Puisi Hari Ini
18Dec2007 Oleh: Kenzt dalam: Puisi KenzT
Hari ini aku mencintaimu
Seperti kemarin ketika rasa ini mulai tumbuh
Hari ini aku tetap mengharapkanmu
Seperti mula aku memintamu mendampingku
Hari ini tak ada satupun yang berubah
Hanya waktu yang semakin panjang untuk sebuah penantian
Tapi kupastikan… hari ini tetap kan ada sepanjang masa
Sayap patah
Sayap2 aku yang patah…
Aku bentangkan dengan jiwa terluka
kucoba paksakan namun angin begitu kuat…
aku mulai sadar begitu sempurna purnamaku…
Aku jalan merangkak kelangit
hanya tertatih dan melayang…
jauh diatas kau tak tersentuh…
kubalutkan luka sayapku…
Ku tunggu angin reda diudara
berdiri dipunggung merindukan bulan berharap
menemukan satu jarum diantara ribuan jerami…
oh takdirlah yang menguatkan aku dan akan ku tunggu sempurnaku demi bulan dan jerami emasku hingga sinarnya menerangi sadarku…
pada dia yg selalu
kisah dalam mimpi
kususun walau aku terjaga
walau seribu jarum menusuk jantung
buat diriku terdiam
pada pola tingkahnya
makhluk itu adalah indah
ciptaan surgawi yg mengetuk sanubari
yg membuat ku tersenyum
suaranya tak membuat ku gentar
parasnya membuat ku gemetar
pada hari yg kulalui
dia membuatku lupa pada luka
perihnya yg kutanggalkan
darahnya yg kukeringkan
ketakjubanku yg kuhitung
bukan kesalahan nafas
bukan rasa akan asa
bukan lelah pada malam
karena malam aku melihatnya
dibawah purnama aku memperhatikannya bernari
aku mencintainya
sejelas-jelasnya
seperi embun yg enggan lepas dari ilalang.
medan
30 may 08
Di Bayang Wajahmu
Melalui senja ini,
dalam temaram cahaya matahari
kulihat guratan hatimu terukir
untuk mengatakan sebuah kata.
Kata yang lepas, bebas seperti rajawali yang terbang tinggi
dan suci seperti api malam menyibakan kabut dingin.
Dibayang wajahmu, kulihat segurat senyum
lambaian kasih yang tegar dan tiada gentar menjelang
gelap malam yang mulai membayang.
Dalam temaram senja ini, kulihat pelita matamu
memancarkan harapan-harapan manusiawi yang suci
untuk dunia yang cedera, letih dan penuh kepalsuan.
Sebelum senja ini beranjak gelap, engkau sapa pejalan ini
dengan senyum mu sembari engkau berkata
“dunia ini masih membutuhkan para pejalan sepertimu,
agar tempat-tempat hidup ini menyandarkan maknanya
dapat engkau ceritakan kepada mereka yang masih setia
dan mencintai hidup”
Sejenak aku lihat, temaram senja pun menjadi gelap,
engkau pergi bersama cahaya matahari yang lepas dari cakrawala.
Kemudian sepi mulai bertahta untuk malam-malam yang aneh.
(mengenang dian, jogjakarta Mei 2006)
Sayap patah
Sayap2 aku yang patah…
Aku bentangkan dengan jiwa terluka
kucoba paksakan namun angin begitu kuat…
aku mulai sadar begitu sempurna purnamaku…
Aku jalan merangkak kelangit
hanya tertatih dan melayang…
jauh diatas kau tak tersentuh…
kubalutkan luka sayapku…
Ku tunggu angin reda diudara
berdiri dipunggung merindukan bulan berharap
menemukan satu jarum diantara ribuan jerami…
oh takdirlah yang menguatkan aku dan akan ku tunggu sempurnaku demi bulan dan jerami emasku hingga sinarnya menerangi sadarku…
Sebersit indah lamunan kala lalu
angin berhembus
memberi Nafas pada hidup
Menyibak kabut meredup
Membentang Indah Warna Pelangi
Balut Garis fatamorgana
Kembali membawa kepak masa itu
terteguk kembali gelisah resah
terbuai angan kembali merayu rayu
titian putaran waktu
Kembali memutarkan
Melantunkan lambaian kasih
Sebersit indah lamunan kala lalu
dengan kata tak bersuara
Aku berteriak dalam diam
Tentang rasa ku kepada bidadari
aku merindukan..aku mencintainya..
Tapi semua tertelan hening yang bening
pelita indah bersambut
memancarkan harapan dan impian diri
tapi harus kubunuh ingin yang terlalu mengingini
Kubuiarkan mimpi lepas dari cakrawala nurani
Biarlah semua kembali bisu tanpa jejak sebuah hati
Depok 2 Juli 2008
Original By Erwin Arianto
SEBUAH RUANG RINDU
Aku mencari,..
Didalam ingatanku
Dilubuk hatiku
Dijejak langkahku
Didetak nadiku
Dihembusan napasku
Dialiran darahku
Disepanjang waktu
Dan kutemukan,..
Jiwa yang menyapa
Dalam sebuah ruang rindu
Lalu,..kuserukan gaungnya
Dilengkungan pelangi
Dikerlipan bintang
Dipijaran surya
Digemerlap bulan
Digugusan mega
Dipenghujung lautan
Diluasnya angkasa
Diseluruh penjuru semesta
Hingga detaknya
Mendekap keajaibanmu
–
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas
Madah cinta mimpi
Wahai sayang ku…..
Ujung jarimu ku kucup mesra malam tadi
Arrrghhhhhh…!
Rupa-rupanya aku bermimpi…..!
Salahkah jika aku bermimpi…?
Berganding mesra bersama mu disebuah taman
Lalu mengikat janji asmara dakapan mesra
Sehidup semati hingga keshurga….
Salahkah jika aku bermimpi?
Mengharap cinta mu sepenuh hati dan jiwa-raga
Suka dan duka hidup bersama
Sehingga kehujung dunia…..
Salahkah jika aku bermimpi?
Menyintai diri mu sehingga mati..!
MADAH CINTA RINDU 03
Tahukah kau ….sayang ku?
Masa berlalu begitu perlahan tanpa diri mu..
Diri ku jadi tidak menentu…!
Aku rindu ingin bersama mu
Aku rindu ingin menyentuh mu
Aku rindu senyuman mu..
Aku rindu belai manja mu
Aku rindu nada suara mu
Aku rindu sentuhan mu
Aku rindu belaian kasih mu…
Arrrggghhhhhh…!
Aku dilamun rindu…!
MADAH CINTA LAGU RINDU
Ingin ku nyayikan lagu rindu
Ingin ku luahkan rasa hati ku
Hanya pada mu
Kerana aku rindu
Terlalu rindu…
Aku cinta pada mu!
MADAH CINTA – HARI RAYA IDIL FITRI
Ku ucapkan kepada semua umat islam
Selamat menyambut hari raya idil fitri
Maaf zahir dan bathin
Dan…
selamat bertemu dilain masa
Dan dilain tulisan
MADAH CINTA DAN KARYA SASTERA
Aku tengok….
Mereka bukannya sibuk menulis!
Mereka bukannya sibuk menambahkan hasil karya mereka!
Tetapi….
Apa yang aku nampak ialah…
Mereka lebih sibuk berbincang, bercerita dan berborak pasal teory sastera!
Botol kicap atas meja
Banyak cakap kurang kerja!
Mereka sibuk mengkritik puisi orang lain!
Mereka sibuk mengulas karya orang lain!
Mereka sibuk cakap ini….cakap itu…..!
Namun….memperbanyakkan hasil karya itu sendiri…mereka tidak pentingkan!
Itulah yang telah aku lihat kenyataannya!
Botol kicap atas meja
Banyak cakap malas kerja!
Kalau tukang cakap memang banyak!
Kalau tukang mengulas memang banyak!
Kalau tukang nak betolkan tulisan orang lain memang banyak!
TETAPI….
Tukang mengarang dan meluahkan rasa hati jiwa sendiri…AMATLAH sedikit!
Botol kicap atas meja
Jangan dibiarkan masuk angin
Kan nanti ….tak sedap pulak rasanya!
Aku berpendapat…
Apa yang penting ialah menghasilkan karya sastera itu sendiri!
Yang penting Menghasilkan LUAHAN inspirasi masing2!
LUAHAN…
Demi luahan……
Demi luahan…demi luahan…!
Itulah yang lebih penting!
(samada orang lain suka atau tidak..itu tidak penting!)
Kerana yang sebenarnya…
Apabila kita cuba menghasilkan sebuah hasil karya dengan luahan rasa hati kita….
Kita SEBENARNYA telah bekerja MENGGILAp HATI JIWA KITA SENDIRI…!
Kita sebenarnya telah berusaha melembutkan dan memperhaluskan hati perasaan jiwa kita sendir!
MENGILAP DAN MENCUCI HATI JIWA SENDIRI ITU ADALAH PENTING..!!
Aku kata…
Bekerjalah dan berusahalah mencuci hati jiwa sendiri sepanjang hayat!
Dan aku kata lagi….
Seni tulis sastera itu….adalah salah satu alat pencuci hati!
Alat pelembut hati jiwa sendiri…!
Barangkali …kita TIDAK akan berjaya untuk mencuci hati jiwa SEMUA manusia dengan karya kita!
Barangkali …karya kita TIDAK berjaya memuaskan hati orang lain!
Barangkali …karya kita di tuduh rendah nilai sasteranya!
Barangkali …karya kita dikata…tidak mempunyai nilai mesej yang baik kepada masyarakat!
Barangkali….
Barangkali….
Namun yang pentingnya ialah….
Kita telah berjaya menyentuh perasaan hati jiwa kita sendiri dengan karya kita!
Kita telah berjaya bekerja mengilap dan mencuci hati jiwa kita sendiri dengan hasil karya kita!
Kita telah berjaya melembutkan kerasnya hati kita sendiri dengan hasil karya kita!
ITULAH YANG LEBIH MUSTAHAK!
Kerana itulah…
Saorang seniman itu sebenarnya bekerja memperindahkan hati jiwanya sendiri supaya…lebih berjiwa halus, indah, lembut lagi murni!
PUISI CINTA SUDAH HILANG!
Aku sudah tidak berdaya!
Puisi cinta ku sudah hilang!
Hilang entah kemana..?
Hati ini menjadi begitu membara
Bila mendapat tahu kisah seorang suami celaka yang suka memperbodoh2kan isterinya!
Kesian si isteri itu!
Kisah si isteri yang sering ditipu olih suaminya!
Kisah si isteri yang sering digertak2 olih suaminya…supaya taat dan patuh kepada suaminya yang laparkan wang ringgit serta membesarkan egonya!
Kisah si isteri yang dihalang olih si suami daripada dapat pergi bercampur mesra bersama ahli keluarganya sendiri!
Kisah si isteri yang dilarang olih suaminya dari pergi mengaji al Quran kerumah ibunya!
Kisah si isteri yang dilarang olih suaminya dari mengaji al Quran bersama2 adik beradiknya!
Kisah si isteri yang sering diperbodoh2kan dan digertak2 olih si suami …yang mengunakan hujah2 agama … agar si isteri menjadi bahalul mengikut perintah si suami tanpa usul periksa!!
Kisah si suami yang pandai berpura-pura dan berlagak alim dan warak dihadapan orang lain semata2 untuk mendapat pujian dan wang ringgit dari orang lain!
Kisah si suami yang sering rasa dengki dan busuk hati terhadap kelebihan orang lain!
DAN…
Kerana itulah…
Aku telah kehilangan puisi cinta ku!
MADAH CINTA DAN HARI RAYA IDUL FITRI
Bulan Shawal berkunjung tiba
Ramadhan sudah berlalu pergi…
Takbir hari raya dilaungkan
Memuji Tuhan sekelian alam
Penuh kesyukuran dalam rintihan
Penuh harapan…..
Wajah ceria berpandangan
Saling maaf – bermaafan
Buang yang keruh ambil yang jernih
Bertekad azam didalam dada
Memperbaharui amal dihari muka.
Hidup didunia hanya sementara
Peluang beramal sentiasa terbuka
Pencucui isi dada dari daki dunia
Satu perjalanan keluhuran jiwa
Meniti usia kehari tua.
MADAH CINTA DAN BULAN RAMADHAN KU
Kali ini bulan ramadhan tiba lagi!
Seperti biasa ramai umat islam berpuasa…
Aku tidak pasti berapa ramaikah yang berpuasa kali ini…
Kadang2 aku terfikir…
Cuaca tidak menentu
Kadang2 panas dan kadang2 hujan
Kenderaan begitu sibuk dijalan raya kota
Manusia zaman ini begitu ligat bergerak kesana kesini
Masing2 dengan usaha masing2 cuba mengejar kejayaan kehidupan….
Ada yang stress dan ada yang keletihan
Masih adakah yang sanggup berpuasa di bulan ramadhan ini..???
Masih adakah yang mahu membersih diri fikiran hati dan jiwanya dengan berpuasa di bulan ramadhan..??
Entah..lah!
Aku pun tidak tahu…
Apa yang ku tahu ialah…
Bulan ramadhan sentiasa bakal tiba setiap tahun!
Selagi dunia belum kiamat!
MADAH CINTA SEDIH
Hatiku terluka lagi!
Siapa yang dapat memahami diri ku ini?
Pada sekeping hati nurani
Dan pandangan yang jauh serta sebuah shurga
Satu kebenaran….
Bagai perisai dan sebuah senjata
Pemagar diri yang terluka ini.
Hatiku terluka lagi..!
Disebalik kabus kejahilan dan kedegilan
Mereka2 yang mengambil mudah erti kewujudan
Pada sekeping hati…
Dan sebuah impian kesejahteraan
Yang pasti kekal abadi!
MADAH CINTA SEBUAH TULISAN.
Wahai kawan2 ku…
Dengarlah bisikan kata2 ku ini.
Tulislah wahai kawan2 ku..!
Tulislah madah cinta mu
Tulislah puisi cinta mu
Tulislah apa2 yang telintas dihati mu!
Rasakan getaran suara hati naluri mu
Biarkan ia bersuara menjerit
Biarkan seisi dunia mendengarkannya luahannya
Luahan rasa hati seorang manusia!
Wahai kawan ku…!
Jangan engkau berdiam diri
Jangan engkau hanya menjenguk disana sini
Komentar sana komentar sini!
Bukankah engkau juga mempunyai rasa hati?
Sedikit naluri untuk berpuisi?
Wahai kawan ku…
Percayalah bahawa …
kita cuma insan biasa
cuba meneroka rahasia kehidupan
Sama-sama juga ada kekurangan
sama-sama ada sedikit kepahitan
Didalam merenangi lautan madah cinta ini
cuba membongkar rahasia hakikat puisi cinta!
PUISI CINTA AIR MATA
Jangan engkau titiskan air matamu ……wahai manis ku!
Jangan engkau murungkan wajahmu ….wahai manis ku
Jangan engkau kurungi diri mu ………… wahai manis ku
Kerana aku…..
Tidak akan dapat meneruskan hidup ku ini
Untuk melihat engkau
Terus berduka!
PUISI CINTA TIDAK DATANG LAGI.
Aku tahu
PUISI CINTA sudah mulai pergi
tidak datang lagi
sudah lari jauh dariku
terlalu jauh
entah dimana.
Aku tahu
PUISI CINTA sedang sakit
tidak lagi bangkit
terlalu uzur untuk memandang ku
tidak mahu bersama ku
dan bosan terhadap ku.
Aku tahu
PUISI CINTA mulai benci terhadap ku
Kerana aku….
dan ramai manusia lain…
sudah berhati batu!
PUISI CINTA KENANGAN BERSAMA.
Pada sekuntum mawar yang mekar
dan air sungai yang mengalir
disitu ku lihat
terukir wajah mu
dan tertulis….
kisah cinta kita berdua.
Sebuah nostalgia yang lalu
tidak mudah untuk ku lupakan
dan masih ku simpan erat-erat
didalam sebuah potret
wajah kita bersama.
PUISI CINTA AKU MIMPI.
Semalam aku bermimpi
datang seorang puteri
melafaskan kata-kata cinta nya kepada ku
Dan aku tersadar dari lena ku.
Harum baunya
Maseh sahaja terasa
Dan diri ini
Sering terbuai dek mimpi
Lalu aku sering bertanya
bilakah kita
dapat bertemu lagi….
Mawar dan kupu – kupu
siang iTu…
aQu duduk merenung…
saat itu…
angin bErhembus dengan lembut….
meninggalkan semilir semilir dingin pada kulitku…
maTahari mEmancarkan sinarnya yang terik…
Tiba – Tiba
kuLihat seekor kupu -kupu…
terbang melintasi bunga – bunga yang ada di halaman
sampai pada akirnya dia hinggap di salah satu tumbuhan berwarna merah
yang mempunyai bau harum yang kusebut mawar…
aQu mulai membandingkan sang mawar dan sang kupu-kupu
keduanya sama – sama cantik
namun kecantikannya terbentuk secara berbeda…
sang mawar yang harus di rawat secara hati – hati karena sangat rapuh
namun memiliki duri yang sangat Tajam…
sang mawar yang manja dan rapuh…
sang kupu – kupu yang berasal dari ulat yang sangat jelek dan akirnya
menjadi kepompong yang tak kaLah jeleknya…
namun pada akhirnya menjadi kupu2 yang cantik…
sEmua karena perjuangannya….
sang kupu – kupu yang mandiri dan kuat…
dan aQU pun berpikir…
mana yang lebih baik…
kian kuberpikir,
smakin tak kutemukan jawabannya…
namn akHirnya aQu tau…
keduanya sama2 penting…
saling melengkapi…
sama2 melalui perjuangan untuk menjadi canTik…
sang mawar menumbuhkan duri untuk melindungi dirinya…
sang kupu – kupu membentuk lapisan – lapisan dalam kepompongnya untuk
melindungi dirinya…
dari situ pun aQU sadar…
sETiap perempuanpun mengeluarkan duri untuk melindungi dirinya, walau
terkadang duri itu menusuk dirinya sendiri…
sEtiap perempuan pun membuat Lapisan2 yang di sebut topeng untuk
menutupi kekurangan dirinya….
karena Tak ada ornag yang sempurna…
dan Tidak ada perempuan yang terlahir benar-benar sempurna….
Kecantikan setiap perempuan terbentuk dari proses yang panjang dan
terkadang menyakitkan….
Perempuan cantik tidak hanya di nilai dari penampilan luarnya saja….
namun juga dari hatinya…
karena jika Hatinya bersinar maka di mata orang Lain… ia mEnjadi
cantik sEmpurna…..
Sajak Untuk Kamu
Sahabat…
Adakalanya hidup terpaku di persimpangan
Diam tanpa gerak dengan tatap mata yang kosong
Langkah tergontai tak tentu arah
Semua pasrah…pasrah akan kematian yang semakin mengarah
Rutinitas harian tidak lebih bagai mesin penggerak raga
Robot² tanpa ambisi lalu lalang di setiap pagi
Mereka sk…dengan keskan yang tak pasti
Mereka lelah…lelah untuk sesuatu yang tak terarah
Jiwa² yang lelah ini…
….semakin terkulai lemah…
Mereka ingin singgah di singgasana nan damai
Namun tak ada yang mengerti…
….dan tak ada yang mau memahami…
Hidup dipandangnya tidak lebih seperti budak zaman
…yang tunduk…patuh pada kehendak tuan
Mereka ingin bersandar di pundak kepasrahan
Mereka ingin berjalan dengan tongkat penuh keputusasaan
….tapi tidak ada alternatif lain…
Kecuali berusaha tetap bertahan…
Hampir setiap orang sudah tidak peduli dengan makna hidupnya
Makna hidup bagi dirinya adalah bagaimana agar tidak lapar…
Bagaimana agar tidak haus di muara sungai keegaliteran
Pandangannya hanya sebatas hari ini…
Karena esok hari adalah mimpi
Masa depan hanyalah sebutir angan
Akankah hari esok masih ada untuknya…? ??
Sahabat…
Aku di sini menatap setiap langkahnya
Jejak kaki itu nampak semakin jelas di pematang sawah nan basah
Aku terhenyak… akan setiap jerit tanpa suara
….yang lirih menyisakan isak tangis derita
….dengan nafas tersenggal – senggal
….berusaha menghirup segarnya polutan peradaban
Aku terbelalak atas setiap asa di balik awan jingga
….yang hanya mampu menyuguhkan sensasi penuh kekejaman
….yang hanya mempertontonkan rasa permusuhan
….yang hanya menampilkan impian – impian
Sementara kita hidup berpijak…
….di antara daratan dan lautan yang terbentang
Aku tafakur….
….tafakur atas setiap langkah yang telah kutempuh
Adakah jalan yang ku lalui ini…
….adalah jalan menuju ridlo Illahi
Ataukah sebatas menghabiskan waktu di usia yang tersisa ?
Tentu tidak….
Dan di persimpangan ini kita harus putuskan sebuah sikap
Untuk menjadi umat terbaik…
….yang selalu berpedoman pada keimanan…
Semoga….
….semoga kita bisa menemukan “Akhir Kemuliaan”. Amin
Khayal………
Bayangan yang hadir malam ini………
Melintasi hayal yang terjadi………
Berharap rembulan kan mengetahui……..
Kebimbangan akan isi hati………..
Angin sepoi-sepoi meniup hadirmu……….
Purnama terpancar dalam bayanganmu……..
Berdo’a semoga engkau tahu……….
Segala kegundahan tentang dirimu……..
Rasa rindu yang bergejolak didada…….
Tak tertahan mendobrak sukma………
Akankan harap ini kan bias……
Tak berharap kan jadi khayal semata…..
Jakarta, 26 june 2008 jam 7:28
Fonda
Kerinduan…..
Menyentuh hangatnya cinta………..
Sebagai tetesan embun…..
Senyum yang terlukis indah……..
Mendamaikan hari yang ceria……….
Bergulir damai biru nan merona………
Menghiasi cakrawala dunia………
Bermekaran bunga-bunga surga……..
Terlambangkan hati yang terpana…
Bisikan syair-syair cinta……
Dendangkan sympony ceria…..
Eidelweist yg tersenyum….
Mengisyaratkan suatu makna…..
Kerinduan memenuhi bendungan hati…..
Bergejolak menggugurkan janji…..
Melepas segenap cinta nan suci….
Tak tertahan kerinduan hati…….
(matiin lampu)
Jakarta, 26 juni 2008 jam 9:16
Fonda
Kekasihku yang baik hati
Kekasihku yang baik hati
Kau baik, kau manis, kau cantik
Ku bahagia mengenal dirimu
Terimakasihku atas cinta yang kau berikan
Kunikmati semua kasih sayangmu
Kuterbuai dalam semua cinta mu
Cinta yang murni dan suci
Dan tidak untuk menyakiti
Setiap detik yang terlewati denganmu
Adalah masa yang terindah yang kumiliki
Tak ingin ku menjauh darimu
Termanjakan aku atas kasihmu
Terimakasih untukmu atas semua ini
Ku tak mau ini berhenti
Kuharap ini tidak untuk sesaat
Kuingin ini ada selama aku bernyawa
Kekasihku yang baik hati
Kan kujaga semua ini tak ingin terganti
Ku hanya ingini dirimu disisi
Sampai nanti tiba jiwa ku harus pergi
Terilhami untuk matahariku yang baik hati Terimakasih untuk cinta yang kau beri.
Depok 2 Agustus 2007; 20:58pm
Erwin Arianto
Merekah cinta sekujur badan
Dalam dekapan buana yang mengagumkan
Kuncup putik sari menuai rindu
Yang telah kau semai semenjak bertemu
Angin bisiki untaian kata mesra padaku
Tuntun aku, tuk ungkapkan kalimat mencintai mu
Karena Mulutku terkunci
Bila tatap mata yang indah itu
Merasuk, menusuk, dan memasung relung bathinku
Kuamit jemari mu ajak arungi samudera
Menuju arah cakrawala matahari senja
Menggapai muasal mentari berbinar
Dan aku tak akan pernah resah sedikitpun
Bila jatuh cintaku padamu
Telah kau rengkuh dalam keranjang hatimu
endroadi-On the Way
Sang pencinta
Angin Cinta bertiup menyejukan
Membawa gairah pada sang pencinta
Tentang suatu impian, harapan tentang rasa bergelora
Seperti sang katak berharap kan sang hujan
Dalam sunyi malam
Sang pencinta hanya dapat menanti
Menanti di sudut jiwa menanti sejati
Sejati terwakili oleh jiwa yang suci
Dalam jiwa yang resah sang pencinta menanti
Menanti datang suatu asa yang pasti
Bukan asa yang datang untuk kembali pergi
Tetapi rasa yang untuk berbagi dan menyayangi
Sang pencinta pun semakin lelah
Dengan kalbu yang semakin lemah
Untuk menanti berkawan dengan gelisah
Penantian yang tak usai sudah
Tiba suatu masa datang lah suatu berkah
Bahwa telah datangya seorang putrid hati
Bersama dengan rasa yang dimiliki
Dengan rasa yang akan bersama sampai mati
Untuk melebur dua menjadi satu untuk kekasih hati
Yang tidak dapat terganti sampai nanti.
Dalam Perenungan malam, Hanya membuat suatu arti untuk dunia
Cikarang-Bekasi 23 Augustus 2007 08:00
Erwin Arianto,SE
Sepenggal Waktu Berdetik
Sebuah ingatan
Tersusun rapi
Dalam relung-relung imaji
terhempas di badai fantasi
Sepenggal waktu berdetik
Merambat, merangkak, dan berlari
Sebuah Elegi yang terpatri
Ada seperti tiada, terus teratapi
Kabut diri menjadi pelangi
Tidak hanya berbuih putih
Tapi teraroma Berwarna-warni
sesuatu mulia, hina, tiada lagi
Tetesan air suci
ikut mengenangi
Setelah kata lagi
kini hanya ada sepi
berpalingkah kau kini
Setelah tiada lagi nyanyi puisi
Adalah makna berharap sunyi
mungkin bukan saatnya kita meratapi
Membiarkan semua terjadi
Erwin Arianto
Depok, 15 Agustus
Keindahan Cinta
Cinta…satu kata nan indah mencerahkan jiwa…
begitulah adanya cinta
dan cinta akan senantiasa indah, meski meninggalkan luka dan lara..
Cinta adalah pembelajaran di setiap tahap kehidupan manusia. ia mengajarkan kita untuk mencintai, untuk dicintai, dan untuk menerima setiap hikmah yang diberikan.
Setiap manusia pasti pernah kehilangan, atau setidaknya kehilangan karena ia tidak bisa memiliki
tapi apakah itu menjadikan kita untuk tidak mengenal cinta kembali??
bagaimanapun kita berusaha untuk melupakan, cinta pasti kan selalu hadir
—-
Cinta dulu pernah menyentuhku, cinta terindah yang buatku tersadar tentang arti menyayangi
penuh sahaja dan ketulusan..dan aku sepenuhnya mencintai dia..tapi aku terlalu egois,..aku terlalu mencinta, aku terlalu menginginkan cinta sehingga takdir terlanjur mengambil kepingan itu dan menjauhkan aku dengan dirinya.
cinta kala itu memang serta merta kutinggalkan…
namun..dalam kesunyian dan kesendirian kurasakan hikmah terdalam akan makna cinta : ‘Sang penguasa pasti memberikan yang Terbaik untukku’…begitulah cinta kemudian hidup dalam diriku, dan dalam keyakinanku..
Kini…Entah bagaimana …cinta hadir kembali dalam indahnya…
anugerah terbaik sang Penguasa tercipta lagi,
Dia yang dengan lembutnya buatku tersadar dicintai
…dengan segenap jiwa dan hatinya, memberikan kehangatan untukku
sentuh setiap helai bunga-bunga hatiku
…apakah aku bisa menolak cinta yang begitu bercahaya ini??
tiada keraguan lagi,..dia-lah sang belahan jiwa
aku kan mencintainya sepenuh hati sebagaimana ia juga mencintaiku…
kubiarkan ia merengkuh cintaku
sedalam dalamnya
Cinta…
inilah makna cinta yang sesungguhnya……
Jiwa ini kan selamanya bersandar pada dirinya…dalam kerendahan hati
Indahnya cinta….
—intan—
?!!!
dengan belum begitu pasti,
aku memilih hidup sendiri
cinta
tak menyapaku mesra
dan bahagia
tak kutemui bidadari
wanita
sudah dipesona dunia
dan dosa
dan aku masih senang sendiri
tak perlu basa-basi
tak perlu janji-janji
tak perlu berhawa nafsu-nafsi
ringan beban
dan tanggung-jawab
lepas dan bebas
bagai burung di angkasa luas
Ilahi,
sudah kujulur hawa nafsu berahi itu;
tak seindah mimpi
Ilahi,
aku tak perlu isteri
kuperlu bidadari;
- memurni hidup dan mati
11.5.08
arti sebuah penantian
penantian adalah wujud kesetiaan
kebersamaan yang begitu singkat
membuat kita terikat
cintamu memberiku semangat
tuk jalani hidup yang penuh tipu muslihat
sarang heyo…na mani mogosipoyo
by;joenty
pesonamu
seuntai kata terungkap dari jiwa
ku ulum nada tapi tak bersuara
hanya lewat angin kutulis kata
aku …………………………….
kangen ………………………….
kamu………………………………
cayang…………………………
waktu boleh berhenti
hari boleh lewat
bulan boleh pergi
tahun boleh lewat
dunia boleh berahkir
tapi namamu selalu melekat dihatiku
by:joenty
Lamunanku
Dalam lamunanku..
Ku temukan bayang dirimu
Menari-nari dipelupuk mataku
walau tersapu angin dan berlalu
kuberharap cintamu tak ikut tersapu
Wahai cintaku..
Andai kau ada disisiku saat ini
Mungkin hatiku tak segalau sekarang ini
Aku akan memelukmu dan tak akan ku lepaskan lagi
Hanya cintamu yang buat ku mampu berdiri menatap pagi
BERKHALWAT DI GUA HIRA’ 23 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.add a comment
Rasulullah SAW adalah seorang yang dihormati dan dipercayai di kalangan penduduk Makkah. Baginda begitu terkenal dengan akhlaq yang mulia dan sentiasa menghubungkan silaturrahim. Sikap dan peribadi Baginda yang mulia ini adalah begitu berbeza sekali dengan kebanyakan penduduk Makkah pada ketika itu yang tenggelam dalam lautan jahiliyyah.
Oleh kerana itu wajar sekali apabila Rasulullah SAW membiarkan dirinya berjalan sesuai dengan pembawaannya, iaitu pembawaan berfikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala, serta apa pula yang dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang diri mereka itu. Baginda berfikir dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya Bagindalah orang yang paling banyak berfikir dan merenung. Jiwa yang kuat dan berbakat ini – jiwa yang sudah mempunyai persiapan untuk kelak menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta membawa kepada kehidupan rohani yang hakiki – jiwa demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang sudah hanyut ke dalam lembah kesesatan. Sudah seharusnya Baginda mencari petunjuk dalam alam semesta ini, sehingga Tuhan nanti menentukannya sebagai yang akan menerima risalahNya. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada padanya, Baginda tidak ingin menjadikan dirinya seperti dukun atau ingin menempatkan diri sebagai ahli fikir seperti dilakukan oleh Waraqa bin Naufal dan orang-orang sepertinya. Yang dicarinya hanyalah kebenaran semata-mata. Fikirannya penuh untuk itu, banyak sekali Baginda bermenung. Fikiran dan renungan yang berkecamuk dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan kepada orang lain.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang ’Arab pada masa itu di mana golongan berfikir mereka selama beberapa waktu pada setiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rezeki dan pengetahuan. Pengasingan untuk beribadat seperti ini mereka namakan tahannuth.
Di puncak Gunung Hira’,sejauh dua farsakh ( bahasa Farsi, parsang, ukuran panjang dahulu kala, kira-kira 3.5 batu atau hampir 6 km ) sebelah utara Makkah, terletak sebuah gua yang baik sekali dijadikan tempat menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadhan setiap tahun Baginda pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan sedikit bekalan yang dibawanya. Baginda tekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Baginda mencari kebenaran, dan hanya kebenaran semata.
Di tempat ini rupanya Rasulullah SAW mendapat tempat yang paling baik guna mendalami fikiran dan renungan yang berkecamuk dalam dirinya. Juga di tempat ini Baginda mendapatkan ketenangan dalam dirinya serta ubat penawar hasrat hati yang ingin menyendiri, ingin mencari jalan memenuhi kerinduannya yang selalu makin besar, ingin mencapai ma’rifat serta mengetahui rahsia alam semesta.
Demikian kuatnya Baginda merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga Baginda lupa akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran. Di situ Baginda mengungkapkan dalam kesedaran batinnya segala yang disedarinya. Tambah tidak suka lagi Baginda akan segala prasangka yang pernah dikejar-kejar orang.
Baginda tidak berharap kebenaran yang dicarinya itu akan terdapat dalam kisah-kisah lama atau dalam tulisan-tulisan para pendeta, melainkan dalam alam sekitarnya :dalam luasan langit dan bintang-bintang, dalam bulan dan matahari, dalam padang pasir di kala panas membakar di bawah sinar matahari yang berkilauan. Atau di kala langit yang jernih dan indah, bermandikan cahaya bulan dan bintang yang sedap dan lembut, atau dalam laut dan deburan ombak, dan dalam segala yang ada di sebalik itu, yang ada hubungannya dengan wujud ini, serta diliputi seluruh kesatuan wujud. Dalam alam itulah Baginda mencari haqiqat tertinggi. Dalam usaha mencapai itu, pada saat-saat Baginda menyendiri demikian jiwanya merasa bebas mencapai hubungan dengan alam semesta ini, menembusi tabir yang menyimpan semua rahsia. Baginda tidak memerlukan permenungan yang panjang untuk mengetahui bahawa apa yang dipraktikkan oleh masyarakatnya dalam soal-soal hidup dan apa yang disajikan sebagai korban-korban untuk tuhan-tuhan mereka itu, tidak membawa kebenaran sama sekali. Berhala-berhala yang tidak berguna, tidak menciptakan dan tidak pula mendatangkan rezeki, tidak dapat memberi perlindungan kepada sesiapapun yang ditimpa bahaya. Hubal, Lata dan ‘Uzza, dan semua patung-patung dan berhala-berhala yang terpancang di dalam dan di sekitar Ka’bah, tidak pernah menciptakan, sekalipun seekor lalat, atau akan mendatangkan suatu kebaikan bagi Makkah.
Tetapi! Ah, di manakah kebenaran itu! Di mana kebenaran dalam alam semesta yang luas ini, luas dengan buminya, dengan lapisan-lapisan langit dan bintang-bintangnya? Adakah barangkali dalam bintang yang berkelip-kelip, yang memancarkan cahaya dan kehangatan kepada manusia, dari sana pula hujan diturunkan, sehingga kerananya manusia dan semua makhluk yang ada di muka bumi ini hidup dari air, dari cahaya dan kehangatan udara? Tidak! Bintang-bintang itu tidak lain adalah benda-benda langit seperti bumi ini juga. Atau barangkali di sebalik benda-benda itu terdapat kuasa yang tidak terbatas, tidak berkesudahan?
Tetapi apa kuasa itu? Apakah hidup yang kita alami sekarang dan esok akan berkesudahan? Apa asalnya dan apa sumbernya? Kebetulan sajakah bumi ini dijadikan dan dijadikan pula kita di dalamnya? Tetapi, baik bumi atau hidup ini sudah mempunyai ketentuan yang pasti yang tidak berubah-ubah, dan tidak mungkin dasarnya hanya kebetulan saja. Apakah yang dialami manusia, kebaikan atau keburukan, datang atas kehendak manusia sendiri, atau itu sudah ditentukan sehingga manusia tidak berkuasa memilih yang lain?
Masalah-masalah kejiwaan dan kerohanian sebegitu, itu juga yang difikirkan Rasulullah SAW selama Baginda mengasingkan diri dan bertafakur dalam Gua Hira’. Baginda ingin melihat kebenaran itu dan melihat hidup itu seluruhnya. Pemikirannya itu memenuhi jiwanya, memenuhi jantungnya, peribadinya dan seluruh wujudnya. Siang dan malam hal ini menderanya terus menerus. Apabila bulan Ramadhan sudah berlalu dan Baginda kembali kepada Khadijah, pengaruh fikiran yang masih membekas padanya membuatkan Khadijah menanyakannya selalu, karena dia pun ingin lega hatinya apabila sudah diketahuinya Baginda dalam keadaan sihat dan afiat.
Dalam melakukan ibadat selama dalam tahannuth itu, adakah Rasulullah SAW menganut sesuatu syari’at tertentu? Dalam hal ini ulama’-ulama’ berlainan pendapat. Dalam Tarikhnya Ibnu Kathir menceritakan sedikit tentang pendapat-pendapat mereka mengenai syari’at yang digunakannya melakukan ibadat itu : Ada yang mengatakan menurut syari’at Nuh, ada yang mengatakan menurut Ibrahim, yang lain berkata menurut syari’at Musa, ada yang mengatakan menurut Isa dan ada pula yang mengatakan, yang lebih dapat dipastikan, bahawa Baginda menganut sesuatu syari’at dan diamalkannya. Barangkali pendapat yang terakhir ini lebih tepat daripada yang sebelumnya. Ini adalah sesuai dengan dasar renungan dan pemikiran yang menjadi kedambaan Baginda.
Tahun telah berganti tahun dan kini telah tiba pula bulan Ramadan. Rasulullah SAW pergi ke Gua Hira’, Baginda kembali bermenung, sedikit demi sedikit Baginda bertambah matang, jiwanya pun semakin penuh. Sesudah beberapa tahun, jiwa yang terbawa oleh kebenaran tertinggi itu dalam tidurnya bertemu dengan mimpi haqiqi yang memancarkan cahaya kebenaran yang selama ini dicarinya. Bersamaan dengan itu pula dilihatnya hidup yang sia-sia, hidup tipu daya dengan segala macam kemewahan yang tiada berguna.
Ketika itulah Rasulullah SAW percaya bahawa masyarakatnya telah sesat daripada jalan yang benar, dan kehidupan kerohanian mereka telah rosak kerana tunduk kepada khayalan berhala-berhala serta kepercayaan-kepercayaan semacamnya yang tidak kurang pula sesatnya. Semua yang sudah pernah disebutkan oleh kaum Yahudi dan kaum Nasrani tidak dapat menolong mereka dari kesesatan itu. Apa yang disebutkan mereka itu masing-masing memang benar; tetapi masih mengandungi bermacam-macam tahyul dan pelbagai macam cara paganisma, yang tidak mungkin sejalan dengan kebenaran sejati, kebenaran mutlak yang sederhana, tidak mengenal segala macam spekulasi perdebatan kosong, yang menjadi pusat perhatian kedua-dua golongan Ahli Kitab itu. Dan kebenaran itu ialah Allah SWT, Khaliq seluruh alam, tidak ada Tuhan selain Dia. Kebenaran itu ialah Allah SWT Pemelihara semesta alam. Dialah Maha Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu ialah bahawa manusia dinilai berdasarkan perbuatannya. “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat atom pun akan dilihatNya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat atom pun akan dilihatNya pula.” (Qur’an, 99:7-8). Dan bahawa syurga itu benar adanya dan neraka pun benar adanya. Mereka yang menyembah tuhan selain Allah SWT mereka itulah yang akan menghuni neraka, tempat tinggal dan kediaman yang paling durjana.
Kini Rasulullah SAW sudah menjelang usia empat puluh tahun. Baginda pergi ke Gua Hira’ untuk melakukan tahannuth seperti selalunya. Jiwanya sudah penuh iman atas segala apa yang telah dilihatnya dalam mimpi haqiqi itu. Baginda telah membebaskan diri daripada segala kebatilan. Tuhan telah mendidiknya, dan didikannya baik sekali. Dengan sepenuh kalbu Baginda menghadapkan diri ke jalan yang lurus, kepada kebenaran yang abadi. Baginda telah menghadapkan diri kepada Allah SWT dengan seluruh jiwanya agar dapat memberikan hidayah dan bimbingan kepada masyarakatnya yang sedang hanyut dalam lembah kesesatan.
Dalam hasratnya menghadapkan diri itu Rasulullah SAW bangun di tengah malam, kalbu dan kesedarannya dinyalakan. Lama sekali Baginda berpuasa, dengan begitu renungannya dihidupkan. Kemudian Baginda turun dari gua itu, melangkah ke jalan-jalan di sahara. Lalu Baginda kembali ke tempatnya berkhalwat, hendak menguji apa yang berkecamuk dalam perasaannya itu, apa yang terlihat dalam mimpi itu? Hal seperti itu berjalan selama enam bulan, sampaikan Baginda merasa khuatir akan membawa akibat lain terhadap dirinya. Oleh kerana itu Baginda menyatakan rasa kekhuatirannya itu kepada Khadijah dan menceritakan apa yang telah dilihatnya. Baginda khuatir kalau-kalau itu adalah gangguan jin.
Tetapi isteri yang setia itu dapat menenteramkan hatinya. Dikatakannya bahawa Baginda adalah al-Amin, tidak mungkin jin akan mendekatinya, sekalipun memang tidak terlintas dalam fikiran isteri atau dalam fikiran suami itu, bahawa Allah SWT telah mempersiapkan pilihanNya itu dengan memberikan latihan rohani sedemikian rupa guna untuk menghadapi saat yang dahsyat, berita yang dahsyat, iaitu saat datangnya wahyu pertama. Dengan itu Baginda dipersiapkan untuk membawakan pesan dan risalah yang besar. 5
PENGADILAN PERLETAKAN HAJARUL ASWAD 23 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.add a comment
Peristiwa ini berlaku pada waktu masyarakat Makkah sedang sibuk disebabkan oleh bencana banjir besar yang turun dari gunung. Banjir ini telah menimpa dan meretakkan dinding-dinding Ka’bah yang sememangnya sudah lapuk kerana pernah terbakar. Oleh itu, dinding-dinding Ka’bah ini perlu dibaiki agar ianya elok seperti sediakala. Tambahan pula, setiap tahun ribuan manusia akan berkunjung ke Ka’bah untuk menunaikan haji.
Sebelum itupun pihak Quraisy memang sudah memikirkan untuk membaiki Ka’bah. Tempat yang tidak beratap itu menjadi sasaran pencuri mengambil barang-barang berharga di dalamnya. Hanya saja Quraisy merasa takut; kalau bangunannya diperkuat, pintunya ditinggikan dan diberi beratap, dewa Ka’bah yang suci itu akan menurunkan bencana kepada mereka. Sepanjang zaman jahiliyyah, keadaan mereka diliputi oleh pelbagai macam legenda dan kepercayaan karut yang mengancam sesiapa yang berani mengadakan sesuatu perubahan. Dengan demikian perbuatan itu dianggap tidak sepatutnya dilakukan.
Tetapi sesudah mengalami bencana banjir, tindakan demikian itu adalah suatu keharusan, walaupun masih serba takut-takut dan ragu-ragu. Suatu kebetulan pula, telah terjadi sebuah kapal milik seorang pedagang Rumawi bernama Baqum yang datang dari Mesir, terhempas di laut dan pecah. Sebenarnya Baqum ini seorang ahli bangunan yang mengetahui juga soal-soal perdagangan. Sesudah Quraisy mengetahui hal ini, maka berangkatlah al-Walid bin al-Mughira dengan beberapa orang dari Quraisy ke Jeddah. Kapal itu dibelinya dari pemiliknya, yang sekalian diajaknya berunding supaya sama-sama datang ke Makkah bagi membantu mereka membina Ka’bah kembali. Baqum menyetujui permintaan itu. Pada waktu itu di Makkah ada seorang Kopti yang mempunyai keahlian sebagai tukang kayu. Persetujuan tercapai bahawa dia pun akan bekerja dengan mendapat bantuan Baqum.
Sudut-sudut Ka’bah itu oleh Quraisy dibahagikan kepada empat bahagian. Setiap qabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibina kembali. Sebelum bertindak melakukan perombakan itu, mereka masih ragu-ragu dan khuatir akan mendapat bencana. Kemudian al-Walid bin al-Mughira tampil ke depan dengan sedikit takut-takut. Setelah dia berdoa kepada dewa-dewanya, dia mulai merombak bahagian sudut selatan. Tinggal lagi orang menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan Tuhan nanti terhadap al-Walid. Tetapi setelah ternyata sehingga pagi tiada terjadi apa-apa, mereka pun ramai-ramai merombaknya dan memindahkan batu-batu yang ada. Rasulullah SAW juga turut membawa batu-batu itu.
Setelah mereka berusaha membongkar batu hijau yang terdapat di situ tetapi tidak berhasil, dibiarkannya batu itu sebagai tapak bangunan. Orang-orang Quraisy mula mengangkut batu-batu granit berwarna biru dari gunung-gunung di sekitar tempat itu, dan pembinaan pun segera dimulakan. Setelah bangunan itu setinggi orang berdiri dan tiba saatnya meletakkan Hajarul Aswad yang disucikan di tempatnya semula di sudut timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya. Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga hampir saja timbul perang saudara kerananya. Keluarga ‘Abdud-Dar dan keluarga ‘Adi bersepakat tidak akan membiarkan qabilah yang mana pun campur tangan dalam kehormatan yang besar ini. Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga ‘Abdud-Dar membawa sebuah bekas berisi darah. Tangan mereka dimasukkan ke dalam bekas itu guna memperkuatkan sumpah mereka. Kerana itu peristiwa ini diberi nama La’aqatud-Dam, yakni ‘jilatan darah’.
Abu Umayyah bin al-Mughira dari Bani Makhzum, adalah orang yang tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi. Setelah melihat keadaan sebegitu, dia berkata kepada mereka, “Serahkanlah keputusan masalah kamu ini di tangan orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini pada esok pagi”. Lalu mereka pun menunggu pada awal pagi untuk melihat siapakah orang yang pertama memasuki pintu Shafa tersebut. Maka orang tersebut ialah Muhammad Rasulullah SAW.
Tatkala mereka melihat Rasulullah SAW adalah orang yang pertama memasuki tempat itu, mereka berseru, “Ini al-Amin, kami dapat menerima keputusannya.”
Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Baginda pun mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa berkobarnya api permusuhan itu. Baginda berfikir sebentar, lalu katanya, ”Bawakan ke mari sehelai kain”. Setelah kain dibawakan, dihamparkannya dan diambilnya batu itu sendiri dengan tangannya yang mulia itu lalu diletakkan Hajarul Aswad itu ke atas kain tersebut dengan tangannya sendiri, kemudian katanya, “Hendaknya setiap ketua kabilah memegang hujung kain ini.”
Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Rasulullah SAW mengeluarkan batu itu dari kain dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan.
Lantaran keputusan hukum yang sangat adil itu, sangatlah gembira hati orang dan bertambah hormat orang kepadanya, meskipun Rasulullah SAW pada waktu itu baru seorang anak muda. Bertambah masyhurlah Rasulullah SAW dan gelaran al-Amin itu sentiasa menjadi sebutan penduduk-penduduk Makkah.
Quraisy menyelesaikan bangunan Ka’bah sampai setinggi 18 hasta (± 11 meter), dan ditinggikan dari tanah sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang orang masuk. Di dalam itu mereka membuat enam batang tiang dalam dua deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang sebuah tangga naik sampai ke teras di atas lalu diletakkan berhala Hubal di dalam Ka’bah. Juga di tempat itu diletakkan barang-barang berharga lainnya, yang sebelum dibina dan diberi beratap sering menjadi sasaran pencurian.
Mengenai umur Muhammad Rasulullah SAW sewaktu membina Ka’bah dan memberikan keputusannya tentang batu itu, masih terdapat perbezaan pendapat. Ada yang mengatakan berumur 25 lima tahun. Ibnu Ishaq berpendapat umurnya 35 tahun. Kedua pendapat itu baik yang pertama atau yang kemudian, sama saja; tapi yang jelas cepatnya Quraisy menerima ketentuan orang yang pertama memasuki pintu Shafa, disusul dengan tindakan Baginda mengambil batu dan diletakkan di atas kain lalu mengambilnya dari kain dan diletakkan di tempatnya dalam Ka’bah, menunjukkan betapa tingginya kedudukan Baginda di mata penduduk Mekah, betapa besarnya penghargaan mereka kepadanya sebagai seorang yang berjiwa besar.
Adanya pertentangan antara qabilah, adanya persepakatan La’aqatud-Dam (‘Jilatan Darah’), dan penyerahan keputusan kepada sesiapa yang mula-mula memasuki pintu Shafa, menunjukkan bahwa kekuasaan di Makkah sebenarnya sudah jatuh.
Kekuasaan yang dulu ada pada Qushayy, Hasyim dan Abdul Muthalib sekarang sudah tiada lagi. Adanya pertentangan kekuasaan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah sesudah kematian Abdul Muthalib memberikan kesan yang besar kepada politik Makkah. 5
PERKAWINAN DENGAN SAYYIDATINA KHADIJAH 23 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.add a comment
Semasa di Syam Maisarah telah melihat dengan mata kepalanya sendiri dan tertawan dengan budi pekerti Baginda yang mulia dan segala-galanya ini terus diceritakan kepada Khadijah. Khadijah sungguh tertawan dengan sifat amanah dan budi pekerti Baginda yang tinggi dan yang lebih menghairankan lagi ialah keuntungan yang berlebihan yang diperolehinya dengan berkat Baginda.
Dengan perantaraan Nafisah binti Manbah, Khadijah telah menawarkan dirinya kepada Rasulullah SAW untuk menjadi teman hidupnya yang halal. Tawarannya tadi telah disambut baik oleh Rasulullah SAW dan dengan tidak membuang masa, Baginda terus menyatakan hasrat hatinya yang mulia itu kepada bapa-bapa saudaranya dan mereka pun terus melamar Khadijah melalui bapa saudaranya ‘Amru bin Asad.
Perkahwinan pun dilangsungkan dengan selamatnya. Maskahwinnya ialah 20 ekor unta muda. Pada waktu itu Rasulullah berusia genap 25 tahun sedangkan Khadijah telah berusia 40 tahun. 2
PERJALANAN KE SYAM KALI KEDUA 23 November 2008
Posted by ibnu_taheer in Sejarah Islami.add a comment
Khadijah binti Khuwailid al-Asadiyah merupakan seorang perempuan yang memegang perniagaan besar, bangsawan, bernama baik dan berharta. Biasanya dia menggaji orang untuk menjalankan perniagaan itu. Beliau juga terkenal dengan kemuliaan budi. Sebilangan besar orang-orang ‘Arab pada masa itu meminjam sebahagian daripada hartanya itu sebagai modal perniagaan mereka.
Apabila Khadijah mendengar berita perihal peribadi Rasulullah SAW yang mulia dan mempunyai akhlaq yang terpuji itu, beliau terus mempelawa Rasulullah SAW supaya menjalankan usaha perniagaan dengan hartanya dan sanggup memberi keuntungan yang lebih daripada yang pernah diberikannya kepada orang lain. Untuk mengiringi Baginda dalam usaha perniagaan nanti Baginda akan dibantu oleh seorang budak suruhan Khadijah yang bernama Maisarah.
Tawaran itu telah diterima baik oleh Rasulullah SAW dengan penuh kerelaan hati. Baginda terus berangkat ke negeri Syam untuk menjalankan urusan perniagaan bersama Maisarah. Dalam perniagaan ini Baginda telah mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Apabila Baginda kembali bertemu Khadijah dengan keuntungannya tadi, Baginda terus menyerahkan kepada Khadijah apa yang perlu dan patut diserahkan dengan penuh amanah. 2